____ Baca Baca: SMK 10 Kriya Tekstil_Budiono Html BSE_______welcome
Memuat...
Share |

Kamis, 25 Februari 2010

SMK 10 Kriya Tekstil_Budiono Html














Budiyono dkk
KRIYA TEKSTIL
SMK
JILID 1
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
KRIYA TEKSTIL
Untuk SMK
JILID 1
Penulis : Budiyono
Widarwati Sudibyo
Sri Herlina
Sri Handayani
Parjiyah
Wiwik Pudiastuti
Syamsudin
Irawati
Parjiyati
Dwiyunia Sari Palupi
Perancang Kulit : TIM
Ukuran Buku : 17,6 x 25 cm
Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
BUD BUDIYONO
k Kriya Tekstil untuk SMK Jilid 1 /oleh Budiyono, Widarwati
Sudibyo, Sri Herlina, Sri Handayani, Parjiyah, Wiwik Pudiastuti,
Syamsudin, Irawati, Parjiyati, Dwiyunia Sari Palupi ---- Jakarta :
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,
Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
viii, 176 hlm
Daftar Gambar : Lampiran.A
Glosarium : Lampiran.B
Daftar Pustaka : Lampiran.C
ISBN : 978-602-8320-66-5
ISBN : 978-602-8320-67-2
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat
dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen
Pendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan
buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak cipta
buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-buku
pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan
Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk
SMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk
digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus
2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak
cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk
digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download),
digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh
masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial
harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan
oleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan
akan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya para
pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun
sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk mengakses
dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini.
Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan
semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami
menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya.
Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.
Jakarta, 17 Agustus 2008
Direktur Pembinaan SMK

iv
KATA PENGANTAR
Proses pembelajaran di sekolah kejuruan khususnya kriya tekstil sangat
memerlukan buku induk yang bisa menjadi buku pegangan siswa dan
guru pembimbing pada saat dan selama proses pembelajaran kriya tekstil
berlangsung.
Buku induk atau pengantar pendidikan ini disusun berdasar kurikulum
dan kebutuhan referensi di SMK.
Adapun dengan adanya buku ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai
buku pegangan siswa dan guru dalam memahami pembelajaran kriya
tekstil.
Kami menyadari bahwa buku ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh
sebab itu, kritik dan saran kami terima untuk perbaikan dan
pengembangan selanjutnya.
Penulis

v
DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN ...................................................................... iii
KATA PENGANTAR .................................................................... iv
DAFTAR ISI .................................................................................. v
JILID 1
BAB I PENDAHULUAN
A. Sejarah tekstil ................................................................... 1
B. Pengolahan bahan dasar tekstil ...................................... 2
C. Klasifikasi tekstil ............................................................... 12
D. Klasifikasi desain tekstil ................................................... 14
E. Kompetensi kriya tekstil ................................................... 15
F. Ornamen .......................................................................... 16
G. Membuat nirmana ............................................................ 25
H. Prinsip penyusunan unsur seni rupa ............................... 29
I. Eksplorasi garis dan bidang ............................................. 31
J. Menggambar huruf ........................................................... 34
K. Menggambar bentuk ........................................................ 40
L. Membentuk nirmana tiga dimensi .................................... 55
BAB II BAHAN DASAR TEKSTIL
A. Serat tekstil ...................................................................... 61
1. Serat alam ................................................................ 61
2. Serat sintetis ............................................................. 65
B. Zat warna tekstil ............................................................... 66
1. Pengertian warna ..................................................... 66
2. Pencampuran warna ................................................ 67
2.1. Zat warna alam .................................................. 69
2.2. Zat warna sintetis .............................................. 72
BAB III RUANG LINGKUP KRIYA TEKSTIL
Tekstil hias latar
A. Batik ................................................................................. 81
1. Deskripsi batik .......................................................... 81
2. Contoh produk batik ................................................. 95
3. Alat batik ................................................................... 100
4. Bahan batik ............................................................... 108
5. Proses pembuatan produk batik .............................. 117
5.1. Produk batik tulis ........................................... 117
5.2. Contoh pembuatan produk batik tulis ........... 119
vi
5.2.1. Membuat taplak meja tamu dengan teknik
batik tulis ........................................................ 119
5.2.2. Membuat selendang dengan teknik batik
tulis ................................................................. 126
5.2.3. Membuat hiasan dinding pada kain pelepah
pisang ............................................................ 132
5.2.4. Membuat hiasan dinding pada kain katun ..... 143
5.3. Produk batik cap ............................................ 163
5.4. Contoh pembuatan produk batik cap ............ 169
5.4.1. Membuat lembaran kain dengan teknik
Batik cap ........................................................ 169
JILID 2
B. Sulam (bordir) .................................................................. 177
1. Deskripsi sulam ........................................................ 177
2. Contoh produk sulam (bordir) .................................. 186
3. Alat untuk membuat sulam (bordir) .......................... 189
4. Bahan untuk membuat sulam (bordir) sulam ........... 196
5. Proses pembuatan produk sulam ............................ 199
5.1. Membuat taplak meja dengan teknik sulam
menggunakan mesin manual ........................ 199
5.2. Membuat hiasan dinding dengan teknik
sulam.............................................................. 207
5.3. Membuat kerudung dengan teknik sulam ..... 214
5.4. Membuat tas teknik sulam tangan dengan
pita .................................................................. 226
C. Jahit perca ........................................................................ 239
1. Deskripsi jahit perca ................................................. 239
2. Contoh produk jahit perca ........................................ 242
3. Alat jahit perca .......................................................... 244
4. Bahan jahit perca ...................................................... 251
5. Proses pembuatan produk jahit perca ..................... 255
5.1. Membuat sarung bantal teknik jahit perca
tumpang tindih ............................................... 255
5.2. Membuat hiasan dinding teknik perca
jiplakan pola (template) ................................. 262
5.3. Membuat taplak meja makan dengan teknik
jahit perca ...................................................... 269
5.4. Hiasan dinding teknik perca dengan cara
acak ............................................................... 280
vii
D. Jahit tindas dan aplikasi ................................................... 287
1. Deskripsi ................................................................... 287
2. Contoh produk .......................................................... 287
3. Alat ............................................................................ 295
4. Bahan ....................................................................... 307
5. Proses pembuatan produk jahit tindas ..................... 313
5.1. Membuat selimut bayi teknik jahit tindas ...... 313
5.2. Membuat sarung bantal kursi teknik jahit
tindas pengisi lembaran ................................ 320
5.3. Membuat tutup galon dengan teknik efek
bayangan ....................................................... 328
5.4. Membuat sarung bantal santai dengan cara
pengisi tali ...................................................... 344
5.5. Membuat serbet teknik jahit aplikasi standar
........................................................................ 345
5.6. Membuat sarung bantal tidur teknik jahit
aplikasi penambahan renda .......................... 348
5.7. Membuat hiasan pakaian anak dengan
teknik aplikasi potong motif ........................... 354
5.8. Membuat taplak meja teknik jahit aplikasi
lipat potong .................................................... 361
5.9. Membuat lembaran untuk hiasan teknik
jahit aplikasi pengisian .................................. 367
JILID 3
E. Cetak saring ..................................................................... 373
1. Deskripsi cetak saring .............................................. 373
2. Contoh produk cetak saring ..................................... 374
3. Alat cetak saring ....................................................... 375
4. Bahan cetak saring ................................................... 383
5. Proses pembuatan produk cetak saring .................. 389
5.1. Membuat syal dengan teknik pemotongan
(cut put methode/knife cut methode) ............ 389
5.2. Membuat selendang dengan teknik print
satu warna kombinasi colet ........................... 395
5.3. Membuat sarung bantal teknik afdruk
kombinasi tiga warna ..................................... 403
5.4. Membuat kaos (T-Shirt) teknik sparasi
warna ............................................................. 409
5.5. Membuat hiasan dinding teknik sparasi
warna ............................................................. 415
viii
Tekstil struktur
F. Tenun ............................................................................... 421
1. Deskripsi tenun ......................................................... 421
2. Contoh produk tenun ................................................ 423
3. Alat tenun .................................................................. 424
4. Bahan tenun ............................................................. 426
5. Proses pembuatan produk tenun ............................. 428
5.1. Membuat taplak meja .................................... 428
5.2. Membuat selendang ...................................... 444
5.3. Membuat syal ................................................ 448
G. Tapestri ............................................................................ 453
1. Deskripsi tapestri ...................................................... 453
2. Contoh produk tapestri ............................................. 455
3. Alat tapestri ............................................................... 456
4. Bahan tapestri .......................................................... 456
5. Proses pembuatan produk tapestri .......................... 457
5.1. Membuat hiasan dinding ............................... 457
H. Makrame .......................................................................... 465
1. Deskripsi makrame ................................................... 465
2. Contoh-contoh produk makrame ............................. 474
3. Alat makrame ........................................................... 480
4. Bahan makrame ....................................................... 481
5. Proses pembuatan produk makrame ....................... 483
5.1. Membalut guci dengan teknik makrame ....... 483
5.2. Membuat ikat pinggang ................................. 488
5.3. Membuat gantungan pot ............................... 492
5.4. Membuat karpet ............................................. 499
5.5. Membuat tas .................................................. 502
5.6. Membuat hiasan dinding dengan teknik
makrame ........................................................ 505
BAB IV PENUTUP ...................................................................... 509
LAMPIRAN A. DAFTAR GAMBAR
LAMPIRAN B. GLOSARI
LAMPIRAN C. DAFTAR PUSTAKA
Pendahuluan
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Sejarah tekstil
Istilah tekstil dewasa ini sangat luas dan mencakup berbagai jenis kain yang
dibuat dengan cara ditenun, diikat, dipres dan berbagai cara lain yang
dikenal dalam pembuatan kain. Kain umumnya dibuat dari serat yang dipilin
atau dipintal guna menghasilkan benang panjang untuk ditenun atau dirajut
sehingga menghasilkan kain sebagai barang jadi. Ketebalan atau jumlah
serat, kadar pilihan, tekstur kain, variasi dalam tenunan dan rajutan,
merupakan faktor yang mempangaruhi terciptanya aneka kain yang tak
terhitung macamnya.
Pengetahuan dasar tentang tekstil perlu dikuasai oleh siswa SMK
Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan sebagai suatu landasan pengetahuan
dalam mempelajari berbagai keterampilan kerajinan tekstil. Dengan landasan
pemahaman yang baik, proses pelatihan keterampilan akan menjadi lebih
mudah dan juga untuk mengantisipasi perkembangan berbagai teknik baru
dalam kerajinan tekstil.
Awal mulanya manusia berpakaian karena rasa malu (kisah dalam
kitab suci mengenai dosa dari Adam dan Hawa, setelah diketahui Allah telah
melanggar perintahNya, manusia pertama yang semula telanjang mulai
merasa malu karena ketelanjangannya itu dan berusaha mencari daundaunan
sebagai penutup tubuhnya).
Dalam perkembangannya, manusia yang hidup dari berburu mulai
menggunakan kulit hewan buruannya sebagai pakaian. Masa berikutnya,
manusia yang berpakaian bulu/kulit hewan itu berangsur-angsur pindah dari
daerah panas ke daerah dingin (manusia saat itu masih hidup berpindahpindah/
nomaden) dan akhirnya menetap setelah mereka mengenal hidup
bertani untuk kelangsungan hidupnya.
Hal yang berharga dari digunakannya bulu/kulit hewan sebagai
penutup tubuh ini adalah penemuan tidak sengaja kain yang kemudian
disebut lakan/felt. Kain yang semula gumpalan bulu hewan itu digunakan
sebagai penutup telapak kaki manusia primitif yang sangat halus. Karena
terus-menerus digunakan, maka gumpalan bulu itu terkena panas, keringat,
tekanan dari kaki, yang menghasilkan kain-kain tanpa proses tenun.
Penemuan berharga inilah yang mengawali pembuatan kain bukan tenunan,
dari bahan berserabut dan serat buatan.
Kemudian, manusia mulai belajar membuat tambang (yang nantinya
berkembang kearah pembuatan tali dan juga benang) dari tumbuhan rambat
atau disebut “ivy” dan rami atau “flax”. Pembuatan tali/tambang ini adalah
untuk keperluan membuat tempat tidurnya yang pada masa itu digantungkan
Pendahuluan
2
diantara pepohonan besar untuk menghindari serangan binatang buas di
malam hari. Di samping itu untuk keperluan membuat jala penangkap ikan.
Setelah memperoleh keahlian dalam menghasilkan tali/tambang yang
kasar itu, mereka berusaha untuk mendapatkan tali/benang yang lebih tipis.
Usaha mereka adalah dengan menjalin rambut manusia. Suatu pekerjaan
yang tidak ringan namun hasilnya tidaklah sebesar yang diharapkan. Dalam
perkembangannya, manusia menemukan suatu serat halus yang dihasilkan
oleh binatang kecil yaitu ulat sutera. Dari situlah diupayakan pembuatan
benang tenun yang halus. Penemuan yang masih primitif itu kemudian
menjadi prinsip dasar pembuatan kain sutera.
Perkembangan demi perkembangan berlanjut dengan penemuanpenemuan
kecil dari kehidupan sehari-hari manusia primitif ini.
Perkembangan teknik menenun berjalan sejajar dengan keahlian membuat
benang. Penemuan lain pada masa itu antara lain adalah yang berasal dari
serat serabut yang menghasilkan antara lain wol dan katun. Dari penemuan
ini kemudian didapati kenyataan bahwa lebih mudah memintal benang dari
serat serabut daripada serat alamiah. Dengan serat serabut diperoleh
benang yang tidak putus-putus. Dapat disimpulkan bahwasannya hasil
menggintir, memintal dan akhirnya menenun pada masa kini adalah hasil
dari penemuan dari manusia primitif yang berusaha memenuhi
kebutuhannya dengan cara yang sangat sederhana.
B. Pengolahan bahan dasar tekstil
Barang-barang tekstil merupakan hasil akhir dari serangkaian proses yang
berkesinambungan. Pembuatan tekstil dimulai dari satuan terkecilnya, yaitu
serat. Pembuatan tekstil sangat erat kaitannya dengan proses pengolahan
selanjutnya, yaitu pemintalan serat menjadi benang, benang menjadi kain,
hingga akhirnya terwujud kain sebagai suatu produk akhir.
Serat sebagai satuan terkecil dari berbagai jenis tekstil, dibuat dari
bahan dasar khusus yang memiliki panjang dan diameter tertentu, serta
memiliki sifat mikroskopik, fisik dan kimia yang dapat dikenali. Agar cocok
digunakan untuk tekstil, serta harus memiliki panjang yang lebih besar
disbanding dengan diameternya, serat harus lentur serta kuat untuk
menahan ketegangan dalam berbagai proses pembuatan. Serat tersebut
harus murah harganya, mudah diperoleh dan harus selalu tersedia.
Disamping itu, serat harus sesuai untuk segala suasana, baik suhu maupun
tekstur, memiliki sifat menyerap bahan celup, nyaman dipakai dan mudah
dibersihkan dengan cara tertentu. Biasanya serat-serat diklasifikasikan
menurut asal-usulnya, yaitu serat alamiah (serat yang berasal dari sumber
alam) dan serat buatan atau serat sintetis (dibuat oleh manusia dengan
metode tertentu).
Serat bisa berbentuk pendek, seperti kapas, atau sangat panjang
seperti serat sutera dan filamen. Filamen dapat digunakan sebagaimana
adanya karena panjangnya yang luar biasa. Tetapi, serat yang lebih pendek
seperti kapas harus melalui proses permintaan agar panjangnya memadai.
Sejumlah proses harus dilakukan untuk mempersiapkan serat agar bias
Pendahuluan
3
dimanfaatkan dalam berbagai system pemintalan yang dewasa ini
digunakan.
Serat yang telah diolah akan menjadi benang (yarn) dan merupakan
bahan dasar utama yang digunakan dalam pembuatan kain. Benang
berwujud helaian panjang, yang dibuat dari jalinan dan pengelompokan serat
atau filamen, untuk digunakan dalam tenunan, rajutan, atau pemrosesan
lainnya agar menjadi kain.
Gb.1. 1. Skema pengolahan bahan dasar tekstil
Serat
Memintal
Benang
Mencelup Benang
Tekstil Struktur
Menenun Merajut Merenda Membuat Makrame
Barang Jadi Kain
Barang jadi
Tekstil Hias Latar
Membatik Menjahit Menyulam
Menyablon /
Mencetak Saring
Mencelup
Kain
Barang Jadi
Pendahuluan
4
1. Serat
Industri tekstil mempergunakan bermacam-macam serat, baik serat-serat
yang langsung diperoleh dari alam maupun serat-serat buatan untuk bahan
bakunya. Sebagai bahan baku, serat tekstil memegang peranan yang sangat
penting, karena sifat serat menentukan sifat bahan tekstil jadinya. Disamping
itu proses pengolahan yang dilakukan pada serat tekstil harus didasarkan
pula pada sifat-sifat seratnya. Pembuatan serat menjadi benang harus
melalui serangkaian proses, diantaranya carding (penyikatan), combing
(penyisiran), spinning (pemintalan), dan sizing (penganjian).
1.1. Carding (Penyikatan)
Serat alami biasanya bersumber dari bulu domba yang disebut fleece dan
serat kapas. Sebagai bahan mentah, serat tersebut mungkin masih kotor
karena tercampur aduk dengan helaian dan tangkai daun atau benda asing
lainnya. Oleh sebab itu, serat tersebut harus dibersihkan terlebih dahulu.
Setelah itu, serat akan disikat guna menyingkirkan benda asing yang
mungkin masih melekat, dan memisahkannya. Penyikatan juga berfungsi
untuk memisahkan serat yang pendek dan serat yang panjang sehingga
ketika dibentangkan secara paralel satu sama lain serat tersebut akan lebih
rata.
Tujuan proses carding adalah memisahkan serat menjadi elemen
tunggal dan menjajarkan serat sejajar mungkin satu sama lain. Proses
carding sangat penting dalam tahap pemintalan karena akan mempengaruhi
mutu hasil akhir.
1.2. Combing (Penyisiran)
Proses penyisiran melanjutkan langkah pembersihan dan penyortiran yang
sudah dimulai dalam tahap penyikatan. Serat-serat tersebut diluruskan
sehingga terbentang secara parallel (sejajar). Penyisiran sangat tergantung
pada jenis kain yang akan dibuat dengan serat tersebut. Biasanya serat
bermutu baik adalah yang berukuran lebih panjang dan bila disisir akan
menghasilkan benang yang lebih halus dan rata. Untuk memperoleh hasil
yang lebih halus dan rata, serat berserabut panjang tadi dapat disisir lebih
dari sekali. Serat berserabut pendek yang dipisahkan pada tahap penyikatan
biasanya tidak dibuang. Serat itu masih diolah menjadi benang, tetapi
hasilnya tidak sehalus berserabut panjang.
Istilah disikat dan disisir dalam produk tekstil biasanya ditujukan untuk
benang yang terbuat dari kapas. Benang hasil penyisiran serat beurukuran
panjang lebih kuat dan menghasilkan kain lebih baik dan permukaanya lebih
halus tetapi kuat, semuanya disisir. Jika akan digunakan untuk membuat kain
wol, serat tersebut hanya disikat. Tetapi jika dipergunakan untuk membuat
benang wol serat harus disikat dan disisir. Benang wol biasanya lebih
pendek dan lebih halus dari pada benang wool yang tidak diluruskan dalam
penyisiran. Jika benang tersebut telah menjadi kain wol, permukaannya
umumnya lunak, seperti permukaan halus kain flannel dan tweed.
Pendahuluan
5
Sedangkan kain wol seperti kain gabardin, kain kepar atau kain krep tampak
halus permukaannya namun terasa kaku.
1.3. Spinning (Pemintalan)
Selama proses pemintalan, serabut-serabut kapas dijalin untuk membentuk
benang yang akan saling melekat, sehingga cukup kuat untuk memasuki
tahapan selanjutnya, sebagai rangkaian proses pembuatan kain. Benang
tersebut dapat dipilin ke kiri (simpul s) atau ke kanan (simpul z) atau arah
pilinannya dapat berganti sesuai dengan jenis benang yang ingin dihasilkan.
Jumlah pilinan biasanya diukur dengan jumlah putaran pada panjang yang
ditentukan, biasanya satu inci.
Jika benang wol yang akan dirajut menjadi sebuah sweater halus,
maka hanya diperlukan sedikit pilinan dibandingkan dengan benang wol
worsted yang dirancang untuk menenun kain ketat dan kuat seperti
gabardine atau kain kepar. Kain krep yang memiliki permukaan tidak teratur,
dibuat dari benang yang dipilin dengan ketat. Permukaan kasar yang
dihasilkan oleh kain krep tersebut disebabkan oleh pilinan yang ketat.
Benang yang telah dipilin akan terlihat dari jumlah helaian yang telah
dikombinasikan selama proses pemintalan. Sehelai benang terdiri dari
beberapa serat yang telah terpilin dengan sendirinya. Sedangkan helaian
benang terdiri dari dua helai benang atau lebih yang telah dipilin secara
bersamaan. Benang bias juga dibuat dari serat buatan, biasanya
diklasifikasikan sebagai benang monofilament dan multifilament (terbuat dari
sejumlah filamen yang dipilih bersamaan). Pilihan benang bisanya lebih
kokoh dan lebih kuat disbanding benang satuan.
Pemintalan serat alam, khususnya serat kapas terdiri dari proses cara
tradisional dan mekanisasi/mesin.
Cara tradisional, meliputi proses penarikan serat kapas sedikit demi
sedikit sambil diputar untuk memberikan ikatan antara serat hingga menjadi
panjang tertentu sesuai kebutuhan, kemudian digulung pada tempatnya.
Cara mekanisasi/mesin, meliputi proses yang menggunakan mesin
sebagai berikut:
• Blowing, adalah proses pembukaan biji kapas, kemudian
dibersihkan, lalu dicampur dan hasilnya berupa lap.
• Carding, adalah proses pembersihan penguraian serat, pemisahan
serat yang panjang dengan serat yang pendek serta merubah
bentuk lap menjadi sliver.
• Drawing, adalah proses perangkapan, penarikan dan peregangan
serat-serat dan membuat sliver yang lebih rata
• Roving, adalah proses penarikan, pemberian putaran/twist,
penggulungan dan hasilnya berupa roving.
• Ring Spinning, adalah proses penarikan, pemberian putaran/twist,
penggulungan dan hasilnya berupa benang
• Winding, proses penggulungan benang menjadi bentuk gulungan
yang lebih besar sambil menghilangkan bagian yang lemah dan
tidak rata.
Pendahuluan
6
Pemintalan serat buatan, yang terbentuk dari polimer-polimer, baik
yang berasal dari alam maupun buatan hasil proses kimia yang sederhana.
Semua proses pembuatan serat buatan/sintetis dilakukan dengan
menyemprotkan polimer yang terbentuk cairan melalui lubang-lubang kecil
(spineret).
1.4. Sizing (Penganjian)
Menganji berbagai jenis benang merupakan pekerjaan yang sangat rumit,
karena tidak semua serat mengggunakan sistem pengukuran yang sama.
Pada benang pintal, jumlah ukuran, atau perhitungannya didasarkan pada
berat dan panjang benang tersebut.
Penganjian sutra juga berdasarkan pada yard gulungan benang.
Benang wol (wool) menggunakan 300 yard sedangkan pengajian benang
worsted berdasarkan pada gulungan 560 yard. Pengajian benang kapas
dihitung berdasarkan jumlah gulungan yang panjangnya 840 yard. Pada
benang filamen, ukurannya ditentukan oleh ukuran lubang-lubang pada
spinneret dan juga jumlah larutan, yang dimasukkan melalui spinneret
tersebut.
Pengajian benang lusi adalah proses paling penting dalam pertenunan
karena hasilnya akan mempengaruhi effisiensi tenunan dan mutu hasilnya.
Pemilinan bahan kanji yang sesuai juga penting. Pengajian lusi bertujuan
untuk memperbaiki sifat tenunan, rupa, dan rabaan (handling), dan
menimbang kain. Benang yang telah dikanji akan terikat bulu-bulu
benangnya, mempertinggi kekuatan dan kekenyalan serta kelicinan
permukaan benang yang akan mengalami gesekan pada waktu menenun.
2. Benang
Benang adalah hasil akhir daripada proses pemintalan baik berupa benang
alam antara lain benang kapas/katun, ataupun benang buatan antara lain
benang nilon, poliester, sesuai dengan asal dari seratnya. Benang umumnya
digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu benang dasar (simple yarns),
benang hias (novelty yarns) dan benang bertek stur. Sebenarnya, terdapat
berbagai variasi di dalam ketiga kategori benang tersebut, namun yang
diuraikan pada bagian ini hanyalah informasi dasar saja.
2.1. Benang dasar (simple yarns)
Benang dasar adalah jenis yang paling sederhana. Meskipun benang ini
mungkin terbuat dari satu serat yang sama atau serat campuran, jumlah
pilinan pada keseluruhan panjangnya sama dan jenis ini tampak cukup
lembut serta rata. Kain yang terbuat dari benang dasar satu ukuran dengan
kandungan serat yang sama, akan menghasilkan tenunan yang lembut
permukaannya namun kurang bervariasi. Sedangkan benang dasar yang
dipilih dengan cara berlainan, atau benang dasar yamg memiliki kandungan
serat berbeda, dapat dikombinasikan dalam proses menenun untuk
menghasilkan kain dengan efek permukaan yang beragam. Dengan ini,
Pendahuluan
7
dapat dilakukan berbagai kombinasi sehingga menghasilkan jenis kain yang
bervariasi.
2.2. Benang hias (novelty yarns)
Benang hias biasanya dibuat berpilin dua, meskipun terdapat beberapa jenis
khusus yang diperoleh dari benang tunggal. Benang khusus jenis ini dibuat
dari dua benangtunggal atau lebih.
Benang tunggal pertama berfungsi sebagai “dasar” atau “inti” dan
menjadi tempat membelitnya benang-benang tunggal lainnya. Benang
tunggal kedua akan menciptakan efek-efek khusus. Benang ketiga,
menyatukan kedua benang pertama. Bila benang dasar dibuat halus dan
rata, sebaliknya dengan benang hias dibuat tidak teratur, kadang-kadang
tidak rata, agar bisa menghasilkan kain dengan permukaan dan tekstur yang
tidak lazim.
Benang-benang hias dapat menghasilkan berbagai kain yang menarik,
tetapi kain tersebut biasanya kurang enak dipakai dibanding dengan kain
permukaan halus. Ikatan pada boucle misalnya, mudah robek. Semnetara
bagian yang lebih tinggi yang terbuat dari simpul-simpul tampak lebih usang
dibanding kain halus bagian belakangnya. Terdapat banyak variasi pada
benang hias, tetapi yang paling umum digunakan adalah jenis slubbed,
looped, dan knotted spiral.
2.2.1. Benang slubbed (slubbed yarns)
Benang slubbed dibuat dengan mengubah kadar pilih yang digunakan
sehingga selembar benang akan tampak lebih halus. Pada helaian benang,
slub dapat dibentuk dalam satu benang, sementara benang-benang lainnya
digunakan untuk menahan slub itu ke bawah. Benang yang digunakan untuk
jenis kain shantung merupakan jenis slubbed dan permukaannya yang tidak
rata dibuat oleh slub benang.
BENANG DASAR
(SIMPLE YARNS)
BENANG BENANG HIAS
(NOVELTY YARNS)
BENANG BERTEKSTUR
• BENANG SLUBBED (SLUBBED YARN)
• BENANG IKAL (LOOPED YARNS)
• BENANG BERSIMPUL (KNOTTED/NUBBED YARNS)
• BENANG SPIRAL
Gb.1. 2 Klasifikasi benang
Pendahuluan
8
2.2.2. Benang ikal (looped yarns)
Benang jenis ini dibuat dengan ikatan penuh pada interval yang teratur.
Boucle, merupaka salah satu contoh benang ikal yang kerap kali digunakan
untuk pakaian wanita.
2.2.3 Benang bersimpul (knotted/nubbed yarns)
Benang semacam ini dibuat dengan mengatur mesin pemintalnya sehingga
mesin tersebut akan melilit benang dengan sendirinya secata terus menerus
di satu tempat, hingga terbentuk suatu simpul. Kadangkala, benang ini dibuat
dengan dua warna, dan simpul yang terjadi hanmya dalam satu warna. Kain
yang ditenun dengan benang dua warna itu akan tampak memiliki bintik
berwarna yang jelas pada dasarnya.
2.3. Benang spiral
Benang spiral dapat diperoleh dengan memilin dua benang yang memiliki
ketebalan berbeda. Biasanya, benang bermutu memiliki pilinan lebih tinggi
dan lebih baik daripada yang kasar dan benang yang lebih kasar melilit
benang yang lebih baik. Berbagai variasi dapat dilakukan tergantung pada
efek yang dikehendaki pada kain yang akan dibuat.
2.4. Benang bertekstur
Benang bertekstur umumnya dihasilkan dari serat thermoplastic (serat yang
bentuknya dapat diatur oleh panas, yang diterapkan pada proses
pembuatannya). Serat-serat buatan mampu menyesuaikan diri terhadap
panas.
Pada bagian terdahulu telah diuraikan bahwa benang akan melalui
proses penyisiran agar menjadi lurus, sehingga pada saat dibentangkan
akan rapi ke satu arah. Pada benang bertekstur serat-serat justru sengaja
diacak, sehingga pada saat dibentangkan menjadi tidak sama. Benang
bertekstur dapat diikalkan pada sati sisi atau kedua-duanya, digulung, dilipat,
atau dikerut atau diolah menjadi bulu-bulu halus (agar mengembang). Panas
yang diterapkan pada titik tertentu ketika proses pembuatan berlangsung
akan menghasilkan tekstur yang dikehendaki pada benang. Benang bahkan
dapat dirajut menjadi kain, yang setelah dipanaskan lalu ditutup sehingga
benang yang dihasilkan akan memiliki bentuk dan akan mempengaruhi
permukaan kain yang dibuat dengan benang bertekstur.
3. Pencelupan Benang
Pencelupan benang, adalah proses mewarnai/memberi warna pada benang
secara merata. Untuk proses ini tidak harus dilakukan, hanya pada benangbenang
yang diperlukan berwarna, sedangkan untuk benang yang putih atau
natural tidak perlu dicelup.
Pendahuluan
9
Pewarna benang yang dipergunakan harus sesuai dengan jenis
benang yang akan dipergunakan, untuk benang yang berasal dari serat alam
dipergunakan zat warna alam dan sintetis yang sesuai untuk serat alam,
sedangkan untuk benang yang berasal dari serat sintetis dipergunakan zat
warna yang sesuai dengan serat sintetis.
4. Tekstil Struktur
Tekstil struktur adalah tekstil yang terbentuk dari jenis benang/serat yang
melalui proses tertentu hingga membentuk struktur.
5. Pertenunan
Pertenunan adalah persilangan antara dua benang yang terjalin saling tegak
lurus satu sama lainnya, yang disebut benang lusi dan benang pakan, yang
akhirnya menghasilkan lembaran kain.
Benang lusi adalah benang yang arahnya vertikal atau mengikuti
panjang kain, sedangkan benang pakan adalah benang yang arahnya
horisontal atau mengikuti lebar kain. Pada umumnya proses pertenunan
meliputi :
�� Pembuatan benang lusi, biasa disebut penghanian yaitu pengaturan
dan penyusunan jumlah benang lusi sesuai panjang dan lebar kain
yang akan dibuat sesuai desain.
�� Pembuatan benang pakan, yaitu menggulung benang pada alat
yang akan dipergunakan sebagai benang pakan.
�� Pencucukan pada gun dan sisir, yaitu proses benang lusi yang
sudah berada pada bum lusi, dimasukan/dicucukan satu persatu
kedalam mata gun lalu kedalamn celah-celah saisir dengan
menggunakan pisau cucuk.
�� Penyetelan, yaitu memasang benang lusi pada alat tenun sehingga
benang dapat ditenun.
�� Pertenunan, yaitu proses memasukan benang pakan diantara
benang lusi. Untuk proses ini dapat dipergunakan ATBM (Alat
Tenun Bukan Mesin) atau ATM (Alat Tenun Mesin).
6. Perajutan
Perajutan adalah salah satu proses untuk mendapatkan lembaran kain yang
dihasilkan dari jeratan-jeratan benang yang bersambung satu sama lainnya,
dimana letak jeratan-jeratan ini teratur merupakan suatu deretan. Cara yang
dipergunakan untuk membuat jeratan-jeratan benang terdiri dari:
• Cara tradisional, menggunakan jarum rajut yang terdiri atas dua
batang yang terbuat dari kayu, bambu, plastik atau besi yang
berbentuk bulat kecil sepanjang 40 cm, yang runcing pada salah
satu ujungnya. Dengan gerakan-gerakan yang sederhana alat-alat
ini digerakkan dengan tangan untuk mengambil benang dan
Pendahuluan
10
selanjutnya membentuk rajutan. Alat ini masih digunakan hingga
kini, tetapi terbatas untuk kerajinan tangan saja.
• Cara mesin, sebagai pembentuk rajutan digunakan mesin rajut
yang menggunakan jarum yang bergerak naik turun untuk
mengambil benang dan membentuknya menjadi rajutan.
7. Renda
Untuk proses ini hampir sama dengan proses perajutan secara tradisional,
hanya alat yang dipergunakan bukan jarum rajut melainkan menggunakan
alat yang disebut hakpen, guna membuat sengkelit dari benang yang saling
berkaitan.
8. Makrame
Makrame yaitu teknik jalinan benang atau tali dengan menggunakan
bermacam-macam simpul.
9. Kain
Kain adalah lembaran-lembaran hasil dari proses pertenunan, perajutan,
yang masih dapat dilanjutkan dengan proses lanjutan sesuai dengan yang
diinginkan, antara lain proses batik, sablon dan jahit.
10. Tekstil Hias Permukaan
Tekstil hias permukaan pada prinsipnya memberikan atau membuat unsur
hias pada suatu permukaan, dalam hal ini permukaan kain tekstil.
11. Batik
Secara keteknikan, membatik adalah suatu cara penerapan corak di atas
permukaan kain dengan canting/cap melalui proses tutup celup dan atau
colet dengan lilin batik sebagai perintang pewarnaan.
12. Pencelupan Kain
Proses ini sama dengan proses pencelupan benang, hanya saja yang
dicelup/diwarnai bukan benang melainkan lembaran kain. Begitu pula
dengan jenis zat warna yang dipergunakan harus sesuai dengan jenis kain
yang akan dicelup.
13. Sablon/Cetak Saring
Proses pelekatan zat warna secara setempat pada kain, sehingga
menimbulkan corak tertentu. Pada umumnya urutan proses sablon/pencapan
adalah sebagai berikut:
Pendahuluan
11
• Pembuatan screen, melalui tahapan pekerjaan yaitu pemasangan
kain kasa pada rangka screen dan pemindahan gambar dari film
diapositif pada kasa dengan cara penyinaran.
• Persiapan pasta cap, hal ini tergantung dari jenis kain yang akan
dicap harus sesuai dengan jenis zat warna yang akan digunakan,
sama seperti pada proses pencelupan benang/ kain.
• Pencapan kain, pelekatan/pencapan pasta cap pada kain dapat
dilakukan sesuai dengan alat yang akan digunakan.
• Pengeringan, hal ini harus dilakukan untuk menghindari zat warna
keluar dari corak-corak yang ditentukan.
• Fiksasi zat warna, dimaksudkan untuk membangkitkan zat warna,
tergantung pada jenis zat warna yang dipergunakan.
• Pencucian, proses ini berfungsi untuk menghilangkan sisa-sisa
pengental, zat warna yang berlebihan yang tidak terfiksasi.
14. Jahit
Yang termasuk jahit disini meliputi:
• Jahit perca, adalah proses pembuatan suatu karya kerajinan yang
terbuat dari guntingan/potongan kain perca yang digabungkan
dengan cara dijahit sesuai desain.
• Jahit tindas, adalah teknik menghias permukaan kain dengan cara
melapisi/mengisi kain dengan bahan pelapis/pengisi kemudian
dijahit tindas pada permukaan kain.
• Jahit aplikasi, adalah teknik menghias permukaan kain dengan cara
menempelkan guntingan kain pada kain nlainnya kemudian dijahit
dengan tusuk hias sulam.
Pada proses jahit dikenal dua macam, yaitu:
• Jahit tangan, adalah proses menjahit secara manual dengan
mempergunakan tangan untuk menghasilkan suatu karya.
• Jahit mesin, adalah proses menjahit dengan mempergunakan alat
yang dikenal dengan mesin jahit.
15. Sulam
Sulam/bordir adalah suatu teknik yang digunakan untuk membuat hiasanhiasan
pada permukaan kain dengan mempergunakan benang hias sulam,
sedangkan untuk proses pengerjaannya dapat menggunakan tangan atau
mesin.
16. Barang Jadi
Hasil akhir dari proses pengolahan bahan tekstil yang sudah siap
dipergunakan sesuai fungsinya atau siap jual.
Pendahuluan
12
C. Klasifikasi tekstil
1. Kain yang dibuat dari benang
1.1. Metode anyaman (interlacing)
Kain yang dibuat dengan metode anyaman (interlacing) menggunakan
proses pertenunan (weaving). Proses penganyaman dilakukan antara
benang lusi dan pakan yang letaknya saling tegak lurus satu sama lain.
Hasilnya kelak adalah berupa kain tenun. Alat yang lazim digunakan pada
metode anyaman, antara lain gedogan yang dijalankan dengan tangan dan
Alat Tenun Mesin (ATM).
1.2. Metode jeratan (interplooping)
Metode jeratan biasanya menggunakan proses merajut (knitting). Pembuatan
jeratan (loops) pada benang dilakukan dengan menggunakan alat berupa
jarum berkait/berlidah. Hasilnya disebut kain rajut. Kain rajut bersifat elastis,
mudah merenggang, dan porous (berlubang-lubang).
1.3. Metode jalinan (intertwisting)
Kain yang dibuat dengan metode jalinan menggunakan sejumlah proses di
antaranya merenda (crochetting), netting (knotting tatting freevolite) dan lace.
Hasilnya disebut kain renda.
1.4. Metode kepangan (braiding)
Proses yang digunakan dalam metode kepangan adalah dengan melakukan
penganyaman tiga helai benang atau lebih. Bahan benang dapat diganti
DIBUAT DARI BENANG
DIBUAT TIDAK
MENGGUNAKAN BENANG
(MENGGUNAKAN SERAT TEKSTIL)
DIBUAT TANPA
MENGGUNAKAN
BENANG/SERAT/FILAMEN
TEKSTIL
• METODE ANYAMAN (INTERLACING)
• METODE JERATAN (INTERLOOPING)
• METODE JALINAN (INTERTWISTING)
• METODE KEPANGAN (BRAIDING)
• METODE PENGEMPAAN (FILTING)
• METODE PENGEPRESAN (BONDING)
• TEKNIK PENYEMPROTAN (SPRAYED FIBER FABRICKS)
• HASIL PROSES LAMINATING
• KAIN TAPA
• KERTAS
• LEMBARAN PLASTIK DAN FILM
Gb.1. 3 Klasifikasi tekstil
Pendahuluan
13
dengan pita kain. Hasilnya berupa helai pita atau pita tabung, tali sepatu,
parasut dan sebagainya.
2. Kain yang dibuat tidak menggunakan benang
2.1. Metode pengempaan (felting)
Kain hasil pengempaan berwujud susunan kain yang langsung dari serat wol
tanpa jahitan. Serat wol merupakan serat paling ideal yang dikerjakan
dengan menggunakan panas air dan tekanan. Serat wol akan
menggelembung dalam air dan saling berkait satu sama lain. Kedaan itu
akan tetap demikian ketika proses pengempaan dilakukan. Selain yang
terbuat langsung dari serat, ada pula kain laken yang dibuat dari kain
tenunan wol. Kain wol dikerjakan dalam air sabun hangat atau larutan asam
lemah dan diberi tekanan serta putaran sampai mengerut dalam suatu
ukuran yang diinginkan (pengerutan 10-25 persen). Proses ini disebut fulling
atau milling dan dilakukan agar kain wol menjadi lebih padat dan tebal.
2.2. Metode pengepresan (bonding)
Metode bonding merupakan proses pengepresan serat-serat tekstil ke dalam
bentuk lapisan (thin sheet) atau web hingga serat-serat saling melekat satu
sama lain dengan perantaraan adhesive atau plastik. Hasilnya disebut:
bonded fabrics (kain press), web fabrics (kain jaring), dan non-woven fabrics
(kain non-tenun). Bahan-bahan yang paling sering dibuat dengan metode
bonding adalah serat kapas. Selain itu, bahan-bahan seperti rayon, asbes,
asetat, nilon, akrilik , dan poliester juga lazim digunakan. Kadang-kadang kain
wol press dari serat kapas juga digunakan karena sifatnya yang lembut, daya
serap air tinggi, tidak mudah rusak pada waktu basah dan tegangan tarik
rendah. Biasanya, digunakan untuk lap tangan, serbet, saringan, dan lainlain.
2.3. Teknik penyemprotan (sprayed fiber fabrics)
Teknik ini menggunakan cairan lengket (viscous) yang cepat menggumpal,
disemprotkan (spray) dengan tekanan udara yang hasilnya berupa seratserat
yang dikumpulkan di atas suatu permukaan datar berlubang.
2.4. Hasil proses laminating
Cara ini menggunakan beberapa lapis kain tenun yang sudah jadi untuk
direkatkan satu sama lain dengan bahan perekat (adhesive).
3. Kain yang dibuat tanpa menggunakan serat, benang
maupun filame n
Ditinjau dari segi penggunaannya, kini lembaran plastik, film, dan sejenisnya
termasuk juga tekstil.
Pendahuluan
14
3.1. Kain tapa
Kain tapa dibuat dengan menumbuk beberapa lapisan tipis kulit bagian
dalam sejenis pohon Mulberry. Kainnya mirip dengan kertas krep, biasa
digunakan untuk pakaian.
3.2. Kertas
Akhir-akhir ini fungsi kertas diperluas fungsinya sebagai bahan tekstil untuk
pakaian. Kertas banyak pula digunakan untuk bahan pengganti tekstil dalam
perlengkapan rumah tangga.
3.3. Lembaran plastik dan film
Lembaran plastik dan film dibuat melalui metode resin compounding dengan
proses calendaring, hasilnya ada yang berwujud sangat tipis dan transparan
seperti cellophane, dan ada pula yang berat dan tebal. Terdapat pula
lembaran plastik yang menyerupai kulit untuk keperluan pembungkus tempat
duduk dan lain-lain. Ada pula lembaran plastik yang digunakan untuk lapisan
bagian belakang kain tenun atau kain rajut. Selain itu, plastik sudah lazim
digunakan untuk jas hujan.
D. Klasifikasi desain tekstil
1. Desain struktur
Desain struktur adalah desain dari konstruksi tekstil itu sendiri, baik yang
berujud tekstil polos maupun dalam bentuk tekstil bercorak. Pada telstil
bercorak pembuatan corak dilakukan bersamaan dengan proses pembuatan
lembaran tekstil tersebut. Desain struktur meliputi seluruh metode
pembuatan tekstil, yaitu meliputi tekstil yang dibuat dari benang, tekstil yang
dibuat tidak dari benang, dan tekstil yang dibuat tanpa serat benang maupun
filamen.
2. Desain permukaan
Desain permukaan tekstil merupakan desain yang ditujukan untuk
memperkaya corak permukaan kain. Desain tersebut bisa mengambil bentuk
dari benda-benda yang ada di sekeliling manusia atau berbentuk abstrak.
Yang penting, desainnya berkualitas baik dan tidak monoton sehingga ketika
dipandang orang tidak mudah merasa bosan. Biasanya, untuk apa kain itu
akan digunakan, hampir selalu merupakan faktor terpenting dalam
perencanaan pengembangan desain. Bahan-bahan pelapis atau bahan
gorden, misalnya, dapat memliki pola kain yang lebih lebar dibanding dengan
kain untuk pakaian. Pola desain utnuk dasi, juga akan berbeda jenisnya
dengan desain yang direncanakan untuk dicetak di atas meja linen. Hiasan
Pendahuluan
15
pada kain harus dibuat dengan saksama, dan jangan sampai bergulung atau
terlipat.
3. Desain aplikasi produk tekstil
Lazimnya, desain dilaksanakan setelah kain jadi. Meskipun demikian,
terdapat pula produk yang didesain sejak awal sebelum proses finishing
dilakukan.
E. Kompetensi kriya tekstil
Istilah tekstil dewasa ini sangat luas dan mencakup berbagai jenis kain yang
dibuat dengan cara ditenun, diikat, dipres, dan berbagai cara lain yang
dikenal dalam pembuatan kain. Kain pada umumnya dibuat dari serat yang
dipilin atau dipintal guna menghasilkan benang panjang untuk ditenun atau
dirajut sehingga menghasilkan kain sebagai barang jadi. Ketebalan atau
jumlah serat, kadar pilinan, tekstur kain, variasi dalam tenunan, dan rajutan,
merupakan faktor yang mempengaruhi terciptanya aneka kain yang tak
terhitung macamnya.
Pengetahuan dasar tentang tekstil perlu dikuasai oleh siswa SMK
Jurusan Seni Rupa dan Kriya sebagai suatu landasan pengetahuan dalam
mempelajari berbagai keterampilan kriya tekstil. Dengan suatu landasan
pemahaman yang baik, proses pelatihan keterampilan akan menjadi lebih
mudah dan juga untuk mengantisipasi perkembangan berbagai teknik baru
dalam Kompetensi Kriya Teksti:
1. Dasar Kompetensi Kejuruan Kriya tekstil:
• Kompetensi Umum
STRUKTUR
(DILAKSANAKAN
PADA WAKTU
PEMBUATAN KAIN)
PERMUKAAN
(DILAKSANAKAN
SETELAH PEMBUATAN
KAIN SELESAI)
DESAIN APLIKASI
PRODUK TEKSTIL
DESAIN
TEKSTIL
•ANYAMAN TENUN
• JERATAN KNITTING
• JALINAN RENDA
• BRAIDING ANYAMAN PITA
• SEWING KNITTING
• BATIK
• PRINTING
•SULAMAN
• BORDIR
•SONGKET
• PAKAIAN
• TEKSTIL KEBUTUHAN RUMAH TINGGAL
(HOME FURNIISHING)
• KAIN KEBUTUHAN RUMAH TANGGA
(HOUSEHOLD LINENS)
• TEKSTIL PADA BIDANG LAIN
Gb.1. 4 Klasifikasi desain tekstil
Pendahuluan
16
• Kompetensi Umum Bidang Kriya Tekstil
2. Kompetensi Kejuruan Kriya Tekstil:
• Kriya Tekstil Batik
• Kriya Tekstil Sulam
• Kriya Tekstil Jahit Perca
• Kriya Tekstil Jahit Tindas dan Aplikasi
• Kriya Tekstil Cetak Saring
• Kriya Tenun/Tapestry
• Kriya Tekstil Makrame
F. Ornamen
1. Pengertian ornamen secara umum
Istilah ornamen berasal dari kata ornare (bahasa Latin) yang berarti
menghiasi. Sedang dalam bahasa Inggris ornament berarti perhiasan.
Secara umum ornamen adalah suatu hiasan (elemen dekorasi) yang
diperoleh dengan meniru atau mengembangkan bentuk-bentuk yang ada di
alam.
Ornamen merupakan salah satu bentuk karya seni rupa yang banyak
dijumpai dalam masyarakat kita, baik dalam bangunan, pakaian, peralatan
rumah tangga, perhiasan benda dan produk lainnya. Keberadaan ornamen
telah ada sejak zaman prasejarah dan sampai sekarang masih dibutuhkan
kehadirannya sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan manusia akan rasa
keindahan. Di samping tugasnya sebagai penghias secara implisit
menyangkut segi-segi keindahaan, misalnya untuk menambah keindahan
suatu benda sehingga lebih bagus dan menarik, di samping itu dalam
ornamen sering ditemukan pula nilai-nilai simbolik atau maksud-maksud
tertentu yang ada hubungannya dengan pandangan hidup (falsafah hidup)
dari manusia atau masyarakat pembuatnya, sehingga benda-benda yang
diterapinya memiliki arti dan makna yang mendalam, dengan disertai
harapan-harapan yang tertentu pula.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ornamen adalah
ungkapan perasaan yang diwujudkan dalam karya seni rupa yang diterapkan
sebagai pendukung konstruksi, pembatas, simbol, dengan tujuan utama
menambah keindahan benda yang ditempati. Sedangkan corak dari ornamen
kebanyakan lebih bersifat dekoratif (menghias).
2. Menggambar ornamen primitif
2.1. Pengetahuan tentang ornamen primitif
Seni hias primitif berkembang pada zaman prasejarah, yang mana tingkat
kehidupan manusia pada masanya sangat sederhana sekali dan sekaligus
merupakan ciri utama, sehingga manusianya disebut orang primitif. Hal ini
berpengaruh dalam kebudayaan yang mereka hasilkan. Mereka menghuni
Pendahuluan
17
goa-goa, hidup berpindah-pindah (nomaden) dan berburu binatang. Di
bidang kesenian, seni hias yang dihasilkan juga sangat sederhana, namun
memiliki nilai yang tinggi sebagai ungkapan ekspresi mereka. Peninggalan
karya seni yang dihasilkan berupa lukisan binatang buruan, lukisan cap-cap
tangan yang terdapat pada dinding goa, seperti pada dinding gua Leangleang
di Sulawesi Selatan. Selain karya lukisan, terdapat juga hiasan-hiasan
pada alat-alat berburu mereka yang berupa goresan-goresan sederhana.
Karya seni yang dihasilkan hanya merupakan ekspresi perasaan mereka
terhadap dunia misterius atau alam gaib yang merupakan simbolis dari
perasaan-perasaan tertentu, seperti perasaan takut, senang, sedih, dan
perasaan damai. Ciri-ciri lain dari seni primitif yaitu goresannya spontan,
tanpa perspektif, dan warna-warnanya terbatas pada warna merah, coklat,
hitam, dan putih.
2.2. Penempatan ornamen primitif pada sebuah bidang
Secara garis besar motif yang digunakan untuk menyusun sebuah ornamen
dibedakan menjadi dua, yakni motif geometris dan motif organis. Motif
geometris adalah bentuk-bentuk yang bersifat teratur, terstruktur, dan
terukur. Contoh bentuk geometris adalah segitiga, lingkaran, segiempat,
polygon, swastika, garis, meander, dan lain-lain. Contoh motif geometrik:
Motif meander
Motif pilin
Motif tumpal
2.3. Konsistensi pengulangan bentuk yang diterapkan pada ornamen
primitif
Teknik full repeat: menciptakan ornamen dengan
menyusun motifnya melalui pengulangan secara
penuh dan konsisten
Gb.1. 5 Penempatan ornamen primitif pada sebuah bidang
Pendahuluan
18
Teknik full drop repeat: teknik penciptaan ornamen
dengan menyusun motifnya melalui pengulangan
yang digeser/diturunkan kurang dari setengahnya.
Dalam arti penempatan motif selalu diturunkan
kurang dari setengah posisi motif sebelumnya.
Teknik full half repeat: teknik penciptaan ornamen
dengan menyusun motifnya melalui pengulangan
yang digeser/diturunkan setengahnya. Dalam arti
penempatan motif selalu diturunkan setengah dari
posisi motif sebelumnya.
Teknik rotasi: teknik penciptaan ornamen dengan
menyusun motifnya secara berulang, memutar
bertumpu pada satu titik pusat.
Teknik reverse: teknik penyusunan motif pada
ornamen dengan cara berhadap-hadapan atau
berlawanan arah sejajar satu dengan yang lain.
Teknik interval: teknik penyusunan ornamen
dengan menempatkan motifnya secara selangseling
menggunakan dua motif berbeda.
Pendahuluan
19
Teknik random: teknik penyusunan motif
secara acak tanpa ada ikatan pola tertentu.
Beberapa pola ditempatkan secara menyebar
bebas.
3. Menggambar ornamen tradisional dan klasik
3.1. Latar belakang sejarah ornamen tradisional dan klasik
Sejarah kehidupan manusia menunjukkan bahwa perkembnagan seni
sejalan dengan perkembangan penalaran pandangan hidup manusia. Hal ini
dibuktikan dengan adanya warisan budaya yang turun temurun, diantaranya
adalah seni ornamen atau seni hias yang mampu hidup dan berkembang di
tengah masyarakat dan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Seni
ornamen merupakan suatu ungkapan perasaan yang diwujudkan dalam
bentuk visual sebagai pelengkap rasa estetika dan pengungkapan simbolsimbol
tertentu.
Ornamen tradisional merupakan seni hias yang dalam teknik maupun
pengungkapannya dilaksanakan menurut aturan-aturan, norma-norma serta
pola-pola yang telah digariskan terlebih dahulu dan telah menjadi suau
kesepakatan bersama yang akirnya diwariskan secara turun temurun.
Sesuai dengan pengertian tersebut, maka setiap karya seni yang telah
mengalami masa perkembangan dan diakui serta diikuti nilainya oleh
masyarakat merupakan suatu tradisi, adat kebiasaaan dan pola aturan yang
harus ditaati, baik teknik maupun pengungkapannya.
Perjalanan sejarah ornamen tradisional sudah cukup lama
berkembang. Berbagai macam pengaruh lngkungan dan budaya lain justru
semakin menambah perbendaharaan senirupa, khususnya seni ornamen
atau seni hias, sehingga munculah berbagai ornamen yang bersifat etnis dan
memiliki ciri khas tersendiri.
Ornamen tradisional yang masih hidup di masyarakat, memiliki ciri
khas tertentu, antara lain:
• Homogen (ada keseragaman)
• Kolektif (sekumpulan motif dari beberapa daerah yang membentuk
menjadi satu kesatuan utuh sebagai motif daerah tertentu)
• Komunal (motif yang dimiliki oleh daerah tertentu)
• Kooperatif (kemiripan motif yang diapakai oleh masyarakat dalam
daearah tertentu)
• Konsevatif
• Intuitif
Gb.1. 6 Konsistensi pengulangan bentuk
pada ornamen primitif
Pendahuluan
20
• Ekologis
• Sederhana
Ciri khas tersebut dapat dilihat dari penggunaan istilah motif geometris
dan organis yang diterapkan pada suatu bidang benda, baik dua dimensi
maupun tiga dimensi. Motif-motif tersebut memiliki fungsi sebagai elemen
dekorasi dan sebagai simbol-simbol tertentu. Bentuk seni ornamen dari
masa ke masa mengalami perubahan, seiring dengan tingkat perkembangan
pola pikir manusia tentang seni dan budaya. Dalam hal demikian terjadilah
suatu proses seleksi budaya yang dipengaruhi oleh peraturan dan normanorma
yang berlaku di masyarakat. Ornamen yang diminati akhirnya tetap
dilestarikan secara turun-temurun dan mejadi ornamen tradisional, yaitu seni
hias yang dalam teknik maupun pengungkapannya dilaksanakan menurut
peraturan, norma, dan pola yang telah digariskan lebih dahulu dan menjadi
kesepakatan bersama serta telah diwariskan secara turun-temurun.
3.2. Ornamen tradisional dan klasik yang ada di Indonesia
Bentuk seni ornamen dari masa ke masa mengalami perubahan, seiring
dengan tingkat perkembangan pola pikir manusia mengenai seni dan
budaya. Dalam hal demikian terjadilah suatu proses seleksi budaya,yang
dipengaruhi oleh peraturan dan norma-norma yang berlaku dimasyarakat.
Konsekuensinya ialah adanya bentuk ornamen yang tetap diakui dan
diminati oleh masyarakat serta adanya bentuk ornamen yang tidak diminati
oleh masyarakat.
Ornamen yang diminati akhirnya tetap dilestarikan secara turun-temurun
dan menjadi ornamen tradisional, yaitu seni hias yang dalam teknik maupun
pengungkapannya dilaksanakan menurut peraturan, norma, dan pola yang
telah digariskan lebih dahulu dan menjadi kesepakatan bersama serta telah
diwariskan secara turun-temurun. Contoh ornamen tradisional dengan motif
geometris, ialah ornamen yang diterapkan pada motif kain seperti: motif
kawung, parang rusak, dan Truntum. Motif merupakan jenis bentuk yang
dipakai sebagai titik tolak/gagasan awal dalam pembuatan ornamen, yang
berfungsi untuk menunjukkan perhatian, mengenali, dan memberikan kesan
perasaan. Beberapa bentuk ornamen tradisional yang ada di daerah di
Indonesia:
Ornamen daerah Bali Ornamen daerah Jawa timur
Pendahuluan
21
Ornament daerah Surakarta Ornamen daerah Yogya
Ornamen daerah Yogya Ornamen dari Pekalongan
Jawa tengah
Ornamen dari Pajajaran
Jawa barat
Ornamen dari Jepara
jawa tengah
Pendahuluan
22
Ornamen dari Dayak Kalimantan Ornamen daerah Sumatra
Ornamen dari Sulawesi
Ornamen daerah Nusa Tenggara
Ornamen daerah Timor Ornamen daerah Irian
Sumber: Ngurah Swastapa, Ornamen Tradisional dan
Modern.2002
Gb.1. 7 Berbagai bentuk ornamen tradisional
Pendahuluan
23
4. Menggambar ornamen modern
4.1. Latar belakang ornamen modern
Ornamen modern merupakan seni hias yang berkembang dari
pembaharuan–pembaharuan atau suatu bentuk seni yang dalam
penggarapannya didasarkan atas cita rasa baru, proses kreatif dan
penemuan. Ornamen modern merupakan seni yang bersifat kreatif, tidak
terbatas pada objek–objek tertentu, waktu dan tempat, melainkan ditentukan
oleh sikap batin penciptanya. Terlepas ikatan–ikatan tradisi merupakan nafas
baru dalam dunia imajinasi yang mendorong daya kreatifitas dan mengajak
seseorang ke suatu pemikiran baru.
Ciri–ciri ornamen modern adalah “multiplied” (tidak terikat pada satu
aturan tertentu), yaitu:
• Heterogen (tidak seragam)
• Individual (menurut penciptanya).
• Kompetitif (bersaing dalam mencipta untuk mencapai proses kreatif)
• Progresif (tidak terikat pada aturan – aturan tertentu)
• Conscious (sadar akan penciptanya, tidak terpengaruh)
• Gradual (mencipta secara terus menerus)
• Ekologis berantai (berputar secara berantai dan terjadi perubahan–
perubahan dalam prosesnya)
• Complicated (rumit)
• Rasional (masuk akal)
Ciri khas tersebut dapat dilihat dan diamati dan penerapan teknik
pengembangan motif geometris dan organis pada suatu bidang karya dua
dimensi atau tiga dimensi. Penerapan motif tersebut kebanyakan berfungsi
sebagai elemen dekorasi dan simbol–simbol tertentu menurut penciptanya
yang kemudian disahkan oleh masyarakat tertentu.
4.2. Berbagai komposisi elemen-elemen yang artistik dan estetik
Ornamen modern bentuk geometris
Sumber:Hery Suhersono, Disain bordir
Motif Geometris.2005
Ornamen modern bentuk organis
Sumber:Hery Suhersono, Disain bordir
Motif Geometris.2005
Pendahuluan
24
Ornamen modern bentuk geometris
Sumber:Hery Suhersono, Disain bordir
Motif Geometris.2005
Ornamen modern bentuk organis
Sumber:Hery Suhersono, Disain bordir
Motif Geometris.2005
Ornamen modern
motif manusia dan binatang
Sumber:Hery Suhersono, Disain bordir
Motif Geometris.2005
Ornamen modern
Sumber:Hery Suhersono, Disain Motif
.2004
Ornamen motif bunga
Sumber:Hery Suhersono , Desain
Motif. 2004
Seni hias modern, bentuk organis
Sumber:Hery Suhersono, Disain bordir
Motif Geometris.2005
Pendahuluan
25
Ornamen motif Bunga
Sumber:Hery Suhersono , Desain
Motif. 2004
Ornamen motif Bunga
Sumber:Hery Suhersono , Desain Motif.
2004
Ornamen modern motif garis-garis
Sumber:Hery Suhersono, Disain Motif.2004
G. Membuat nirmana
Nirmana adalah pengorganisasian atau penyusunan elemen-elemen visual
seni rupa seperti titik, garis, warna, bidang, ruang dan tekstur menjadi satu
kesatuan yang harmonis. Nirmana dapat juga diartikan sebagai hasil anganangan
dalam bentuk dwimatra/nirmana datar (dua dimensi) dan
trimatra/nirmana ruang (tiga dimensi) yang harus mempunyai nilai
keindahan.
Nirmana (rupa dasar) merupakan ilmu yang mempelajari berbagai hal yang
berkaitan dengan persepsi, ruang, bentuk, warna, dan bahan berwujud dua
dimensi atau tiga dimensi.
Unsur dasar bentuk dua dimensi adalah segitiga, segi empat,
lingkaran, dan bentuk organik, sedangkan unsur dasar bentuk tiga dimensi
adalah balok, prisma, bola, dan wujud tak beraturan.
Unsur penciptaan rupa yang utama adalah gambar, melalui gambar
manusia dapat menuangkan imajinasi atau gagasan kreatifnya. Gambar
merupakan “bahasa” yang universal. Gambar telah menjadi alat komunikasi
Gb.1. 8 Komposisi elemen-elemen motif
Pendahuluan
26
selama berabad-abad, bahkan hingga kini di era modern. Gambar memiliki
fungsi yang sangat beragam, untuk mewujudkan sebuah gambar agar
berfungsi diperlukan unsur-unsur seni rupa yang dapat dipahami semua
orang.
Ada beberapa unsur yang menjadi dasar terbentuknya wujud seni
rupa, yaitu: titik, garis, bidang, bentuk, warna, dan tekstur.
1. Titik
Titik adalah unsur seni rupa dua dimensi yang paling dasar (esensial), dari
sebuah titik dapat dikembangkan menjadi garis atau bidang. sebuah gambar
dalam bidang gambar akan berawal dari sebuah titik dan berhenti pada
sebuah titik juga.
Titik
2. Garis
Garis adalah suatu hasil goresan nyata
dan batas limit suatu benda, ruang,
rangkaian masa dan warna. Garis bisa
panjang, pendek, tebal, tipis, lurus,
melengkung, berombak, vertikal,
horizontal, diagonal, dan sebagainya.
Bebagai
macam garis
3. Bidang
Bidang adalah suatu bentuk pipih
tanpa ketebalan, mempunyai dimensi
pajang, lebar dan luas serta
mempunyai kedudukan, arah dan
dibatasi oleh garis. Bentuk bidang
dapat geometris, organis, bersudut,
tak teratur, dan bulat.
Berbagai macam bidang
4. Bentuk
Titik, garis, atau bidang akan menjadi bentuk apabila terlihat. Sebuah titik
betapapun kecilnya pasti mempunyai raut, ukuran, warna, dan tekstur.
Bentuk ada dua macam, yaitu:
Pendahuluan
27
• Bentuk dua dimensi yang memiliki dimensi panjang dan lebar
• Bentuk tiga dimensi yang memiliki dimensi panjang, lebar, dan
tebal/volume.
Berbagai macam bentuk
5. Warna
Warna merupakan kesan yang ditimbulkan oleh cahaya terhadap mata, oleh
karena itu warna tidak akan terbentuk jika tidak ada cahaya. Tiap-tiap warna
dihasilkan dari reaksi cahaya putih yang mengenai suatu permukaan dan
permukaan tersebut memantulkan sebagian dari spektrum. Terjadinya
warna-warna tersebut disebabkan oleh vibrikasi cahaya putih.
Sistem yang paling sederhana untuk mengetahui hubungan warnawarna
adalah pada susunan warna dalam bentuk lingkaran warna.
Gb.1. 9 Lingkaran warna
Pendahuluan
28
Secara umum warna dapat digolongkan menjadi tiga kelompok utama,
yaitu:
a. Warna primer atau warna pokok dikatakan demikian karena warna ini
tidak bisa didapat dengan cara mencampurnya warna primer : merah,
biru, dan kuning
b. Warna sekunder: warna hasil campuran yang seimbang antara warna
primer dengan warna primer.
- warna ungu (violet) campuran merah dan biru,
- warna orange campuran warna merah dan kuning, dan
- warna hijau campuran warna kuning dan biru.
c. Warna tersier: merupakan hasil campuran warna sekunder dengan
warna primer.
- warna merah ungu campuran warna merah dengan ungu
- warna ungu biru campuran warna ungu dengan biru
- warna hijau biru campuran warna hijau dengan biru
- warna kuning hijau campuran warna kuning dengan hijau
- warna orange kuning campuran warna orange dengan kuning
- warna merah orange campuran warna merah dengan orange
Beberapa skema warna yang perlu diketahui dan tiga di antaranya yang
paling pokok adalah:
1. Warna analogus adalah hubungan warna yang bersebelahan pada
lingkaran warna, seperti hijau kuning, kuning dan orange kuning.
2. Warna monokromatik adalah penggunaan hubungan hanya satu
warna dalam susunan value dan intensitasnya digabung dengan
warna netral (hitam atau putih). Kesan yang didapat dari warna
monokromatik ini adalah tenang serta monotone.
3. Warna komplementer adalah hubungan warna-warna yang saling
berhadapan dalam lingkaran warna sehingga sehingga warna ini
disebut juga warna kontras. Beberapa warna komplementer:
• Warna merah komplemen dengan warna hijau
• Warna kuning komplemen dengan warna ungu (violet)
• Warna biru komplemen dengan warna orange
Dari sekian banyak warna, dapat dibagi dalam beberapa bagian yang
sering dinamakan dengan sistem warna Prang System yang ditemukan oleh
Louis Prang pada 1876 meliputi:
1. Hue, adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan nama dari
suatu warna, seperti merah, biru, hijau, dan sebagainya . Apabila
hijau berubah menjadi kebiru-biruan maka dapat dikatakan warna
hijau telah berubah huenya, ia dapat disebut hijau biru dan bukan lagi
hijau.
Pendahuluan
29
2. Value, adalah dimensi kedua atau mengenai terang gelapnya warna.
Contohnya adalah tingkatan warna dari putih hingga hitam.
Mengubah value menjadi terang dapat dengan cara menambah
warna putih secara bertingkat disebut “Tint” dan merubah value
menjadi gelap adalah dengan menambah warna hitam secara
bertingkat pula disebut ”Shade”
3. Intensity, seringkali disebut dengan chroma, adalah dimensi yang
berhubungan dengan cerah atau suramnya warna.
6. Tekstur
Tekstur adalah nilai raba dari suatu permukaan baik nyata maupun semu,
bisa halus, kasar, licin, dan sebagainya. Berdasarkan hubungannya dengan
indera penglihatan, tekstur dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Tekstur nyata, yaitu tekstur yang jika diraba maupun dilihat secara
fisik terasa kasar dan halusnya.
b. Tekstur semu, yaitu tekstur yang tidak memiliki kesan yang sama
antara yang dilihat dan diraba. Tekstur semu terjadi karena kesan
perspektif dan gelap terang.
Gb.1. 10 Berbagai macam tekstur
H. Prinsip penyusunan unsur seni rupa
Beberapa prinsip dalam mengolah seni rupa dasar secara umum adalah
sebagai berikut:
• Kesatuan (unity), merupakan paduan dari berbagai unsur seni
rupa yang membentuk suatu konsep sehingga memberikan kesan
satu bentuk yang utuh dan merupakan akhir dari seluruh prinsip
penyusunan unsur seni rupa.
• Simetri (symetry), menggambarkan dua atau lebih unsur yang
sama dalam suatu susunan yang diletakkan sejajar atau unsurunsur
di bagian kiri sama dengan bagian kanan.
Pendahuluan
30
• Irama,(rhythm)merupakan suatu pengulangan unsur-unsur seni
rupa (garis, bentuk, atau warna) secara berulang (terus menerus),
teratur, dan dinamis.
• Keseimbangan (balance), atau balans merupakan penempatan
unsur-unsur seni rupa ( warna, bidang, bentuk) dalam suatu
bidang baik secara teratur maupun acak. Keseimbangan dapat
diwujudkan melalaui penyusunan unsur seni rupa yang simetris
maupun asimetris. Keseimbangan memberikan tekanan pada
stabilitas. Ada tiga jenis keseimbangan yaitu: keseimbangan
mendatar, keseimbangan tegak lurus dan keseimbangan
radial/kesimbangan kombinasi (keseimbangan
antarakeseimbangan mendatar dan tegak lurus).
Irama
Gb.1. 11 Keseimbangan
• Harmoni (harmony), merupakan keselarasan paduan unsur-unsur
seni rupa yang berdampingan, sedang hal sebaliknya
(bertentangan) disebut kontras. Harmoni terbentuk karena adanya
Pendahuluan
31
unsure keseimbanganm keteraturan, kesatuan, dan keterpaduan
yang masing-masing saling mengisi.
Gb.1. 12 Harmoni
I. Eksplorasi garis dan bidang
1. Pengetahuan tentang garis dan bidang
1.1. Garis
Garis merupakan kumpulan dari sejumlah titik yang memiliki dimensi
memanjang dan arah tertentu dengan kedua ujung yang terpisah. Garis
adalah suatu hasil goresan nyata dan batas limit suatu benda, ruang,
rangkaian masa dan warna. Garis bisa panjang, pendek, tebal, tipis, lurus,
melengkung, berombak, vertikal, horizontal, diagonal, dan sebagainya.
Fungsi garis memberi kesan keselarasan, gerak, irama, sugesti, pesan
simbolik, kode ilusi, dan bersifat maya. Menurut wujudnya, garis dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu:
• Garis nyata, yaitu garis yang dihasilkan dari goresan langsung
• Garis semu, yaitu garis yang timbul karena adanya kesan bata
(kontur) dari suatu bidang, warna, atau ruang.
Sifat garis
Garis vertikal, menggambarkan sifat
tegas, mempertinggi objek, suatu
yang tak terbatas
Garis horizontal menggambarkan
sifat keluasan, lapang, lega,
memperpendek suatu objek,
Pendahuluan
32
memperluas ruang
Garis diagonal atau miring,
menggambarkan sifat dinamis dan
gerak
Garis patah, menggambarkan
gerakan yang lebih dinamis dan ritmis
Garis lengkung, menggambarkan
sifat lemah lembut, gemulai, fleksibel,
lentur, dan tidak kaku
1.2. Bidang
Bidang adalah suatu bentuk pipih tanpa ketebalan, mempunyai dimensi
pajang, lebar dan luas serta mempunyai kedudukan, arah dan dibatasi oleh
garis. Bidang terbentuk karena adanya pertemuan garis yang membatasi
suatu bentuk, dalam hal ini garis sebagai pembatas.
Bentuk bidang dapat geometris, organis, bersudut, tak teratur, dan
bulat.
Beberapa bentuk bidang geometris
Pendahuluan
33
2. Menyusun garis dan bidang
Gb.1. 13 Susunan garis dan bidang
3. Membuat komposisi garis dan bidang sesuai dengan
karakternya
Komposisi merupakan susunan beberapa unsur seni rupa yang memenuhi
persyaratan yang tertuju pada penciptaan nilai-nilai artistic berupa kesan
kesatuan, irama, dan keseimbangan. Dalam menggambar perlu
mempertimbangkan komposisi, komposisi gambar dapat dilakukan dengan
menempatkan gambar secara simetris, kontras, memusat, acak, terpotong,
berirama, ataupun memperbesar objek gambar.
Beberapa komposisi garis
Pendahuluan
34
Gb.1. 14 Eksplorasi garis
J. Menggambar huruf
1. Pemahaman terhadap jenis, karakter, dan anatomi masingmasing
huruf
Huruf yang kita kenal sekarang merupakan perkembangan dan pertemuan
dari beberapa jenis huruf yang telah ditemukan oleh beberapa bangsa di
seantero dunia sejak lama. Dari sejarah dapat dikenali bahwa huruf pada
awalnya merupakan gambar-gambar lambang. Misalnya huruf hierogliph dari
Mesir. Sedangkan huruf Cina yang merupakan huruf gambar (ideografi)
masih digunakan sampai sekarang.
Di Eropa mulai dikenal mulai dari huruf Romawi, Yunani, Jerman dan
beberapa gaya seperti Gothic, Baroque dan lainnya. Hal ini tetap
berkembang sampai sekarang, yaitu diciptakannya berbagai bentuk keluarga
huruf yang disebut typoggraphy.
Pada awalnya orang menggambar huruf atau menuliskannya dengan
tangan melalui peralatan sederhana seperti gagang bulu, kuas dan pena. Di
zaman modern ini telah berkembang fasilitas peralatan seperti mesin ketik,
alat-alat percetakan yang canggih, fotocopy, printer, computer, faksimili
untuk menggambar/menulis huruf, di samping penggunaan stiker huruf
tempel dan cetak saring.
Dalam kaligrafi seorang perupa harus sudah mantap dan selalu ingat
akan persyaratan dasar: kelayakan dan kombinasi yang selaras. Intinya
adalah secara insting dia tahu gaya dan ukuran huruf secara proporsional
Pendahuluan
35
yang paling mencerminkan kualitas keindahan yang mengandung unsur
keseimbangan, keselarasan, dan kesatuan.
1.1. Jenis huruf
Beberapa jenis huruf yang populer
dan sering digunakan dalam
pembuatan media publikasi, buku,
majalah, surat kabar, dan produkproduk
banyak sekali, diantaranya
adalah:
1.2. Karakter huruf
Karakter huruf merupakan watak
atau ciiri khas suatu keluarga huruf
dari A sampai Z.
Contoh karakter huruf antara lain:
• Huruf berat (bold)
• Huruf ringan (light)
Contoh huruf berat dan ringan
• Huruf berkait
A B C
Contoh karakter huruf (berkait)
Karakter huruf berhubungan dengan tebal tipisnya huruf, besar kecilnya
huruf, keras lembutnya huruf, tegak dan miringnya huruf, lebar sempitnya
Arial
Bodoni MT
Baskerville Old Face
Century
Cooper Black
Palatino Linotype
Times New Roman
Gill Sans MT
Garamond
A . B . C
huruf besar
a . b. c
huruf kecil
Pendahuluan
36
huruf, padat dan kontur huruf, Kekontrasan ini merupakan sifat berlawanan
yang dinamis.
• Tebal tipisnya huruf, kekontrasan ini merupakan ukuran berat dan
ringannya huruf, dan kuat lemahnya huruf.:
• Besar kecilnya huruf, merupkan kekontrasan pada ukuran besar
kecilnya skal perbandingan ukuran dengan satu tipe keluarga
huruf.
BK BESAR KECIL
• Keras lembutnya huruf, terjadi karena perbedaan bentuk tipe huruf
KL KERAS LEMBUT
• Tegak dan miringnya huruf, kekontrasan terjadi pada penyusunan
tegak miringnya huruf.
TM TEGAK MIRING
• Lebar sempitnya huruf, kekontrasn terjadi pada ukuran horizontal,
dekat ke jauh, sempit ke lebar, dan tinggi ke luas.
LS LEBAR SEMPIT
• Padat dan kontur huruf
P PADAT
TT TEBAL TIPIS
Pendahuluan
37
1.3. Anatomi huruf
Anatomi huruf mempunyai antomi yang berbeda-beda, baik tinggi, lebar,
maupun tebal-tipisnya. Pada umumnya setiap huruf mulai dari A–Z terdiri
dari huruf besar dan kecil.
A B C D E F
G H I J K L
M N O P Q R
S T U V W X
Y Z
Huruf besar (capital)
a b c d e f
g h i j k l
m n o p q r
s t u v w x
y z
Huruf kecil
Proporsi huruf
Pendahuluan
38
Huruf normal (perbandingan 3:5)
2. Melaksanakan pembuatan huruf dengan pola-pola sebagai
pertolongan menggambar huruf
Sebelum melaksanakan pembuatan
huruf, yang perlu diketahui adalah
bahwa ukuran huruf sangat bervariasi,
ada huruf normal (perbandingan 3:5),
huruf meninggi, huruf melebar. dan
sebagainya. Pada huruf normal
perbandingan semua huruf
berbanding 3:5 terkecuali huruf ”I”
adalah berbanding 1:5, huruf ”M”
berbanding 4:5 dan huruf ”W”
berbanding 5 : 5.
Huruf meninggi
Huruf melebar
3. Menggambar huruf (abjad), logo, inisial dan slogan
3.1. Menggambar huruf
Menggambar huruf (abjad), merupakan usaha untuk menyampaikan
informasi kepada masyarakat melalui media tulisan yang menarik dan
informatif. Agar menarik, maka huruf tersebut diwujudkan
dengan cara:
• Memberi warna pada huruf
• Membentuk huruf yang baik
• Menerapkan unsur seni dalam tulisan
Pendahuluan
39
3.2. Menggambar logo
Masyarakat awam menganggap logo tak jauh beda dengan bentuk atau
gambar yang berwarna-warni yang menjadi icon sebuah corporate, bentuk
usaha, ataupun sebuah produk. Logo
merupakan icon yang mewakili sesuatu,
yang mampu menjelaskan secara singkat
kepada masyarakat serta mampu dengan
mudah dipahami.
Logo dapat berupa huruf yang
terdiri dari satu huruf atau lebih atau
lambang yang mengandung suatu makna
atau maksud. Logo dibuat dengan tujuan
menarik minat seseorang atau
masyarakat, kebanyakan bentuk logo adalah kependekan atau singkatan dari
suatu nama sehingga mudah untuk diingat.
3.3. Menggambar inisial
Inisial adalah merupakan singkatan nama
orang ataupun nama sebuah corporate
ataupun suatu perusahaan.
Gb.1. 16 Inisial
3.4. Menggambar slogan
Slogan merupakan semboyan, biasanya berupa kalimat pendek yang
menarik dan mudah diingat dan dipahami sesuai pesan yang akan
disampaikan dengan tujuan menciptakan citra tertentu kepada masyarakat.
Menurut sifatnya slogan dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Slogan yang bersifat sosial, berupa ajakan, semboyan, atau
himbauan
2. Slogan yang bersifat komersial
Gb.1. 17 Slogan
Gb.1. 15 Logo
Pendahuluan
40
K. Menggambar bentuk
Gambar adalah merupakan sutu wujud tampilan yang dihadirkan oleh
seorang untuk mempresentasikan atau mewakili imaji tertentu dengan
maksud untuk komunikasi terhadap orang lain. Gambar yang ditampilkan
tentu diberi muatan pesan yang bisa terpapar dengan jelas atau
tersembunyi. Pesan yang dimuatkan di dalam suatu gambar dapat berupa
rasa keindahan yang tercermin dalam gambar itu sendiri. Pesan lisan yang
disertakan atau perlambangan yang menyiratkan pesan yang lebih dalam.
Gambar bentuk adalah hasil upaya memindahkan imaji benda dengan
segenap atributnya dan keadaan sekelilingnya ke dalam kertas/kanvas
setepat mungkin seperti aslinya.
Menggambar adalah membuat goresan sebagai usaha menyajikan
persepsi visual (gambar) yang secara grafis memiliki kemiripan dengan suatu
bentuk atau. Dalam menggambar juga tidak lepas dari penggunaan unsurunsur
seni rupa, yaitu: garis, bidang, bentuk, komposisi, dan arsir. Berbagai
macam objek dapat digunakan sebagai bahan atau materi menggambar
bentuk, diantaranya adalah: alam benda, flora fauna, dan dan manusia.
Objek dalam menggambar bentuk umumnya dapat dilihat oleh indera mata
dan sebagian besar dapat diraba
1. Menggambar alam benda
Pengetahuan tentang menggambar alam benda.
Objek dalam menggambar alam benda sangat luas, secara sederhana objek
tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu: benda
dalam rumah dan luar rumah.
Dalam menggambar alam benda dapat mengubah posisi benda atau
objek yang akan digambar asal memperhatikan proporsi, keseimbangan
antara bidang gambar dengan objek, keseimbangan antara pengaturan
benda-benda atau bentuk-bentuk benda, karakter dan pencahayaannya.
Menggambar dengan memperhatikan arah cahaya
Cahaya sangat sangat berperan dalam aktivitas menggambar alam benda,
karena dengan cahaya objek tersebut dapat dilihat warnanya, bentuknya,
dan suasana yang ditimbulkannya. Hal penting yang harus dilakukan
sebelum menggambar adalah mengamati terlebih dahulu struktur benda
tersebut, jika benda tersebut memiliki struktur geometris yang jelas, maka
buatlah sketsa geometrisnya terlebih dahulu, namun jika benda tersebut
memiliki struktur organis, buatlah konturnya lebih dahulu. Ini dilakukan untuk
mempermudah langkah-langkah dalam menggambar.
�� Cahaya dari depan menyebabkan objek kelihatan tidak
mempunyai kedalaman dan terdapat beberapa bayang-bayang
Pendahuluan
41
�� Cahaya dari belakang tidak begitu memuaskan karena bagian
depan objek akan kelihatan lebih gelap
�� Cahaya dari sisi/sampingmemberi kesan yang paling baik.
Bayang-bayang dan cahaya menolong memperjelas bentuk
objek.
Gb.1. 18 Cara pencahayaan
Menggambar dengan arsir/gelap terang
Cara membuat gambar dengan teknik arsir/ gelap terang dapat membantu
untuk memperjelas bentuk yang disesuaikan dengan bentuk benda yang di
gambar.
Pendahuluan
42
Gb.1. 19 Arsir gelap terang sesuai bentuk benda
Menggambar dengan memperhatikan
proporsi dan komposisi dengan tepat
Pada saat memulai menggambar bentuk
terlebih dahulu harus diketahui bendabenda
yang akan digambar, kemudian
memperhatikan proporsi masing-masing
benda/objek, dan selanjutnya mengatur
benda/objek dengan memperhatikan
keseimbangan tiap benda.
Penyusunan benda/objek yang proporsional
Pendahuluan
43
2. Menggambar flora fauna
Menggambar flora (tumbuhan) dan fauna (binatang) merupakan objek
gambar yang menarik selain alam benda dan manusia. Jenis tumbuhan dan
binatang sangat beragam, hal akan memperkaya objek gambar yang akan
dibuat.
Pemahaman objek- objek sesuai bentuk dan karakternya
Objek tumbuhan dapat berupa pohon, bunga, daun, buah, dan sebagainya,
sedangkan objek binatang dapat berupa binatang darat, air, atau binatang
terbang.
Pendahuluan
44
Gb.1. 20 Flora dan fauna
Pendahuluan
45
Pemahaman terhadap prosedur menggambar bentuk
Sama halnya dengan menggambar alam benda, mulailah menggambar
tumbuhan atau binatang berupa sketsa dan garis bantu, hal ini dilakukan
untuk mempermudah dalam menangkap proporsi, bentuk, dan karakater
objek gambar, selanjutnya dibuat kontur (garis luar) dari objek tersebut.
Gb.1. 21 Cara menggambar flora
Pendahuluan
46
Gb.1. 22 Cara menggambar fauna
Pendahuluan
47
Menggambar flora dan fauna sesuai bentuk, proporsi, anatomi, dan
karakternya.
Gb.1. 23 Flora fauna sesuai bentuk, proporsi, anatomi, dan karakternya
Pendahuluan
48
3. Menggambar manusia
Manusia merupakan salah satu objek dalam menggambar bentuk,
menggambar manusia sangat menarik karena manusia mahluk hidup yang
memiliki usia, ekspresi, karakter, gerak, dan sebagainya. Beberapa hal
penting yang harus dipahami dalam menggambar manusia, yaitu: proporsi,
otot, jenis kelamin, dan posisi (sudut pandang)
Sebelum memulai menggambar manusia, harus mengetahui proporsi
tubuh manusia terlebih dahulu, yaitu perbandingan, antara kepala, badan,
dan anggota badan.
Menggambar bagian dari tubuh manusia
Bagian tubuh manusia sangat baik untuk berlatih menggambar manusia,
bagian-bagian yang umum yang sering digunakan sebagai objek gambar
adalah torso (badan), kepala, dan anggota badan lainnya (tangan, kaki, dan
sebagainya.
Torso
Gb.1. 24 Kepala anak-anak dan remaja
Pendahuluan
49
Gb.1. 25 Kepala orang dewasa
Gb.1. 26 Tangan
Pendahuluan
50
Gb.1. 27 Kaki
Contoh gambar anggota badan lainnya
Gb.1. 28 Mata
Pendahuluan
51
Gb.1. 29 Mulut orang dewasa
Gb.1. 30 Mulut anak-anak
Gb.1. 31 Telinga orang dewasa
Pendahuluan
52
Gb.1. 32 Telinga bayi
Gb.1. 33 Hidung
Menggambar manusia dengan proporsi laki-laki, perempuan dan anak
Ukuran anak-anak pada gambar menunjukkan perbandingan pertumbuhan
kaki anak-anak dengan tumbuh badannya. Besar kepala anak-anak adalah
dua kali lipat dibandingkan dengan ukuran kepala orang dewasa. Bagi
ukuran tubuh perempuan bagian pinggul melebar sedangkan bagi laki-laki
bagian bahu, dada dan tulang belikat melebar dan menjadi lebih tegap.
Pendahuluan
53
Gb.1. 34 Proporsi tubuh manusia dewasa, remaja dan anak-anak
Pendahuluan
54
Komposisi manusia berbagai pose.
Gb.1. 35 Macam-macam pose
Pendahuluan
55
L. Membentuk nirmana tiga dimensi
Pada kenyataannya kita hidup dalam dunia tiga dimensi. Apa yang terlihat di
depan kita bukanlah merupakan suatu gambar dengan panjang dan lebar
saja akan tetapi mempunyai ruang atau wujud kedalaman. Seperti
membentuk dua dimensi (dwimatra), membentuk benda tiga dimensi
(trimatra) juga bertujuan untuk mencapai keserasian rupa, atau
membangkitkan rupa ataupun bentuk tertentu yang mengasyikan tapi dalam
dunia trimatra.
Membentuk tiga dimensi (trimatra) lebih mudah dari membentuk 2
dimensi (dwimatra) karena berurusan dengan bentuk dan bahan yang nyata
dalam ruang yang sebenarnya; karena itu segala masalah yang
berhubungan dengan bentuk trimatra yang maya berada pada kertas (atau
bidang datar lain) dapat dihindarkan.
Merancang bentuk tiga dimensi
Untuk membentuk tiga dimensi pertama-tama kita terlebih dahulu harus
mengetahui tiga arah utama yaitu: arah panjang, arah lebar dan tinggi dan
ketiga arah ini dapat dikatakan atas bawah, arah samping kiri dan kanan dan
arah depan belakang.
Arah panjang dan lebar
Arah samping kiri dan kanan
Arah depan dan belakang
Bidang arah mendatar dan membujur
Penggabungan semua arah menjadi
bentuk kubus yaitu arah depan belakang,
arah samping kiri kanan, arah atas dan bawah
Pada bentuk tiga dimensi jika di proyeksikan terdapat tiga tampak dasar
yang dimiliki yaitu:
Pendahuluan
56
• Tampak perspektif (bentuk kubus)
• Tampak atas
• Tampak depan
• Tampak samping
Sama halnya dengan bentuk dua dimensi (dwimatra) bentuk tiga dimensipun
terdiri dari unsur-unsur konsep: titk, garis, bidang, unsur rupa: bentuk,
ukuran, warna, tekstur, dan hubungan proporsi, arah, ruang, dan gaya berat.
Unsur konsep:
Titik
Garis
Bidang
Pendahuluan
57
Bentuk
Proporsi
Ukuran
Warna
Tekstur
Pendahuluan
58
Beberapa contoh bentuk tiga dimensi (trimatra)
Perulangan bidang tegak yang disusun
mengelilingi sumbu sehingga berbentuk
silinder
Gb.1. 36 Perulangan bidang tegak, bahan karton
Bentuk susunan bersyaf dari rendah ke
tinggi.
Gb.1. 37 Bentuk susunan bersyaf, bahan karton
Bentuk dan ukuran bidang pada
bangun ini berulang yang ditata
berbiku (bergerigi)
Gb.1. 38 Bentuk pengulangan bidang berbiku, bahan karton
Pendahuluan
59
Bentuk tiap bingkai bujur sangkar
dipisahkan menjadi 2 lapisan, lapisan
satu dengan dua batang yang mengarah
kedepan dan kebelakang dan lapisan
berikutnya dengan batang mengarah
kesamping.
Gb.1. 39 Bentuk menara, bahan kayu
Bangun ini mempunyai bentuk
simetris yaitu huruf x dan
mempunyai ukuran yang sama
Gb.1. 40 Bangun huruf x, bahan karton
Pendahuluan
60
Bahan Dasar Tekstil
61
BAB II
BAHAN DASAR TEKSTIL
Untuk membuat karya kriya tekstil dibutuhkan bahan dasar serat. Adapun
serat yang sering digunakan yaitu serat-serat tekstil, baik serat alami
maupun serat sintetis dan zat warna tekstil yang terdiri dari zat warna
alami dan zat warna sintetis seperti dibahas berikut ini.
A. Serat tekstil
1. Serat alam
1.1. Serat Kapas
Kapas adalah tumbuhan tahunan dari tanaman subtropis. Diperkirakan
bahwa kapas sudah dipakai sebagai pengganti bahan tekstil di India,
Cina dan Peru pada sekitar tahun-tahun 2000-5000 SM. Produksi kapas
kemudian meluas ke Eropa melalui India, Mesir dan Spanyol. Mula-mula
di India, Tumbuh pohon-pohon secara liar yang berbuah seperti wol
dengan keindahan dan mutu yang melebihi wol dari domba. Di
pertengahan abad XVIII, wol dan kain linen lebih banyak digunakan
daripada kapas. Pemakaian kapas meningkat setelah terjadi Revolusi
Industri, yaitu mulai ditemukannya mesin-mesin antara lain adalah mesin
pemisah biji kapas (cotton gin). Kemudian kapas menempati tempat
pertama dalam urutan sebagai bahan pakaian. Bahkan ketika distribusi
pemakain relatif menurun, kapas masih berperan utama sebagai bahan
tekstil baik untuk kerajinan maupun sandang. Di abad XX ini penghasil
kapas nomor satu adalah Amerika Serikat yang kemudian diikuti oleh
negara-negara penghasil kapas lainnya, seperti: Cina, India, Pakistan,
Brasil, Turki, Mesir, Meksiko, Sudan dan beberapa negara lain yang ratarata
mempunyai hasil sejuta bal setiap tahunnya.
1.2. Serat Yute
Serat yang didapat dari kulit batang tanaman Corchorus capsularis dan
Corchorus olitorius. Dikenal sejak zaman Mesir Kuno. Diperkirakan yute
berasal dari daerah sekitar Laut Tengah dan kemudian banyak ditanam di
Asia, terutama di India dan Pakistan. Serat yute mempunyai kekuatan
dan kilau sedang tetapi serat kasar. Digunakan sebagai bahan
pembungkus dan karung, di Industri dipakai sebagai pelapis permadani,
isolasi listrik, dan tali temali.
Bahan Dasar Tekstil
62
Batang Staple Asbes Gelas
Flax/linen Rambut Logam
Henep Alpaca Silikat
Yute Unta
Kenaf Cashmere Alginate Polimer-
Rami Llama Selulosa kondensasi
Enceng Mohair Ester selulosa: Poliamida:
Gondok Kelinci Asetat,Triasetat Nylon 6
Buah Wol Selulosa yang Nylon 11
Sabut- Biri-biri diregenerasi Nylon 66
kelapa Filamen: (rayon) Nylon 6 -10
Daun Sutera Protein (azlon): Polyester
Abaka (manila) Kaseina Poliuretan:
Sisal Zein Spandex
Nenas Polimer Adisi
Pelepah pisang Karet: Polihidrokarbon:
Ulap doyo Lycra Olefin,
polietilena
Agel Polistirena
Lidah mertua Polihidrokarbon
Biji yg disubstitusi
Kapas , kapok halogen
Akar wangi Polihidrokarbon
yg disubstitusi
Nitril: Akrilat,
Modakrilat,
Gb.2. 1 Skema bahan dasar tekstil Nitril
1.3. Serat Rami
Serat yang diperoleh dari batang tanaman Boehmeria nivea, sejarah awal
mula rami diketahui melalui tulisan tua dari tahun 600 SM di daerah Cina.
Sementara berdasarkan penelitian para ahli dikatakan bahwa beberapa
pembungkus mumi dari tahun 5000–3300 SM sudah menggunakan serat
rami. Serat rami berwarna sangat putih, berkilau dan tidak berubah
warnanya karena sinar matahari, serat ini sangat tahan terhadap bakteri
dan jamur.
Selulosa Protein Mineral Organik Anorganik
Serat Alam
Serat
Serat Buatan
Polimer
buatan
Polimer
alam
Bahan Dasar Tekstil
63
Dimanfaatkan sebagai bahan jala, kanvas dan tali temali. Di Jepang
Serat ini dipakai sebagai benang tenunan, kimono dan kemeja. Sangat
baik digunakan sebagai bahan kerajinan dengan tenunan ATBM dan
dikombinasi sulaman.
1.4. Serat Flax/linen
Serat ini diambil dari batang Linum usitatissimum. Produksi flax pertamatama
dilakukan oleh Mesir. Benang dan kain yang dibuat dari serat flax
lebih dikenal dengan nama linen. Tanaman flax adalah salah satu
tanaman yang pertama dalam peradaban manusia dan telah ditanam
lebih dari 6000 tahun yang lalu di Timur Tengah. Kekuatan serat flax dua
kali lipat dari pada serat kapas, kilapnya baik tetapi kaku. Serat flax
terutama digunakan untuk bahan pakaian dan di Industri digunakan untuk
benang jahit dan jala.
1.5. Serat Henep
Serat yang diperoleh dari batang tanaman Cannabis sativa. Diperkirakan
telah digunakan semenjak zaman pra sejarah di Asia dan Timur Tengah.
Daya tarik dan kekuatannya cukup tinggi dan dimanfaatkan sebagai tali
pancing, benang jahit, tali temali, tali pengepakan dan kanvas.
1.6. Rosela (Java Yute)
Serat yang diperoleh dari tanaman Hisbiscus sabdariffa. Terutama
ditanam di Indonesia (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Selain di Indonesia
serat Rosela juga ditanam di India, Bangladesh Ceylon, Filipina dan
Hindia Barat (Soepriyono, dkk, 1974).
Serat Rosela yang baik warnanya krem sampai putih dan berkilau
dengan kekuatan yang cukup baik. Serat Rosela banyak dipakai sebagai
bahan pembuat kanvas, benang permadani, kain pelapis kursi. Saat ini
kelopak bunga dari serat rosela banyak dimanfaatkan sebagai minuman
dan obat alami.
1.7. Serat Pelepah pisang
Serat yang diperoleh dari batang atau pelepah pisang Musa paradisiaca.
Biasanya dipilih pisang batu yang mempunyai kekuatan tinggi dan kilau
warna yang baik, panjang serat sampai 2 meter, proses pengerjaannya
manual dan setelah ditenun bisa dibuat baju, selendang, tas, tempat vas,
sandal dan lain sebagainya.
Bahan Dasar Tekstil
64
1.8. Serat Nenas
Diperoleh dari daun tanaman Agave sisalana, untuk memperoleh serat ini
dengan cara dikerok daunnya, serat putih dan mempunyai kekuatan
seperti sutera. Digunakan sebagai bahan sandang dan kerajinan.
1.9. Serat Lidah Mertua
Diperoleh dari serat daun jenis Sansivera trifasciata. Termasuk
penemuan serat baru dan mempunyai warna putih, kilau dan
kekuatannya seperti sutera. Banyak dimanfaatkan untuk bahan kerajinan
dan sandang.
1.10. Serat Enceng Gondok
Serat yang diperoleh dari batang tanaman air enceng gondok (Eichhornia
crassipes solms), yang diperoleh dengan cara tanaman enceng gondok
dipotong 10 cm dari akar dan 10 cm dari daun. Serat berwarna coklat,
kuat, tahan panas dan tahan cuci. dapat digunakan sebagai bahan baku
kerajinan dan media batik.
1.11. Serat Sutera
Serat ini berbentuk filamen dan dihasilkan oleh larva ulat sutera waktu
membentuk kepompong. Serat sutera adalah serat yang diperoleh dari
sejenis serangga yang disebut lepidoptera. Serat sutera mempunyai sifat
daya serapnya tinggi, kekuatanya tinggi, pegangannya lembut, tahan
kusut dan kenampakannya mewah Pemanfaatannya telah dimulai sejak
kira-kira 2600 tahun sebelum masehi di negara Cina. Di Jepang ulat-ulat
sutera ini dipelihara oleh para petani di sekitar abad pertengahan.
Kemudian dari dunia perdagangan lewat maritim sutera dibawa
menyebar ke Asia dan Eropa, karena hasil dari sutera ini ternyata
keuntungan yang cukup besar, selain itu dimanfaatkan untuk pakaian
wanita, kaos kaki wanita, dasi dan lain sebagainya.
1.12. W o l
Merupakan serat yang terpenting diantara serat-serat binatang, berasal
dari bulu biri-biri, serat berbentuk stapel atau pendek. Wol berasal dari
Asia Tengah kemudian tersebar ke Eropa Barat dan Cina Timur melalui
Babilonia dan Roma. Wol sudah dikenal sejak masa sebelum masehi. Hal
ini tertulis dalam kitab suci agama Kristen (Alkitab); baik yang berasal di
zaman sebelum Kristus lahir (Perjanjian Lama), maupun yang berasal di
zaman sesudah Kristus lahir (Perjanjian Baru). Demikian pula dalam
dokumen kuno di Negeri Cina ditemukan sejumlah tradisi mengenai wol.
Dari dua kenyataan di atas tampak bahwa peternakan-peternakan domba
Bahan Dasar Tekstil
65
mempunyai sejarah yang panjang. Ada tiga macam domba untuk bahan
tekstil yaitu merino, campuran/peranakan dan domba asli/dalam negeri.
Merino menghasilkan wol halus dan di temui di Australia, Afrika Selatan,
Amerika Serikat dan Uni Soviet yang memiliki dataran yang kering. Wol
dari domba Merino adalah bahan untuk pakaian yang berbenang halus.
Peranakan/campuran menghasilkan wol yang lebih kasar dari Merino dan
digunkan untuk bahan tekstil berat, babut dan rajutan wol. Domba jenis
ini dapat ditemui di Selandia Baru, Argentina dan Australia yang memiliki
daerah bercurah hujan tinggi. Domba ini banyak diternak di Asia seperti
Cina, Rusia dan Mongolia. Wol dapat digunakan sebagai bahan baku
untuk pakaian, baju hangat, selimut atau permadani, benang wol
digunakan untuk karya kerjinan tenun,tapestri, rajut dan sebagainya.
2. Serat sintetis
2.1. Rayon Asetat
Selulosa asetat dibuat oleh Schutsenberger pada tahun 1969, dengan
memanaskan selulosa dengan asetat anhidrida dalam tabung tertutup.
Kain yang dibuat biasanya untuk pakaian anak-anak karena sifatnya yang
lembut.
2.2. Polyester
Termasuk di dalamnya trylene, dacron dan sejenisnya. Pertama-tama
ditemukan tahun 1944. Awalnya adalah atas dasar penelitian Carothers
di tahun 1941 kemudian serat polyester dikembangkan oleh J.B.
Whinfield Dickson dari Calico Printers Associated. Pembuatan polyesther
dibuat dari asam tereftalat dan etilena glicol, Dacron dibuat dari asamnya,
sedangkan trylene dibuat dari dimetil ester asam tereftalat dengan etilena
glicol. Etilena berasal dari penguraian minyak tanah yang dioksidasi
dengan udara, menjadi etilenaoksida yang kemudian dihidroksi menjadi
etilena glikol.
Serat ini digunakan untuk kebutuhan tekstil sandang, tirai, talitemali,
jala, kain layar dan terpal. Dacron digunakan untuk pengisi bantal,
boneka atau kerajinan lainnya.
2.3. Poliuretan (spandek) dan Lycra
Serat spandek menyerupai karet, mempunyai sifat elastis yang baik,
disebabkan oleh struktur kimianya. Lycra mempunyai kelebihan tahan
terhadap zat kimia, minyak dan matahari, lycra dapat dicuci berulangulang
dengan mesin cuci pada suhu 60°C, keuntungan yang lain lycra
warnanya putih dan dapat dicelup (diwarna). Dapat digunakan untuk
pakaian wanita, kaos tangan dan kaos kaki, ikat pinggang, baju senam
dan sebagainya.
Bahan Dasar Tekstil
66
2.4. Nylon (Poliamida)
Pertama kali ditemukan oleh Wallace H. Carothers pada tahun 1928.
Dari bahan heksametilena diamina dan asam adipat. Nylon mempunyai
sifat elastisitas yang tinggi. Nylon 66, Nylon 610, Nylon 6 dan Nylon 7
berbeda-beda satu dengan yang lainnya karena mempunyai sifat dan
manfaat yang berbeda. Serat poliamida ternyata cukup baik untuk
dipergunakan sebagai tali parasut, tali-temali yang memerlukan kekuatan
dan daya tarik yang tinggi, benang terpal, jala, tali pancing dan karpet,
tekstil sandang dan keperluan rumah tangga.
2.5. Acrylic
Pembuatannya dimulai tahun 1934 dan baru diproduksi tahun 1944.
Serat buatan ini dipergunakan untuk bahan tekstil sandang, kain rajut dan
selimut. Benang acrylic sangat banyak fariasi dan warnanya, digunakan
untuk bahan kerajinan renda,rajut, tenun dan sulam.
B. Zat warna tekstil
Dalam kerajinan kriya tekstil, ada beberapa keteknikan yang
menggunakan bahan pewarna antara lain teknik batik, cetak saring,
tenun, tapestri, renda, dan rajut. Zat warna tekstil dapat digolongkan
menurut cara perolehannya yaitu zat warna alam dan zat warna sintetis.
Sebelum kita mengenal zat warna terlebih dahulu kita mengenal warna
menurut spektrum atau panjang gelombang yang terserap.
1. Pengertian Warna
Daerah tampak dari spektrum terdiri dari radiasi elektromagnetik yang
terletak pada panjang gelombang antara 4000 Angstrum (400 nm)
sampai 8000 Angstrum (800 nm) dimana 1 Angstrum = 10-8 cm = 0,1
nano meter. Sedangkan radiasi (penyinaran) di bawah 4000 Angstrum
tidak akan tampak karena terletak pada daerah ultra violet, dan di atas
8000 Angstrum adalah daerah infra merah juga tidak tampak oleh mata.
Ultra violet Ungu, Biru, Hijau, Kuning, Jingga, Merah, Infra Merah
(U.V.) (I.R.)
[ ]
4000 Å 8000 Å
Radiasi yang tersebar secara merata antara 4000 Å- 8000 Åakan
tampak sebagai cahaya putih, yang akan terurai dalam warna-warna
spektrum bias dengan adanya penyaringan prisma. Warna-warna
Spektrum warna
Bahan Dasar Tekstil
67
spektrum berturut-turut adalah : Violet, Indigo, Biru, Hijau, Kuning, Jingga
dan Merah. Untuk lebih jelasnya lihat tabel spektrum di bawah:
Tabel 1
Spektrum Warna
Panjang gelombang
? (lamda)
Warna terserap Warna tampak
4000 – 4350 Violet Kuning – Hijau
4350 – 4800 Biru Kuning
4800 – 4900 Hijau – Biru Jingga
4900 – 5000 Biru– Hijau Merah
5000 – 5600 Hijau Ungu
5600 – 5800 Kuning – Hijau Violet
5800 – 5950 Kuning Biru
5950 – 6050 Jingga Hijau – Biru
6050 – 7500 Merah Biru - hijau
2. Percampuran warna
Hampir semua warna yang terdapat dalam bahan tekstil dapat diperoleh
dengan cara mencampurkan tiga jenis zat warna. Untuk dapat
memahami hal ini diperlukan pengertian tentang sifat-sifat warna primer
dan jenis-jenis penyempurnaan.
Spektrum yang tampak dalam pelangi mengandung beraneka
warna dari Merah, jingga, kuning, hujau, biru dan lembayung. Warnawarna
tersebut diperoleh dengan cara melewatkan cahaya putih melalui
prisma. Sebaliknya warna spektrum tersebut mudah digabungkan lagi
dengan prisma menjadi cahaya putih. Tetapi cahaya putih dapat pula
diperoleh dengan cara menggabungkan tiga jenis cahaya yakni merah,
hijau dan biru. Ketiga cahaya tersebut disebut cahaya primer. Hal ini
dapat dilihat pada diagram komposisi cahaya primer ideal.
Gb.2. 2 Komposisi cahaya primer
Hijau Biru
Merah
Putih
Sian
Kuning Magenta
Bahan Dasar Tekstil
68
Pencampuran cahaya dapat menghasilkan warna putih disebut
proses pencampuran warna secara aditif. Dalam percobaan dengan
menggunakan filter-filter warna yang sesuai, kemudian mencampur
ketiga warna tersebut pada layar putih. Dengan percobaan tersebut akan
terlihat bahwa pada dua pasang cahaya primer akan menghasilkan
warna-warna sekunder seperti berikut :
Merah + Biru = Magenta
Merah + Hijau = Kuning
Biru + Hijau = Sian
Sedangkan pada pencampuran warna subtraktif akan terjadi pada
peristiwa pencelupan dan printing. Hasil yang diperoleh berbeda dengan
pencampuran warna secara adaptif. Pencampuran warna secara
subtraktif yaitu digunakan warna – warna sekunder. Dapat dilihat pada
gambar dan tabel berikut.
Tabel 2
PencampuranWarna Sekunder
CAMPURAN ZAT
WARNA
WARNA YANG
TAMPAK
(cahaya yang diteruskan)
CAHAYA YANG
TERSERAP
Magenta + Kuning Merah Hijau + Biru
Kuning + Sian Hijau Biru + Merah
Sian + Magenta Biru Merah – Hijau
Magenta + Kuning +
Sian
0 (Hitam) Merah – Hijau – Biru
Zat warna yang digunakan dalam kerajinan tekstil dapat
dikelompokkan menjadi 2, yaitu sebagai berikut:
Gb.2. 3 Pencampuran warna sekunder
Magenta Kuning
Sian
Hitam
Merah
Biru Hijau
Bahan Dasar Tekstil
69
2.1. Zat warna alam
Zat warna alam (natural dyes) adalah zat warna yang diperoleh dari alam/
tumbuh-tumbuhan baik secara langsung maupun tidak langsung. Agar
zat pewarna alam tidak pudar dan dapat menempel dengan baik, proses
pewarnaannya didahului dengan mordanting yaitu memasukkan unsur
logam ke dalam serat (Tawas/Al).
Bahan pewarna alam yang bisa digunakan untuk tekstil dapat
diambil pada tumbuhan bagian Daun, Buah, Kuli kayu, kayu atau bunga,
contoh terlihat pada Tabel 3.
Tumbuhan penghasil warna alam selain tersebut di atas, sampai
saat ini sudah ditemukan sekitar 150 jenis tumbuhan yang diteliti oleh
Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta. Tanaman lain diantaranya:
Morinda citrifolia (Jawa: pace, mengkudu, Hawai: noni), menghasilkan
warna merah dari kulit akar, warna soga dihasilkan oleh tiga jenis
tanaman yang digabungkan atau diekstrak bersama-sama antara Ceriops
condolleana (Jawa: tingi), Pelthopherum pterocarpum (Jawa: jambal)
dan Cudrania javanensis (Jawa: tegeran) dicampur menjadi satu, dengan
perbandingan 4:2:1 yang berasal dari kayu atau kulit kayunya.
Ada tiga tahap proses pewarnaan alam yang harus dikerjakan
yaitu: proses mordanting (proses awal/pre-treatment), proses pewarnaan
(pencelupan), dan proses fiksasi (penguatan warna).
2.1.1. Prosesmordanting (proses awal/pre-treatment)
Mordanting Kain Sutera
Resep: 500 gram kain sutera
100 gram tawas
15 liter air
Prosedur mordanting:
• Kain sutera ditimbang.
• Tawas dilarutkan dalam air sambil diaduk-aduk sampai larut
sempurna dengan dipanaskan sampai 600 C.
• Kain sutera dimasukkan ke dalam larutan tawas yang
sebelumnya kain dibasahi dengan air biasa dan diperas, suhu
dipertahankan stabil ± 600C.
• Pemanasan dilanjutkan dengan api kecil sampai 1 jam.
• Api dimatikan dan didiamkan dalam larutan hingga 24 jam.
• Sutera diangkat dan cuci bersih keringkan, seterika.
Bahan Dasar Tekstil
70
Tabel 3
Data tanaman alam dan warna yang dihasilkan
SUMBER JENIS WARNA TANAMAN
Daun Tom
(Indigofera -
Tinctoria)
Biru
Buah (Biji) Somba
(Bixa Orellana)
Jingga
Kayu Secang
(Caisl Pinia sappan
L.)
Merah
Buah Pinang /Jambe
(Areca catechu L.)
Coklat
Kulit Kayu Mahoni
(Swietinia mahagoni
JACQ)
Merah muda
Kulit Kayu Tingi
(Ceriops tagal
PERR)
Coklat Merah
Daun Mangga
(Mangifera indica -
LINN)
Hijau/ olive
Bunga Sri Gading
(Nyclanthes arbor
tritis L)
Kuning
Bahan Dasar Tekstil
71
Untuk Kain Katun
Resep: 500 gram kain katun
100 gram tawas
30 gram soda abu
Prosedur mordanting katun:
• Tawas dan soda abu dilarutkan dalam 15 liter air, panaskan
sampai mendidih.
• Kain dimasukkan ke dalam larutan mordan yang sebelumnya
dibasahi dengan air dan diaduk-aduk selama 1 jam.
• Api dimatikan dan didiamkan dalam larutan hingga 24 jam.
• Diangkat dan cuci bersih (tanpa sabun atau tambahan
lainnya) keringkan dan seterika.
2.1.2. Proses pewarnaan (pencelupan)
Sebelum dilakukan pewarnaan, bahan zat warna alam seperti kayu, kulit
kayu atau biji dilakukan proses ekstraksi dengan perebusan.
Ekstraksi bahan pewarna alam:
• Bahan dari biji, contohnya Bixa orellana (somba) sebanyak 250 gram
ditambah air 5 liter air abu atau soda abu 2 gram hingga PH 7,5–9.
Direbus bersama–sama selama 1 jam, disaring dan siap untuk
mewarnai kain.
• Untuk bahan dari kayu: secang, tingi, tegeran, atau yang lainnya, 1
kg kayu/bahan pewarna ditambah 5 liter air rebus selama 1 jam,
saring dan siap untuk mewarnai.
• Untuk daun: 1 kg daun (Alpukat, jambu biji, puring, dsb) ditambah air
6 liter, rebus 1 jam atau sampai air menjadi 4,5 liter, saring dan siap
untuk mewarnai.
Langkah pewarnaan sebagai berikut:
• Kain yang telah dimordan, dilakukan pengikatan untuk teknik ikat
celup atau pembatikan terlebih dahulu kemudian dicelupkan ke
dalam larutan TRO 1 gram / liter dan tiriskan.
• Masukkan kain ke dalam larutan ekstraksi zat warna, sambil dibolakbalik
sampai rata dan direndam selama 15 menit.
• Kain diangkat dan tiriskan, kemudian buka ikatannya untuk teknik
ikat, keringkan dengan posisi melebar diangin-anginkan sampai
kering. Pewarnaan diulang minimal 3 kali celupan.
Bahan Dasar Tekstil
72
2.1.3. Proses fiksasi (penguat warna)
Ada 3 jenis bahan fiksasi yang sering digunakan karena aman
penggunaannya terhadap lingkungan, bahan fiksasi selain menguatkan
ikatan zat warna alam dengan kain juga sangat menentukan arah warna
yang berbeda. Tawas menghasilkan warna muda sesuai warna aslinya,
kapur menengah atau arah kecoklatan, tunjung arah yang lebih tua atau
mengarah ke warna hitam. Adapun Resep fiksasi sebagai berikut:
• Tawas 50 gram/liter air
• Kapur 50 gram/liter air
• Tunjung 5 -10 gram/liter air
Cara fiksasi:
• Menimbang tawas 50 gram untuk dilarutkan ke dalam 1 liter
air.
• Apabila ingin membuat 3 liter larutan tawas maka timbang 50
gram x 3 = 150 gram tawas.
• Letakkan larutan ini ke dalam ember plastik. Begitu juga untuk
kapur dan tunjung dengan cara yang sama
• Kain yang sudah diwarna dan sudah dikeringkan, masukkan
kedalam larutan tawas atau kapur atau tunjung kurang lebih
7,5 menit untuk tawas dan kapur, dan untuk tunjung 3 menit.
• Setelah itu cuci sampai bersih dan keringkan.
• Untuk pencucian lebih bersih bisa direbus dengan air suhu
600 C dengan ditambah sabun Attack atau TRO selam a10
menit, cuci lagi dengan air dingin.
• Keringkan ditempat teduh dan seterika.
Keterangan: Pelepasan lilin batik menggunakan zat warna alam menggunakan
soda abu sebagai alkalinya, tidak menggunakan waterglass.
2.2. Zat warna sintetis
Zat warna sintetis (synthetic dyes) atau zat wana kimia mudah diperoleh,
stabil dan praktis pemakaiannya. Zat Warna sintetis dalam tekstil
merupakan turunan hidrokarbon aromatik seperti benzena, toluena,
naftalena dan antrasena diperoleh dari ter arang batubara (coal, tar,
dyestuff) yang merupakan cairan kental berwarna hitam dengan berat
jenis 1,03 - 1,30 dan terdiri dari despersi karbon dalam minyak. Minyak
tersebut tersusun dari beberapa jenis senyawa dari bentuk yang paling
sederhana misalnya benzena (C6H6) sampai bentuk yang rumit mialnya
krisena (C18H12) dan pisena (C22Hn) .Macam-macam zat warna sintetis
antara lain:
Bahan Dasar Tekstil
73
• Zat warna Direk
• Zat warna Asam
• Zat warna Basa
• Zat warna Napthol
• Zat warna Belerang
• Zat warna Pigmen
• Zat warna Dispersi
• Zat warna Bejana
• Zat warna Bejana larut (Indigosol)
• Zat warna Reaktif
Tidak semua zat warna sintetis bisa dipakai untuk pewarnaan
bahan kerajinan, karena ada zat warna yang prosesnya memerlukan
perlakuan khusus, sehingga hanya bisa dipakai pada skala industri. tetapi
zat warna sintetis yang banyak dipakai untuk pewarnaan bahan kerajinan
antara lain:
2.2.1. Zat warna naphtol
Zat warna naptol terdiri dari komponen naptol sebagai komponen dasar
dan komponen pembangkit warna yaitu garam diazonium atau disebut
garam naptol. Naptol yang banyak dipakai dalam pembatikan antara lain:
Naptol AS-G Naptol AS-LB
Naptol AS-BO Naptol AS-D
Naptol AS Naptol AS.OL
Naptol AS-BR Naptol AS.BS
Naptol AS-GR
Garam diazonium yang dipakai dalam pembatikan antara lain:
Garam Kuning GC Garam Bordo GP
Garam Orange GC Garam Violet B
Garam Scarlet R Garam Blue BB
Garam Scarlet GG Garam Blue B
Garam Red 3 GL Garam Black B
Garam Red B
Gb.2. 4 Hasil pewarnaan dengan napthol
Bahan Dasar Tekstil
74
Resep pencelupan zat warna naptol: Resep pembangkit warna:
Zat warna Naptol 5 gram /liter Garam Napthol 10 gram/L
Kustik soda 2,5 gram/liter Air dingin 1 liter
Air panas 1 liter
Cara pewarnaan:
• Larutkan zat warna naptol dan kustik soda dengan air
panas.
• Tambahkan air dingin sampai jumlah larutan 2 liter.
Celupkan kain kedalam larutan TRO terlebih dahulu dan
tiriskan.
• Celupkan kain kedalam larutan zat warna ± 15-30 menit
kemudian ditiriskan.
• Larutkan garam naptol ke dalam air dingin sebanyak 2 Liter.
• kain yang sudah dicelup dimasukkan kedalam larutan
tersebut ± 15 menit.
• kain dicuci bersih.
2.2.2. Zat warna indigosol
Zat warna Indigosol atau Bejana Larut adalah zat warna yang ketahanan
lunturnya baik, berwarna rata dan cerah. Zat warna ini dapat dipakai
secara pecelupan dan coletan . Warna dapat timbul setelah dibangkitkan
dengan Natrium Nitrit dan Asam/ Asam sulfat atau Asam florida. Jenis
warna Indigosol antara lain:
Indigosol Yellow Indigosol Green IB
Indigosol Yellow JGK Indigosol Blue 0 4 B
Indigosol Orange HR Indigosol Grey IBL
Indigosol Pink IR Indigosol Brown IBR
Indigosol Violet ARR Indigosol Brown IRRD
Indigosol Violet 2R Indigosol Violet IBBF
Resep pencelupan z.w. Indigosol: Resep pembangkit warna:
Zat warna Indigosol 10 gram /Liter HCl 10 gram/L
Natrium nitrit 10 gram/Liter Air dingin 1 Liter
Air panas 1 Liter
Cara pewarnaan:
• Larutkan zat warna Indigo dan natrium nitrit dengan air
panas. Tambahkan air dingin sesuai dengan kebutuhan
• Tambahkan air dingin sampai jumlah larutan 2 Liter.
Bahan Dasar Tekstil
75
• Celupkan kain ke dalam larutan TRO terlebih dahulu dan
tiriskan.
• Celupkan kain ke dalam larutan zat warna ± 30 menit
• Angkat kain tersebut dan jemur di bawah sinar
matahari/diangin-anginkan.
• Dibangkitkan warnanya dengan merendam di dalam larutan
HCl selama ± 1 menit, sehingga warnanya timbul,
selanjutnya kain dicuci sampai bersih
2.2.3. Zat warna rapid
Zat warna rapid biasa dipakai untuk coletan jenis rapid fast. Zat warna
ini adalah campuran komponen naphtol dan garam diazonium yang
distabilkan, biasanya paling banyak dipakai rapid merah, karena
warnanya cerah dan tidak ditemui di kelompok indigosol.
Resep zat warna rapid (untuk colet):
Zat Warna Rapid 5 gram
TRO 7,5 cc
Kostik soda 6 gram
Air panas 100 cc
Cara pewarnaan dengan pencoletan:
• Larutkan zat warna rapid dengan air panas kemudian
dinginkan.
• Larutan zat warna dikuaskan pada kain yang sudah dibatik
sesuai warna yang direncanakan, kemudian dianginanginkan.
Gb.2. 5 Hasil pewarnaan dengan indigosol
Bahan Dasar Tekstil
76
• Fiksasi menggunakan larutan waterglass dengan dikuaskan,
kemudian diangin-anginkan.
• Diulang 3 kali selanjutnya kain dicuci sampai bersih.
2.2.4. Zat warna reaktif
Zat warna reaktif bisa digunakan untuk pencelupan dan pencapan
(printing). Zat warna reaktif berdasarkan cara pemakaiannya dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu: reaktif dingin dan reaktif panas. Untuk
zat warna reaktif dingin salah satunya adalah zat warna procion, dengan
nama dagang Procion MX, yaitu zat warna yang mempunyai kereaktifan
tinggi dan dicelup pada suhu rendah. Zat warna reaktif termasuk zat
warna yang larut dalam air dan mengadakan reaksi dengan serat
selulosa, sehingga zat warna reaktif tersebut merupakan bagian dari
serat. Oleh karena itu sifat-sifat tahan luntur warna dan tahan sinarnya
sangat baik. Nama dagang zat warna teraktif, sebagai berikut:
Procion (produk dari I.C.I) Drimarine (produk Sandoz)
Cibacron (produk Ciba Geigy) Primazine (produk BASF)
Remazol (produk Hoechst) Levafix (produk Bayer)
Resep Pencelupan:
Berat bahan a gram
Vlot 1 : 40
Air 40 x a CC
Garam dapur 30 – 40 gram/ L
Soda abu 10 -15 gram/ L
TRO 1 gram / L
Waktu–suhu 55 menit – 270 C
Cuci dingin
Gb.2. 6 Hasil pewarnaan dengan zat warna reaktif
Bahan Dasar Tekstil
77
Cara pewarnaan:
• Zat warna,TRO dan Matexil dilarutkan dengan air dingin, aduk
sampai rata.
• Kain dibasahi dengan TRO kemudian ditiriskan.
• Celupkan kedalam larutan zat warna diamkan selama 15
menit, angkat kain tambahkan soda abu aduk sampai larut,
kemudian pencelupan dilanjutkan sampai waktu yang
ditentukan.
• Tiriskan dan keringkan tanpa panas matahari langsung.
• Fiksasi dilanjutkan dengan pencucian.
Resep Colet / Kuas :
Zat Warna Remazol 3,5 gram
Matexil PAL 5 gram
Air dingin 491,5 CC
Cara Pewarnaan dengan kuas:
• Zat warna dan Matexil dilarutkan dengan air dingin, aduk
sampai rata.
• Kain dibasahi dengan TRO kemudian ditiriskan bentangkan
pada spanram diperkuat dengan paku pines.
• Celetkan zat warna menggunakan kuas sampai rata.
• Tiriskan dan keringkan tanpa panas matahari langsung.
• Fiksasi dilanjutkan dengan pencucian.
Resep fiksasi ada 2 cara:
Cara I (menggunakan fixanol)
Berat bahan gram
Vlot 1 : 40
Air 40 x a gram
Fixanol 2 x zat warna
Waktu – suhu 15 menit, 300 C
Kain yang sudah diwarna dan kering, fiksasi kedalam larutan
fixanol dengan direndam selama 15 menit, kemudian cuci dan
keringkan.
Cara II (menggunakan waterglass)
Waterglass 1 kg
Kostik soda 10 gram
Soda abu 25 gram
Air 500 CC
Bahan Dasar Tekstil
78
Larutkan kostik soda dan soda abu pada ember plastik, waterglass
dilarutkan sedikit demi sedikit dan aduk sampai rata, dikuaskan pada kain
yang sudah diwarna. Setelah diolesi waterglass kemudian pad-batch
dengan cara digulung dan masukkan ke dalam plastik selama 4 – 10 jam.
Penggulungan dalam keadaan basah. setelah Pad-Pad selesai, plastik
dibuka dan kain dicuci dengan air mengalir sampai tidak licin lagi,
keringkan atau untuk batik dilanjutkan dengan perebusan.
2.2.5. Zat warna indanthrene
Zat warna indanthrene normal termasuk golongan zat warna bejana yang
tidak larut dalam air. proses pencelupannya tidak perlu penambahan
elektrolit karena mempuyai daya serap yang tinggi. Pemakaian reduktor
dan alkali banyak dan dicelup pada suhu (40-60°C). Contoh zat warna
Indanthrene:
Helanthrene Yellow GC MP
Helanthrene Orange RK MP
Helanthrene Brilian Pink RS MP
Helanthrene Blue RCL MP
Helanthrene Green B MP
Helanthrene Brown BK MP
Resep zat warna:
Berat bahan a gram
Vlot 1 : 40
air 40 x a CC
Zat warna bejana 1 - 3 %
Kostik soda 380 Be 17 – 25 CC/L
Natrium hidrosulfit 3 -6 gram/L
TRO 1 gram /L
Suhu – waktu 400 C – 60 menit
Resep oksidasi:
Berat bahan a gram
Vlot 1 : 40
Air 40 x a gram
H2O2 6 cc /L
Asam cuka 2 cc /L
Suhu-waktu 400 C – 15 menit
Cara pewarnaan:
• Kain ditimbang kemudiaan celup kedalam larutan TRO dan
tiriskan.
Bahan Dasar Tekstil
79
• Timbang zat warna dan obat bantunya, sesuai resep untuk
pencelupan.
• Celupkan kain yang akan diwarna selama 60 menit, kemudian
cuci dingin dan oksidasi sesuai resep.
• Setelah selesai segera cuci dingin dan cuci panas selama 15
menit, cuci dingin dan keringkan.
2.2.6. Zat warna pigmen
Adalah zat warna yang tidak larut dalam segala macam pelarut. Zat
warna ini sebetulnya tidak mempunyai afinitas terhadap segala macam
serat. Pemakaiannya untuk bahan tekstil memerlukan suatu zat pengikat
yang membantu pengikatan zat warna tersebut dengan serat.pengikat
yang digunakan yaitu emulsi (campuran dari emulsifier, air dan minyak
tanah) yang dicampur dengan putaran tinggi. Zat warna pigmen banyak
digunakan untuk cetak saring, tidak layak digunakan sebagai pencelupan.
Contoh nama dagang zat warna pigmen:
Acramin (Bayer)
Helizarin (BASF)
Sandye ((Sanyo)Pristofix (Sandoz)
Alcilan (I.C.I)
Bahan Dasar Tekstil
80
Teknik Batik
81
BAB III
RUANG LINGKUP KRIYA TEKSTIL
Tekstil Hias Latar
A. Batik
1. Deskripsi Batik
1.1. Sejarah Singkat Seni Batik
Ada berbagai pendapat tentang asal-usul seni batik. Pengarangpengarang
asing sampai abad XX sebagian berpendapat bahwa seni
batik berasal dari luar Indonesia, misalnya dibawa oleh para pendatang
dari India Selatan. Asal-usul ini bahkan jika ditarik lebih jauh lagi sampai
kepada zaman sebelum datangnya pengaruh kebudayaan Hindu di
Nusantara, bersumber dari kebudayaan Mesir dan Persia Kuno.
Sebagian pengarang yang berpendapat lain mempertahankan pendirian
bahwa seni batik berasal dari Indonesia sendiri. Pendapat terakhir ini
patut mendapat dukungan berdasarkan bukti-bukti bahwa seni batik itu
berasal dari daya cipta penduduk kepulauan Nusantara. Dari penelusuran
sejarah Nusantara didapat bukti bahwa dasar-dasar teknik batik yaitu
menutup bagian-bagian kain atau bahan yang yang tidak akan diberi
warna, tidak hanya terdapat di kepulauan Jawa dan Madura atau daerah
lain yang dianggap mengalami pengaruh kebudayaan Hindu saja, namun
juga ditemukannya teknik-teknik “penutupan” di daerah Toraja, Flores,
Halmahera, bahkan di Irian (Papua).
Demikian pula dengan pemberian warna dengan jalan mencelup
merupakan cara yang telah lama dikenal, menggunakan bahan-bahan
atau zat warna yang tumbuh dan berasal dari berbagai pulau di
Nusantara. Zat warna indigo disebut juga tarum, tom atau nila sudah ada
sejak zaman dahulu. Kerajaan Tarumanegara yang berdiri pada abad V
Masehi dapat menjadi petunjuk bagi kita tentang adanya tumbuhtumbuhan
tersebut di Indonesia pada zaman dahulu. Mengkudu (Morinda
citrofolia) yang dipakai untuk mendapat warna merah adalah tumbuhtumbuhan
yang tidak terdapat di daratan India. Kulit kayu-kayuan yang
menghasilkan warna coklat atau yang lebih terkenal dengan nama soga
(Pelthophorum Ferugineum Benth) yang cemerlang itu berasal dari
berbagai pulau, diantaranya Sulawesi. Lilin lebah, bahan utama sebagai
penutup dalam proses membatik, berasal dari Palembang, Sumbawa,
dan Timor, yang memang sejak lama telah dikenal pemeliharaan lebah
Teknik Hias Latar
82
madu. Demikian pula damar mata kucing pencampur lilin, berasal dari
Kalimantan dan Sulawesi.
Bukti lain untuk memperkuat pendapat di atas misalnya cara
mencelup dalam cairan warna merah mengkudu yang dingin merupakan
perbedaan yang tajam dengan proses pemberian warna yang lazim di
India Selatan yang memakai cairan panas atau mendidih sebagai salah
satu tahap dalam pemberian warna.
Canting tulis merupakan alat khas seni batik di Indonesia.
Pemakaian alat-alat yang memberi corak tersendiri pada seni batik
Indonesia seperti canting, merupakan faktor utama yang membedakan
antara hasil seni batik Indonesia dan kain-kain berwarna dari India
Selatan yang memakai stempel atau pena kayu.
Dilihat dari ragam hias/pola hiasnya, seni batik Indonesia banyak
memakai pola yang berasal dari dunia flora dan fauna Indonesia, yang
dalam perkembangannya banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan
asing, sedangkan pola geometris memperlihatkan garis serta gaya yang
dikenal di seluruh Nusantara.
Untuk mengetahui sejarah seni batik di Indonesia dapat
berpedoman pada keadaan di daerah yang dahulu dikenal sebagai
Vorstenlanden, yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Kalau kita tujukan
pandangan kita ke daerah-daerah yang lazim disebut daerah pesisir akan
tampak suatu gambaran yang berlainan sekali. Di daerah-daerah tersebut
kehidupan rakyat kurang terikat oleh peraturan-peraturan yang
dikeluarkan oleh raja-raja. Pola-pola yang lazim menjadi pola larangan
yang ditentukan oleh undang-undang kerajaan di daerah pesisir dipakai
dan menjadi milik rakyat biasa. Tampak bahwa seni batik merupakan
kerajinan rakyat yang jadi sumber penghidupan mereka. Batik yang
berasal dari daerah ini sejak lama telah menjadi komoditas perdagangan
ke tempat lain di kepulauan Nusantara. Keterangan yang diperoleh dari
seorang pengusaha batik di kota Juwana di pantai utara sebelah timur
Jawa Tengah, yang sejak dahulu terkenal karena batik sutranya,
mengatakan bahwa para petani melakukan pekerjaan batik selama
mereka belum turun ke sawah dan apabila musim menanam, padi telah
tiba maka berhentilah mereka dari pekerjaan membatik.
Demikian halnya juga di Trusmi, Cirebon. Berdasarkan laporan
kerajinan batik yang disusun oleh De Kat Angelino pada tahun 1930,
dapat ditarik kesimpulan bahwa seni batik di daerah pesisir itu adalah
merupakan kerajinan rakyat asli. Bagaimana mungkin beratus-ratus,
bahkan beribu-ribu pengobeng (sebutan untuk pembatik wanita) yang
mencari nafkah dengan mengembara dari satu kota ke kota yang lain,
mendapat keahlian membatik kalau mereka tidak punya bakat seni (batik)
atau sedikitnya telah mempelajari seni batik dari dekat?
Demikian juga mereka yang berada di pusat-pusat batik yang
mencari nafkah dengan mencelup biru (medel) atau coklat (nyoga),
bukan berasal dari kalangan istana tetapi berasal dari kalangan rakyat
Teknik Batik
83
biasa, bahkan kalangan-kalangan istana mencelup hasil-hasil batik
menggunakan jasa orang-orang ini.
Pendapat lain yang mengatakan bahwa seni batik semata-semata
buah tangan para putri serta abdi wanita, kini juga diragukan. Penelitian
yang dilakukan di daerah Trusmi (Cirebon) dan Indramayu, menunjukkan
bahwa kaum laki-laki juga melakukan pekerjaan batik tulis yang halus.
Hal ini juga telah ditunjukkan oleh De Kat Angelino. Rouffaer dalam
bukunya mengenai batik antara lain menyebutkan sumber tertulis yang
tertua mengenai seni batik. Tulisan-tulisan (lontar) tersebut berasal dari
Galuh tahun 1520 M. Berdasarkan sumber-sumber ini ia menarik
kesimpulan bahwa seni batik pada waktu itu dilakukan oleh pria dan
mereka dinamakan “lukis”, bukan pembatik, sedangkan seni batiknya
sendiri disebut “tulis”. Juga ditunjuk pada sumber-sumber dari Jawa
Timur tahun 1275 yang menyebut beberapa pola, yaitu pola grinsing.
Menurut Rouffaer pola grinsing ini hanya dapat dibuat dengan alat
pembantik yang berupa canting, dan oleh karena itu sudah tentu
dikerjakan oleh wanita. Suatu kesimpulan yang menurut hemat kami tidak
dapat diterima begitu saja. Bukanlah pada contoh yang telah
dikemukakan di atas ditunjukkan, bahwa sampai sekarang ini masih
terdapat laki-laki yang membatik tangan dengan canting sebagai alatnya.
Bukan saja di daerah Trusmi dan Indramayu di karesidenan Cirebon,
tetapi juga di Jawa Tengah yaitu di Tembayat (Klaten dekat Surakarta).
Dalam hubungan ini dapat juga ditunjukkan suatu kenyataan bahwa
kata “batik”, “membatik” baru dengan jelas dipakai oleh sumber yang
lebih muda, yaitu yang tertuang dalam Babad Sengkala dari tahun 1633
Masehi dan juga dalam Panji Jaya Lengkara tahun 1770. Daun lontar
yang berasal dari Galuh (Cirebon Selatan) itu memakai kata “tulis” dan
“lukis”. Berdasarkan hal-hal tadi dan melihat pola-pola kuno daerah
Cirebon yang menggambarkan taman-taman, gunung-gunung serta
berbagai makhluk dengan cara yang jauh lebih realistis daripada polapola
Jawa Tengah dan Timur, dapatlah kiranya diajukan suatu
kesimpulan bahwa seni batik mungkin berakar pada seni lukis, salah satu
bentuk daya cipta penduduk Nusantara yang tertua dan yang sejak
dahulu kala pada umumnya dikerjakan oleh pria.
Mungkin sekali datangnya agama Islam di Pulau Jawa ini yang
melarang pembuatan gambar-gambar makhluk-makhluk yang hidup, para
seniman terpaksa mencari jalan keluar untuk menghindari larangan
tersebut. Lukisan-lukisan mengalami abstraksi yang jauh. Mega atau
awan, gunung, dipakai untuk menyembunyikan makhluk hidup. Suatu hal
yang semenjak dahulu telah dikenal, misalnya saja relief-relief mega
candi Penataran di Jawa Timur dekat kota Blitar dan mesjid kota
Mantingan di pantai Utara Pulau Jawa dekat kota Jepara. Di daerahdaerah
lain di Jawa ini seperti Surakarta dan Jogjakarta, abstraksi terlihat
misalnya pada motif-motif sayap.
Teknik Hias Latar
84
Jadi seni lukis mencoba mempertahankan diri dengan cara
bergabung dengan seni hiasan pakaian. Proses pemberian warna
dengan pencelupan dan penutupan dipakau juga untuk memperoleh
gambar-gambaran yang dikehendaki. Tata warna yang sederhana, biru
dan merah, yang telah dikenal oleh seni dekorasi bahan pakaian, dengan
demikian disusul dengan warna-warna lain seperti sawo matang, kuning
hijau.
Kehalusan bahan dasar memungkinkan sipembatik membuat polapola
dan gambar-gambar yang makin indah, canting bergerak dengan
lancar tanpa menemui halangan-halangan seperti pada tenunan-tenunan
yang kasar.
Dalam abad ke-19 timbul saingan antara batik tulis dengan “batik”
cap, suatu cara meletakkan lilin di atas kain tidak dengan alat canting
tetapi dengan suatu cap terbuat dari tembaga. Pertimbangan ekonomis
dan hasrat mencari uang dengan cepat mendesak seni batik halus,
sehingga pembuatan batik tulis hanya terbatas pada mereka yang
mampu atau yang membatik sebagai pengisi waktu.
Dalam lapangan mempertahankan batik tulis yang halus patut
diakui pengaruh besar pengusaha-pengusaha batik bangsa asing
walaupun kalau dilihat dari segi pola serta tata warna, hasil kerja mereka
tidak selalu dapat disetujui.
Suatu pengaruh teknik modern di lapangan batik ialah pemakaian
zat-zat warna kimia, didatangkan dari luar negeri yang karena mudah
pemakaian serta lebih luas jenis tata warnanya, mendesak dan
menyebabkan berkurangnya dipakai zat warna tumbuh-tumbuhan.
Demikianlah keadaan sampai pada pecahnya perang dunia II.
Zaman pendudukan Jepang memperlihatkan perkembangan lain. Karena
sukarnya mendapat bahan dasar yaitu kain putih, maka untuk mencegah
pengangguran perusahaan-perusahaan batik mengalihkan perhatian
pada pola-pola yang sulit, penuh dengan garis-garis dan titik-titik dan
pemberian warna yang berlebih-lebihan. Pengaruh usaha bangsa asing
dengan pola-pola mereka yang khas itu dilanjutkan, terutama oleh para
pembatik di daerah pantai utara pulau Jawa dan inilah yang kemudian
merupakan dorongan yang terbesar bagi daerah Pekalongan sebagai
pusat pembatikan.
Hasil-hasil batik dari zaman ini terkenal dengan batik “Jawa Baru”
atau “Jawa Hookokai”. Nama-nama yang dipakai untuk menyesuaikan diri
dengan keadaan penghidupan baru di bawah Pemerintah Tentara
Jepang. Bermacam pola baru muncul, ada pula yang mengambil bungabunga
Jepang sebagai contoh.
Sayang sekali bahan pendidikan bagi perkembangan seni batik
antara pecahnya revolusi kemerdekaan pada tahun 1945 dan tahun 1950
kurang sekali, sehingga sukar untuk memberikan suatu tinjauan.
Sesudah tahun 1950 perusahaan batik bertambah maju, ada yang
berdiri sendiri dan banyak pula yang bergabung dalam koperasi-koperasi.
Teknik Batik
85
Batik dewasa ini betul-betul sudah menjadi bisnis atau industri.
Kebutuhan akan hasil-hasil batik sudah jauh meningkat, kalau dahulu
batik dipakai untuk beberapa macam pakaian adat yang terutama seperti
kain panjang, sarung, kemben, selendang dan dodot, sekarang ini
kegunaannya macam-macam dari alas tempat tidur sampai pada alas
meja dan kemeja. Disamping itu seni batik mengalami “demokratisering”
mengenagi pemakaian polanya. Setiap orang dapat memakai pola-pola
yang disukainya tanpa larangan, kecuali dalam lingkungan temboktembok
kraton-kraton di Jawa Tengah tentunya.
Kebutuhan yang sangat besar akan hasil batik menyebabkan
bahwa para pengusaha batik berusaha keras untuk memenuhi
permintaan khalayak ramai, hal itu dipermudah dengan adanya teknik
batik cap. Sedapat mungkin dihasilkan batik secara cepat dan murah.
Akibat perkembangan perusahaan batik sekarang ini ialah
berkurangnya pembuatan batik halus atau tulis. Didasari untuk mendapat
pasaran yang luas menjadi sebab yang utama mutu seni kesenian batik.
Hal itu terlihat dengan banyaknya pola-pola baru serta warna-warni yang
menyolok di pasaran.
Batik halus sekarang hanya dibuat oleh mereka yang masih agak
mampu dan mempunyai waktu terluang. Pembatik-pembatik yang bekerja
dalam perusahaan batik kehilangan daya cipta, karena selalu harus
menurut kehendak si pengusaha, suatu gejala yang amat disayangkan.
Janganlah hendaknya kecemasan-kecemasan serta kekhawatiran
yang telah dirasakan jauh sebelum perang dunia II, tentang kemunduran
mutu seni batik, menjadi kenyataan. Mudah-mudahan mereka yang
menaruh minat akan seni batik akan ikut serta memelihara dan memupuk
cabang kesenian nasional Indonesia ini.
1.2. Pengertian batik
Seni batik merupakan salah satu kesenian khas Indonesia yang telah
sejak berabad-abad lamanya hidup dan berkembang, sehingga
merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah budaya bangsa
Indonesia. Seni batik juga merupakan suatu keahlian yang turuntemurun,
yang sejak mulai tumbuh merupakan sumber penghidupan yang
memberikan lapangan kerja yang cukup luas bagi masyarakat Indonesia.
Seni batik merupakan penyalur kreasi yang mempunyai arti tersendiri,
yang kadang-kadang dihubungkan dengan tradisi, kepercayaan dan
sumber-sumber kehidupan yang berkembang dalam masyarakat.
Seni batik mempunyai begitu banyak aspek menarik untuk
diungkapkan sehingga berbicara tentang batik rasanya tak pernah ada
akhirnya. Di samping itu masih banyaknya daerah batik yang dapat dikaji
kekhasannya. Belum lagi kalau kita memperhatikan dan mengkaji baik
cara pemakaian batik yang tak terhitung variasinya di berbagai daerah,
maupun aturan yang berlaku untuk kaum ningrat dan rakyat biasa.
Teknik Hias Latar
86
Pada saat ini keadaan telah berubah, penekanan cara pemakaian
kini tergantung pada acara resmi atau adat, tidak resmi atau santai.
Namun tentu saja dalam tata cara pemakaian dalam lingkungan kraton
masih berlaku aturan-aturan tertentu. Membatik pada dasarnya sama
dengan melukis di atas sehelai kain putih. Sebagai alat melukisnya
dipakai canting, dan sebagai bahan melukisnya dipakai cairan malam
atau lilin. Setelah kain dibatik diberi warna, kemudian lilin dihilangkan
atau dilorod, maka bagian yang tertutup lilin atau malam akan tetap putih,
tidak menyerap warna. Ini disebabkan karena lilin berfungsi sebagai
perintang warna. Proses inilah akan menghasilkan kain batik.
1.3. Cara Membatik
Penjelasan mengenai cara membatik sangat dibutuhkan khususnya bagi
mereka yang belum mengetahui sama sekali tentang seni batik, sehingga
dapat meningkatkan penghargaan terhadapnya. Dengan melihat polapola
batik saja atau melihat kain batik yang telah jadi, orang tidak akan
paham betapa banyak pekerjaan yang diperlukan untuk membuat sehelai
kain batik dan tidak dapat menduga faktor-faktor teknis dan non-teknis
yang menyebabkan bahwa dalam seni batik tulis selalu terdapat unsur
khusus yang menyebabkan setiap helai kain batik bisa berbeda dari yang
lain walaupun pola dan susunan warnanya dibuat persis sama.
Inilah sebabnya mengapa dirasakan perlu memuat bab mengenai
cara membatik dalam buku pola ini. Perlu ditekankan bahwa kebanyakan
bahan yang dipakai dalam menyusun bab ini diambil dari buku-buku yang
terkenal seperti Rouffaer dan Jasper/Pirngadi ditambah dengan
wawancara-wawancara.
Inti cara membatik ialah “cara penutupan” , yaitu menutupi bagian
kain atau bahan dasar yang tidak hendak diberi warna dengan bahan
penutup, dalam hal ini berupa lilin. Mungkin dalam permulaannya lilin
diteteskan pada kain, oleh karena itu ada faham yang mengembalikan
arti kata batik pada suku kata “tik” yang berarti titik atau tetes.
Bahan utama bagi teknik membatik sekarang ini adalah kain putih,
baik yang halus ataupun yang kasar, dan lilin sebagai bahan
penutupserta zat warna. Kulitas kain putih sangat mempengaruhi hasil
seni batik, dalam bab mengenai sejarah batik telah dikemukakan bahwa
kehalusan kain putih yang di impor dari luar negeri merupakan salah satu
sebab bertambah tingginya seni batik. Jadi makin halus kain putih yang
dipakai makin bagus hasil pembatikan , makin jelas terlihat pola-pola
serta pembagian warna-warnanya. Bahan lain seperti sutera shantung
dapat pula dipakai, tetapi sekarang ini sudah jarang sekali. Kota Juwana
di pantai utara pulau Jawa dahulu termashur akan selendang serta
sarung batik suteranya. Hasil-hasil batik sutera “diekspor” ke pulau Bali
dan Sumatera. Sayang sekali kekurangan bahan sutera shantung murni
menyebabkan hilangnya kerajinan di kota tersebut.
Teknik Batik
87
Kalau dahulu dipakai lilin lebah sebagai satu-satunya bahan
penutup, maka dengan adanya industri serta pertambangan minyak
tanah dewasa ini banyak dipakai lilin buatan pabrik (paraffine, microwax,
dll), baik murni atau dicampur dengan lilin alam. Lilin memang merupakan
bahan penutup yang tepat bagi teknik karena mudah dituliskan pada kain,
tetap melekat sewaktu dicelupkan dalam cairan warna, dan mudah pula
dihilangkan apabila tak dipergunakan lagi. Di samping lilin lebah atau
buatan, dahulu juga dipakai bahan penutup lain yaitu bubur beras ketan,
seperti pada kain Simbut Jawa Barat.
Lilin penutup hanya dapat dituliskan dalam bentuk cair; oleh karena
itu pembatik harus memanaskan lilinnya dalam sebuah wajan kecil yang
ditaruh di atas api dalam suatu anglo. Suhu lilin haruslah tepat, tidak
boleh terlalu panas atau terlalu dingin. Kalau terlalu panas, lilin akan jauh
meresap ke dalam kain, sehingga kemudian sukar untuk dibuang,
sedangkan kalau tidak cukup panasnya akan terlalu kental sehingga
sukar keluar dari alat penulis. Oleh karena itu kita lihat pembatik
mengangkat wajannya dari api kalau dilihatnya bahwa lilinnya sudah
terlalu panas.
Lilin cair dituliskan pada kain putih dengan suatu alat yang menjadi
tanda khas seni batik tulis, yaitu canting. Canting terbuat dari bambu dan
tembaga. Gagang atau tempat memegang terbuat dari bambu sedangkan
kepalanya yang dipakai untuk menyendok serta mencucurkan lilin terbuat
dari tembaga. Mulut canting berupa pembuluh bengkok yang besarnya
berbeda-beda dan dari mulut ini melelehlah cairan lilin, dapat
diumpamakan dengan sebuah pulpen. Kain putih yang dilampirkan pada
sebuah gawangan bambu atau kayu dipegang dengan tangan kiri
sebagai tatakan, sedangkan tangan kanan memegang canting.
Seperti diketahui bahwa Pulau Jawa merupakan pusat
berkembangnya batik di Indonesia sehingga istilah-istilah yang lazim
dipakai dalam dunia batik kebanyakan menggunakan kata-kata dalam
bahasa Jawa. Adapun untuk mudahnya sebagai contoh dipakai proses
pembuatan kain soga daerah Surakarta dan Yogyakarta dengan
tatawarna sawo matang (coklat), biru tua atau hitam dan putih, sehingga
tahapan dalam proses batik dalam uraian ini disesuaikan dengan kain
soga tersebut. Pemakaian zat warna kimia yang biasa dipakai sekarang
ini sebenarnya tidak merubah urutan tahap, hanya mempersingkat saja.
Lazimnya dapatlah dibedakan tahap-tahap sebagai berikut:
1.3.1. Pengolahan persiapan kain putih
Pengolahan persiapan kain dimaksudkan supaya lilin mudah melekat dan
tidak mudah rusak sewaktu mencelup, dan disamping itu juga zat-zat
warna mudah meresap. Dahulu bahan tumbuh-tumbuhan merupakan
satu-satunya sumber pengolahan persiapan yang utama, walaupun zatzat
tersebut meresapnya lambat. Pengolahan ini terdiri atas mencuci kain
putih yang telah dipotong-potong dengan air bersih agar supaya hilang
Teknik Hias Latar
88
kanji perekatnya, kemudian diremas serta direndam dalam minyak jarak
(Ricinus Communis L.) atau kacang (Arachis hypogala). Ini dinamakan
ngetel atau nglyor. Untuk menghilangkan kelebihan minyak, maka kain
direndam dalam air saringan abu merang. Menurut cara modern, merang
ini diganti dengan larutan soda, yang dapat mempercepat waktu dan
lebih mudah dipakai. Pada mulanya diseling-seling dengan penjemuran
dipanas matahari, sehingga memakan waktu berhari-hari. Kain putih yang
telah mendapat pengolahan ini kemudian dilicinkan dengan menaruhnya
di atas sebilah kayu dan memukul dengan pemukul kayu pula
(ngemplong). Dengan demikian kain siap untuk menjalani tahap
selanjutnya.
1.3.2. Menggambar pola
Menggambar pola (nyorek) atau gambaran pertama dengan lilin cair
diatas kain. Pada tahap ini si pembatik yang duduk di atas sebuah
bangku kecil atau bersila di muka gawangannya, menyendok lilin cair dari
wajannya dengan canting lalu mulai membuat garis-garis atau titik-titik
sesuai dengan pola yang dikehendakinya, dengan posisi canting harus
tepat, tidak boleh terlalu miring atau terlalu tegak.
Canting mengikuti pola-pola yang telah digambar terlebih dahulu
oleh seorang tukang pola atau kalau pembatik itu telah mahir sekali ia
akan menggambar luar kepala. Gambaran lilin ini kemudian diteruskan
pada belahan yang kemudian akan menjadi bagian dalam kain batik, oleh
karena itu nama pekerjaan ini ialah nerusi. Itu sebabnya pula mengapa
bahan kain putih yang dipakai tidak boleh terlalu tebal, karena kalau tidak
akan menyukarkan pekerjaan meneruskan gambaran pertama itu.
1.3.3. Nembok
Nembok atau pekerjaan menutupi bagian-bagian yang tidak boleh kena
warna dasar. Bagian kain yang tidak boleh terkena warna dasar, dalam
hal ini warna biru tua, ditutup dengan lapisan lilin tebal yang seolah-olah
merupakan tembok penahan, itulah sebabnya pekerjaan ini dinamakan
menembok, dikarenakan juga dikerjakan pada bagian sebelah dalam
kain. Penembokan adalah tahap penting dalam pembuatan kain batik,
karena apabila lapisan kurang kuat, warna dapat menembus dan akan
merusak seluruh kain atau warna yang telah direncanakan. Selesai
menembok maka kain siap untuk tahap yang berikut yaitu pencelupan
pertama mendapat warna dasar.
1.3.4. Pencelupan pertama
Pencelupan pertama dilakukan untuk mendapat warna dasar biru disebut
“medel”. Dahulu, ketika pencelupan ini dilakukan semata-mata dengan
zat warna yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yaitu indigo atau nila
Teknik Batik
89
(Indigofera Tinctoria L.), pekerjaan ini memakan waktu berhari-hari,
diselingi dengan penjemuran di tempat yang teduh atau dianginanginkan.
Tukang celup atau pengusaha batik masing-masing mempunyai
rahasia ramuannya sendiri-sendiri yang diwariskan turun temurun.
Berbagai macam bahan dimasukkan ke dalam jambangan celup, dari
gula kelapa, tape, pisang kelutuk sampai kepada potongan-potongan
daging ayam. Semuanya untuk menambah sinar serta gemilangnya
warna biru nila atau indigo yang sampai sekarang belum terkalahkan
indahnya. Dewasa ini, dengan pemakaian zat warna kimia, telah banyak
hilang sifat misterius pencelupan. Zat warna kimia seperti napthol atau
indigosol yang umum dipakai hanya memakan beberapa menit untuk
meresap. Walaupun demikian untuk dapat menghasilkan kain batik yang
baik warnanya, masih tetap diperlukan “tangan dingin” disamping
pengetahuan akan campuran kimia.
1.3.5. Ngerok (nglorod)
Pekerjaan ini maksudnya untuk membuang lilin penutup dari bagianbagian
yang nanti akan diberi warna sawo matang (soga). Caranya ialah
dengan memasukkan kain ke dalam air yang mendidih, sehingga lilin cair
kembali atau dengan jalan mengerik atau mengerok dengan alat cawuk
yang dibuat dari plat seng. Cara pembuatan lilin dengan memasukkan
kain ke dalam air mendidih adalah lebih baik dari mengerok, karena pada
pengerikan mungkin tidak selalu bersih dan teliti sehingga mempengaruhi
gambaran nanti setelah disoga.
1.3.6. Mbironi
Bagian yang telah mendapat warna biru dan yang tidak boleh terkena
soga kemudian ditutup lagi dengan lilin dan pekerjaan ini maka kain telah
siap untuk tahap berikutnya yaitu pencelupan dalam soga untuk
mendapat warna coklat.
1.3.7. Menyoga (mencelup dalam zat warna coklat)
Menyoga berasal dari soga (Peltophorum Ferrugineum Benth), yaitu
salah satu kayu-kayuan yang dipakai untuk mendapat warna coklat.
Untuk mendapat warna coklat ini diperlukan juga berbagai campuran,
masing-masing menurut resep rahasianya sendiri-sendiri berbeda
menurut daerah atau kota.
Ada yang menyukai warna coklat muda keemasan ada yang
senang kepada yang lebih tua kemerahan (Madura) dan lain-lain variasi.
Warna coklat yang berasal dari zat warna kimia tidak memerlukan
pekerjaan yang lama, cukup dengan mencelup dalam campuran warna
yang memakan waktu tidak sampai setengah jam lamanya. Setelah
Teknik Hias Latar
90
pencelupan dalam soga, maka kain siap dengan pemberian warnanya
dan dapatlah dibuang lilin seluruhnya (nglorod).
Kadang-kadang diperlukan suatu pekerjaan lagi yaitu nyareni yang
gunanya supaya warna coklat itu tetap dan bertambah bagus. Air aren
terdiri atas air kapur dengan campuran beberapa zaat tumbuh-tumbuhan.
Seringkali pekerjaan memberi saren ini oleh beberapa pembatik dianggap
sama pentingnya dengan menyoga. Setelah lilin dibuang seluruhnya
maka tampaklah kain batik dengan warna-warna dasar biru tua dengan
gambaran sawo matang diseling dengan warna putih gading.
Demikian secara singkat tahap-tahap yang harus dilalui sebelum
tercipta sehelai kain batik tulis. Makin sulit pola serta banyak susunan
warnanya semakin lama pula pembuatannya.
Pada permulaan bab ini telah diutarakan bahwa sebagai contoh
diambil pembuatan kain soga corak Yogyakarta atau Surakarta. Hal ini
perlu sebab berbagai daerah di Pulau Jawa ini mempunyai corak serta
keragaman dalam pola serta tatawarna yang dapat menjadi petunjuk
bagi kita darimana asal sehelai kain. Perbedaan pola sebenarnya tidak
terlalu banyak. Dalam bagian berikutnya akan disajikan macam-macam
corak, tatawarna dalam seni batik dari beberapa daerah yang sejak
dahulu terkenal sebagai pusat pembatikan.
Daerah Surakarta dan Yogyakarta yang lazim dianggap sebagai
pusat kesenian batik terkenal karena tatawarna biru tua sebagai warna
dasar, coklat soga dan putih. Dalam pemilihan warna putih saja, kedua
daerah yang letaknya sangat berdekatan itu, berbeda. Kain-kain dari
Yogyakarta warna putihnya itu putih bersih, sedang di Surakarta warna ini
lebih kekuningan gading.
Bergerak ke arah barat, ke daerah Banyumas yang pengaruhnya
terasa sampai ke Tasikmalaya dan Garut, akan terlihat bahwa tatawarna
yang digemari ialah warna kuning keemasan dikombinasikan dengan
soga coklat muda serta biru tua kehitaman.
Di pantai utara Jawa Barat mulai dengan daerah Indramayu, orang
gemar memakai warna biru, tetapi daerah Cirebon sendiri dengan kraton
Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan, mempunyai pusat pembatikan
di Trusmi dan Kalitengah dengan pola serta tatawarna yang khas. Melihat
pola serta warna-warna kain “megamendung” yang memakai teknik
bayangan berlapis kadang-kadang sampai 7 banyaknya orang pasti akan
kagum. Batik “kraton” dengan pola-pola gunung, taman dengan segala
macam binatang berwarna kuning gading tidak kurang indahnya.
Mulai dari daerah Cirebon menyusur pantai ke arah timur sampailah
ke pusat pembatikan daerah Pekalongan dengan kainnya yang berwarna
modern. Kalau dahulu warna-warna ini terbatas pada pemakaian warna
merah, biru, putih dan hijau, maka berkat zat warna kimia tidak terbatas
kemungkinan warna yang dipakai, sehingga kain-kain daerah Pekalongan
dewasa ini paling menyolok tatawarnanya. Terus lagi ke arah timur
menjelajahi daerah utara Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjumpai kotakota
batik yang terkenal seperti Kudus, Juwana, Rembang, Lasem,
Teknik Batik
91
Gresik sampai Surabaya, akan terlihat tatawarna yang khas pula, sangat
terpengaruh oleh selera etnis Tionghoa. Pulau Madura sebagai penutup
bunga rampai ini sejak dahulu mempunyai kegemaran akan warna soga
kemerahan. Warna coklat merah ini diperoleh karena campuran soga
dengan mengkudu (Morinda citrofolia) sebagai penghasil zat warna
merah.
Pemakaian zat warna kimia menghilangkan perbedaan tatawarna
menurut daerah. Pekalongan kini sanggup meniru kombinasi warna dari
berbagai daerah. Surakarta dan Yogyakarta juga demikian. Masingmasing
pusat pembatikan mengikuti selera khalayak ramai mengenai
kombinasi warna tertentu yang paling laku saat itu. Upaya-upaya perlu
dilakukan agar pemakaian zat warna dari tumbuh-tumbuhan ini dapat
hidup kembali dan tentunya tanpa memakan waktu yang lama untuk
memperoleh warna yang diinginkan.
1.4. Pembagian pola batik
Pembagian atau penggolongan pola-pola batik bukanlah pekerjaan yang
mudah, oleh karena itu setiap hasil yang diperoleh akan selalu bersifat
garis besar dan semata-mata dimaksudkan untuk pegangan bagi
pembaca atau peneliti.
Pada permulaan abad ini Rouffaer dalam bukunya mencoba
mengumpulkan nama-nama pola batik yang terkenal dan berhasil
mengumpulkan sebanyak 3000 macam. Dalam jangka waktu sejak
ditulisnya buku tersebut sampai kepada terbitnya buku ini tentu seni batik
terus mengalami perkembangan, demikian pula pola-pola bertambah
banyak jenisnya, berganti-ganti muncul dan hilang mengikuti perubahan
selera pemakaiannya. Pola batik dapat dibagi menjadi dua yaitu: pola
geometris dan pola non-geometris.
1.4.1. Pola geometris
Pola “banji”
Pola Banji termasuk salah satu pola batik yang tertua, berupa silang yang
diberi tambahan garis-garis pada ujungnya dengan gaya melingkar
kekanan atau kekiri. Motif yang seperti ini terkenal di berbagai
kebudayaan kuno di dunia ini dan sering disebut swastika. Di Nusantara
pola ini tidak terbatas pada seni batik saja, tetapi dapat dijumpai pula
sebagai hiasan benda-benda lain yang tersebar dibanyak pulau.
Nama “Banji” berasal dari kata-kata Tionghoa “Ban’ berarti sepuluh,
dan “Dzi” yang artinya ribu, perlambang murah rejeki atau kebahagiaan
yang berlipat ganda. Melihat atau mendengar nama ini, maka dapat
diperkirakan bahwa pola banji masuk ke dalam seni batik sebagai akibat
pengaruh kebudayaan Tionghoa.
Teknik Hias Latar
92
Seperti telah diketahui bahwa pada tahun 1400 Masehi, di pantai utara
Pulau Jawa telah banyak orang-orang Tionghoa yang menetap, dan yang
dalam pada itu tentu membawa perbendaharaan kebudayaan mereka
yang kuno dan kaya itu. Hal ini nampak pada banyaknya peninggalan
berupa barang pecah belah Tionghoa yang sampai kini masih tersebar di
pantai utara dan di banyak bagian lain kepulauan Indonesia, sehingga
tidaklah mustahil bahwa penduduk asli yang sudah lama berkenalan
dengan para pendatang Tionghoa mengambil serta meniru pola-pola
hiasan.
Mereka yang menyangkal pengaruh kebudayaan Tionghoa
menunjuk kepada nama Jawa asli yang dipakai untuk pola ini yaitu :
Balok bosok, artinya kayu yang busuk, karena pola banji menyerupai
balok-balok bersilang yang dimakan bubuk.
Pola banji dalam seni batik mengalami bermacam perubahan dan
diberi hiasan-hiasan tambahan, misalnya seringkali diseling dengan
daunan atau rangkaian bunga-bungaan, sedemikian rupa hingga sukar
untuk mengenal kembali silang banjinya.
Pola “ceplok” atau “ceplokan”
Pola yang sangat digemari, terdiri atas garis-garis yang membentuk
persegi-persegi, lingkaran-lingkaran, jajaran-jajaran genjang, binatangbinatang
atau bentuk-bentuk lain bersegi banyak. Bila diteliti benar-benar
maka terlihat bahwa pola ceplok ini berupa stiliring atau abstraksi
berbagai benda, misalnya saja bunga-bunga kuncup, belahan-belahan
buah, bahkan binatang-binatang. Itulah sebabnya banyak diantara motifmotif
ini memakai nama kembang atau binatang.
Selain sangat digemari pola ini juga sangat tua usianya, hal ini
terlihat pada beberapa peninggalan candi terdapat hiasan-hiasan yang
menyerupai atau mengingatkan kita pada pola ceplok ini. Dalam
golongan pola ceplokan ini dapat juga dimasukkan pola yang lazim
dikenal dengan nama pola ganggong. Berbagai-bagai tafsiran para ahli
mengenai asal-usul pola ini. Jasper dalam bukunya yang terkenal
mencari asalnya pada semacam tumbuh-tumbuhan dipaya-paya yang
buahnya kalau dibelah dua menunjukkan gambaran yang mirip dengan
pola batik ganggong. Tetapi harus diingat bahwa inipun hanya salah satu
diantara sekian banyak keterangan mengenai asal pola ini. Ada yang
menganggap pola genggong sebagai pola yang berdiri sendiri, karena
menunjukkan beberapa ciri yang khas, berupa binatang-binatang atau
silang-silang yang ujung jari-jarinya melingkar seperti benang sari bunga.
Pola ganggong inipun mengalami bermacam-macam variasi.
Teknik Batik
93
Pola “kawung”
Pola ini sebenarnya dapat digolongkan dalam motif ceplokan, tetapi
karena kunonya dan juga karena sifat-sifatnya yang tersendiri dijadikan
golongan yang terpisah.
Pola ini tergolong kuno, hal ini dapat dilihat pada pahatan/ukiran
Candi Prambanan yang didirikan kira-kira pada abad VIII Masehi dan
juga pada beberapa peninggalan lain. Mengenai asal-usul pola ini
terdapat perbedaan faham. Ada yang mengembalikan pola ini kepada
buah pohon aren atau kawung, karena belahan buah aren itulah yang
menjadi dasar pola kawung. Tetapi Rouffaer misalnya, berpendapat
bahwa pola kawung berasal dari suatu pola kuno yang lain yaitu pola
grinsing. Pola grinsing ini telah disebut dalam sumber-sumber tertulis
silsilah raja yang bernama Pararaton (abad ke-14). Pola yang terdiri atas
lingkaran-lingkaran kecil dengan sebuah titik di dalamnya tersusun
seolah-olah sisik ikan atau ular, menjadi penghias latar/dikombinasikan
dengan motif lain. Sumber-sumber dari Jawa Timur tahun 1275
menyebutnya bersamaan dengan motif wayang, misalnya grising. Grising
inilah kemudian berkembang serta berubah menjadi pola kawung. Pola
kawungan bermacam-macam ragamnya, berbeda menurut besarkecilnya
ukuran yang dipakai, sangast digemari di kalangan Kraton
Yogyakarta tempat ia pernah menjadi pola larangan, artinya yang dalam
bentuk murninya hanya boleh dipakai oleh Sri Sultan serta keluarganya
yang terdekat.
Pola “nitik”
Dari nama pola ini orang akan mendapat kesan sifat atau rupanya, yaitu
titik-titik atau garis-garis pendek yang tersusun secara geometris,
membentuk pola yang meniru tenunan atau anyaman. Mereka yang
mencari asal-usul teknik batik pada tetesan atau titik-titik lilin (kata tik),
menganggap pola ini sebagai pola yang tertua. Diantara sekian banyak
pola nitik, yang terkenal ialah pola Cakar Ayam dan Tirtateja.
Pola garis miring
Merupakan pola yang susunannya miring atau diagonal secara tegas.
Ada dua macam pola yang termasuk golongan ini yaitu pola parang dan
lereng.
Pola yang paling terkenal serta digemari diantara pola garis miring
ini adalah pola parang. Adapun tanda atau ciri pola parang ini ialah lajurlajur
yang terbentuk oleh garis-garis miring yang sejajar berisikan garisgaris
pengisi tegak, dan setiap lajur terpisah dari yang lain oleh deretan
ornamen yang bergaya miring juga, dinamakan mlinjon. Kata mlinjon
dipakai disini oleh karena motif pemisah tadi berbentuk jajaran genjang
kecil, menyerupai buah mlinjo. Nama parang ialah nama pencakup,
Teknik Hias Latar
94
sebab motif inipun mempunyai banyak ragam. Yang termasyur
diantaranya ialah pola Parang Rusak. Banyak teori dan pendapat
dikemukakan orang berhubung dengan asal-usul pola ini. Ada yang
mencari akarnya dalam sejarah Jawa kuno, misalnya dengan Raden
Panji. Nama parang sering mengingatkan orang pada pisau atau keris,
itulah sebabnya ada yang mencari sumber pola ini pada stiliring daripada
keris atau pisau. Sering pula dikatakan, bahwa lahirnya pola ini diilhami
oleh tokoh Sultan Agung dari Mataram (1613 – 1645). Tetapi telah
menjadi kenyataan bahwa pola Parang Rusak menjadi larangan, artinya
hanya boleh dipakai oleh sang raja sendiri atau keluarganya yang
terdekat. Hal ini masih dipegang teguh sampai sekarang di dalam
lingkungan tembok kraton, walaupun diluar istana tidak dihiraukan lagi
larangan ini. Nama-nama yang diberikan kepada beberapa macam pola
Parang Rusak berbeda menurut ukuran polanya. Parang rusak dengan
ukuran yang terkecil dinamakan Parang Rusak Klitik, yang agak besar
dinamakan Parang Rusak Gendreh, dan yang terbesar Parang Rusak
Barong. Pola yang disebut terakhir ini mempunyai proporsi serta
kesederhanaan pola yang menimbulkan suasana keagungan, hingga
dapatlah dimengerti mengapa dikalangan istana Jawa Tengah dianggap
keramat dan hanya boleh dipakai oleh sang raja sendiri atau sebagai
sajian tertentu kepada para leluhur.
Motif-motif lain dapat pula disusun menurut pola garis miring dan
contoh yang terkenal ialah pola udan liris dan rujak senthe, yang karena
kehalusan motif-motif yang disusun miring itu seolah-olah menyerupai
hujan rintik-rintik atau liris.
1.4.2. Pola Non-Geometris
Pembuatan pola-pola non-geometris ini tidak terbatas karena si pencipta
pola tidak begitu terikat oleh ukuran atau gaya-gaya tertentu. Walaupun
demikian akan terlihat bahwa tradisi masih memegang peranan yang
penting mengenai tata susunan pola.
Pola Semen
Semen berasal dari kata “semi+an” yang berarti kuncup-kuncup, daun
dan bunga-bunga. Untuk memberi pegangan dalam membedakan sekian
banyak macam pola semen, para penyelidik batik membuat pembagian
berdasarkan beberapa persamaan yang terlihat, yaitu :
• Pola semen yang hanya terdiri atas kuncup daun-daunan
serta bunga-bunga (misalnya : pola pisang Bali, kepetan).
• Pola semen yang terdiri atas kuncup-kuncup, daun serta
bunga-bungaan dikombinasikan dengan motif binatang
(misalnya: pakis, peksi, endol-endol, merak kesimpir).
Teknik Batik
95
• Pola semen yang terdiri atas gambaran tumbuh-tumbuhan,
binatang-binatang, ditambah dengan motif sayap atau Lar.
Motif Lar atau sayap ini merupakan pelengkap pada pola
semen, dan dalam perbendaharaan ornamen batik mengenal
tiga bentuk yaitu : Lar, Mirong dan Sawat. Lar berupa sayap
tunggal, sedangkan Mirong ialah sayap kembar. Motif Sawat
yang sejak dahulu kala dianggap sebagai pola raja-raja
adalah sayap kembar lengkap dengan ekor yang terbuka.
Asal-usul motif sawat tidak jelas, Rouffaer menggalinya
dalam sejarah perlambang kerajaan Mataram di bawah
Sultan Agung, sebagai lambang kejayaan.
Masih banyak lagi pola-pola yang tidak bersifat geometris. Daerah
yang terkenal dengan nama Pesisir dimana orang tidak begitu terikat oleh
tradisi kraton-kraton, menjadi tempat asal pola yang beraneka ragam.
Cirebon dengan pola-pola tidak geometris yang menggambarkan
gunung-gunung, batu-batu, kolam-kolam serta binatang-binatang diselingi
dengan rangkaian tumbuh-tumbuhan serta bunga-bungaan.
Pola seperti yang terdapat dalam selendang-selendang sutera atau
Lookcan dari Pantai Utara Jawa Tengah dan Timur, dengan burungburung,
bunga-bunga serta binatang-binatang lain, memperlihatkan
campuran pengaruh berbagai ragam seni hias yang berasal dari berbagai
kebudayaan. Semuanya itu kita coba sajikan dalam buku ini. Mudahmudahan
dapat memberikan gambaran kepada para pembatik dan
penggemar seni batik tentang kekayaan pola-pola seni batik Indonesia.
2. Contoh produk batik
Kegunaan : Kain Panjang
Unsur Motif : Parang, Mlinjon
Filosofi : Parang berarti senjata yang menggambarkan
kekuasaan, kekuatan, dan kecepatan gerak.
Ksatria yang menggunakan batik ini kuat dan
limpat (dapat bergerak dengan gesit).
Gb.3. 1 Parang rusak barong (batik tulis)
Teknik Hias Latar
96
Kegunaan : Dipakai saat upacara pernikahan
Filosofi : Truntum berarti menuntun. Diharapkan si pemakai
(orang tua mempelai berdua) mampu memberi
petunjuk/contoh kepada kedua putra-putrinya untuk
memasuki kehidupan baru berumah tangga yang
penuh liku-liku..
Kegunaan : Sebagai kain panjang
Unsur motif : Geometris
Filosofi : Kain ini dipakai oleh raja dan keluarga dekatnya
Sebagai lambang keperkasaan dan keadilan. Empat
bulatan dengan sebuah titik pusat juga
melambangkan raja yang didampingi pembantunya.
Gb.3. 2 Truntum (batik tulis)
Gb.3. 3Kawung (batik tulis)
Teknik Batik
97
Kegunaan : Kain panjang
Unsur motif : Lar, candi
Filosofi : Motif ini berarti darma, kemakmuran dan melindungi
buminya, yang mempunyai harapan/tujuan baik.
Digunakan dalam upacara panggih pengantin.
Kegunaan : Kain panjang
Unsur motif : Lar, meru
Filosofi : Motif ini berarti bersifat darma, adil terhadap sesama,
teguh hati, berjiwa luhur, tidak “adigang-adigung” dan
ada kesaksian melawan musuh.
Gb.3. 4 Sidomukti (batik tulis)
Gb.3. 5 Semen romo (batik tulis)
Teknik Hias Latar
98
Kegunaan : Selendang Wanita
Unsur motif : Gumin Tambun
Filosofi : Gumin Tambun adalah ukiran yang ditempatkan
pada daun pintu rumah. Ukiran ini menurut
mitologi Hindu Kaharingan mempunyai kekuatan
sebagai pengikat bagi harta kekayaan, jika harta
ini masuk akan sulit keluar, disamping itu juga
sebagai simbol kelembutan budi luhur pemiliknya
terhadap siapapun yang masuk ke rumah itu.
Kegunaan : Pakaian pria dan wanita
Unsur motif : Tatu payung
Filosofi : Tatu Payung adalah suatu ukiran pada papan
kecil yang dibuat sebelum orang menanam padi.
Pembuatannya dilakukan di ladang. Selanjutnya
ukiran ini ditaruh pada sarang bibit, agar nanti
padi berbuah dengan baik mendapat hasil yang
banyak.
Gb.3. 6 Gumin tambun (batik cap)
Gb.3. 7 Tatu payung (batik cap)
Teknik Batik
99
Kombinasi antara lilin pada kain dan pewarnaan menghasilkan
suatu corak. Hasil corak baru yang dibuat secara spontan ini disebut
dengan macam-macam nama, antara lain: batik modern, batik painting,
batik gaya bebas, batik tanpa pola atau batik abstrak. Pemakaiannya
terutama sebagai hiasan dinding, kemudian dipakai pula sebagai kemeja,
rok dan ada pula yang diubah khusus untuk kain nyamping wanita.
Salah satu contoh batik modern dipakai sebagai hiasan dinding.
Goresan lilin pada kain dengan kuas menghasilkan komposisi yang unik
setelah dipadukan dengan warna.
Gb.3. 8 Batik modern
Gb.3. 9 Batik modern
Teknik Hias Latar
100
Kegunaan : Pakaian pria/wanita
Unsur Motif : Lebah bergantung, bunga hutan, pucuk pakis.
Filosofi : Memakai hiasan lebah bergantung berombakombak
dipandang mata, hidup sentosa tolong
menolong, jauh dari segala aib dan nista.
3. Alat Batik
Alat yang digunakan untuk membuat batik ada beberapa jenis, masingmasing
alat memiliki jenis dan fungsinya sendiri. Jenis alat untuk
membatik antara lain:
Canting tulis: untuk membatik
di atas kain
Gb.3. 10 Lebah bergantung (batik cap)
Teknik Batik
101
Wajan dan kompor: untuk mencairkan lilin
batik
Canting cap dan meja cap: untuk membuat motif cap di atas kain
Timbangan: untuk
menimbang warna
Stik besi: untuk menghilangkan tetesan
lilin
Teknik Hias Latar
102
Dingklik: untuk duduk pada waktu
membatik tulis
Gawangan: untuk membentangkan
kain/mori batik
Meja pola: untuk memindahkan gambar dari
kertas ke kain
Teknik Batik
103
Gelas ukur
Untuk mengukur kebutuhan air/larutan.
Sarung tangan
Untuk pelindung tangan pada saat mewarna
kain.
Mangkok, gelas dan sendok
Untuk tempat melarutkan
warna batik
Ember
Untuk tempat mewarna
kain batik
Teknik Hias Latar
104
Gunting: untuk memotong kain
Penghapus, pensil, spidol, rautan,
dan penggaris: untuk menggambar
pola
Meteran: untuk mengukur panjang atau
lebar kain
Scrap: untuk membersihkan lilin yang
menetes di lantai.
Teknik Batik
105
Seterika dan meja seterika: untuk menghaluskan kain
Kompor pompa dan kompresor: untuk merebus air lorodan
Kenceng: untuk tempat melorod
kain batik.
Teknik Hias Latar
106
Wajan cap (Loyang, serak kasar,
serak halus, kain blaco kasar,
kain blaco tipis): untuk
mencairkan lilin batik cap.
Ceret dan kompor minyak: untuk merebus air
Jemuran: untuk menjemur
kain batik.
Teknik Batik
107
Parang: untuk memotong lilin batik
Kuas: untuk mencolet kain batik.
Rak kompor: untuk tempat kompor dan
wajan cap pada waktu membatik cap
Teknik Hias Latar
108
Baju kerja: untuk kesehatan dan keselamatan
kerja
Masker: untuk pelindung hidung
4. Bahan batik
Bahan untuk membuat batik ada beberapa jenis, masing-masing
memiliki jenis dan fungsi sendiri. antara lain:
Teknik Batik
109
Lilin klowong: untuk membatik
(Klowong/garis motif)
Lilin Tembok: untuk menembok/menutup
bagian yang tidak dikehendaki berwarna
Parafin: untuk membuat motif pecahan
pada kain batik
Soda Abu: untuk obat bantu melorod
Teknik Hias Latar
110
TRO: untuk pembasah
Kostik: obat bantu zat warna napthol
Natrium nitrit: untuk obat bantu zat
warna indigosol
Teknik Batik
111
HCl: untuk obat bantu pembangkit warna
indigosol
Garam biru BB: pembangkit zat warna
napthol
Garam kuning GC: pembangkit zat
warna napthol
Teknik Hias Latar
112
Garam orange GC: pembangkit zat
warna napthol
Indigosol violet B: untuk zat warna
batik
Indigosol kuning IGK: zat warna
untuk batik
Teknik Batik
113
Napthol AS: sebagai warna dasar
Napthol AS-0L: sebagai warna dasar
Napthol AS-BS: sebagai warna dasar
Teknik Hias Latar
114
Napthol ASG: sebagai warna dasar
Kertas roti: untuk menggambar
pola batik.
Selendang sutera: bahan untuk batik
Teknik Batik
115
Selendang katun: bahan untuk batik
Kain sutera: bahan untuk batik
Mori primisima: bahan untuk batik
Teknik Hias Latar
116
Blaco dan santung: bahan untuk
batik
Kain untuk kaos: bahan untuk batik
Kaos (T-shirt): bahan untuk batik
Teknik Batik
117
Waterglass: untuk obat bantu nglorod
5. Proses pembuatan produk batik
5.1. Produk batik tulis
Batik tulis adalah batik yang pelekatan lilinnya menggunakan alat canting
tulis, yaitu malam cair dimasukkan dalam canting kemudian digoreskan
langsung dengan tangan mengikuti pola yang sudah ada pada kain.
Getaran jiwa yang teratur melalui tangan pada saat menggoreskan
malam dengan canting menimbulkan kesan unik pada pola-pola yang ada
pada batik tulis. Proses pembuatan batik tulis lebih lama tetapi hasilnya
lebih halus dibanding dengan batik cap. Oleh karena kehalusan dan
keunikannya itulah maka batik tulis lebih mahal harga jualnya. Adapun
teknik pembuatan batik tulis adalah sebagai berikut:
5.1.1. Memola
Yaitu memindahkan gambar pola dari kertas kedalam kain yang akan
digunakan untuk membuat batik.
5.1.2. Membatik atau melekatkan lilin
Membatik yaitu melekatkan lilin pada kain sesuai dengan pola, untuk
menutup sebagian kain agar tidak kemasukan warna. Ada tiga tahap
pelekatan lilin yaitu:
• Nglowong:melekatkan lilin yang pertama pada pola dasar atau
kerangka dari motif tersebut.
Teknik Hias Latar
118
• Nembok: menutup kain setelah diklowong dengan
menggunakan lilin yang lebih kuat. Nembok meliputi menutup
permukaan tertentu dan memberikan isen-isen pada kain yang
sudah diklowong.
• Nerusi: mengulangi membatik dari bagian belakang mengikuti
batikan pertama.
5.1.3. Mewarna.
Mewarna adalah memberikan warna pada kain yang sudah dibatik.
Bagian yang tertutup malam nantinya akan tetap berwarna putih dan
yang tidak tertutup malam akan kena warna. Zat warna untuk batik terdiri
dari zat warna alam dan sintetis.
5.1.4. Nglorod atau menghilangkan lilin
Menghilangkan lilin secara keseluruhan pada akhir proses pembuatan
batik disebut mbabar, ngebyok, atau nglorod. Menghilangkan lilin secara
keseluruhan ini dilakukan dalam air yang mendidih. Untuk mempermudah
proses nglorod maka dalam air panas ditambahkan obat pembantu yaitu
waterglass atau soda abu. Cara nglorod adalah kain yang sudah dibatik
dibasahi terlebih dahulu kemudian dimasukkan dalam air mendidih yang
sudah diberi obat pembantu. Setelah malamnya terlepas, kemudian
diangkat dan langsung dicuci sampai bersih. Selanjutnya dijemur
ditempat yang teduh tidak langsung kena sinar matahari.
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
119
5.2. Contoh pembuatan produk batik tulis
5.2.1. Membuat taplak meja tamu dengan teknik batik tulis
Persiapan
Menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan untuk membuat taplak
meja tamu. Bahan yang digunakan untuk membuat taplak meja tamu
dengan teknik batik:
• Kain birkolin ukuran 90 cm x 90 cm
• Lilin/malam klowong
• Lilin/malam tembok
• Parafin
• Zat warna napthol
• Kostik soda
• TRO
• Waterglass
• Soda Abu
• Korek api
• Plastik/kemasan
Alat yang digunakan untuk membuat taplak meja tamu batik:
• Canting tulis (cecek, klowong, tembok)
• Kuas besar dan Kecil
• Wajan kecil diameter 20 cm
• Kompor batik sumbu 8.
• Gawangan
• Dingklik/tempat duduk pendek
• Mangkok
• Sendok plastik
• Ember/bak pencelup
• Sarung tangan
• Ceret
• Kompor minyak
• Kompor gas
• Kompor pompa
• Kenceng
• Serok
• Jemuran
• Seterika
• Meja seterika
Teknik Hias Latar
120
Memakai pakaian kerja.
Memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja.
Proses Pembuatan
Menyiapkan gambar kerja
60 cm
10 2.5 35 2.5 10
Menjiplak gambar di atas kain atau memola.
Gb.4. 2 Memola
Gb.4. 1 Gambar kerja
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
121
Membatik klowong sesuai dengan motif yang dikehendaki
Mencelup kain batik ke dalam larutan TRO untuk memudahkan warna
meresap ke kain.
Mewarna pertama menggunakan zat warna napthol, kemudian tiriskan,
Celup napthol Celup garam pembangkit
Gb.4. 4 Mencelup dalam larutan TRO
Gb.4. 5 Warna pertama
Gb.4. 3 Membatik klowong
Teknik Hias Latar
122
Cuci dengan air bersih dan keringkan dengan cara diangin-anginkan atau
dijemur di tempat yang teduh.
Membatik/menutup bagian yang dikehendaki tidak berwarna
menggunakan lilin tembok
Menutup dasar batikan dengan menggunakan parafin.
Gb.4. 7 Nembok
Gb.4. 8 Menutup dengan parafin
Gb.4. 6 Menjemur/mengangin-anginkan
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
123
Mewarna kedua dengan zat warna napthol, kemudian angkat dan
tiriskan.
Cuci dan keringkan dengan cara diangin-anginkan atau dijemur di tempat
yang teduh.
Gb.4. 10 Menjemur/mengangin-anginkan
Gb.4. 9 Warna kedua
Teknik Hias Latar
124
Nglorod/menghilangkan lilin/malam pada kain yang menempel. Cuci
dengan air bersih sampai benar-benar bersih, tidak ada lilin atau bekas
noda-noda yang menempel kemudian keringkan.
Penyelesaian akhir
Menghaluskan kain batik dengan cara disetrika
Jahitlah pada bagian tepi taplak batik.
Gb.4. 12 Menyeterika kain batik
Gb.4. 11 Melorod
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
125
Hasil jadi taplak meja tamu
Gb.4. 13 Hasil jadi taplak meja
Teknik Hias Latar
126
5.2.2. Membuat selendang dengan teknik batik tulis
Persiapan
Menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan untuk membuat
selendang. Bahan yang digunakan untuk membuat selendang batik:
• Selendang dari tenunan ATBM ukuran 70 cm x 190 cm
• Lilin/malam klowong
• Lilin/malam tembok
• Zat warna napthol, 5 gram/L air panas+dingin
• Garam pembangkit 10 gram/L air dingin
• Kostik soda, 3 gram/L air dingin
• TRO, 2 gram/L air
• Waterglass, 10 cc/L air panas
• Soda abu, 10 gram/L air panas
• Korek api
• Plastik/Kemasan
Alat yang digunakan untuk membuat selendang batik:
• Canting tulis (cecek, klowong, tembok)
• Kwas besar dan Kecil
• Wajan kecil diameter 20 cm
• Kompor batik sumbu 8
• Gawangan
• Dingklik/tempat duduk pendek
• Mangkok
• Sendok plastik
• Ember/bak pencelup
• Sarung Tangan
• Ceret
• Termos panas
• Kompor minyak
• Kompor gas
• Kompor pompa
• Kenceng
• Serok
• Jemuran
• Seterika
• Meja seterika
Memakai pakaian kerja.
Memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja.
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
127
Proses Pembuatan
Menyiapkan gambar kerja.
20 cm
30 cm
95 cm
20 cm
5 cm
20 cm
Memindahkan gambar di atas kain atau memola.
Gb.4. 14 Gambar kerja ½ ukuran
Gb.4. 15 Memola
Teknik Hias Latar
128
Membatik klowong sesuai motif yang dikehendaki atau membatik motif
pertama.
Sebelum diwarna, celupkan kain batikan ke dalam larutan TRO agar kain
mudah meresap warna.
Mewarna pertama dengan menggunakan zat warna napthol sesuai
dengan resep, kemudian cucilah dengan air bersih dan keringkan dengan
cara diangin-anginkan.
Gb.4. 17 Mencelup dalam larutan TRO
Gb.4. 18 Warna pertama
Gb.4. 16 Membatik klowong
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
129
Membatik/menutup bagian yang dikehendaki tidak berwarna
menggunakan lilin tembok.
Mewarna kedua dengan zat warna napthol, kemudian cuci dan
keringkan dengan cara diangin-anginkan.
Nglorod/menghilangkan lilin/malam pada kain yang menempel. Cuci
dengan air bersih sampai benar-benar bersih, tidak ada lilin atau bekas
noda-noda yang menempel.
Gb.4. 20 Warna kedua
Gb.4. 21 Nglorod
Gb.4. 19 Nembok
Teknik Hias Latar
130
Mengeringkan dengan cara diangin-anginkan atau dijemur di tempat yang
teduh.
Penyelesaian akhir
Menghaluskan kain batik dengan cara diseterika.
Gb.4. 23 Menyeterika
Gb.4. 22 Pengeringan
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
131
Hasil jadi selendang
Gb.4. 24 Selendang
Teknik Hias Latar
132
5.2.3. Membuat hiasan dinding pada kain pelepah pisang
Persiapan
Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum proses pembuatan
hiasan dinding dengan teknik batik pada media tenunan pelepah pisang
ini yaitu:
Ide/gagasan: ide dasar desain dari hiasan dinding dengan teknik batik ini
yaitu dari bunga matahari, desain dibuat dengan cara membuat motif di
atas kertas padalarang kemudian digunting dan dijadikan mal atau pola
untuk dijiplak.
Gb.4. 25 Membuat sket
Gb.4. 26 Memotong sket
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
133
Gb.4. 27 Media tenunan pelepah pisang
Gb.4. 28 Peletakan pola desain
Teknik Hias Latar
134
Alat: pada saat pembuatan hiasan dinding dengan teknik batik, pemilihan
penggunaan alat bahan akan menentukan lancar tidaknya proses
pembuatan sekaligus menentukan kualitas hiasan dinding, dengan
demikian pada pembuatan hiasan dinding ini akan diperlukan alat dan
bahan yang sudah disesuaikan, perhatikan dan baca dengan cermat
tabel berikut ini:
Tabel 4
Peralatan Pembuatan Hiasan Dinding Teknik Batik
PERALATAN PEMBUATAN HIASAN DINDING TEKNIK BATIK
Persiapan Pembatikan Pewarnaan Penyelesaian
Akhir
Penggaris Canting Klowong Bak Pewarna Kompor Gas
Pencil 2B Canting Isian/ Isen Timbangan Warna Kenceng Panci
Penghapus Canting Tembok Thremos Stik Kayu
Spidol Kuas Gelas Ukur Serokan
Cutter
Gunting
Celemek Mangkok Ember
Wajan Sendok Sarung
Kompor Sarung Tangan Jemuran
Injuk Masker
Gawangan Celemek
Dingklik Gawangan
Jemuran/ Jepitan
Proses pembuatan karya: dalam proses pembuatan karya ini ada
beberapa hal yang harus diketahui dan sangat penting untuk diperhatikan
karena dalam proses ini sangat berpengaruh pada hasil akhir karya
hiasan dinding yang akan dibuat. Perhatikan dengan seksama petunjuk
proses karya ini dengan sebaik- baiknya.
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
135
Tabel 5
Bahan-bahan Pembuatan Hiasan Dinding Teknik Batik
BAHAN
PEMBUATAN HIASAN DINDING TEKNIK BATIK
Persiapan Pembatikan Pewarnaan Penyelesaian
Akhir
Kertas Tenunan Pelepah
Pisang Natrium Nitrit Soda Ash/ Soda
Abu
Lilin/Malam Klowong Zat Pewarna
Indigosol Waterglass
Lilin/Malam
Tembokan
H2SO4 / Asam
Sulfat/ Asam
Clorida
Membatik klowong:membatik klowong adalah tahap awal dalam proses
pembatikan dilakukan hanya pada garis besar motif secara keseluruhan .
Gb.4. 29 Proses pembatikan klowong
Teknik Hias Latar
136
Nembok: tujuan dari menembok adalah menutup latar belakang motif
sehingga pada saat pewarnaan tidak terkena warna dengan
menggunakan kuas.
Gb.4. 31 Karya setelah ditembok
Gb.4. 30 Nembok
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
137
Cara melarutkan TRO: TRO merupakan salah satu bahan kimia untuk
pembuat sabun dan dalam proses batik digunakan sebagai pembasah
kain batik sebelum proses pewarnaan yang difungsikan untuk membuka
pori-pori serat sehingga pada saat pewarnaan, warna dapat meresap
dengan cepat dan rata.
Membasahi tenunan pelepah pisang sebelum pewarnaan: tenunan
pelepah pisang sebelum masuk dalam proses pewarnaan harus diasahi
dahulu dengan rata menggunakan larutan TRO dengan tujuan agar
warna dapat meresap dengan cepat dan rata sehingga warna yang
diserap oleh bahan tersebut meresap dengan sempurna.
Gb.4. 33 Menyiram dengan TRO
Gb.4. 32 Larutan TRO
Teknik Hias Latar
138
Persiapan pewarnaan dengan teknik colet: ada beberapa persiapan
sebelum proses pewarnaan dengan teknik coletan yaitu: menimbang
warna sesuai ukuran dan warna yang diperlukan, cara melarutkan warna,
mengukur barapa banyak air yang diperlukan dengan menggunakan
gelas ukur untuk proses pewarnaan, cara melarutkan Natrium Nitrit dan
HCl.
Menimbang warna
Violet Sebanyak 5 gr
Zat warna dilarutkan dengan air
panas (air mendidih)
Cara melarutkan Natrium
Nitrit dengan air biasa
HCl dimasukkan ke dalam bak
yang telah diberi Natrium
Nitrit, 5 CC/L air
Cara melarutkan Indigosol
warna rose dengan air panas
(air mendidih)
Cara melarutkan Indigosol
warna IGK dengan air panas
(air mendidih)
Gb.4. 34 Persiapan pewarnaan
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
139
Daftar pedoman penggunaan warna indigosol dan napthol
Gb.4. 35 Pedoman penggunaan warna indigosol dan napthol
A. Pedoman Penggunaan Warna Indigosol
B. Pedoman Penggunaan Warna Napthol
Teknik Hias Latar
140
Proses pewarnaan teknik coletan: pada pres pewarnaan hiasan
dinding dengan teknik batik ini menggunakan proses coletan atau dengan
cara dikuas, dengan menggunakan warna Indigosol hijau (Green IBF),
warna merah jambu (Ross) dan warna dan kuning (IGK).
Proses pembangkitan warna
Proses pembangkitan warna dilakukan dengan cara diangin-anginkan
dan menghadap sinar matahari sehingga warna timbul.
Gb.4. 36 Proses pewarnaan
Gb.4. 37 Proses pembangkitan warna
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
141
Proses fiksasi dengan HCl
Tenun pelepah pisang yang telah diwarna dengan teknik coletan, dan
sudah melalui pembangkitan warna kemudian masukan kedalam larutan
HCl, dengan cara dicelup dengan perlahan–lahan. HCl berfungsi untuk
mengikat warna agar tidak luntur.
Mencuci dengan air
Setelah di HCl, cuci atau bilas bahan tenunan pelepah pisang tersebut
dengan air sampai bersih dan tidak tercium bau HCl.
Gb.4. 38 Proses fiksasi
Gb.4. 39 Pencucian
Teknik Hias Latar
142
Finishing
Proses finishing merupakan proses terakhir dari pembuatan lukisan batik
dengan media tenunan pelepah pisang ini, yang meliputi: nglorod,
membuat bisban dengan kain sebagai lis atau frame.
Proses nglorod berfungsi untuk melepas seluruh lilin batik yang ada
pada permukaan kain, dengan bahan bantu soda ash atau menggunakan
waterglass.
.
Gb.4. 40 Hasil akhir
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
143
5.2.4. Membuat hiasan dinding pada kain katun
Berikut ini akan dibahas tentang pembuatan hiasan dinding dengan
teknik batik tulis. Adapun proses pembuatannya akan diuraikan sebagai
berikut:
Hiasan dinding suatu benda difungsikan sebagai hiasan yang
ditempelkan atau menggantung pada dinding dengan memperhitungkan
ukuran, warna dan motif. Sehingga pada saat benda tersebut menempati
atau menempel di dinding akan memberikan kesan nyaman, indah pada
ruangan tersebut.
Banyak media yang digunakan untuk membuat hiasan dinding,
diantaranya terbuat dari: kayu, bambu, keramik, logam, tali, serat, lukisan
cat minyak, lukisan cat air. Namun demikian pada pembahasan ini akan
diurai tentang pembuatan Hiasan Dinding dengan teknik Batik.
Persiapan: ada beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum proses
pembuatan hiasan dinding dengan teknik batik ini, yaitu :
Ide/gagasan: ide dasar desain dari hiasan dinding dengan teknik batik ini
yaitu dari gambar ular naga.
Desain alternatif: desain alternatif adalah kumpulan rancangan
beberapa gambar atau sket sebagai pengembangan bentuk ide dasar.
Gb.4. 41 Selendang Dayak Kalimantan Barat
Teknik Hias Latar
144
Gb.4. 42 Desain alternatif 1
Gb.4. 43 Desain alternatif 2
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
145
Gb.4. 44 Desain alternatif 3
Gb.4. 45 Desain alternatif 4
Teknik Hias Latar
146
Gb.4. 46 Desain alternatif 5
Gb.4. 47 Desain alternatif 6
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
147
Desain terpilih: desain terpilih adalah salah satu diantara beberapa
gambar yang terpilih dan merupakan gambar pilihan untuk dijadikan motif
atau rancangan tetap dan akan ditetapkan juga diterapkan untuk motif
atau model hiasan dinding.
Gambar kerja
Gb.4. 48 Desain terpilih
Gb.4. 49 Gambar kerja
Teknik Hias Latar
148
Membuat pola
Membuat pola adalah menerapkan desain terpilih dengan
memperhitungkan ukuran atau skala, pengulangan (repeat),
menggunakan pencil 2B pada kertas.
Alat
Pada saat pembuatan hiasan dinding dengan teknik batik, pemilihan
penggunaan alat bahan akan menentukan lancar tidaknya proses
pembuatan sekaligus menentukan kualitas hiasan dinding, dengan
demikian pada pembuatan hiasan dinding ini akan diperlukan alat dan
bahan yang sudah disesuaikan, perhatikan dan baca dengan cermat
tabel 6.
Proses pembuatan karya
Dalam proses pembuatan karya ini ada beberapa hal yang harus
diketahui dan sangat penting untuk diperhatikan karena dalam proses ini
sangat berpengaruh pada hasil akhir karya hiasan dinding yang akan
dibuat. Perhatikan dengan seksama petunjuk proses karya ini dengan
sebaik- baiknya.
Memindahkan pola ke kain
Siapkan meja pola kemudian letakan pola desain yang telah dibuat,
taruhlah kain diatas pola jepit dengan paper clip atau penjepit kertas.
Gb.4. 50 Membuat pola
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
149
Tabel 6
Peralatan pembuatan hiasan dinding teknik batik
PERALATAN
PEMBUATAN HIASAN DINDING TEKNIK BATIK
Persiapan Pembatikan Pewarnaan Penyelesaian
Akhir
Penggaris Canting Klowong Bak Pewarna Kompor Gas
Pencil 2B Canting Isian/Isen Timbangan Warna Kenceng
Penghapus Canting Tembok Termos Stik Kayu
Meja Pola Kuas Gelas Ukur Serokan
Paper Clip/
Penjepit kertas Celemek Mangkok Ember
Cutter Wajan Sendok Sarung
Kompor Sarung Tangan Jemuran
Solder Masker Setrika
Gawangan Celemek Hair Dryer
Dingklik Gawangan
Ijuk Jemuran/ Jepitan
Gb.4. 51 Menjiplak pola
Teknik Hias Latar
150
Tabel 7
Bahan Pembuatan Hiasan Dinding Teknik Batik
BAHAN
PEMBUATAN HIASAN DINDING TEKNIK BATIK
Persiapan Pembatikan Pewarnaan Penyelesaian
Akhir
Kertas Kain Berkolin Zat Pewarna
Napthol
Soda Ash/Soda
Abu
Lilin/ Malam
Klowong
Zat Pewarna
Indigosol Water Glass
Lilin/ Malam
Tembokan
Garam Diazo
TRO
Parafin Natrium Nitrit
H2SO4 / Asam
Sulfat/ Asam
Klorida
Kostik Soda
Membatik klowong
Membatik klowong adalah tahap awal dalam proses pembatikan
dilakukan hanya pada garis besar motif secara keseluruhan .
Gb.4. 52 Pembatikan klowong
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
151
Melarutkan TRO
TRO merupakan salah satu bahan kimia untuk pembuat sabun dan
dalam proses batik digunakan sebagai pembasah kain batik sebelum
proses pewarnaan yang difungsikan untuk membuka pori-pori kain
sehingga pada saat pewarnaan, warna dapat meresap dengan cepat dan
rata.
Gb.4. 54 Larutan TRO
Gb.4. 53 Karya setelah pembatikan
Teknik Hias Latar
152
Membasahi kain sebelum pewarnaan
Kain sebelum masuk dalam proses pewarnaan harus diasahi dahulu
dengan rata menggunakan larutan TRO dengan tujuan agar warna dapat
meresap kekain dengan cepat dan rata sehingga warna yang diserap
oleh kain meresap dengan sempurna.
Persiapan Pewarnaan Ke-1
Ada beberapa persiapan sebelum proses pewarnaan yaitu menimbang
warna sesuai ukuran dan warna yang diperlukan, cara melarutkan warna,
mempersiapkan bak warna, mengukur barapa banyak air yang diperlukan
dengan menggunakan gelas ukur untuk proses pewarnaan, cara
melarutkan Natrium Nitrit dan HCl.
Menimbang warna
Green IB Sebanyak 10 gr
Warna dilarutkan dengan air
panas (mendidih)
Gb.4. 55 Kain direndam dalam larutan TRO
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
153
Proses pewarnaan ke-1
Pada proses pewarnaan hiasan dinding dengan teknik batik ini
menggunakan proses celup dengan teknik setengah–setengah, yaitu
setengah kain diwarna atau dicelupkan ke dalam larutan zat warna indigo
green IB dengan arah diagonal.
Warna dimasukkan dalam air Melarutkan
Natrium Nitrit
dengan air
HCl dimasukkan dalam bak
yang telah diberi Natrium
Nitrit, 5 CC/1 Liter air
Gb.4. 57 Proses pewarnaan ke-1
Gb.4. 56 Persiapan pewarnaan ke-1
Teknik Hias Latar
154
Proses pembangkitan warna
Proses pembangkitan warna ini dilakukan dengan cara dijemur di sinar
matahari sehingga warna muncul.
Persiapan warna ke-2
Warna ke dua untuk sisi diagonal yang sebelahnya menggunakan warna
indigosol blue O4B dengan pelarutan warna seperti di bawah ini.
Gb.4. 58 Proses oksidasi
Timbang warna Indigosol Blue
O4B dengan berat 10 gr.
Pewarna Indigosol Blue O4B
dengan air panas (mendidih)
Gb.4. 59 Persiapan warna ke-2
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
155
Proses pewarnaan ke-2
Sedangkan bagian sisi yang lain menggunakan pewarna indigosol blue
O4B dengan arah diagonal.
Oksidasi setelah pewarnaan ke 2
Proses pengeringan ini dengan cara dijemur disinar matahari agar terjadi
oksidasi dengan sinar ultraviolet, sehingga warna muncul.
Gb.4. 60 Proses pewarnaan ke-2
Gb.4. 61Proses oksidasi
Teknik Hias Latar
156
Proses fiksasi dengan HCl
Kain yang telah diwarna pada kedua belah sisinya masukan ke dalam
larutan HCl, HCl berfungsi untuk mengikat warna agar tidak luntur juga
mengarahkan warna.
Mencuci dengan air
Setelah kain di HCl, cuci atau bilas kain tersebut dengan air bersih
sampai bersih dan tidak tercium bau HCl.
Gb.4. 62 Proses fiksasi
Gb.4. 63 Pencucian
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
157
Nglorod ke-1
Lukisan setelah dicuci bersih dilorod guna menghilangkan lilin batik,
sedangkan bahan pembantu untuk proses pengeringan dilakukan setelah
lukisan dilorod sebelum proses penembokan motif pokok.
Nembok
Pada tahap ini motif pokok ular naga ditembok atau ditutup dengan
menggunakan lilin parafin, sehingga pada saat pewarnaan motif ular
naga akan kemasukan warna tetapi tidak rata sehingga mempunyai
kesan pecah atau retak. Adapun motif pengisi ukel hanya ditutup
sebagian dengan lilin tembokan.
Gb.4. 64 Nglorod
Gb.4. 65 Nembok
Teknik Hias Latar
158
Persiapan warna napthol
Proses persiapan warna napthol sebelum pewarnaan terakhir dalam
pembuatan batik lukis. Adapun persiapan pewarnaannya sebagai berikut:
Proses pewarnaan ke-3: celup
napthol
Pada tahap ini karya yang telah
ditembok diwarna dengan teknik
celup dengan zat warna napthol
Napthol AS-BO yang sudah
ditimbang ditambah kostik dengan
ukuran setengahnya dari berat
napthol
Menimbang zat warna Napthol
sebanyak 10 gr.
Menimbang kostik sebanyak
setengahnya dari napthol AS-BO
Menimbang garam Diazo Red B
Gb.4. 67 Mencelup napthol
Gb.4. 66 Persiapan napthol
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
159
Proses pewarnaan ke 3: celup garam
Lukisan yang telah dicelup ke dalam larutan napthol ditiriskan kemudian
masukkan ke dalam larutan garam dengan garam diazo Red B
.
Finishing
Proses finishing merupakan proses terakhir dari pembuatan lukisan batik
ini, yang meliputi: melorod, mencuci bersih dari sisa–sisa lilin,
pengeringan, setrika dan pemasangan pada frame atau bingkai.
Nglorod
Proses ini berfungsi untuk melepas seluruh lilin batik yang ada pada
permukaan kain, dengan bahan bantu soda ash atau menggunakan
waterglass.
Gb.4. 68 Mencelup dalam fgaram
Gb.4. 69 Proses nglorod terakhir
Teknik Hias Latar
160
Pencucian
Proses pencucian berfungsi untuk membersihkan lilin setelah pelorodan
kain hingga kain batik tersebut bersih dari kotoran lilin yang menempel
pada kain.
Pengeringan
Setelah lukisan batik tersebut dicuci bersih kemudian dikeringkan dengan
cara diangin-anginkan di tempat yang teduh.
Gb.4. 70 Prosespencucian
Gb.4. 71 Proses pengeringan.
Hasil Karya Teknik Batik Tulis
161
Menyeterika
Proses ini bertujuan untuk menghaluskan permukaan kain sebelum di
frame atau dibingkai.
Pemasangan frame
Pemasangan frame merupakan proses terakhir dalam pembuatan batik
lukis ini, dan karya siap dipamerkan.
Gb.4. 72 Menyeterika
Gb.4. 73Hasil karya
Teknik Hias Latar
162
Gb.4. 74 Pemasangan frame
Teknik Batik
163
5.3. Produk batik cap
Membuat batik cap atau ngecap adalah pekerjaan membatik dengan cara
mencapkan lilin batik cair pada permukaan kain menggunakan alat cap,
yang disebut canting cap berbentuk stempel yang terbuat dari plat
tembaga.
Canting cap terdiri dari 3 bagian, yaitu:
• Bagian muka, berupa susunan plat tembaga yang membentuk
pola batik.
• Bagian dasar, tempat melekatnya bagian muka.
• Tangkai cap, untuk pegangan pada waktu mencap.
(Sewan Susanto, 1973:30)
Cara mengerjakan batik cap, adalah sebagai berikut :
• Lilin batik dipanaskan dalam wajan tembaga yang bagian atasnya
dilapisi kasa yang terbuat dari kawat tembaga.
• Canting cap dimasukkan ke dalam wajan yang berisi lilin cair,
ditunggu beberapa saat sampai cap menjadi panas.
• Kemudian canting cap diambil dan dicapkan pada kain yang
diletakkan di atas bantalan meja cap.
Teknik membuat batik cap menurut gerak arah panah.
5.3.1. Bagian-bagian canting cap
Canting cap terdiri dari tiga bagian, yaitu :
1. Bagian muka, berupa susunan plat tembaga yang membentuk
pola batik,
2. Bagian dasar, tempat melekatnya bagian muka, dan
3. Tangkai cap, sebagai pegangan saat mencap.
Canting Cap
(Sumber: Sewan Susanto, 1973: 30)
Teknik Hias Latar
164
5.3.2. Gerak arah canting cap
Berdasarkan pada motif dan bentuk capnya, maka terdapat beberapa
cara menyusung cap pada permukaan kain, yang disebut jalannya
pencapan.
Beberapa jalannya pencapan (lampah) itu antara lain:
1. Bergeser satu langkah ke kanan dan satu langkah ke muka,
ini disebut sistem “tubrukan”.
2. Bergeser setengah langkah ke kanan dan satu langkah ke
muka atau satu langkah ke kanan dan setengah langkah ke
muka, ini disebut sistem “ondo-ende”.
3. Jalannya cap menurut arah garis miring, bergeser satu
langkah atau setengah langkah dari sampingnya, ini disebut
sistem “parang”.
4. Bila jalannya cap digeser melingkar, salah satu sudut dari cap
itu tetap terletak pada satu titik, sistem ini disebut “mubeng”
atau berputar.
5. Ada pula untuk mencapai satu raport motif digunakan dua cap,
dan jalannya mengecapkan dua cap tersebut berjalan
berdampingan, ini disebut sistem “mlampah sareng” atau jalan
bersama.
Pemanasan lilin batik cap juga harus disesuaikan dengan pemanasan
tertentu agar dapat dicapai hasil pencapan yang baik, yaitu jangan terlalu
rendah dan janga terlalu tinggi.
Cara mengerjakan pencapan ialah:
• Pertama lilin batik dipanaskan di dalam dulang tembaga yang
pada dasarnya diletakkan beberapa lapis kasa dari anyaman
lewat tembaga.
• Cap yang akan dipakai diletakkan di atas dulang yang berisi
lilin cair.
• Ditunggu beberapa saat sampai cap menjadi panas,
kemudian cap dipegang, diangkat dan dicapkan pada kain
yang diletakkan di atas bantalan meja cap.
• Pengambilan lilin batik cap dengan meletakkan cap di atas
dulang dilakukan berulang-ulang sampai pencapan kain
selesai atau pekerjaan mencap telah selesai.
Pekerjaan mencap juga memerlukan pengalaman dan kemahiran, maka
seorang tukang cap yang baik perlu mendapat latihan kerja pencapan
untuk beberapa waktu lamanya. Jalannya cap pada pekerjaan mencap,
bila digambarkan secara skematis adalah sebagai berikut:
(Sewan Susanto, 1973: 30-31)
Teknik Batik
165
5.3.3. Skema jalannya canting cap
TUBRUK
Satu langkah ke kanan dan satu
langkah ke depan.
ONDO-ENDE model 1
Satu langkah ke kanan, kemudian
setengah langkah ke depan.
ONDO-ENDE model 2
Satu langkah ke depan kemudian satu
langkah ke kanan.
Skema Jalan Canting Cap
(Sumber: Sewan Susanto, 1973: 31)
Teknik Hias Latar
166
PARANG (miring)
Satu langkah ke kiri depan
(miring) dan satu langkah ke
kanan (horizontal).
MUBENG (berputar)
Berputar seperempat lingkaran
dengan salah satu sudut sebagai
titik pusat.
JALAN SAMA
Dua cap membentuk satu raport
motif, kedua cap jalan bersama
(mlampah-sareng).
Skema Jalan Canting Cap
(Sumber: Sewan Susanto, 1973: 32)
Teknik Batik
167
5.3.4. Cara mengecap
Ibu jari sebagai penahan tepat
tidaknya letak canting cap.
Gambar permulaan jalannya
cap Parang:
Ketentuan ukuran diambil sudut
mori selebar canting cap
diletakkan miring.
Cara Mengecap.
(Sumber: Mintihadi dan Mukminatun, 1979: 60)
Teknik Hias Latar
168
Gambar awal jalannya cap Tubruk :
Ketentuan ukuran diambil seperempat
lebar cap dari sudut
Awal kerja mencap dengan motif
Ceplok.
Setelah cap-capan selesai ngengrengi dan terusan barulah mencap
dasaran atau plataran. Setelah cap-capan klowongan selesai selanjutnya
ditembok. Juga dimulai dari motif ceplok–ceplokanya kemudian
dilanjutkan dengan plataran (Mintihadi dan Mukminatun, 1979: 61).
Cara Mengecap.
(Sumber: Mintihadi dan Mukminatun, 1979: 61)
Teknik Batik
169
5.4. Contoh pembuatan produk batik cap
5.4.1. Membuat lembaran kain dengan teknik batik cap
Alat dan bahan
Alat yang digunakan:
- Canting cap
- Meja cap
- Kompor
- Wajan cap
- Slodok, untuk meratakan lilin/malam pada wajan cap
Bahan yang digunakan:
- Mori primisima
- Malam/lilin
- Warna
Persiapan:
- Menyiapkan bahan dan alat
- Memakai pakaian kerja
- Memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja
Proses pembuatan :
- Mencuci kain dengan tujuan melarutkan lemak pada kain
(ngirah pada kain).
- Memberi lapisan kanji tipis (bisa dilakukan dan bisa tidak,
melihat kebutuhan).
- Kain diseterika (ngemplong, Bahasa Jawa).
- Menempatkan mori di atas kasuran meja cap. Meletakkan
mori yang akan dicap membujur ke depan di mana mulamula
bagian tepi kiri bawahlah yang akan mulai dicap.
Nglowong (pelekatan malam (lilin) yang pertama)
Teknik pembuatan batik terdiri dari pekerjaan utama, dimulai dengan
nglowong ialah mengecap atau membatik motif-motifnya di atas mori
dengan menggunakan canting.
Nglowong pada sebelah kain disebut juga ngengreng dan setelah
selesai dilanjutkan dengan nerusi pada sebaliknya (Riyanto dkk, hlm. 6).
Teknik Hias Latar
170
Hasil setelah diklowong
Nembok (pelekatan malam kedua).
Sebelum dicelup dalam larutan zat warna (pewarnaan), bagian-bagian
yang dikehendaki tetap berwarna putih, harus ditutup dengan malam.
Lapisan malam ini untuk menahan zat pewarnanya agar tidak merembes
ke bagian-bagian yang tertutup malam.
Oleh karenanya pekerjaan ini disebut menembok, jika perembesan
ini sampai terjadi, karena tembokannya kurang kuat maka pada bagianbagian
kain batik yang harus tetap putih, akan terlihat jalur-jalur berwarna
yang tentunya akan mengurangi kualitas kain batiknya.
Itulah sebabnya mengapa malam temboknya harus kuat dan ulet,
lain dengan malam klowong yang justru tidak boleh terlalu ulet, agar
mudah dikerok (Riyanto dkk, hlm. 7).
Nglowong.
(Sumber: Riyanto dkk, hlm. 6)
Teknik Batik
171
Hasil setelah ditembok
Medel (warna): pencelupan pertama ke dalam zat pewarna.
Tujuan medel ialah member warna biru
tua sebagai warna dasar kain. Pada
zaman dahulu pekerjaan ini memakan
waktu berhari-hari karena masih
menggunakan zat pewarna yang berasal
dari tenaman indigo (bahasa Jawa: tom).
Zat perwarna semacam ini lambat
sekali meresap pada mori sehingga kain
batik harus berulang kali dicelup (Riyanto
dkk, hlm. 8).
Nembok
(Sumber: Riyanto dkk, hlm. 7)
Teknik Hias Latar
172
Hasil setelah dimedel
Ngerok (menghilangkan malam klowong).
Bagian yang akan disoga agar berwarna
coklat, dikerok dengan cawuk (semacam
pisau tumpul terbuat dari seng), untuk
menghilangkan malam (Riyanto dkk, hlm. 9).
Hasil setelah dikerok
Medel
(Sumber: Riyanto dkk, hlm. 8)
Proses Pengerokan
(Sumber: Riyanto dkk, hlm. 9)
Teknik Batik
173
Mbironi (penggunaan malam kedua).
Pekerjaan berikutnya adalah mbironi yang terdiri dari penutupan dengan
malam pada bagian-bagian kain yang dikehendaki tetap berwarna biru,
sedangkan bagian-bagian yang akan disoga, tetap terbuka.
Pekerjaan mbironi dikerjakan juga pada kedua sisi kain (Riyanto
dkk, hlm. 10).
Hasil setelah mbironi
Mbironi
(Sumber: Riyanto dkk, hlm. 10)
Teknik Hias Latar
174
Menyoga (pencelupan kedua).
Menyoga merupakan suatu proses yang banyak memakan waktu, karena
mencelup dalam soga. Jika menggunakan soga alam tidak cukup
dikerjakan satu dua kali saja, melainkan harus berulang-ulang. Tiap kali
pencelupan, harus didahului dengan pengeringan terlebih dahulu.
Dengan memakai soga sintetis, waktu pencelupan dapat diperpendek
sampai paling lama hanya setengah jam.
Istilah menyoga berasal dari soga ialah jenis pohon tertentu yang
kulitnya dapat memberi warna coklat jika direndam dalam air (Riyanto
dkk, hlm. 11).
Hasil setelah disoga
Proses Menyoga
(Sumber: Riyanto dkk, hlm. 11)
Teknik Batik
175
Nglorod (menghilangkan malam).
Setelah mendapat warna-warni yang dikehendaki, maka kain batik masih
harus mengalami pengerjaan yang terakhir. Malam yang masih
ketinggalan pada mori, perlu dihilangkan sama sekali.
Caranya ialah dengan memasukkannya ke dalam air mendidih.
Proses yang terakhir ini disebut nglorod (Riyanto dkk, hlm. 12).
Hasil setelah dilorod / hasil akhir
Nglorod
(Sumber: Riyanto dkk, hlm. 12)
Teknik Hias Latar
176
Lampiran A.1
DAFTAR GAMBAR
Gb.1. 1. Skema pengolahan bahan dasar tekstil ...................................3
Gb.1. 2 Klasifikasi benang .....................................................................7
Gb.1. 3 Klasifikasi tekstil......................................................................12
Gb.1. 4 Klasifikasi desain tekstil ..........................................................15
Gb.1. 5 Penempatan ornamen primitif pada sebuah bidang..............17
Gb.1. 6 Konsistensi pengulangan bentuk pada ornamen primitif .......19
Gb.1. 7 Berbagai bentuk ornamen tradisional ....................................22
Gb.1. 8 Komposisi elemen-elemen motif ............................................25
Gb.1. 9 Lingkaran warna .....................................................................27
Gb.1. 10 Berbagai macam tekstur.........................................................29
Gb.1. 11 Keseimbangan........................................................................30
Gb.1. 12 Harmoni...................................................................................31
Gb.1. 13 Susunan garis dan bidang......................................................33
Gb.1. 14 Eksplorasi garis ......................................................................34
Gb.1. 16 Inisial.......................................................................................39
Gb.1. 17 Slogan.....................................................................................39
Gb.1. 15 Logo ........................................................................................39
Gb.1. 18 Cara pencahayaan .................................................................41
Gb.1. 19 Arsir gelap terang sesuai bentuk benda.................................42
Gb.1. 20 Flora dan fauna.......................................................................44
Gb.1. 21 Cara menggambar flora..........................................................45
Gb.1. 22 Cara menggambar fauna........................................................46
Gb.1. 23 Flora fauna sesuai bentuk, proporsi, anatomi, dan karakternya
…………………………………………………………………….47
Gb.1. 24 Kepala anak-anak dan remaja ...............................................48
Gb.1. 25 Kepala orang dewasa.............................................................49
Gb.1. 26 Tangan....................................................................................49
Gb.1. 27 Kaki .........................................................................................50
Gb.1. 28 Mata ........................................................................................50
Gb.1. 29 Mulut orang dewasa...............................................................51
Gb.1. 30 Mulut anak-anak .....................................................................51
Gb.1. 31 Telinga orang dewasa............................................................51
Gb.1. 32 Telinga bayi.............................................................................52
Gb.1. 33 Hidung.....................................................................................52
Gb.1. 34 Proporsi tubuh manusia dewasa, remaja dan anak-anak .....53
Gb.1. 35 Macam-macam pose..............................................................54
Gb.1. 36 Perulangan bidang tegak, bahan karton ................................58
Gb.1. 37 Bentuk susunan bersyaf, bahan karton..................................58
Gb.1. 38 Bentuk pengulangan bidang berbiku, bahan karton ..............58
Gb.1. 39 Bentuk menara, bahan kayu ..................................................59
Gb.1. 40 Bangun huruf x, bahan karton ................................................59
Gb.2. 1 Skema bahan dasar tekstil .....................................................62
Gb.2. 2 Komposisi cahaya primer .......................................................67
Lampiran A.2
Gb.2. 3 Pencampuran warna sekunder..............................................68
Gb.2. 4 Hasil pewarnaan dengan napthol ..........................................73
Gb.2. 5 Hasil pewarnaan dengan indigosol........................................75
Gb.2. 6 Hasil pewarnaan dengan zat warna reaktif ...........................76
Gb.3. 1 Parang rusak barong (batik tulis)...........................................95
Gb.3. 2 Truntum (batik tulis) ...............................................................96
Gb.3. 3 Kawung (batik tulis)...............................................................96
Gb.3. 4 Sidomukti (batik tulis) .............................................................97
Gb.3. 5 Semen romo (batik tulis) .......................................................97
Gb.3. 6 Gumin tambun (batik cap).....................................................98
Gb.3. 7 Tatu payung (batik cap) ........................................................98
Gb.3. 8 Batik modern ..........................................................................99
Gb.3. 9 Batik modern ..........................................................................99
Gb.3. 10 Lebah bergantung (batik cap) ..............................................100
Gb.4. 1 Gambar kerja........................................................................120
Gb.4. 2 Memola.................................................................................120
Gb.4. 3 Membatik klowong ...............................................................121
Gb.4. 4 Mencelup dalam larutan TRO..............................................121
Gb.4. 5 Warna pertama.....................................................................121
Gb.4. 6 Menjemur/mengangin-anginkan ..........................................122
Gb.4. 7 Nembok................................................................................122
Gb.4. 8 Menutup dengan parafin ......................................................122
Gb.4. 9 Warna kedua........................................................................123
Gb.4. 10 Menjemur/mengangin-anginkan ..........................................123
Gb.4. 11 Melorod.................................................................................124
Gb.4. 12 Menyeterika kain batik .........................................................124
Gb.4. 13 Hasil jadi taplak meja ...........................................................125
Gb.4. 14 Gambar kerja ½ ukuran ......................................................127
Gb.4. 15 Memola.................................................................................127
Gb.4. 16 Membatik klowong ...............................................................128
Gb.4. 17 Mencelup dalam larutan TRO..............................................128
Gb.4. 18 Warna pertama.....................................................................128
Gb.4. 19 Nembok................................................................................129
Gb.4. 20 Warna kedua........................................................................129
Gb.4. 21 Nglorod.................................................................................129
Gb.4. 22 Pengeringan .........................................................................130
Gb.4. 23 Menyeterika..........................................................................130
Gb.4. 24 Selendang ............................................................................131
Gb.4. 25 Membuat sket .......................................................................132
Gb.4. 26 Memotong sket .....................................................................132
Gb.4. 27 Media tenunan pelepah pisang............................................132
Gb.4. 28 Peletakan pola desain ..........................................................133
Gb.4. 29 Proses pembatikan klowong................................................135
Gb.4. 30 Nembok................................................................................136
Gb.4. 31 Karya setelah ditembok........................................................136
Gb.4. 32 Larutan TRO.........................................................................137
Lampiran A.3
Gb.4. 33 Menyiram dengan TRO........................................................137
Gb.4. 34 Persiapan pewarnaan...........................................................138
Gb.4. 35 Pedoman penggunaan warna indigosol dan napthol...........139
Gb.4. 36 Proses pewarnaan................................................................140
Gb.4. 37 Proses pembangkitan warna................................................140
Gb.4. 38 Proses fiksasi........................................................................141
Gb.4. 39 Pencucian .............................................................................141
Gb.4. 40 Hasil akhir .............................................................................142
Gb.4. 41 Selendang Dayak Kalimantan Barat ....................................143
Gb.4. 42 Desain alternatif 1 .................................................................145
Gb.4. 43 Desain alternatif 2 .................................................................145
Gb.4. 44 Desain alternatif 3 .................................................................145
Gb.4. 45 Desain alternatif 4 .................................................................145
Gb.4. 46 Desain alternatif 5 .................................................................146
Gb.4. 47 Desain alternatif 6 .................................................................146
Gb.4. 48 Desain terpilih .......................................................................147
Gb.4. 49 Gambar kerja ........................................................................147
Gb.4. 50 Membuat pola .......................................................................148
Gb.4. 51 Menjiplak pola .......................................................................149
Gb.4. 52 Pembatikan klowong.............................................................150
Gb.4. 53 Karya setelah pembatikan ....................................................151
Gb.4. 54 Larutan TRO.........................................................................151
Gb.4. 55 Kain direndam dalam larutan TRO.......................................152
Gb.4. 56 Persiapan pewarnaan ke-1...................................................153
Gb.4. 57 Proses pewarnaan ke-1........................................................153
Gb.4. 58 Proses oksidasi.....................................................................154
Gb.4. 59 Persiapan warna ke-2...........................................................154
Gb.4. 60 Proses pewarnaan ke-2........................................................155
Gb.4. 61 Proses oksidasi.....................................................................155
Gb.4. 62 Proses fiksasi........................................................................156
Gb.4. 63 Pencucian .............................................................................156
Gb.4. 64 Nglorod..................................................................................157
Gb.4. 65 Nembok.................................................................................157
Gb.4. 66 Persiapan napthol .................................................................158
Gb.4. 67 Mencelup napthol .................................................................158
Gb.4. 68 Mencelup dalam fgaram .......................................................159
Gb.4. 69 Proses nglorod terakhir ........................................................159
Gb.4. 70 Proses pencucian .................................................................160
Gb.4. 71 Proses pengeringan..............................................................160
Gb.4. 72 Menyeterika ..........................................................................161
Gb.4. 73 Hasil karya ............................................................................161
Gb.4. 74 Pemasangan frame …………………………………………. .162
Gb.5. 1 Contoh tusuk lurus untuk membentuk motif untuk isian .....183
Gb.5. 2 Contoh tusuk lurus untuk isian .............................................183
Lampiran A.4
Gb.5. 3 Contoh tusuk zig zag untuk membuat motif bentuk bunga dan
daun......................................................................................184
Gb.5. 4 Contoh produk sulam/bordir.................................................187
Gb.5. 5 Contoh produk sulam ...........................................................187
Gb.5. 6 Contoh produk sulam/bordir.................................................188
Gb.5. 7 Mesin jahit manual dan komponennya ................................189
Gb.5. 8 Mesin bordir listrik dan komponennya .................................190
Gb.5. 9 Berbagai jenis kain...............................................................196
Gb.5. 10 Pita …………………………………………………………… .197
Gb.6. 1 Gambar kerja........................................................................199
Gb.6. 2 Motif ......................................................................................200
Gb.6. 3 Mengukur kain......................................................................200
Gb.6. 4 Menggunting kain .................................................................201
Gb.6. 5 Garis bantu ...........................................................................201
Gb.6. 6 Membuat garis lengkung......................................................201
Gb.6. 7 Memindahkan motif ..............................................................202
Gb.6. 8 Memasang midangan...........................................................202
Gb.6. 9 Melepas sepatu mesin jahit dan menurunkan gigi ..............203
Gb.6. 10 Membuat kerangka motif......................................................203
Gb.6. 11 Membentuk motif..................................................................203
Gb.6. 12 Membuat isian ......................................................................204
Gb.6. 13 Membordir ............................................................................204
Gb.6. 14 Menggunting sisa kain .........................................................205
Gb.6. 15 Merapikan bordiran ..............................................................205
Gb.6. 17 Hasil jadi...............................................................................206
Gb.6. 16 Menyetrika ............................................................................206
Gb.6. 18 Gambar kerja........................................................................207
Gb.6. 19 Menghitung kotak gambar ...................................................208
Gb.6. 20 Motif burung .........................................................................209
Gb.6. 21 Pembuatan tusuk silang.......................................................210
Gb.6. 22 Mulai menyulam ...................................................................210
Gb.6. 23 Angka sebagai keterangan warna benang..........................211
Gb.6. 24 Hasil jadi sulaman ................................................................211
Gb.6. 25 Hiasan dinding siap dipigura................................................212
Gb.6. 26 Sulaman dengan pigura.......................................................213
Gb.6. 27 Gambar kerja........................................................................214
Gb.6. 28 Melipat kain ..........................................................................215
Gb.6. 29 Hasil jelujuran .......................................................................215
Gb.6. 30 Cara menentukan engkolan .................................................215
Gb.6. 31 Penyambungan kain ............................................................216
Gb.6. 32 Memola.................................................................................216
Gb.6. 33 Memasang midangan...........................................................216
Gb.6. 34 Persiapan pengoperasian mesin bordir ...............................217
Gb.6. 35 Membordir ............................................................................218
Gb.6. 36 Membuat stik melengkung ...................................................218
Gb.6. 37 Mengisi stik dengan zig-zag.................................................219
Lampiran A.5
Gb.6. 38 Memberikan tindasan di atas zig-zag...................................219
Gb.6. 39 Hasil jadi bordir engkol .........................................................220
Gb.6. 40 Bordir motif daun,tangkai dan kupu-kupu ...........................220
Gb.6. 41 Motif bunga dengan terawang..............................................221
Gb.6. 42 Mengisi bagian dalam dengan benang warna lain .............221
Gb.6. 43 Melepas kain sambungan.....................................................222
Gb.6. 44 Memotong bagian tepi bordir................................................222
Gb.6. 45 Membuat lubang dengan soldir ............................................223
Gb.6. 46 Memotong sisa-sisa benang ................................................223
Gb.6. 47 Menyetrika hasil karya ..........................................................224
Gb.6. 48 Hasil jadi kerudung ...............................................................224
Gb.6. 49 Berbagai cara pemakaian kerudung ....................................225
Gb.6. 50 Gambar kerja ........................................................................226
Gb.6. 51 Memotong kain .....................................................................227
Gb.6. 52 Memindahkan motif ..............................................................227
Gb.6. 53 Motif sulaman........................................................................228
Gb.6. 54 Pemasangan midangan........................................................229
Gb.6. 55 Memasukkan pita dalam jarum ............................................229
Gb.6. 56 Persiapan pita untuk sulaman ..............................................230
Gb.6. 57 Pembuatan tusuk tangkai.....................................................230
Gb.6. 58 Pembuatan motif benang sari ..............................................231
Gb.6. 59 Pembuatan motif daun .........................................................232
Gb.6. 60 Pembuatan motif bunga .......................................................233
Gb.6. 61 Sulaman pita siap dipasang .................................................234
Gb.6. 62 Kain sifon ..............................................................................235
Gb.6. 63 Koldore dengan pola.............................................................235
Gb.6. 64 Jahit tindas ............................................................................236
Gb.6. 65 Pembuatan sudut..................................................................237
Gb.6. 66 Pemasangan furing...............................................................237
Gb.6. 67 Hasil jadi tas dengan sulam pita...........................................238
Gb.7. 1 Jahit perca cara acak............................................................239
Gb.7. 2 Template...............................................................................240
Gb.7. 3 Overlapping...........................................................................240
Gb.7. 4 Cara jahit jelujur ....................................................................241
Gb.7. 5 Cara pola geometris .............................................................241
Gb.7. 6 Contoh produk jahit perca ....................................................243
Gb.8. 1 Gambar kerja ........................................................................255
Gb.8. 2 Hasil jadi sarung bantal ........................................................261
Gb.8. 3 Gambar kerja ........................................................................263
Gb.8. 4 Pola pada kain perca............................................................264
Gb.8. 5 Menyemat .............................................................................264
Gb.8. 6 Menggunting perca...............................................................265
Gb.8. 7 Menggabungkan perca.........................................................265
Gb.8. 8 Kain bacu dan perca.............................................................266
Gb.8. 9 Melipat dan menyemat kain blacu........................................266
Gb.8. 10 Menjahit tindas ......................................................................267
Lampiran A.6
Gb.8. 11 Lima buah karya perca.........................................................267
Gb.8. 12 Assesoris..............................................................................268
Gb.8. 13 Hasil jadi...............................................................................268
Gb.8. 14 Gambar kerja........................................................................270
Gb.8. 15 Bagian atas taplak meja.......................................................271
Gb.8. 16 Menyeterika kain ..................................................................271
Gb.8. 17 Menggunting pola.................................................................272
Gb.8. 18 Menggunting pola.................................................................273
Gb.8. 19 Menandai batas jahitan ........................................................273
Gb.8. 20 Menjahit kain perca..............................................................273
Gb.8. 21 Menyeterika dan membuka lipatan ......................................274
Gb.8. 22 Menyeterika kain perca........................................................274
Gb.8. 23 Menggabungkan perca dengan blacu .................................274
Gb.8. 24 Menjahit bagian tepi perca...................................................275
Gb.8. 25 Bagian tepi taplak meja........................................................275
Gb.8. 26 Bagian bawah taplak meja ...................................................276
Gb.8. 27 Menyeterika kain perca........................................................276
Gb.8. 28 Menggunting kain perca.......................................................277
Gb.8. 29 Menjahit kain perca..............................................................277
Gb.8. 30 Membuka lipatan dan menyeterika ......................................278
Gb.8. 31 Menyeterika kain perca jadi .................................................278
Gb.8. 32 Memasang kain perca..........................................................278
Gb.8. 33 Hasil jadi...............................................................................279
Gb.8. 34 Gambar kerja........................................................................280
Gb.8. 35 Pola pada kain perca ...........................................................281
Gb.8. 36 Menyemat.............................................................................282
Gb.8. 37 Menggunting perca ..............................................................282
Gb.8. 38 Menggabungkan perca........................................................282
Gb.8. 39 Menyeterika jahitan perca....................................................283
Gb.8. 40 Kain blacu/kain katun dan perca..........................................283
Gb.8. 41 Melipat dan menyemat kain blacu .......................................283
Gb.8. 42 Menjahit tindas .....................................................................284
Gb.8. 43 Membuat gantungan ............................................................284
Gb.8. 44 Memasang gantungan .........................................................284
Gb.8. 45 Memasang aksesoris ...........................................................285
Gb.8. 46 Hasil jadi...............................................................................285
Gb.9. 1 Contoh produk jahit tindas pengisi lembaran ......................287
Gb.9. 2 Jahit tindas pengisi susulan .................................................288
Gb.9. 3 Jahit tindas pengisi tali.........................................................288
Gb.9. 4 Contoh jahit tindas efek bayangan ......................................289
Gb.9. 5 Jahit aplikasi.........................................................................290
Gb.9. 6 Jahit aplikasi potong sisip ................................................290
Gb.9. 7 Jahit aplikasi potong motif....................................................291
Gb.9. 8 Aplikasi lipat potong.............................................................291
Gb.9. 9 Jahit aplikasi dengan pengisian ...........................................292
Gb.9. 10 Contoh produk jahit tindas ...................................................293
Lampiran A.7
Gb.9. 11 Contoh produk jahit tindas ....................................................293
Gb.9. 12 Contoh produk jahit aplikasi .................................................294
Gb.10. 1 Gambar kerja ........................................................................313
Gb.10. 2 Menyeterika kain...................................................................314
Gb.10. 3 Mengukur dan menandai kain flanel ....................................314
Gb.10. 4 Memola .................................................................................315
Gb.10. 5 Menggabungkan kain flanel..................................................315
Gb.10. 6 Menjahit jelujur......................................................................316
Gb.10. 7 Menjahit tindas ......................................................................316
Gb.10. 8 Menggunting bagian motif ....................................................317
Gb.10. 9 Memasukkan dakron ............................................................317
Gb.10. 10 Menjahit menggunakan tusuk feston ...................................318
Gb.10. 11 Memasang bisban ................................................................318
Gb.10. 12 Hasil jadi ...............................................................................319
Gb.10. 13 Gambar kerja ........................................................................320
Gb.10. 14 Gambar kerja ........................................................................321
Gb.10. 15 Bagian depan bantal.............................................................322
Gb.10. 16 Menggabung kain .................................................................322
Gb.10. 17 Menjahit tindas ......................................................................323
Gb.10. 18 Membentuk motif anyaman ..................................................323
Gb.10. 19 Hasil jadi bagian depan sarung bantal.................................324
Gb.10. 20 Memasang ritsliting ...............................................................325
Gb.10. 21 Mengisi dakron .....................................................................325
Gb.10. 22 Menjahit tindas ......................................................................326
Gb.10. 23 Hasil jadi bagian belakang sarung bantal ............................326
Gb.10. 24 Menggabungkan bagian depan dan belakang sarung bantal ...
..............................................................................................327
Gb.10. 25 Hasil jadi ...............................................................................327
Gb.10. 26 Gambar kerja ........................................................................328
Gb.10. 27 Menyeterika kain...................................................................329
Gb.10. 28 Gambar pola .........................................................................329
Gb.10. 29 Pola tutup galon....................................................................330
Gb.10. 30 Menggambar pola.................................................................330
Gb.10. 31 Menggabungkan kain ...........................................................331
Gb.10. 32 Menjelujur tepi kain ...............................................................331
Gb.10. 33 Menjahit tindas ......................................................................332
Gb.10. 34 Memasang kain sifon............................................................332
Gb.10. 35 Memasang kain sifon............................................................333
Gb.10. 36 Menggabungkan bagian atas tutup galon ............................333
Gb.10. 37 Menyatukan dua sisi lembaran.............................................334
Gb.10. 38 Menyatukan bagian atas tutup dan bagian badan tutup galon
..............................................................................................334
Gb.10. 39 Finishing................................................................................335
Gb.10. 40 Hasil jadi ...............................................................................335
Gb.10. 41 Gambar kerja ........................................................................336
Gb.10. 42 Menandai kain.......................................................................337
Lampiran A.8
Gb.10. 43 Memola.................................................................................337
Gb.10. 44 Menggabungkan kain dengan dakron .................................338
Gb.10. 45 Menjahit tindas .....................................................................338
Gb.10. 46 Menggabungkan dengan blacu ...........................................339
Gb.10. 47 Menandai kain ......................................................................339
Gb.10. 48 Menggabungkan kain ...........................................................340
Gb.10. 49 Menjelujur .............................................................................340
Gb.10. 50 Menjahit tindas .....................................................................340
Gb.10. 51 Melipat salah satu sisi lembaran..........................................341
Gb.10. 52 Memberi furing .....................................................................341
Gb.10. 53 Membungkus tali dengan bisban .........................................342
Gb.10. 54 Membuat bisban...................................................................342
Gb.10. 55 Memasang tali pada tepi sarung bantal...............................343
Gb.10. 56 Menggabungkan bagian depan dan belakang....................343
Gb.10. 57 Membuat lubang kancing .....................................................344
Gb.10. 58 Hasil jadi...............................................................................344
Gb.10. 59 Gambar kerja........................................................................345
Gb.10. 60 Menggunting kain .................................................................346
Gb.10. 61 Memola.................................................................................346
Gb.10. 62 Menempel aplikasi ...............................................................346
Gb.10. 63 Memasang pada midangan .................................................347
Gb.10. 64 Hasil jadi...............................................................................347
Gb.10. 65 Gambar kerja........................................................................348
Gb.10. 66 Mengukur kain......................................................................348
Gb.10. 67 Mengunting kain ...................................................................349
Gb.10. 68 Melipat kain ..........................................................................349
Gb.10. 69 Menjahit lipatan kain ............................................................350
Gb.10. 70 Memasang renda dan pita ...................................................350
Gb.10. 71 Membentuk sarung bantal ...................................................351
Gb.10. 72 Menjahit kedua sisi kain .......................................................352
Gb.10. 73 Mengobras............................................................................352
Gb.10. 74 Menggunting sisa-sisa kain..................................................353
Gb.10. 75 Menyeterika hasil akhir sarung bantal .................................353
Gb.10. 76 Gambar kerja........................................................................354
Gb.10. 77 Menggunting motif................................................................355
Gb.10. 78 Menempel motif pada fislin ..................................................355
Gb.10. 79 Menyetrika motif dan fislin ...................................................356
Gb.10. 80 Menempelkan motif ..............................................................356
Gb.10. 81 Menjelujur .............................................................................357
Gb.10. 82 Memasang pada midangan .................................................357
Gb.10. 83 Menjahit dengan tusuk zig-zag ............................................358
Gb.10. 84 Menggunting sesuai ukuran saku ........................................358
Gb.10. 85 Memasang saku...................................................................359
Gb.10. 86 Menggunting sisa-sisa benang ............................................360
Gb.10. 87 Hasil jadi...............................................................................360
Gb.10. 88 Gambar kerja........................................................................361
Lampiran A.9
Gb.10. 89 Pola motif ..............................................................................357
Gb.10. 90 Hasil jadi ...............................................................................366
Gb.10. 91 Gambar Kerja........................................................................367
Gb.10. 92 Menyetrika kain.....................................................................368
Gb.10. 93 Mengunting kain ...................................................................368
Gb.10. 94 Memola.................................................................................368
Gb.10. 95 Menggabungkan pola dengan fislin .....................................369
Gb.10. 96 Menempelkan kain aplikasi pada kain dasar .......................369
Gb.10. 97 Memasang pada midangan..................................................370
Gb.10. 98 Memasukkan bahan pengisi.................................................370
Gb.10. 99 Memasang kain aplikasi .......................................................371
Gb.10. 100 Hasil jadi ...............................................................................371
Gb.11. 1 Contoh produk cetak saring..................................................374
Gb.11. 2 Contoh produk cetak saring..................................................375
Gb.12. 1 Membuat motif ......................................................................389
Gb.12. 2 Gambar kerja ........................................................................390
Gb.12. 3 Menjiplak motif ......................................................................391
Gb.12. 4 Melubangi motif ....................................................................391
Gb.12. 5 Memberi lem kain pada papan landasan .............................391
Gb.12. 6 Meletakkan syal di atas papan landasan .............................392
Gb.12. 7 Memasang kertas asturo di atas syal...................................392
Gb.12. 8 Mencampur zat warna..........................................................392
Gb.12. 9 Meletakkan screen di atas kertas asturo..............................393
Gb.12. 10 Menyaput warna ...................................................................393
Gb.12. 11 Mengeringkan motif ..............................................................393
Gb.12. 12 Mencuci peralatan ................................................................394
Gb.12. 13 Menyetrika syal yang telah jadi ............................................394
Gb.12. 14 Gambar tengah selendang...................................................395
Gb.12. 15 Gambar kerja ........................................................................396
Gb.12. 16 Gambar tepi dan tumpal selendang .....................................396
Gb.12. 17 Proses gambar pada kodatrace...........................................397
Gb.12. 18 Film diapositif ........................................................................397
Gb.12. 19 Mencampur obat peka cahaya .............................................397
Gb.12. 20 Screen Siap Afdruk...............................................................398
Gb.12. 21 Pengolesan obat afdruk........................................................398
Gb.12. 22 Penyinaran dengan matahari ...............................................398
Gb.12. 23 Penyinaran dengan lampu neon ..........................................398
Gb.12. 24 Pencucian.............................................................................399
Gb.12. 25 Pentusiran.............................................................................399
Gb.12. 26 Pelapisan lakban pada tepi screen ......................................399
Gb.12. 27 Menyaput dengan rakel ........................................................400
Gb.12. 28 Pasta warna..........................................................................400
Gb.12. 29 Pasta warna pigmen.............................................................401
Gb.12. 30 Hasil print pada selendang ...................................................401
Gb.12. 31 Selendang hasil coletan .......................................................401
Gb.12. 32 Pencoletan dengan warna muda..........................................401
Lampiran A.10
Gb.12. 33 Penyelesaian akhir menggunakan alat press panas...........402
Gb.12. 34 Hasil jadi selendang .............................................................402
Gb.12. 35 Gambar kerja........................................................................404
Gb.12. 36 Motif 3 Warna .......................................................................404
Gb.12. 37 Warna dipindah ke kodatrace ..............................................405
Gb.12. 38 Penyablonan ........................................................................407
Gb.12. 39 Bagian belakang sarung bantal ...........................................408
Gb.12. 40 Hasil jadi...............................................................................408
Gb.12. 41 Ragam kaos .........................................................................411
Gb.12. 42 Gambar kerja........................................................................411
Gb.12. 43 Pasta warna sparasi.............................................................413
Gb.12. 44 Pencetakan ..........................................................................413
Gb.12. 45 Menyeterika hasil sablon......................................................414
Gb.12. 46 Fiksasi ..................................................................................414
Gb.12. 47 Hasil jadi...............................................................................414
Gb.12. 48 Gambar kerja........................................................................416
Gb.12. 49 Foto dari kamera digital........................................................416
Gb.12. 50 Gambar dari internet ............................................................416
Gb.12. 51 Film diapositif .......................................................................417
Gb.12. 52 Pasta warna separasi...........................................................418
Gb.12. 53 Pencetakan ..........................................................................419
Gb.12. 54 Hasil kaos cetak saring ........................................................419
Gb.13. 1 Tenunan polos......................................................................421
Gb.13. 2 Tenunan kepar .....................................................................422
Gb.13. 3 Tenunan satin.......................................................................422
Gb.13. 4 Contoh produk tenun............................................................424
Gb.13. 5 Gambar kerja........................................................................428
Gb.13. 6 Membuat silangan ................................................................429
Gb.13. 7 Memasang benang TC.........................................................429
Gb.13. 8 Jumlah benang sesuai yang ditentukan..............................430
Gb.13. 9 Menghitung benang TC 6 ....................................................430
Gb.13. 10 Mengikat benang TC pada bagian persilangan...................431
Gb.13. 11 Melepas rangkaian benang..................................................431
Gb.13. 12 Menggulung benang ............................................................432
Gb.13. 13 Memasukan gulungan benang pada stik .............................432
Gb.13. 14 Memasang raddle.................................................................433
Gb.13. 15 Memasukan benang pada raddle ........................................433
Gb.13. 16 Memeriksa pemasangan benang ........................................434
Gb.13. 17 Menggulung benang ............................................................434
Gb.13. 18 Memasang kertas tebal........................................................435
Gb.13. 19 Menyucuk pada gun.............................................................435
Gb.13. 20 Menyucuk pada sisir ............................................................436
Gb.13. 21 Mengikat benang lusi ...........................................................436
Gb.13. 22 Mengencangkan tali .............................................................437
Gb.13. 23 Memeriksa ketegangan benang ..........................................437
Gb.13. 24 Menggulung benang pakan .................................................438
Lampiran A.11
Gb.13. 25 Memegang sisir ....................................................................438
Gb.13. 26 Menginjak pedal....................................................................439
Gb.13. 27 Membuka mulut lusi..............................................................439
Gb.13. 28 Memasukkan benang pakan ................................................440
Gb.13. 29 Menarik sisir..........................................................................440
Gb.13. 30 Menenun ...............................................................................441
Gb.13. 31 Menenun ...............................................................................441
Gb.13. 32 Menggunting bagian atas .....................................................442
Gb.13. 33 Membuat simpul ...................................................................442
Gb.13. 34 Hasil jadi taplak meja............................................................443
Gb.13. 35 Gambar kerja ........................................................................444
Gb.13. 36 Hasil jadi selendang..............................................................447
Gb.13. 37 Gambar kerja ........................................................................448
Gb.13. 38 Hasil jadi syal ........................................................................451
Gb.14. 1 Tenun corak rata...................................................................453
Gb.14. 2 Tenun corak kilim..................................................................454
Gb.14. 3 Tenun corak soumak............................................................454
Gb.14. 4 Tenun corak giordes .............................................................454
Gb.14. 5 Contoh produk tapestri .........................................................455
Gb.14. 6 Gambar kerja ........................................................................457
Gb.14. 7 Memasang benang lusi ........................................................458
Gb.14. 8 Membuat tali penguat ...........................................................459
Gb.14. 9 Membuat simpul soumak......................................................459
Gb.14. 10 Membuat benang pakan.......................................................460
Gb.14. 11 Mulai menenun .....................................................................460
Gb.14. 12 Menenun ...............................................................................461
Gb.14. 13 Membuat corak giordes ........................................................461
Gb.14. 14 Menenun dengan variasi corak ............................................462
Gb.14. 15 Menutup dengan soumak.....................................................462
Gb.14. 16 Memotong dengan gunting...................................................463
Gb.14. 17 Merapikan dengan gunting ...................................................463
Gb.14. 18 Menyimpul akhir tenunan .....................................................464
Gb.14. 19 Hasil jadi hiasan dinding .......................................................464
Gb.15. 1 Cara menggulung dan mengikat tali ....................................465
Gb.15. 2 Simpul pipih ..........................................................................466
Gb.15. 3 Simpul kordon.......................................................................467
Gb.15. 4 Simpul Josephine .................................................................472
Gb.15. 5 Tas santai .............................................................................474
Gb.15. 6 Ikat pinggang ........................................................................475
Gb.15. 7 Gantungan pot ......................................................................475
Gb.15. 8 Sarung bantal kursi dan taplak meja ....................................476
Gb.15. 9 Kap lampu.............................................................................476
Gb.15. 10 Hiasan dinding ......................................................................477
Gb.15. 11 Dompet..................................................................................477
Gb.15. 12 Tas santai .............................................................................478
Gb.15. 13 Pembungkus botol ................................................................478
Lampiran A.12
Gb.15. 14 Kap lampu ............................................................................479
Gb.15. 15 Hiasan dinding......................................................................479
Gb.16. 1 Gambar kerja........................................................................483
Gb.16. 2 Simpul pipih ganda...............................................................482
Gb.16. 3 Rangkaian simpul pipih ganda.............................................482
Gb.16. 4 Menyatukan kedua ujung simpul .........................................483
Gb.16. 5 Simpul pipih ganda...............................................................483
Gb.16. 6 Simpul mutiara .....................................................................484
Gb.16. 7 Guci ......................................................................................484
Gb.16. 8 Hasil jadi guci dengan balutan makrame.............................487
Gb.16. 9 Gambar kerja........................................................................488
Gb.16. 10 Penyelesaian akhir ...............................................................489
Gb.16. 11 Hasil jadi ikat pinggang ........................................................491
Gb.16. 12 Gambar kerja........................................................................492
Gb.16. 13 Hasil jadi gantungan pot.......................................................498
Gb.16. 14 Gambar kerja........................................................................499
Gb.16. 15 Hasil jadi karpet ....................................................................501
Gb.16. 16 Gambar kerja........................................................................502
Gb.16. 17 Hasil jadi tas .........................................................................504
Gb.16. 18 Gambar kerja........................................................................505
Gb.16. 19 Rangka hiasan dan simpul jangkar ganda ..........................506
Gb.16. 20 Simpul pipih ganda dan simpul pipih ...................................506
Gb.16. 21 Rumbai-rumbai.....................................................................507
Gb.16. 22 Gantungan bambu ...............................................................507
Gb.16. 23 Hasil jadi...............................................................................508
Lampiran B.1
GLOSARI
Afdruk Memindah gambar dari diapositif ke screen.
Agel Serat daun gebang.
Alat press Alat pemanas hasil cetak saring dilengkapi alat
pengatur suhu dan timer untuk mengatur waktu
sesuai jenis pasta warna yang digunakan.
Bandul Alat penahan kain tergantung pada gawangan.
Bobbin Alat untuk tempat benang pakan pada teknik
tapestri.
Canting Alat batik dari tembaga untuk mengambil lilin cair
dan untuk melukiskan pada kain.
Canting carak Canting yang berparuh lebih dari satu.
Cawuk Alat untuk mengerok.
Cecek Bentuk titik yang dibuat menggunakan canting
cecek dan tetap putih.
Celemek Alat penutup dari kain agar bagian badan tidak
terkena kotoran.
Cetak saring Sablon atau screen printing dapat diartikan
kegiatan cetak mencetak dengan menggunakan
kain gasa/kasa yang biasa disebut screen.
CMYKey Cyan, magenta, yellow, dan key atau hitam.
Colduro Bahan pelapis yang terbuat dari busa spon yang
mempunyai lapisan.
Corak giordes Teknik anyam pada tapestry yaitu bahan benang
pakan yang digunakan potongan-potongan yang
diselipkan pada tenun corak rata.
Corak kilin Teknik anyam pada tapestry dengan cara mengait
atau benang pakan berbalik arah asalnya.
Lampiran B.2
Corak rata Teknik anyam pada tapestry yaitu benang pakan
mengisi benang lusi/lungsi dengan hitungan sama:
1,2 dan 1,1 atau atas satu bawah satu.
Corak soumak Teknik anyam pada tapestry dengan cara
melilitkan benang pakan pada benang lusi/lungsi,
sehingga menyebabkan rupa permukaan tenunan
dekoratif.
Cukit/pendedel Alat untuk melepaskan jahitan yang salah pada
kain.
Cut Put Methode/ Proses cetak saring dengan teknik pemotongan.
Knife Cut Methode
Cutter Alat pemotong atau membuat lubang motif pada
kertas.
Dacron Bahan pelapis yang terbuat dari bahan sintetis dan
diolah menjadi bahan lembaran.
Fast dye Bahan pengental yang dicampur dengan pewarna
sandye menghasilkan sablonan tidak timbul.
Ganden Alat pemukul dari kayu.
Gawangan Tempat untuk membentangkan mori pada waktu
membatik tulis.
Geblogan (piece) Satu gulung kain yang sudah ditentukan oleh
pabrik yang untuk tekstil biasa dari masing-masing
pabrik tidak selalu sama panjangnya. Tetapi untuk
mori sudah ada standar tetentu panjang tiap
geblog bagi masing-masing jenis mori.
Hair dryer Alat listrik untuk mengeringkan screen setelah
diolesi obat peka cahaya dan mengeringkan hasil
cetakan pada kain.
Hand sprayer Alat penyemprot untuk membuat lubang screen
setelah proses penyinaran dan untuk
membersihkan screen setelah penyablonan.
Hidronal G Lem kain dalam bentuk cair warna putih seperti
susu, digunakan untuk melapisi alas sablonan
atau blanket.
Lampiran B.3
Isen-isen cecek Pengisi motif dengan titik-titik.
Isen-isen sawut Pengisi motif dengan garis-garis sejajar.
Jahit tindas Teknik menjahit dengan cara mengisi atau
melapisi kain dengan menggunakan bahan
pelapis, kemudian bagian atas kain dijahit mesin
mengikuti motif atau desain.
Jarum pentul Jarum yang bagian kepala ada bulatannya.
Jegul Alat untuk menembok bagian bidang yang lebar
dibuat ditangkai yang dibalut kain.
Kain bagi/strimin Kain yang anyaman lungsi dan pakannya
renggang/jarang, sehingga seratnya mudah
dihitung.
Kain kaca Kain yang transparan atau tembus pandang.
Kalengan Hasil dari proses batik hanya diberi warna biru.
Kemplong Alat pemukul dari kayu dengan alas kayu.
Kertas asturo Bahan yang digunakan untuk membuat
gambar/motif berlubang.
Klowong Bentuk atau gambaran pokok yang dibuat dengan
menggunakan canting dan lilin klowong.
Kodatrace Bahan yang digunakan sebagai film diapositif,
yaitu untuk memisah motif tiap warna sebelum
diafdruk.
Kuwuk Rumah binatang kerang.
Lusi/lungsi/lungsin Benang yang memanjang searah panjang kain.
Manutex Agar-agar rumput laut yang tidak berwarna dan
tidak mewarnai bahan, digunakan sebagai
pengental zat warna dalam bentuk serbuk seperti
zat warna reaktif atau dispersi.
Mbironi Menutup pada bagian motif yang akan tetap
berwarna biru atau putih.
Lampiran B.4
Medel Memberi warna biru pada batikan.
Meja afdruk Meja yang dilengkapi lampu neon dan diatasnya
menggunakan kaca bening sehingga sinar tembus
ke benda yang akan diafdruk.
Meja gambar Meja yang digunakan untuk membuat desain motif
untuk cetak saring dan untuk memindah gambar
ke kodatrace.
Meja sablon Meja untuk menyablon kaos atau lembaran yang
ukurannya kecil, dilengkapi dengan klem penjepit
dan dapat diputar, cukup untuk 4 screen.
Melorod Menghilangkan lilin secara keseluruhan dalam air
mendidih.
Mencipta Memuat sesuatu yang belum pernah ada yang
sesuai dengan keinginan seseorang.
Mencolet Menggambar dengan kuas di atas kain dengan
menggunakan pasta sablon.
Menembok Menutup motif dengan lilin yang akan tetap
berwarna putih.
Mengemplong Memukul berulang-ulang dengan ganden
bertujuan meratakan permukaan mori.
Mengetel/meloyor Mencuci mori dengan bahan minyak nabati dan
bahan alkali.
Menyoga Memberi warna coklat pada batikan.
Merengga Merubah bentuk-bentuk dari alam menjadi sebuah
hiasan.
Merining/mengesik Menutup dengan llin pada bagian motif tertentu
yang akan tetap berwarna putih dan biru.
Midangan Alat untuk meregangkan kain pada waktu
menyulam, yang terbuat dari kayu atau plastik,
berbentuk lingkaran, terdiri dari dua
bagian yaitu lingkaran dalam, lingkaran luar
dan memiliki baut.
Lampiran B.5
Mlampah sareng Cap-capan motif menggunakan dua cap berjalan
berdampingan.
Motif Gambaran bentuk yang merupakan sifat dan corak
suatu perwujudan.
Mubeng Berputar.
Ngawat Membentuk suatu garis lilin bekas canting tulis
yang baik (seperti kawat).
Ngerok/ngerik Membuka lilin batik pada motif tertentu dengan
alat kerok.
Nglorod Lihat: melorod.
Nglowong Pelekatan lilin yang pertama pada mori mengikuti
gambar pola.
Ndasari Memberi warna dasar.
Nyareni Dalam pencelupan dengan soga Jawa berarti
mencelup dalam larutan kapur. Pencelupan pada
umumnya berarti fiksasi.
Nyocoh Membuat lubang-lubang dengan menggunakan
alat yang kecil runcing (dari jarum) dikerjakan
berulang-ulang.
Obat peka cahaya Larutan pokok dalam proses afdruk screen,
merupakan campuran antara emulsi dan sensitizer
(kromatin dan emulsi).
Opaque Ink Tinta Cina untuk menggambar memisahkan motif
tiap warna pada kertas HVS/kalkir atau kodatrace
dengan menggunakan kuas. Opaque Ink untuk
menggambar memisahkan motif tiap warna pada
kodatrace.
Pakan Benang yang dimasukkan melintang pada benang
lusi/lungsi/lungsin.
Palet Tempat untuk mencampur cat poster/ tinta warna
dalam proses desain, tinta cina atau Opaque ink
untuk traces dan pasta warna untuk colet.
Tinta Cina
Lampiran B.6
Papan landasan Terdiri dari triplek yang dilapisi busa dan blanket
sebagai landasan pada penyablonan T-Shirt atau
kain.
Patchwork/ Suatu keteknikan dalam membuat karya kerajinan
tekstil dengan menggunakan potongan-potongan
kain/perca dan digabungkan dengan cara dijahit
sesuai dengan desain.
Penyucukan Memasang benang pada gun dan sisir.
Perca Sisa-sisa guntingan kain yang ada setelah
membuat karya kerajinan tekstil.
Rabber transparan Pengental sablon apabila warna ditumpuk warna
sebelumnya akan tampak atau menjadikan warna
baru.
Rabber transparan Pengental sablon apabila warna ditumpuk warna
sebelumnya akan tampak atau menjadikan warna
baru.
Rabber white Bahan pengental untuk sablonan putih atau
sablonan dasar untuk bahan tekstil/kaos warna
gelap.
Raddle Alat pemisah benang saat akan penyucukan.
Rader Alat yang digunakan untuk memberi tanda pada
kain yang akan dijahit atau
memindahkan pola dengan bantuan karbon
jahit jahit.
Rakel Karet penyaput pasta warna yang dijepit dengan
logam atau kayu.
Rengreng Pembatikan pada satu permukaan kain.
Sabun colet Sebagai pencuci screen setelah penyablonan
untuk meghilangkan sisa warna dan minyak atau
kotoran lainnya.
Sandye Pewarna pigmen yang digunakan untuk proses
cetak saring pada bahan kain/kaos.
tambal seribu/
jahit perca
Lampiran B.7
Sari kuning Bahan pencelup terdiri dari kembang pulu, soga
tegeran, tawas dan air.
Satu ceplok pola Pola dari sebagian motif batik dan apa bila
dipindahkan pada mori dapat menggambarkan
seluruh motif batik.
Sayang nenek Alat untuk membantu memasukkan benang pada
lubang jarum.
Screen Kerangka kayu dan monyl atau kain sutera yang
digunakan untuk mencetak gambar pada benda
yang akan disablon.
Sekoci Merupakan salah satu komponen mesin jahit yang
fungsinya sebagai tempat memasukkan
spol/kumparan.
Seni Suatu karya yang dibuat (diciptakan) dengan
kecakapan yang luar biasa.
Simetris Sama pada kedua sisi.
Simpul Jalinan ikat.
Sisir tenun Alat atau perangkat yang tersedia pada mesin
tenun untuk memadatkan karya tenunan.
Sisir tapestry Alat untuk memadatkan karya tapestri.
Soda abu dan Obat bantu untuk penguat warna, membuat
suasana alkali (basa).
Solder Alat untuk membuat lubang/krawangan/
kerancang pada bordir.
Sparasi Pemisahan warna dengan menggunakan filter
warna sampai warna terpisah menjadi CMYKey.
Spol/kumparan Merupakan salah satu komponen mesin jahit yang
fungsinya sebagai tempat mengikal benang.
Sulam (bordir) Hiasan dari benang yang dijahitkan pada kain
embroidery (im-broide: sulaman).
Soda Kue
Lampiran B.8
Sulam datar Sulam yang hasil sulamannya datar atau rata
dengan permukaan kain.
Sulam terawang Sulam yang hasil sulamannya berlubang-lubang.
Sulam timbul Sulam yang hasil sulamannya timbul atau muncul
di permukaan kain. Sulam timbul yang dikerjakan
dengan tangan menggunakan jarum khusus sulam
timbul.
Tali garapan Tali bagian kanan dan kiri.
Tali taruhan Tali pada bagian tengah.
Tapak lilin Bekas goresan lilin pada canting.
Tapestry loom Alat berupa kerangka untuk membuat anyaman
karya tapestri.
Telusupan Alat untuk membantu memasukkan benang pada
jarum.
Tembokan Bentuk dan bidang yang akan berwarna putih
ditutup dengan lilin tembok.
Tenun kepar Anyaman pada tenun yang bentuknya silang
miring/bergaris-garis miring.
Tenun polos Anyaman pada tenun yang bentuknya datar, yaitu
benang pakan mengisi benang lusi/lungsi dengan
hitungan sama.
Teropong pipih Alat untuk tempat benang pakan pada teknik
tenun.
Terusan Pembatikan pada permukaan sebelah.
Tubrukan Bergeser satu langkah ke kanan atau satu langkah
ke muka.
Tudung jari Alat untuk melindungi jari dari jarum pada saat
menjahit tangan.
Tumpangan Proses pewarnaan di atas warna yang telah ada.
Lampiran B.9
Turunan warna Tingkatan dalam satu warna, dari warna yang
terang mengarah ke warna yang gelap.
Ulano 5 Bahan untuk menghapus obat peka cahaya pada
screen yang sudah tidak digunakan.
Ulano 8 Bahan untuk menghapus bayangan pada screen.
Variasi Bentuk yang bermacam-macam.
Waskom Tempat air yang bagian bibir atas lebih lebar dan
biasanya dibuat panci.
Wedelan Proses memberi warna biru pada proses
membatik.

Lampiran C.1
DAFTAR PUSTAKA
Affendi, Yusuf. 1987. Seni Tenun. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Ames, Marjorie. 1981. Miniature Macrame. New York. Dover Publication
Inc.
Amirudin,S. Teks. 2001. Pewarnaan Tekstil. Bandung: Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Industri Tekstil.
Arsana, Banu, dkk. 1998. Menggambar Alam Benda. Jakarta: Direktorat
Pendidikan Menengah dan Kejuruan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan
Basir, Herry. 1986. Pedoman Praktis Sablon. Jakarta: CV Simplek.
Black, Mary E.. 1980. The Key to Weaving. New York: Macmillan
Publishing Co, Inc.
Blumrich, Maria. 1982. Stich Blumrich. Germany: Burda Gmb H
Bress, Helena. 1972. The Macrame Book. New York. -----------------
Canadian Workshop. 1980. Quilt, Patchwork and Appliques. Canada.
Christie, R. M.. 2001. Colour Chemistry. Galashiels UK,I Jonkoping,
RS.C.
Clark, Mary Clare. 1997. Japanese Folded Patchwork. London: The
Apple Press.
Coleman, Anne. 1993. First Steps in Patchwork. London: B.T. Batsford
Ltd.
Daryanto. 1989. Teknik Pembuatan Batik dan Sablon , Semarang, Aneka
Ilmu.
Djufri, Rasyid dkk. 1973. Teknologi Pengelantangan Pencelupan dan
Pencapan. Bandung: Institut Teknologi Tekstil.
Djuhari, Djoni. 1995. Desain Kerajinan Tekstil. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan
Dasar Menengah-Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.
Lampiran C.2
Effendi, A.. 1980. Prakarya Sablon. Edisi I. Surabaya: Gatin.
Field, Anne. 1991. The Ashford Book of Weaving. New Zealand:
Tandem Press Ltd.
French, Elizabeth & Stephanie Schrapel. 1972. Macrame. Hongkong. -----
---------
Green, Elaine.1998. Glorious Stencilling. London : Apple Press.
Gollwitzer, Gerhard. 1996. Mari Berkarya Rupa. Bandung: Penerbit ITB.
Hall, Dorothea. 1996. The Quilting, Patchwork & Applique Project Book.
London: Chartwell Book, Inc.
Hamzuri, 1985. Batik Klasik Jakarta: Djambatan.
Herlina dkk. 1999. Batik Materi Kejuruan Terintegrasi Lingkungan hidup
untuk SMK. Malang: Indah Offset.
http://www.geocities.com/sta5 ar530/data/05s.htm
Isaacs, Jennifer. 1987. The Gentle Arts. Australia: Ure Smith Press.
Isminingsih. 1978. Pengantar Kimia Zat Warna. Bandung: ITT.
_________, Rasjid Djufri. 1979. Pengantar Kimia Zat Warna. Bandung:
Proyek Perguruan/Akademi/Sekolah Industri (ITT).
Jumanta. 2004. [Kaos] Inspirasi Motif Modern & Kata-kata. Jakarta:
Puspa Swara.
Lampton, Susan S. 1974. Macrame Creative Knot Trying. California.
Sunset Books Limited.
Marshall, Cavendish. 1985. Macrame Made Easy. London: Cavendish
Books Limited.
Murtihadi dan Mukminatun. 1979. Pengetahuan Teknologi Batik. Jakarta,
Debdikbud.
Mustafa, Shuib. 1986. Panduan Seni Lukis Unutk Sekolah-sekolah
Menengah. Malaysia: Pustaka San Ming
Nusantara, Guntur. 2007. Panduan Praktis Cetak Sablon. Jakarta: PT
Kawan Kita.
Lampiran C.3
Ondori. 1982. Modern Patchwork. Tokyo: Ondorisha Publshers, Ltd.
Parker, Freda. 1990. Victorian Embroidery. London: Anaya Publishers
Ltd.
Patunrangi, Husairin. 1985. Penelitian Jenis Zat Warna Reaktif & cara
pencelupan untuk pencelupan sutera yang sesuai untuk Industri
kecil. Bandung: ITT.
Puspitowati, Wahyu. 2007. Teknik Dasar Sulam Pita Untuk Pemula..
Jakarta: PT. Kawan Pustaka.
Raccbini. 1981. Sablon. Edisi IV. Surabaya. ARFI
Rachbini. 1986. Sablon Screen Printing Dasar Lengkap, Surabaya.
Riyanto (Ed.).----. Handbook of Indonesian Batik. Yogyakarta: The
Institute for Research and Development of Handicraft and Batik
Industries.
S. Djoemeno, Nian. 1986. Ungkapan Sehelai Batik, Jakarta: Djambatan.
Saraswati. 1984. Pedoman Menggambar Hewan. Jakarta: Bhratara Karya
Aksara.
________. 1986. Seni Makrame. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Scheel, Alison. 1997. Great T-Shirt Graphics. America: The Desain
Company.
Silaban, Saut P. 2006. Membaca Patung Primitif Batak Sebagai Teks
Filsafat Tersembunyi.
http://www.silaban.net/2006/12/17/membaca-patung-primitifbatak-%
20sebagai-teks-filsafat-tersembunyi/
Siswanto, Pujo. 2007. Kupas Tuntas Teknik Sablon Masa Kini,
Yogyakarta, Absolut.
Snook, Barbara. 1963. Embroidery Stitches (450 Contoh Sulaman).
Jakarta. PT Bhratara Karya Aksara
Soemantri, V.M. Bambang. 2005. Tusuk Sulam Dasar. Jakarta. PT
Gramedia Pustaka Utama
Lampiran C.4
Soepriyono, dkk. 1974. Serat-serat Tekstil. Bandung.Institut Teknologi
Tekstil.
Stevens, Timon. 1981. Kaligrafi dari A sampai Z. Bandung: Angkasa
Suhersono, Hery. 2004. Desain Bordir Flora Dan Dekoratif, Jakarta, PT
Gramedia Pustaka Utama.
_______________. 2004. Desain Motif .Jakarta: Puspa Swara’
______________. 2004. Desain Bordir Motif Kerancang, Tepi, dan
Lengkung. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
______________. 2005. Desain Bordir Motif Geometris. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Sulaiman, M.Jusuf.1980. Screen Printing Sablon. Bandung: Luca‘s.
Sumantri, Bambang. 2005. Tusuk Sulam Datar. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
sumberilmu.info/2008/02/24/perkembangan-kesenian/
Suryanto, TT. 1978. Penuntun Praktek Batik untuk SMIK. Jakarta:
Dikmenjur Dep. P&K.
Susanto, SK Sewan. 1980. Seni Kerajinan Batik Indonesia. Yogyakarta:
BPPI Departemen Perindustrian RI.
Susanto, S.K. Sewan. 1984. Seni dan Teknologi Kerajinan Batik. Jakarta:
Depdikbud Dikdasmen.
Sutri Insani, Silvi. 2007. Teknik Sulam Pita. Surabaya. Trubus Agrisarana.
Swstapa, Ngurah. 2002. Ornamen Tradisional dan Modern. Yogyakarta:
PPPG Kesenian.
______________. 1998. Menggambar Pola dengan Motif, Bahan ajar
ADasar Kekriaan untuk SMK, Dir PMK-Depdikbud.
Travis, Dinah. 1993.The Aplique Quilt. London: B. T. Batsford Ltd.
Vilder, Andre. 1980. Quilts, Patchwork , Appliques. Canada .Canadian:
Published.
Lampiran C.5
Villiars, Linda de. 1989, Creative Applique to Make and Wear, London,
Lesley
Wachid B.S., Abdul. 1997. Hj. Rosma. & Nukilan Bordir Sumatra Barat.
Padang: Citra Budaya Indonesia.
Wagiono, dkk. 1998. Latihan Menggambar Dasar Bentuk dan Warna.
Jakarta: PT. Mandiri Jaya Abadi.
____________. 1998. Latihan Menggambar Manusia dan Pemandangan
. Jakarta: PT. Mandiri Jaya Abadi.
____________. 1998. Latihan Menggambar Ragam Hias. Jakarta: PT.
Mandiri Jaya Abadi.
Wiyono, Mat, dkk. 1998. Menggambar Huruf Logo dan Lambang. Jakarta:
Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Wong, Wucius. 1989. Beberapa Asas Merancang Trimatra. Bandung:
Penerbit ITB.
Znamierowski, Nell 1973. Weaving. London : Pan Craft Books Ltd.
--------------- . 1996. Petunjuk Keterampilan Kreativitas Sekolah Menengah
Kejuruan Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan. Jakkarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan
Menengah dan Kejuruan Bagian Proyek Pendidikan Kejuruan Non
Teknik II Jakarta.
-----------------------. 1973. Macrame 1 and 2. London. Search Press.
-----------------------. 1991. Buku Pegangan Printing Tangan. Yogyakarta.
Balai Penelitian Kerajinan dan Batik.
-----------------------. 1991. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jakarta. Cipta
Adi Pustaka.
-----------------------. 1992. Creative Applique to Make and Wear. London:
Lesley Turpin-Delport New Holland (publisher) Ltd.
-----------------------. Ondori. 2002. Hawaian Quilt.
-----------------------. Teknik Sablon. Yogyakarta: Ngasembaru.

0 komentar: