____ Baca Baca: SMK 10 Teknik Perkayuan_Budi Html BSE_______welcome
Memuat...
Share |

Minggu, 28 Februari 2010

SMK 10 Teknik Perkayuan_Budi Html














Budi Martono dkk
TEKNIK
PERKAYUAN
JILID 1
SMK
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
TEKNIK
PERKAYUAN
JILID 1
Untuk SMK
Penulis : Budi Martno
Tukiman
Bambang Wijanarko
Andreas Mulyono
Cahyo Kunc oro
Hartiyono
Kusaeri
Perancang Kulit : TIM
Ukuran Buku : 17,6 x 25 cm
Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
MAR MARTONO, Budi.
t Teknik Perkayuan Jilid 1 untuk SMK oleh Budi Martono ---
- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan,
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,
Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
x, 255 hlm
Daftar Pustaka : Lampiran. A
Glosarium : Lampiran. B
Daftar Gambar : Lampiran. C
Daftar Tabel : Lampiran. D
ISBN : 978-979-060-136-9
ISBN : 978-979-060-137-6
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat
dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen
Pendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan
buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak cipta
buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-buku
pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan
Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk
SMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk
digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus
2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak
cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk
digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download),
digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh
masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial
harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan
oleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan
akan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya para
pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun
sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk mengakses
dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini.
Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan
semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami
menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya.
Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.
Jakarta, 17 Agustus 2008
Direktur Pembinaan SMK
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur Tim Penulis panjatkan kehadirat Allaw Swt. atas selesainya
penulisan buku kejuruan Teknik Perkayuan ini setelah melewati beberapa
kesulitan.
Buku ini bisa menjadi buku acuan atau rujukan bagi siapa saja terutama
kalangan Sekolah Menengah Kejuruan guna menambah pengetahuan
dan memperluas wawasan tentang Teknik Perkayuan.
Buku ini disusun berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi
Dasar untuk Program Keahlian Teknik Perabot Kayu pada Bidang
Keahlian Teknik Bangunan Sekolah Menengah Kejuruan.
Secara sistematis buku ini dibagi dalam 10 bab yang setiap bab bisa
berdiri sendiri atau menyatu dan secara keseluruhan menguraikan mulai
dari Melaksanakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Melakukan
Pekerjaan Persiapan Pembuatan Mebel, Melaksanakan Persyaratan
Jaminan Kualitas, Menerapkan Teknik Laminasi, Menggunakan
Peralatan, Membuat Komponen Mebel, Merakit Mebel, Melaksanakan
Pekerjaan Ukir, Mengerjakan Teknik Inlay (Tatah) Kayu serta
Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu.
Tim Penulis menyadari bahwa buku kejuruan yang berjudul Teknik
Perkayuan ini masih banyak kekurangan dan belum sempurna. Untuk itu
Tim Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun guna
penyempurnaan buku ini.
Kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya penulisan buku
ini, Tim Penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Semoga bisa turut andil dalam memajukan pendidikan kejuruan di
Indonesia.
Tim Penulis,
ii
DAFTAR ISI
Halaman
SAMBUTAN DIREKTUR ................................................................ i
KATA PENGANTAR ...................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................... iii
JILID 1
BAB I. MELAKSANAKAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN
KERJA ................................................................................. 1
1. Mengenal Profesi Teknisi Perabot Kayu .......................... 1
2. Menerapakan Kesehatan Kerja pada Pelaksanaan
Pekerjaan ........................................................................... 3
3. Penerapan Keselamatan Kerja pada Pelaksanaan
Pekerjaan .......................................................................... 8
BAB II. MELAKUKAN PEKERJAAN PERSIAPAN PEMBUATAN
MEBEL ............................................................................... 14
1. Menginterpretasikan Gambar Kerja ................................ 14
2. Merencanakan Kebutuhan Bahan ................................... 25
3. Membuat Gambar Kerja dan Daftar Komponen ............ 30
BAB III. MELAKSANAKAN PERSYARATAN JAMINAN
KUALITAS ......................................................................... 40
1. Melakukan Komunikasi Timbal Balik di Tempat
Kerja ................................................................................... 41
2. Memilih Bahan Baku ......................................................... 43
3. Merencanakan Pembelahan Log ..................................... 52
4. Menyimpan Bahan ............................................................ 56
5. Mengirim Bahan ................................................................ 57
BAB IV. MENERAPKAN TEKNIK LAMINASI............................... 58
1. Mengenal Bahan Perekat Kayu ...................................... 58
2. Memotong Bahan Pelapis ................................................ 63
3. Mengerjakan Proses Laminasi Kayu ................................ 64
BAB V. MENGGUNAKAN PERALATAN ...................................... 69
1. Menggunakan Peralatan Tangan dan Listrik .................. 70
2. Menggunakan Peralatan Mesin Statis ............................ 157
iii
JILID 2
BAB VI. MEMBUAT KOMPONEN MEBEL…………………………. 229
1. Menyiapkan Komponen Mebel .......................................... 229
2. Membuat Komponen Mebel Bentuk Sederhana ……….. 232
3. Membuat Komponen Mebel Bentuk Rumit ……………... 242
4. Membuat Berbagai Konstruksi mebel …………………... 248
BAB VII. MERAKIT MEBEL ….……………………………………… 260
1. Mengukur Lokasi Ruang .................................................. 260
2. Menyetel Unit-unit Almari Tanam di Workshop ............. 261
3. Memasang Unit-unit Almari Tanam Pada Bangunan .... 275
4. Memasang Asesoris mebel ............................................. 279
BAB VIII. MELAKSANAKAN PEKERJAAN UKIR ........................ 288
1. Membuat Pola Untuk Pekerjaan Ukir ............................... 288
2. Mengukir Bentuk Sederhana ............................................ 291
3. Mengukir Bentuk Rumit ................................................... 302
BAB IX. Mengerjakan Teknik Inlay (tatah) Kayu ......................... 304
1. Memotong Komponen Inlay ............................................. 304
2. Memahat Permukaan Kayu Untuk Penerapan Komponen
Inlay ................................................................................... 308
BAB X. MELAKUKAN PEKERJAAN FINISHING KAYU .............. 313
1. Menyiapkan Pekerjaan finishing ...................................... 313
2. Menyiapkan Permukaan Untuk Finishing ....................... 315
3. Mengerjakan Finishing Dengan Teknik Oles .................. 319
4. Mengerjakan Finishing Dengan Teknik Semprot .......... 338
5. Kesehatan dan Keselamatan Kerja ................................ 364
PENUTUP ........................................................................................
LAMPIRAN A
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ A1
LAMPIRAN B
GLOSARIUM ................................................................................... B1
1
BAB I
MELAKSANAKAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
Pada bab ini diuraikan beberapa hal yang meliputi tentang kesehatan dan
keselamatan kerja pada pelaksanaan pekerjaan teknik perkayuan baik di
bengkel maupun di lapangan kerja.
Standar Kompetensi pada bab ini adalah Melaksanakan Kesehatan dan
Keselamatan Kerja yang terdiri dari dua Kompetensi Dasar yaitu
Menerapkan Kesehatan Kerja pada Pelaksanaan Pekerjaan dan
Menerapkan Keselamatan Kerja pada Pelaksanaan Pekerjaan, yang
secara terinci disusun ke dalam topik-topik sebagai berikut:
1. Mengenal Profesi Teknisi Perabot Kayu
2. Menerapkan Kesehatan Kerja pada Pelaksanaan Pekerjaan
3. Menerapkan Keselamatan Kerja pada Pelaksanaan Pekerjaan
1. Mengenal Profesi Teknisi Perabot Kayu
1.1. Ruang Lingkup Pekerjaan
Seorang Teknisi Perabot Kayu mampu bekerja mandiri atau bekerja pada
sebuah pabrik perkayuan yang menangani beberapa pekerjaan dengan
didasari kompetensi sebagai berikut:
1. Melaksanakan pekerjaan pengeringan kayu.
2. Membuat desain dan gambar kerja perabot kayu.
3. Menggunakan peralatan tangan dan mesin kayu.
4. Melaksanakan pekerjaan sambungan perabot kayu.
5. Melaksanakan pekerjaan interior dan eksterior rumah dari bahan
kayu.
6. Melaksanakan pekerjaan perabot kayu untuk rumah tinggal dan
perkantoran.
7. Melaksanakan pekerjaan finishing kayu.
Ruang lingkup pekerjaan Teknisi Perkayuan seperti terlihat pada Gb.1.2.
terdapat sebagian dari itu yang dicetak tebal adalah ruang lingkup
pekerjaan teknisi perabot kayu, yaitu meliputi pekerjaan pembuatan:
Almari Tanam, Penyekat Ruangan, Pelapis Dinding, Almari Dapur, Almari
Dinding, dan Rak. Juga termasuk pekerjaan pembuatan Meja dan Kursi
Tamu, Meja dan Kursi Makan, Meja dan Kursi Teras/Taman.
2
1.2. Keperluan Ruang pada Bengkel Perkayuan
Jumlah, luas, dan jenis ruang pada suatu pabrik perkayuan tentu
disesuaikan dengan jenis dan banyaknya kegiatan kerja yang
dilaksanakan. Keperluan ruang bisa ditentukan berdasarkan hal di atas.
Untuk memberi gambaran tentang tata letak ruang dari suatu pabrik
perkayuan bisa di lihat pada Gambar 1.2. yaitu suatu pabrik perkayuan
yang ada di Eropa dengan ruang pendukung berada di bawah tanah dan
ruang kerja utama berada di atasnya. Ruang pendukung terdiri dari ruang
istirahat, ruang ganti pakaian, toilet, ruang cuci pakaian. Ruang kerja
utama terdiri tempat penggergajian kayu, ruang mesin, ruang kerja
bangku, ruang pengasahan, ruang finishing, ruang perencanaan, ruang
supervisor atau pengawas.
Dinding Penyekat
Pintu Kamar
Pintu Sorong
Pelapis Dinding
Pemanas
Almari Tanam
Pintu
Lantai
Bawah
Tangga Kayu
Jendela Pintu Rumah
Terang Atas
Rak
Pintu Garasi
Penyekat Ruangan
Pelapis Dinding
Almari
Dinding
Lantai Papan
Pelapis Atap
Pintu Keluar
Lantai Bawah
Pintu Kaca
Almari Dapur
Sumber: Fachkunde – Holztechnik, Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 1.1. Ruang Lingkup Pekerjaan Teknisi Perkayuan
3
2. Penerapan Kesehatan Kerja pada Pelaksanaan Pekerjaan
Dalam dunia pekerjaan segala kendala kerja harus dihindari, karena akan
menghambat produktivitas dan mengurangi keuntungan. Salah satu
kendala dalam proses kerja adalah penyakit. Tidak masuk kerja karena
penyakit membawa dua kali lipat kerugian bagi perusahaan, yaitu
kerugian dalam waktu kerja dan biaya untuk mengatasi penyakit tersebut.
Perusahaan mengenal dua kategori penyakit yang diderita tenaga kerja,
yaitu penyakit umum, dan penyakit akibat kerja. Penyakit umum adalah
semua penyakit yang mungkin dapat diderita oleh setiap orang, baik yang
bekerja, masih sekolah, atau menganggur. Pencegahan penyakit ini
merupakan tanggungjawab seluruh anggota masyarakat. Penyakit akibat
kerja dapat timbul setelah seorang pekerja yang tadinya terbukti sehat
memulai pekerjaannya. Memang tidak seluruh pekerjaan menimbulkan
penyakit, yang jelas adalah ada pekerjaan yang menyebabkan beberapa
macam penyakit, dan ada pula yang mencetuskannya. Baik penyebab
maupun pencetus dapat dicegah sedini mungkin.
Pencegahan dapat dimulai dengan pengendalian secermat mungkin
pengganggu kerja dan kesehatan. Gangguan ini terdiri dari beban kerja,
beban tambahan oleh faktor lingkungan kerja, dan kapasitas atau
memampuan kerja.
Sumber: Fachkunde – Holztechnik, Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 1.2. Contoh Tata Letak Ruang Pabrik Perkayuan
Ruang Pengering
Ruang Finishing
Ruang Bangku
Ruang Mesin
Ruang Istirahat Pemanas
Toilet
Gudang Finir
Penggergajian Kayu
Ruang
Ganti Pakaian
Kantor
Pintu
Masuk
Ruang
Cuci Pakaian
4
2.1. Faktor-faktor Penyebab Penyakit
Faktor-faktor penyebab beberapa penyakit (Dr. Bennett N. B. Silalahi,MA.
Manajemen Kesehatan & Keselamatan Kerja, PT. Pustaka Binaman
Pressindo, 1995) dikelompokkan dalam golongan berikut ini: fisik, kimia,
biologis, fisiologis, dan psikologis.
Untuk lebih jelasnya golongan tersebut diuraikan sebagai berikut:
2.1.1. Golongan Fisik:
(a) Bunyi dan getaran yang bisa menyebabkan ketulian atau
pekak (sementara atau permanen);
(b) Suhu ruang kerja. Suhu yang tinggi dapat menyebabkan
ketulian sedangkan suhu yang rendah sekali dapat
menyebabkan kekakuan dan keradangan akibat dingin;
(c) Radiasi sinar Rontgen atau sinar-sinar radio aktif yang
menyebabkan kelainan pada kulit, mata, bahkan susunan
darah;
(d) Tekanan udara yang tinggi menyebabkan ketulian
permanen, Caissc n disease (keadaan yang ditandai
dengan kelumpuhan, rasa sakit karena pada udara), dan
lain – lain.
(e) Penerangan yang kurang baik menyebabkan kelainan
pada mata atau indera penglihatan.
2.1.2. Golongan Kimia
(a) Debu dan serbuk yang menyebabkan penyakit pada
saluran pernafasan
(b) Kabut dari racun serangga yang menimbulkan keracunan;
(c) Gas, misalnya keracunan karbon monoksida, hidrogen
sulfide, dan lain-lain.
(d) Uap yang menyebabkan keracunan atau penyakit kulit.
(e) Cairan beracun.
2.1.3. Golongan Biologis
(a) Tumbuh – tumbuhan yang beracun atau menimbulkan
alergi;
(b) Penyakit anthrax (semacam infeksi) dari hewan atau
Brucella pada karyawan penyamak kulit
2.1.4. Golongan Fisiologis
(a) Konstruksi mesin atau perlatan yang tidak sesuai dengan
mekanisme tubuh manusia;
(b) Sikap kerja yang menyebabkan keletihan dan kelainan
fisik;
(c) Cara bekerja yang membosankan atau meletihkan.
5
2.1.5. Golongan Psikologis
(a) Proses kerja yang rutin dan membosankan;
(b) Hubungan kerja yang terlalu menekan atau sangat
menuntut;
(c) Suasana kerja yang serba kurang aman.
2.2. Beberapa Penyakit Akibat Kerja
Bagian Tubuh
yang Terganggu
Gejala Penyebab
1) Mata Kemerah-merahan,
iritasi, berair, risi,
buta pengelas.
Asap, ozone, ammonia,
debu logam, asam, radiasi
ultraviolet.
2) Kepala Pusing, sakit kepala Larutan gas, suhu tinggi,
kebisingan, emosi dapur
kokas, karbon monoksida.
3) Otak dan Sistem
Syaraf
Ketegangan, gelisah,
risi, tidak bisa tidur,
gemetar, gangguan
berbicara.
Kebisingan, DDT, timah,
air raksa, kepone, larutan
benzene, karbon
tetrakloride, hidrogen
sulfide, mangaan.
4) Telinga Berngiang, kepekaan
sementara, tuli
Bunyi dan getaran
5) Hidung dan
Tenggorokan
Bersin, batuk, radang
kerongkongan,
kanker hidung
Ammonia, larutan, soda
api, debu, fume,
chromates, serbuk kayu,
damar, emisis
6) Dada dan Paruparu
Emphyema, bengek,
sesak nafas, batuk
kering, kanker, gejala
flu.
Debu kapas, TDI, ensim
letergen, beryllium,
larutan, hydrogen sulfide,
ozone, talkum, asbestos,
debu batubara, silica,
chromate, magnesium,
nickel, oxide logam
mengelas, emisi dapur
kokas.
6
Bagian Tubuh
yang Terganggu
Gejala Penyebab
7) Otot dan
Punggung
Perih dan kaku Terlalu banyak
mengangkat/mengangkat
dengan cara yang salah,
membungkuk, getaran,
posisi tubuh tidak enak
8) Hati Kurang nafsu makan,
hepatitis, penyakit
kuning, kanker,
cirrhosis
Larutan, karbon
tetrachloride, gas
anastetis, vinyl chloride
9) Ginjal dan
Kantong Kemih
Perih, gangguan
buang air kecil,
kanker
Timah,cadmium, larutan,
arsenik, alkohol, pewarna,
benzidine
10) Sistem
Reproduksi
Mandul, impoten,
kelainan kongenital,
keguguran
DES, timah, pestisida,
radiasi, gas anestetis,
xylene, benzene
11) Kulit Kemerah-merahan,
kering, gatal, bisul,
kanker kulit
Larutan, epoksi, minyak,
fibreglass, soda api,
nickel, minyak mineral,
arsenic, aspal, tar, radial,
emisi dapur kokas.
2.3. Langkah-langkah Pencegahan Penyakit Akibat Kerja
Langkah-langkah ke arah pencegahan penyakit akibat kerja terdiri dari (a)
kesadaran manajemen untuk mencegah penyakit akibat kerja, dan (b)
pengaturan tata-cara pencegahan. Manajemen harus sadar bahwa
peningkatan produktivitas kerja sangat erat kaitannya dengan efisiensi
dan prestasi kerja. Kedua hal ini tidak terlepas dari tenaga kerja yang
sehat, selamat, dan sejahtera. Jadi, peningkatan kesejahteraan dan
keselamatan kerja harus dilengkapi oleh lingkungan yang sehat.
Sumber: Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Dr.Bennett N.B.Silalahi,
MA dan Rumondang B.Silalahi, MPH., PT. Pustaka Binaman Pressindo, 1995.
Tabel. 1.1. Beberapa Penyakit Akibat Kerja
7
Tata – cara pencegahan penyakit akibat kerja adalah sebagai berikut:
1) Substitusi
bahan yang berbahaya atau terbukti dapat menyebabkan penyakit
secara cepat atau lambat harus ditukar dengan yang lebih aman
2) Isolasi
mengisolasi proses yang bising atau pencampuran bahan /
larutan yang menimbulkan gas berbahaya.
3) Ventilasi Penyedotan
kipas penghisap atau exhaust fan pada tempat-tempat tertentu
dipasang agar gas yang berbahaya terhisap keluar dan ditukar
dengan udara bersih. Misalnya, tempat parkir di lantai bawah
tanah harus dilengkapi dengan exhaust fan.
4) Ventilasi Umum
Tempat-tempat bekerja bagi karyawan seperti tempat
pengemasan atau dapur produksi harus dilengkapi dengan
ventilasi umum untuk memudahkan peredaran udara.
5) Alat Pelindung
Alat yang melindungi tubuh atau sebagian dari tubuh wajib dipakai
oleh karyawan misalnya topi pengaman, masker, respirator (alat
pernafasan), kacamata, sarung tangan, pakaian kerja, dsbnya.
6) Pemeriksaan kesehatan pra-karya
sebagaimana diterangakan di atas, setiap pekerja harus terlebih
dahulu melalui pemeriksaan kesehatan umum dan khusus untuk
mengindera kelemahan masing-masing
7) Pemeriksaan Kesehatan Berkala.
pemeriksaan ini perlu untuk mengindera sedini mungkin apakah
faktor-faktor penyebab penyakit di atas sudah menimbulkan
gangguan atau kelainan.
8) Pemeriksaan Kesehatan Khusus.
Pekerja yang menunjukkan gejala yang dicurigai ada kaitannya
dengan lingkungan kerjanya harus dikirim ke klinik spesialis untuk
menjalani pemeriksaan khusus. Langkah seperti ini sangat
membantu pekerja itu sendiri maupun manajemen.
9) Penerangan Pra-Karya
Pekerja harus menjalani induksi atau perkenalan pada lingkungan
pekerjaan dan semua peraturan keselamatan dan kesehatan
kerja. Langkah seperti ini biasanya menimbulkan rasa berhati –
hati dan meningkatkan kewaspadaan.
10) Pendidikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
setiap penyedia, mandor, anggota Panitia Pembina Keselamatan
dan Kesehatan Kerja, dan Ahlinya harus menjalani pendidikan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja secara beruntun dan berulang
-ulang. Mereka kemudian mendidik karyawan dalam praktek
manufaktur yang baik (good Manufacturing Practice) dan
kesehatan kerja itu sendiri.
8
3. Penerapan Keselamatan Kerja pada Pelaksanaan Pekerjaan
Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan. Tak
terduga, karena di belakang peristiwa itu tidak terdapat unsur
kesengajaan, lebih-lebih dalam bentuk perencanaan. Maka dari itu,
peristiwa sabotase atau tindakan kriminal di luar ruang lingkup
kecelakaan yang sebenarnya.
Perlindungan Kecelakaan pada Tempat Kerja merupakan salah satu
aspek penting pada suatu pelaksanaan pekerjaan yang harus selalu
diupayakan dan dijaga oleh semua pihak agar keselamatan kerja
terjamin.
Perlindungan kecelakaan pada tempat kerja meliputi beberapa hal
sebagai berikut:
3.1. Perlindungan Kecelakaan terhadap Operator/Teknisi
3.2. Perlindungan Kecelakaan terhadap Mesin dan Alat kerja
3.3. Perlindungan Kecelakaan terhadap Benda Kerja
3.4. Perlindungan Kecelakaan terhadap Tempat/Lingkungan
Kerja
3.1. Perlindungan Kecelakaan terhadap Operator/Teknisi
Alat untuk perlindungan kecelakaan terhadap Operator/Teknisi pada
industri atau perusahaan biasa disebut Alat Pelindung Diri (APD) yang
secara standar (Gb. 1.3.) terdiri dari:
a. Sepatu Kerja (Safety Shoes), berfungsi melindungi jari-jari dan
kaki dari benda tajam dan kejatuhan benda berat. Juga berfungsi
sebagai alas kaki saat kita bekerja.
b. Pelindung Telinga bisa berbentuk menutup seluruh daun telinga
atau hanya menutup lubang telinga, berfungsi untuk mengurangi
suara bising dari mesin-mesin perkayuan yang terdengar oleh
telinga kita.
c. Masker Hidung ada yang hanya untuk debu atau partikel-partikel
lembut dan untuk uap kimia. Masker Hidung tersebut berfungsi
untuk menghalangi masuknya debu gergajian kayu atau uap
bahan kimia finishing kayu ke dalam pernafasan kita.
d. Kaos Tangan dari bahan kulit dikombinasikan dengan kain tebal
yang berfungsi melindungi jari-jari dan telapak tangan kita pada
saat mengangkat atau membawa beban berat.
e. Kaca Mata Pengaman terbuat dari plastik yang menutup seluruh
mata dan sekitarnya atau bentuk seperti kacamata biasa yang sisi
sampingnya ada plastik pelindungnya dan kacanya bisa berwarna
gelap atau terang.
9
3.2. Perlindungan Kecelakaan terhadap Mesin dan Alat kerja
Perlindungan Kecelakaan terhadap Mesin dan Alat Kerja bisa menjadi
satu kesatuan alat yang dipasang pada mesin. Fungsi pelindung tersebut
selain melindungi mesin juga melindungi benda kerja dari kecelakaan
yang mungkin terjadi, sekaligus melindungi Operator/Teknisi yang
mengoperasikan mesin tersebut (Gb. 1.4).
Sumber: Fachkunde – Holztechnik, Dipl.-Ing.Wolfgang Nutsch,2005
Gb. 1.4. Pelindung Putaran Pisau Ketam Perata
Pelindung Putaran Pisau Ketam Perata
Sumber: Fachkunde – Holztechnik, Dipl.-Ing.Wolfgang Nutsch,2005
Gb. 1.3. Alat Pelindung Diri (APD) bagi Teknisi Perkayuan
10
3.3. Perlindungan Kecelakaan terhadap Benda Kerja
Perlindungan Kecelakaan terhadap Benda Kerja bisa menjadi satu
kesatuan dengan perlindungan terhadap mesin dan alat kerja karena
keselamatan terhadap benda kerja sangat terkait dengan perlindungan
kecelakaan terhadap mesin dan alat kerja serta tata-cara dan proses
kerja yang aman.
3.4. Perlindungan Kecelakaan terhadap Tempat/Lingkungan
Kerja
Supaya terhindar dari kecelakaan yang diakibatkan oleh keadaan
tempat/lingkungan kerja, maka bahaya-bahaya yang terdapat di sekitar
tempat kerja perlu dikenal dan dan diidentifikasi terlebih dahulu.
Ketidakwajaran keadaan sekitar akan mengakibatkan gangguangangguan
terhadap badan atau jiwa. Hal-hal yang kurang maupun yang
lebih akan merupakan gangguan atau kerusakan jikalau sifatnya
berlebihan.
Sumber: Fachkunde – Holztechnik, Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 1.5. Membelah Papan Menggunakan Mesin Gergaji
11
Keadaan lingkungan yang dapat merupakan keadaan berbahaya (Dr.
Bennett N. B. Silalahi,MA. Manajemen Kesehatan & Keselamatan Kerja,
PT. Pustaka Binaman Pressindo, 1995) antara lain sebagai berikut:
3.4.1. Suhu dan kelembaban udara;
3.4.2. Kebersihan udara;
3.4.3. Penerangan dan kuat cahaya;
3.4.4. Kekuatan bunyi;
3.4.5. Cara kerja dan proses kerja;
3.4.6. Udara, gas-gas yang bertekanan;
3.4.7. Keadaan mesin-mesin, perlengkapan dan peralatan kerja
serta bahan-bahan;
3.4.8. Keadaan lingkungan setempat.
3.4.1. Suhu dan kelembaban udara
Suhu yang ekstrem seperti terlalu dingin atau terlalu panas sangat
mempengaruhi produktivitas dan kesehatan para pekerja. Setiap mesin
menimbulkan panas. Debu, kelembaban udara, dan pencemar udara
serta tubuh manusia sendiri adalah sumber ketidaknyamanan di
lingkungan kerja disamping panasnya udara. Sinar matahari yang
berhasil masuk ke ruang kerja meningkatkan suhu yang ada. Oleh sebab
itu, perlu kiranya diadakan alat pengendalian suhu, debu, dan bau di
setiap tempat kerja.
Di negara-negara tropis pengendalian suhu sangat penting sepanjang
tahun. Pengendali suhu yang relatif murah adalah AC Central yang dapat
disalurkan ke seluruh ruang kerja termasuk bengkel. Guna mengalirkan
udara yang telah disejukkan, exchaust fans perlu dipasang di sudut-sudut
tertentu. Udara yang nyaman dan mengalir mengurangi bakteri dan hawa
bau dari udara.
3.4.2. Kebersihan udara
Kebersihan udara pada lingkungan kerja sangat mempengaruhi
kesehatan pekerja. Oleh sebab itu perlu ditempuh cara-cara menjaganya,
baik secara alami maupun buatan. Untuk menjaga kebersihan udara
secara alami, antara lain dapat di tanam pohon perindang di areal sekitar
tempat kerja. Sedangkan untuk menjaga kebersihan udara secara
buatan, seperti pada ruang mesin perkayuan dapat dipasang penyedot
debu (blower) secara terpusat.
3.4.3. Penerangan dan kuat cahaya
Penerangan dan kuat cahaya pada tempat kerja sebaiknya mencukupi
untuk melaksanakan aktivitas pekerjaan. Faktor penting yang
mempengaruhi hal tersebut adalah warna cat, lampu, dan alat
penerangan.
12
Standar penerangan yang diterima adalah setara dengan 100 s.d. 200
kali lilin. Penerangan harus memperhatikan tidak timbulnya kesilauan
(glare), pantulan dari permukaan yang berkilat, dan peningkatan suhu
ruangan. Ternyata lampu fluorescent (neon) lebih memenuhi syarat
dalam hal ini.
Warna cat tembok dan langit-langit sebaiknya tidak membosankan.
Warna sebaiknya menyeragamkan penerangan sekitar, namun harus
pula ada warna-warna yang kontras untuk menjegah kebosanan. Pusatpusat
tumpuan mata seperti meja kerja atau peralatan harus tidak
memantulkan cahaya.
Disarankan agar langit-langit dan bagian atas tembok dicat dengan warna
muda pastel. Bagian bawah tembok dan tempat-tempat peralatan di cat
dengan warna yang lebih tua. Lingkungan mesin-mesin dicat dengan
warna kontras.
3.4.4. Kekuatan bunyi
Kekuatan bunyi yang mempunyai kebisingan di atas batas normal (85 db
= decibel adalah satuan kepekakan suara) dapat mempengaruhi
kemerosotan syaraf dan keletihan mental. Maka dari itu diupayakan
pengendalian atas kebisingan dan getaran melalui hal-hal berikut ini:
a. Bagian-bagian bergerak dari seluruh mesin, perlengkapan, dan
peralatan harus senantiasa diberi minyak pelumas.
b. Cegah penggunaan mesin yang menimbulkan kebisingan di atas
95 db.
c. Pergunakan peredam getaran seperti akustik, karet, dan barang
lain yang sejenis.
d. Sumber-sumber getaran harus diisolasi.
e. Dinding dan langit-langit sedapat mungkin dilapisi dengan bahan
akustik.
f. Gunakan alat penyumbat telinga pada tempat yang mempunyai
kebisingan di atas 95 db.
3.4.5. Cara kerja dan proses kerja
Untuk mencegah kecelakaan di tempat kerja maka harus selalu
menerapkan standard operational procedure yang ditentukan sehingga
cara dan proses kerja selalu memenuhi standar. Untuk itu sebelum mulai
bekerja harus direncanakan lebih dulu tata-cara dan proses kerja yang
efektif dan aman.
3.4.6. Udara, gas-gas yang bertekanan
Udara dan gas yang bertekanan harus selalu diperiksa dan dipasang
regulator pada tempat tertentu sehingga mudah untuk diatur. Gunakan
udara dan gas yang bertekanan ini sesuai dengan fungsinya. Jangan
gunakan udara tekan untuk membersihkan pakaian kerja dan badan
13
karena tekanan udara yang masuk ke dalam pori-pori kulit bisa
membahayakan atau mencelakakan.
3.4.7. Keadaan mesin-mesin, perlengkapan dan peralatan kerja serta
bahan-bahan;
Keadaan mesin-mesin, perlengkapan dan peralatan kerja serta bahanbahan
harus selalu dalam keadaan siap dioperasikan secara optimal.
Untuk itu perlu menerapkan pemeliharaan pencegahan (preventive
maintenance) terhadap mesin-mesin, perlengkapan dan peralatan kerja
secara berkala sehingga menjamin produktivitas yang optimal.
3.4.8. Keadaan lingkungan setempat.
Keadaan lingkungan setempat yang perlu dijaga guna menjamin
kesehatan dan keselamatan kerja antara lain adalah:
a. Pengaturan tata rumah tangga (house keeping), yang mencakup
kebersihan, ketertiban, keteraturan tempat kerja, tata ruang,
peredaran udara, dan penerangan.
b. Diterapkan preventive maintenance terhadap mesin-mesin dan
alat kerja serta bahan yang dipakai.
c. Pengaturan pekerja yang meliputi kondisi mental dan fisik,
kebiasaan kerja baik dan aman, serta pemakaian alat pelindung
diri.
d. Pengaturan tata-cara kerja, meliputi prosedur kerja yang aman
dan menurut petunjuk manual.
14
BAB II
MELAKUKAN PEKERJAAN PERSIAPAN PEMBUATAN MEBEL
Pada bab ini diuraikan beberapa hal yang meliputi tentang melakukan
pekerjaan persiapan pembuatan mebel.
Standar Kompetensi pada bab ini adalah Melakukan Pekerjaan
Persiapan Pembuatan Mebel yang terdiri dari tiga Kompetensi Dasar
yaitu Menginterpretasikan Gambar Kerja, Merencanakan Kebutuhan
Bahan, serta Membuat Gambar Kerja dan Daftar Komponen, yang secara
terinci disusun ke dalam topik-topik sebagai berikut:
1. Menginterpretasikan Gambar Kerja
1.1. Pengetahuan desain
1.2. Prinsip-prinsip desain
1.3. Mendesain perabot
2. Merencanakan Kebutuhan Bahan
2.1. Bahan kerja
2.2. Istilah dan singkatan bahan
3. Membuat Gambar Kerja dan Daftar Komponen
3.1. Gambar kerja
3.2. Daftar komponen
1. Menginterpretasikan Gambar Kerja
Dalam pembuatan mebel hendaknya kita mengerti lahirnya sebuah mebel
hal tersebut untuk menghindari duplikasi desain sehingga diharapkan
seseorang pembuat mebel tidak hanya bisa sekedar menjiplak dari yang
ada atau mengkopi dari desain orang lain yang laku dipasar, dengan
demikian akhirnya diharapkan juga bisa menginterprestasikan gambar
kerja dengan baik.
1.1. Pengetahuan desain
Kata desain mengandung arti yang sangat luas yaitu suatu sistem yang
berlaku untuk segala macam jenis perancangan, di mana titik beratnya
adalah melihatnya sesuatu masalah/obyek tidak secara terpisah atau
sendiri, melainkan sebagai suatu keseluruhan di mana satu masalah
saling kait mengkait yang dapat digambarkan sebagai berikut :
15
Merancang adalah proses mencipta bentuk melalui sketsa dari yang
belum ada menjadi nyata/kenyataan dengan maksud tertentu, biasanya
karya rancang adalah untuk memenuhi kebutuhan praktis misalnya kursi,
tidak hanya tampak menarik, tetapi harus berdiri kokoh, nyaman diduduki,
dan aman digunakan.
Sehingga desain adalah upaya manusia untuk memecahkan kebutuhan
fisik dengan pendekatan penyelesaian melalui keterampilan, dengan
pertimbangan ekonomis, teknologi, bahan, estetis (keindahan) atau
keseluruhan. Dalam budaya industri, desain adalah suatu upaya
penciptaan model, kerangka, bentuk, pola atau corak yang direncanakan
dan dirancang sesuai dengan tuntutan kebutuhan manusia/pemakai,
dalam hal ini disebut juga konsumen akhir.
Dengan demikian desain lebih banyak dipengaruhi oleh kecepatan
membaca situasi, pemenuhan kebutuhan pasar, permintaan konsumen,
serta kekayaan akan ide-ide dan imajinasi untuk menciptakanya serta
pengembangkan desain produk baru
Untuk mendapatkan ide, desainer bisa memperoleh inspirasi dari
lingkungan kehidupan di sekitarnya yang tiada habis-habisnya dengan
cara merenung, melihat, mengasosiasikan dan mengembangkan ide
yang pada akhirnya mendapatkan sesuatu yang sangat berguna
terhadap hasil karyanya, misalnya alam merupakan guru terbaik bagi
desainer untuk mendapatkan ide, sehingga hal demikian ini banyak
dijumpai suatu hasil karya yang ditemukan masih ada hubungannya
dengan alam.
KURSI
DUDUKAN
MODEL
BAHAN
KNOCK
DOWN
…. UKURAN
….
…. METAL
KONSTRUKSI
Gb. 2.1. Skema Desain
16
Proses penggalian ide masih dapat dilihat dan dianalisa dalam pikiran
manusia melalui bentuk konsep yang optimal, serta penggalian ide tidak
terbatas apa yang ada yang pernah kita lihat namun bisa dengan
membuat trial and eror sampai mendapatkan yang dikehendaki.
Problem solving merupakan pemecahan masalah dalam mewujudkan
sebuah produk baru (new product) atau penemuan baru (invention).
Metode praktis berpikir inovatif adalah salah satu cara sederhana dalam
membuat gagasan desain yang memiliki unsur kebaruan. Langkah ini
dapat dipakai untuk mendapatkan produk baru mulai dari Perencanaan,
Konsep, Desain, Gambar Kerja dan Pembuatan Model/ Prototype
1.2. Prinsip-prinsip desain
1.2.1. Proporsi (proportion)
Perbandingan antara bentuk elemen besar dan kecil. Proporsi
menyangkut suatu hubungan bagian dengan bagian yang lain atau
bagian dengan keseluruhan, atau antara satu obyek dan obyek yang
lainnya.
Proporsi bertalian erat dengan hubungan antara bagian-bagian di dalam
suatu komposisi, hubungan ini dapat berbentuk suatu besaran, kuantitas
atau tingkatan.
PERENCANAAN
PRODUK
KONSEP
• Pilosofi
• Problem solving
• Data
• Analisis
• Batasan
• Kriteria
DESAIN
• Sketsa design
• Alternatif design
• Pengembangan
• Keputusan GAMBARKERJA
• MODEL
• PROTOTYPE
PRODUKSI
Gb. 2.2. Konsep Perencanaan Produk
17
1.2.2. Skala (scale)
Dalam prinsip desain terdapat beberapa skala yang lazim dipakai dalam
desain yaitu skala mekanik dan skala visual, skala mekanik adalah
perhitungan sesuatu fisik berdasarkan sistim ukuran standar, bisa dengan
cm, mm, inci, kaki dan lain sebagainya, sedangkan skala visual adalah
merujuk pada besarnya sesuatu yang tampak karena diukur terhadap
benda-benda lain disekitarnya.
Kita dapat mengatakan berskala kecil jika kita mengukurnya dengan
membandingkan terhadap benda-benda lain yang umumnya jauh lebih
besar ukurannya, begitu pula sebaliknya.
1.2.3. Keseimbangan (balance)
Prinsip keseimbangan dalam desain adalah menyangkut kepekaan kita
terhadap ketidak-teraturan dan keseimbangan, karena ketidakseimbangan
akan menimbulkan perasaan tidak tenang, tidak sesuai,
sehinggga untuk mendapatkan keseimbangan harus
mempertimbangankan ”bobot visual”, yaitu suatu elemen yang ditentukan
oleh ukuran, bentuk, warna dan tekstur.
Ada dua kelompok keseimbangan yang perlu kita mengerti adalah
keseimbangan formal dan keseimbangan informal
KUBUS PENDEK JANGKUNG KURUS
Perabot yang proporsinya sangat berbeda
Gb. 2.3. Proporsi
18
(a) Keseimbangan formal
Keseimbangan formal adalah
keseimbangan yang dapat dicapai
dengan menata elemen-elemen
sebelah kanan dan kiri garis
simetris yang mempunyai bobot
visual sama contoh: meja dapur
dan lampu sebelah kanan dan kiri
adalah sama sama jumlahnya
maupun penataanya dan
mempunyai jarak yang sama
terhdap garis pusat.
(b) Keseimbangan informal
Keseimbangan informal (asimetris)
adalah keseimbangan yang
dicapai dengan menata elemen
yang tidak sama, misal mebel
yang tidak sama (asimetris ) di
kanan dan kiri garis, meja dan
elemen dinding di kanan dan kiri
garis sumbu tidak sama
1.2.4. Keselarasan (harmoni)
Harmoni dapat didefinisikan sebagai keselarasan atau kesepakatan yang
menyenangkan dari beberapa bagian atau kombinasi beberapa bagian
dalam satu komposisi. Suatu perencanaan yang unsurnya selaras, akan
terasa sebagai suatu kesatuan, bukan sekadar penggabungan dari
beberapa bagian yan lepas satu sama lainnya. Untuk mendapatkan
keharmonian dapat digunakan unsur-unsur yang sama, akan tetapi
harmoni jika dipaksakan dalam penggunaan unsur-unsur dengan aspek
yang sama dapat menghasilan komposisi dengan suatu kesatuan tanpa
daya tarik.
1.2.5. Kesatuan dan keragaman (unity dan variety)
Prinsip keseimbangan dan harmoni, dalam mencapai kesatuan, tidak
mengesampingkan usaha mengejar variasi dan daya tarik, untuk
mencapai kesatuan yang diinginkan dapat diusahakan tetap
mempertahankan elemen yang paling dominan yang terus berulangulang,
sedangkan keragaman merupakan bagian yang dapat
memperkaya perbedaan namun tetap bernuansa satu.
Gb. 2.4. Keseimbangan Formal
Gb. 2.5. Keseimbangan Informal
19
1.3. Mendesain perabot
Sebagai bagian dari bangunan termasuk mebel/perabot dan tatanan
interior di dalamnya, mendesain mebel yang selama ini termasuk hal
yang hanya menjadi minat seseorang makin lama menjadi tantangan
banyak orang.
Sesungguhnya merupakan kesadaran pemilik akan pentingnya perabot
dalam suatu ruangan, dengan cara mempertahankan bangunan lama,
perabot lama menjadi daya tarik sendiri, terutama di negara kita, mebel
antik lebih banyak disukai meski faktanya telah direproduksi dan di
eksport, masih banyak orang yang lebih mementingkan keuntungan
materi semata, dibanding memikirkan keuntungan nonmateri.
Beberapa mebel lama yang antik, seperti peninggalan-peninggalan atau
bangunan lama yang hingga kini masih bisa dinikmati keindahannya,
misalnya gedung sekaligus interiornya, merupakan hasil karya yang
abadi, makin lama menjadi makin disukai dan makin dicari.
Perabot lama dalam bentuknya pada umumnya terdapat banyak ukiran
maupun lengkungan, bahkan di lingkungan keraton masih menyisakan
perabot antik masa kolonial. Seiring dengan masuknya pedagang dari
Cina, India, dan Eropa, semakin kelihatan pengaruh mereka terhadap
model mebel pada zaman itu. Sampai sekarang merupakan karya desain
perabot yang baik untuk dipelajari.
1.3.1. Potongan emas dan penggunaanya
Sumber : Holztechnik – Fachkunde, Dipl.- Ing Wolfgang Nutsch, 2005.
Gb. 2.6. Potongan Emas dan Penggunaanya
20
Rumusan ini dapat digunakan untuk menentukan besaran sebuah mebel
meskipun juga harus memperhatikan penempatanya / tempat
kedudukanya dan beberapa tuntutan lainnya seperti kesesuaian dengan
penggunannya, barang yang disimpan di dalamnya dan kemudahan
transportasi.
Penting untuk diperhatikan dalam melahirkan sebuah mebel adalah
bentuk secara keseluruhan, serat kayu, dan tampak dari depan serta
konstruksi yang sesuai dengan keadaan yang diharapkan, artinya
konstruksi dapat knock down (bongkar pasang) atau mati, dapat didorong
atau berdiri tetap itu semuanya harus dipikirkanya sebelum mebel
diproduksi.
(a) Meja kerja satu biro
Meja kerja satu biro dapat dipakai
sekretaris, guru, kepala
departemen dengan dua tempat
laci kanan dan kiri pemakai
a= panjang meja, 1.200 mm.
b= lebar, 600 mm.
c= tinggi, 750 mm.
Ukuran di atas tidak harga mati,
karena ukuran meja dapat
disesuaikan dengan pemakai, alat
kerja yang digunaan, sifat
pekerjaan.
(b) Kredensa
Ketinggian Kredensa dapat
disamakan dengan tingginya meja,
namun dapat disesuaikan dengan
kebutuhan khusus akibat fungsi
lain, misalnya untuk sekat orang
bekerja, untuk pembatas ruang,
bahkan dapat dibuat lebih rendah,
karena fungsi lain, misal di atas
ditaruh buku, ordner, sedang pintu
depan bisa dibuat geser (sliding
door), atau kupu-tarung.
a b
c
Sumber : Holztechnik – Fachkunde,
Dipl.- Ing Wolfgang Nutsch, 2005.
Gb. 2.7. Meja Kerja Satu Biro
a
b
c
Sumber : Holztechnik – Fachkunde,
Dipl.- Ing Wolfgang Nutsch, 2005.
Gb. 2.8. Kredensa
21
(c) Mebel dari papan
Mebel terbuat dari papan kayu,
dikonstruksi sedemikian rupa
sehingga papan-papan itu
langsung menerima beban dan
berfungsi langsung sebagai
penyangga pada sistem
konstruksinya, sebagai contoh
dinding samping berfungsi sebagai
kaki penyangga dan penutup
dinding. Mebel sejenis ini lebih
ramping dibanding dengan
konstruksi rangka.
(d) Mebel dengan konstruksi rangka
Almari ini terbuat dari papan kayu
diperkuat dengan bingkai,
sehingga papan dapat dibuat tipis,
dan rangka lebih tebal, papan isian
pada rangka dapat juga dipakai
papan buatan, mebel konstruksi
rangka dengan kaki papan disusun
sedemikian rupa dapat berdiri
lebih stabil asal papan kaki dibuat
lebih rata dan kuat. Konstruksi
sambungan rangka dengan pen
dan lubang dengan bantuan lem
dan sekerup. Konstruksi mebel
semacam ini akan lebih kuat dan
stabil. Untuk mendapatkan mebel
yang baik, serat kayu pada isian
harus disusun sedemikian rupa
sehingga rapi dan terkesan
langsing. Pada sambungan papan
isian biasa digunakan lidah alur,
takik separo, dowel, lamelo
dengan perkuatan lem putih.
Selain itu ada baiknya papan isian
ini dapat memakai kayu lapis
seperti multipleks, blockboard,
teakblock, dan lain-lain.
Sumber : Holztechnik – Fachkunde,
Dipl.- Ing Wolfgang Nutsch, 2005.
Gb. 2.9. Almari Kecil
Sumber : Holztechnik – Fachkunde,
Dipl.- Ing Wolfgang Nutsch, 2005.
Gb. 2.10. Almari Pakaian
22
(e) Konstruksi rangka terpisah
Konstruksi rangka terpisah mirip
dengan konstruksi rangka diatas
namun hanya sebagian badan
mebel dengan papan. Sedangkan
untuk kaki dengan rangka kayu
masip. Sambungan badan dan
kaki dengan lidah alur, atau dowel
yang diperkuat dengan lem dan
sekerup agar lebih kuat.
Untuk memperkuat kedudukan
badan mebel, pada sisi bawah
ditumpu kayu (ambang bawah)
yang menghubungkan konstruksi
kaki samping-samping dengan
perkuatan sekerup.
(f) Mebel dengan konstruksi papan buatan
Yang dimaksud papan buatan
adalah papan/lembaran multipleks,
block-board, teak-block dan
sejenisnya.
Pembuatan sambungan mebel
dengan bahan sejenis ini sedikit
berbeda dengan cara yang
dilakukan untuk pembuatan mebel
kayu pada umumnya, karena
konstruksi sambungan yang kita
buat dapat dilakukan dengan lebih
sederhana, misal dengan dowel,
lamelo, lidah alur, dan dapat
dengan konstruksi knock-down.
Sumber : Holztechnik – Fachkunde,
Dipl.- Ing Wolfgang Nutsch, 2005.
Gb. 2.11. Laci Susun
Sumber : Holztechnik – Fachkunde,
Dipl.- Ing Wolfgang Nutsch, 2005.
Gb. 2.12. Almari dengan Pintu Sorong
23
(g) Mebel jenis almari
Disamping ini terdapat beberapa
contoh mebel dari kiri ke kanan
antara lain:
a. Langsung terletak pada lantai
dengan pintu tanpa bingkai.
b. Dengan kaki, konstruksi mebel
dengan rangka, pintu tanpa
bingkai.
c. Dengan kaki berdiri sendiri,
sedang badan mebel
menumpang di atasnya, pintu
tanpa bingkai.
d. Konstruksi mebel dengan
bingkai, sehingga ada perlu
papan isian (panel).
e. Badan mebel terletak langsung
di lantai dengan pintu rol,
membuka ke atas / ke bawah.
f. Badan mebel ditumpu kaki
yang terpisah, biasanya badan
mebel terbuat dari papan
buatan (multipleks).
g. Mebel langsung terletak di lantai, papan penutup atas dibuat lebih
lebar, dan semua pembuka memakai laci.
h. Mebel ini dibuat dengan kaki lebih tinggi, biasanya terbuat dari papan
buatan (multipleks), biasanya mebel seperti ini dilengkapi dengan
meja.
(h) Pintu ganda dan tunggal
Penentuan pintu ganda atau pintu
tunggal adalah sangat tergantung
dari lebar mebel, karena dengan
pintu ganda diharap engsel kuat
dan mampu menahan beban yang
diterimanya, tahan lama. Harus
dipikirkan daun pintu agar tidak
memakan tempat saat dibuka
sehingga tidak dapat mengganggu
sirkulasi orang yang lewat
didepannya.
Sumber : Holztechnik – Fachkunde,
Dipl.- Ing Wolfgang Nutsch, 2005.
Gb. 2.13. Macam-macam Almari
Sumber : Holztechnik – Fachkunde,
Dipl.- Ing Wolfgang Nutsch, 2005.
Gb. 2.14. Bukaan Pintu Almari
24
(i) Almari dengan laci atas
Apabila diperlukan penyelesaian
dapat dilakukan untuk atas dengan
laci, dan bawah dengan pintu
berengsel. Konstruksi laci dapat
menggunakan peluncur metal
(buatan pabrik), atau peluncur
kayu bahkan tanpa peluncur.
Sedangkan mebel berdiri langsung
di lantai dengan tumpuan merata
dengan papan supaya mebel
dapat berdiri stabil.
(j) Stabilitas
Mebel harus mampu menerima
dorongan dari samping, maupun
pada waktu pengangkatan, untuk
itu yang diperkuat adalah
konstruksi sambungan pada sudut,
penutup belakang, perkuatan
konstruksi arah diagonal.
Kekuatan ini tidak hanya mebel
dalam keadaan kosong, namun
juga pada waktu berisi penuh.
Ukuran dan mobilitas mebel harap
dipikirkan dalam perencanaan,
terutama yang berkaitan dengan
tinggi plafon, lobang pintu,
tikungan pada tagga, lebar tangga,
kemampuan untuk mengangkut /
mengangkat, sehingga dalam
membuat mebel yang perlu
diperhatikan, antara lain:
a. Lebar
b. Tinggi
c. Tebal
d. Sistem konstruksi
Sumber : Holztechnik – Fachkunde,
Dipl.- Ing Wolfgang Nutsch, 2005.
Gb. 2.15. Almari dengan Laci Atas
Sumber : Holztechnik – Fachkunde,
Dipl.- Ing Wolfgang Nutsch, 2005.
Gb. 2.16. Memindah Perabot
Sumber : Holztechnik – Fachkunde,
Dipl.- Ing Wolfgang Nutsch, 2005.
Gb. 2.17. Pemindahan Almari
25
2. Merencanakan Kebutuhan Bahan
2.1. Bahan kerja
Bahan kerja untuk pembuatan mebel kayu harus memenuhi syarat
kekeringanya (kadar air), cacat /serat, kelas, umur dan pada umumnya
kayu tua lebih tahan terhadap serangan hama.
Proses penyediaan bahan mebel mulai dari bahan glondongan/kayu
bulat menjadi bahan mebel seperti pada alur gambar diatas adalah kayu
glondong digergaji dengan ukuran sesuai dengan perencanaanakan
menghasilkan bahan mentah kayu masip, sedang sisanya/limbahnya
dapat diproses menjadi bahan block board seperti berikut:
Pada umumnya papan blok terdiri dari 5 lapis (satu lapisan muka, dua
lapisan silang, satu lapisan inti dan satu lapisan belakang). Lapisan
muka, lapisan silang dan lapisan belakang terdiri dari lembaran finir
sedangkan lapisan inti terdiri dari strip-strip kayu solid berdimensi kecil
(lebar < 1 cm – 12 cm dan tebal 1 cm – 2 cm).
Konstruksi papan blok sama dengan kayu lapis yaitu saling tegak lurus
antar lapisan. Untuk lebih jelasnya secara ringkas proses pembuatannya
terlihat pada skema diatas (Gb. 2.22.).
BahanMebel
Kayu Bulat (log)
Kayu
Gergajian
Limbah
Sebetan
Finir Strip Kayu Solid
Block board
BahanMebel
Gb. 2.22. Proses Penyediaan Bahan
26
Persiapan strip-strip kayu untuk inti menurut Tsoumis (1991), strip inti
dibuat dari kayu yang bebas dari cacat-cacat yang serius, umumnya
dengan kayu yang berat jenisnya rendah dan stabilitas yang cukup
tinggi, jenis yang umum digunakan adalah spruce, fir, pine, poplar dan
berbagai jenis kayu tropika.
Selanjutnya dinyatakan bahwa strip berubah-ubah dalam ukuran lebar,
tebal dan panjang, lebar bervariasi dari ukuran kurang dari 1 cm – 12
cm, ketebalan 1 – 2 cm. Strip biasa diproduksi dengan menggergaji,
tetapi strip yang tipis (0,6 – 0,8 cm) dibuat dengan mesin rotari.
Ukuran strip umumnya sempit dan lebar strip dirancang dengan arah
tangensial yang mempunyai kecendrungan alami melengkung jika
digunakan, dan idealnya disusun berlawanan menurut lingkaran tumbuh
namun prosedurnya tidak praktis dan pada industri diproduksi secara
acak.
Inti dibuat dengan mesin dan jarang dengan tangan, mesin secara terusmenerus
memotong strip dari awal sampai akhir, perekat diberikan
sambil dipanaskan dan keluar setelah dilapisi, dimana bahagian panjang
panel dirancang sebelumnya. Sedangkan inti yang dibuat secara
manual, setelah diolesi perekat disusun berdampingan menghasilkan
luasan panel dan di kempa.
Dalam produksi lanjutan masing-masing lembaran inti ditempatkan
terpisah dan dikempa secara pelan dan bergiliran. Setelah tertata ukuran
akhir, panjang dan lebar digergaji, inti diketam (diserut) untuk
menghasilkan permukaan yang halus untuk persiapan pelapisan finir.
Seleksi dan persiapan finir menurut Tsoumis (1991), pembuatan papan
blok, sama halnya seperti untuk pembuatan kayu lapis, lembaran finir
juga harus diseleksi. Untuk tujuan dekoratif (Furniture, dinding penutup),
finir lapisan permukaan harus dari kayu yang berkualitas tinggi yang
diseleksi dari segi penampilan dan warna.
Sebaliknya untuk lapisan belakang dan lapisan silang dibuat dari kualitas
yang rendah dari jenis yang sama atau jenis lainnya. Papan blok untuk
tujuan konstruksi kriteria utama adalah kekuatan bukan nilai dekoratif.
Selanjutnya dinyatakan, finir yang bernilai dekoratif diutamakan dari
produksi hardwood (oak, walnut, birch, elm dan kayu-kayu tropis seperti
jati, mahoni, meranti dll.) dan pada umumnya dibuat dengan cara slicing.
Namun demikian finir yang dibuat dari softwood (pine, douglas-fir,
spruce) dan hardwoods (poplar, beech, maple dan kayu tropika) dibuat
hampir selalu dengan cara rotari, biasanya dengan ketebalan 0,6 mm –
0,8 mm untuk finir indah, dan 1,5 mm – 3 mm untuk kegunaan lainnya.
Persyaratan lainnya, finir harus mempunyai permukaan dengan
ketebalan seragam, dan kadar air yang sesuai. Kebanyakan finir
27
dikeringkan sampai kadar air kurang dari 5 %. Setelah pengeringan
pinggir finir dikuatkan dengan penempelan pita kertas berlobang supaya
ujungnya terpelihara, kemudian disimpan dengan rapi sebelum direkat.
Pelapisan inti dengan finir yaitu inti akan dilapisi setelah dikondisikan
(agar kadar airnya sama dengan kadar air lingkungan). Ketidak
sempurnaan pemesinan akan menyebabkan kurangnya kualitas
permukaan pada waktu pelapisan sertelah pengeringan, selanjutnya
penguapan kandungan air perekat akan menghasilkan penyusutan,
bekasnya seperti depresi akan terlihat pada permukaan finir panel.
Penyusunan lapisan (finir dan inti) ditata secara paralel dan silang.
Perekatan menurut Tsoumis (1991), menyatakan, seperti kebanyakan
proses pembuatan kayu lapis, papan blok kebanyakan direkat dengan
resin thermosetting: Phenol-formaldehida digunakan untuk tipe eksterior
(bermaksud untuk penggunaan di luar) dan Urea-formaldehida untuk tipe
interior. Tipe interior dengan batas ketahanan air dapat diproduksi
dengan meningkatkan penggunaan resin urea, dan kadang-kadang
polyphenols alami (tanin) dicampur dengan resin synthetic.
Perekat disiapkan dengan waktu yang singkat sebelum digunakan
dengan penambahan air, fillers, extenders dan catalysts. Resin solid
bervariasi dari 22 – 30 % untuk tipe eksterior dan 12 – 18 % untuk
penggunaan interior (kadang-kadang 30 % untuk urea-formaldehida).
Additive untuk resin-resin phenolic mengandung furrafil. Ureaformaldehide
dipersiapkan dengan menambah tepung terigu dan
amonium chloride sebagai catalyst.
Selanjutnya dinyatakan bahwa perekat dipakai dengan cara roller, spray,
lapisan tirai (curtain coating) yaitu suatu sistem dimana lembaran tipis
dari perekat (adhesive) dilewatkan di atas finir, conveyor di bawah
waduk perekat, garis rekat yang dibentuk di atas finir adalah paralel.
Penyebaran perekat pada luasan permukaan finir sangat beragam yaitu
dari 100 gr/m2 – 500 gr/m2 dan ini tergantung dari beberapa faktor:
kontak dengan kayu, jenis perekat dan cara aplikasi. Kebanyakan
perekat dibutuhkan untuk mengikat poroduk dalam bentuk encer.
Pedoman penggunaan perekat dibantu dengan mengikuti instruksi
pabrik, tetapi pengujian daya ikat perekat dibutuhkan untuk control kualiti
produk. Aplikasi perekat diikuti oleh pelapisan panels, pelapisan manual
atau semi manual bahkan system automatic.
28
2.2. Istilah dan singkatan bahan
2.2.1. Singkatan bahan
Penggunaan singkatan-singkatan yang sudah lazim dapat menghemat
waktu. Singkatan - singkatan ini harus jelas dan tidak menimbulkan salah
pengertian. Singkatan yang digunakan dalam gambar harus sama seperti
yang tertera pada daftar material maupun data pokok material
penggunaan singkatkan terus di masyarakatkan supaya tidak terjadi
salah persepsi atau salah mengartikan singkatan .
(a) Bahan kayu
AG Agathis BA Bangkirai
DA Damar JA Jati
KA Kamper KR Keruing
MA Mahoni MB Meranti Batu
ME Merbau MM Meranti Merah
MP Meranti Putih MS Mersawa
NY Nyatoh PN Pinus
RA Ramin RE Rengas
SB Sonokembang SE Sengon
SL Sonokeling SU Sungkai
UL Ulin
(b) Bahan lembaran
Blb Blockboard Ete Eternit
Hab Hardboard Hdl Hardboard dgn lapisan
Lak Lembaran akustik Lgp Lembaran gip
Lpm/1-s Lembaran ppn masif 1 lps Lpm/3-s Lembaran ppn masif 3 lps
Lta Dengan lem tahan air Lte mLembaran tengah
MDF Lembaran MDF MDF/MA Lembaran MDFfn mahoni
Psk Papan semen kawul Mel/wd melamine wood
Mul Multipleks Mul/JA Multipleks jati
Mul/MA Multipleks Mahoni Pkw Papan kawul
Pkw/Fn Papan kawul finir Tripleks Tri/JA Tripleks jati
Sumber : Pedoman Gambar Kerja, PIKA, 1997.
Tabel 2.1. Singkatan bahan kayu
Sumber : Pedoman Gambar Kerja, PIKA, 1997.
Tabel 2.2. Singkatan bahan lembaran
29
(c) Bahan sintetis
Dec Decosheet Dur Durapol
Fol Folio For Formika
Kar Kaca argolit Tac Tacon
Kc-gr Kaca grafir Kc-cr Kaca cermin
Kc-be Kaca bening Kc-es Kaca es
Kc-iso Kaca isolasi Kc-jn Kaca jendela
Kc-ka Kaca kawat Kc-kt Kaca katedral
Kc-su Kaca susu Kc-pe Kaca pelapis
Kc-pa Kaca patri Kc-sp Kaca
2.3. Daftar bahan
Dari satu segi, daftar bahan digunakan untuk kalkulasi dan sebagai dasar
penyelesaian dengan atau tanpa gambar kerja.
2.3.1. Penyusunan berdasarkan kelompok bahan
Sistem ini memiliki keuntungan bahwa setiap kelompok material terlihat
dengan jelas pada satu urutan. Pada bagian pemotongan dapat dilihat
pembagian pada daftar atas dasar golongan-golongan yang ada,
misalnya daftar untuk lembaran, kayu masif, finir, dan bahan pelapis.
Kelengkapan dan kaca dapat disesuaikan dengan formulir yang telah
ditetapkan.
Kerugian pada sistem ini adalah, bahwa pada pencatatan, bagian benda
kerja yang sama harus dicantumkan beberapa kali penggambaran dan
ukurannya, misalnya untuk lembaran, lis sisi, dan finir. Pada
penyelesaiannya, luas benda kerja tidak dapat langsung diketahui.
2.3.2. Penyelesaian secara blok
Satu bagian benda kerja serta bahan-bahan yang terkait
diselesaikansecara bersama-sama dan satu kali jalan, misalnya bahan
dasar, lis-lis sisi, kelengkapan. Keuntungannya adalah penyelesaian yang
lebih fleksibel pada suatu proses kerja. Penyelesaian secara blok
memberikan informasi tentang volume dan keterangan suatu benda kerja
yang nyata. Terutama pada pekerjaan seri dapat dilaksanakan
pengerjaan tanpa gambar. Kerugiannya adalah tercampurnya kelompok
bahan.
Sumber : Pedoman Gambar Kerja, PIKA, 1997.
Tabel 2.3. Singkatan bahan sintetis
30
3. Membuat Gambar Kerja dan Daftar Komponen
3.1. Gambar kerja
Gambar kerja adalah sebuah rencana teknik sebagai landasan
penyelesaian sebuah obyek. Gambar ini harus mencantumkan informasi
yang lengkap, baik secara grafis maupun dengan teks.
Gambar kerja dapat mengvisualisasi rencana kerja yang memperagakan
suatu penetapan dan pembentukan benda kerja / produk. Misalnya
tentang: bentuk benda kerjanya; ukuran (ukuran pokok dan detail, ukuran
untuk melakukan sesuatu); konstruksi (susunan bagian benda, cara
memasang); bahan (jenis kayu, lembaran, engsel, kunci, bahan lain
seperti kaca, kain, dsb); penampilan akhir permukaan benda (mentah,
politur, vernis, cat duco, dsb),biasanya disebut reka oles atau finishing.
Petunjuk mengenai hal di atas harus jelas, sehingga tukang yang
menerima gambar tidak perlu bertanya lagi, semua keterangan yang di
perlukan secara umum adalah untuk mempermudah penyelesaian
pekerjaan. Misalnya, gambar konstruksi yang berkali-kali dipakai, pada
lembaran konstruksi khusus, pada lembaran normalisasi harus ada tanda
khusus, pada gamba hanya cukup diberi keterangan singkat (bisa juga
dengan warna) cara ini bisa dipakai pada pekerjaan job order maupun
produksi massal/seri.
Gambar kerja yang baik adalah dapat memberi arahan jelas dengan
urutan kerja mulai ukuran keseluruhan sampai ukuran rinci, alat yang
dipakai, metode pengerjaan dan penyelesaian akhir. Gambar kerja
meliputi: tampak, potongan vertikal, potongan horizontal dan gambar
detail untuk konstruksi yang dipandang rumit. Bagian-bagian dari gambar
kerja adalah gambar keseluruhan, gambar detail, dan gambar satuan.
Dalam penggunaannya secara umum gambar dapat dibedakan menjadi :
3.1.1. Gambar sketsa
Sumber: Pedoman Gambar Kerja, PIKA,1997.
Gb. 2.18. Gambar Sketsa
31
3.1.2. Gambar pesanan
3.1.3. Gambar perspektif / tiga dimensi
Sumber: Pedoman Gambar Kerja, PIKA,1997.
Gb. 2.19. Gambar Pesanan
Sumber: Pedoman Gambar Kerja, VEDC Malang,2008.
Gb. 2.20. Gambar Perspektif
32
3.1.4. Gambar kerja
3.2. Penggambaran
Menurut kebiasaan dalam pandangan geometri, pada menggambar
teknik, ketentuan pandangan dalam industri kayu adalah sebagai berikut :
a. Pandangan muka dan penampang frontal dibuat di atas dan segera di
bawahnya digambar pandangan atas dan penampang horisontal.
b. Pandangan samping dan penampang vertikal umumnya dibuat di
sebelah kanan. Kalau kedudukan di sebelah kiri memberikan
keterangan yang lebih jelas, pandangan samping dan penampang
vertikal harus dibuat di sebelah kiri.
c. Pandangan samping dan penampang samping yang terlihat dari
sebelah kanan pandangan muka ditempatkan di sebelah kiri
pandangan muka. Pandangan samping dan penampang samping
yang terlihat di sebelah kiri pandangan muka, ditempatkan di sebelah
kanan pandangan muka. Susunan ini menjadi kebiasaan dalam
keadaan normal.
d. Kalau perabot mempunyai beberapa bagian, lebih-lebih pada perabot
yang bentuk dasarnya empat persegi panjang atau bujur sangkar,
maka pandangan samping dan penampang samping ditempatkan di
kanan kiri.
e. Pada perabot berbentuk dasar siku-siku, dapat dipertimbangkan dua
jalan yaitu menggambar perabot itu dalam keadaan siku atau
menggambar perabot itu dibagi dua.
Sumber: Pedoman Gambar Kerja, VEDC Malang,2008.
Gb. 2.21: Gambar Kerja
33
3.3. Gambar penampang
Beberapa ketentuan dalam penggambaran penampang agar bisa dibaca
dengan baik dan tidak membingungkan :
3.3.1. Ketentuan penting untuk juru gambar adalah :
(a) Dengan garis penunjuk tempat penampang, dapat
terlihat di mana penampang itu berada.
(b) Garis penunjuk tempat penampang dibuat di tempat
bagian benda akan dipotong.
(c) Semua bagian yang tidak dilewati oleh garis
penampang, tidak boleh diberi garis miring (arsir).
Karena ini berarti bahwa bagian itu dilihat dari bagian
muka, atas atau samping.
3.3.2. Ketentuan penting untuk bagian produksi :
Dengan garis penunjuk tempat penampang, seorang tukang tahu
persis dimana tempat penampang tersebut. Gambar yang tidak
bergaris penampang tidak akan jelas dan akan sulit dibaca.
3.3.3. Simbol garis-titik-garis dengan tanda panah :
Panah menunjukkan dari mana penampang itu kelihatan. harus
digambar pada skala 1:1. Bagian-bagian yang digambar dalam
skala 1:1, pada penampang potongan 1:10 diberi tanda lingkaran.
Hubungan antara gambar-gambar detail potongan harus jelas.
Kalau hal itu sudah jelas dari susunan, cukuplah kalau kelompok
detail potongan yang berkaitan diberi huruf potongan di bagian
atas kiri. Kalau gambar potongan dalam posisi tidak sebidang,
maka setiap potongan detail harus diberi huruf penjelasan.
3.4. Pemberian ukuran
Dalam gambar kerja, keterangan tentang ukuran bidang dan ukuran kerja
sangatlah penting. Semua keterangan ukuran lubang dan ukuran kerja
harus ada dengan lengkap, tepat penempatannya dan jelas terbaca. Di
dalam memberi ukuran harus dibedakan antara ukuran luar dan ukuran
dalam, tempat yang diberi ukuran juga harus tepat.
Ukuran luar adalah jarak yang dapat kita lihat pada suatu benda dari luar.
Sedangkan ukuran dalam adalah ukuran yang hanya kelihatan dari dalam
dan harus diatur di dalam.
Sistem garis ukuran :
a. Garis ukuran : garis tipis 0,25-0,3 mm
b. Garis bantu ukuran : garis tipis, digaris sampai bidang yang kita
inginkan ukurannya.
34
c. Garis batas ukuran : garis pendek miring 45 derajat. Atau biasa
dipakai bentuk lain (titik, tanda panah, dll)
d. Angka ukuran : angka yang menunjukkan besarnya ukuran.
e. Ukuran penampang adalah ukuran pembuatan kerangkakerangka
perabot misalnya : ukuran untuk membuat kotak almari,
rangka pintu, kerangka kaki, dan lain lain.
3.5. Simbol
Tanda gambar, simbol menggaris (mengarsir) penampang merupakan
tanda keterangan. Tujuannya ialah untuk membedakan penampang dari
pandangan dan untuk memberi keterangan tentang macam bahan yang
sama,macam engsel, dan alat penahan atau konstruksi yang sama.
3.5.1. Simbol dan arsir
Cara mengarsir gambar kerja yang dikecilkan. Dalam gambar semacam
ini, semua penampang diberi warna abu-abu muda dengan pensil atau
ilustrator dengan cat warna transparan. Dengan demikian jelas terlihat
bahwa di bagian itu benda tersebut dipotong. Tetapi garis batas benda
harus tetap lebih hitam, sehingga pertemuan dua garis masih dapat
dilihat.
3.5.2. Kelengkapan/asesoris mebel
Pada umumnya, kunci dan engsel tidak digambar mendetail pada gambar
kerja. Hanya posisi tingginya kunci atau engsel serta titik tengah putaran
engsel dan titik tengah lubang kunci ditentukan. Pada kunci rel harus
diberi keterangan antara sisi pintu dan titik tengah lubang kunci. Ukuran
batas luar sebuah engsel atau sebuah kunci spesial harus digambar. Ini
penting artinya untuk menentukan ukuran tebal daun atau benda lain.
3.6. Pengambilan ukuran pada bangunan
3.6.1. Persiapan
Pengambilan ukuran pada bangunan termasuk tugas yang penuh
tanggung jawab. Kesalahan atau ketidak-lengkapan ukuran
memustahilkan rencana yang sempurna, menimbulkan lebih banyak
tambahan pekerjaan, dan banyak membuang waktu. Kesalahan ukuran,
yang tidak langsung diketahui, secara ekstrem bisa memaksa
pengulangan pembuatan dari awal. Pengambilan ukuran yang lengkap
dan teliti adalah syarat mutlak bagi semua pekerjaan yang harus
dikerjakan tepat ukuran. Untuk pengambilan ukuran di tempat
pembangunan, diperlukan alat-alat dan alat bantu yang sesuai. Berikut
adalah peralatan dan alat bantu yang dibutuhkan dalam pengambilan
ukuran.
35
Peralatan untuk mengambil ukuran, adalah sebagai berikut:
a. Meteran lipat,meteran panjang
b. Meteran teleskop
c. Siku
d. Siku swai/putar
e. Waterpas
f. Unting
g. Kaliper
h. Alat pemerata (laser)
i. Lat panjang/lis panjang
j. Kunci tusuk kombinasi untuk membuka macam-macam
Alat bantu untuk mengambil ukuran, adalah sebagai berikut:
a. Kapur tulis
b. Paku dan palu
c. Landasan gambar
d. Kertas blok dan pensil
e. Tangga
f. Kamera foto
3.6.2. Pembuatan sketsa
Ukuran pokok, tinggi ruang maupun keterangan umum dibuat pada
denah berskala 1:50. Pencatatan ukuran detail, seperti ukuran pintu dan
jendela, sambungan pipa air, listrik dan sebagainya, hanya dapat dicatat
dengan baik pada sketsa dinding yang dibuat dalam skala 1:20 atau 1:10.
Urutan-urutan dalam pencatatan ukuran adalah urutan pokok, ukuran
detail, dan penjumlahan ukuran detail untuk mengontrol ukuran pokok.
Sketsa ukuran hanya dianggap lengkap apabila sudut antar dinding juga
diperiksa. Untuk itu diperlukan sudut dengan panjang kaki yang besar
(panjang kaki 80-100 cm). Penggunaan siku kecil tidak dianjurkan sebab
keadaan tembok yang tidak rata dapat memberikan gambaran yang
salah. Kesikuan sudut dinding dapat juga dicari dengan mengukur
diagonal ruang atau sebagian sisi.
Metode yang berlaku pada pengambilan ukuran perabot sama seperti
yang berlaku pada pengambilan ukuran bangunan. Perbedaannya adalah
lebih banyaknya detail yang harus disketsa dan diukur. Profil harus
digambar dalam skala 1:1, dan profil yang tidak dapat didefinisi secara
jelas dengan lingkaran dan garis lurus harus digambar dengan sablon
tetap atau sablon profil.
36
3.7. Daftar komponen
Dalam pengorganisasian pekerjaan yang banyak variasi dan jenisnya
daftar komponen sangat diperlukan untuk memudahkan pelaksanakan
perkerjaan. Daftar komponen dapat berfungsi sebagai kontrol
pelaksanaan pekerjaan karena daftar komponen berisi tentang jenis
bahan yang dipergunakan, jumlah, ukuran dan posisi bahan itu
ditempatkan. Daftar komponen digunakan untuk kalkulasi dan sebagai
dasar penyelesaian dengan atau tanpa gambar kerja. Bila daftar
komponen digunakan untuk dasar perhitungan, cukup bila tercantum
jenis bahan, jumlah, ukuran yang digunakan .
Dasar penyelesaian, baik dengan tangan maupun dengan komputer,
hanya diisi bila disamping ukuran, jumlah, kualitas, dan keterangan
bagian tercakup juga cara penyelesaian seperti gambar sisi-sisi dan
keterangan cara pemasangan.
Dalam menyusun daftar komponen ada dua cara penyusunan sebagai
berikut:
3.7.1. Penyusunan berdasar pada kelompok bahan
Keuntunganya adalah bahwa setiap kelompok material terlihat jelas pada
satu urutan pada bagian pemotongan dapat diadakan pembagian pada
daftar atas dasar golongan-golongan yang ada, misalnya daftar untuk
lembaran, kayu masif, finir, dan bahan pelapis kelengkapan kaca dapat
disesuaikan dengan formulir yang telah ditetapkan.
Kerugian pada sistim ini adalah bahwa pada pencatan bagian benda
kerja yang sama harus dicantumkan beberapa kali penggambaran dan
ukuranya misalnya untuk lembaran, lis-lis sisi, dan finir.
Penyusunan berdasar pada kelompok bahan, adalah sebagai berikut:
a. Lembaran
b. Kayu masif
c. Finir
d. Bahan pelapis
e. Kelengkapan
f. Kaca
37
3.7.2. Penyusunan secara blok
Satu bagian benda kerja serta bahan - bahan yang terkait diselesaiakan
secara bersama-sama dan satu kali jalan, misalnya bahan dasar, lis-lis
sisi dan kelengkapanya.
Keuntungan dalam sistem ini adalah penyelesaan lebih fleksibel pada
suatu proses kerja, penyusuan secara blok memberi informasi lebih nyata
tentang volume serta keterangan suatu benda kerja, terutama pada
pekerjaan seri, bisa dilaksanakan pekerjaan tanpa gambar.
Kerugian dalam penyelesaian suatu blok adalah dapat tercampurnya
suatu kelompok bahan, penyelesaian secara blok ini terutama digunakan
pada program komputerisasi dan penyelesaian seri.
Sumber: Pedoman Gambar Kerja, PIKA, 1997.
Gb. 2.24: Penyelesaian pada suatu proses
Sumber: Pedoman Gambar Kerja, PIKA, 1997.
Gb. 2.23: Pengelompokan Material
38
KERJA KAYU, VEDC MALANG
Jl. Teluk Mandar, Arjosari Tromol Pos 5
Malang 65102 Jatim, Indonesia
Telp: (0341) 491239
Fax : (0341) 491342
DAFTAR KOMPONEN
Tanggal : 26 Juni 2008
Pekerjaan : Nakas (Buffet pendek)
No. Kontrak : 101/35/Jan/2008
Kode Gambar : 35-100
Dihitung : Budi Martono
Dikerjakan : Yusuf
Bahan Ukuran Bersih dlm mm.
No. Jenis Bagian Jenis Jumlah Panjang Lebar Tebal
Tebal
Kotor Keterangan
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 Papan Atas Teakblock 1 18 350 5800
2 Papan Tegak Teakblock 7 18 350 1050
3 Papan Letak Teakblock 12 18 350 1000
4 Penguat Atas Jati 1 18 200 5800
5 Penguat Bawah Jati 1 18 100 5800
6 Papan Bawah Jati 1 18 350 5800
7 Dinding
Belakang Tripleks 1 6 1050 5800
dst
Sumber : Formulir VEDC Malang, 2008.
Tabel. 1.4: Contoh Formulir Daftar Komponen
Gambar sketsa
39
KERJA KAYU, VEDC MALANG
Jl. Teluk Mandar, Arjosari Tromol Pos 5
Malang 65102 Jatim, Indonesia
Telp: (0341) 491239
Fax : (0341) 491342
KALKULASI HARGA
Tanggal : 26 Januari 2005
Pekerjaan : Rak Bawah
No. Kontrak : 101/35/Jan/2005
Kode Gambar : 35-100
Dihitung : Budi Martono
Dikerjakan : Yusuf
No RINCIAN SPESIFIKASI VOLUME HARGA TOTAL HARGA
I BAHAN DASAR
1 Papan Atas 1,8 x 35 x 580 0,03654 3.200.000,- 116.928,-
2 Papan Tegak 1,8 x 35 x 105 (7) 0,046305 3.200.000,- 148.176,-
3 Papan Letak 1,8 x 35 x 100 (12) 0,0756 3.200.000,- 241.920,-
4 Penguat Atas 1,8 x 20 x 580 0,02088 3.200.000,- 66.816,-
5 Penguat Bawah 1,8 x 10 x 580 0,01044 3.200.000,- 33.410,-
6 Papan Bawah 1,8 x 35 x 580 0,03654 3.200.000,- 116.928,-
7 Dinding Belakang 0,6 x 105 x 580 0,03654 3.200.000,- 116.928,-
a Papan Atas dan Belakang 1,8 x 35 x 580 (2) 0,03654 3.200.000,- 234.928,-
b Papan Tengah 1,8 x 50 x 30 (6) 0,0162 3.200.000,- 51.800,-
c Pegangan 4 7.500,- 30.000,-
Jumlah 1.156.906
II FINISHING
Jumlah 650.000
III BIAYA PRODUKSI
Jumlah 350.000
IV KEUNTUNGAN
Jumlah 215.700
HARGA PRODUK Rp.2.372.700
Malang, 26 Januari 2005
(Budi Martono)
Gambar sketsa
Sumber : Formulir VEDC Malang, 2008.
Tabel. 1.4: Contoh Formulir Kalkulasi Harga
40
BAB III
MELAKSANAKAN PERSYARATAN JAMINAN KUALITAS
Pada bab ini diuraikan beberapa hal yang meliputi pengetahuan tentang
tata cara melakukan komunikasi timbal balik di tempat kerja, memilih
bahan, menyimpan bahan, mengirim bahan dan merencanakan
pembelahan log sebagai dasar untuk melaksanakan persyaratan jaminan
kualitas pada pekerjaan pembuatan mebel.
Standar Kompetensi pada bab ini adalah Melaksanakan Persyaratan
Jaminan Kualitas yang terdiri dari lima Kompetensi Dasar yaitu
Melakukan Komunikasi Timbal Balik di Tempat Kerja, Memilih Bahan,
Menyimpan Bahan, Mengirim Bahan, Merencanakan Pembelahan Log,
yang secara terinci disusun ke dalam topik-topik sebagai berikut:
1. Melakukan Komunikasi Timbal Balik di Tempat Kerja
1.1. Susunan Organisasi
1.2. Aliran Organisasi Pekerjaan
1.3. Pengendalian Pekerjaan
2. Memilih Bahan Baku
2.1. Nama, Jenis Kayu, dan Kegunaan
2.2. Sifat-sifat Umum Kayu
2.3. Struktur Kayu
2.4. Kadar Air dan Penyusutan Kayu
3. Merencanakan Pembelahan Log
3.1. Proses Pembelahan Log
3.2. Hasil Penggergajian
4. Menyimpan Bahan
4.1. Tata-cara Menyimpan Bahan
5. Mengirim Barang
41
1. Melakukan Komunikasi Timbal Balik Di Tempat Kerja
1.1. Susunan Organisasi
Pemimpin Pabrik
Manajer
Pemasaran + Keuangan Manajer Produksi
Supervisor 1
Ruang Bangku +
Finishing
Supervisor 2
Ruang Mesin + Gudang
Kepala Teknisi Kepala Teknisi
Teknisi Teknisi
Sumber: Fachkunde – Holztechnik, Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 3.1. Susunan Organisasi Pabrik Perkayuan
42
Susunan organisasi perusahaan atau pabrik yang bergerak di bidang
perkayuan disesuaikan dengan ruang lingkup pekerjaan yang ditangani.
Selain itu juga bergantung dengan besar-kecilnya perusahaan tersebut.
Meskipun demikian, secara mendasar terdapat beberapa bagian, antara
lain Pemimpin Pabrik/Perusahaan, dibantu beberapa Manajer yaitu
Manajer Pemasaran, Manajer Keuangan, Manajer Produksi, selanjutnya
tingkat di bawahnya terdapat Supervisor yang membawahi Kepala
Teknisi dan Kepala Teknisi mempunyai beberapa Teknisi tergantung
jenis pekerjaannya.
1.2. Aliran Organisasi Pekerjaan
Pekerjaan masuk atas permintaan
pelanggan yang telah konsultasi
dan negosiasi dengan Bagian
Pemasaran, selanjutnya dibuatkan
Kontrak Kerja.
Rancangan ditentukan dengan
memperhatikan kapasitas
produksi, maka dibuatlah Surat
Perintah Kerja.
Dari Surat Perintah Kerja (SPK)
dibuatlah Pencatatan Perintah
Kerja, Rencana Kebutuhan yang
mencakup Gambar Kerja,
Perhitungan Harga, Daftar
Material, Katalog, serta Rencana
Aliran Kerja melalui prosedur kerja
yang jelas dan rinci.
Rencana Aliran Kerja bisa
dituangkan dalam tabel yang berisi
nomor urut pekerjaan, jenis
pekerjaan, uraian kerja,
penggunaan alat dan mesin, serta
waktu yang dibutuhkan.
Dengan demikian seluruh
perencanaan produksi telah
disiapkan dengan baik yang
selanjutnya akan dilaksanakan.
Permintaan dan
Konsultasi Pelanggan
Rancangan
ditentukan
Program Kerja
1. Pencatatan Perintah Kerja
2. Rencana Kebutuhan
3. Rencana Aliran Kerja
Rencana Aliran Kerja
No. Jenis Pek Uraian Alat, Mesin Waktu
Sumber: Fachkunde – Holztechnik,
Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 3.2. Program Kerja
43
1.3. Pengendalian Pekerjaan
Pada pelaksanaan produksi harus
dilakukan pengendalian kerja
melalui pelaksanaan kontrol
kualitas yang terstandar sehingga
hasil akhir bisa memuaskan
pelanggan.
Pelaksanaan kerja dengan kontrol
kualitas ini meliputi beberapa hal
berikut ini:
1. Persiapan kerja harus dilakukan
dengan cermat jangan sampai
ada sesuatu yang belum siap
untuk memulai pekerjaan.
2. Pada kegiatan produksi baik di
ruang bangku maupun di ruang
mesin harus dilakukan kontrol
kualitas terhadap proses
produksi meliputi kualitas
material, metode kerja,
efektifitas dan efisiensi.
3. Pesanan yang telah selesai
diproduksi selanjutnya dikirim
ke pelanggan untuk dipasang
dan dilakukan pengontrolan
akhir sehingga barang yang
dipesan bisa diterima
pelanggan dalam keadaan
sesuai pesanan dan pelanggan
puas.
2. Memilih Bahan Baku
2.1. Nama, Jenis Kayu, dan Kegunaan
Pemilihan dan penggunaan kayu untuk sesuatu tujuan pemakaian,
memerlukan pengetahuan sifat-sifat kayu yang bersangkutan, terutama:
berat jenis, kelas awet, dan kelas kuat. Sifat-sifat ini penting sekali untuk
diketahui setiap orang yang bergerak pada bidang industri dan
pengolahan kayu, sebab dari pengetahuan sifat-sifat tersebut tidak saja
dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan yang
memungkinkan, akan tetapi juga dapat ditentukan kemungkinan
pengisian oleh jenis kayu yang lainnya, apabila jenis yang bersangkutan
sulit didapat secara terus-menerus atau terlalu mahal.
Pengendalian Kerja
Pelaksanaan Kerja
dengan Kontrol Kualitas
1. Persiapan Kerja
2. Produksi
di Ruang Bangku
dan
Ruang Mesin
3. Pengiriman,
Pemasangan dan
Pengontrolan Akhir
Sumber: Fachkunde – Holztechnik,
Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 3.3. Pengendalian Kerja
44
Seringkali terjadi pemilihan dan penggunaan sesuatu jenis kayu yang
tidak tepat karena tidak sesuai dengan sifat-sifatnya. Tentu saja dalam
hal ini hasilnya tidak akan memuaskan. Bahan, biaya tenaga dan waktu
banyak terbuang sehingga merugikan perusahaan.
Hutan Indonesia memiliki potensi ± 4000 jenis pohon berkayu yang
tersebar di seluruh nusantara. Dari jumlah tersebut baru sebagian kecil
saja yang telah diketahui sifat-sifatnya.
Untuk mengenal nama kayu bisa dari nama umum dalam perdagangan
atau nama botanik dalam system klasifikasi tumbuh-tumbuhan (nama
ilmiah), yaitu: SPECIES (jenis) dan FAMILIA (suku). Nama ilmiah untuk
jenis (species) terdiri dari 2 kata. Kata pertama menunjukan nama marga
(genus), sedangkan kata kedua menunjukkan jenis tersebut. Umumnya
nama ilmiah yang lengkap disertai nama orang yang pertama kali
memberikan nama yang tepat untuk jenis yang bersangkutan. Misalnya:
Pinus merkusii Jungh et de Vr. (Tusam), artinya adalah sebagai berikut:
Pinus = nama marga, merkusii = nama jenis, Jung et de Vr. = nama
orang yang memberi nama “merkusii”. (Tusam = nama dagang). Pinus
merkusii Jungh et de Vr. Tergolong ke dalam suku Pinaceae.
Kadangkala nama orang yang memberikan nama jenis tidak ditulis
lengkap, melainkan disingkat, misalnya: Santalum album L. (Cendana).
Nama dari jenis kayu perdagangan yang ditampilkan sering kali
merupakan nama untuk sekelompok jenis botanik lebih dari satu yang
mempunyai ciri dan sifat kayu yang hampir sama, sehingga di belakang
nama marga tidak ditulis nama jenis tertentu, melainkan ditulis spp atau
spec. div. misalnya: Alstonia spp atau Alstonia spec. div. (Pulai).
Pulai merupakan nama kelompok untuk 4 jenis botanik dalam marga
Alstonia yaitu: Alstonia angustiloba Miq., Alstonia pneumatophora Back,
dan Alstonia scholaris R. Br.
Kadang-kadang nama perdagangan itu merupakan nama kelompok untuk
lebih dari 1 marga, misalnya: Melur, merupakan nama kelompok untuk 3
marga, yaitu: Dacrydium spp.; Phyllocladus spp. dan Podocarpus spp.
Pada belakang nama ilmiah untuk jenis kayu (species) diberi tanda
indeks dalam lingkaran. Untuk jenis kayu yang dianalisa kayu terasnya
diberi tanda X. untuk kayu gubal diberi tanda O. sedangkan tanda –
menunjukkan bahwa jenis kayu yang dianalisa tidak diketahui jelas kayu
gubal atau kayu teras, sebab batasnya tidak ada (tidak jelas).
Kegunaan kayu sangat tergantung pada sifat-sifat kayu yang
bersangkutan. Penggunaannya untuk sesuatu tujuan harus memenuhi
beberapa persyaratan teknis yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.
45
No Penggunaan Persyaratan teknis kayu Beberapa jenis kayu
yang lazim digunakan
(1) (2) (3)
1 Bangunan
(konstruksi)
Kuat, kaku, keras,
berukuran besar dan
mempunyai keawetan
alami yang tinggi
Balau, Bangkirai,
Belangeran, Cengal,
Giam, Jati, Kapur,
Kempas, Keruing,
Lara, Rasamala
2 Finir biasa
(Plywood)
Dolok berdiameter besar,
bulat, bebas cacat dan
beratnya sedang
Meranti merah, Meranti
putih, Nyatoh, Ramin,
Aghatis, Benuang
Finir mewah Di samping syarat diatas,
kayu harus bernilai
dekoratif
Jati, Ebony,
Sonokeling, Kuku,
Bongin, Dahu, Lasi,
Rengas, Sungkai,
Weru, Sonokembang
3 Perkakas
(Mebel)
Berat sedang, dimensi
stabil, dekoratif, mudah
dikerjakan, mudah
dipaku, dibubut,
disekrup, dilem & dikerat
Jati, Ebony, Kuku,
Mahoni, Meranti,
Rengas, Sonokeling,
Sonokembang, Ramin
4 Lantai
(Parket)
Keras, Daya abrasi
tinggi, tahan asam,
mudah dipaku dan cukup
kuat
Balau, Bangkirai,
Belangeran, Bintangur,
Bongin, Bungur, Jati,
Kuku
5 Bantalan
kereta api
Kuat, kaku, keras dan
awet
Balau, bangkirai,
Belangeran, Bintangur,
Kempas, Ulin
6 Tong kayu
(Gentong)
Tidak tembus cairan dan
tidak mengeluarkan bau,
untuk simpainya
diperlukan kayu yang
kaku
Jati, Pasang, Balau,
Bangkirai
7 Alat
olahraga
Kuat, tidak mudah patah,
ringan, tekstur halus,
serat lurus, dan panjang,
kaku, cukup awet
Aghatis, Bedaru, Melur,
Merawan, Nyatoh,
Salimuli, Sonokeling,
Teraling
8 Alat musik Tekstur halus, beserat
lurus, tidak mudah belah,
daya resonansi baik
Cempaka, Merawan,
Nyatoh, Jati, Lasi,
Ebony
9 Alat gambar Ringan, tekstur hasil,
warna bersih
Jelutung, Melur, Pulai,
Tusam
10 Tiang listrik
dan telepon
Kuat menahan angin,
ringan, cukup awet,
bentuk lurus
Balau, Giam, Jati,
Kulim, Lara, Merbau,
Tembesu, Ulin
46
11 Perkapalan:
Lunas
Tidak mudah pecah,
tahan binatang laut
Ulin, Kapur, Kayu lapis
kualitas khusus
(marine plywood)
Gading Kuat, liat, tidak mudah
pecah, tahan binatang
laut
Bangkirai, Bungur,
Kapur
Senta Kuat, liar, tidak mudah
pecah, tahan binatang
laut
Ulin, Bangkirai, Bungur
Kulit Tidak mudah pecah,
kuat, liat, tahan binatang
laut
Bangkirai, Bungur,
Meranti merah
Bangunan
atas
dudukan
mesin
Ringan, kuat, dan awet.
Keras, tidak mudah
pecah karena getaran
mesin dan awet
Kapur, Meranti merah,
Medang, Ulin,
Bangkirai, Kapur
Pembungku
s as balingbaling
Liat, lunak, sehingga
tidak merusak logam
Kayu yang lazim
digunakan adalah
lignum vitae yang
diimport dari Amerika
Latin. Kayu nangka,
Bungur, Sawo, Untuk
kapal-kapal kecil
umumnya digunakan
12 Patung dan
Ukiran kayu
Serat lurus, keras,
tekstur halus, liat, tidak
mudah patah dan
berwarna gelap
Jati, Sonokeling,
Salimuli, Melur,
Cempaka, Ebony
13 Korek api Sama dengan
persyaratan finir, untuk
anak korek api, kayu
harus cukup kuat. Untuk
kotaknya kayu harus
elastis, tidak mudah
pecah
Aghatis, Benuang,
Jambu, Kemiri,
Jeunjing, Perupuk,
Pulai, Terentang,
Tusam
14 Potlot Berat jenis sedang,
mudah dikerat, tidak
mudah bengkok, warna
agak merah dan berserat
lurus
Aghatis, Jelutung,
Melur, Tusam
15 Moulding Ringan, serat lurus,
tekstur halus, mudah
dikerjakan, mudah
dipaku, warna terang,
tanpa cacat, dekoratif
Jelutung, Pulai, Ramin,
Meranti
47
16 Popor
senjata
Ringan, liat, kuat, keras,
dimensi stabil
Waru, salimuti, Jati
17 Arang
(bahan
bakar)
Berat jenis tinggi Bakau, Kesambi,
Walikukun, Cemara,
Gelam, Gofasa, Johar,
Kayu Malas, Nyirih,
Pelawan, Rasamala,
Puspa, simpur
Sumber: Mengenal Sifat-sifat Kayu Indonesia dan Penggunaannya, PIKA, 1981.
Tabel 3.1. Persyaratan teknis kayu untuk berbagai penggunaan
2.2. Sifat-sifat umum kayu
Kayu berasal dari berbagai jenis yang mempunyai sifat-sifat yang
berbeda-beda. Sifat-sifat kayu tersebut meliputi sifat fisik, sifat mekanik,
dan sifat kimia. Akan tetapi ada beberapa sifat umum yang dimiliki semua
jenis kayu, yaitu:
(a) Semua batang pohon memilik pertumbuhan dan pengaturan
vertikal, sifat pertumbuhan dan pengaturan simetri radial.
(b) Kayu tersusun dari sel-sel, setiap dinding selnya tersusun dari
senyawa karbihydrat yaitu lignin.
(c) Kayu mempunyai sifat yang berlainan pada arah tangensial, arah
radial maupun arah axial, yang sering disebut dengan anisotropik
kayu.
(d) Kayu mempunyai sifat higroskopik, yaitu mampu melepaskan dan
menghisap air, sesuai dengan kelembaban dan suhu
lingkungannya.
(e) Kayu dapat rusak oleh serangan serangga dan jamur.
(f) Kayu memiliki sifat khas yang tidak bisa ditiru oleh bahan lain.
Sifat fisik kayu yang dimaksud adalah berat jenis, kelas kuat, kelas awet,
dan penyusutan. Sifat mekanik atau keteguhan kayu merupakan salah
satu sifat penting yang dapat dipakai untuk menentukan kegunaan suatu
jenis kayu. Sifat kimia yang dimaksud adalah komponen utama kayu
terdiri dari selulosa, hemiselulosa, lignin, zat ekstraktif, dan abu. Selulosa
merupakan bagian terbesar yang terdapat dalam kayu, yaitu berkisar
antara 39 – 55 %, kemudian lignin 18 – 33 %, pentosan 21 – 24 %, zat
ekstraktif 2 – 6 %, dan abu 0,2 – 2 %.
2.2.1. Berat jenis
Yang dimaksud berat jenis kayu adalah perbandingan berat dan volume
kayu dalam keadaan kering udara dengan kadar air kesetimbangan kayu
di sekitar (untuk Indonesia rata-rata 14 %).
48
Nilai berat jenis kayu adalah nilai rata-ratanya, tetapi untuk memperoleh
gambaran mengenai variasi berat jenis kayu dalam tiap jenis kayu , di
antara tanda kurung dicantumkan juga nilai minimum dan maksimum
empiris yang telah dilakukan pengamatan pada kayu tersebut.
Misalnya :
Berat jenis kayu Jati ditulis sebagai berikut : 0,67 ( 0,62 – 0,75 )
Berat jenis kayu Durian ditulis sebagai berikut : 0,61 ( 0,63 – 0,66 )
Berat jenis kayu Keruing ditulis sebagai berikut : 0,90 ( 0,84 – 0,96 )
Berdasarkan berat jenisnya, ada beberapa istilah kelompok kayu,
sebagai berikut:
(a) Ringan, bila berat jenis kayu lebih kecil dari 0,60.
(b) Sedang (agak berat), bila berat jenis antara 0,60 – 0,75
(c) Berat, bila berat jenis antara 0,75 – 0,90.
(d) Sangat berat, bila berat jenis lebih besar dari 0,90.
(e) Terapung, bila berat jenis lebih kecil dari 1.
(f) Melayang, bila berat jenis sama dengan 1.
(g) Tenggelam, bila berat jenis lebih besar dari 1.
2.2.2. Kelas kuat
Sifat kelas kuat kayu ini adalah berbanding lurus dengan berat jenis kayu,
maksudnya adalah kayu yang mempunyai berat jenis yang besar
biasanya mempunyai kelas kuat yang besar pula. Keterangan mengenai
kelas kuat kayu dicantumkan di belakang berat jenis kayu menggunakan
angka Romawi.
Kelas kuat kayu di Indonesia dikelompokan menjadi 5 kelas kayu yang
ditetapkan menurut berat jenis kayu dengan metode klasifikasi sebagai
berikut dalam tabel di bawah ini :
Kelas
kuat
Berat jenis Keteguhan lentur
mutlak ( kg/cm²)
Keteguhan tekan
mutlak ( kg/cm²)
I Lebih dari 0,90 Lebih dari 1100 Lebih dari 650
II 0,60 – 0,90 725 – 1100 435 - 650
III 0,40 – 0,60 500 – 725 300 – 425
IV 0,30 – 0,40 360 - 500 215 – 300
V Kurang dari 0,30 Kurang dari 360 Kurang dari 215
Sumber data : DEN BERGER ( 1923 )
Tabel 3.2: Pembagian Kelas Kuat Kayu
Keterangan berat jenis dan kelas kuat kayu dapat dituliskan sebagai
berikut, misalnya untuk kayu jati : 0,67 ( 0,62 – 0,75 ): II, apabila kelas
kuat kayu cukup bervariasi maka penulisannya sebagai berikut seperti
contoh untuk kayu kapur :
49
D. aromatica 0,81 ( 0,63 – 0,94 );II – I
D. fusca 0,84 ( 0,78 – 0,90 );II
D. lanceolata 0,74 ( 0,61 – 1,01);II – (I)
D. beccarii 0,59 ( 0,60 – 0,71);III – II
2.2.3. Kelas awet
Keawetan kayu dibagi menjadi 5 kelas awet berdasarkan perkiraan lama
pemakaian kayu pada berbagai keadaan serta perkiraan ketahanannya
terhadap serangan serangga, kecuali terhadap perusak kayu binatang
laut (marine borer).
KELAS AWET I II III IV V
Selalu berhubungan
dengan tanah
lembab.
Hanya dipengaruhi
cuaca, tetapi dijaga
agar tidak terendam
air & tidak
kekurangan udara.
Di bawah atap,
tidak berhubungan
dengan tanah
lembab & tidak
kekurangan udara.
Seperti di atas
tetapi dipelihara
dengan baik dan di
cat.
Serangan rayap
tanah
Serangan bubuk
kayu kering
8
tahun
20
tahun
tak
terbatas
tak
terbatas
tidak
tidak
5
tahun
15
tahun
tak
terbatas
tak
terbatas
jarang
tidak
3
tahun
10
tahun
sangat
lama
tak
terbatas
cepat
hampir
tidak
sangat
pendek
beberapa
tahun
beberapa
tahun
20
tahun
sangat
cepat
tidak
berarti
sangat
pendek
sangat
pendek
pendek
20
Tahun
sangat
cepat
sangat
cepat
Sumber: Mengenal Sifat-sifat Kayu Indonesia dan Penggunaannya, PIKA, 1981.
Tabel 3.3. Umur pemakaian kayu pada berbagai keadaan dan
pengaruh serangan serangga terhadap 5 kelas awet
2.2.4. Sifat mekanis
Sifat mekanis atau keteguhan kayu merupakan salah satu sifat penting
yang dapat dipakai untuk menentukan kegunaan suatu jenis kayu.
50
Nilai keteguhan diperoleh dari hasil pengujian dengan menggunakan
contoh uji ukuran kecil yang bebas cacat, oleh karena itu dalam
penggunaan nilai keteguhan untuk tujuan praktis perlu memperhitungkan
berbagai faktor penyesuaian, antara lain cacat kayu, lama pembebanan,
kadar air dan dimensi. Untuk pengujian keteguhan tarik, geser, lentur dan
belah digunakan metode ASTM D 143-52, sedangkan untuk keteguhan
pukul dan keteguhan tekan sejajar arah serat dipakai metode Eropa
daratan dan untuk pengujian kekerasan digunakan metode JANKA. Alat
penguji yang digunakan adalah Universal Testing Machine merk
AMSLER dengan kapasitas sampai 100 ton dan BALDWIN tipe 60 HVP
dengan kapasitas 60.000 lb.
2.3. Struktur Kayu
Kulit Kayu, terdapat pada bagian paling luar pada batang. Kulit kayu
terdiri dari kulit luar dan kulit dalam. Kulit luar yang mati berfungsi sebagai
pelindung jaringan yang lain yang letaknya di dalam. Kulit dalam
berfungsi sebagai transportasi hasil fotosintesis dari daun.
Kambium, merupakan satu lapisan sel yang bertugas membentuk sel-sel
baru. Ke arah dalam membentuk kayu, ke luar membentuk kulit baru.
Kayu Gubal, adalah bagian kayu yang masih hidup. Umumnya berwarna
lebih muda dan terang. Kayu gubal berfungsi sebagai saluran bahan
makanan dari akar ke daun untuk diolah lebih lanjut dan sebagai
penyimpan cadangan makanan.
Kulit
luar
Kulit
dalam
Hati kayu
Kambium
Jari-jari kayu
Daerah kayu awal
Sumber: Fachkunde – Holztechnik, Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 3.4. Struktur Kayu
Lingkaran tahun
Daerah kayu akhir
Kulit
pohon
51
Kayu Teras, adalah kayu yang sudah mati. Umumnya berwarna lebih
gelap dan mengandung ekstraktif. Untuk kayu yang ekstraktifnya bersifat
racun terhadap orgnisme perusak kayu, kayu teras menjadi lebih awet
dibanding kayu gubal.
Hati Kayu, terletak pada pusat lingkaran tahun. Merupakan kayu awal
yang dibentuk oleh pohon bersifat lunak dan rapuh.
Jari-Jari Kayu, merupakan jalur-jalur sel kayu dari pusat lingkaran ke
arah kulit pohon. Tersusun atas sel-sel kayu yang berbaring. Berfungsi
sebagai saluran makanan ke arah radial.
Lingkaran Tahun, terlihat sebagai lingkaran-lingkaran yang mengelilingi
hati kayu. Perbedaan pertumbuhan pada musim penghujan dan musim
kemarau terlihat pada perbedaan besarnya sel-sel yang dibentuk. Pada
musin kemarau, sel yang dibentuk lebih kecil dengan dinding sel yang
lebih tebal dibanding dengan sel-sel yang dibentuk pada musim
penghujan.
Sel Kayu, beberapa jenis dan pola susunan sel serta pengaturannya
dalam kayu akan mempengaruhi sifat-sifat kayu. Ada beberapa
perbedaan penting dalam sel kayu berdaun jarum & kayu berdaun lebar.
2.4. Kadar Air dan Penyusutan Kayu
2.4.1. Kadar Air Kayu
Kayu mengandung air, banyaknya
kandungan air sangat bervariasi
dapat mencapai sampai 200%
pada kondisi segar. Kadar air kayu
didapat dari perbandingan jumlah
air (berat) kayu kering udara
dibanding berat kayu kering tanur,
yang dinyatakan dalam prosen (%)
dapat dinyatakan dengan rumus:
( ) x 100%
BK
Kadarair MC BB BK

=
BB = Berat basah
BK = Berat kering tanur
Selain dengan cara menimbang,
kadar air kayu dapat diukur
dengan menggunakan alat ukur
kadar air kayu (Hydrometer, MC
meter).
Sumber: Fachkunde – Holztechnik,
Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 3.5. Hydrometer
52
Tahapan proses evaporasi pada kayu dapat diuraikan sebagai berikut:
(a) Kayu Basah, semua rongga pori dan dinding sel kayu penuh dengan
kandungan air. Kadar air dapat mencapai 200%.
(b) Kayu Setelah Penebangan, setelah kayu ditebang, zat air tidak
dapat masuk lagi. Dinding sel kayu tetap penuh dengan air,
sedangkan air dalam rongga sel sebagian berkurang. Besarnya
kandungan air masih berkisar di atas 35% - 70%.
(c) Titik Jenuh Serat, air bebas pada rongga pori-pori kayu telah keluar
semuanya. Kandungan air pada dinding sel tetap. Akadar air berkisar
antara 25% - 30%.
(d) Kering Udara/Titik Keseimbangan Kadar Air, pada saat ini, kayu
menyesuaikan diri dengan udara sekitarnya, sehingga kandungan air
dalam dinding sel mulai terevaporasi keluar. Bentuk dimensi kayu
mulai berubah, kadar air kayu antara 12% - 20%
(e) Kering Tanur, pada rongga pori dan dinding sel tidak mengandung
air lagi. Berat kayu tidak dapat turun lebih lanjut. Kadar air kayu 0%.
2.4.2. Penyusutan Kayu
Penyusutan atau kembang susut kayu mempunyai arah tertentu karena
adanya perbedaan struktur pori-pori kayu atau trakeida pada kayu yang
berdaun jarum.
Pada umumnya terdapat 3 arah pengembangan/penyusutan utama pada
kayu, yaitu:
(a) Penyusutan arah Tangensial, penyusutan searah dengan arah
lingkaran tahun, besarnya penyusutan berkisar 4,3% - 14%.
(b) Penyusutan arah Radial, penyusutan searah dengan jar-jari kayu
atau memotong tegak lurus lingkaran tahun, besarnya penyusutan
berkisar 2,1% - 8,5%.
(c) Penyusutan arah Axial, penyusutan searah dengan panjang kayu,
besarnya penyusutan berkisar antara 0,1% - 0,3%.
3. Merencanakan Pembelahan Log
3.1. Proses Pembelahan Log
Proses pembelahan log merupakan rangkaian langkah awal yang
menentukan penyediaan bahan baku kayu untuk proses produksi di
bidang perkayuan selanjutnya.
Pembelahan log biasanya menggunakan mesin gergaji pita yang besar
yaitu bandsaw. Dengan mesin ini bisa menghasilkan pembelahan log
53
menjadi lembaran-lembaran papan atau batangan-batangan balok
menurut kebutuhan atau ukuran bahan baku kayu yang diinginka.
Gambar berikut menunjukkan sebatang log sedang dalam proses
pembelahan menggunakan bandsaw dengan arah vertikal atau tegak
maupun arah horisontal atau mendatar.
Gambar di samping menunjukkan
hasil penggergajian log menjadi
balok-balok kayu yang besar
menurut kebutuhan tertentu.
3.2. Hasil Penggergajian
Dalam merencanakan pembelahan log, kita harus memperhatikan ketiga
arah penyusutan kayu supaya dapat membentuk papan-papan gergajian
dengan benar, sehingga mendapatkan papan-papan yang sesuai
dengan kebutuhan.
Sumber: Fachkunde – Holztechnik, Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 3.6. Proses Pembelahan Log
Sumber: Fachkunde – Holztechnik,
Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 3.7. Pembelahan Log
menjadi Balok Kayu
54
Papan-papan dari hasil penggergajian kayu log dapat dikelompokkan
sebagai berikut:
3.2.1. Flat sawn timber (papan tangensial)
3.2.2. Quarter sawn timber (papan radial)
3.2.3. Semi quarter sawn timber (papan semi radial)
3.2.4. Papan tengah atau hati
3.2.1. Flat sawn timber (papan tangensial)
Papan ini dibuat untuk
menonjolkan keindahan struktur
serta kayu asal atau pola tekstur
kayu. Seperti telah diuraikan di
muka papan tangensial ini
mempunyai arah penyusutan
seperti tampak pada gambar.
Papan tangensial didapat dari
menggergaji kayu sejajar dengan
diameter kayu log.
Perbedaan struktur pori kayu
gubal yang kosong dan pori kayu
teras yang padat berisi dan keras
mempengaruhi arah penyusutan
kayu dan perubahan dimensi kayu.
Bentuk kayu ini lebih labil dan
cenderung cekung (cupping).
Bila arah serat memanjangnya
tidak lurus (berserat bolak-balik),
kayu akan cenderung melengkung
(bowing), bila tidak disusun
Sumber: Fachkunde – Holztechnik, dengan baik.
Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 3.10. Arah Penyusutan Papan
Tangensial
Sumber: Fachkunde – Holztechnik,
Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 3.9. Papan Tangensial
Sumber: Fachkunde – Holztechnik, Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 3.8. Papan Gergajian
55
3.2.2. Quarter sawn timber (papan radial)
Papan radial didapat dari
penggergajian kayu log tegak lurus
terhadap diameter kayu.
Akan tetapi cara menggergaji
seperti ini banyak kayu yang
hilang dengan kata lain cara ini
mempunyai rendemen yang tinggi.
Akan tetapi papan radial ini
mempunyai stabilitas yang tinggi
untuk konstruksi atau mebel.
3.2.3. Semi quarter sawn timber (papan semi radial)
Papan radial didapat dari
menggergaji kayu log searah jarijari
kayu, sehingga lingkaran
tahunnya mengarah diagonal pada
penampang papan.
Papan semi radial ini mempunyai
arah penyusutan sesuai dengan
arah lingkaran tahunnya serta
letak kayu gubal dan kayu
terasnya.
Sumber: Fachkunde – Holztechnik,
Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 3.12. Arah penyusutan Papan
Radial
Sumber: Fachkunde – Holztechnik,
Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 3.11. Papan radial
Sumber: Fachkunde – Holztechnik,
Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 3.13. Papan Semi radial dan
Arah Penyusutannya
56
Bentuk penyusutannya menggelinjang seperti bentuk intan (diamonding).
Banyak orang mengira gejala itu akibat dari kesalahan pengeringan
padahal itu diakibatkan dari penggergajian kayu log.
3.2.4. Papan tengah atau hati
Papan tengah atau papan hati ini
didapat dari penggergajian kayu
log sejajar dengan diameter kayu
log pada bagian tengah.
Pada bagian tengah/hati kayu
lunak, biasanya kalau kayu
mengering akan retak/pecahpecah.
Arah penyusutan kayu pada
kenyataannya tidak dapat
dirumuskan dengan matematis.
Karena kayu adalah benda yang hidup dan mempunyai sifat alami yang
khas. Prinsip utama pada penyusutan kayu tetap pada arah tangensial,
radial dan aksial.
4. Menyimpan Bahan
4.1. Tata-cara Menyimpan Bahan
Bahan Kayu yang berupa papan gergajian dan balok kayu, baik yang
belum dilakukan proses pengeringan maupun sudah dikeringkan harus
tersimpan secara baik dan benar supaya kayu tidak mengalami
kerusakan. Kayu harus disusun secara teratur dengan rongga yang
cukup untuk pengaturan udara secara merata diseluruh permukaan kayu.
Penyimpanan bahan kayu yang
berukuran relatif sama bisa
disimpan dalam susunan batangbatang
yang berselang-seling
deretannya. Deretan susunan
tersebut bisa berselang-seling
setiap dua susun atau lebih
tergantung ukuran kayu.
Sumber: Fachkunde – Holztechnik,
Dipl.-Ing. Wolfgang Nutsch, 2005
Gb. 3.14. Gambar papan tengah
Gb. 3.15. Penyusunan Batang
Kayu
57
Penyimpanan bahan kayu yang
berukuran balok-balok panjang
maupun lembaran yang lebar bisa
disimpan dalam susunan seperti
terlihat pada Gambar 3.14.
Susunan tersebut dikelompokkan
berdasarkan kesamaan ukuran
dan bentuknya. Penyimpanan
diusahakan pada ruangan yang
tidak lembab.
Penyimpanan hasil produksi yang
telah selesai dan menunggu
proses selanjutnya, sebaiknya
disimpan dalam keadaan yang
baik dan tersusun rapi, seperti
terlihat pada Gambar 3.14.
5. Mengirim Bahan
Pengiriman bahan baku maupun barang jadi hasil produksi harus
diusahakan memenuhi beberapa hal, antara lain:
(a) Hindari kerusakan bahan atau barang yang dikirim.
(b) Kemaslah bahan atau barang tersebut secara aman.
(c) Pilihlah alat transportasi yang sesuai dengan kebutuhan.
(d) Perhitungkan kebutuhan waktu pengiriman, supaya tidak
terlambat.
Gb. 3.16. Penyusunan Balok dan
Lembaran Kayu
Gb. 3.17. Penyusunan Lembaran
Daun Pintu
58
BAB IV
MENERAPKAN TEKNIK LAMINASI
Pada bab ini diuraikan beberapa hal yang meliputi tentang bahan perekat
atau lem kayu dan proses pengerjaannya untuk menerapkan teknik
laminasi pada pekerjaan perabot kayu.
Standar Kompetensi pada bab ini adalah Menerapkan Teknik Laminasi
yang terdiri dari dua Kompetensi Dasar yaitu Memotong Bahan Pelapis
dan Mengerjakan Proses Laminasi pada Permukaan yang Telah
Disiapkan, yang secara terinci disusun ke dalam topik-topik sebagai
berikut:
1. Mengenal Bahan Perekat Kayu
1.1. Asal Mula Bahan Perekat
1.2. Jenis Bahan Perekat
1.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perekatan
2. Memotong Bahan Pelapis
2.1. Jenis Bahan Pelapis
2.2. Cara Memotong Bahan Pelapis
3. Mengerjakan Proses Laminasi Kayu
3.1. Peralatan Laminasi
3.2. Persiapan Proses Laminasi
3.3. Langkah Kerja Laminasi
1. Mengenal Bahan Perekat Kayu
1.1. Asal Mula Bahan Perekat
Bahan perekat atau lem adalah suatu bahan untuk mengikat bendabenda
atau bahan-bahan lain, misalnya kayu, melalui permukaan
(perekatan/penempelan) atau yang sering disebut dengan pekerjaan
laminating atau laminasi.
Perekatan telah dikenal sejak zaman purbakala, yaitu sekitar tahun 1500
sebelum Masehi. Waktu itu orang-orang Mesir telah menggunakan Arabic
Gum dan putih telur sebagai perekat. Kemudian berkembang menjadi
kanji sebagai bahan perekat, namun bahan perekat ini tidak tahan
terhadap kelembaban dan terhadap jamur serta bekteri lain sehingga
mudah membusuk.
59
Pada tahun 1930 mulai digunakan bahan-bahan sintetis sebagai bahan
dasar pembuatan perekat atau lem. Bahan perekat ini tahan terhadap
kelembaban dan bakteri-bakteri lain.
Phenol-formaldehyde adalah bahan sintetis (sintetis resin) pertama yang
digunakan untuk bahan perekat dan banyak digunakan di bidang
perkayuan dan pembuatan plywood. Kemudian muncul ureaformaldehyde
dan resorcinol formaldehyde, dan lain-lain.
Bahan perekat yang baik adalah bahan perekat yang apabila sudah
digunakan untuk laminating cukup kuat dan warnanya sama dengan
warna kayu yang dilaminasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perekatan antara lain, adalah
kebersihan dari permukaan, keadaan permukaan, dan tekanan.
1.2. Jenis Bahan Perekat
Ditinjau dari jenisnya, bahan perekat terdapat dua jenis, yaitu bahan
perekat (lem) yang berbasis air; dan bahan perekat (lem) yang berbasis
hardener.
Pada pekerjaan laminating atau laminasi, bahan-bahan perekat di atas
bisa diterapkan sangat kondisional sekali. Artinya, bahwa bahan-bahan
perekat tersebut bergantung pada beberapa hal, yaitu bahan / kayu apa
yang akan dilaminasi; di mana akan digunakan; dan seberapa besar
kekuatan yang harus dipikul oleh kayu tersebut.
Sebagai contoh pekerjaan laminasi untuk pembuatan bahan dasar Gitar
dari kayu Aghatis yang akan dieksport ke Eropa / Amerika. Maka hal ini
tidak akan berhasil jika menggunakan bahan perekat (lem) berbasis air.
Mengapa demikian ?
Berdasarkan teori perekatan bahwa perekatan ternyata memainkan
peranan yang penting di dalam teknologi, mulai dari merekat mainan
anak-anak, alat-alat rumah tangga, mebel, dan konstruksi kayu hingga
alat-alat transportasi supersonik.
Pembagian bahan perekat dibagi menjadi beberapa bagian secara utama
terdiri dari bahan perekat alami dan bahan perekat alami. Bahan perekat
alami berasal dari hewani, tumbuhan, dan mineral. Beberapa bahan
perekat yang berasal dari hewani adalah Albumen, Casein, Shellac, Lilin
lebah dan Kak (Animal Glue). Beberapa bahan perekat yang berasal dari
tumbuhan adalah Damar Alam, Arabic Gum, Protein, Starch, Dextrin, dan
Karet Alam. Beberapa bahan perekat yang berasal dari mineral adalah
Silicate, Magnesia, Litharge, Bitemen, dan Asphalt.
60
Bahan pereket sintetis berasal dari Elastomer, Thermoplastic, dan
Thermosetting. Beberapa bahan perekat yang berasal dari Elastomer
adalah Poly Chloropene, Poly Urethane, Silicon Rubber, Polisoprene,
Poly Sulphide, dan Butyl Rubber. Beberapa bahan perekat yang berasal
dari Thermoplastic adalah Ethyl Cellulose, Poly Vinyl Acetate, Poly Vinyl
Aalcohol, Poly Vinyl Chloride, Poly Acrylate, dan Hotmelt. Beberapa
bahan perekat yang berasal dari Thermosetting adalah Urea
Formaldehyde, Epoxy Polyamide, dan Phenol Formaldehyde.
1.2.1. Animal Glue
Secara umu jenis le mini dikenal lem Kak. Bahan ini dibuat dari collagen
(suatu protein kulit binatang, tulang-tulang dan daging penyambung
tulang). Keistimewaan dari bahan ini adalah dapat larut dalam air panas,
dan pada waktu pendinginan terjadi pembekuan seperti agar-agar (jelly),
sehingga lam ini dapat menghasilkan daya rekat pertama yang cukup
kuat.
Pada pengeringan selanjutnya terjadilah daya rekat yang kuat. Lem Kak
ini terdapat dipasaran dalam bentuk granulate (butir-butir), potonganpotongan
dan lempengan.
1.2.2. Casein
Casein adalah zat protein yang terdapat dalam susu hewan (sapi)
sebagai hasil samping dari perusahaan keju. Larutan casein dalam
bentuk pasta banyak digunakan pada penempelan label kertas ke botol
gelas.
Keistimewaan dari lem casein ini ialah hasil penempelannya bersifat
tahan terhadap kelembaban dan juga tehan terhadap air, sehingga jika
botol terendam di dalam air kertas tidak akan lepas.
1.2.3. Starch dan Dextrin
Starch atau kanji adalah hasil dari tumbuhan, contoh yang kita jumpai
ialah terbuat dari tepung tapioca. Bahan ini sudah dikenal sejak dahulu
sebagai bahan lem, ialah dengan cara memasaknya dengan air. Dextrin
adalah hasil modifokasi secara kimia dari kanji. Kedua bahan ini banyak
digunakan pada pembuatan kantong-kantong kertas, kotak-kotak karton,
dan lain-lain.
61
1.2.4. Poly Vinyl Acetate
Poly vinyl acetate atau disingkat PVAc adalah suatu resin (polymer) dari
hasil polimerisasi di mana sebagai bahan monomernya adalah vinyl
acetate. Hasil dari polimerisasi ini berbentuk disperse atau emulsi di
dalam air, berwarna putih dan pasta.
Poly vinyl acetate dipakai secara meluas di bidang lem sejak tahun 1940
sebagai pengganti dari lem Kak (animal glue) di industri perkayuan. PVAc
sangat sesuai digunakan pada mesin-mesin pembungkus yang
berkecepatan tinggi. Juga, PVAc digunakan pada mesin-mesin penjilid
buku, kantong kertas, pembuatan sampul, dan lain-lain.
Secara kimia poly vinil acetate mempunyai gugus-gugus atom yang aktif
sehingga ia dapat mengikat bahan-bahan lain dengan cara hydrogen
bonding maupun adsorpsi secara kimia.
1.2.5. Urea Formaldehide
Kemajuan yang dicapai dalam hal perekatan perkayuan ialah
ditemukannya bahan perekat sintetis pada tahun pertengahan 1930.
Perekat sintatis ini ialah Phenol Formaldehyde dan Urea Formaldehyde.
Disebabkan lebih murah, maka Urea Formaldehyde lebih banyak dipakai
dibanding yang lainnya.
Urea Formaldehyde banyak dipakai pada pembuatan plywood. Pada
pemakaiannya kadang-kadang dicampur dengan tepung terigu untuk
menjadikan hasil perekatan fleksibel. Resin dicampur dengan hardener di
dalam air kemudian ditambahkan tepung terigu sebagai pengisi dan
kemudian zat katalis. Adukan ini disebarkan ke permukaan lapisan kayu
dengan rol spreader.
Lapisan-lapisan kayu tipis (vinir) yang telah dispread dengan lem urea ini
kemudian disusun lapis tiga (triplek) dan dipres dengan dipanaskan
dengan steam selama 4 sampai 7 menit, dengan temperature atau suhu
dari steam antara 125 derajat hingga 140 derajat Celcius.
1.3. Perekat dan Perekatan
Pengertian mengenai perekat (lem) dan pengertian mengenai perekatan
(adhesion) dan juga pengertian mengenai kegagalan perekatan menjadi
sangat penting. Untuk itu ada beberapa teori yang perlu dipahami,
diantaranya adalah:
62
1.3.1. Tegangan Permukaan (Surface Tension)
Untuk mengikat melalui suatu bahan, perekat harus dapat membasahi
dan menyebar di atas permukaan bahan tersebut dengan baik. Dengan
demikian faktor tegangan permukaan (surface tension) dari bahan yang
akan dilem dan perekat menjadi sangat berpengaruh. Ini berarti tegangan
permukaan dari lem harus lebih kecil dari tegangan permukaan dari
bahan.
1.3.2. Adsorpsi Secara Fisik
Daya tarik dari dua macam benda atau zat disebut adsorpsi secara fisik.
Daya tarik ini juga disebut Gaya Van Der Walls. Di samping itu ada lagi
daya tarik yang disebabkan oleh gaya dispersi. Daya tarik ini terdapat
pada semua molekul-molekul pada benda atau zat. Gaya dispersi adalah
dipole (muatan listrik positif dan negatif) yang dihasilkan oleh gerakan
elektron-elektron di dalam molekul tersebut. Daya tarik ini (gaya Van Der
Walls dan gaya Dispersi) cukup menghasilkan suatu ikatan atau bonding
dari dua benda atau zat. Dalam hal ini adalah lapisan lem dan benda
yang akan direkat.
1.3.3. Ikatan Hydrogen
Suatu zat yang molekul-molekulnya mengandung gugus hydroxyl dapat
membuat suatu ikatan dengan molekul-molekul dari zat lain melalui
ikatan hydrogen.
Contoh bahan yang mempunyai gugus hydroxyl (- OH) ini adalah kanji
dan dextrin.
1.3.4. Adsorpsi Secara Kimia
Sesuatu zat yang molekul-molekulnya mengandung gugus atom yang
aktif, dapat mengikat molekul-molekul dari zat lain dengan ikatan kimia.
Ikatan ini disebut juga adsorpsi secara kimia (chemisorption). Ikatan ini
menghasilkan suatu rekatan (bonding) yang tahan lama.
Ikatan antara zat A/B dengan lapisan lem dapat terjadi disebabkan oleh
adsorpsi secara fisik (lemah); ikatan hydrogen (cukup kuat); dan adsorpsi
secara kimia (kuat). Setelah zat A dan B (yang telah dilapisi lem)
direkatkan, maka ikatan yang terjadi dari permukaan yang telah dilapisi
dengan lem ini disebabkan oleh gaya dispersi dari molekul-molekul lem
itu sendiri.
63
1.4. Keuntungan Menggunakan bahan Perekat
Pengeleman atau perekatan mempunyai beberapa keuntungan dibanding
dengan cara tradisional seperti dengan paku, sekrup, dan lain-lain.
Beberapa keuntungan menggunakan bahan perekat adalah sebagai
berikut:
(a) Dapat merekatkan materi tipis ke materi lain tanpa menimbulkan
kerusakan pada bahan.
(b) Bentuk akhir produk lebih mulus disebabkan tidak terdapat celah,
tonjolan paku-paku, sekrup, dan lain-lain.
(c) Hasil perekatan lebih tahan terhadap getaran dan pemuaian yang
disebabkan oleh perubahan temperatur maupun kelembaban.
(d) Pengerjaannya lebih cepat dan ekonomis.
1.5. Penyebab Kegagalan Perekatan
Penyebab-penyebab kegagalan perekatan atau pengeleman adalah
sebagai berikut:
(a) Menggunakan bahan perekat (lem) yang tidak sesuai
(b) Pengerjaan permukaan bahan yang tidak sempurna
(c) Pengaruh dari air
(d) Pengaruh dari tegangan (stress)
(e) Pengaruh korosi (corrosion)
(f) Pengaruh panas
(g) Tidak dipenuhi syarat-syarat atau prosedur dari cara pengeleman.
2. Memotong Bahan Pelapis
2.1. Jenis Bahan Pelapis
Bahan pelapis yang akan digunakan untuk laminasi terdiri dari berbagai
macam bahan yang berasal dari kayu dan hasil olahannya maupun
berasal dari bahan sintetis buatan pabrik.
Jenis bahan pelapis untuk laminasi yang berasal dari kayu dan olahannya
antara lain berupa finir, teakwood, tripleks, multipleks dan sejenisnya.
Ada pula bahan pelapis sintetis hasil produksi pabrik bahan bangunan
atau mebel, biasanya berbentuk lembaran antara lain seperti formica,
reconsheet, finil, aluminium foil, dan sejenisnya.
64
2.2. Cara Memotong Bahan Pelapis
Cara memotong bahan pelapis disesuaikan dengan karakteristik bahan
dan kegunaan peralatan atau mesin. Untuk bahan pelapis yang berasal
dari kayu dan hasil olahan seperti finir, teakwood, tripleks, multipleks dan
sejenisnya bisa dipotong menggunakan peralatan tangan maupun mesin.
Peralatan tangan yang digunakan untuk memotong bahan pelapis bisa
menggunakan berbagai macam gergaji, antara lain gergaji tripleks,
gergaji punggung, dan sejenisnya tergantung karakteristik bahan pelapis
tersebut.
Apabila bahan pelapis tersebut dipotong menggunakan mesin, maka
dapat digunakan mesin gergaji bundar bermeja atau mesin sejenisnya
menurut karakteristik bahan pelapis yang akan dikerjakan.
3. Mengerjakan Proses Laminasi Kayu
3.1. Peralatan Laminasi
Peralatan untuk mengelem atau
laminasi bisa dikelompokkan
menjadi dua macam, yaitu peralatan
laminasi yang menggunakan alat
tangan dan peralatan laminasi yang
menggunakan mesin tekan (press).
Mesin tekan (press) ini sangat efektif
untuk melakukan pekerjaan laminasi
berupa lembaran lebar sampai
dengan selebar ukuran tripleks.
Penekanan yang dihasilkan oleh
mesin ini merata ke seluruh bidang
permukaan benda kerja, sehingga
dengan bahan lem yang cocok dan
berkualitas maka hasil laminasinya
Gb. 4.1. Peralatan Laminasi dan sangat baik.
Mesin Tekan (Press)
65
Peralatan pengeleman atau laminasi
yang menggunakan alat tangan
antara lain adalah peralatan
penjepit, tempat atau botol lem, alat
untuk mengoleskan lem yaitu
spatula, klos/batang kayu sebagai
pelindung benda kerja.
Peralatan penjepit atau klem untuk
laminasi ada berbagai macam,
antara lain adalah klem F, klem
batang, klem rangka, klem sisi, dan
klem sudut.
Gambar di samping menunjukkan
pengeleman lis pada lembaran
benda kerja menggunakan peralatan
penjepit berupa klem sisi.
Klem sisi ini sangat efektif untuk
menjepit pengeleman lis pada sisi
lembaran, karena mempunyai
penekanan pada dua arah, yaitu
arah mendatar maupun arah tegak.
3.2. Persiapan Proses Laminasi
Persiapan pekerjaan laminasi atau pengeleman kayu memerlukan
beberapa persiapan yang harus dilakukan supaya hasil yang didapatkan
bisa baik dan sesuai dengan yang diinginkan.
Beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk proses laminasi antara lain
adalah:
(a) Merencanakan waktu untuk proses laminasi.
(b) Memilih jenis bahan perekat yang sesuai dengan fungsinya.
(c) Menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan.
(d) Menyiapkan dan memeriksa peralatan yang akan digunakan.
(e) Mengatur tempat kerja untuk proses laminasi.
Gb. 4.2. Penggunaan Klem Sisi
66
3.3. Langkah Kerja Laminasi
Setelah pekerjaan persiapan proses laminasi telah dikerjakan dengan
baik, maka selanjutnya merencanakan langkah kerja laminasi supaya
seluruh proses laminasi bisa berjalan sesuai dengan tata-cara dan
ketentuan yang disyaratkan.
Sebelum memulai langkah kerja
laminasi, sebaiknya dipersiapkan
lebih dulu beberapa yang akan
digunakan pada saat proses
laminasi.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan
apabila melakukan pekerjaan
laminasi dengan peralatan tangan,
antara lain lem, klem/penjepit, klos
kayu penahan, lap basah, dan tentu
tempat kerja.
Secara garis besar alur atau langkah kerja pengeleman kayu atau
laminasi adalah sebagai berikut:
3.3.1. Persiapan Komponen Kayu
Untuk menghasilkan pengeleman yang baik, salah satunya adalah kadar
air kayu yang akan dilem sebaiknya memenuhi persyaratan yang
ditentukan. Sebaiknya prosentase kadar air kayu yang akan dilem
berkisar antara 7 – 12 %.
Selain itu, apabila ada perbedaan ketebalan kayu yang akan dilem, maka
perbedaan tersebut maksimal 1 mm. Alangkah baiknya kalau seluruh
permukaan kayu sudah diketam.
3.3.2. Persiapan Lem
Setelah menentukan jenis lem yang akan digunakan, maka selanjutnya
adalah menyiapkan lem tersebut sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan.
Selanjutnya melakukan pengadukan atau pencampuran lem dengan
bahan tambahan apabila diperlukan.
Apabila menggunakan lem yang menggunakan bahan pencampur, maka
waktu tunggu lem tersebut jangan terlalu lama karena akan
mempengaruhi kualitas lem.
Gb. 4.3. Penggunaan Klem Sisi
67
3.3.3. Pensortiran Kayu
Pensortiran kayu merupakan langkah lanjut dari persiapan komponen
kayu. Hal ini perlu dilakukan supaya kayu yang dilem memenuhi pilihan
kayu yang diinginkan. Pilihlan kayu yang akan dilaminasi, sesuai dengan
persyaratan yang ditentukan. Selain itu harus diperhatikan kesamaan
warna dan pola serat kayu yang akan dilem sehingga tampak serasi dan
indah.
3.3.4. Pengolesan Lem
Pengolesan lem dilakukan pada bidang permukaan kayu yang akan dilem
sesuai dengan ketentuan. Satu set kayu yang akan dilaminasi,
selanjutnya diolesi lem secara merata kedua permukaannya, dengan
menggunakan spreader/rol. Pemakaian lem + 280 gr/cm².
3.3.5. Penyusunan Komponen Kayu
Apabila komponen kayu yang
sudah diolesi lem tersebut berupa
lembaran lebar seperti multipleks,
maka selanjutnya disusun atau
diletakkan pada mesin tekan
(press), penyusunannya harus
mengikuti tanda yang telah
diberikan sebelumnya.
Apabila komponen kayu yang
akan dilem berbentuk rangka
batang, maka bisa diklem dengan
klem F atau klem batang atau
klem rangka. Alat tersebut bisa
dipilih salah satu tergantung
kebutuhan.
3.3.6. Penekanan
Penekanan dan waktu yang dibutuhkan untuk menekan hendaknya
disesuaikan dengan kondisi yang diperlukan.
Amati permukaan garis lem, karena sebagian lem akan meleleh ke luar,
oleh karena itu disiapkan kain lap untuk segera dibersihkan sehingga
pertemuan kedua bidang kayu yang dilem tersebut menjadi bersih dari
sisa lem yang tidak diperlukan.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 4.4. Penyusunan Komponen
pada Klem Rak
68
Posisi penekanan benda kerja
yang tepat dan menggunakan
peralatan yang sesuai serta waktu
yang digunakan selama proses
penekanan memenuhi kebutuhan,
maka menjamin hasil pengeleman
yang baik.
Hal ini harus diperhatikan dalam
proses pengerjaan laminasi kayu.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.4.5. Penggunaan Klem untuk Penekanan
69
BAB V
MENGGUNAKAN PERALATAN
Pada bab ini diuraikan beberapa hal yang meliputi pengetahuan tentang
Menggunakan Peralatan Tangan dan Listrik serta Menggunakan
Peralatan Mesin Statis sebagai dasar menggunakan peralatan untuk
mengerjakan berbagai macam pekerjaan kayu dan mebel.
Standar Kompetensi pada bab ini adalah Menggunakan Peralatan yang
terdiri dari dua Kompetensi Dasar yaitu Menggunakan Peralatan Tangan
dan Listrik serta Menggunakan Peralatan Mesin Statis, yang secara
terinci disusun ke dalam topik-topik sebagai berikut:
1. Menggunakan Peralatan Tangan dan Listrik
1.1. Bangku Kerja dan Kotak Alat
1.2. Peralatan Tangan
1.3. Peralatan untuk Menjepit/Klem
1.4. Pengasahan Peralatan Tangan
1.5. Mesin Bor
1.6. Mesin Amplas
1.7. Mesin Amplas Ban
1.8. Mesin Lamello
1.9. Mesin Router
1.10. Mesin Hias (Trimer)
1.11. Mesin Gergaji Bundar
1.12. Mesin Gergaji Jig (Jig saw)
1.13. Mesin Pengasah
2. Menggunakan Peralatan Mesin Statis
2.1. Mesin Gergaji Pita
2.2. Jenis Daun Gergaji Bundar
2.3. Mesin Ketam Perata
2.4. Mesin Spindle Molder/Shaper
2.5. Jenis Pisau Spindle Molder & Perlengkapannya
2.6. Mesin Router Atas
2.7. Mesin Spindle Molder Samping
2.8. Mesin Amplas Ban
2.9. Keselamatan Kerja
70
1. Menggunakan Peralatan Tangan dan Listrik
1.1 Bangku Kerja Dan Kotak Alat
Keterangan:
1. Ragum depan
2. Papan meja kerja
3. Mundam
4. Pasak penjepit
5. Ragum belakang
6. Pemutar ragum
7. Kaki meja
1. Ragum depan berfungsi untuk menjapit benda kerja pada saat
menggergaji, mengetam, melubang.
2. Papan meja kerja berfungsi untuk meletakkan benda kerja pada saat
melukis benda kerja, mengetam, menggergaji dan melubang serta
menghaluskan.
3. Mundam berfungsi untuk meletakkan alat-alat agar tidak mudah jatuh.
4. Pasak penjepit berfungsi untuk menjepit benda kerja pada saat
mengetam benda kerja diatas meja kerja.
5. Ragum belakang berfungsi untuk meletakkan salah satu pasak
penjepit yang bisa diatur menyesuaikan panjang pendeknya benda
kerja.
6. Pemutar ragum berfungsi untuk mengencangkan ragum dengan cara
memutar sehingga pasak penjepit menekan benda kerja.
7. Kaki meja ini sebagai penopang bangku kerja secara keseluruhan
agar lebih kokoh dan tidak mudah bergeser pada saat dipergunakan
untuk bekerja. Kaki meja ini bisa ditambahkan ganjal untuk
menambah ketinggian disesuaikan dengan tinggi orang.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb. 5.1.1. Bangku Kerja
1 2 3 4
5
6
7
71
Alat-alat ini dapat digunakan
sebagai pengait atau penjepit
pada bangku kerja sesuai
kebutuhannya.
Topang takik ini terbuat dari kayu dan berdiri
tegak pada kayu penopang dan dilengkapi
dengan beberapa takikkan untuk meletakkan
papan penopang, sehingga papan penopang
dapat diatur ketinggiannya sesuai dengan
kebutuhan. Alat ini sering digunakan untuk
kelengkapan bekerja pada bangku kerja,
diantaranya untuk menyangga benda kerja pada
saat bekerja.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb. 5.1.2. Pengait pada Bangku Kerja
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb. 5.1.3. Topang Takik
72
Keterangan:
1. Penjepit benda bulat : yaitu
untuk menjepit dan
mengerjakan jenis pekerjaan
berbentuk bulat. Diujung atas
penjepit ini dilengkapi dengan
taji runcing untuk meletakkan
pusat lingkaran benda kerja.
2. Penjepit papan : yaitu penjepit
yang digunakan untuk menjepit
benda kerja pada saat diketam
diatas bangku kerja.
3. Penjepit samping : yaitu
penjepit yang dipergunakan
untuk menjepit benda kerja di
samping bangku kerja.
Kotak alat tangan ini terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan handle dan
pengunci untuk keamanan alat yang ada di dalam kotak pada saat tidak
digunakan. Kotak alat ini sederhana dan praktis untuk menyimpan
peralatan kerja kayu.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb. 5.1.5. Kotak Alat Tangan
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb. 5.1.4. Fungsi Penjepit
Bangku Belakang
2
1
3
73
Almari alat ini dilengkapi dengan dua pintu yang bisa terbuka bebas ke
kiri dan ke kanan, dan dari masing-masing pintu dipakai untuk
meletakkan beberapa jenis peralatan. Disamping itu juga dilengkapi
dengan laci yang biasanya bisa untuk menempatkan benda atau
peralatan yang tidak dapat dilatakkan/dipasang pada dinding almari
ataupun di pintu. Almari alat ini bisa diletakkan menempel pada dinding
yang berdekatan dengan ruang kerja.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005
Gb. 5.1.6. Almari Alat
74
Kotak alat ini mempunyai fungsi sama dengan almari alat dan kotak alat
tetapi mempunyai kelebihan, yaitu dapat digerakkan/dipindah dengan
mudah karena kotak ini dilengkapi dengan roda dan pegangan untuk
menarik.
1.2. Peralatan Tangan
Mistar terdiri dari mistar kayu dan
mistar baja yang berfungsi untuk
menentukan ukuran benda kerja.
Diperdagangan mistar ini
umumnya terdiri dari beberapa
ukuran mulai dari 30 cm hingga
200 cm. Skala ukur yang tertera
pada mistar ini terdiri dari cm dan
Rol meter dipergunakan untuk
mengukur benda yang lebih
panjang. Pitanya dibuat dari baja
yang tahan lama, bila tidak
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005
Gb. 5.1.7. Kotak Alat dapat Bergerak
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005
Gb.5.1.8. Mengukur dengan Mistar
Pelindung
mistar kayu
Mistar baja
Benda kerja
75
terpakai pitanya tersimpan dalam
kotaknya.
Ukurannya terdiri dari mm, cm,
dan atau dalam inchi.
Pita ukur ini mempunyai sebuah
ujung geser, gunanya untuk
pengukuran sebelah dalam dan
luar bendan kerja.
Mistar Sorong berfungsi
untuk :
• Pengukuran-pengukuran
halus pada mesin-mesin
kerja kayu.
• Mengukur kedalaman
lubang.
• Mengukur ukuran dalam
dan ukuran luar juga
untuk mengukur bulat.
• Mengukur kepresisian
tebal kayu gigi
Alat ini berfungsi untuk mengontrol
jarak alur yang sudah dibuat.
Sumber: Holztechnik –
Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.11.
Pembacaan Nonius Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.12. Pengontrol Jarak Alur
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005
Gb. 5.1.9. Rol Meter
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.10. Mistar Sorong
76
Alat ini berfungsi untuk
mengukur/mengecek ketinggian
pisau pada mesin gergaji bermeja
dan mesin spindel (Frais).
Skala ukur yang ada pada alat ini
hanya mm saja dan alat ini bisa
langsung dikalibrasi apabila tidak
pada posisi nol.
Alat ini berfungsi untuk :
• Mengontrol kesikuan pada
benda kerja.
• Menggaris tegak lurus atau
memberi tanda.
Biasanya daun dan badannya
terbuat dari baja atau kayu dan
baja. Sudut yang benar antara
keduanya sebesar 90 derajat.
Disebabkan badannya lebih tebal
dan lebih berat daripada daunnya,
maka badan harus dipegang erat
pada tepi benda kerja.
Siku perempat dipakai untuk
memasang sudut miring pada 450
dan untuk menguji potongan 450
serta pekerjaan-pekerjaan lain
pada sudut 450 atau 1350.
Daunnya terpasang tetap pada
badannya dengan sudut 450.
Siku putar atau siku goyang dapat
diatur untuk setiap sudut yang
diperlukan. Siku putar dapat
dipergunakan untuk:
− Pemasangan garis-garis miring
dan pengontrolan kemiringan.
− Pemindahan sudut dari benda
kerja satu ke benda kerja lain.
− Segala macam pekerjaan yang
mempunyai sudut.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.15. Siku Perempat
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.16. Siku Goyang
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.13. Alat Ukur Ketinggian
Pisau
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.14. Siku-siku 900
77
Alat ini berfungsi untuk
menggambar atau memberi tanda
pada sambungan lubang dan pen
serta tebal maupun lebar kayu.
Apabila menyetel sebuah alat
gores kayu, maka sekrup atau
bajinya dikendorkan, dan bloknya
digeser berjarak yang diperlukan
taji.
Alat ini dipergunakan untuk
membuat garis-garis tanda gores
pada potongan pahatan atau
potongan gergajian.
Jangan sekali-kali menggunakan
alat gores ini sebagai jarum tusuk
dan jangan pula memukul
pegangannya dengan paku.
Gergaji dipergunakan untuk
membelah kayu dalam bentuk dan
ukuran yang diperlukan. Gergaji
bentang terdiri dari daun baja
dengan gusi yang telah dikikir.
Daunnya terpasang erat pada
pegangan kayu dengan
perantaraan baja pengait.
Gergaji ini pada prinsipnya sama
dengan gergaji belah bentang
yang terdiri dari daun baja dengan
gigi yang telah dikikir. Alat ini
berfungsi untuk bentuk-bentuk
lengkung atau bentuk bulat.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.18. Alat Gores
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.20. Gergaji Potong
Lengkung (Kurve)
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.19. Gergaji Belah
Bentang
Kawat
Lengan
Penguat Plat
penghubung
Mur
pengencang
Pegangan
Baji pengait Daun gergaji
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.17. Perusut
78
Gergaji ini dipergunakan untuk
memotong kayu dengan halus
yang lebih halus dalam bentuk dan
ukuran yang diperlukan.
Bila potongan gergajian harus
dibuat sampai suatu kedalaman
tertentu, lebih cocok dipergunakan
gergaji punggung.
Gergaji tangan terdiri dari daun
baja dengan gigi yang telah dikikir.
Daunnya terpasang erat pada
pegangan kayu dengan
perantaraan baut-baut. Aksi
pemotongan dengan gergaji yang
baik didasarkan pada kerataan
dan ketajaman giginya, yang
bekerja sebagai pahat-pahat kecil.
Alat ini dipergunakan untuk
memotong kayu dengan ukuranukuran
yang tertentu (kecil)
dengan hasil yang lebih halus.
Gergaji ini sering digunakan pada
pembuatan konstruksi hubungan
ekor burung.
Alat ini dapat digunakan untuk
membuat lubang bundar maupun
persegi.
Gergaji ini pada prinsipnya sama
dengan gergaji punggung.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.21. Gergaji Punggung
yang dapat Dibalik
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.22. Gergaji Potong
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.23. Gergaji Punggung
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.25. Gergaji Halus Jepang
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.24. Gergaji Kompas
79
Gergaji finir dapat digunakan
untuk khusus untuk memotong
finir.
Gergaji Gurat tertutama dipakai
untuk tempat-tempat terlalu
sempit, biasanya gigi-giginya
dibentuk sedemikian, sehingga
memotong dalam tiap arah gerak
gergaji (2 arah/maju mundur)
Mengikir rata pucuk-pucuk sisi
gergaji dapat dilakukan dengan
sebuah kikir halus yang dipasang
dalam sepotong kayu.
Alat ini dapat digunakan sebagai
landasan/penjepit gergaji pada
saat ditajamkan atau dikikir.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.28. Melurus / Meratakan
Gigi Gergaji
Kikir perata
Gergaji Penjepit
Sumber: Holztechnik –
Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.27. Gergaji Gurat
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.26. Gergaji Finir
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.29. Penjepit Gergaji
80
Alat ini dapat digunakan untuk
mengasah pisau ketam yang
sudah tidak rata lagi bentuk
pisaunya.
Cara mengasahnya dengan jalan
dimajukan sedikit-sedikit sampai
permukaan pisau menjadi lurus
dan rata.
Cara mengasah pisau ketam
sebaiknya semua permukaan batu
asah bisa dipergunakan agar
supaya habisnya batu asah bisa
merata.Perlu diperhatikan untuk
menghilangkan bram-bramnya,
maka begitu selesai mengasah
pisau ketam harus diasah balik
cukup sekali saja.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.31. Mesin Pengasah Pisau Ketam
Pisau ketam
Batu gerinda
Setelan maju
mundur batu
gerinda
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.32. Cara Mengasah Pisau Ketam
Pegangan belakang
Pegangan
depan Baji
Pisau
Tombol pukul
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.30. Ketam Kayu
Pegangan belakang
81
Ketam pelicin kayu ini kira-kira
panjangnya 20 cm, tingginya 3 cm
dan lebar pisau ketamnya kira-kira
4 sampai 5 cm.
Ketam ini terdiri dari:
− Badan ketam
− Alas ketam: dasar dari badan
ketam
− Mulut ketam: celah (lubang
sempit) pada alas ketam
− Pisau ketam
− Baji kayu
Ketam ini mempunyai pisau ketam
rangkap.
Alat ini berungsi untuk meratakan
bidang hasil ketaman yang besar
atau yang tidak rata.
Alat ini berfungsi untuk
pengetaman yang halus tidak
menimbulkan goresan-goresan
pada kayu keras dan bermata.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.33. Ketam Pelicin
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.34. Ketam Perata
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.35. Ketam Penghalus
82
Alat ini berfungsi untuk mengetam
halus dan tebal tetapi dapat diatur
dengan mudah.
Alat ini berfungsi untuk mengetam
dengan banyak tatal dan hasil
yang baik atau lebih halus.
Alat ini berfungsi untuk mengetam
kayu yang panjang dan ketam
bangku panjang digunakan untuk
mengurangi permukaan kayu agar
rata sempurna bentuknya. Ketam
bangku panjang ini berukuran dari
50 sampai 70 cm panjangnya.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.37. Ketam Pembentuk-
Halus
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.38. Ketam Bangku Panjang
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.36. Ketam Penghalus -
Primus
Baut penyetel
pisau
83
Alat ini berfungsi untuk membuat
atau mengetam sponing dengan
lebih halus hasilnya.
Alat ini berfungsi khusus untuk
membuat spoing yang bentuknya
miring atau untuk membuat
sambungan pe ekor burung.
Alat ini berfungsi untuk mengetam
atau menyempurnakan alur
lurus/ekor burung panjang dan
untuk mendalamkan /
membersihkan alur.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.40. Ketam Sponing Miring
Pisau sayat
Stoper
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.41. Ketam Dasar
Mur pengencang
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.39. Ketam Penghalus
Sponing
Baut kupu-kupu
84
Alat ini berfungsi untuk mengetam
bentuk lengkung baik cekung
maupun cembung.
Alat ini berfungsi untuk
mengaluskan bentuk-bentuk yang
lengkung atau cekung dengan
ukuran lebar tertentu.
Alat ini berfungsi untuk
menghaluskan bentuk-bentuk
yang lengkung atau cekung
khususnya untuk bentuk yang
setengah bulat dengan ukuran
lebar tertentu.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.42. Ketam Lengkung/Kapal
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.43. Ketam Kauto/Konkaf
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.44. Ketam Kauto Cembung
85
Alat ini berfungsi untuk
menghaluskan permukaan kayu
yang kurang rata setelah
pengetaman, sesuai dengan
bentuknya.
Alat ini digunakan untuk menajamkan pelat kikis. Penajaman pelat kikis
dapat dilakukan dengan arah maju / mundur dengan kemiringan 85°.
Kualitas kikis dari daun pelat kikis
dapat diperbesar dengan cara
menggosok tepinya pada kedua
sisi. Hal ini dilakukan dengan alat
gosok yang potongan lintangnya
bulat dan permukaannya halus.
Daun pelat garuknya harus
dipasang pada ragum (lihat
gambar disamping). Dengan
memegang alat gosoknya dengan
kedua tangan, gerakkan alat
tersebut dalam dua langkah kerja,
sepanjang tepinya, serta menekan
ke bawah sambil memegang alat
gosok pada sudut kurang lebih 50
(pada tepi daun)
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.46. Penajam Pelat Kikis
Alat gosok
Menggosok
tepi kirinya
Detail diperbesar:
tepi kanannya
juga digosok
Gb.5.1.47. Menggosok Pelat Kikis
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.45. Macam-macam Pelat Kikis
86
Pahat tusuk terdiri dari 2 bagian
yaitu pegangan dan daun pahat.
Pegangan pahat dibuat dari kayu
keras dan dilindungi terhadap
pembelahan oleh dua buah cincin
pegangan logam.
Daun pahat dibuat dari baja
perkakas khusus dari lereng
potongnya diasah cekung pada
sudut antara 250 dan 300.
Pahat dengan daun pahat yang
potongan lintangnya merupakan
sebuah bagian lingkaran disebut
pahat ukur lengkung. Sesuai
kedudukan lereng potong daun
pahat kuku ini ada dua macam
jenis, yaitu:
(a) Pahat lengkung dengan lereng
pahat sebelah dalam
(b) Pahat lengkung dengan lereng
pahat sebelah luar.
Pahat lubang terdapat beberapa
jenis dan bentuk dari pahat
lubang-purus, yaitu:
Pahat miring, digunakan untuk
pemahatan lubang lebar dan
dalam (lebar potongan 1“ - 2“).
Pahat serombong, digunakan
untuk pemahatan lubang dangkal
(lebar potongan ¼“ sampai 2“).
Pahat lubang-purus, digunakan
untuk pemahatan lubang yang
dalam dan sempit. Daun pahatnya
lebih tebal daripada lebarnya
(lebar potongan 3/6“ sampai 3/8“).
Bagian dari pahat lubang-purus
sama dengan pahat tusuk.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.49. Pahat Kuku Lengkung
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.50. Pahat Lubang
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.48. Pahat Tusuk
Daun tepi lereng
Daun pahat
Batu Puting
Pegangan
87
Palu kayu dibuat dari kayu
menyerupai palu dari baja, yang
beda kepalanya. Palu kayu
digunakan untuk memukul pahat
kayu, untuk menyetel ketam, untuk
merakit dan membongkar
konstruksi kayu dan menyetel
pasak-pasak stop (penahan) pada
bangku kayu.
Alat ini digunakan untuk
penentuan tempat pusat lubang
dan pemberian tanda. Pusat
lubang yang akan dibor, harus
diberi tanda dengan bantuan jarum
tusuk. Tanda bekas kecil yang
dibuat dengan jarum tusuk adalah
untuk menempatkan pucuk mata
bor, dengan demikan mencegah
slip dari mata bor, bila pengeboran
akan dimulai.
Gurdi sekrup tipis merupakan
sebuah perkakas bor dengan
pucuk sekrup untuk digunakan
dengan tangan dan digunsakan
untuk membuat lubang sebelum
mengebor, yang akan dimasuki
sekrup yang kecil.
Mata gurdi (bor) geser ini sama
dengan dia ats pembedanya ialah
mata gurdi ini mempunyai taji yang
dapat bergerak (alat potong).
Kebanyakan mata gurdi geser ini
tersedia dengan dua alat potong
terpisah, sebuah untuk lubang
besar, dan yang lainnya untuk
lubang kecil berdiameter antara 22
sampai 78 mm.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.51. Palu Kayu
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.52. Kraspen (Jarum Tusuk)
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.53. Gurdi-Sekrup Tipis
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.54. Mata Bor Geser
(Expansive bit)
88
Alat ini dapat digunakan untuk
mengebor lubang pada kayu
ataupun logam.
Alat ini berfungsi untuk mengebor
kayu yang padat pada mesin bor.
Mata bor benam (vershing)
dipergunakan untuk membuat
sekrup sedemikian rupa, sehingga
kepala sekrup menjadi rata
dengan atau berada di bawah
permukaan bahan.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.57. Mata Bor Benam
(Vershing)
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.55. Mata Bor Spiral Logam
Pisau pemotong
Pemotong awal
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.56. Mata Bor Dowel
89
Kikir merupakan perkakas yang
terdiri dari daun baja dengan gigigigi
potong halus pada
permukaannya. Permukaan ini
disepuh keras.
Puting kikir dikencangkan ke
dalam pegangannya dengan cara
memukul puting kikir sehingga
berujung lancip, puting kikir yang
tidak disepuh akan menjadi keras.
Gagang kikir dibuat dari kayu bik
atau kayu es (kayu jenis khusus),
dan dilengkapi dengan gelang
pegangan baja. Gelang gagang ini
dapat mencegah peretakan dan
pembelahan pada gagang.
Gigi-gigi kikir harus tajam. Apabila
gigi-giginya telah aus atau tumpul,
maka kayu yang digaruk akan
berkurang.
Penyumbatan serbuk kayu dan
damar kayu juga dapat
menghalangi pengikiran.
Daun kikir
(batang kikir)
Gagang
Gelang
gagang
Puting (gigi
garpu)
Bahu
(tumit)
Daun kikir
(batang kikir)
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 6,
Kikir, Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.58. Bagian-bagian Kikir
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 6,
Kikir, Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.59: Gigi KIkir
Gigi kikir
baru
Gigi kikir yang
sudah aus
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 6,
Kikir, Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.60: Gigi Kikir yang
Tersumbat Kotoran
90
Alat ini dapat digunakan untuk
meratakan/menghaluskan benda
kerja yang lurus maupun
lengkung.
Alat ini dapat digunakan untuk
meratakan/menghaluskan awal
dari benda kerja yang ada.
Alat ini dapat digunakan untuk
menghaluskan/meratakan benda
kerja sesuai dengan bentuknya.
Kikir tangan mempunyai potongan
lintang yang berbentuk persegi
panjang dengan lebar paralel
(sejajar) sepanjang daun kikirnya,
dan menirus tebalnya ke ujung
kikir.
Kikir tangan biasanya digunakan
sebagai kikir kayu potongan gigi
rangkap kasar pada kayu yang
telah ditatar (diparur) lebih dahulu.
Alat-alat ini digunakan untuk
menghaluskan/meratakan bentukbentuk
yang lengkung.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.62. Kikir Segi Empat Kasar
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.65. Kikir ½ Bulat Halus
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.63. Macam-macam Bentuk Kikir
Segi empat
½ bulat
¼ bulat
Bulat
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.61. Kikir ½ Bulat Kasar
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.64. Kikir Segi Empat Halus
91
Kikir parut digunakan untuk
membuang serpihan-serpihan
kayu secara cepat.
Kikir kayu digunakan untuk
menghaluskan permukaanpermukaan
kayu yang kasar.
Kikir dan kikir parut halus selalau dilengkapi dengan gagang. Jika
gagangnya rusak, secepat mungkin harus diganti.
Perbedaan antara kikir dan kikir parut adalah:
- Gigi-gigi kikir parut saling terpisah satu dengan lainnya.
- Kikir parut hanya digunakan untuk menggosok bagian yang kasar dan
mempercepat pelepasan lapisan kayu yang tebal.
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 6,
Kikir, Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.66. Kikir Parut
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 6,
Kikir, Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.67: Kikir Kayu
Potongan lintang
kikir halus
Potongan lintang
kikir parut
Kikir Parut Kayu
Kikir kayu halus
(setengah bulat)
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 6, Kikir, Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.68. Perbedaan Kikir Kayu Halus dan Kikir Parut
92
Kikir dan kikir parut biasanya
digunakan dalam pertukangan
kayu, misalnya untuk membentuk,
membuat potongan-potongan
yang tidak teratur, dan untuk
kurva-kurva yang tidak mungkin
menggunakan ketam.
Tiap palu terdiri dari kepala dan
pegangan. Kepala dibuat dari baja
dan pegangan dibuat dari kayu
atau plastik.
Alat ini digunakan untuk menyetel
pisau ketam dari ketam kayu dan
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, untuk memaku.
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.70. PaluTukang Kayu
Puncak
Kepala palu
Gagang
Cara penggunaan
drip benam
Ujung drip
benam
Drip benam
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 6, Kikir, Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.71. Drip Benam
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 6, Kikir,
Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.69. Pengikiran Tepi Cembung
93
Untuk memasukkan palu lebih jauh ke dalam kayu, maka gunakanlah drip
benam. Dianjurkan untuk menggurdi lubang, sebelum paku dipukul
masuk dalam hal jenis kayu yang tebal, paku tebal, dan dekat tepi kayu,
untuk mencegah pembelahan kayunya.
Perkakas ini digunakan untuk
melepas dan mencabut paku dan
memotong kawat. Sebuah
kakaktua terdiri dari dua bagian
yang dapat berputar pada
porosnya. Ujung-ujung sumbu
porosnya telah dilantakkan
(dipukul seperti pada kayu keling).
Tiap bagian telah ditempa.
Ujung-ujung rahang telah disepuh
keras (dijadikan keras dengan
proses pengerasan).
Untuk menembus benda kerja dari
kayu, diperlukan gerak berputar
agar mendapatkan gaya
pemotongan gurdinya.
Benda kerja harus dipasang kuatkuat
pada bangku kerja. Hal itu
untuk mencegah agar bangku
kerja tidak ikut berputar bersama
gurdinya.
Lubang bulat dibor atau digurdi
pada kayu dengan gurdi.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.72. KakakTua
Rahang
Poros
Kaki
Engkol
Gurdi Benda
kerja
Gb.5.1.73. Penggurdian dengan
Engkol dan Gurdi
94
Kepala sekrup menentukan bentuk
ujung obeng sebagai berikut:
1. terlalu lebar berarti ujung
obeng menonjol lewat celah
sekrup, maka akan mengenai
keduanya.
2. terlalu sempit menyebabkan
gaya yang berekrja pada luas
yang terlalu sempit dari
celahnya dan memungkinkan
belahnya ujung obeng.
Alat ini dapat digunakan untuk
mengobeng paku sekrup dan mur
baut sesuai dengan bentuknya.
Waktu menerapkan ujung obeng
pada sekrup, peganglah ujung
obeng tersebut dan bukan
sekrupnya yang dipegang.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.74. Posisi Mata Obeng
2 2 2
3 1 4
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.75. Obeng
Mata obeng
Pegangan
95
Obeng roda gigi spiral (atau otomatik) dikerjakan dengan mendorong
sebagai ganti memutar pegangannya. Cengkamannya dapat menerima
berbagai jenis mata obeng dan mata gurdi. Mata-mata obeng ini
merupakan perangkat, yang dibuat khusus untuk jenis obeng ini.
Alat ini dapat digunakan untuk
menyekrup sesuai dengan bentuk
kepala skrup yang dipakai
Alat ini berfungsi untuk
landasan/dasar pemotongan kayu
dan biasa untuk pemotonganpemotongan
miring (verstek)
dengan ukuran-ukuran tertentu.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.77. Mata Obeng
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.78. Mal Gergaji
Alat ganti Tangkai dengan
alur-alur
Cengkam
Mata obeng
Mata gurdi
lengkapan
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 6, Kikir, Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.76. Jenis Obeng Otomatik
96
Kertas amplas digunakan untuk
penghalusan akhir permukaan,
sebelum digunakan lapisan rapih
(cat, pernis, cat penetrasi dan
sebagainya). Pengamplasan juga
dilakukan bila tidak digunakan
lapis rapih lagi.
Kertas amplas tersedia di pasaran
dalam bentuk lembar dan
gulungan kertas. Kertas amplas
terdiri dari lapis ketras atau kain,
dengan salah satu sisinya dilapisi
kristal-kristal kuarsa atau batu api
tajam.
Butir amplas diklasifikasikan
dalam tingkat-tingkat berikut:
- Butir amplas kasar,
- Butir amplas sedang,
- Butir amplas halus.
Juga dalam urutan ini, kertas
amplas digunakan pada
pekerjaan khusus.
Disamping klasiifikasi batir
amplas bahan gosoknya
dibedakan sebagai berikut:
- Kertas amplas dibuat dari
pecahan batu api atau kuarsa.
Berwarna pasir kekuningkuningan.
- Kertas amplas batu lebih awet
daripada kertas amplas biasa
dan berwarna kemerahmerahan.
- Kain amplas berwarna hitam.
Tidak banyak dipakai dalam
pertukangan kayu, tetapi
digunakan pada mesin amplas
dengan tenaga untuk
pengamplasan lantai kayu dan
sebagainya.
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 12,
Mesin Amplas Listrik, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.79. Memotong Kertas
Amplas
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 12,
Mesin Amplas Listrik, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.80. Blok Amplas
Kertas
amplas
Blok amplas
gabus atau karet
Kertas
amplas
terlipat
sekeliling
blok
Blok gergaji khusus
dengan pegangan
sendi
Pegangan
terbuka
97
1.3. Peralatan Untuk Menjepit / Klem
Klem atau alat penjepit terdiri dari
beberapa bentuk diantaranya:
• Klem F
• Klem C
• Klem batang
• Klem rak
Alat ini berfungsi untuk:
− Mengelem ke arah lebar
− Mengelem ke arah tebal
− Merangkai benda kerja sesuai
dengan ukurannya.
Alat ini dapat digunakan untuk
mengklem benda kerja dengan
ukuran-ukuran tertentu.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.81. Klem Panjang
Sumber: Holztechnik –
Fachkunde, Wolfgang Nutsch
Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.82. Klem Pendek
98
Alat ini berfungsi untuk meletakkan
klem F yang sudah tidak
dipergunakan.
Alat ini dapat digunakan khusus
untuk mengklem sudt bingkai atau
pada konstruksi yang
menggunakan sambungan
verstek/miring 450.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.84. Klem Bingkai
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.83. Rak Klem F
99
Alat ini dapat digunakan untuk
mengklem pada konstruksi
sambungan memanjang pada
bentuk lengkung.
Alat dapat digunakan untuk
merangkai atau mengeklem
sambungan miring/verstek dengan
hasil yang presisi
Alat ini dapat digunakan khusus
untuk untuk merangkai atau mengklem
be bentuk kotak /laci.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.85. Klem Sudut
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.86. Klem sudut
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.87. Klem Stik
100
Mal Tangga Putar ini dapat
digunakan untuk membuat ibu
tangga putar dan hand railing
tangga putar dengan cara
laminasi.
Kuda-kuda Bangku ini dapat
digunakan untuk landasan
kerja/bangku kerja yang dapat
dipindah-pindahkan.
Alat ini berfungsi untuk memotong
siku atau miring/verstek dengan
sudut-sudut tertentu sesuai
dengan yang diinginkan.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.89. Kuda-kuda Bangku
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.90. Gergaji Pembentuk
Sudut (Gergaji Potong
Miring
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.88. Mal Tangga Putar
Balok
kerangka Pres hydraulic
laminating
Papan dasar
101
Alat ini berfungsi untuk memotong
halus miring/verstek sesuai
dengan sudut yang diinginkan.
1.4. Pengasahan Peralatan Tangan
Pahat dan pisau asah harus tajam.
Bila menjadi tumpul atau bertakik
perlu ditajamkan dengan
pengasahan.
Perkakas-asah yang sederhana
adalah seperti yang diperlihatkan
pada gambar 1. roda-roda asah
diputar dengan pegangan-engkol.
Sebagian dari roda asah (yang
merupakan bahan agak lunak, dan
disebut batu asah/batu-gerinda),
terendam dalam air. Air menjaga
agar roda tidak menjadi panas,
menjadikan batunya lebih lunak
dan membersihkan roda dari debu.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.91. Pisau Potong Miring
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara
Gb.5.1.92. Mengasah Pahat pada
Mesin Gerinda
102
PEMEGANGAN PAHAT
Pahat dipegang dengan tangan
kanan sekeliling pegangannya.
Tangan kiri memegang daun
pahat. Kemudian ujung pahat
dikenakan pada dada untuk
memberikan gaya-lawan.
Roda berputar (lihat panah). Sudut
asah harus sekitar 250 sampai 300.
lereng potong akan mendapat
muka cekung.
Pekerjaan ini memerlukan dua
orang: satu orang untuk
memegang pahat dan yang lain
memutar roda.
Pemecahan persoalan yang lebih
baik adalah menggantikan orang
yang memutar roda (dengan
pegangan-engkol) dengan motor
listrik, lihat gambar 1.
Roda kurang lebih 35 cm diameter
luarnya dan berputar 110 putaran
tiap menit. Ini sama dengan suatu
kecepatan 2 meter tiap detik pada
kelilingnya (tepinya).
Pada kepesatan ini airnya tidak
akan mencepuk.
Pahat dipegang seperti
diterangkan pada halaman
sebelumnya.
Apabila mengasah pada roda asah
maka akan didapat suatu lereng
asah-cekung.
Perhatikan, bahwa lerengnya
harus pada sudut sekitar 300.
pada sudut ini (300) panjang
lereng akan sama dengan dua kali
tebal daunnya.
xx = panjang lereng
x = tebal daun
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara
Gb.5.1.94. Mesin Gerinda
Pengasah Pahat
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara
Gb.5.1.93. Cara Pengasahan
Pahat pada Mesin Gerinda
103
Lereng rata diasah pada sisi roda
asah.
Lereng rata digunakan untuk
pahat-bubut dan pahat ukir
lengkung.
Lereng cembung tak bisa dipakai
dan harus diasah kembali.
Pengasahan Tajam Pahat-Ukir
Lengkung
Pahat ukir lengkung (pahat yang
cekung) biasanya diasah pada
roda asah, tetapi pengasahan
halus dilakukan dengan batu asah
slip.
Roda asah menjadi tumpul dan
tersumbat dengan debu asahan
yang tertanam. Dapat terjadi pula
bahwa butir-butir terpecah keluar
dari permukaannya.
Dalam semua hal ini, sulitlah untuk
mengasah tajam pisau ketam dan
pahat-pahat pada roda asah
semacam itu.
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara
Gb.5.1.95. Lereng Pahat Lubang
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara
Gb.5.1.96. Pengasahan Tajam
Pahat-Ukir Lengkung
104
Maka roda asah harus
dikembalikan pada keadaan yang
baik pada waktu-waktu tertentu.
Untuk itu digunakan alat asah/kikis
(dreser) roda asah (atau alat asah
tajam roda asah).
Peganglah alat asah/kikis (dreser)
roda asah sandaran perkakas
horisontal dan dorong alat itu pada
roda asahnya. Pakailah kaca mata
debu.
Ketentuan Umum Pengoperasian Mesin Tangan
Persyaratan Umum Pengoperasian Mesin Portable
1. Semua pekerja wajib mematuhi semua tanda-tanda/rambu-rambu
keselamatan kerja.
2. Pekerja harus memperhatikan dan mengindahkan petunjukpetunjuk
dari pabrik tentang keselamatan kerja dan harus berhatihati
terhadap semua yang berada dalam ruang kerjanya.
3. Sebelum memulai pelaksanaan suatu pekerjaan, harus dipastikan
bahwa pekerja telah mendapatkan pengenalan/sosialisasi
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya Aksara
Gb.5.1.97. Alat Perata Batu Gerinda
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya Aksara
Gb.5.1.98. Meratakan Batu Gerinda
105
mengenai peraturan umum keselamatan dari petugas K3 di tempat
kegiatan kerja;
4. Semua kecelakaan dan kejadian harus dilaporkan pada Petugas K3
di tempat kegiatan kerja. Dalam hal terjadi luka pada seseorang,
harus segera menghubungi petugas K3. Petugas ini akan mengurus
pengangkutan orang yang terluka ke rumah sakit;
5. Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) harus segera
diberikan sesaat setelah kejadian kecelakaan;
6. Semua peralatan dan alat bantu kerja harus telah dipastikan
keamanannya untuk digunakan;
7. Setiap pekerja wajib memelihara daerah kerja masing-masing agar
selalu dalam kondisi yang bersih dan sehat.
8. Setiap pekerja wajib memakai alat pelindung diri / keselamatan
kerja, seperti :
a. Helm pengaman
b. Sepatu kerja
c. Kaos tangan
d. Pelindung pendengaran
e. Kaca mata debu
f. Pelindung pernafasan
g. Sabuk pengaman dan tali/tambang sesuai dengan kebutuhan
dan keadaan kerja
9. Pekerja diwajibkan memelihara dan merawat alat-alat pelindung diri
/ keselamatan kerja anda dengan baik dan digunakan dengan benar
serta menyimpannya di tempat yang aman setelah selesai bekerja;
10.Setiap pekerja harus memeriksa alat pengaman, misalnya sabuk
pengaman sebelum dipakai. Jangan memakai alat pengaman yang
rusak, dan harus melaporkan segera alat pengaman yang rusak
untuk diganti;
11. Jika terjadi kebakaran atau kondisi yang darurat, pekerja agar dapat
menenangkan diri dan mengikuti petunjuk penyelamatan yang
diberikan oleh petugas;
12. Apabila terjadi kebakaran tanda bahaya (sirine) harus dibunyikan.
Semua orang harus diminta menyingkir dari tempat kebakaran dan
semua orang yang berkepentingan harus diberitahu;
13. Apabila terjadi kebakaran di tempat / di daerah tersebut di atas,
harus segera bertindak memadamkan kebakaran tersebut secara
tuntas;
14. Dilarang mempergunakan baju atau celana yang terlalu longgar,
dan rambut panjang (gondrong) terurai sebab bisa berbahaya
terhadap pesawat / mesin yang berputar;
15.Semua barang-barang dan perkakas harus diletakkan dengan rapi
dan stabil sehingga tidak mudah jatuh.
106
Lingkungan Tempat Kegiatan Kerja
1. Kebersihan Lokasi Kerja
a. Bahan–bahan yang tidak terpakai dan tidak diperlukan lagi
harus dipindahkan ke tempat yang aman.
b. Sisa–sisa barang alat–alat dan sampah tidak boleh dibiarkan
tertumpuk di tempat kerja.
c. Tempat kerja harus selalu dijaga dibersihkannya.
d. Alat–alat yang mudah dipindah–pindahkan setelah dipakai harus
dikembalikan pada tempat penyimpan semula.
2. Kebisingan
a. Kebisingan dan getaran yang membahayakan bagi tenaga kerja
harus dikurangi sampai di bawah nilai ambang batas.
b. Kebisingan dan getaran di tempat kerja tidak boleh melebihi
ketentuan Nilai Ambang Batas yang berlaku.
c. Kebisingan dan getaran yang timbul, tidak boleh secara terus
menerus dalam jangka panjang. Pada setiap jangka waktu
tertentu harus diistirahatkan.
d. Jika kebisingan tidak dapat diatasi secara teknis maka tenaga
kerja harus memakai alat pelindung telinga (ear protect).
e. Mintalah agar ear muffs atau ear plugs yang tepat dan yakinkan
bahwa terpasang baik dan cocok.
f. Pakailah alat pelindung telinga selama berada pada tempat
kerja dengan kebisingan.
g. Jika alat pelindung telinga tidak digunakan, agar selalu dalam
keadaan bersih dan disimpan pada tempat yang aman.
h. Masukkan sumbat telinga dengan tangan bersih.
i. Perhatikan bila rusak : jika ear muffs sudah longgar atau sumbat
telinga menjadi keras dan rusak, mintalah penggantinya.
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
1. Fasilitas P3K harus dapat dilaksanakan pada tempat yang nyaman
pada tiap tempat kerja. Pusat P3K harus dibangun pada tiap tempat
kerja yang luas/besar dengan peralatan yang memadai dan harus
mudah diidentifikasikan, dijaga kebersihannya, dicatat yang baik,
dan penerangan dan ventilasi yang mencukupi/ cocok. Penyediaan
peralatan medis yang cukup untuk pengobatan, bidai, tandu dan
obat – obatan harus disediakan. Pusat P3K harus mempunyai air
mengalir yang bersih.
2. Kotak – kotak P3K yang mencukupi berisi perlengkapan dan
persediaan obat – obatan harus disediakan di tempat kerja.
107
3. Pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan atau penyakit yang tiba
– tiba, harus dilakukan oleh dokter, Juru Rawat atau seorang yang
terdidik dalam pertolongan pertama pada kecelakaan ( P3K ).
4. Perlengkapan P3K :
a. Alat P3K atau kotak obat–obatan yang memadai harus
disediakan ditempat kerja dan di jaga agar tidak dikotori oleh
debu, kelembaban udara dan lain-lain.
b. Alat-alat P3K dan kotak obat-obatan harus berisi paling sedikit
dengan obat untuk kompres, perban, gauze yang steril,
antiseptik, plester, forniquet, gunting.
c. Alat-alat P3K dan kotak obat-obatan tidak boleh berisi benda –
benda lain selain alat-alat P3K yang diperlukan.
Tempat Kerja dan Alat-alat Kerja
1. Disetiap tempat kerja harus dilengkapi dengan sarana untuk
keperluan bagi pekerja.
2. Tempat orang bekerja, harus diberi penerangan yang cukup .
3. Semua tempat kerja harus mempunyai ventilasi yang cukup
sehingga dapat mengurangi bahaya akibat debu.
Kebersihan dan Kerapihan Tempat Kerja
1. Kebersihan dan kerapian di tempat kerja harus dijaga dengan baik;
2. Bahan, peralatan dan lain-lain diatur/ditempatkan sehingga tidak
merintangi lalu lintas yang dapat menimbulkan kecelakaan.
1.5. Mesin Bor
1.5.1 Jenis Mesin Bor
Bor tangan listrik yang dapat
dijinjing merupakan sebuah alat
yang sangat populer dan berguna
untuk pekerjaan kayu.
Alat tersebut tersedia dalam
bermacam-macam ukuran, fungsi,
bentuk dan kapasitas.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.99. Mesin Bor Tangan
Listrik
108
1.5.2. Nama Dan Bagian
Mesin Bor.
1. Pegangan
2. Skaklar
3. Pengunci Saklar
4. Karbon Brass
5. Laher
6. Motor
7. Kipas
8. Gigi
9. Rahang
10. Cengkam
11. Mata Bor
12. Penentu kedalaman
bor
1.5.3. Bahan Mesin Bor.
Rumah atau badan bor dibuat dari
bahan yang kuat.
Bor tangan listrik dapat dijinjing
yang modern mempunyai badan
dari plastik (nilon) yang tahan
terhadap benturan.Bor tsb
dilengkapi pengunci untuk
mengunci mata bor, dan
simpanlah pengunci pada tempat
yang sudah tersedia pada kabel
dibawah pegangan. Sedangkan
mata bor yang digunakan
disesuaikan dengan kebutuhan
yang diperlukan.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.100. Bukaan Mesin Bor Listrik
11
9
10
1
8 7
3
2
1
5
6
12
4
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.101. Kelengkapan Mesin Bor
Kunci
Rumah
Mata Bor
109
1.5.4. Cengkam Dan Kunci
Cengkaman kunci tiga rahang
akan memusatkan mata bor
dengan tepat.
Rahang dibuka dengan cara
memutar kunci yang dimasukkan
dengan arah berlawanan dengan
arah putaran jarum jam. Setelah
mata bor disisipkan diantara
rahang, maka kuncinya diputar
searah putaran jarum jam sampai
mata bornya terpegang erat oleh
ketiga rahang tersebut.
1.5.5. Posisi Mata Bor
Untuk pengeboran yang baik perlu
diperhatikan agar garis-garis pusat
mata bor dan porosnya berimpitan.
1.5.6. Kunci Cengkam
Kunci Cengkam sekarang harus
dipasang ke dalam setiap dua
lubang lainnya dan diputar untuk
memastikan bahwa mata bor
betul-betul terpegang di titik mati
cengkamannya.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.102. Mesin Bor Tangan
Listrik
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar
11, Bor Tangan Listrik, Bhratara Karya
Aksara, 1985.
Gb.5.1.104. Potongan Cengkam
Potongan
llintang
Cengkam
Kunci
Selubung
Cengkam
Rahang
Mata Bor
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 11, Bor
Tangan Listrik, Bhratara Karya Aksara, 1985.
Gb.5.1.103. Bukaan Cengkam
110
1.5.7 Cengkam Tanpa Kunci
Beberapa bor tangan listrik yang
dapat dijinjing dilengkapi dengan
cengkaman dan kunci.
Akan tetapi ada jenis mesin bor
yang tanpa kunci,cengkamannya
dilengkapi dengan dua buah
gelang alur rusuk, yang masingmasing
dapat diputar bebas untuk
membuka atau menutup rahangrahangnya.
1.5.8. Macam-Macam Mata Bor.
Bervariasi mata bor , diantaranya
mata bor kayu, beton, besi dan
mata bor oversink.Semua ini bisa
digunakan dengan mesin bor listrik
sedangkan penggunaannya
tergantung dari kebutuhan.
1.5.9 Kombinasi Mata Bor .
Dipakai untuk pekerjaan kayu
maupun untuk pekerjaan logam.
Dalam pertukangan kayu, lubanglubang
untuk sekrup biasanya
dibor dengan mata bor puntir
tangkai lurus.
Mata bor lubang benam dipakai
untuk membenamkan kepalakepala
sekrup.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.105. Mesin Bor tanpa
Pengunci
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.106. Jenis Mata Bor
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar
11, Bor Tangan Listrik, Bhratara Karya
Aksara, 1985.
Gb.5.1.107. Mata Bor Puntir
Tangkai Lurus
Mata Bor Lubang benam
rongga
Mata bor Tangkai lurus
111
1.5.10 Kombinasi Mata Bor
Pengeboran kepala sekrup ialah
perluasan bagian atasnya sampai
kedalaman tertentu dengan dasar
lubang rata, misalnya untuk
penyumbatan lubang-lubang
sekrup.
1.5.11 Kombinasi Mata Bor
Mata bor tangkai lurus mengebor
lubang pandunya untuk sekrup
kayu, sedangkan mata bor lubang
benam membuat bagian atas
berbentuk kerucut untuk sekrup
kepala rata.
1.5.12 Kombinasi Mata Bor
Mata gurdi kayu jenis singkup
khusus dibuat untuk penggunaan
bor tangan listrik, yang dinamakan
juga mata gurdi pesat, karena
hanya bekerja baik pada
kepesatan putar tinggi.
Pengeboran lubang pada kayu
tipis, kayu lapis tipis, papan serpih,
dan lain-lain. Mata-mata gurdi ini
tersedia dalam ukuran untuk
lubang-lubang dari 6 sampai 25
mm.
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar
11, Bor Tangan Listrik, Bhratara Karya
Aksara, 1985.
Gb. 5.1.108. Kombinasi Mata Bor
Versink
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 11,
Bor Tangan Listrik, Bhratara Karya
Aksara, 1985.
Gb. 5.1.109. Kombnasi Mata Bor
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar
11, Bor Tangan Listrik, Bhratara
Karya Aksara, 1985.
Gb. 5.1.110:Mata Bor Kurdi
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 11, Bor Tangan
Listrik, Bhratara Karya Aksara, 1985.
Gb. 5.1.111. MacamMata Bor Kurdi
112
1.5.13. Penetapan Tempat
Lubang.
Setelah memberi tanda
kedudukan yang sebenarnya
dari pusat lubang dengan
menggunakan mistar, siku, dan
pensil, maka dibuat sebuah
tanda bekas kecil dengan jarum
tusuk / kraspen.
Tusukan ini mencegah slip atau
pengembaraan mata bor, bila
pengeboran dimulai.
1.5.14. Pengeboran.
Setelah lubang diberi tanda,
benda kerja harus diikat atau
dipegang kuat-kuat pada bangku
kerja.
Sepotong kayu sisa harus
diletakkan di bawah benda kerja,
untuk mencegah kerusakan
bangku kerja.
Pilihlah ukuran yang tepat dari
mata bor dan ikatlah mata bor
kedalam cengkamannya.
Hubungkan kabel listrik pada
stop kontak dinding.
Letakkan pucuk mata bor
ditanda bekas yang telah dibuat
dengan jarum tusuknya.
Peganglah bor tangan tegak
lurus pada benda kerja.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.112. Kraspen
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar
11, Bor Tangan Listrik, Bhratara Karya
Aksara, 1985.
Gb. 5.1.113. Posisi Mengebor
Vertikal
Kabel dan
Hubungan
Dinding
Pengeboran
Vertikal
Bor
Tangan
Listrik
Tanda Bekas
dibuat dengan
Jarum Tusuk
113
Hidupkan motor listrik dan borlah lubangnya. Jangan terlalu banyak
menggunakan tekanan, karena mata bor yang melakukan pekerjaannya.
Anda harus mengantarkan perkakasnya. Keluarkanlah mata bor dari
lubang, ketika motor masih hidup. Matikan motor. Simpanlah perkakas.
Perhatian:
Harus dipastikan bahwa benda
kerja tidak dapat berputar selama
dilakukan pengeboran.
Berhati-hatilah bila mengebor
secara horisontal, gunakanlah
kedua belah tangan Anda untuk
memegang perkakas.
1.5.15. Statif Bor Vertikal.
Bor tangan listrik dapat dibuat
tidak bergerak dengan
mengikatkan pada statif khusus.
Dasar dapat disekrupkan pada
bidang atas bangku kerja. Alat
pegang perkakas dapat meluncur
sepanjang tongkat vertikal dan
dapat dikaitkan pada setiap
ketinggian yang diinginkan.
Dengan menekan ke bawah
pegangannya, pegas akan
terdesak, dan alat pegang
perkakas akan diturunkan.
Tegangan pegas cukup untuk
mengangkat alat pegang
perkakasnya pada kedudukan
awal, jika pegangannya dilepas.
Gb. 5.1.114. Posisi Mengebor
Horizontal
Clos
Benda Kerja
Ragum
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 11,
Bor Tangan Listrik, Bhratara Karya
Aksara, 1985.
Gb. 5.1.115. Posisi Mengebor Statis
114
Keuntungan dari statif bor adalah:
kita dapat secara cepat mengebor
sejumlah lubang dengan diameter
dan kedalaman yang sama.
Satu tangan menekan benda kerja
pada dasarnya, sedangkan tangan
yang lain menggerakkan
pegangan.
1.5.16.Keamanan Dan
Pemeliharaan.
Jika perkakas mempunyai rumah /
box nilon, maka simpanlah mesin
tersebut pada tempatnya seperti
pada gambar disamping. Agar
supaya kondisi mesin lebih awet.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.117. Box / Kotak Mesin Bor
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar
11, Bor Tangan Listrik, Bhratara Karya
Aksara, 1985.
Gb. 5.1.116. Keuntungan
Mengebor Statis
115
1.5.17. Kemanan Mata Bor
Untuk menyimpan mata bor
buatlah kayu seperti gambar
disamping dan lubangi sesuai
dengan diameter mata bor lalu
simpanlah pada tempat yang
aman
1.5.18. Keamanan Pekerja
Dalam pengoperasian mesin utamakan keselamatan kerja. Rambut
jangan terlalu panjang, gunakan kacamata, pakailah sepatu kerja.
Jagalah agar perkakas selalu bersih. Lubang ventilasi udara harus bebas
dari debu gergajian dan kotoran. Pelumasan ulang harus mengikuti
petunjuk pabrik.
1.6. Mesin Amplas
1.6.1. Mesin Amplas Getar
Mesin amplas getar yang dapat
dijinjing merupakan sebuah alat
yang sangat modern dan berguna
untuk pekerjaan kayu.
Kususnya dalam pekerjaan
finishing kayu alat tersebut
tersedia dalam bermacam-macam
model, fungsi, bentuk dan
kapasitas.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.118. Menyimpan Mata Bor
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.119. Mesin Amplas Getar
Kantong
Debu
116
1.6.2. Nama dan Bagian Mesin
Amplas Getar
1. Pegangan
2. Saklar
3. Motor
4. Carbon brushes
5. Kipas
6. Penjepit
7. Bantalan amplas
8. Laker
1.6.3. Ukuran Kertas Gosok.
Ukuran kertas gosok dibagi 3
bagian sama besar , dan satu
bagian cukup untuk sekali pasang
kedalam mesin ampas bergetar.
Selanjutnya pilihlah kertas amplas
sesuai dengan kebutuan
pekerjaan.
1.6.4. Memasang Kertas Gosok
Tariklah klem keluar dan tekan ke
atas kemudian ujung kertas gosok
dimasukkan ke dalam.
Tekan klem ke bawah agar kertas
gosok dijepit oleh giginya
kemudian kembalikan klem ke
posisi semula.
1.6.5. Cara Menghidupkan.
Tariklah saklar dengan jari-jari
telunjuk dan bila diinginkan mesin
hidup agak lama, tekanlah tombol
pengunci dengan ibu jari.
Gb. 5.1.122. Skalar dan Pengunci.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.120. Bukaan Mesin
Amplas Getar
2 1
8
6
7
3
5
4
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.121. Kertas Gosok.
Landasan
Mesin Halus Kasar
117
1.6.6. Cara Mengamplas
Pengamplasan umumnya hanya
dipakai untuk membuka pori-pori
dari kayu. Kadang-kadang kualitet
benda kerja sangat penting
terbuka. Letakkanlah alas pada
benda kerja dan tidak boleh
ditekan waktu bekerja, karena
akan menimbulkan goresangoresan.
1.6.7. Keamanan Bantalan.
Tidak boleh menjalankan mesin
tanpa kertas gosok. Supaya tidak
terjadi kecelakaan/rusak bantalan.
1.6.8. Carbon brushes.
Gantilah carbon brushes apabila
lebarnya minimum 3 mm. Kedua
sikat carbon bras boleh diganti
dalam waktu yang sama supaya
seimbang.
Gb. 5.1.123. Posisi Mengamplas.
Gb. 5.1.124. Bantatalan Amplas
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.125. Carbon Brushes
3 mm
118
1.6.9 Periksa Carbon Brushes.
Letakkanlah mesin amplas dalam
keadaan miring kemudian bukalah
ke 5 baut yang ada dengan obeng
bunga.
Periksa carbon brushes bila
kurang dari 3 mm lebarnya harus
diganti dengan yang baru.
Hati-hatilah membuka dan
memasangnya supaya tidak rusak.
1.6.10. Penggunaan Mesin
Amplas
Dalam pengamplasan posisi
tangan harus memegang kedua
pegangan pada mesin sambil
menekan untuk mendapatkan hasil
merata.Gunakan masker untuk
kesehatan agar supaya debu tidak
masuk pada paru-paru yang
mengganggu pernapasan.
Gb. 5.1.126. Cara Membuka Mesin
Gb. 5.1.127: Posisi Mengamplas
119
1.6.11. Pembersihan.
Bila sudah selesai bersikan
motornya dengan komperesor
supaya debu keluar dari celah
celah mesin ampas getar dan
minyaki bagian-bagian terpenting
dengan minyak khusus supaya
tidak ber karat .
1.6.12. Penyimpanan
Penyimpanan mesin portable kita
bisa membuat kotak kayu.
Ini memudahkan untuk perawatan
karena satu kotak untuk satu
mesin beserta dengan alat bantu
yang lain.
1.7. MESIN AMPLAS BAN.
1.7.1. Mesin Amplas Ban.
Dengan bantuan sebuah mesin
amplas ban, seseorang dapat
cepat menggosok permukaan
kayu dengan mengunakan kertas
gosok sesuai dengan kekerasan
atau nomer yang diperlukan.
Mesin ini dilengkapi dengan
kantong debu untuk menampung
debu pada saat pengamplasan.
Gb. 5.1.128. Perawatan
Gb. 5.1.129. Perawatan
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.130. Mesin Amplas Ban.
120
1.7.2.Nama Bagian-bagian Mesin
Amplas Ban.
1. Saklar Picu
2. Rumah/body
3. Tombol Depan
4. Amplas Ban
5. Roda Antar
6. Panah
7. Tongka Umpil
8. Roda Gerak
9. Kerangka
10. Pegangan
11. Kantong Debu
12. Kancing Baut
1.7.3. Amplas Ban
Kertas amplas untuk mesin ini
mempunyai nomor yang berbeda,
menunjukan kekerasan yang
berbeda pula. Ukuran amplas ban
harus sesuai yang dianjurkan
pabrik, misalnya ukuran 110 mm
lebar x 620 panjang. Kualitas dan
kehalusan bahan gosok harus
dipilih sesuai dengan kebutuhan
pekerjaan (kasar, sedang, halus).
Pada kertas amplas ban ini diberi
tanda panah dituliskan pada
bagian sebelah dalam amplas
bannya, hal ini menunjuk ke arah
putaran motor pada mesin.
1.7.4. Memasang Amplas Ban.
Untuk mengganti amplas kita
menekan tongkat umpil supaya
roda antar bisa kendor . Kemudian
gantilah amplas baru dengan
memperhatikan anak panah
sesuai dengan arah putaran. Dan
kembalikan tongkat umpil tersebut
hingga kencang kembali
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar
12, Mesin Amplas Listrik, Bhratara
Karya Aksara,1985
Gb. 5.1.131. Bagian- Bagian
Mesin Amplas Ban.
1 2
3
4
5
7 6
8
10
12
9
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.132. Jenis Amplas Ban.
No: 60
No: 80
No: 100
Gb. 5.1.133. Mengganti Amplas Ban.
Tongkat Umpil
121
1.7.5. On / Off
Jika amplas ban sudah terpasang
dan ditegangkan, mesin amplas
dipegang dengan tangan kanan
pada pegangannya dan diangkat
ke atas.
Selanjutnya motor dihidupkan,
dengan tangan kanan untuk
melihat putaran apakah sudah
benar atau belum.
1.7.6. Menghidupkan Mesin
Amplas
Sebelum menghidupkan motor,
angkatlah mesin amplas dengan
kedua belah tangan. Jangan
menghidupkan mesin pada saat
mesin berada diatas benda kerja
kerena akan terjadi lemparan
diwaktu mesin dihidupkan.
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 12,
Mesin Amplas Listrik, Bhratara Karya
Aksara,1985.
Gb. 5.1.134. Menghidupkan Mesin
Amplas Ban.
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 12,
Mesin Amplas Listrik, Bhratara Karya
Aksara,1985.
Gb. 5.1.135. Mengangkat Mesin
Amplas Ban
Pengangkatan
Mesin Amplas Ban
122
1.7.7. Pengamplasan.
Jepitlah benda kerja antara pasak
stop bangku pada bangku kerja
atau dalam ragum.
Peganglah mesin dengan kedua
belah tangan. Lalu hidupkan mesin
di atas benda karja.
Mesin amplas harus diturunkan
dalam kedudukan sedemikian
rupa, sehingga arah amplas ban
yang berjalan berimpit dengan
serat kayu.
1.7.8. Posisi Pengamplasan.
Usahakan supaya arah mesin
amplas ban ban selalu sejajar
dengan serat kayu. Antarlah mesin
amplas dengan kedua belah
tangan anda.
Gerakkan mesin amplas maju dan
mundur.
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar
12, Mesin Amplas Listrik, Bhratara
Karya Aksara,1985.
Gb. 5.1.136. Pengamplasan.
Pasak
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 12,
Mesin Amplas Listrik, Bhratara Karya
Aksara,1985.
Gb. 5.1.137. Posisi Mengamplas.
123
1.7.9 Mematikan Mesin
Jangan berhenti disuatu tempat.
Sebelum mematikan motor, mesin
amplas harus diangkat ke atas
untuk dimatikan. Selajutnya
ditaruh diatas meja dengan posisi
miring supaya kertas gosok tidak
rusak.
1.7.10 Pengamplasan Sudut
Karena ban amplas berjalan rata
dengan ujung roda gerak (rata
dengan sisi kanan mesin amplas)
maka dimungkinkan untuk
mengamplas lurus sepanjang
sudut dalam.
1.7.11 Keamanan.
Untuk melindungi mata terhadap
butir-butir debu, dianjurkan
mamakai kaca mata debu.
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar
12, Mesin Amplas Listrik, Bhratara
Karya Aksara,1985.
Gb. 5.1.138. Mematikan Mesin.
Diangkat dan
Dimatikan
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 12,
Mesin Amplas Listrik, Bhratara Karya
Aksara,1985.
Gb. 5.1.139. Pengamplasan Sudut.
Pengamplasan
Sudut
Gb. 5.1.140. Pakai Kaca Mata.
Pakailah
Kaca Mata
124
1.7.12. Pengamplasan Stationer
Mesin amplas dapat dipasang
terbalik pada suatu alas kaki
khusus yang menjadikannya
stationer (tetap). Hal ini cocok
sekali untuk pengamplasan bendabenda
kerja kecil dan
pengamplasan permukaanpermukaan
lurus.
Benda kerja harus selalu dipegang
dengan kedua belah tangan.
1.7.13. Pengamplasan Stationer
Susunan stationer terutama cocok
untuk pengamplasan cepat
permukaan-permukaan cembung
dan cekung.
Gunakan kedua belah tangan
untuk memegang benda kerja agar
tidak terlempar.
1.7.14. Alat Bantu.
Pengemplasan benda-benda yang
sangat kecil berbahaya bagi
tangan anda. Oleh karena itu Anda
harus menggunakan alat bantu
untuk memegang benda kerjanya.
Alat bantu dikuatkan dengan
sebuah baji seperti pada gambar
disamping.
Gb. 5.1.141. Mengamplas Lurus.
Gb. 5.1.142. Mengamplas
Lengkung.
Gb. 5.1.143. Model Alat Bantu.
Alat Bantu
Baji
Benda
Alat Bantu,
Benda Kerja
dan Baji
dirakit
125
1.7.15. Keamanan.
Pada waktu anda menggunakan
mesin amplas.
Jangan menggunakan baju yang
lepas (tidak terkancing).
Lindungi mata anda dengan
memakai perisai atau kaca mata
debu.
Bila akan mengganti ban,
lepaskan aliran listrik terlebih
dahulu.
1.7.16. Penyimpanan.
Bila sudah selesai dan kondisi
bersih simpanlah mesin tersebut
pada kotak atau box yang sudah
tersedia untuk mempermudahkan
penyimpanan , karena alat bantu
yang lain juga berada pada satu
kotak.
1.8. Mesin Lamello
1.8.1. Mesin Lamello.
Jenis mesin ini punya
keistimewaan tersendiri , karena
harus menggunakan isian kusus
yang terbuat dari kayu.Jika kena
lem akan mengembang sehingga
sambungan akan menjadi kuat
dan kokoh.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.146. Mesin Lamello
Gb. 5.1.144. Keselamatan Kerja.
Stop Kontak
Kabel Listrik
Gb. 5.1.145. Kotak Penyimpanan.
Kotak
Penyimpanan
126
1.8.2. Nama-nama Bagian
Mesin Lamello
1. Pengantar
2. Kunci
3. Kunci L
4. Carbon brushes
5. Daun gergaji
6. Pegangan
7. Pengunci
8. Kabel listrik
9. Pengatur kedalaman lamello
10. Pengatur Ketebalan
1.8.3. Jenis dan Ukuran
Lamello
Ukuran No. 0 = 45 x 15 x 4 mm
digunakan untuk laur yang
dalamnya = 8 mm.
Ukuran No. 10 = 55 x 19 x 4 mm
digunakan untuk laur yang
dalamnya = 10 mm.
Ukuran No. 20 = 63 x 24 x 4 mm
digunakan untuk alur yang
dalamnya = 12,5 mm.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.148. Isian Lamello
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.147. Bagian-bagian
Lamello
1
2
3
4
5
8
6
9
10
127
1.8.4. Melukis dan Membagi
Apabila benda kerja yang akan
dilukis hanya satu, pergunakanlah
mistar baja supaya mendapatkan
hasil yang akurat untuk
menentukan bagian-bagian titik
pusat lamello.
1.8.5. Melukis Benda Kerja.
Kalau benda kerja yang akan
dilukis lebih dari satu (ganda),
pergunakanlah mal (sablon)
sesuai dengan bagian-bagian
yang dikehendaki untuk
mendapatkan ukuran yang sama.
1.8.6 Menentukan Titik Pusat
Lamello.
Jarak titik pusat lamello ke salah
satu ujung adalah : 40 – 60 mm.
Sedangkan
Jarak titik pusat lamello dengan
titik pusat lamello berikutnya ialah :
100 – 150 mm.
1.8.7 Merakit.
Sebelum dimatikan isian lamello
cobalah pada benda kerja sesuai
dengan tanda pareng supaya hasil
pekerjaan tepat dan baik.
Gb. 5.1.149. Menentukan Titik
Pusat Lamello.
Gb. 5.1.150. Melukis dengan Mal.
Gb. 5.1.152. Merakit Benda Kerja.
Gb. 5.1.151. Melukis Benda Kerja.
100-150 mm 40-60 mm
128
1.8.8 Melukis.
Menggambari sambungan sudut
adalah dengan bantuan clos kayu
seperti pada gambar di samping
guna untuk mendapatkan ukuran
yang tepat dan presisi.
1.8.9 Sambungan Memanjang.
Garis pensil benda kerja harus
segaris dengan garis tengah
mesin lamello.
Tangan kiri menekan ke bawah
dan tangan kanan mendorong ke
depan sedikit demi sedikit sampai
batas ukuran lamello yang
ditentukan
1.8.10 Tegak Lurus.
Garis pensil benda kerja harus
segaris dengan garis tengah
mesin lamello. Mesin lamello
ditekan ke bawah dan dimulai dari
sisi kiri atau kanan
Posisi benda kerja seperti pada
gambar di samping, karena benda
kerja berfungsi sebagai pengantar.
Jepitlah benda kerja pada bangku
supaya stabil dan jangan lupa
memberi klos agar benda kerja
tidak rusak
Gb. 5.1.153. Melukis Sambungan
Sudut
Gb.5.1.154. Melubang Mendatar.
Gb. 5.1.155. MelubangTegak
Lurus.
129
1.8.11 Alat Bantu
Alat ini terdiri dari satu set yang
dapat dipasang dengan mudah
pada pengantar lamello, dengan
cara pengantar dijepit dengan
stabil pada waktu memotong. Ini
disesuaikan dengan ketebalan
benda kerja yang akan
disambung.
1.8.12. Sambungan sudut
Pada ujung benda kerja dilukis
dan dipotong sudut 450 dengan
cara memakai alat bantu klos
supaya didapatkan ukuran yang
tepat dan benar, sehingga hasil
sambungan membentuk sudut 900.
1.8.13. Melubang Miring 450.
Lomello disamping untuk membuat
lubang tegak lurus dan horisontal
bisa juga dipakai miring 450
dengan menyetel pengantar
disesuaikan dengan sudut
kemiringannya, posisi dan cara
memegang seperti gambar di
samping.
Gb. 5.1.156. Posisi Mendatar.
Gb. 5.1.157. Melukis sudut 450
Gb. 5.1.158. Posisi Melubang
Miring Sudut 450.
130
1.8.14. Perawatan.
Bila sudah selesai bersihkan
motornya dengan komperesor
supaya debu keluar dari celahcelah
mesin lamello dan minyaki
bagian-bagian terpenting dengan
minyak khusus supaya tidak ber
karat.
1.8.15. Penyimpanan.
Jika sudah bersih, selanjutnya
dimasukkan ke dalam kotak atau
box mesin tersebut guna untuk
menjaga kebersihan dan
keamanan.
1.8.16.Nama dan Gunanya Alat
Bantu.
1. Kunci L
Untuk membuka dan
memasang pisau
2. Pengantar
Untuk mengetam sponing
3. Blok Penjepit
Untuk menjepit pisau pada
saat pengasahan
4. Blok penyetel pisau
Gb. 5.1.159. Perawatan.
Gb. 5.1.160. Perawatan.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.161. Alat Bantu.
131
1.8.17. Carbon Brushes
Kontrol carbon brushes jangan
sampai kehabisan karena kalau
tebal kurang dari 3 mm maka
mesin tidak bisa hidup, oleh
karena itu sebelum mulai bekerja
periksa dulu carbon brushes-nya.
1.8.18 Pengetaman Awal.
Pada awal pengetaman
permuakaan kayu tekanan dititikberatkan
pada tangan kiri dan
tangan kanan hanya mendorong.
1.8.19 Pengetaman Akhir.
Pada akhir atau ujung
pengetaman tekanan dititik
beratkan pada tangan kanan dan
tangan kiri menahan dan
memotong lurus.
1.8.20. Mengetam Miring
Disamping mengetam pada
permukaan kayu, mesin ini dapat
mengetam miring dengan
menyetel pengantar sesuai
dengan kemiringan yang
diinginkan seperti yang terlihat
pada gambar di samping.
Gb. 5.1.163. Pengetaman Awal.
Gb. 5.1.164. Pengetaman Akhir.
Gb. 5.1.165. Posisi Mengetam
Miring.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb. 5.1.162. Carbon Brushes
3 mm
132
1.8.21. Mengetam Sponing
Mesin ini juga dapat membuat
sponing dengan menyetel
pengantar sesuai dengan lebarnya
sponing yang diinginkan.
1.8.22. Mengetam dengan
Stationer
Mesin ini bisa dibuat menjadi
stationer dengan alat bantu yang
dibentuk sesuai dengan bentuk
mesin ketam dan diletakkan
terbalik. Diklem terhadap bangku
kerja agar kedudukan kuat.
Cara mengetam dengan dua buah
tangan dan didorong secara
merata.
1.8.23. Mengganti Pisau Ketam
Bukalan terlebih dahulu ketiga
sekrup dengan kunci Ellen (L)
supaya pisou ketam dapat dibuka.
Piringan klem bersama-sama
keluar dengan blok pisau.
Bukalan baut blok pisau dengan
hati-hati untuk mengeluarkan
pisou atau menyetel pisau dari
blok.
Untuk menentukan tingggi pisau
sama dengan Plat belakang dapat
distel dengan obeng dan kayu
yang lurus. Periksalah selalu
apakah baut-bautnya sudah kokoh
atau belum.
Gb. 5.1.168. Posisi Membuka
Pisau.
Gb.5.1.167. Stationery Planer.
Gb. 5.1.166. Mengetam Sponing
133
1.8.24. Penyetelan Pisau
Setelah dipasang dan dikerasi
pada blok pisau maka perlu
dikontrol ketinggiannya dengan
cara seperti gambar di samping.
Supaya kita tahu sama atau tidak
tinggi pisau guna untuk
mendapatkan hasil pengetaman
yang lurus dan rata.
1.8.25. Penajaman Pisau.
Penajaman pisau bisa kita lakukan
secara manual dengan
mengunakan blok yang ada pada
mesin ketam dengan
menggunakan batu asah cara
basah supaya hasil penjaman bisa
tahan lama.
1.9. Mesin Router
1.9.1 Mesin Router
Mesin ini bisa digunakan untuk
membuat kombinasi bentuk sesuai
dengan keinginan.
Diantaranya untuk membuat
Panil, Profile, Sponing dan Alur.
Sehingga lebih efektif memakai
jenis mesin Router.
Gb. 5.1.171. Mesin Router
Gb. 5.1.169. Mengontrol Tinggi
Pisau.
Gb.5.1.170. Posisi Mengasah
Pisau.
134
1.9.2 Nama-nama Bagian
Mesin
1. Saklar
2. Pengunci kedalaman
3. Pegangan
4. Pegas
5. Pengaman
6. Rumah Mesin
7. Meja Mesin
8. Alat Penentu Kedalaman
9. Kabel Listrik
1.9.3 Alat Batu Mesin
1. Kunci pas
2. Ring atau Cincin
3. Pengantar
1.9.4. Memasang Pisau Router.
Pasangan pisau router ke dalam
plat cengkam dan kuncikan mur
erat-erat dengan menggunakan
dua buah kunci pas berlawanan
arah.
Gambar di samping adalah
dipandang dari atas, menjelaskan
tentang cara menggunakan kedua
kunci pas tersebut dan arah panah
untuk membuka dan untuk
mengunci.
Gb.5.1.172 : Bagian Mesin Router
1
2
8
5 74
6
9
3
3
2
1
Gb.5.1.173 : Alat Bantu
Gb.5.1.174 : Memasang Pisau
135
1.9.5 Mengatur / menyetel
kedalaman pisau
Untuk menyetel kedalaman pisau,
meja ditarik seperti gambar di
samping. Setelah sesuai dengan
yang diinginkan maka kuncilah
agar supaya tidak berubah
setelan.
1.9.6. Kegunaan mesin router
Membuat alur terusan, Sponing,Profile dan Panil dengan mengunakan
mata pisau yang sudah ada kita tinggal menggantinya dengan mudah.
1.9.7. Pengantar Lurus
Gunanya adalah sebaliknya untuk
memotongan langsung atau kalau
diinginkan pemotongan alur
bundar, aturlah jarak yang
diinginkan antara pisau dengan
penghantar lurus.
Detail penghantar lurus sesuai
dengan gambar di samping.
Pergunakanlah kaca mata
pengaman dan kedua tangan kiri
dan kanan waktu mengoperasikan
mesin router.
Gb.5.1.176: Penghantar Lurus
Gb.5.1.177 : Kaca Mata
Gb.5.1.175: Mengatur Kedalaman
Pisau
136
1.9.8 Gerakan Router
Gerakkan router seperti pada
gambar di samping.
Jagalah kebersihan alat dan
benda kerja setiap saat.
Hidupkan atau matikan mesin
ketika alat tidak kontak dengan
benda kerja.
Pengantar hias selalu ditekan ke
arah benda kerja agar roda
penghantar dapat mengikuti
bentuk benda kerja dengan baik.
1.9.9. Membuat lengkungan
dengan sablon
Buatlah terlebih dahulu sablon
sesuai dengan rencana.
Pasang plat antar bulat ke dalam
router.
Tentukan dalamnya pisau.
Doronglah sesuai dengan sablon.
1.9.10 Statis Router
Mesin ini sangat aman dan
menguntungkan bagi pekerja,
apabila yang kita kerjakan itu
berganda karena benda kerja
berada diatas meja sehingga
efektif untuk pengerjaannya.
Gb.5.1.178 : Gerakan Router
Gb.5.1.179 : Menggunakan
Sablon
Gb.5.1.180 : Statis Router
137
1.9.11. Keuntungan Statis
Keuntungan model ini adalah
sangat aman dalam suatu
pekerjaan dimana mata pisou
keluar, sedangkan rumah atau
body berada dibawah meja.
Dengan cara dimatikan dengan
sekrup dan bagian bawah daun
meja.
1.9.12. Perawatan
Bukalah dan periksa carbon.
Gantilah jika sudah aus, jagalah
kebersihan Karbon dan jangan
sampai lepas dari pegangannya
(minimum 6 mm).
Lalu bersihkan dengan angin
kompresor agar debu dan kotoran
keluar dari mesin. Kemudian
masukkan pada kotak/box mesin
supaya lebih mudah dalam
penyimpanan.
Gb.5.1.182 : Pemeliharaan Mesin
Router
Gb.5.1.181 : Statis Router
138
1.10. Mesin Hias (Trimer)
1.10.1 Mesin Trimer
Mesin trimer adalah mesin yang
digunakan untuk membuat profile,
alur, sponing. Karena mempunyai
bentuk kecil sehingga
mempermudahuntuk membuat
benda benda kerja yang kecil.
Nama-nama bagian Mesin
Trimmer
1. Pegangan (handle)
2. Saklar picu
3. Ventilasi
4. Ukuran kedalaman
5. Pengunci
6. Meja
7. Kabel listrik
1.10.2 Jenis Alat Bantu
1. Pengantar
2. Kunci pas
3. Pengantar hias
4. Cincin
1
2
3
5
4
7
6
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.183 : Mesin Trimer
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.184 : Alat Bantu
11 2 3 4
139
1.10.3Jenis Pisau Profil
Jenis pisau ini bervariasi
modelnya, sehingga memudahkan
kita untuk memilih disesuaikan
dengan kebutuhan.
1.10.4 Memasang / Membuka
Pisau Mesin Hias
Pasang pisau dengan
memasukkan / memutar mur dan
cekam, kencangkan keduanya
dengan dua buah kunci pas yang
arahnya berlawanan.
1.10.4.1. Menyetel Pisou Mesin Hias
Kendorkan klem penjepit pada badan kemudian setel ke dalam bor
sesuai dengan yang diinginkan, kencangkan klem penjepit dengan kuat.
1.10.5 Cara Mengoperasikan
Mesin Hias
Jagalah dasar mesin hias
terhadap kayu, letakkan benda
kerja disebelah kiri mesin hias.
Mesin hias bergerak dari kiri ke
kanan operator menghadap ke
benda pekerjaan.
Hidupkan/matikan mesin sebelum
mesin mengenai benda kerja.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005.
Gb.5.1.185 : Macam Pisau
Gb.5.1.186 : Membuka dan Memasang
Pisau
Gb.5.1.187 : Pengoperasian Mesin
140
1.10.6 Pengantar Hias
Alat ini sangat baik untuk
mengerjakan bagian tepi kayu
keras/playwood, mebel, pintu. Stel
ketiga sekrup sesuai dengan
keinginan. Klem sekrup A untuk
mengunci alat pelengkap.
Mesin dioperasikan dengan
menggunakan pengantar hias
untuk bagian tepi.
1.10.7 Penghantar Lurus
Dengan lengkap pengantar mesin
hias digunakan untuk meluruskan
terutama pinggir benda kerja.
Mesin dioperasikan dengan
menggunakan pengantar lurus
pada sisi (pinggir) sepotong benda
kerja dengan mengatur kedalaman
yang diinginkan.
1.10.8 Pemeliharaan
Periksalah karbon di dalam mesin.
Bila aus tinggal kira-kira 5 mm (3 /
16”) atau bila terjadi percikan api,
karbon harus diganti dua-duanya
sekaligus.
Untuk membuka karbon
letakkanlah mesin dalam keadaan
miring. Bikalah kedua penutup
dengan obeng.
Setelah penutup terbuka keluarkan
karbon dari dalam bersama-sama
pernya. Gantilah karbon itu bila
sudah aus.
Gb.5.1.188: Pengantar Hias
Gb.5.1.189 : Pengantar Lurus
Gb.5.1.190 : Pemeliharaan
141
1.10.9. Penyimpanan
Bila kondisi mesin sudah bersih
masukkan pada kotak/box guna
untuk mempermudah dalam
penyimpanan.
1.11. MESIN GERGAJI BUDAR
1.11.1. Mesin Gergaji Listrik.
Mesin gregaji ini praktis untuk
perkerjaan pemotongan kayu.
Karena mempunyai desain
demiakian rupa dengan berat yang
ringan, body yang ramping
sehingga memudahkan pemakai
untuk pindah tempat.
1.11.2 Nama dan bagian Gergaji
Bundar.
1. Pegangan belakang
2. Saklar picu
3. Pengunci skalar
4. Pegangan depan
5. Knop penentu kedalaman
6. Sekrup penentu miring
7. Tudung pengaman daun
gergaji bundar
8. Plat meja bawah
9. Kipas
10.Kabel listrik
Gb.5.1.192: Mesin Gergaji
Bundar Lengkung
Gb.5.1.193: Mesin Gergaji
Bundar Lengkung
1
3
10
5
7 8
6
4
2
9
Gb.5.1.191 : Penyimpanan
142
1.11.3. Perlengkapan Gergaji
Bundar Listrik
1. Penghantar potong
2. Kunci ring
1.11.4. Kegunaan Mesin gregaji
bundar.
Mesin ini sangat cocok untuk
pekerjaaan kayu karena punya
fungsi multi guna diantaranya bisa
memotong dengan cepat,
memotong miring, memotong
bevel dan membelah. Sehingga
praktis dipakai untuk pekerjaan
yang bermacam – macam ukuran
dan bentuk.
1.11.5. Memotong Tanpa
Pengantar
Untuk pemotongan kayu terlebih
dulu digambari garis potong sesuai
dengan ukuran yang dikehendaki.
Pemotongan dengan gergaji harus
sebelah luar garis, supaya ukuran
tidak kurang dari yang
direncanakan. Pemotongan
dilakukan tanpa pengantar potong.
Gb.5.1.194: Pengantar Mesin
Gb.5.1.195: Kegunaan Mesin
Gergaji
Gb.5.1.196:Memotong Tanpa
Pengantar
1
2
143
1.11.6. Memotong Dengan
Pengantar
Untuk mendapat hasil yang lurus
dan baik, pergunakanlah kayu
sebagai pengantar yang diklem
terhadap benda kerja dengan kuat
seperti gambar di samping.
1.11.7. Memotong Miring Tanpa
Pengantar
Lebih dulu digambari pada benda
kerja kemiringan yang dikehendaki
dan potonglah sesuai dengan
garis miring tersebut sebelah
luarnya garis supaya ukuran tidak
kurang penjangnya.
Untuk memotong benda kerja
dapat distel pengantar spesial
sesuai dengan ukuran yang
dikehendaki, kemudian dikunci
agar tidak terjadi perubahan.
1.11.8 Membelah Dengan
Pengantar
Untuk membelah benda kerja
pergunakanlah pengantar
tambahan dri kayu dan jepitah
dengan banku kerja.
Doronglah ke muka dengan
lambat-lambat serta merata yang
mana pengantarnya harus tetap
rapat dan menempel terhadap sisi
benda kerja.
Setelah pembelahan selesai
tudung pengaman bawah otomatis
kembali ke posisi dan mesin boleh
dimatikan.
Untuk menjaga keselamatan kerja handle dipegang erat-erat dan dikunci
baik-baik.
Gb.5.1.197:Memotong
Dengan Pengantar
Gb.5.1.198:Memotong Miring
Gb.5.1.199:Membelah Dengan
Pengantar Kayu
144
1.11.9 Memotong bevel
Untuk pemotongan bevel alas
gergaji bundar dapat distel dari 900
hingga 450 sesuai dengan
kemiringan yang kita kehendaki.
1.11.10. Memotong Lubang
(Buntu)
Untuk membuat lubang persegi,
lebih dulu dilukis sesuai dengan
ukuran yang dikehendaki. Mesin
dihidupkan, kemudian bagian
depan lebih dulu di letakkan
terhadap benda kerja dengan
posisi miring kemudian gergaji
diturunkan lambat-lambat sampai
rata barulah di dorong sesuai
dengan garis potong yang telah
digambari.
1.11.11 Membuat alur
Untuk membuat alur yaitu dengan
cara menyetel penentu dalam
hingga sesuai dengan kedalaman
yang dibutuhkan.
Pergunakanlah pengantar
tambahan kayu supaya stabil dan
bisa panjang, lakukan berulangulang
sampai dengan lebar dan
dalam alurnya sesuai dengan
gambar.
Gb.5.1.200:Memotong Bevel
Gb.5.1.201:Memotong Lubang
Buntu
Gb.5.1.202:Membuat Alur
145
1.11.12 Keselamatan Kerja
Kembalikan alas atau kaki ke
posisi 900 dan letakkanlah gergaji
bundar pada tempat yang aman
agar terhindar dari kecelakaan.
Lepaskan stecker dari stop kontak
sebelum dibuka bagian-bagiannya.
Letakkan gergaji bundar pada
kayu lunak (soft wood) kemudian
buka baut dengan kunci pas lihat
gambar di samping. Bersihkan
dengan angin kompresor sebelum
mesin disimpan.
1.11.13 Penyimpanan
Setelah kondisi bersih maka
simpanlah pada kotak seperti
gambar di samping untuk
memudahkan dalam
penyimpanan.
1.12. Mesin Gergaji Jig (Jig Saw)
1.12.1. Gregaji jig (Jig saw)
Jenis mesin jig saw ini sangat
bermanfaat untuk pekerjaan kayu
karenanya bisa memotong
bervariasi. Keuntungannya adalah
memiliki daun gregaji yang tipis
sehingga sangat menguntungkan
bagi pekerjaan yang bervariasi
bentuk.
Gb.5.1.204: Penyimpanan
Gb.5.1.203:Membersihan
Gb.5.1.205: Mesin Gergaji Jig
146
1.12.2. Nama dan Bagianbagian
Mesin gergaji
lurus (Jig saw).
1. Pegangan (handle)
2. Saklar picu
3. Rumah atau body
4. Penghantar bawah
5. Daun gergaji
6. Kabel listrik
7. Pengatur Kecepatan
8. Ventilasi
1.12.3. Perlengkapan
1. Kunci L atau Kunci Ellen
2. Pengantar Jari-jari
3. Pengantar Potong
1.12.4. Jenis Pisau Mesin Jig
Saw
Pada prinsipnya jenis pisau
gergaji Jig ada dua yaitu untuk
kayu dan logam akan tetapi juga
bervariasi ukuran gigi, ada yang
kasar, halus begitu pula daunnya
ada yang tebal da tipis.Untuk itu
jika kita memerlukan, maka
disesuaikan dengan kebutuhan
benda kerja yang akan dipotong.
Gb.5.1.208: Jenis Pisau
Gb.5.1.206: Bagian Mesin Jig Saw
1
8
6
3
7
4
5
Gb.5.1.207: Alat Bantu
1
3
2
147
1.12.5. Kegunaan Mesin Jig Saw
Mesin gergaji jig sangat bervariasi
kegunaannya antara lain: untuk
memotong, membelah, membuat
lengkungan, potong miring,
memotong bevel dan membuat
lingkaran. Di samping untuk
memotong kayu juga bisa untuk
memotong logam, kita tinggal
mengganti daun gregajinya saja.
1.12.6. Memotong lurus
Memotong lurus adalah pekerjaan
yang paling mudah, dimana
kaki/alas pada posisi 90°, dengan
kata lain gergaji jig tegak lurus
terhadap benda kerja. Tangan kiri
menahan mesin supaya tidak
goyang sedangkan tangan kanan
menghidupkan dan mendorong
mesin.
1.12.7. Memotong lurus
memakai pengantar
Memotong pakai pengantar harus
didorong ke muka bersamaan
dengan gergajinya supaya
hasilnya sejajar dan lurus
Gb.5.1.209: Mesin Jig Saw
Gb.5.1.210: Memotong Lurus
Gb.5.1.211:Memotong dengan
Pengantar
148
1.12.8. Memotong miring
Cara memotong miring dapat
dilakukan dengan menyetel kaki
alas gergaji jig sesuai dengan
kemiringan yang dikehendaki.
Benda kerja diklem pada bangku
kerja supaya stabil, sedangkan
posisi tangan kiri menekan mesin
ke bawah dan tangan kanan
mendorong .
1.12.9. Memotong
lingkaran
Lukislah garis lingkaran yang
diinginkan pada benda kerja dan
klem. Atur pengantar hingga R
sama dengan jarak antara daun
gergaji kepada pusat lingkaran.
Kerjakanlah memotong garis
lingkaran yang dimulai dari
lubang start yang dibor.
Pasanglah baji agar daun gergaji
jangan terjepit.
1.12.10. Memotong
lengkungan
Untuk memotong lengkungan
harus diperhatikan ketebalan dari
pada benda kerja. Karena
mempengaruhi jangkauan mata
gergaji.
Gb.5.1.212: Memotong Miring
Gb.5.1.213: Memotong Bulat
Gb.5.1.214: Memotong Lengkung
149
1.12.11.Memotong bevel
Dalam pemotongan bevel kita
tinggal menyetel meja sesuai
dengan kemiringan yang kita
inginkan dan pastikan sebelum
kita kita gunakan daun gregaji
sudah dalam kondisi terkunci.
1.12.12.Memotong lubang buntu
Memotong lubang tanpa
menggunakan bor hanya dapat
dilaksanakan pada kayu yang
lunak. Gergaji jig dimiringkan ke
depan kemudian perlahan-lahan
ditarik sesuai dengan arah panah
hingga gergaji tegak lurus
terhadap benda kerja kemudian
kerjakanlah dengan normal
(biasa).
1.12.13. Memeriksa Jarak
Potong Daun Gergaji
Sebelum kita memotong benda
kerja di atas bengku kerja, lebih
dulu kita periksa jarak maksimum
ujung daun gergaji terhadap papan
alas bangku kerja dengan kata lain
harus bebas dari gangguan atau
benda-benda lain, kemudian
pemotongan dapat dilakukan.
Gb.5.1.215: Memotong Bevel
Gb.5.1.216: Memotong Lubang
Buntu
Gb.5.1.217: Mengontrol Pisau
150
1.12.14. Memotong Dari Sisi
(pinggir)
Letakkan dan tekan sedikit alas
muka gergaji terhadap pinggir
benda kerja. Hidupkan motor
sampai maksimum. Dorong ke
muka hingga mengikuti garis arah
lukisan yang telah lebih dulu
disiapkan.
1.12.15. Menyetel Pengantar
Longgarkan mur pengunci, ukur
jarak dari pengantar terhadap
koakan gergaji yang sebelah
dalam sesuai dengan jarak yang
dikehendaki.
Kunci kembali mur/baut pengunci
agar tidak terjadi perubahan
sewaktu bekerja.
1.12.16 Keselamatan Kerja
Pakailah kacamata pengaman
supaya tatal / debu tidak kena
mata.
Perhatikan selalu kabel gergajinya
jangan berlipat-lipat tidak teratur
dan jangan terpotong kena gergaji.
1.12.17 Keamanan
Bila kita sudah selesai
mengunakan semprotlah dengan
angin kompresor untuk
menghilangkan kotoran atau debu
dari ventilasi motor dan lakukan
pemberian minyak pada bagian –
bagian tertentu agar supaya tidak
mudah berkarat.
Gb.5.1.218: Memotong Awal
Gb.5.1.219: Menyetel Meja
Gb.5.1.220: Kaca Mata
Gb.5.1.221: Membersihkan Mesin
151
1.12.18. Keamanan
Dalam kondisi yang sudah bersih
simpan lah mesin tersebut pada
kotak atau box yang sudah
tersedia guna mempermudah di
dalam peyimpanan.
1.13 Mesin Pengasah
1.13.1. Mesin Asah / Gerinda
Masin asah yang modern
dilengkapi dengan roda asah yang
berputar dengan kecepatan tinggi.
Adalah sebuah mesin dengan roda
berdiameter 20 cm (8”) dan tebal
2,5 cm (1”). Motor listriknya
memutar roda dengan 2800
putaran tiap menit.
Gb.5.1.222: Pentimpanan Mesin
Kaki
Roda Asah
Lindungan
Perisai mata
Motor dapat diatur
listrik
Lindungan
Perisa
i mata
dapat
diatur
Sandaran
Perkakas
Sakelar
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar
5, Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.223: Mesin Asah
Gerinda
152
1.13.2 Pengatar Asah
Pengantar asah adalah sebuah
dukungan untuk perkakas, yang
harus diasah. Pahat atau pisou
ketam diletakkan rata di atasnya
dan lerengnya harus menghadap
ke bawah.
Jarak pengantar asah dan roda
asah tidak boleh lebih dari 3 mm,
hal ini untuk mencegah pahat
terjepit di antaranya.
1.13.3. Batu Asah Lurus
Terdapat roda asah dengan
banyak bentuk, di antaranya
disebut di sini:
− Roda asah lurus dan
− Roda asah mengkok lurus.
Roda asah
lurus
Potongan
lintang
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya Aksara,
1985
Gb.5.1.225: Batu Asah Lurus
Lindungan roda
Roda asah
Pengantar
Mur setel
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.224: Pengantar
153
1.13.4. Batu Asah Mangkok
Gambar di samping menunjukkan
bagaimana roda asah dipotong
pada porosnya. Kebanyakan roda
asah mempunyai selubung timah
pada lubang poros. Selubung ini
harus cocok tepat di sekeliling
poros mesin.
Gelang tutup biasanya dibuat dari
kertas-kertas isap.
1.13.5. Ukuran Batu Asah.
Ukuran roda asah ditentukan oleh
tebal diameter keseluruhan, dan
lubang poros pusat.
1.13.6. Mengasah Tajam
Jika terdapat takik-takik aus pada
daunnya, maka takik-takik aus itu
harus dihilangkan dulu. Ini dapat
dilakukan dengan mendorong
lemah lurus daunnya pada roda
asah gambar di samping sampai
tepinya telah menjadi rata.
Tebal
Lubang pusat
Diameter
luar
Batu Asah
mangkok
Flensa
Gelang tutup
Selubun
g
Gelang
tutup
Poros
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar
5, Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.226: Batu Asah
M kk
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.227: Ukuran Batu Asah
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.228: Pengasahan
Pisau ketam
dengan takik aus
Takik aus sudah
dihilangkan
Roda
asah
Sandaran
perkakas
154
1.13.7. Menyetel Penghantar
Kemudian aturlah pengantar asah
pada sudut yang diperlukan, untuk
mengasah lereng daunnya (+ 300).
Seperti gambar di samping.
1.13.8. Mengasah Pisau.
Apabila tidak terdapat alat semat
pegang tertentu, maka Anda harus
memegang daunnya dengan
kedua tangan. Gerakkan daun dari
kiri ke kanan dengan
mengerjakannya merata melintang
roda asah
1.13.9. Jenis Batu Asah.
Beram pada pisau yang sudah
diasah
harus dihilangkan dengan proses
pengasahan halus pada batu asah
minyak. Tempatkan batu asah
minyaknya, dengan permukaan
butir halus menghadap ke atas,
dalam sebuah blok/kayu yang
dilubangi dengan ukuran sesuai
dengan ukuran batu asah tersebut
Sandaran perkakas
disetel pada sudut
h
Lereng diasah
cekung
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.229: Menyetel Pengantar
Asah
Batu asah
Pengantar
asah
Daun yang
harus
diasah
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.230: Cara Memegang
Pisau saat Mengasah
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar
5, Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.231: Batu Asah Minyak
Permukaan
butir kasar
Permukaa
n butir
halus
155
1.13.10. Balok Kayu.
Blok kayu tersebut mencegah
batunya bergeser ke samping dan
mengotori bangku kerja.
1.13.11. Pengasahan.
Tuangkan beberapa tetes minyak,
dan sapu bersih batunya dengan
kain, untuk membuang sisa-sisa
asahan lama.
Sekarang tuangkan sedikit minyak
tipis baru di atas batu (gambar di
samping) untuk melumasinya,
guna mengapungkan dan
membuang partikel-partikel logam,
sehingga partikel itu tidak tertanam
dalam batunya. Sekarang batu
asah minyaknya siap untuk
pengasahan halus.
Bila pengasahan telah selesai,
batu harus disapu bersih dan
diletakkan kembali dalam kotak
simpannya.
1.13.12. Pengasahan Halus.
Tempatkan blok dengan batu asah
minyak di meja atau ikatkan pada
ragum bengku kerja. Peganglah
daun tersebut dengan kedua
tangan pada sudut yang betuk dan
gerakkan memutar di atas batu
asah minyak. Janganlah menekan
terlalu keras. Selagi mengasah
halus lereng daun, tukit dan tapak
dari lereng halus mengenai batu
asah minyak
Blok kayu
dilubangi
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar
5, Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.232: Balok Kayu
Kaleng
i k
Minyak
lumas
Blok
kayu
Blatu
asah
i k
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.233: Cara Pengasahan
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya Aksara,
1985
Gb.5.1.234: Mengasah Halus
156
1.13.13. Pengasahan Lereng.
Gambar di samping menunjukkan
kedudukan yang betul dalam
mengasah lerengnya.
1.13.14. Pengasahan
Punggung.
Gambar di samping menunjukkan
kedudukan yang betul untuk
pengasahan halus punggungnya.
Apabila sebuah perkakas diasah
halus salah, maka perkakas itu
tidak dapat melakukan
pekerjaanya secara layak. Dalam
hal itu daun harus diasah kembali
dan diasah halus dengan batu
asah minyak lagi.
Letakkan daun rata pada
punggungnya di atas batu asah
minyak dan gerakkan daun itu
dengan gerakkan memutar.
Jangan tekan terlalu keras. Hanya
beramnya yang harus dihilangkan.
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.236: Mengasah Punggung.
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar
5, Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.235: Mengasah Lereng.
Sumber; Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.237: Mengasah Punggung.
157
2. Mesin Stationair/Tetap
2.1 Mesin Gergaji Pita
Mesin gergaji pita adalah mesin
perkayuan yang mempunyai mata
gergaji bentuk pita. Penyetelan
daun gergaji setelah terpasang
pada kedua roda antar atas dan
bawah kemudian di tegangkan
dengan menyetel roda penegang
dengan merujuk tabel ketegangan.
Selanjutnya rol antar diatur ½ -1
cm diatas benda kerja dengan
cara membuka pengunci rol antar
kemudian memutar pengatur rol
antar pita ke kanan atau kekiri
hingga mencapai yang
dikehendaki. Mesin gergaji pita
dapat digunakan:
- Membelah papan kayu
- Memotong papan kayu
- Memotong kayu bulat
- Memotong / membelah miring
- Menggergaji bulatan /
lengkungan dengan diameter
tertentu
Setiap selesai jam kerja daun
gergaji di kendorkan kembali.
Daun meja dapat di miringkan 00-
450 dengan cara:
- Buka pengunci daun meja
- Lepas klos kayu antar pita
gergaji
- Angkat meja bagian ujung
sambil melihat skala kemiringan
meja gergaji
- Tutup pengunci meja
- Pasang klos kayu antar pita
gergaji, gergaji siap digunakan.
Roda penegang
pita gergaji
Pengatur rol antar
pita
Penghantar Pita gergaji
belah
Daun meja
mesin
Tumpuan badan mesin
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.1: Mesin Gergaji Pita
Daun gergaji
Penghantar potong
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.2: Spesifikasi Mesin
Gergaji Pita
158
Dalam pengerjaan pemotongan
dengan mesin gergaji pita dapat
menggunakan penghantar potong.
Penghantar potong seperti gambar
disamping dapat digunakan:
- Memotong tegak lurus
- Memotong miring dari 00 – 450
Karet bantalan gergaji pada roda
harus terpasang dengan baik,
karena berguna sebagai
pengaman daun agar tidak
bersentuhan dengan roda yang
terbuat dari baja.
Klos pengaman pita
gergaji
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.3: Penghantar/
Perlengkapan Mesin
Gergaji Pita
Karet bantalan
pita gegaji
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.4: Pengaman Gigi Gergaji
Pita pada Roda
Penggerak
159
Mesin gergaji pita adalah mesin
yang menggunakan pisau
berbentuk pita, bila digunakan
mudah bergeser, untuk itu perlu
hantaran agar posisi tetap pada
dudukan semula. Rol antara
merupakan hantaran yang
mengatur posisi dari samping dan
belakang. Penyetelannya 0,5 – 1½
mm dari gergaji.
Daun gergaji pita mempuyai
bentuk, ukuran lebar dan tebal
yang bermacam-macam sesuai
dengan kebutuhan potong atau
belah yang dikehendaki. Misalnya
membuat lingkaran dibutuhkan
daun gergaji yang mempunyai
kelebaran daun 1 – 1 ½ cm
sehingga memudahkan gerakan
melingkar saat melakukan
penggergajian. Gambar samping
menunjukan bentuk mata gergaji
belah dan mundam yang berfungsi
sebagai penyimpan serbuk
gergajian, bentuk pertama untuk
kayu kering sedang bentuk kedua
untuk kayu yang masih agak
basah. Mata gergaji harus selalu
dibersihkan dari sisa serbuk dan
getah secara periodik agar mata
Rol antar samping
Rol antar
belakang
Rol antar
atas meja
Rol antar
bawah meja
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.5: Rol Penghantar Gergaji
Pita Atas dan Bawah
Tinggi mata 1/3 a
Punggung mata
a
Sudut gigi
Dada gigi
gergaji 100
Mundam gergaji
Mundam gergaji
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.6: Spesifikasi Sudut Gigi
Gergaji Pita
160
Gergaji selalu siap digunakan dan
baik.
Daun gergaji pita mempuyai
bentuk seperti gambar samping,
menunjukkan mata gergaji pita
untuk potong
Mesin gergaji pita bermeja dorong
digunakan untuk menggergaji kayu
yang bentuk log, dimana
perletakan gelondong kayu dijepit
pada perlengkapan jepit meja
sehingga penggergajian dapat
dilakukan dengan baik. Untuk
mengatur ukuran tebal papan
dapat disetel pada pengatur tebal
belah belah. Penempatan dan
pemilihan arah gergajian dapat
dilakukan dengan menempatkan
log kemudian dijepit, setelah itu
dilakukan pengerjaan gergaji
dengan cara mendorong meja
dorong hingga selesai. Yang perlu
perhatian kayu terjepit dengan
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, baik
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb. 5.2.8: Mesin Gergaji Pita
Bermeja Dorong
1.Pengatur tebal
belah
2.Rahang cengkam
3.Pasak jepit besar
4.Pasak jepit kecil
Tinggi mata ½-2/3 a
Punggung
mata a
Sudut mata
Dada
mata 00
Mundam
gergaji
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.7: Jenis dan Ukuran Gigi
Gergaji Pita
161
Meja rol antar gergaji pita ini
dilengkapi dengan peluru antar
untuk melancarkan hantaran
papan yang sedang dikerjakan,
juga berfungsi sebagai
perpanjangan meja shingga papan
yang lebih panjang dari daun meja
dapat dihantarkan hingga
pemotongan sampai ujung
batang.
Meja rol antar gergaji pita ini
dilengkapi dengan peluru antar
untuk melancarkan hantaran
papan yang sedang dikerjakan,
juga berfungsi sebagai
perpanjangan meja sehingga
papan yang lebih panjang dari
daun meja dapat dihantarkan
hingga pemotongan sampai ujung
batang
Meja rol antar gergaji
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.9: Posisi Membelah Tipis
Papan penghantar
siku
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.10: Posisi Membelah Tebal
dengan Penghantar
162
Mesin gergaji bermeja digunakan
utuk membelah dan memotong
benda kerja ukuran bersih, mesin
ini dilengkapi dengan meja dorong
dimana benda kerja dijepit
diatasnya, meja dorong juga dapat
digunakan hantaran pemotongan.
Penghantar belah dapat diatur
sesuai lebar yang dikehendaki,
sedangkan tudung pengaman
disetel ½ -1 cm diatas benda kerja
sebagai pengaman jika terjadi
lemparan potongan kecil atau
serbuk gergaji
Penghantar potong mesin gergaji
bermeja ini dilengkapi dengan
stoper panjang, skala ukur,
pengatur sudut kemiringan,
penyetelannya adalah:
- Geser dan periksa sekala
dengan mistar sebesar A
- Kunci jepit hantar secukupnya
- Skala dan stoper siap digunakan
Saklar
induk
Tudung
pengaman
Meja
dorong
Penyangga Meja
dorong
Penghantar
belah
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.11: Gergaji Bundar
Bermeja
Pendorong belah
Penghantar potong
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.12: Gergaji Bundar
Bermeja dengan
Penghantar Potong
163
Panel saklar utama disamping
untuk menggerakka motor mesin
juga dilengkapi dengan penyetelan
ukuran potong dengan penggerak
secara masinal
Mesin ini dapat digunakan
memotong dua sisi sekaligus,
pengaturan lebar potong dapat
dilakukan dengan menggerakan
salah satu mesin sesuai dengan
ukuran yang di kehendaki
Daun gergaji ini putarannya
berlawanan dengan gergaji utama,
fungsinya untuk mengawali
pemotongan dengan tinggi 1-2 mm
untuk mendapatkan hasil potong
yang halus dan tidak sobek
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.13: Bok Saklar Utama
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.14: Mesin Gergaji Potong
Ganda
Gergaji potong
awal
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.15: Mesin Gergaji Belah
164
Mesin ini digunakan untuk membelah papan, papan benda kerja
permukaanya lebih aman dari goresan karena papan dijepit tetap dan
mesin gergaji yang bergeser dari ujung satu hingga selesai
Bentuk type lain dari gergaji meja
mesin bergerak yang dilengkapi
dengan penjepit dan blok penekan
atas, sedang gerakan mesin
dengan menggunakan tenaga
motor. Sangat cocok digunakan
pekerjan yang sama dalam jumlah
besar
Tudung penekan benda kerja
Papan meja
Pedal pengatur tekan
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.16: Jenis Mesin Gergaji Bundar Pemotong Multipleks
Motor gergaji
Penjepit Balok penekan
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.17: Gergaji Meja Mesin
Bergerak
165
Mesin ini digunakan untuk membelah papan kayu buatan misalnya kayu
lapis, particle board, MDF, dan papan buatan lain yang terbuat dari bahan
dasar kayu.
Cara kerjanya adalah papan diletakkan pada panel mesin kemudian
penyetelan ukuran pemotongan setelah siap baru dilakukan proses
pengerjaan
Mesin gergaji berlengan ayun
tergolong mesin stationer yang
digunakan untuk pemotongan
benda kerja dalam ukuran kotor.
Proses kerja mesin gergaji
berlengan ayun adalah :
- Benda kerja diletakkan diatas
meja menempel penuh pada
penghantar
- Mesin dijalankan kemudian
ditarik sambil benda kerja di
tekan atau di jepit
Saat bekerja konsentrasi harus
dipusatkan pada benda kerja
Lengan mesin gergaji
Box saklar mesin
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005
Gb.5.2.18: Gergaji Potong
Lengan
gergaji
Meja gergaji
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.19: Mesin Gergaji Potong
Berlengan
166
Mesin gergaji tekan digolongkan
dalam mesin semi stationer,
gunanya adalah untuk :
- Memotong tegak lurus
- Memotong miring 00-450
- Memotong miring ganda
Mesin gergaji skrol adalah mesin
yang digunakan pekerjaan kecilkecil
dengan ketebalan terbatas.
Pekerjaan yang dapat dibuat:
- Membelah lurus
- Menggergaji bentuk lengkung
- Membentuk lingkaran
Hal yang perlu diperhatikan
ketegangan daun gergai harus
diperhatikan, pengaman balik
harus terpasang sesuai fungsinya
Tudung
pengaman
Penghantar
potong
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.20: Mesin Gergaji Potong
Sudut (Mitre Saw)
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.2.1.21: Mesin Gergaji Skrol
167
2.2. Jenis Daun Gergaji Bundar
Daun gergaji bundar TCT adalah
daun gergaji dengan mata gergaji
tempel dari baja keras. Gambar
samping menunjukkan beberapa
type daun gergaji yang digunakan
untuk pemotongan, pembelahan,
dan pengerjaan bahan kayu yang
belum kering. Untuk jenis daun
gergaji yang digunakan ehan kayu
basah adalah daun gergaji yang
mempunyai tambahan punggung
gergaji yang berguna sebagai
pembersih serbuk pada waktu
proses penggergajian
a. Sudut bebas dada mata gergaji
b. Sudut bebas punggung mata
gergaji
c. Sudut bebas samping mata
gergaji
Sudut tersebut berguna untuk
puncak ketajaman mata bekerja
dengan baik
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.22: Jenis Daun Gergaji
Bundar TCT
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.23: Jenis Mata/Gigi Gergaji
Sircle TCT
168
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.24: Titik Sudut Mata/Gigi Gergaji TCT
Mata gergaji lurus
Bentuk mata digunakan
untuk membelah kayu
keras dan kayu lunak
Mata gergaji kombinasi
Bentuk mata digunakan
untuk membelah dan
memotong ( universal )
Mata gergaji lengkung
Bentuk mata digunakan
untuk memotong bahan
terbuat dari finir
Mata gergaji trapesium
Bentuk mata digunakan
untuk memotong bahan
papan buatan, partikel
board, mdf, shof board
Mata gergaji lurus dan
trapesium
Bentuk mata digunakan
untuk memotong kayu
lapis
Mata gergaji lengkung
dan trapesium
Bentuk mata digunakan
untuk memotong kayu
yang berlapis bahan
finis
169
Daun gergaji dengan mata TCT
membutuhkan perhatian kusus
dikarenakan mata pisau yang
keras dan mudah rompal,
sehingga satu dengan yang lain
tidak boleh langsung bersentuhan
- Setel dan cek penghantar lebar
- Letakkan papan dan menempel
penghantar belah
- Tutup tudung pengaman ½ -1
cm diatas papan benda kerja
- Hidupkan motor mesin gergaji
- Dorong papan dan control selalu
papan menempel penghantar
Jika sudah hampir ujung papan
gunakan pendorong
Cara pemasangan pisau belah:
- Tempelkan papan kayu dan
lukis puncak mata ke papan
- Setel ketinggian pisau belah
mengacu pada garis pada
papan dikurangi 1-2 mm dan
jarak pisau 8-10 mm
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing,2005
Gb.5.2.26: Cara Kerja Membelah
Papan Kayu
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005
Gb.5.2.25: Box Penyimpanan Daun
Gergaji Bundar TCT
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, 2005
Gb.5.2.27: Penyetelan Pisau Belah
Gergaji Bundar
170
Tudung pengaman transparan
daun gergaji seperti gambar dapat
membantu operator untuk
mengontrol saat pengerjaan benda
kerja. Benda kerja yang dikerjakan
cukup didorong tudung akan
terangkat sendiri dibantu roda
yang ada pada tudung, setelah
setelah benda kerja melewati
tudung, tudung akan menutup
sendiri
Jika pengerjaan hampir mendekati
ujung yang membahayakan jika
didorong dengan tangan maka,
gunakan tongkat pendorong untuk
enyelesaikan penggergajian.
Lakukan pendorongan dengan
penuh konsentrasi dengan
mengontrol benda kerja harus
selalu menempel pada penghantar
Memotong kayu pendek sangat
beresiko untuk terpental balik
karena putaran gergaji, untuk
menghindari itu harus
meggunakan alat bantu pemisah
dari putaran gergaji seperti tampak
pada gambar. Pemasangannya
disamping gergaji dan masuk
kedalam 1 ½ -2 cm dari lingkar
gergaji
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.28:Perletakan Tudung
Pengaman Dan Pendorong
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.29: Penggunaan
Pendorong Belah
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.30: Pemotongan Papan
Kecil
171
Benda kerja ditempelkan pada mal
yang ada senter titiknya,
kemudiaan setel penghantar
tambahan tepat diatas daun
gergaji agar hasil dari benda kerja
sama persis dengan mal.
Ketinggian mal harus diatas benda
kerja 3-6 mm diatas tebal benda
kerja. Kontrol letak penghantar
agar tidak termakan pisau gergaji
Tudung pengaman selain
berfungsi sebagai pengaman
lemparan potongan dan serbuk
juga dilengkapi lubang conector
dengan penghisap debu sehingga
kotoran langsung di sedot ke
pembuangan debu
Membelah benda kerja kecil dapat
dilakukan dengan penjepit depan
dan pendorong belakang seperti
gambar, ini proses pengerjaan
dapat lancar. Pada waktu
pengerjaan pastikan jepitan
bekerja dengan sempurna
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.31:Pemotongan Papan
Menggunakan Mal Bantu
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.32:Tudung Pengaman Pada
Waktu Membelah Kayu
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.33:Membelah dengan
Penjepit Depan dan
Belakang
172
Gergaji disetel ketinggiannya
sesuai dengan tebal / lebar
sponeng yang akan dibuat.
Proses pengerjaannya dapat
dilakukan pada arah lebar dahulu
setelah itu dapat di lanjutkan pada
arah tebal seperti pada gambar
samping
2.3. Mesin Ketam Perata
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.34: Membelah Bentuk
Takik
Panel saklar
Tudung pisau ketam
Penghantar
Meja belakang
Meja depan
Penyetel meja
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.35: Ketam Pelurus/Perata (Jointer Planer)
173
Tudung Pengaman harus selalu
terpasang pada saat mesin jalan,
ini bertujuan untuk melindungi
operator dari kecelakaan bekerja.
Bentuk sirip-sirip pada meja mesin
ini untuk mengurangi getaran
mesin ketika pisau ketam
dihidupkan.
Penghantar bantu berfungsi untuk
mengerjakan kayu yang kecil dan
pendek.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.36: Tudung Pengaman
Pisau Feksibel
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.37: Rip Peredam Suara
Putaran Mesin Ketam
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.38: Mesin Ketam Perata
Dengan Penghantar
Bantu
174
Cutter block adalah tempat
menempelnya mata pisau ketam.
Jumlah mata pisau pada cutter
block ini 2 mata pisau.
Cutter block dengan tiga mata
pisau hasilnya lebih halus dari blok
pisau dengan dua mata pisau.
Cutter block dengan empat mata
pisau hasilnya jauh lebih halus dari
blok pisau dengan 3 mata pisau.
Blok pisau dengan mata pisau
spiral, hasil ketamnnya lebih halus
dan licin.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.39: Blok Pisau dengan
Dua Mata Pisau
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.40: Blok Pisau dengan Tiga
Mata Pisau
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.41: Blok Pisau dengan
Empat Mata Pisau
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.42: Blok Pisau dengan
Mata Pisau Spiral
175
Cara penyetelan/ pemasangan
mata pisau pada blok pisau
dengan menggunakan mal
penyetel ketinggian pisau ketam.
Alat ini dapat digunakan untuk
menyetel piasu mesin ketam.
Setelah piasu ketam dimasukkan
pada blok pisau, letakkan alat
kontrol tersebut (blok tapak pisau)
di atas blok pisau secara merata
(permukaan pisau harus
menempel pada blok tapak pisau),
baru kemudian baut pengunci
pisau dikencangkan dari bagian
tepi-tepi dulu menuju ke tengah.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.43: Penyetelan Pisau
Ketam Terhadap Blok
Pegas
kontrol
pisau
Pengunci
pisau
Baut
dudukan
penyetel
Rumah
penyetel
Blok tapak pisau
Baut pengarah
Baut pengunci
Pegas
kontrol
pisau
Blok
tapak
pisau
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.44: Penyetelan Tinggi Mata
Pisau Ketam
176
Setelah pisau dipasang secara
manual, kemudian cara
mengontrolnya adalah dengan
sebuah papan yang lurus
ditempelkan pada meja depan dan
belakang mesin ketam lurus
sejajar dengan pisau.
Letakkan papan pada posisi
seperti gambar, bagian yang
cekung dimakankan dulu dengan
kecepatan dorong yang sesuai.
Lakukan beberapa kali
pemakanan sampai pada bagian
yang cekung menjadi rata. Perlu
diperhatikan di dalam pemakanan
jangan terlalu tebal sehingga
papan tidak terlalu berat pada saat
didorong.
Perlu diperhatikan keselamatan
kerja pada saat mengetam,
apabila papan/benda kerja yang
akan diketam pendek sekali, harus
digunakan alat bantu untuk
mendorong benda kerja,
perhatikan seperti pada gambar di
samping.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.45: Menyetel Pisau Secara
Manual
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.46: Cara Mengetam Papan
Lebar
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.47: Cara Mengetam Papan
Pendek
177
Mengetam sisi papan perlu
diperhatikan tentang kesikuan
antara muka I dan II, sehingga
pada saat mendorong benda kerja
muka I harus segaris dengan
penghantar siku serta tudung
pengaman pisau harus menempel
pada benda kerja.
Mesin ketam penebal ini dapat
berfungsi untuk:
• Mengetam siku muka III & IV
• Mengetam segi 6, 8 dst.
• Mengetam miring sesuai dengan
alat bantunya.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.48: Cara Mengetam Sisi
Papan
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.49: Mesin Ketam Penebal
(Thicknesser)
Panel saklar mesin Meja mesin
178
Sabuk penghantar/belt harus
selalu dalam kondisi
tegang/kencang dan dijaga
kebersihannya dari debu serbuk
kayu.
Secara periodik perlu diadakan
pengecekan kekencangan mur
baut komponen-komponen/bagian
mesin ketam dan diberi minyak
pelumas.
Pada saat mengetam balok
diusahakan pada permukaan meja
digunakan semua sehingga
tekanan dari pisau merata.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.50: Sabuk Penghantar
Tenaga Mesin
Tudung rol antar
Blok pisau
Rol gerak
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.51: Bagian Mesin Ketam
Penebal
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, 2005
Gb.5.2.52: Cara Mengetam Balok Kayu
179
2.4. Mesin Spindle Molder / Shaper
Mesin ini dapat digunakan untuk:
• Mengetam langsung 4 muka
• Mengetam dan mengalur
• Mengetam dan memprofil (membuat flooring) dsb.
Pengetaman dengan
menggunakan mesin Multi
Spindel/Moulding dengan
menggunakan pisau 4 atau 6
head.
Tudung pengaman
Bok saklar
Meja mesin
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing,
Verlag Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.53: Multi Spindle Molder
Blok pisau
samping
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.54: Rol Pengarah
Blok pisau atas
Rol antar
Blok pisau profil
Blok pisau
bawah
Blok pisau
samping
Blok pisau
samping
180
Mesin Frais ini as poros pisaunya bisa dimiringkan dan dapat digunakan
seperti pada mesin Frais dengan poros lurus.
Dengan tudung pengaman ini
operator bisa mencegah terjadinya
kecelakaan pada tangan.
Roda penyetel ketinggian
pisau
Panel saklar
Poros pisau
Penghantar
Meja mesin
Roda penyetel kemiringan
pisau
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing,
Verlag Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.55:Mesin Frais Poros dapat Dimiringkan
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa Lehrmittel,
2005
Gb.5.2.56:Mesin Frais dengan
Pengaman Atas dan Samping
181
Poros pisau ini harus dijaga
kelurusannya. Baut pengunci tidak
boleh terlalu ke bawah agar
supaya drat/ulir poros pisau
terjaga dari kerusakan atau aus.
Sesekali antara poros pisau
dengan rumah/blok dibersihkan
dengan cairan WD 40.
Motor penggerak mesin frais ini
dengan puli kecepatan yang terdiri
dari tiga macam kecepatan.
Penggunaannya disesuaikan
dengan RPM yang tertera pada
masing-masing pisau yang akan
digunakan.
Baut pengunci
Ring pengunci
Baut antar
Pisau profil
Baut pengunci
pisau
Poros pisau
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.57: Poros Pisau Mesin
F i
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.58:Motor Penggerak
Mesin Frais
182
Panel tombol mesin dapat
dioperasikan sesuai dengan
petunjuk yang ada.
Agar tidak terjadi hal yang tidak
diinginkan jalan tombol-tombol
mesin sesuai dengan Standar
Operasional Prosedurnya (SOP).
2.5. Jenis Pisau Frais Dan Perlengkapannya
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.60: Jenis Cutter Block
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.59: Tombol Pengatur
Tenaga Listrik pada
Mesin Spindle
183
Pisau ini dapat digunakan untuk
membuat sponing dengan ukuran
yang lebar atau untuk membuat
alur.
Pisau ini dapat digunakan untuk:
membuat assesoris mebel pada
bagian tepi atau untuk kebutuhan
yang lain sesuai dengan gambar
kerja.
Alat ini dapat digunakan untuk
membuat assesoris pada meubel
atau acitrap (hiasan/lis lantai).
Penggunaan pisau ini
pendorongnya dengan rool
pendorong.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.61: Jenis Strit (Sponing Lurus)
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.63: Jenis Doble Nose
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, 2005
Gb.5.2.62: Jenis Cutter Block Spindle
184
Penggunaan pisau frais ini hanya
bisa dilakukan dengan
menggunakan rool pendorong.
Alat ini dapat digunakan pada
mesin frais untuk mendorong
benda kerja secara otomatis.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.64:Multi Bit
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa Lehrmittel,
2005
Gb.5.2.65: Feeder (Penggerak Jalan)
185
Alat ini dapat digunakan untuk
mengontrol kemunculan mata
pisau dengan bodi/blok pisau
dengan ketinggian maksimal yang
diinginkan 1,1 mm sehingga
keselamatan kerja bisa terjamin.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.66: Tinggi Mata Molding
terhadap Cutter Block
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.67: Type Cutter
186
Pisau ini dapat digunakan untuk
membuat alur atau sponing
(ketebalan pisau dapat disetel)
Pisau ini dapat digunakan untuk
membuat sponing atau juga bisa
digunakan untuk membuat alur.
Pisau ini dapat digunakan khusus
untuk membevel atau miring
sesuai dengan sudut yang
diinginkan (kemiringan pisau dapat
distel).
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.68: Grooving
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.69: Sponing Lurus
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.70: Sponing Kecil
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.71: Champer
187
Pisau ini dapat digunakan untuk
membuat bentuk cekung pada
tepi-tepi kayu/benda kerja.
Pisau ini lazimnya digunakan pada
pembuatan jendela, pintu dsb.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.72: Curve
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.73: Jenis-jenis Profil
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.74: Round Bit/Odgee Bit
188
Pisau ini dapat digunakan untuk
membuat panil dengan bentuk
yang lurus.
Pisau ini dapat digunakan untuk
membuat sambungan konstruksi
papan melebar.
Pisau ini dapat digunakan untuk
membuat sambungan konstruksi
lubang pen terbuka.
Pisau ini dapat digunakan untuk
membuat profil bertumpuk sesuai
dengan kebutuhannya.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.75: Panel Bitt
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.78: Profil Bertahap
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.76: Triple Grouve
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.77: TNG Bit
189
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing,
Verlag Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.79: Perlengkapan Spindle Molder
190
Alat-alat bantu untuk mesin Frais / Spinde Moulder ini dapat digunakan
sesuai dengan kebutuhan atau bentuk benda kerja yang akan dikerjakan.
Alat ini dapat digunakan untuk :
• Mengukur ketinggian pisau gergaji bermeja
• Mengukur ketinggian dan ketebalan pisau Spindle/Frais.
Dengan tudung pengaman ini
operator bisa mencegah terjadinya
kecelakaan pada tangan.
Rool pendorong ini digunakan
untuk pengerjaan yang sifatnya
dalam jumlah banyak pada mesin
Frais.
Dengan menggunakan rool
pendorong ini bisa mengefektifkan
pekerjaan.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.80: Pengatur Tinggi dan Ketebalan Mata Spindle
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.81: Penghantar
Konvensional
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.82: Penghantar Jalan
(Feeder)
191
Gambar disamping adalah posisi
mengerjakan kayu dengan mesin
Spindle dan dilengkapi dengan
alat pengaman pelindung samping
dan juga untuk memberi tekanan
dari samping.
Gambar disamping adalah posisi
ketika mengerjakan sponing pada
kayu yang pendek dibantu dengan
alat dorong.
Mengerjakan sponing bantu pada
pekerjaan kayu atau bingkai
(seperti gambar di amping) harus
memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
- Pasang Stopper pada bagian
depan dan belakang meja
mesin.
- Lakukan pengumparan pada
bagian depan kayu, setelah itu
secara perlahan bagian
belakang kayu dirapat pada
pengantar mesin.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.84: Penjepit Hantar
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.83: Penghantar Depan
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.85: Penghantar Pola
192
Gambar disamping ini adalah
mengerjakan kayu yang pendek
pada mesin Spindle dengan
menggunakan alat
bantu/penghantar pada pekerjaan
cowakan buntu.
Gambar ini menunjukkan cara
bekerja dengan menggunakan
mesin Spindle dan memakai mata
pisau yang dilengkapi dengan
ring/cincin penghantar lengkung
serta langsung didorong dengan
tangan.
Gambar disamping ini
menunjukkan cara kerja dengan
mesin Spindle dengan
menggunakan alat penekan
khusus yang diletakkan pada
sebuah papan penghantar yang
telah dipersiapkan terlebih dahulu.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.88: Pengoperasian
Spindle pada Benda
Kerja Berpola
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.86: Pengoperasian
Spindle dengan Pola
Penghantar
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.87: Pengoperasian
Spindle pada Benda
Kerja Lengkung
193
2.6. Mesin Router Atas
Bagian-bagian Mesin Router Atas:
a. Pedal untuk menaikturunkan mata pisau
b. Pedal rem untuk menghentikan putaran mesin
c. Tangkai pemutar menaikturunkan meja mesin
d. Tangkai untuk menyetel ketinggian yang akan diprais
e. Tangkai penahan untuk mengikuti bentuk prais
f. Alar pelindung
g. Pengukur kedalaman prais
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.89: Over Head Router
a
b
c
d
e
f
g
194
2.7. Mesin Bor Rantai
Mesin prais samping ini jarang dijumpai di industri furniture, namun lebih
banyak dijumpai pada pekerjaan pintu dan jendela, karena sering
digunakan untuk melindungi kayu yang lebar dan dalam mesin ini
dilengkapi dengan alat yang dinamakan (a) Mata Prais
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-
Ing, Verlag Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.90:Mesin Bor Rantai (Chain Saw)
a
195
Bagian-bagian Mesin Bor dengan
Standar:
a. Motor Penggerak
b. Penahan Kaki Bawah
c. Meja Mesin
d. Penjepit Mata Bor
e. Tangkai untuk menurunkan
mata bor.
Fungsi dari mesin bor ini adalah
untuk melubangi/mengambil mata
kayu, untuk ditambal dengan kayu
yang sejenis atau dipilih warna
dan serat yang sejenis dengan
kayu yang ditambal.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.91: Mesin Bor Duduk (Drill Press)
a
b
c
d
e
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch
Dipl.-Ing, Verlag Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.92: Mesin Bor Persegi (Mortice Chisel)
Motor
penggerak
Mata bor
196
Mesin bor lubang panjang ini
(langloch-bohrmaschine) sering
digunakan untuk mengerjakan
lubang yang lebar dan dalam pada
pekerjaan kayu. Adapun bagianbagian
mesin ini adalah:
a. Pengantar/Stopper
b. Tangkai penggerak ke
samping
c. Penentu kedalaman
d. Tangkai penekan/penjepit
Mesin Multi bor ini sering
digunakan pada pekerjaan kayu
yang menghendaki jumlah-jumlah
lubang dowel yangbanyak dan
dikerjakan secara sekaligus.
Bagian-bagian mesin ini adalah:
a. Bagian penjepit
b. Tempat mata bor dan
c. Mistar pengantar
d. Alat untuk menaik-turunkan
mata bor.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005
Gb.5.2.93: Horizontal Bor
a
d c
b
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, 2005
Gb.5.2.94: Pneumatik Bor
a b
c
d
197
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.95: Jenis Mata Bor
Spiral Bor dengan Senter Spiral Bor dengan Senter dan
Pemotong Logam Keras
Spiral Bor dengan Baja Keras
dan Puncak Runcing
Spiral Bor dengan Baja Keras
dan Tangkai Pemukul
Kepala bor
Tangkai bor
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.96: Twise Bit
Pemotong utama
Sudut puncak
Bidang potong
bebas
Diameter
bor
Pemotong samping
Diameter
cengkam bor
Panjang bor Panjang cengkam
Panjang total
Gerakan bor Senter runcing
Mata bor
Lubang bor dengan
puncak runcing
Lubang bor dengan mata
potong dan senter runcing
198
Mata bor spiral dengan senter ini
sering digunakan mengebor
lubang dowel pada kayu.
Mata bor spiral dengan center baja
pada ujungnya ini digunakan untuk
mengebor lubang dowel pada
kayu.
Mata bor spiral dengan baja keras
ini sering digunakan untuk
mengebor besi pada umumya dan
dipakai juga untuk mengebor kayu.
Mata bor spiral dengan baja keras
dan tangkai pemukul digunakan
untuk mengebor pekerjaan beton
dan batu yang keras.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.98: Dowel Bit
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.97: Dowel Bit
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.99: Twise Bit
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.100: Bor Spiral (Auger
Bit)
199
Mata bor ini digunakan untuk
mengebor lubang dowel dan
dilengkapi dengan alur serbuk
untuk memudahkan kotoran kayu
keluar masuk.
Mata bor ini digunakan untuk
mengebor lubang dowel namun
pemakaiannya menggunakan
mesin stationer.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.102: Dowel Bit
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.103: Dowel Bit Bertangkai
Khusus
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.101: Macam-Macam Mata Bor
Mata bor dowel dengan alur serbuk
Mata bor dowel untuk mesin
Mata bor dowel untuk mesin Mata bor dowel untuk mata kayu
Mata bor silinder
200
Mata bor ini digunakan untuk
mengebor lubang dowel pada
kayu dan pemakaiannya dengan
mesin.
Mata bor ini digunakan untuk
mengebor mata kayu ataupun
lubang bulat untuk pemasangan
engsel sendok pemakaiannya
dengan mesin.
Mata bor ini digunakan untuk
mengebor kayu bulat dengan
dimeter besar, pamakaiannya
dengan mesin.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.106: Forstener Bit
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.104: Jenis Pemegang
Mata Bor Khusus
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.105: Forstener Bit
201
Mata bor ini digunakan untuk
mengebor kayu dan dilengkapi
dengan pisau samping yang dapat
diganti-ganti.
Mata bor lubang panjang ini
digunakan untuk mengebor kayu
dengan ukuran yang lebar dan
panjang.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.109:Mata Bor Pembuat
Lubang Purus
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.108: Jenis Forstener Bit
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.107: Jenis Lain Mata Bor
Mata bor keras dengan pemotong
Mata bor lubang panjang
Mata bor tingkat
Mata bor keras dengan pembenam rata
202
Langkah kerja mengebor lubang
panjang dan dalam:
1. Lubangi satu persatu dengan
mata bor sampai kedalaman
yang diinginkan
2. Bersihkan lubang bor dengan
memasukkan mata bor sedikit
demi sedikit dan digeser ke
samping perlahan-lahan
sampai didapatkan hasil yang
baik.
Mata bor ini digunakan untuk
mengebor kayu dengan ukuran
dan kedalaman bertingkat.
Mata bor ini digunakan untuk
mengebor pada kayu dan pada
akhir pengeboran didapatkan
bekas lubang yang agak lebar dari
lubangnya, ini dipakai untuk
membenamkan kepala sekrup rata
pada permukaan kayu.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.112: Mata Bor Ganda
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.110: Cara Pengeboran
Lubang Purus
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.111:Mata Bor Ganda
203
Mata bor pemotong kayu ini
digunakan untuk mengebor dan
mengambil kayu sebagai bahan
tambalan pada kayu yang rusak.
Mata bor ini digunakan untuk
mengebor kayu yang sudah
dilubangi dan dimiringkan
lubangnya.
Mata bor pembenam ini digunakan
untuk membuat pingulan pada
lubang bor pada kayu, sehingga
sekrup dapat rata pada
permukaan kayu.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.115: Countersing Lancip
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.114: Countersing Lebar
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.116: Countersing Standar
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.113: Countersing
Mata bor pemotong kayu Mata bor versink dalam
Mata bor pembenam Mata bor dengan pembenam
204
Mata bor dengan pembenam ini
sekali kerja menghasilkan 2
bentuk lubang, pertama diameter
lubang yang diinginkan dan pada
ujung lubang.
2.8. Mesin Amplas Ban
Mesin amplas ini sangat penting dalam pekerjaan perabot karena dengan
mesin ini permukaan kayu dapat digosok dan diamplas dengan baik.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.117: Twise Drill dengan
Countersing
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.118:Mesin Belt Sander
Motor penggerak Saklar Penutup atas
amplas band
Silinder
pengencang
Amplas band
Landasan
amplas
Meja mesin
dapat distel
205
Mesin amplas sisi ini digunakan
untuk menggosok kayu pada
bagian sisi/tepi bidang kayu agar
didapatkan hasil kayu yang bersih
licin dan rata.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.120: Pengamplasan Sisi/Tepi Kayu
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.119: Jenis Mesin Roll Sander/Belt Sander
206
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.122: Jenis Pengamplasan
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.121:Mesin Wide Belt Sander (WBS)
Kalibrasi
Kertas
gosok
Amplas halus Amplas kombinasi
Meja Mesin Ban pendorong
207
Penekan amplas ini adalah
bagian atau komponen mesin
Wide Belt Sander yang
berfungsi menekan amplas
ban untuk menghaluskan
benda kerja.
Jenis dan ukuran kehalusan
amplas bermacam-macam,
biasanya tertulis pada rol
amplas pada sisi luar.
Cara penyimpanan rol amplas
sebaiknya dibuatkan
gantungan pada dinding
supaya rol amplas tersebut
tidak tertekuk yang berakibat
mudah putus.
Sumber: Holztechnik – Fachkunde, Wolfgang
Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa Lehrmittel,
2005
Gb.5.2.125: Penyimpanan Belt Sander
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag
Europa Lehrmittel, 2005
Gb5.2.123. Penekan Amplas
Sumber: Holztechnik – Fachkunde,
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Europa
Lehrmittel, 2005
Gb.5.2.124: Jenis Rol/Belt Sander
208
2.9 Keselamatan Kerja
Tiga penyebab penting dari
ketidak-amanan pada waktu
bekerja dengan perkakas dan
perkakas mesin adalah:
1. Penggunaan yang salah
daripada perkakas
2. Penggunaan perkakas yang
tidak tepat
3. Penggunaan perkakas mesin
tanpa pelindung yang cukup
atau dengan perlindungan
yang dilepas.
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 5,
Mengasah Pahat, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.126: Penggunaan Pahat
Tusuk
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 8,
Perkakas Tangan, Bhratara Karya
Aksara, 1985
Gb.5.1.127: Palu Besi
Gb.5.1.128: Penyebab Ketidakamanan
Bekerja dengan
Mesin
209
Kecelakaan sering terjadi karena
perkakas. Kecelakaan-kecelakaan
ini dapat dicegah dengan mudah.
Peliharalah perkakas anda dengan
baik dan jagalah agar perkakas itu
tetap dalam keadaan sempurna.
Tangkai palu harus cocok dengan
tangan.
Jika dipasangkan pada kepala
palu, tangkainya harus dikukuhkan
dengan baji. Baji itu harus dibuat
dari baja.
Jika tangkai tidak dikukuhkan,
maka kepala palu dapat terlepas
dari tangkai dan dapat
menyebabkan luka berat pada
teman sekerja.
Gb.5.1.129: Penyebab Kecelakaan
menggunakan Alat
Tangan
Gb.5.1.130: Kepala Palu Besi
Gb5.1.131: Hubungan Tangkai
dan Kepala Palu Besi
210
Tangkai palu harus dibuat dari
jenis kayu yang kuat dan kenyal.
Tangkai itu tak boleh menunjukkan
retak-retak atau pecah-pecah.
obeng adalah perkakas sederhana
pula yang dapat menyebabkan
luka-luka yang merepotkan.
Jagalah agar mata obeng
sedemikian tajam, hingga masuk
pas dalam alur kepala sekrup.
Mata obeng yang tumpul tak dapat
dipakai untuk menyekrup.
Gunakanlah sekrup yang alurnya
tidak rusak. Bukan merupakan
penghematan untuk menggunakan
sekrup rusak yang ternyata dapat
melukai anda, hingga anda tidak
dapat meneruskan pekerjaan.
Gb.5.1.132: Tangkai Palu
Gb.5.1.133: Mata Obeng
Gb.5.1.134: Sekrup
211
Perhatikanlah benar-benar bahwa
anda menggunakan obeng dengan
cara yang tepat.
Sudut antara obeng dan benda
kerja yang dikerjakan harus kirakira
900. sekrup yang meleset
akan melukai tangan.
Gunakanlah perkakas yang tepat
untuk setiap pekerjaan. Kunci-pun
harus digunakan untuk baut dan
mur.
Kepala baut dan mur adalah
penting untuk tujuan fungsinya.
Tetapi lepas dari ini, baut dan mur
yang rusak akan menyebabkan
luka-luka.
Gb.5.1.135: Memasang Sekrup
dengan Obeng
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 15,
Pengokoh, Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.136: Kunci Pas
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 15,
Pengokoh, Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.137: Mur Baut
212
Kunci pas harus sesuai benar
pada baut atau mur. Janganlah
menggunakan kunci pas yang
diperuntukkan bagi baut dari lain
ukuran.
Tang dan kunci sekrup bukanlah
perkakas yang tepat untuk
mengencangkan dan
mengendorkan baut dan mur.
Hindarkanlah penggunaan
perkakas tersebut untuk pekerjaan
ini, demi keselamatan.
\
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 15,
Pengokoh, Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.138: Memasang Baut
dengan Kunci Pas
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 15,
Pengokoh, Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.139: Memegang Mur
dengan Tang
213
Kikir adalah perkakas yang
memerlukan tangkai. Kikir tanpa
tangkai adalah perkakas yang
paling tidak aman dan tidak
efisien.
Tangkai kikir tidak boleh rusak dan
tanpa retak-retak. Lebih baik
membuang tangkai yang rusak
daripada memperbaikinya secara
tidak memadai.
Lagipula, selain tak mungkin
melakukan pekerjaan dengan baik,
kikir tanpa tangkai akan melukai
anda.
Setelah beberapa waktu yang
lama pahat yang digunakan akan
membentuk kepala seperti jamur.
Oleh karena itu, secara teratur
anda harus membuang bramnya
dan menjaga agar kepalanya
”tercukur bersih-bersih”.
Menggunakan pahat
membutuhkan pengalaman.
Anda harus selalu berhati-hati
supaya tidak memukul tangan atau
membuat jari-jari anda lecet.
Luka-luka harus segera dirawat.
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 6,
Kikir, Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.140: Kikir Kayu
Sumber: Teknologi Kayu Bergambar 6,
Kikir, Bhratara Karya Aksara, 1985
Gb.5.1.141: Penggunaan Pahat
214
Bagian-bagian mesin yang
bergerak atau menonjol selalu
berbahaya bagi pakaian kerja
yang tidak memenuhi syarat.
Jika tidak mungkin untuk
melindungi bagian-bagian
demikian, bagian-bagian itu harus
diberi tanda peringatan yang jelas.
Jangan sekali-kali mencoba untuk
menahan atau mengendalikan
benda kerja atau perkakas mesin
dengan tangan anda. Perkakas
adalah lebih kuat.
Rambut panjang memungkinkan
timbulnya bahaya pada bagianbagian
mesin yang bergerak.
Pakailah peci. Rambut pendek
tetap lebih baik.
Gb.5.1.144: Pencegahan
Kecelakaan pada Bagian
Mesin yang Bergerak
Gb.5.1.142: Pencegahan
Kecelakaan
Gb.5.1.143: Keselamatan Kerja
215
Tiap kegiatan yang minimbulkan
bram besi, tatal kayu dan lain-lain
merupakan bahaya bagi mata.
Mata harus dilindungi oleh kaca
pengaman atau kaca mata.
Kita sediakan suatu kesatuan
lengkap untuk keperluan
perlindungan mata, karena hal ini
adalah sangat penting.
Jangan memakai dasi di dalam
bengkel, walaupun anda memakai
pakaian kerja.
Waspadalah selalu terhadap
bagian mesin yang bergerak.
Lengan baju dari pakaian kerja
atau kemeja kerja harus pendek
atau tertutup pada pergelangan
tangan.
Gb.5.1.147: Lengan Baju Pendek
Gb.5.1.145: Kaca Mata Pengaman
Gb.5.1.146: Kesalahan
Menggunakan Pakaian
Kerja
216
Banyak karyawan yang bersikeras
memakai cincin atau jam tangan
dalam melakukan pekerjaannya,
telah membayar dengan
kehilangan satu atau lebih jarijarinya.
Dengan lima jari anda dapat
berbuat lebih banyak daripada
dengan empat.
Bagi mereka yang berkerja
dengan kabel dan bahan tarik
yang dapat melukai tangan,
tersedia sarung tangan kerja.
Saku tidak dibuat untuk membawa
perkakas yang tajam.
Ada pakaian kerja yang dibuat
dengan sebuah saku kecil atau
lebih untuk perkakas ukur khusus.
Gunakanlah saku itu untuk
perkakas yang sesuai untuknya
dan tidak untuk yang lain-lain.
Gb.5.1.150: Saku bukan Tempat Alat
Gb.5.1.148: Tidak Boleh
Menggunakan Cincin
dan Jam Tangan
Gb.5.1.149: Gunakan Sarung Tangan
217
Saku juga bukan untuk tempat
perkakas. Membawa semua
perkakas anda seperti ini adalah
tidak benar. Dapat melukai dan
anda bisa kehilangan perkakasperkakas
tersebut.
Lantai bukanlah tempat sampah.
Perkakas seharusnya jangan
ditinggalkan begitu saja, sehingga
orang lain dapat menginjaknya
dan melukai kaki.
Simpanlah perkakas anda di
tempat yang seharusnya.
Keteraturan dan kerapian
meningkatkan keselamatan di
dalam bengkel. Taruhlah perkakas
anda di atas bangku kerja dan
letakkanlah selalu di tempat yang
sama.
Jagalah supaya tidak terdapat
perkakas yang menonjol ke luar
daripada bangku kerja.
Gb.5.1.153: Keamanan Peralatan
Tangan
Gb.5.1.151: Membawa Alat yang
Salah
Gb.5.1.152: Bangku Kerja
218
Jangan ditinggalkan ujung-ujung
dan tepi-tepi tajam dari perkakas
tanpa perlindungan. Lindungilah
ujung dan tepi itu dengan alat-alat
yang disediakan untuk itu dan
dibuat sesederhana mungkin.
Minyak dan gemuk yang
tertumpah membuat lantai menjadi
licin. Hati-hatilah jika anda
membawa kaleng minyak.
Sapulah lantai bengkel secara
teratur. Debu, bram dan kotoran
lain dapat merusak mesin dan
mengganggu kesehatan anda.
Pakailah sapu yang baik.
Gb.5.1.156: Menjaga Kebersihan Lantai Kerja
Gb.5.1.154: Keamanan Perkakas
yang Tajam
Gb.5.1.155: Kebersihan Lantai Kerja
219
Tempat sampah harus ditutup.
Tempat sampah yang terbuka
menimbulkan segala macam
bahaya.
Mulut anda bukanlah tempat
penyimpan. Janganlah dipakai
untuk memegang paku, sekrup,
jarum dan lain barang.
Bila anda terluka, harus segera
dirawat, meskipun luka-luka
sangat kecil.
Keadaan sekitar bengkel sangat
memungkinkan terjadinya infeksi.
Gb.5.1.157: Tempat Sampah
Gb.5.1.158: Cara Memegang
Perkakas yang Salah
Gb.5.1.159: Perawatan Luka pada
Tangan
220
Lebih baik meluangkan waktu,
meskipun untuk goresan yang
kecil saja. Jangan mengabaikan
hal ini.
Sesudah dicuci dengan alkohol,
diobati dengan betadin atau
antiseptik lainnya setelah itu
barulah dibalut untuk menghindari
masuknya bakteri atau debu.
Di tiap, bengkel harus tersedia
kotak pertolongan pertama yang
harus dijaga supaya isinya selalu
lengkap.
Jika salah satu sarana telah
terpakai harus segera diganti.
Gb.5.1.160: Membersihkan Luka
Gb.5.1.161: Kotak PPPK
221
Inilah pakaian yang tepat untuk
melakukan pekerjaan anda.
Tidak memakai dasi dan dengan
lengan baju yang pendek.
Tidak memakai jam tangan dan
cincin.
Helm pengaman untuk kepala.
Kaca mata pengaman untuk mata.
Gb.5.1.162: Pakaian Kerja yang
Tepat
Gb.5.1.163: Helm dan Kaca Mata
Pengaman
222
Membersihkan bangku kerja dan
mesin dengan sikat yang
disediakan untuk itu.
Membersihkan bengkel dengan
sapu yang disediakan untuk itu.
Perlindungan Mata
Perkakas yang membentuk bram
banyak sekali dipakai dalam kerja
logam.
Bram dapat berbentuk mulai dari
yang sangat kecil, seperti bubuk,
hingga bram yang besar. Bram
yang berterbangan merupakan
ancaman untuk mata.
Disini anda melihat orang
memahat di bangku kerja. Dia
telah melindungi matanya dengan
tepat dengan kaca mata.
Bangku kerja mempunyai tirai
untuk melindungi bengkel
terhadap bram yang berterbangan.
Gb.5.1.165: Perlindungan Mata
Gb.5.1.164: Alat Membersihkan
Bangku Kerja
223
Tanpa kaca mata maka bram
dapat dengan mudah mencapai
mata anda dan dapat
menyebabkan luka berat, bahkan
kebutaan.
Untuk melindungi mata anda
terdapat beberapa macam kaca
mata, tiap kaca mata untuk
tujuannya masing-masing.
Yang paling sederhana ialah kaca
mata dengan kaca tahan pecah
dan digunakan bila tidak terdapat
bram yang dapat masuk dari
samping.
Jika bram atau bagian-bagian kecil
lain dapat mencapai mata dari
arah lainnya, maka kaca mata
jenis ini dengan pelindung
samping adalah yang lebih baik.
Gb.5.1.168: Kaca Mata Pengaman
dengan Pelindung
Samping
Gb.5.1.166: Gunakan Kaca Mata
Pengaman
Gb.5.1.167: Kaca Mata Pengaman
224
Jika terdapat bahaya, bahwa kaca
mata anda akan terlepas, anda
harus memakai jenis kaca mata
ini.
Kaca mata ini juga digunakan jika
cahaya atau radiasi tidak boleh
mencapai mata yang tidak
dilindungi.
Jenis kaca mata ini juga memberi
perlindungan terhadap cahaya dan
radiasi.
Bram yang dibentuk oleh perkakas
mesin berlainan dengan yang
dibentuk oleh perkakas tangan.
Kecuali melukai mata, bram dari
mesin dapat menyebabkan lukaluka
lain.
Gb.5.1.171: Keselamatan Kerja
pada Mesin Bor
Gb.5.1.169: Kaca Mata Pengaman
dengan Pengikat
Gb.5.1.170: Kaca Mata Pengaman
Penuh dengan Pengikat
225
Perkakas mesin yang dapat
menghasilkan limbah berupa bram
antara lain adalah mesin bor.
Mesin bubut adalah pembuat bram
lain yang terkenal.
Pada umumnya kepala sangat
dekat kepada perkakas pembuat
bram.
Hal yang sama juga berlaku untuk
mesin frais. Mesin bubut maupun
mesin frais melempar bram ke
sekitarnya. Karena itu anda harus
juga melindungi karyawan dan
mesin sekitarnya.
Gb.5.1.174: Limbah Mesin Frais
Gb.5.1.172: Bram Mesin Bor
Gb.5.1.173: Limbah Mesin Bubut
226
Mesin gerinda membuat bram
yang sangat halus dan
mengayunkan ke sekitarnya.
Kebanyakan mesin gerinda
mempunyai dua buah cakera yang
berputar.
Oleh karena mesin gerinda terusmenerus
untuk mengesaha segala
macam perkakas, maka
membutuhkan perhatian yang
khusus.
Salah satu dari Latihan Kerja
Bengkel ”Pictostepped” adalah
pembuatan alat pelindung mata.
Jika anda selama bekerja tidak
memakai kaca mata dan anda
harus menggunakan mesin
gerinda, pakailah selalu alat
pelindung mata pada mesin asah.
Gb.5.1.175: Mesin Asah Gerinda
Gb.5.1.176: Mengasah Pahat
Gb.5.1.177: Pelindung Gerinda
227
Di sini anda melihat bagaimana
alat pelindung mata tidak
digunakan pada waktu
menggerinda suatu pena gores.
Rupa-rupanya orang yang
bersangkutan berdiri di samping
gerinda dan ia harus mengamatamati
ujung tajam dengan hatihati.
Seharusnya terdapat jarak antara
sandaran perkakas dan batu
gerinda. Tidak hanya bram
perkakas yang keluar, tetapi juga
bram dari batu gerinda itu sendiri.
Perhatikanlah apakah batu
gerindanya terpasang kokoh.
Ini adalah suatu contoh dari mesin
gerinda yang baik.
Mesin gerinda mempunyai dua
buah cakeram dan kedua-duanya
dilindungi oleh alat pelindung
mata.
Batu gerindanya dilindungi pula
oleh kotak dari logam.
Gb.5.1.180: Mesin Gerinda yang Baik
Gb.5.1.178: Pelindung Mata pada
Gerinda
Gb.5.1.179: Penampang Gerinda
228
Keselamatan di dalam bengkel
tidak hanya diperlukan untuk diri
anda. Anda harus juga
memperhatikan teman sekerja
anda. Karena itu tirai pelindung
harus digunakan bila terdapat
kemungkinan bram yang
berbahaya akan melukai tetangga
anda.
Ketertiban dengan perkakas juga
meningkatkan keselamatan.
Di dalam bengkel adalah aman
bila tiap mesin dilindungi secara
terpisah terhadap mesin-mesin
lainnya.
Bila kemasukan sesuatu dalam
mata anda, segeralah pergi ke pos
pertolongan pertama dan mintalah
perawatan.
Ingatlah, bahwa kebutaan tak
dapat disembuhkan; maka
pencegahan adalah lebih baik
daripada pengobatan.
Gb.5.1.182: Pencegahan
Kecelakaan pada Mata
Gb.5.1.181: Perlengkapan pada
Kotak Alat
PENUTUP
Setelah membaca dan mempelajari buku kejuruan Teknik Perkayuan ini
pembaca diharapkan dapat mengaplikasikan serta menguji-coba tentang
teori, pengetahuan, sistem dan langkah kerja yang telah diuraikan untuk
mencapai tingkat keterampilan yang disyaratkan.
Pencapaian kompetensi bisa didapatkan dari intensitas seseorang
mengaplikasikan teori, pengetahuan, sistem dan langkah kerja yang
dijelaskan menjadi bentuk penguasaan aplikasi keterampilan, yang
tentunya disertai dengan evaluasi dan koreksi pada saat melatih
keterampilan tertentu.
Diharapkan buku kejuruan Teknik Perkayuan ini tidak hanya menjadi
buku acuan atau rujukan bagi kalangan Sekolah Menengah Kejuruan
saja, tetapi diharapkan bisa diaplikasikan oleh siapa saja yang berminat
terhadap pelatihan dan penguasaan keterampilan Teknik Perkayuan.
Semoga bisa menambah literatur atau referensi tentang Teknik
Perkayuan dan bisa diaplikasikan guna mencapai tingkat kompetensi
yang lebih baik tentang Teknik Perkayuan.
Akhir kata, berlatihlah terus untuk bisa menjadi ahli, yang dalam
peribahasa orang Jerman disebut: Übung macht den Meister.
LAMPIRAN A
A 1
DAFTAR PUSTAKA
Agus Sunaryo, SH, MBA. “Reka Oles Mebel Kayu”. Semarang: Penerbit
Kanisius, 1997.
Bennet N.B. Silalahi, Dr., MA, Rumondang B. Silalahi, MPH. "Manajemen
Keselamatan & Kesehatan Kerja". Jakarta: Penerbit PT
Pustaka Binaman Pressindo, 1995.
Dewan Redaksi Bhratara Karya Aksara. ”Teknologi Kayu Bergambar”.
Jakarta: Penerbit PT Bhratara Karya Aksara, 1985.
Eddy S. Marizar. “Designing Furniture – Teknik Merancang Mebel
Kreatif”. Yogyakarta, 2005.
George Love. “Teori dan Praktek –Kerja Kayu”. Alih Bahasa: E.
Diraatmadja. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1985.
John Stefford, Guy McMurdo. “Woodwork Technology – Teknologi Kerja
Kayu”. Alih Bahasa: Haroen. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1983.
Karl Möhler Dr.-Ing., Julius Natterer Dipl.-Ing, Karl-Heinz Götz, Dieter
Hoor Dipl.-Ing.. ”Holzbau Atlas. Studienausgabe”. München:
Institut für internationale Architektur-Dokumentation, 1980.
M.Gani Kristianto. ”Teknik Mendesain Perabot Yang Benar”. Semarang:
Penerbit Kanisius, 1995.
M.Gani Kristianto. ”Konstruksi Perabot Kayu”. Semarang: Penerbit
Kanisius, 1987.
Primiyono, Ir. ”Seri Pelajaran Teknologi secara Bergambar - Teknologi
Kayu”. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. 1979.
Richard Stähli. “Holzkunde – Wald, Baum, Holz, Furnier” Eigenverlag:
Richard Stähli, CH-8425 Oberembrach, 1992.
Robert Koch, Willi Müller, Ueli Rüegg, Richard Stähli, Ernst Waber.
“Fachzeichnen VSSM-Normen – Pedoman Gambar Kerja”.
Alih Bahasa: I. Marianan, Irmina Mariati. Semarang: Penerbit
Kanisius, 1997.
Soepratno. "Ornamen Ukir Kayu".1983.
Walter Ehrmann Dr.-Ing.,Wolfgang Nuttsch Dipl.-Ing, Bernd Spellenberg
Dipl.-Ing. ”Holztechnik – Konstruktion und Arbeitsplanung”.
Haan-Gruiten: Verlag Europa Lehrmittel, 1997.
Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, ”Holztechnik – Fachkunde”. Haan-Gruiten:
Verlag Europa Lehrmittel, 2005.
LAMPIRAN B
B 1
GLOSARIUM
Bab I
kesehatan kerja dan
keselamatan kerja penerapan aspek kesehatan dan
keselamatan kerja bagi karyawan dalam
melaksanakan pekerjaan pada suatu
perusahaan/industri berdasarkan peraturan
yang berlaku.
perlindungan kecelakaan jaminan bagi karyawan apabila terjadi
kecelakaan kerja, yang diberikan oleh pihak
yang terkait dalam perlindungan
kecelakaan.
Bab II
daftar komponen rincian kebutuhan bahan yang diperlukan
untuk mengerjakan suatu barang/benda.
gambar kerja sebuah rencana teknik sebagai landasan
penyelesaian sebuah obyek yang
mencantumkan informasi lengkap, baik
secara grafis maupun dengan teks.
mendesain perabot membuat rancangan perabot dalam bentuk
gambar sketsa yang dijadikan acuan untuk
pembuatan gambar kerja.
potongan emas rumusan yang dapat digunakan untuk
menentukan besaran mebel, dengan
memperhatikan penempatanya / tempat
kedudukanya dan beberapa tuntutan seperti
kesesuaian dengan penggunannya, barang
yang disimpan di dalamnya dan kemudahan
transportasi.
Bab III
bahan baku bahan pokok/utama yang digunakan untuk
pekerjaan perkayuan/mebel yang berasal
dari kayu masip maupun kayu olahan
industri plywood dan sejenisnya.
menyimpan bahan mengatur bahan dalam susunan secara
teratur rapi, baik, dan aman, untuk
menunggu proses pekerjaan berikutnya.
LAMPIRAN B
B 2
pembelahan log penggergajian gelondong/batang pohon
menjadi bentuk lembaran atau balok kayu
sesuai ukuran yang dibutuhkan.
pengendalian kerja pelaksanaan kontrol kualitas selama proses
kegiatan yang terstandar.
Bab IV
bahan perekat suatu bahan untuk mengikat benda atau
bahan lain, misalnya kayu, melalui antar
permukaan dengan cara perekatan /
penempelan.
bahan pelapis suatu bahan untuk melapisi permukaan
benda
teknik laminasi tata-cara merekatkan / menempelkan benda
kerja menggunakan bahan perekat pada
bidang permukaan satu dengan lainnya.
Bab V
mesin statis mesin yang digunakan untuk mengerjakan
suatu benda yang berbentuk stationery
(sulit dipindahkan / tetap di suatu tempat)
yang dioperasikan oleh teknisi / operator
menggunakan aliran tenaga listrik.
peralatan tangan dan listrik alat-alat yang digunakan untuk
mengerjakan suatu benda yang berbentuk
alat portable (mudah dipindahkan) dan
penggunaannya sepenuhnya dengan
tenaga manusia (alat tangan) dan atau
dibantu aliran tenaga listrik (alat listrik).
Bab VI
komponen mebel bagian-bagian mebel yang apabila dirakit
menjadi kesatuan bentuk mebel.
Bab VII
almari tanam suatu unit almari yang dibuat dan
dipasangkan secara tetap pada tempat
tertentu / dinding ruangan.
asesoris mebel suatu komponen yang dipasangkan pada
mebel yang berfungsi sebagai pendukung
atau memperkuat konstruksi mebel.
LAMPIRAN B
B 3
Bab VIII
membuat pola langkah awal pada pekerjaan ukir yang
berupa suatu rancangan bentuk gambar
yang dimalkan di atas benda kerja.
Bab IX
teknik inlay tata-cara pekerjaan tatah kayu berbentuk
hiasan, selanjutnya dimasukkan komponen
dari bahan kayu atau bahan lainnya ke
dalam tatahan dan membentuk suatu
hiasan yang rata dengan permukaan kayu
sekitarnya.
Bab X
Finishing kayu pekerjaan pelapisan atau pengolesan resin
atau suatu zat ke permukaan kayu yang
membentuk lapisan tipis seperti film
sehingga mendapatkan keindahan pada
permukaan kayu.
LAMPIRAN C
C 1
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gb.1.1.Ruang Lingkup Pekerjaan Teknisi Perkayuan ..................... 2
Gb.1.2.Contoh Tata Letak Ruang Pabrik Perkayuan ....................... 3
Gb.1.3.Alat Pelindung Diri (APD) bagi Teknisi Perkayuan ............... 9
Gb.1.4.Pelindung Putaran Pisau Ketam Perata ............................... 9
Gb.1.5.Membelah Papan Menggunakan Mesin Gergaji .................. 10
Gb.2.1.Skema Desain ...................................................................... 15
Gb.2.2.Konsep Perencanaan Produk .............................................. 16
Gb.2.3.Proporsi ................................................................................ 17
Gb.2.4.Keseimbangan Formal ........................................................ 18
Gb.2.5.Keseimbangan Informal ....................................................... 18
Gb.2.6.Potongan Emas dan Penggunaanya .................................... 19
Gb.2.7.Meja Kerja Satu Biro ............................................................. 20
Gb.2.8.Kredensa .............................................................................. 20
Gb.2.9.Almari Kecil …………………………………………………….. 21
Gb.2.10.Almari Pakaian ……………………………………………….. 21
Gb.2.11.Laci Susun ……………………………………………………. 22
Gb.2.12.Almari dengan Pintu Sorong ……………………………….. 22
Gb.2.13.Macam-macam Almari …………………………………….. 23
Gb.2.14.Bukaan Pintu Almari ………………………………………. .. 23
Gb.2.15.Almari dengan Laci Atas …………………………………… 24
Gb.2.16.Memindah Perabot ………………………………………….. 24
Gb.2.17.Pemindahan Almari …………………………………………. 24
Gb.2.18.Gambar Sketsa ……………………………………………… 30
Gb.2.19.Gambar Pesanan …………………………………………….. 31
Gb.2.20.Gambar Perspektif ………………………………………....... 31
Gb.2.21.Gambar Kerja ……………………………………………….. 32
Gb.2.22.Proses Penyediaan Bahan …………………………………. 25
Gb.2.23.Pengelompokan Material ……………………………………. 37
Gb.2.24.Penyelesaian pada suatu proses ………………………….. 37
Gb.3.1.Susunan Organisasi Pabrik Perkayuan ............................... 41
Gb. 3.2. Program Kerja .............................................................. ..... 42
Gb. 3.3. Pengendalian Kerja ............................................................ 43
Gb. 3.4. Struktur Kayu ………………………………………………… 50
Gb. 3.5. Hydrometer …………………………………………………… 51
Gb. 3.6. Proses Pembelahan Log ………………………………........ 53
Gb. 3.7. Pembelahan Log menjadi Balok Kayu …………………….. 53
Gb. 3.8. Papan Gergajian ……………………………………….......... 54
Gb. 3.9. Papan Tangensial …………………………………………… 54
Gb. 3.10. Arah Penyusutan Papan Tangensial …………………….. 54
Gb. 3.11. Papan radial ……………………………………………....... 55
Gb. 3.12. Arah penyusutan Papan Radial …………………………... 55
LAMPIRAN C
C 2
Gb. 3.13. Papan Semi radial dan Arah Penyusutannya .................. 55
Gb. 3.14. Gambar papan tengah ……………………………………. 56
Gb. 3.15. Penyusunan Batang Kayu …………………………….. …. 56
Gb. 3.16. Penyusunan Balok dan Lembaran Kayu ………………… 57
Gb. 3.17. Penyusunan Lembaran Daun Pintu …………………….… 57
Gb. 4.1. Peralatan Laminasi dan Mesin Tekan (Press) ................... 64
Gb. 4.2. Penggunaan Klem Sisi ....................................................... 65
Gb. 4.3. Penggunaan Klem Sisi ....................................................... 66
Gb. 4.4. Penyusunan Komponen pada Klem Rak ………………..... 67
Gb. 4.5. Penggunaan Klem untuk Penekanan ……………………... 68
Gb. 5.1.1. Bangku Kerja ……………………………………………..... 70
Gb. 5.1.2. Pengait pada Bangku Kerja …………………………....... 71
Gb. 5.1.3. Topang Takik ………………………………………………. 71
Gb. 5.1.4. Fungsi Penjepit Bangku Belakang .................................. 72
Gb. 5.1.5. Kotak Alat Tangan …………………………………………. 72
Gb. 5.1.6. Almari Alat ……………………………………………......... 73
Gb. 5.1.7. Kotak Alat dapat Bergerak ………………………………… 74
Gb.5.1.8. Mengukur dengan Mistar ………………………………….. 74
Gb. 5.1.9. Rol Meter …………………………………………………… 75
Gb. 5.1.10. Mistar Sorong ................................................................ 75
Gb. 5.1.11. Pembacaan Nonius ……………………………………… 75
Gb. 5.1.12. Pengontrol Jarak Alur ……………………………………. 75
Gb. 5.1.13. Alat Ukur Ketinggian Pisau ………………………………. 76
Gb.5.1.14. Siku-siku 900 ………………………………………………. 76
Gb.5.1.15. Siku Perempat …………………………………………….. 76
Gb.5.1.16. Siku Goyang ………………………………………………. 76
Gb.5.1.17. Perusut ……………………………………………………… 77
Gb.5.1.18. Alat Gores …………………………………………………. 77
Gb.5.1.19. Gergaji Belah Bentang …………………………………… 77
Gb.5.1.20. Gergaji Potong Lengkung (Kurve) .................................. 77
Gb.5.1.21. Gergaji Punggung yang dapat Dibalik ........................... 78
Gb.5.1.22. Gergaji Potong …………………………………………….. 78
Gb.5.1.23. Gergaji Punggung ………………………………………… 78
Gb.5.1.24. Gergaji Kompas ……………………………………………. 78
Gb.5.1.25. Gergaji Halus Jepang …………………………………….. 78
Gb.5.1.26. Gergaji Finir ……………………………………………….. 79
Gb.5.1.27. Gergaji Gurat ………………………………………………. 79
Gb.5.1.28. Melurus / Meratakan Gigi Gergaji ……………………….. 79
Gb.5.1.29. Penjepit Gergaji ………………………………………........ 79
Gb.5.1.30. Ketam Kayu ………………………………………………… 80
Gb.5.1.31. Mesin Pengasah Pisau Ketam …………………………… 80
Gb.5.1.32. Cara Mengasah Pisau Ketam ……………………………. 80
Gb.5.1.33. Ketam Pelicin ……………………………………………… 81
Gb.5.1.34. Ketam Perata ………………………………………………. 81
Gb.5.1.35. Ketam Penghalus ………………………………………….. 81
Gb.5.1.36. Ketam Penghalus – Primus ………………………………. 82
LAMPIRAN C
C 3
Gb.5.1.37. Ketam Pembentuk-Halus …………………………………. 82
Gb.5.1.38. Ketam Bangku Panjang …………………………………… 82
Gb.5.1.39. Ketam Penghalus Sponing ………………………………. 83
Gb.5.1.40. Ketam Sponing Miring ……………………………………. 83
Gb.5.1.41. Ketam Dasar ……………………………………………….. 83
Gb.5.1.42. Ketam Lengkung/Kapal …………………………………. 84
Gb.5.1.43. Ketam Kauto/Konkaf ………………………………………. 84
Gb.5.1.44. Ketam Kauto Cembung …………………………………… 84
Gb.5.1.45. Macam-macam Pelat Kikis ……………………………….. 85
Gb.5.1.46. Penajam Pelat Kikis ……………………………………..... 85
Gb.5.1.47. Menggosok Pelat Kikis ……………………………………. 85
Gb.5.1.48. Pahat Tusuk ………………………………………………… 86
Gb.5.1.49. Pahat Kuku Lengkung …………………………………….. 86
Gb.5.1.50. Pahat Lubang ……………………………………………… 86
Gb.5.1.51. Palu Kayu ………………………………………………….. 87
Gb.5.1.52. Kraspen (Jarum Tusuk) ……………………………………. 87
Gb.5.1.53. Gurdi-Sekrup Tipis ………………………………………… 87
Gb.5.1.54. Mata Bor Geser (Expansive bit) ..................................... 87
Gb.5.1.55. Mata Bor Spiral Logam …………………………………… 88
Gb.5.1.56. Mata Bor Dowel …………………………………………… 88
Gb.5.1.57. Mata Bor Benam (Vershing) ……………………………… 88
Gb.5.1.58. Bagian-bagian Kikir ……………………………………….. 89
Gb.5.1.59: Gigi KIkir …………………………………………………… 89
Gb.5.1.60: Gigi Kikir yang Tersumbat Kotoran ................................. 89
Gb.5.1.61. Kikir ½ Bulat Kasar ……………………………………….. 90
Gb.5.1.62. Kikir Segi Empat Kasar …………………………………… 90
Gb.5.1.63. Macam-macam Bentuk Kikir …………………………….. 90
Gb.5.1.64. Kikir Segi Empat Halus …………………………………… 90
Gb.5.1.65. Kikir ½ Bulat Halus ………………………………………… 90
Gb.5.1.66. Kikir Parut ………………………………………………….. 91
Gb.5.1.67: Kikir Kayu ………………………………………………….. 91
Gb.5.1.68. Perbedaan Kikir Kayu Halus dan Kikir Parut .................. 91
Gb.5.1.69. Pengikiran Tepi Cembung ……………………………….. 92
Gb.5.1.70. PaluTukang Kayu ………………………………………….. 92
Gb.5.1.71. Drip Benam ……………………………………………….. 92
Gb.5.1.72. KakakTua ………………………………………………….. 93
Gb.5.1.73. Penggurdian dengan Engkol dan Gurdi ……………….. 93
Gb.5.1.74. Posisi Mata Obeng ……………………………………….. 94
Gb.5.1.75.Obeng ………………………………………………………. 94
Gb.5.1.76. Jenis Obeng Otomatik ……………………………………. 95
Gb.5.1.77. Mata Obeng ……………………………………………….. 95
Gb.5.1.78. Mal Gergaji ..................................................................... 95
Gb.5.1.79. Memotong Kertas Amplas ……………………………….. 96
Gb.5.1.80. Blok Amplas ……………………………………………...... 96
Gb.5.1.81. Klem Panjang ................................................................. 97
Gb.5.1.82. Klem Pendek ………………………………………………. 97
LAMPIRAN C
C 4
Gb.5.1.83. Rak Klem F ………………………………………………… 98
Gb.5.1.84. Klem Bingkai ………………………………………………. 98
Gb.5.1.85. Klem Sudut ………………………………………………… 99
Gb. 5.1.86. Klem sudut ……………………………………………...... 99
Gb. 5.1.87. Klem Stik ………………………………………………….. 99
Gb.5.1.88. Mal Tangga Putar …………………………………………. 100
Gb.5.1.89. Kuda-kuda Bangku ……………………………………….. 100
Gb.5.1.90. Gergaji Pembentuk Sudut (Gergaji Potong Miring …….. 100
Gb.5.1.91. Pisau Potong Miring ....................................................... 101
Gb.5.1.92. Mengasah Pahat pada Mesin Gerinda ........................... 101
Gb.5.1.93. Cara Pengasahan Pahat pada Mesin Gerinda .............. 102
Gb.5.1.94. Mesin Gerinda Pengasah Pahat .................................... 102
Gb.5.1.95. Lereng Pahat Lubang ..................................................... 103
Gb.5.1.96. Pengasahan Tajam Pahat-Ukir Lengkung ..................... 103
Gb.5.1.97. Alat Perata Batu Gerinda ................................................ 104
Gb.5.1.98. Meratakan Batu Gerinda ................................................. 104
Gb.5.1.99. Mesin Bor Tangan Listrik ………………………………… 107
Gb.5.1.100. Bukaan Mesin Bor Listrik ............................................... 108
Gb.5.1.101. Kelengkapan Mesin Bor ……………………………….... 108
Gb.5.1.102. Mesin Bor Tangan Listrik ………………………………… 109
Gb.5.1.103. Bukaan Cengkam ......................................................... 109
Gb.5.1.104. Potongan Cengkam ……………………………………… 109
Gb.5.1.105. Mesin Bor tanpa ………………………………………….. 110
Gb.5.1.106. Jenis Mata Bor …………………………………………… 110
Gb.5.1.107. Mata Bor Puntir Tangkai Lurus ..................................... 110
Gb. 5.1.108. Kombinasi Mata Bor Versink …………………………… 111
Gb. 5.1.109. Kombnasi Mata Bor ……………………………………… 111
Gb. 5.1.110: Mata Bor Kurdi …………………………………………… 111
Gb. 5.1.111. Macam Mata Bor Kurdi ………………………………… 111
Gb. 5.1.112. Kraspen …………………………………………………… 112
Gb. 5.1.113. Posisi Mengebor Vertikal ………………………………. 112
Gb. 5.1.114. Posisi Mengebor Horizontal ……………………………. 113
Gb. 5.1.115. Posisi Mengebor Statis ………………………………… 113
Gb. 5.1.116. Keuntungan Mengebor Statis …………………………. 114
Gb. 5.1.117. Box / Kotak Mesin Bor ………………………………….. 114
Gb. 5.1.118. Menyimpan Mata Bor ………………………………….. 115
Gb. 5.1.119. Mesin Amplas Getar ……………………………………. 115
Gb. 5.1.120. Bukaan Mesin Amplas Getar ………………………….. 116
Gb. 5.1.121. Kertas Gosok ……………………………………………. 116
Gb. 5.1.122. Skalar dan Pengunci ………………………………….. . 116
Gb. 5.1.123. Posisi Mengamplas ……………………………………… 117
Gb. 5.1.124. Bantatalan Amplas ……………………………………… 117
Gb. 5.1.125. Carbon Brushes …………………………………………. 117
Gb. 5.1.126. Cara Membuka Mesin …………………………………. 118
Gb. 5.1.127: Posisi Mengamplas ……………………………………. 118
Gb. 5.1.128. Perawatan ………………………………………………. 119
LAMPIRAN C
C 5
Gb. 5.1.129. Perawatan ………………………………………………. 119
Gb. 5.1.130. Mesin Amplas Ban ……………………………………… 119
Gb. 5.1.131. Bagian- Bagian Mesin Amplas Ban ………………….... 120
Gb. 5.1.132. Jenis Amplas Ban ……………………………………….. 120
Gb. 5.1.133. Mengganti Amplas Ban ……………………………...... 120
Gb. 5.1.134. Menghidupkan Mesin Amplas Ban ………………...... 121
Gb. 5.1.135. Mengangkat Mesin Amplas Ban …………………….... 121
Gb. 5.1.136. Pengamplasan ………………………………………...... 122
Gb. 5.1.137. Posisi Mengamplas …………………………………...... 122
Gb. 5.1.138. Mematikan Mesin ……………………………………...... 123
Gb. 5.1.139. Pengamplasan Sudut ………………………………...... 123
Gb. 5.1.140. Pakai Kaca Mata ……………………………………....... 123
Gb. 5.1.141. Mengamplas Lurus …………………………………....... 124
Gb. 5.1.142. Mengamplas Lengkung ……………………………....... 124
Gb. 5.1.143. Model Alat Bantu ……………………………………....... 124
Gb. 5.1.145. Kotak Penyimpanan …………………………………..... 125
Gb. 5.1.146. Mesin Lamello ………………………………………….. 125
Gb. 5.1.147. Bagian-bagian Lamello ………………………………… 126
Gb. 5.1.148. Isian Lamello ……………………………………………. 126
Gb. 5.1.149. Menentukan Titik Pusat Lamello ……………………… 127
Gb. 5.1.150. Melukis dengan Mal ……………………………………. 127
Gb. 5.1.151. Melukis Benda Kerja …………………………………… 127
Gb. 5.1.152. Merakit Benda Kerja ……………………………………. 127
Gb. 5.1.153. Melukis Sambungan Sudut ……………………………. 128
Gb.5.1.154. Melubang Mendatar …………………………………….. 128
Gb. 5.1.155. MelubangTegak Lurus …………………………………. 128
Gb. 5.1.156. Posisi Mendatar …………………………………………. 129
Gb. 5.1.157. Melukis sudut 45º……………………………………….. 129
Gb. 5.1.158. Posisi Melubang Miring Sudut 45º ............................... 129
Gb. 5.1.159. Perawatan ………………………………………………. 130
Gb. 5.1.160. Perawatan ……………………………………………….. 130
Gb. 5.1.161. Alat Bantu .................................................................... 130
Gb. 5.1.162. Carbon Brushes ………………………………………… 131
Gb. 5.1.163. Pengetaman Awal ................................................ ..... 131
Gb. 5.1.164. Pengetaman Akhir ...................................................... 131
Gb. 5.1.165. Posisi Mengetam Miring .............................................. 131
Gb. 5.1.166. Mengetam Sponing ..................................................... 132
Gb.5.1.167. Stationery Planer .......................................................... 132
Gb. 5.1.168. Posisi Membuka Pisau ................................................ 132
Gb. 5.1.169. Mengontrol Tinggi Pisau ............................................ 133
Gb.5.1.170. Posisi Mengasah Pisau .............................................. 133
Gb.5.1.171. Mesin Router ……………………………………………… 133
Gb.5.1.172. Bagian Mesin Router ……………………………………. 134
Gb.5.1.173. Alat Bantu ………………………………………………… 134
Gb.5.1.174. Memasang Pisau ………………………………………… 134
Gb.5.1.175. Mengatur Kedalaman Pisau ……………………………. 135
LAMPIRAN C
C 6
Gb.5.1.176. Penghantar Lurus ……………………………………….. 135
Gb.5.1.177. Kaca Mata ………………………………………………… 135
Gb.5.1.178. Gerakkan Router ………………………………………… 136
Gb.5.1.179. Menggunakan Sablon …………………………………… 136
Gb.5.1.180. Statis Router ……………………………………………… 136
Gb.5.1.181. Statis Router ……………………………………………… 137
Gb.5.1.182. Pemeliharaan Mesin Router …………………………… 137
Gb.5.1.183. Mesin Trimer …………………………………………….. 138
Gb.5.1.184. Alat Bantu …………………………………………………. 138
Gb.5.1.185 : Macam Pisau ……………………………………………. 139
Gb.5.1.186 : Membuka dan Memasang Pisau …………………….. 139
Gb.5.1.187 : Pengoperasian Mesin ………………………………….. 139
Gb.5.1.188: Pengantar Hias ………………………………………….. 140
Gb.5.1.189 : Pengantar Lurus ………………………………………… 140
Gb.5.1.190 : Pemeliharaan ……………………………………………. 140
Gb.5.1.191 : Penyimpanan …………………………………………..... 141
Gb.5.1.192: Mesin Gergaji Bundar Lengkung ……………………… 141
Gb.5.1.193: Mesin Gergaji Bundar Lengkung ………………………. 141
Gb.5.1.194: Pengantar Mesin .......................................................... 142
Gb.5.1.195: Kegunaan Mesin Gergaji .............................................. 142
Gb.5.1.196: Memotong Tanpa Pengantar ........................................ 142
Gb.5.1.197: Memotong Dengan Pengantar ..................................... 143
Gb.5.1.198: Memotong Miring .......................................................... 143
Gb.5.1.199: Membelah Dengan Pengantar Kayu .......................... 143
Gb.5.1.200: Memotong Bevel ........................................................... 144
Gb.5.1.201: Memotong Lubang Buntu ............................................. 144
Gb.5.1.202: Membuat Alur ............................................................... 144
Gb.5.1.203: Membersihan ............................................................... 145
Gb.5.1.204: Penyimpanan ................................................................ 145
Gb.5.1.205: Mesin Gergaji Jig Saw …………………………………… 145
Gb.5.1.206: Bagian Mesin Jig Saw .................................................... 146
Gb.5.1.207: Alat Bantu ………………………………………………….. 146
Gb.5.1.208: Jenis Pisau .................................................................. 146
Gb.5.1.209: Mesin Jig Saw ……………………………………………. 147
Gb.5.1.210: Memotong Lurus ………………………………………… 147
Gb.5.1.211: Memotong dengan Pengantar …………………………… 147
Gb.5.1.212: Memotong Miring ………………………………………… 148
Gb.5.1.213: Memotong Bulat ………………………………………… 148
Gb.5.1.214: Memotong Lengkung …………………………………… 148
Gb.5.1.215: Memotong Bevel ………………………………………… 149
Gb.5.1.216: Memotong Lubang Buntu ………………………………… 149
Gb.5.1.217: Mengontrol Pisau ……………………………………… 149
Gb.5.1.218: Memotong Awal …………………………………………. 150
Gb.5.1.219: Menyetel Meja …………………………………………… 150
Gb.5.1.220: Kaca Mata ……………………………………………….. 150
Gb.5.1.221: Membersihkan Mesin ……………………………………. 150
LAMPIRAN C
C 7
Gb.5.1.222: Pentimpanan Mesin ………………………………….. …. 151
Gb.5.1.223: Mesin Asah Gerinda …………………………………….. 151
Gb.5.1.224: Pengantar ………………………………………………… 152
Gb.5.1.225: Batu Asah Lurus …………………………………………. 152
Gb.5.1.226: Batu Asah ………………………………………………… 153
Gb.5.1.227: Ukuran Batu Asah ……………………………………….. 153
Gb.5.1.228: Pengasahan ……………………………………………… 153
Gb.5.1.229: Menyetel Pengantar Asah ........................................... 154
Gb.5.1.230: Cara Memegang Pisau saat Mengasah ....................... 154
Gb.5.1.231: Batu Asah Minyak ....................................................... 154
Gb.5.1.232: Balok Kayu ...……………………………………………. 155
Gb.5.1.233: Cara Pengasahan ..……………………………………… 155
Gb.5.1.234: Mengasah Halus …………………………………………. 155
Gb.5.1.235: Mengasah Lereng ………………………………………. 156
Gb.5.1.236: Mengasah Punggung ……………………………………. 156
Gb.5.1.237: Mengasah Punggung ……………………………………. 156
Gb.5.2.1: Mesin Gergaji Pita …………………………………………… 157
Gb.5.2.2: Spesifikasi Mesin Gergaji Pita ……………………………. 157
Gb.5.2.3: Penghantar/ Perlengkapan Mesin Gergaji Pita ................. 158
Gb.5.2.4: Pengaman Gigi Gergaji Pita pada Roda Penggerak ...... 158
Gb.5.2.5: Rol Penghantar Gergaji Pita Atas dan Bawah ................. 159
Gb.5.2.6: Spesifikasi Sudut Gigi Gergaji Pita .................................. 159
Gb.5.2.7: Jenis dan Ukuran Gigi Gergaji Pita .................................. 160
Gb. 5.2.8: Mesin Gergaji Pita Bermeja Dorong ................................ 160
Gb.5.2.9: Posisi Membelah Tipis ..................................................... 161
Gb.5.2.10: Posisi Membelah Tebal dengan Penghantar .................. 161
Gb.5.2.11: Gergaji Bundar Bermeja ................................................. 162
Gb.5.2.12: Gergaji Bundar Bermeja dengan Penghantar
Potong ............................................................................ 162
Gb.5.2.13: Bok Saklar Utama …………………………………………. 163
Gb.5.2.14: Mesin Gergaji Potong Ganda …………………………….. 163
Gb.5.2.15: Mesin Gergaji Belah ………………………………………. 163
Gb.5.2.16: Jenis Mesin Gergaji Bundar Pemotong Multipleks …….. 164
Gb.5.2.17: Gergaji Meja Mesin Bergerak …………………………… 164
Gb.5.2.18: Gergaji Potong …………………………………………… 165
Gb.5.2.19: Mesin Gergaji Potong Berlengan ………………………… 165
Gb.5.2.20: Mesin Gergaji Potong Sudut (Mitre Saw) ....................... 166
Gb.2.1.21: Mesin Gergaji Skrol ........................................................ 166
Gb.2.1.21: Mesin Gergaji Skrol ………………………………………. 167
Gb.5.2.22: Jenis Daun Gergaji Bundar TCT ………………………… 167
Gb.5.2.23: Jenis Mata/Gigi Gergaji Sircle TCT ……………………… 167
Gb.5.2.24: Titik Sudut Mata/Gigi Gergaji TCT .................................. 168
Gb.5.2.25: Box Penyimpanan Daun Gergaji Bundar TCT ............... 169
Gb.5.2.26: Cara Kerja Membelah Papan Kayu ................................ 169
Gb.5.2.27: Penyetelan Pisau Belah Gergaji Bundar ........................ 169
Gb.5.2.28: Perletakan Tudung Pengaman Dan Pendorong ............ 170
LAMPIRAN C
C 8
Gb.5.2.29: Penggunaan Pendorong Belah ...................................... 170
Gb.5.2.30: Pemotongan Papan Kecil ............................................... 170
Gb.5.2.31:Pemotongan Papan Menggunakan Mal Bantu ................ 171
Gb.5.2.32:Tudung Pengaman Pada Waktu Membelah Kayu ........... 171
Gb.5.2.33:Membelah dengan Penjepit Depan dan Belakang .......... 171
Gb.5.2.34: Membelah Bentuk Takik ................................................. 172
Gb.5.2.35: Ketam Pelurus/Perata (Jointer Planer) ........................... 172
Gb.5.2.36: Tudung Pengaman Pisau Feksibel ................................ 173
Gb.5.2.37: Rip Peredam Suara Putaran Mesin Ketam .................... 173
Gb.5.2.38: Mesin Ketam Perata Dengan Penghantar Bantu ........... 173
Gb.5.2.39: Blok Pisau dengan Dua Mata Pisau .............................. 174
Gb.5.2.40: Blok Pisau dengan Tiga Mata Pisau .............................. 174
Gb.5.2.41: Blok Pisau dengan Empat Mata Pisau ........................... 174
Gb.5.2.42: Blok Pisau dengan Mata Pisau Spiral ............................. 174
Gb.5.2.43: Penyetelan Pisau Ketam Terhadap Blok ............................ 175
Gb.5.2.44: Penyetelan Tinggi Mata Pisau Ketam ................................ 175
Gb.5.2.45: Menyetel Pisau Secara Manual ....................................... . 176
Gb.5.2.46: Cara Mengetam Papan Lebar ........................................... 176
Gb.5.2.47: Cara Mengetam Papan Pendek ........................................ 176
Gb.5.2.48: Cara Mengetam Sisi Papan ………………………………. 177
Gb.5.2.49: Mesin Ketam Penebal (Thicknesser) …………………… 177
Gb.5.2.50: Sabuk Penghantar Tenaga Mesin .................................. 178
Gb.5.2.51: Bagian Mesin Ketam Penebal ......................................... 178
Gb.5.2.52: Cara Mengetam Balok Kayu ............................................ 178
Gb.5.2.53: Multi Spindle Molder ....................................................... 178
Gb.5.2.54: Rol Pengarah ................................................................ 179
Gb.5.2.55: Mesin Frais Poros dapat Dimiringkan ............................. 180
Gb.5.2.56: Mesin Frais dengan Pengaman Atas dan Samping ........ 180
Gb.5.2.57: Poros Pisau Mesin Frais .................................................... 181
Gb.5.2.58: Motor Penggerak Mesin Frais .......................................... 181
Gb.5.2.59: Tombol Pengatur Tenaga Listrik pada Mesin Spindle … 182
Gb.5.2.60: Jenis Cutter Block ………………………………………… 182
Gb.5.2.61: Jenis Strit (Sponing Lurus) ……………………………… 183
Gb.5.2.62: Jenis Cutter Block Spindle ……………………………… 183
Gb.5.2.63: Jenis Doble Nose ………………………………………… 183
Gb.5.2.64: Multi Bit ……………………………………………………. 184
Gb.5.2.65: Feeder (Penggerak Jalan) ………………………………. 184
Gb.5.2.66: Tinggi Mata Molding terhadap Cutter Block .................... 185
Gb.5.2.67: Type Cutter ..................................................................... 185
Gb.5.2.68: Grooving ……………………………………………………. 186
Gb.5.2.69: Sponing Lurus ……………………………………………… 186
Gb.5.2.70: Sponing Kecil ……………………………………………… 186
Gb.5.2.71: Champer …………………………………………………… 186
Gb.5.2.72: Curve ………………………………………………………. 187
Gb.5.2.73: Jenis-jenis Profil …………………………………………. 187
Gb.5.2.74: Round Bit/Odgee Bit ……………………………………… 187
LAMPIRAN C
C 9
Gb.5.2.75: Panel Bitt …………………………………………………. 188
Gb.5.2.76: Triple Grouve …………………………………………….. 188
Gb.5.2.77: TNG Bit …………………………………………………… 188
Gb.5.2.78: Profil Bertahap …………………………………………… 188
Gb.5.2.79: Perlengkapan Spindle Molder ..................................... 189
Gb.5.2.80: Pengatur Tinggi dan Ketebalan Mata Spindle ………… 190
Gb.5.2.81: Penghantar Konvensional ………………………………… 190
Gb.5.2.82: Penghantar Jalan (Feeder) ………………………………… 190
Gb.5.2.83: Penghantar Depan ………………………………………… 191
Gb.5.2.84: Penjepit Hantar …………………………………………….. 191
Gb.5.2.85: Penghantar Pola …………………………………………… 191
Gb.5.2.86: Pengoperasian Spindel dengan Pola Penghantar .......... 192
Gb.5.2.87: Pengoperasian Spindel pada Benda Kerja Lengkung ..... 192
Gb.5.2.88: Pengoperasian Spindel pada Benda Kerja Berpola ....... 192
Gb.5.2.89: Over Head Route r ………………………………………… 193
Gb.5.2.90: Mesin Bor Rantai (Chain Saw) …………………………. 194
Gb.5.2.91: Mesin Bor Duduk (Drill Press) ..................................... 195
Gb.5.2.92: Mesin Bor Persegi (Mortice Chisel) ................................... 195
Gb.5.2.93: Horizontal Bor ……………………………………………. 196
Gb.5.2.94: Pneumatik Bor ……………………………………………. 196
Gb.5.2.95: Jenis Mata Bor ............................................................. 197
Gb.5.2.96: Twise Bit ....................................................................... 197
Gb.5.2.97: Dowel Bit ..................................................................... 198
Gb.5.2.98: Dowel Bit ..................................................................... 198
Gb.5.2.99: Twise Bit ..................................................................... 198
Gb.5.2.100: Bor Spiral (Auger Bit) ................................................ 198
Gb.5.2.101: Macam-Macam Mata Bor ……………………………… 199
Gb.5.2.102: Dowel Bit ………………………………………………. 199
Gb.5.2.103: Dowel Bit Bertangkai Khusus ………………………… 199
Gb.5.2.104: Jenis Pemegang Mata Bor Khusus ………………… 200
Gb.5.2.105: Forstener Bit …………………………………………… 200
Gb.5.2.106: Forstener Bit …………………………………………… 200
Gb.5.2.107: Jenis Lain Mata Bor …………………………………….. 201
Gb.5.2.108: Jenis Forstener Bit ………………………………………. 201
Gb.5.2.109: Mata Bor Pembuat Lubang Purus ……………………… 201
Gb.5.2.110: Cara Pengeboran Lubang Purus .................................. 202
Gb.5.2.111: Mata Bor Ganda ........................................................... 202
Gb.5.2.112: Mata Bor Ganda ........................................................... 202
Gb.5.2.113: Countersing ………………………………………………. 203
Gb.5.2.114: Countersing Lebar ……………………………………… 203
Gb.5.2.115: Countersing Lancip ……………………………………… 203
Gb.5.2.116: Countersing Standar ……………………………………… 203
Gb.5.2.117: Twise Drill dengan Countersing ………………………… 204
Gb.5.2.118: Mesin Belt Sander ………………………………………… 204
Gb.5.2.119: Jenis Mesin Roll Sander/Belt Sander ............................. 205
Gb.5.2.120: Pengamplasan Sisi/Tepi Kayu ........................................ 205
LAMPIRAN C
C 10
Gb.5.2.121: Mesin Wide Belt Sander (WBS) ………………………… 206
Gb.5.2.122: Jenis Pengamplasan ……………………………………. 206
Gb5.2.123. Penekan Amplas …………………………………………… 207
Gb.5.2.124: Jenis Rol/Belt Sander ……………………………………. 207
Gb.5.2.125: Penyimpanan Belt Sander ………………………………. 207
Gb.5.1.126: Penggunaan Pahat Tusuk ............................................... 208
Gb.5.1.127: Palu Besi .......................................................................... 208
Gb.5.1.128: Penyebab Ketidak-amanan Bekerja dengan Mesin ......... 208
Gb.5.1.129: Penyebab Kecelakaan menggunakan Alat Tangan ......... 209
Gb.5.1.130: Kepala Palu Besi .......................................................... 209
Gb5.1.131: Hubungan Tangkai dan Kepala Palu Besi .................... 209
Gb.5.1.132: Tangkai Palu ……………………………………………. 210
Gb.5.1.133: Mata Obeng ……………………………………………… 210
Gb.5.1.134: Sekrup …………………………………………………. 210
Gb.5.1.135: Memasang Sekrup dengan Obeng …………………. 211
Gb.5.1.136: Kunci Pas ………………………………………………... 211
Gb.5.1.137: Mur Baut ………………………………………………… 211
Gb.5.1.138: Memasang Baut dengan Kunci Pas ………………….. 212
Gb.5.1.139: Memegang Mur dengan Tang ………………………… 212
Gb.5.1.140: Kikir Kayu ………………………………………………… 213
Gb.5.1.141: Penggunaan Pahat ……………………………………… 213
Gb.5.1.142: Pencegahan Kecelakaan ………………………………… 214
Gb.5.1.143: Keselamatan Kerja ……………………………………… 214
Gb.5.1.144: Pencegahan Kecelakaan pada Bagian Mesin
yang Bergerak …………………………………………….... 214
Gb.5.1.145: Kaca Mata Pengaman ……………………………………. 215
Gb.5.1.146: Kesalahan Menggunakan Pakaian Kerja………………. 215
Gb.5.1.147: Lengan Baju Pendek ……………………………………… 215
Gb.5.1.148: Tidak Boleh Menggunakan Cincin dan Jam Tangan …. 216
Gb.5.1.149: Gunakan Sarung Tangan ………………………………… 216
Gb.5.1.150: Saku bukan Tempat Alat ………………………………….. 216
Gb.5.1.151: Membawa Alat yang Salah ……………………………… 217
Gb.5.1.152: Bangku Kerja …………………………………………… 217
Gb.5.1.153: Keamanan Peralatan Tangan …………………………… 217
Gb.5.1.154: Keamanan Perkakas yang Tajam ……………………… 218
Gb.5.1.155: Kebersihan Lantai Kerja ……………………………….... 218
Gb.5.1.156: Menjaga Kebersihan Lantai Kerja ………………………. 218
Gb.5.1.157: Tempat Sampah ………………………………………… 219
Gb.5.1.158: Cara Memegang Perkakas yang Salah ……………….. 219
Gb.5.1.159: Perawatan Luka pada Tangan …………………………… 219
Gb.5.1.160: Membersihkan Luka ……………………………………… 220
Gb.5.1.161: Kotak PPPK ………………………………………………. 220
Gb.5.1.162: Pakaian Kerja yang Tepat ............................................. 221
Gb.5.1.163: Helm dan Kaca Mata Pengaman ................................. 221
Gb.5.1.164: Alat Membersihkan Bangku Kerja ……………………… 222
Gb.5.1.165: Perlindungan Mata ………………………………………. 222
LAMPIRAN C
C 11
Gb.5.1.166: Gunakan Kaca Mata Pengaman .................................. 223
Gb.5.1.167: Kaca Mata Pengaman ................................................... 223
Gb.5.1.168: Kaca Mata Pengaman dengan Pelindung Samping ......... 223
Gb.5.1.169: Kaca Mata Pengaman dengan Pengikat ........................ 224
Gb.5.1.170: Kaca Mata Pengaman Penuh dengan Pengikat ............ 224
Gb.5.1.171: Keselamatan Kerja pada Mesin Bor ............................. 224
Gb.5.1.172: Bram Mesin Bor …………………………………………. 225
Gb.5.1.173: Limbah Mesin Bubut ……………………………………… 225
Gb.5.1.174: Limbah Mesin Frais ……………………………………… 225
Gb.5.1.175: Mesin Asah Gerinda …………………………………….. 226
Gb.5.1.176: Mengasah Pahat ………………………………………… 226
Gb.5.1.177: Pelindung Gerinda ……………………………………… 226
Gb.5.1.178: Pelindung Mata pada Gerinda …………………………. 227
Gb.5.1.179: Penampang Gerinda ……………………………………. 227
Gb.5.1.180: Mesin Gerinda yang Baik ……………………………… 227
Gb.5.1.181: Perlengkapan pada Kotak Alat ………………………….. 228
Gb.5.1.182: Pencegahan Kecelakaan pada Mata …………………. . 228
Gb. 6.1: Jenis Papan dan Pemotongannya …………………………. 230
Gb. 6.2: Memilih Bagian Papan ……………………………………….. 230
Gb. 6.3: Menyiapkan Benda Kerja …………………………………… 230
Gb. 6.4: Menyiapkan Ukuran Benda Kerja …………………………... 231
Gb. 6.5: Menguji Bentuk Benda Kerja ………………………………. 232
Gb. 6.6: Sambungan Takik Setengah ……………………………… 233
Gb. 6.7: Sambungan Alur Lidah ……………………………………… 233
Gb. 6.8: Sambungan Alur dengan Isian …………………………… 234
Gb. 6.9: Sambungan Alur Tumpang Tindih ………………………… 234
Gb. 6.10: Sambungan Melebar dengan Lem .................................. 235
Gb. 6.11: Tanda Kerja pada Pelebaran Papan ................................. 236
Gb. 6.12: Sambungan Sisi Tumpul …………………………………… 236
Gb. 6.13: Sambungan Bergerigi ……………………………………... 236
Gb. 6.14: Sambungan dengan Dowel ………………………………. 237
Gb. 6.15: Sambungan dengan Isian Tripleks ................................. 237
Gb. 6.16: Pemasangan Lis Ekor Burung Memanjang ...................... 238
Gb. 6.17: Pemasangan Lis Kepala Kayu …………………………… 238
Gb. 6.18: Sudut Kotak Sambungan Paku …………………………… 239
Gb. 6.19: Pemakuan ………………………………………………….. 239
Gb. 6.20: Konstruksi Alur dan Lidah pada Sudut Kotak ................... 240
Gb. 6.21: Konstruksi Alur dan Lidah pada Papan Antara ................ 240
Gb. 6.22: Konstruksi Sudut Verstek dengan Isian Lamello dan Plastik
Sudut …………………………………………………………. 241
Gb. 6.23: Konstruksi Sudut dengan Dowel …………………………. 241
Gb. 6.24: Konstruksi Ekor Burung …………………………………… 242
Gb. 6.25: Perhitungan Ekor Burung ………………………………….. 243
Gb. 6.26: Pengerjaan Konstruksi Ekor Burung Terbuka .................. 244
Gb. 6.27: Konstruksi Ekor Burung Memanjang ……………………… 245
Gb. 6.28: Konstruksi Ekor Burung Tersembunyi ……………………. 245
LAMPIRAN C
C 12
Gb. 6.29: Pengerjaan Konstruksi Ekor Burung Tersembunyi ……… 246
Gb. 6.30: Konstruksi Ekor Burung Mesin ……………………………. 247
Gb. 6.31: Mesin Frais Ekor Burung ………………………………….. 247
Gb. 6.32: Konstruksi Jari Terbuka …………………………………….. 247
Gb. 6.33: Konstruksi Jari dengan Baji ………………………………… 248
Gb. 6.34: Menggambari pada Rangka Kayu ……………………… 248
Gb. 6.35: Memilih Kayu untuk Konstruksi Rangka ……………….. 249
Gb. 6.36: Kip/Takik Setengah ………………………………………. 249
Gb. 6.37: Lubang dan Pen …………………………………………… 250
Gb. 6.38: Lubang dan Pen Ganda ………………………………….. 250
Gb. 6.39: Lubang dan Pen pada Rangka dengan Sponing ............. 251
Gb. 6.40: Lubang dan Pen pada Rangka dengan Profil
dan Sponing …………………………………………………. 25
Gb. 6.41: Lubang dan Pen pada Rangka dengan Alur ................... 252
Gb. 6.42: Lubang dan Pen pada Rangka dengan Sponing
dan Lereng ......................................................................... 252
Gb. 6.43: Lubang dan Pen dengan Spatpen dan Baji ....................... 253
Gb. 6.44. Pengerjaan sebuah Hubungan Lubang dan Pen Terbuka .. 253
Gb. 6.45: Pengerjaan Sebuah Hubungan Lubang dan Pen Sebelah
Verstek …………………………………………………….. 254
Gb. 6.46: Hubungan dengan Dowel ………………………………….. 255
Gb. 6.47: Hubungan Dowel dengan Alur dan Profil ....................... 256
Gb. 6.48: Hubungan Verstek dengan Isian Tripleks atau Lamello ... 256
Gb. 6.49: Hubungan Verstek dengan Isian Kayu Masip ……….. … 257
Gb. 6.50: Hubungan Silang Takik dan Sponing .............................. 257
Gb. 6.51: Pen Verstek dengan Spatpen …………………………... 258
Gb. 4.52: Dowel Ganda Verstek …………………………………….. 259
Gb. 7.1: Macam-macam Model Almari Tanam .................................. 260
Gb. 7.2: Rencana Letak Almari Tanam ……………………………… 261
Gb. 7.3. Bagian-bagian Almari ………………………………………… 262
Gb. 7.4: Hubungan antar Bagian-bagian Mebel ................................ 263
Gb. 7.5: Model Almari dengan Konstruksi Tumpuan Almari ………... 263
Gb. 7.6: Konstruksi Tumpuan Almari ………………………………… 264
Gb. 7.7: Potongan Konstruksi Dinding Belakang Almari …………… 264
Gb. 7.8: Nama Bagian-bagian Laci …………………………………… 265
Gb. 7.9: Konstruksi Papan Muka Laci ………………………………… 266
Gb. 7.10: Hubungan Papan Muka dengan Papan Samping Laci ...... 267
Gb. 7.11: Laci logam dengan Dinding Muka Kayu …………………. 267
Gb. 7.12: Konstruksi Laci Klasik ……………………………………… 268
Gb. 7.13: Hubungan Rumah Laci Klasik …………………………….. 268
Gb. 7.14: Laci Klasik Bersusun dengan Peluncur Gantung ……….. 269
Gb. 7.15: Hubungan Papan Samping Laci dengan Papan
Dasar Laci ........................................................................ 270
Gb. 7.16: Macam-macam Konstruksi Papan Belakang Laci ............ 271
Gb. 7.17: Macam-macam Lis Peluncur Laci ...................................... 272
Gb. 7.18: Laci untuk Lis Peluncur Gantung …………………………. 272
LAMPIRAN C
C 13
Gb. 7.19: Peluncur Laci Mekanis ……………………………………… 273
Gb. 7.20. Macam-macam Kunci Laci ………………………………… 273
Gb. 7.21: Macam-macam Model Pegangan Laci ............................ 274
Gb. 7.22: Penggantung Almari Tanam ………………………………. 275
Gb. 7.23: Sistem Membangun Almari Tanam Hiasan Tumpuan
Almari ………………………………………………………... 276
Gb. 7.24: Penghubung antar Dinding Almari ………………………… 277
Gb. 7.25: Penyetelan Tumpuan dan Hiasan Tumpuan Almari ........... 277
Gb. 7.26: Penutup Celah Dinding Tembok dengan Papan ………….. 278
Gb. 7.27: Konstruksi Penutup Celah Dinding ………………………... 278
Gb. 7.28: Pintu di dalam Dinding Almari dan Engselnya …………… 279
Gb. 7.29: Pintu ditakik ke dalam Dinding Almari dan Engselnya …... 280
Gb. 7.30: Pintu di luar Dinding Almari dan Engselnya ……………... 281
Gb. 7.31: Kunci Pintu Kupu Tarung …………………………………. 282
Gb. 7.32: Kunci Pintu Putar Mebel …………………………………… 282
Gb. 7.33: Kunci Tiang / Batang ……………………………………... 283
Gb. 7.34: Macam-macam Engsel …………………………………… 284
GB. 7.35: Engsel Sendok ……………………………………………… 285
Gb. 7.36: Mur-baut Bongkar Pasang ………………………………… 286
Gb. 7.37: Macam-macam Mur-baut Bongkar Pasang ……….. …… 286
Gb. 7.38: Mur-baut Bongkar Pasang ………………………………… 287
Gb. 7.39: Mur-baut Bongkar Pasang dengan Penutup……………. 287
Gb. 7.40: Mur-baut Bongkat Pasang Kecil …………………………. 287
Gb. 7.41: Pelat Penghubung Siku …………………………………… 287
Gb. 8.1. Pola Patung Orang ………………………………………… 289
Gb. 8.2. Pola Orang …………………………………………………. 289
Gb. 8.3. Pola Kuda …………………………………………………… 290
Gb. 8.4. Pola Bunga …………………………………………………. 290
Gb 8.5. Macam-macam peralatan ukir …………………… ………. 292
Gb. 8.6. Bagian-bagian pahat ukir ………………………………….. 292
Gb. 8.7. Macam-macam pahat kuku ……………………………….. 293
Gb. 8.8. Pahat kuku …………………………………………………… 294
Gb. 8.9. Cara mengasah Pahat Kuku ………………………………. 294
Gb. 8.10. Pahat lurus (penyilat) ……………………………………… 295
Gb. 8.11. Cara mengasah Pahat Lurus (penyilat) ………………. 295
Gb. 8.12. Gambar pahat lengkung setengah bulatan (kol) ………. 296
Gb. 8.13. Cara mengasah Pahat lengkung ½ bulat ……………. 296
Gb. 8.14. Gambar Pahat Miring (Pangot) ……………………… 297
Gb.8.15. Cara mengasah Pahat Miring (Pangot) ……………… 297
Gb. 8.16. Melukis/menggambar pola botol pada benda ……… 298
Gb. 8.17. Menyayat bagian bawah dan atas botol ……………… 298
Gb. 8.18. Menggambar pola botol pada sisi berikutnya ……….. 299
Gb. 8.19. Menggambar pola botol pada sisi berikutnya ……….. 299
Gb. 8.20. Mengukir tutup botol ……………………………….. …. 300
Gb. 8.21. Cara mengukir tegak ……………………………………. 300
Gb. 8.22. Membuat tegak lurus dan membuat alas (dasar) …….. 301
LAMPIRAN C
C 14
Gb.8.23. Cara mengukir miring …………………………………. 301
Gb.8.24. Cara memasang pola pada benda kerja ……………… 302
Gb. 8.25. Cara memasang pola pada benda kerja …………… 302
Gb. 8.24. Ornamen klasik gaya jawa timur …………………….. 303
Gb. 9.1: Peralatan Tangan yang Digunakan untuk Membuat
Komponen Inlay ……………………………………….. 304
Gb. 9.2.Motif Tatahan Sederhana ……………………………… 305
Gb 9.3. Motif Kaligrafi ……………………………………………… 305
Gb 9.4.Mengelem Motif Sederhana pada Kayu ……………….. 305
Gb 9.5.Mengelem Motif Kaligrafi pada Kayu …………………... 306
Gb 9.6.Memotong desain Inlay …………………………………. 306
Gb 9.7. Potongan Komponen Inlay Bermotif Kaligrafi ………… 306
Gb 9.8. Potongan Komponen Inlay Bermotif Sederhana ……. 307
Gb 9.9.Menggambari untuk Komponen Inlay Motif Sederhana . 307
Gb 9.10. Menggambari untuk Komponen Inlay Motif Kaligrafi … 307
Gb 9.11. Hasil Penggambaran Motif Inlay Sederhana ……… 308
Gb 9.12. Hasil lukisan Desain inlay kaligrafi ………………… 308
Gb 9.13. Memahat kayu ………………………………………… 308
Gb 9.14. Mesin Trimer dan Kacamata Pengaman …………. 309
Gb 9.15. Membuat alur dengan Mesin Trimer ……………… 309
Gb 9.16. Lubang/alur yang sudah selesai dikerjakan ……… 309
Gb 9.17. Mengelem Alur Inlay ………………………………… 310
Gb 9.18. Menerapkan Komponen Inlay ……………………… . 310
Gb 9.19. Klos Penjepit ………………………………………… 310
Gb 9.20. Penjepit Klem F ………………………………………. 311
Gb 9.21. Hasil Perakitan ………………………………………… 311
Gb 9.22. Penghalusan …………………………………………… 311
Gb 9.23. Penerapan Inlay dengan Motif Kaligrafi ……………… 312
Gb 9.24. Penerapan Inlay pada Bangku dengan Motif Alami … 312
Gb. 10.1. Pori-pori Kayu yang akan difinishing ………………… 317
Gb. 10.2: Dari Stoklak menjadi Selak Putih Batangan ………… 321
Gb. 10.3: Cara Organoleptik …………………………………… 323
Gb. 10.4: Cara Instrumentik …………………………………….. 324
Gb. 10.5: Alat Perlengkapan Politur ……………………………… 325
Gb. 10.6: Memilih Kuas …………………………………………… 325
Gb. 10.7: Memilih Kaos Perca …………………………………… 326
Gb. 10.8: Sistem Politur Natural ………………………………… 327
Gb. 10.9: Sistem Politur Warna Transparan ………………….. 331
Gb. 10.10: Cara Membuat Larutan Politur …………………… 333
Gb. 10.11: Sistem Politur Kedap Warna ……………………… 334
Gb. 10.12: Proses Politur Kedap Warna ……………………… 335
Gb. 10.13: Finishing Ulang Politur Lama & Rusak …………… . 338
Gb. 10.14. Ford Cup 4 dengan Rangka Kaki ............................. 342
Gb. 10.15. Pengukuran Viscositas dengan Ford Cup 4 ............. 342
Gb. 10.16. Penampang Ford Cup 4 ............................................ 343
Gb. 10.17. Ford Cup 4 dan NK 2 ………………………………… 344
LAMPIRAN C
C 15
Gb. 10.18. Mengukur Viscositas dengan Ford Cup 4 secara
benam angkat ............................................................ 344
Gb. 10.19. Bagian-bagian Spray Gun .......................................... 345
Gb. 10.20. Mengatur Bidang Pancar Spray-gun ......................... 346
Gb. 10.21. Pengatur Volume Bahan yang Keluar ........................ 347
Gb. 10.22. Potongan Belah Spray-gun dan Fungsi
Bagian-bagiannya ...................................................... 347
Gb. 10.23. Aplikasi Jenis Pancaran pada Bidang Kerja................ 348
Gb. 10.24. Jarak Semprot .…………………………………………. 349
Gb. 10.25. Sudut Semprot ……………………………………......... 350
Gb. 10.26. Pemegangan Pistol Semprot ………………………….. 350
Gb. 10.27. Latihan Kecepatan Penyemprotan ……………………. 351
Gb. 10.28. Mengukur Volume Bahan yang Keluar ......................... 352
Gb. 10.29. Penyemprotan dengan Metode Tumpang Lapis .......... 353
Gb. 10.30. Kalibrasi Tekanan Udara pada Pistol Semprot ............ 354
Gb. 10.31. Ford Cup 4 ............................................................... .. 355
Gb. 10.32. Sistem Melamine Warna Transparan .......................... 356
Gb. 10.33. Sistem Melamine Warna Enamel ................................. 357
Gb. 10.34. Sistem Alkyd Synthetic Resin Enamel (Cat Enamel)..... 358
Gb. 10.35. Ruang Penyemprotan ………………………………….. 359
LAMPIRAN D
D
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1. Beberapa Penyakit Akibat Kerja ........................................ 6
Tabel 2.1. Singkatan bahan kayu ....................................................... 28
Tabel 2.2. Singkatan bahan lembaran ................................................ 28
Tabel 2.3. Singkatan bahan sintetis ................................................... 29
Tabel 2.4. Contoh Formulir Daftar Komponen ..................................... 38
Tabel 2.5. Contoh Formulir Kalkulasi Harga ……………………… 39
Tabel 3.1. Persyaratan teknis kayu untuk berbagai penggunaan ….. 47
Tabel 3.2. Pembagian Kelas Kuat Kayu ……………………………… 48
Tabel 3.3. Umur pemakaian kayu pada berbagai keadaan dan
pengaruh serangan serangga terhadap 5 kelas awet …. 49
Tabel 10.1. Jenis Noda dan Cara Menghilangkannya ....................... 318
Tabel 10.2. Kelompok Alkohol .......................................................... 324
Tabel 10.3. Metode Pengukuran Kekentalan .................................... 339

0 komentar: