____ Baca Baca: SMK 10 Seni Rupa_Agung Html BSE_______welcome
Memuat...
Share |

Senin, 01 Maret 2010

SMK 10 Seni Rupa_Agung Html














A. Agung Suryahadi
SENI RUPA
Menjadi Sensitif, Kreatif, Apresiatif
dan Produktif
JILID 1
SMK
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
SENI RUPA
Menjadi Sensitif, Kreatif, Apresiatif
dan Produktif
JILID 1
Untuk SMK
Penulis : A. Agung Suryahadi
Ukuran Buku : 17,6 x 25 cm
Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
SUR SURYAHADI, A. Agung
s Seni Rupa Menjadi Sensitif, Kreatif, Apresiatif dan Produktif
Jilid 1 untuk SMK/oleh A. Agung Suryahadi ---- Jakarta : Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen
Pendidikan Nasional, 2008.
viii. 255 hlm
Daftar Pustaka : A1-A3
Glosarium : B1-B3
ISBN : 978-979-060-021-8
978-979-060-022-5
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan
kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan
pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK.
Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah
dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses
pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45
Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya
kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas
oleh para pendidik dan peserta didik SMK.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download),
digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat.
Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya
harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan
ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi
masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh
Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk
mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada
para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik
sangat kami harapkan.
Jakarta, 17 Agustus 2008
Direktur Pembinaan SMK

i
PENGANTAR
Dengan mengucapkan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa
dengandiselesaikannya penulisan buku ini. Judul buku ini dipilih untuk
memberikan suatu kesan dan pemahaman bahwa belajar seni rupa dapat
membuat orang menjadi peka secara estetik yang diharapkan
mempengaruhi kepekaan budi pekerti yang selama ini banyak diharapkan
untuk mempengaruhi kehidupan yang teduh di masyarakat. Selain itu
juga memberikan dampak kepada kemampuan kreatif imajinatif dan
produktif dalam membuat karya seni, akhirnya karena memiliki wawasan
yang luas tentang nilai-nilai seni maka diharapkan dengan belajar melalui
buku ini membimbing siswa untuk memiliki sikap apresiatif terhadap hasil
seni dan budaya bagsa serta hasil kebudayaan lainnya serta cinta
kepada lingkungan hidup.
Buku ini tidak akan dapat terwujud jika tidak adap bantuan dari pihak
lain, terutama kepada jajaran Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan yang telah memberi kesempatan penulis untuk ikut dalam
program penulisan buku-buku bagi pendidikan kejuruan. Terimakasih
pula kepada jajaran P4TK Seni dan Budaya yang telah mengusulkan
penulis untuk ikut sebagai penulis buku-buku kejuruan, tak lupa pula
kepada anak dan istri yang telah memberi dorongan dan membantu
penulis dalam menyelesaikan buku ini.
Buku ini dapat berfungsi ganda, pertama berguna bagi siswa dan guru
SMK Seni dan Budaya untuk mendalami seni rupa, kedua juga dapat
digunakan sebagai rujukan guru dan siswa sekolah non-kejuruan seni
untuk memperdalam tentang pelajaran seni di sekolah mulai dari tingkat
sekolah dasar dan menengah.
Kami menyadari buku ini masih belum sempurna, untuk itu penulis
mengharapkan ada masukan dan kritikan terhadap buku ini untuk
penyempurnaannya. Akhirnya diharapkan buku ini dapat sedikit
menyumbangkan pengetahuan bagi dunia pendidikan khususnya
pendidikan seni rupa baik kejuruan maupun non kejuruan.
Penulis.

ii
SINOPSIS
Pendidikan kejuruan seni pada dasarnya menyangkut empat hal
pokok yakni: ketrampilan teknik, kepekaan estetik, kreativitas, dan
apresiasi. Keempat hal ini saling berkaitan satu sama lainnya, apabila
lebih disederhanakan hanya menyangkut dua hal yaitu ketrampilan
teknik dan kepekaan estetik. Kenapa keempat hal ini menjadi hal pokok
dalam pendidikan kejuruan seni? Apabila dicermati bidang seni
intisarinya adalah estetik atau keindahan, hal ini sebenarnya melekat
dalam kehidupan manusia. Orang tidak dapat membuat karya seni tetapi
ia memiliki sense of beauty, hal ini dapat dilihat ketika memilih sesuatu ia
memilih dengan pertimbangan bentuk dan warna yang disukainya, ketika
ada lagu yang sesuai dengan kesukaannya ia merasa senang itulah
perasaan keindahan yang dimiliki setiap manusia.
Untuk membuat karya seni selain memiliki rasa keindahan, orang
harus memiliki kemampuan cara membuatnya, kemampuan cara
melakukannya. Mau membuat gambar ia harus memiliki kemampuan
cara menggambar, ingin dapat menari harus memiliki cara melakukan
gerak tari, begitu pua berlaku jika ingin membuat jenis seni lainnya.
Apabila berhenti pada cara membuat dan melakukan maka seseorang
hanya dapat meniru, untuk lebih meningkatkan kemampuan maka
seseorang yang berkiprah dalam seni ia harus memiliki kemampuan
mencipta yang disebut dengan kemampuan kreatif. Kemampuan kreatif
juga dimiliki oleh manusia, dan kemampuan ini pula yang membedakan
status manusia dengan mahluk lainnya di bumi ini. Kemampuan inilah
yang meyebabkan peradaban manusia dapat berkembang hingga saat
ini. Bintang mampu membuat sarang tetapi tidak berkembang, mereka
hanya dituntun oleh insting secara alami. Sesungguhnya kemampuan
kreatif manusia itu merupakan anugrah yang sangat luar biasa jika
dikembangkan dengan baik. Selanjutnya ketika manusia telah dapat
mencipta, ia harus dibekali pula oleh kemampuan untuk memelihara dan
menghargai ciptaannya, hal ini pula yang menandakan manusia memiliki
peradaban.
Jadi buku ini dikembangkan dengan landasan alami, yakni menggali
potensi manusia yang berhubungan dengan kemampuan estetik, dan
kreativitas yang dimilikinya sejak lahir. Maka materi yang diuraikan
menyangkut tentang wawasan yang berhubungan dengan seni rupa
untuk memberikan perspektif yang lebih luas sebagai dasar intelektualitas
dalam bidang seni. Selanjutnya buku ini berisi pula latihan-latihan untuk
membentuk ketrampilan seni rupa dengan menggunakan berbagai jenis
bahan, utamanya bahan seni rupa dua dimensi yang mudah didapat serta
iii
latihan meningkatkan kepekaan estetik dan kemampuan kreatif, serta
kemampuan menghargai karya seni rupa dengan menggunakan
beberapa teknik analisisnya.
Demikianlah buku seni rupa ini disusun dengan harapan dapat
memberikan sedikit wawasan bahwa seni rupa memiliki potensi yang
perlu dikembangkan.
iv
DESKRIPSI KONSEP PENULISAN
Penulisan buku ini dilandasi oleh pengalaman dalam memberikan
diklat seni rupa kepada guru-guru seni rupa dan kriya sejak kurun waktu
tahun 1982 hingga 2007. dari pengalaman belajar seni rupa kemudian
mengajarkannya kepada guru, pengalaman dan pengetahuan tersebut
dikonstruksikan menjadi buku ini yang terdiri dari delapan bab. Secara
garis besar buku ini berisikan teori dan praktek sebagai suatu yang tidak
dapat dipisahkan. Bab I sebagai pedahuluan menyangkut tentang
manfaat seni rupa dalam kehidupan manusia serta potensi Indonesia
dalam bidang seni budaya dan kekayaan alam melimpah yang dapat
digunakan menciptakan karya seni bagi kesejahteraan masyarakat.
Bab II berisikan tentang wawasan seni rupa yang melandasi bab-bab
selanjutnya. Sebab pengetahuan tentang seni secara lebih luas
diperlukan untuk menggerakkan potensi estetik dan kreatif. Bab III
menyangkut masalah pengetahuan bahan dan alat, hal ini diperlukan
sebelum mulai praktek karena berbagai jenis alat dan bahan memiliki
karakter masing yang perlu diketahui dan dikuasi cara menggunakannya.
Bab IV merupakan sesi untuk mengasah kepekaan estetik
sebagai dasar dari kegiatan seni. Kepekaan estetik merupakan core
dalam kegiatan seni, jadi perlu dipertajam sehingga dalam membuat
karya seni diikuti dengan pertimbangan estetik yang baik. Bab V berisikan
latihan teknik menggambar dan membentuk sebagai dua kegiatan pokok
yang melandasi penciptaan seni dua dan tiga dimensi. Bab VI adalah
pengasahan kemampuan kreatif yang sangat penting dalam berkesenian
agar tidak mandeg dalam menciptakan bentuk-bentuk seni yang baru.
Bab VII adalah pengasahan kemampuan memelihara dan menghargai
ciptaan seni sebagai bagian dari kebudayaan manusia. Bab VIII sebagai
bab penutup merupakan refleksi kondisi pendidikan kejuruan yang perlu
mendapat perhatian dan dikembangkan guna kepentingan setrategi
budaya dan perekonomian rakyat berbasis kepada seni rupa dan kriya
yang memiliki potensi sangat besar.
Demikianlah konsep dasar penulisan buku ini semoga memberikan
manfaat bagi perkembangan pendidikan kejuruan seni di tanah air.

v
DAFTAR ISI
Pengantar Direktur Pembinaan SMK
Pengantar penulis i
Sinopsis ii
Deskripsi konsep penulisan iv
Daftar Isi v
JILID 1
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Belajar Seni Rupa 4
C. Seni Rupa Indonesia Sebagai Sumber Penciptaan 7
D. Isi Buku 9
BAB II WAWASAN SENI RUPA 16
A. Pengertian Tentang Seni 16
B. Pengertian Tentang Seni Rupa 21
C. Seni Rupa Dalam Kehidupan Manusia 22
1. Seni Rupa Dalam Kehidupan Beragama 23
2. Seni rupa Dalam Aktivitas Ekonomi 28
3. Seni rupa Dalam Kehidupan Politik 30
4. Seni rupa Dalam Pendidikan 31
D.Seni rupa Indonesia 34
1. Zaman Prasejarah 35
a. Zaman Paleolithikum 35
b. Zaman Mesolithikum 35
c. Zaman Neolithikum 36
d. Zaman Megalithikum 37
e. Zaman Perunggu 38
2. Zaman Sejarah 39
a. Zaman Penyebaran Agama-Agama India 39
b. Zaman Penyebran Agama Islam 45
c. Zaman Pengaruh Kebudayaan Eropa 47
d. Zaman Kemerdekaan 50
e. Seni Rupa Etnis Indonesia 53
1) Seni Batik 53
2) Wayang 56
3) Keris 59
f. Seni Rupa Bali 61
g. Potensi Yang Dimiliki Indonesia 75
E.Seni Rupa Mancanegara 75
1. Mesir 75
2. Yunani 79
3. Romawi 83
4. Renaissnace Dan Eropa 87
5. India 112
6. Cina 117
7.Jepang 120
BAB III PENGETAHUAN BAHAN DAN ALAT SENI RUPA 126
A. Bahan dan Alat Seni Rupa Dua Dimensi 126
1. Pena 126
2. Kuas 128
3. Kertas 128
4. Kanvas 129
vi
5. Karet Penghapus 130
6. Papan Gambar 130
B. Eksplorasi Bahan Seni Rupa Dua Dimensi 131
1. Arang 131
2. Pensil 135
3. Pastel 139
4. Tinta 144
5. Cat Air 147
6. Cat Poster 151
7. Cat Akrilik 153
8. Cat Minyak 155
C. Media Campuran Seni Rupa Dua Dimensi 158
D. Bahan dan Alat Seni Rupa Tiga Dimensi 160
1. Bahan Lunak 161
2. Bahan Liat 161
3. Bahan Keras 163
BAB IV MENINGKATKAN KEPEKAAN PERSEPSI ESTETIK 166
A. Belajar Melalui Unsur Seni Rupa 168
1. Unsur Garis 168
2. Unsur Ruang 173
3. Unsur Bentuk 177
4. Unsur Warna 186
5. Unsur Tekstur 200
B. Prinsip Pengorganisasian Unsur Seni Rupa 202
1. Mengarahkan Perhatian 203
a. Pengulangan 203
b. Selang-Seling 205
c. Rangkaian 206
d. Transisi 207
e. Gradasi 208
f. Irama 209
g. Radiasi 211
2. Prinsip Memusatkan 212
a. Konsentrasi 213
b. Kontras 214
c. Penekanan 218
3. Prinsip Menyatukan 221
a. Proporsi 221
b. Keseimbangan 223
c. Harmoni 228
d. Kesatuan 229
e. Ekonomi 233
f. Hubungan Dengan Lingkungan 234
JILID 2
BAB V MENGGAMBAR DAN MEMBENTUK SEBAGAI DASAR
BERKARYA SENI RUPA
235
A. Menggambar Dan Melukis 236
1. Menggambar Sketsa 236
a. Sketsa sebagai Catatan Visual 239
b. Sketsa sebagai Media Studi Bentuk dan Warna 240
c. Sketsa sebagai Awal Berkarya Seni Rupa 243
d. Sketsa sebagai Seni Sketsa 245
2. Menggambar Perspektif dan Proyeksi 249
a. Menggambar Perspektif 249
vii
b. Menggambar Proyeksi 254
3. Menggambar Alam Benda 256
a. Menggambar Alam Benda Hitam Putih dengan teknik dry brush 261
b. Menggambar Alam benda dengan Warna 262
4.Menggambar Tumbuhan-Tumbuhan dan Binatang 265
a. Menggambar Tumbuh-Tumbuhan 265
b. Menggambar Binatang 270
5. Menggambar Manusia 275
6. Menggambar Ilustrasi 280
a. Ilustrasi untuk cerita pendek 284
b. Ilustrasi sampul buku cerita 284
c. Ilustrasi cerita bergambar 285
d. Ilustrasi untuk ilmu pengetahuan 285
e. Ilustrasi untuk cerita fiksi 286
7. Teknik Cetak Dua Dimensi 287
a. Teknik Cetak Tunggal 288
b. Teknik Cukil 290
c. Teknik Intaglio 290
8. Menggambar Ornamen 295
a. Ornamen Nusantara 296
b. Ornamen Mancanegara 299
9. Menggambar Huruf 301
B. Membentuk Tiga Dimensi 305
1. Membentuk dengan tanah liat 305
a. Teknik pijit/pinch 305
b. Teknik lempeng/slab 306
c. Teknik pilin coil 307
d. Teknik putar 307
2. Membentuk dengan bahan keras 308
a. Kayu 308
b. Batu 308
c. Logam 309
3. Jenis Seni Rupa Tiga Dimensi 309
a. Relief 309
b. Karya Frontal 312
c. Full Round 313
d. Walk-Through 318
BAB VI KREATIF MELALUI SENI RUPA 321
A. Pengertian Kreativitas 321
B. Seni rupa dan Kreativitas 322
C. Proses Kreatif dalam Seni Rupa 324
D. Tipe Proses Kreatif dalam Seni Rupa 325
1. Tipe Terstruktur dan Sintesa 326
2. Tipe Intuitif dan Emosional 333
E. Berpikir Imajinatif 335
1. Fantasi 336
2. Analogi 336
3. Ilusi 337
4. Humor 339
5. Animasi 341
F. Berpikir Alternatif 341
G. Berpikir Inovatif 343
H. Berpikir Kongkrit 350
viii
BAB VII APRESIASI SENI RUPA 354
A. Pengertian Apresiasi Seni Rupa 354
B. Hal yang Diperlukan dalam Apresiasi Seni Rupa 354
1. Pengetahuan tentang Seni Rupa 354
2. Kegemaran terhadap Karya Seni Rupa 355
3. Kepekaan Estetik 355
4. Sikap Penghargaan terhadap Seni Rupa 356
C. Aspek Apresiasi Seni Rupa 356
1. Tema Permasalahan 356
2. Teknik Garapan 359
3. Unsur dan Pengorganisasian 361
4. Kreativitas 362
D. Pendekatan dalam Melakukan Apresiasi Seni 364
1. Pendekatan Kritik 364
a. Jenis Kritik Seni 364
b. Gaya Kritik Seni 366
2. Pendekatan Analitik 368
a. Deskripsi 368
b. Analisis 371
c. Interpretasi 373
d. Judgement 373
3. Pendekatan Kognitif 374
a. Favoritisme 375
b. Keindahan dan Realisme 375
c. Ekspresi 376
d. Gaya dan Bentuk 376
e. Otonomi 377
4. Pendekatan Aplikatif 377
5. Pendekatan Kesejarahan 377
6. Pendekatan Problematik 378
7. Pendekatan Semiotik 379
BAB VIII Penutup 385
A. Pentingnya Pendidikan Kejuruan Seni rupa 385
B. Pendidikan Seni Rupa dan Kriya Indonesia Masa Depan 387
C. Manfaat Buku Ini Sebagai Pendukung Belajar Seni Rupa 391
D. Kiat Sebagai Siswa Calon Seniman 394
Kepustakaan A1-A3
Glosarium B1-B4
1
A. Latar Belakang
Dapatkah dibayangkan apabila dunia ini tanpa seni ? Tanpa lukisan,
ukiran, musik, tari ? Seni telah hadir sejak awal kehidupan manusia.
Manusia kuno yang hidup di gua-gua telah meninggalkan bukti berupa
artifact seni rupa (lukisan) pada dinding gua. Mungkin zaman itu mereka
tidak menyadari, bahwa apa yang dibuatnya mengandung keindahan,
mungkin mereka lebih menyadari bahwa tanda pada dinding gua yang
dibuatnya tersebut adalah memiliki kegunaan yang berhubungan dengan
keyakinan mereka yang bersifat spiritual. Sehubungan dengan itu, seni
selama berabad-abad sangat dekat hubungannya dengan sistem
kepercayaan atau religi suatu kelompok masyarakat atau bangsa. Pada
perkembangan selanjutnya, seni tidak lagi hanya berkaitan dengan
religi bahkan berperan hampir di setiap kegiatan dalam kehidupan
manusia.
Perhatikan hasil-hasil teknologi berupa pesawat ruang angkasa,
pesawat terbang, mobil, kereta api, sepeda motor, televisi, radio, kompor
gas, kotak sabun semua dalam proses pembuatannya memerlukan
pertimbangan keindahan. Selanjutnya perhatikan upaya-upaya promosi
untuk barang komoditi dan ideologi politik juga peristiwa-peristiwa
kenegaraan tidak luput dari peran seni, baik seni rupa atau pun seni
Gambar 1. Lukisan purba pada dinding gua di Papua
(Sumber: Indonesian Heritage, 2002).
2
pertunjukan. Demikianlah seni tidak dapat lepas dari kehidupan manusia,
lwalaupun tidak sebagai kebutuhan pokok, namun seni melekat dan
digunakan setiap hari tanpa sepenuhnya disadari oleh manusia sebagai
penggunanya.
a b
Gambar 2. Alat perlengkapan kehidupan manusia etnis tradisional dengan tekonolgi
sederhana (Sumber:Richter, Aerts and Crefts of Indonesia, 1993)
a b
Gambar 3. Alat perlengapan manusia zaman modern, dengan teknologi canggih
(Sumber : Majalah Garuda, 2007).
Dengan dibutuhkannya seni dalam kehidupan sehari-hari, seharusnya
peluang untuk menekuni profesi dalam bidang kesenian cukup banyak.
Na-mun sayang, karena anggapan masyarakat bahwa bidang kesenian
memerlukan bakat atau talenta khusus, maka banyak orang takut untuk
menekuninya. Selain itu, ada persepsi bahwa bidang kesenian juga
3
dianggap tidak menjanjikan kehidupan masa depan yang sejahtera
karena dari kenyataan banyak seniman merana hidupnya di hari tua.
a
b
c
d
Gambar 4. Produk bidang seni rupa berupa lukisan patung, keramik, ukiran logam
(Sumber: a Anne Richter, 1994; b,c,d Indonesian Heritage, 1998)
Sekolah seni khususnya seni rupa sebenarnya sangat mem-beri
harapan, karena dalam seni rupa banyak keterampilan yang dapat
dipelajari dan dibutuhkan di masyarakat, seperti menggambar, melukis,
mengukir, mematung, membuat sablon, membuat sketsa, membatik,
membuat reklame, membuat dekorasi dan sebagainya. Dari sekian
4
banyak keahlian pokok tersebut masih ada sub-sub ketrampilan yang
jumlahnya sangat banyak. Misalnya, menggambar memiliki sub
keterampilan membuat sketsa, menggambar manusia, pepohonan,
binatang, meng-gambar suasana dan sebagainya. Bidang-bidang
pekerjaan yang membutuhkan kemampuan seni rupa juga sangat
banyak, seperti ilustrator di media masa, visualizer atau drafter di biro
reklame, designer tekstil di pabrik tekstil, dekorator interior dan eksterior
banyak dibutuhkan pada pembuatan taman dan bangunan-bangunan
baru. Perupa seharusnya tidak bergantung untuk dipekerjakan karena
tamatan sekolah seni rupa telah dibekali dengan berbagai jenis
ketrampilan sehingga memungkinkan untuk bekerja mandiri.
B. Belajar Seni Rupa
Dalam belajar seni rupa, ada beberapa hal pokok yang harus dikuasai
dan dimiliki, yakni pertama, kepekaan estetik atau keindahan,
keterampilan teknik, dan imajinasi kreatif. Kepekaan estetik atau rasa
keindahan harus dimiliki oleh setiap orang yang memilih profesi bidang
kesenian karena inti dari seni adalah keindahan.
a
Gambar 5. (a) ’ Tangisan Dewi Batari’, patung karya G. Sidarta Soegijo (sumber:
Indonesian Heritage, 1998), (b) ’Tari Teruna Jaya’ lukisan karya Agus Jaya (Sumber:
Buku Koleksi Presiden Soekarno ).
5
Keindahan berada pada rasa. Apabila berhubungan dengan
penglihatan, maka ketajaman rasa keindahan berada pada kepekaan
visual yang perlu diasah secara terus menerus agar mencapai
ketajamannya. Begitu pula dengan keterampilan teknik menggunakan
alat dan bahan berhubungan erat dengan kepekaan estetik. Keduanya
tidak dapat dipisahkan seperti halnya pada gambar (6) antara rasa
keindahan dan keterampilan teknis lebur menjadi satu. Orang tidak akan
dapat menikmati keindahan ekspresinya jika tidak memiliki kepekaan
estetik yang memadai. Begitu pula senimanya tanpa menguasai
ketrampilan teknik dan kepekaan estetik tidak akan dapat menghasilkan
karya seni rupa yang baik.
Gambar 6. Nyoman Gunarsa, Kalarahu( Sumber:
Katalog Pameran Lukisan ’Moksa’ Nyoman Gunarsa, 2004)
Kedua, wawasan yang luas dan imajinasi kreatif yang tinggi sangat
membantu mengembangkan kemampuan dalam membuat karya seni
yang hebat. Namun, hal yang tidak kalah pentingnya adalah kemauan
dan motivasi yang kuat untuk bekerja keras, membina hubungan dengan
pihak-pihak yang membutuhkan seni guna mencapai cita-cita menjadi
perupa yang berhasil. Lihatlah seniman-seniman besar, mereka di
samping memiliki kemampuan teknik dan kepekaan estetik dan imajinasi
yang tinggi, mereka juga pekerja keras untuk dapat meraih cita-citanya.
Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, tidak ada keberhasilan tanpa
pengorbanan. Dengan menyadari hal ini, profesi bidang kesenian dapat
6
berhasil dengan baik, bila secara total mencurahkan segenap waktu,
upaya dan energi untuk mencapainya. Seni rupa sangat menjanjikan
untuk itu. Masalah umum yang ada di sekolah adalah upaya membimbing
siswa secara efektif dalam bidang seni yang masih perlu dimantapkan.
Secara umum keterampilan yang diperoleh oleh siswa lebih bertumpu
karena pencariannya dengan latihan sendiri.
Ada dua cara belajar seni rupa yang sederhana tetapi efektif agar
berhasil yaitu meniru dan melakukan eksperimen. Meniru merupakan
sifat alami manusia, dengan meniru manusia dapat hidup. Lihatlah bayi,
dia dapat berjalan, berbicara dan mengerjakan hal lainnya adalah dengan
meniru. Begitu pula dalam dunia seni rupa, pada tahap awal belajar salah
satunya adalah dengan meniru. Meniru cara kerja guru, seniman yang
telah lebih dahulu mengetahui cara kerja menggambar, melukis,
mematung. Kemudian meniru apa yang ada di lingkungan, seperti meniru
bentuk benda, pohon, binatang, manusia, bangunan, mesin, kendaraan
dan sebagainya. Dalam belajar dengan proses meniru sebenarnya yang
dilakukan adalah melatih ketajaman penglihatan dan melatih koordinasi
tangan untuk menguasai alat dan bahan yang digunakan. Penguasaan
kemampuan ini dapat terlihat ketika menggambar dengan meniru suatu
benda. Apabila hasil gambarnya ada ketidaksesuaian bentuk maupun
warna dengan benda aslinya, maka yang terjadi adalah kekurangan
kemampuan dalam melihat dan menirukan melalui teknik dengan alat dan
bahan yang digunakan. Di dalam tradisi belajar seni rupa di Eropa
misalnya, meniru merupakan suatu cara yang ditempuh oleh senimanseniman
besar, seperti Rubens meniru karya Leonardo da Vinci. Tradisi
ini terus berlanjut hingga saat ini di sekolah-sekolah seni di Inggris.
Mahasiswa dengan seijin otoritas di suatu galeri atau museum sengaja
meniru salah satu karya materpiece dari pelukis ternama. Maksudnya
adalah melakukan studi keteknikan (tapak tilas) melukis dari sang
maestro yang nantinya dapat dikembangkan oleh sang siswa untuk
mendapatkan ciri khas dalam karyanya. Bagaikan sang Maestro
menuntun calon seniman baru melalui karyanya. Dalam dunia seni rupa
sering kali meniru disalahartikan. Padahal metode ini merupakan salah
satu langkah untuk membuka jendela kreatif yang sangat didambakan
dalam dunia seni, yaitu menjadi seniman yang kreatif.
Selanjutnya setelah memahami cara kerja seni rupa yang dipilih, agar
tidak terbenam ke dalam dunia tiru-meniru, seorang seniman harus
melangkah ke tahap berikutnya, yaitu menjadi seniman inovator dan
kreator. Menjadi inovator dan kreator, seorang seniman harus selalu
melakukan eksperimen. Langkah awal adalah melakukan perubahan cara
kerja, atau mengubah pola bentuk dan warna yang telah dikuasai dengan
menambah atau mengurangi, sehingga apa yang dibuat mengalami
perkembangan. Dengan melakukan eksperimen secara terus menerus
7
seorang seniman kreator sebenarnya sama dengan seorang ilmuwan
peneliti yang bekerja di laboratorium untuk mendapatkan hal-hal baru dari
apa yang ditekuninya. Laboratorium seniman adalah studio atau bengkel
kerja, untuk itu tempat kerja harus dilengkapi dengan sarana
pengembangan yang diperlukan. Selanjutnya, seniman juga tidak puas
dan berhenti hanya pada permainan teknik, estetik dan ekspresi, ia juga
dapat melangkah ke tahap selanjutnya yaitu seniman yang mampu
merumuskan fenomena kebenaran melalui perenungan, kontemplasi
yang diungkapan dalam karya-karya seninya.
C. Seni Rupa Indonesia Sebagai Sumber Penciptaan
Guna mendapatkan sumber penciptaan, Indonesia memiliki kekayaan
warisan seni dan budaya yang sangat kaya. Selama ini orientasi
berkesenian selalu mengacu kepada konsep dan citra kesenian berasal
dari negara barat. Hal ini bukanlah salah karena pada kenyataannya ilmu
tentang seni banyak berkembang di negara-negara tersebut. Namun, kini
dalam era teknologi informasi yang demikian maju kiranya pengetahuan
tentang seni di manapun ada, khususnya di Indonesia perlu digali
sumber-sumber penciptaan seni karena sangat banyak yang dapat
dikembangkan dan diungkapkan sesuai dengan kondisi zaman saat ini.
Selain informasi yang mudah didapat tentang berbagai jenis seni,
kemampuan berpikir sistematik dalam melakukan penelitian dan
pengembangan telah dimiliki Indonesia. Oleh karena itu, sudah saatnya
a
b
Gambar 7. (a) Lukisan tradisional Bali, (b) Kain tenun dari NTT (sumber: a. Koleksi
Presiden Soekarno, b. Icon of Art Museum Nasional Jakarta).
8
ilmuwan dan seniman Indonesia memanfaatkan kemampuan tersebut
dalam bidang seni, khususnya seni rupa, guna mengembangkan seni
rupa yang bersumber dari budaya lokal.
Perhatikanlah wayang beber dari Jawa Tengah, wayang kulit dan
batik dari Yogyakarta, lukisan dan patung tradisional Bali, motif-motif dari
Papua, Tana Toraja, Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara semua itu
dapat dijadikan sumber penciptaan dalam menciptakan seni rupa
Indonesia yang baru. Perhatikan pula bagaimana pola kerja para empu
zaman dahulu yang mampu menciptakan karya-karya agung dan abadi,
perhatikan pula landasan dasar mereka dalam mencipta. Dapatkah
semua itu dikemas kembali, disesuaikan dengan kondisi zaman saat ini?
Jika hal ini dapat dilakukan oleh generasi muda dalam bidang seni rupa,
niscaya seni dan budaya Indonesia akan tercipta dalam kurun waktu
yang tidak terlalu lama, dan perlu diingat bahwa suatu budaya baru lahir
karena evolusi memerlukan waktu panjang.
Gambar 8. (a) Topeng Kalimantan, (b) Topeng Jawa (sumber: a. Pusaka Indonesia, b.
Icon of Art, Museum Nasional Jakarta).
Potensi seni Indonesia bagaikan raksasa yang masih tertidur karena
terbuai dengan gebyar seni mancanegara yang saat ini sangat kuat
arusnya masuk melalui berbagai jenis media dan pariwisata. Hal ini tidak
dapat dielakkan, begitu pula perubahan tak dapat dibendung, oleh karena
itu dibutuhkan kearifan dan kreativitas para seniman dalam meresponnya
guna menghasilkan seni baru sesuai zaman namun memiliki karakter
asalnya. Bagaikan seorang nelayan yang tidak dapat mengubah arus
9
angin, ia tidak membuang perahunya tetapi harus mengubah posisi
layarnya untuk menyesuaikan dengan arah angin untuk memanfaatkan
energinya sehingga perahunya dapat melaju dengan kencang sampai ke
tujuan yang diharapkan. Apabila seni dan budaya Indonesia mandeg,
berhenti hanya sebatas bangga oleh kekayaan tanpa upaya untuk
menyesuaikan dengan arus perubahan, akan terlibas oleh arus
perubahan yang kuat sehingga dapat tenggelam dalam pusarannya. Jadi,
kemampuan kreatif, inovatif dan adaptif dalam hal ini sangat diperlukan,
untuk itu sudah saatnya sinergi antara bidang-bidang yang relevan
dilakukan dengan intensif. Misalnya profesi seniman tidak dapat hidup
sendiri menutup diri, ia harus memiliki banyak jaringan untuk
memperkenalkan konsep dan karya seninya, untuk itu dibutuhkan
kemampuan bidang lain seperti kurator dan kritikus untuk mengulasnya,
diperlukan kemampuan pemasaran untuk mempromosikannya.
a
b
Gambar 9. (a) Relief gaya Jawa Tengah (atas) dan Relief gaya Jawa Timur
(bawah), (b) Keris Bali.
D. Isi Buku
Buku ini merupakan gagasan dan cara alternatif lain dalam belajarmengajar
seni terutama seni rupa, oleh karena itu buku ini diperuntukkan
kepada siswa atau calon siswa yang ingin menekuni seni rupa sebagai
pilihannya. Selain ditujukan kepada siswa, buku ini juga berguna bagi
guru-guru seni khususnya guru seni rupa kejuruan maupun non-kejuruan.
untuk digunakan sebagai bahan acuan pokok dalam melaksanakan
pembelajaran. Guru seni lainnya juga dapat menggunakan buku ini
10
sebagai acuan dan sumber gagasan dalam melaksanakan tugasnya
sebagai guru seni. Hal-hal yang dibutuhkan dalam belajar seni rupa
diuraikan mulai dari bab 2, yaitu tentang wawasan seni. Bagian ini
bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang seni dan seni rupa,
serta fungsi seni dalam kehidupan manusia. Selanjutnya mengenai
wawasan seni Indonesia sangat penting diketahui sebelum mengetahui
tentang seni dari mancanegara. Wawasan seni Indonesia sangat penting
untuk dimiliki oleh siswa, karena selain bersifat afektif, juga sebagai
landasan dalam menciptakan seni baru yang memiliki sumber akar
budaya dimana seni tersebut diciptakan. Selanjutnya wawasan tentang
seni mancanegara juga perlu diketahui dalam kaitannya dengan era
global dan meluaskan wawasan sehingga tidak ketinggalan dengan
perkembangan yang ada di luar negeri.
Setelah memahami tentang seni dilanjutkan tentang pemahaman
tentang bahan yang digunakan dalam seni rupa. Guna memahaminya
dilakukan dengan mempelajari teori tentang alat dan bahan dan
dilanjutkan dengan praktek. Bahan seni rupa yang dipelajari secara garis
besar dibedakan menjadi dua, yaitu bahan seni rupa dua dimensi dan
tiga dimensi. Secara teori dan praktek alat dan bahan dipahami melalui
Gambar 10. Patung karya I
Nyoman Cokot (sumber:
Indonesian Heritage)
11
jenis dan karakteristiknya. Pemahaman melalui praktek lebih ditekankan
kepada percobaan dan eksplorasi terhadap kemungkinan dan
keterbatasan setiap bahan. Hal ini penting dilakukan dalam upaya
menguasai segi keteknikannya.
Gambar 11. Antonio Blanco, Wanita Bali
(Sumber: Koleksi Presiden Soekarno ).
Selanjutnya pada bab 4 dibahas tentang kepekaan persepsi estetik
(keindahan) sebagai masalah pokok dalam dunia seni. Tanpa kepekaan
estetik seorang pekerja seni tidak akan mampu menciptakan karya seni
yang baik, karena inti dari karya seni dalam konteks ini adalah
memberikan pengalaman keindahan kepada penikmatnya. Maka pada
bagian ini kepekaan persepsi (visual) estetik diasah melalui paraktek
menyusun unsur-unsur visual yang memiliki kualitas estetik menjadi
suatu komposisi yang unik dan mengandung cita rasa keindahan.
12
Gambar 12. Sketsa
catatan untuk melukis
(sumber: Mc Daniel
Richard)
Gambar 13. Sketsa
dilanjutkan menjadi lukisan
dengan media cat
minyak(sumber:McDaniel
Richard )
13
Kepekaan rasa estetik tidak dapat dimiliki secara serta merta,
pengasahan kepekaan ini memerlukan waktu cukup panjang. Selain
dilakukan dengan praktek langsung, pengasahan juga dilakukan melalui
pengamatan langsung terhadap unsur-unsur yang mengandung nilai
keindahan, baik dalam karya manusia maupun yang ada di alam. Tugastugas
latihan dapat berupa responsi verbal maupun visual. Responsi
verbal adalah kegiatan mendeskripsikan apa yang diamati, dialami
secara visual, sedang responsi visual mencatat secara visual melalui
kegiatan sketsa, mengungkapkan dengan detail apa yang dilihat dan
diamati.
Pada bab 5, dilakukan latihan untuk mengasah ketajaman persepsi
estetik visual dengan kegiatan menggambar. Kegiatan sketsa bertujuan
untuk melatih keluwesan dan kecekatan koordinasi tangan dengan mata
dalam menangkap sebuah wujud benda. Kemampuan membuat sketsa
merupakan salah satu hal yang sangat mendasar dalam dunia seni rupa.
Sketsa dibedakan menjadi dua jenis, pertama sketsa murni bersifat
ekspresif bertujuan untuk mengasah dan latihan mengungkapkan
kepekaan estetik (gb. 11), kedua, sketsa sebagai catatan visual yang
dapat digunakan untuk kegiatan seni rupa lanjutannya, seperti melukis
(gb. 12 dan 13), mematung, dan membuat desain.
Selain sketsa, dipelajari pula perspektif dan proyeksi. Perspektif
memiliki tujuan untuk memberikan kemampuan mengungkapkan ilusi
optik tiga dimensi pada bidang dua dimensi, sedang proyeksi memberi
kemampuan untuk menggambarkan sebuah benda dari berbagai sudut
pandang. Kemampuan proyeksi penting dimiliki ketika membuat sebuah
desain produk. Selanjutnya bagian akhir bab ini berisikan latihan menggambar
berbagai jenis benda hidup maupun benda mati yang tujuannya
adalah untuk menguasai bentuk dan karakter benda masing-masing.
Pada bagian ini siswa dilatih untuk belajar melihat dengan seksama
tentang benda-benda yang ada di lingkungan. Tujuannya adalah melatih
ketajaman persepsi penglihatan dan koordinasi dengan kecekatan atau
keterampilan tangan dalam menggaris dan membuat bentuk.
Pada bab 6 ditekankan pada pengembangan imajinasi kreatif.
Kemampuan ini sangat penting tidak hanya dalam bidang seni rupa tetapi
juga dalam bidang-bidang lainnya. Kemampuan kreatiflah yang
sebenarnya mengubah dan mengembangkan kebudayaan manusia
sehingga berkembang sangat cepat pada saat ini. Dalam latihan melalui
seni rupa siswa dipacu kemampuannya untuk mengkongkritkan atau
mewujudkan secara visual angan-angannya dengan berbagai cara
berpikir alternatif dan imajinatif guna mendapatkan solusi terbaik.
Mengembangkan kemampuan inovatif adalah latihan mengubah apa
yang telah ada untuk menjadi baru, hal ini merupakan salah satu dari
14
kemampuan kreatif. Kemampuan kreatif melalui kegiatan seni rupa
sangat mungkin untuk dilatihkan dan dikembangkan. Sekali seseorang
berkembang kemampuan divergent thinking-nya akan bermanfaat selama
hidupnya, dan mereka menjadi orang yang kaya akan gagasan. Hal ini
sangat dibutuhkan dalam pengembangan kebudayaan manusia. Jadi
siswa yang kreatif diharapkan menjadi kreator-kreator di masa depan.
Dengan demikian pengembangan kemampuan-kemampuan pokok dalam
seni rupa adalah meliputi pengembangan kemampuan teknis menggunakan
alat dan bahan, mengasah kepekaan estetik, serta kemampuan
berpikir alternatif atau kreatif. Pada bab 7 dilatihkan cara melakukan
analisis dan mendeskripsikan nilai hasil karya seni dan memberikan
apresiasi terhadap kualitas baik dan buruk karya seni. Latihan
mendeskripsikan pada hakekatnya menyeimbangkan kemam-puan visual
dan kemampuan verba. Tercapainya keseimbangan antara kemampuan
visualisasi dan kemampuan verbalisasi diharapkan di-kemudian hari
siswa mampu menjelaskan apa yang dibuat. Biasanya pekerja seni sulit
menjelaskan apa yang mereka buat, maka selama pendidikan latihan
verbalisasi sangat dibutuhkan.
a
B
Gambar 14. Pengembangan kreatifitas bentuk melalui rangsang visual Gambar (a),
Gambar (b) hasil pengembangan rangsang visual menjadi bentuk yang dikenali.
(Sumber: Agung Suryahadi, 2005).
15
Pengembangan kemampuan verbalisasi dilakukan melalui latihan
analisis dengan pendekatan analitik, kognitif, dan semiotik. Dengan
pendekatan analitik siswa dilatih untuk dapat menelaah kualitas sebuah
karya seni, sedang melalui pendekatan kognitif siswa dilatih untuk
mengidentifikasi dan mengungkapkan secara detail apa yang mereka
perhatikan dalam sebuah karya seni rupa. Dengan pendekatan semiotik
siswa mencari hubungan tanda dengan tanda dan tanda dengan
penggunanya.
Sebagai penutup adalah bab 8. Dalam bagian ini direfleksikan tentang
manfaat belajar melalui seni untuk dijadikan dasar pegangan dalam
meniti profesi sebagai seorang perupa yang memiliki kepekaan estetik,
keterampilan teknik dan kreativitas serta memiliki sikap apresiatif
terhadap segala bentuk hasil ciptaan manusia dan alam lingkungan.
Sikap apresiatif terhadap hasil budaya dan lingkungan penting sekali
dimiliki oleh generasi muda, oleh karena hasil-hasil seni budaya bangsa
dan lingkungan harus dihayati nilainya bagi keberlangsungan kebudayaan
bangsa dan kehidupan manusia yang berkualitas dan berbudaya.
Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap menghargai, memiliki dan
mau memelihara untuk kelestariannya. Upaya ini sangat perlu dilakukan
dan ditanamkan secara terus menerus pada setiap pribadi siswa agar
menjadi suatu kebiasaan. Usaha pembiasaan diri merupakan salah satu
cara yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai ke dalam diri manusia.
Oleh sebab itu sebagai siswa yang menggeluti bidang seni biasakanlah
untuk menghayati nilai karya manusia, nilai lingkungan yang berguna
bagi kehidupan manusia beradab.

A. Pengertian Tentang Seni
Pernahkah Anda merasa senang ketika melihat pemandangan alam,
atau melihat sebuah lukisan? Kita juga sering merasa senang ketika
makan enak, ketemu teman lama, namun perasaan senang tersebut
tidaklah sama kualitasnya. Perasaan senang bertemu teman lama dan
melihat pemandangan penyebabnya berbeda, bertemu teman lama
mungkin disebabkan oleh karena rindu lama tak bersua, teman itu baik
dan dekat dengan kita. Senang melihat lukisan pemandangan
disebabkan dalam lukisan tersebut ada kualitas unsur-unsur visualnya
yang memberikan pengalaman pada perasaan kita akan adanya
hubungan yang harmonis. Hal ini sama dengan karya seni, tetapi karya
seni dibuat oleh manusia dan pemandangan alam diciptakan oleh
Tuhan.
Untuk itu, jika kata seni merupakan terjemahan dari kata art dalam
bahasa Inggris, maka menurut Herbert Read seni berarti suatu bentuk
yang menyenangkan. Hal yang menyenangkan tersebut dapat memberi
kepuasan kepada perasaan, dan perasaan tersebut dapat disenangkan
apabila kita dapat menemukan hubungan kesatuan dan harmoni dalam
hubungan formal yang terjadi pada persepsi kita. Selanjutnya rasa
keindahan pada karya seni berada pada tahap kedua dalam prosesnya.
Ada tiga tahap dalam kegiatan berkarya seni, tahap pertama adalah
menguasai kualitas atau karakteristik materi atau unsur seni rupa yang
digunakan berupa garis, bentuk, warna dan tekstur; tahap kedua adalah
pemberian ekspresi terhadap kualitas unsur dan susunannya.
Rasa estetik tersebut berada pada tahap satu dan dua dari proses
kegiatan berkarya seni. Berlandaskan batasan tersebut dapat diketahui
ada empat hal yang dapat dikupas dalam mengamati dan menganalisis
nilai estetik seni rupa yaitu keterampilan teknik, kualitas material,
susunan materi, dan kualitas ekspresi atau fungsi untuk seni terpakai.
Kualitas ekspresi yang ada pada karya seni memberikan kualitas
karakter berbeda antara karya seni satu dengan lainnya. Selain itu faktor
individu senimannya juga berperan besar dalam memberikan corak pada
karya yang dibuatnya sehingga membuat penampilan karya satu dengan
seniman lainnya memiliki perbedaan. Selanjutnya tentang estetik Dick
17
Hartoko mengatakan, bahwa kata estetik berasal dari bahasa Yunani
aesthesis yang berarti pencerapan, persepsi, pengalaman, perasaan, dan
pandangan. Menurutnya kata ini pertama kali digunakan oleh seorang
Gambar 15.(a) Pemandangan asli di pelabuhan Jayapura,(Foto:Agung Suryahadi,2007,
(b) hasil rekaman pelukis tentang keindahan alam (Sumber: Koleksi Presiden Soekarno
II).
a
b
18
filsuf Jerman bernama Baumgarten guna menunjukkan kepada cabang
filsafat yang berhubungan dengan seni dan keindahan. Dikatakan, keindahan
ada dua jenis yaitu keindahan objektif dan keindahan subjektif.
Subjektif karena keindahan berada pada pikiran manusianya dan objektif
karena keindahan berada pada objek di luar diri manusia, dapat berupa
suasana atau benda. Perbedaannya terletak pada keindahan yang
terdapat di alam dan keindahan buatan manusia terdapat dalam karya
seni.
.
a
b
c
Menurut Harry Broudy, karya seni rupa mengandung beberapa
properti, yaitu sensory properties, formal properties, technical properties,
dan expressive properties Hal ini hampir sama dengan apa yang
dikemukan oleh Read, guna mengetahui kandungan estetik suatu karya
Gambar 16. (a) Patung Bali
peniup seruling, (b) Ukiran pada
tameng dari Papua, (c) Kendi
Keramik dari Cina (sumber: a.
foto Agung Suryahadi, b dan c.
Indonesian Heritage).
19
seni dapat dianalisis berdasarkan aspek properti tersebut. Berbeda
dengan Marian L. Davis formal property disebutnya sebagai prinsiples of
organization atau prinsip pengorganisasian unsur yang dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu prinsip yang bersifat mengarahkan, memusatkan, dan
menyatukan perhatian. Prinsip mengarahkan terdiri dari beberapa
prinsip, yaitu pengulangan, selang-seling, rangkaian, irama, transisi,
gradasi, dan radiasi. Prinsip memusatkan terdiri dari tiga jenis, yaitu
penekanan, konsentrasi, dan kontras.
Prinsip menyatukan terdiri dari prinsip proporsi, keseimbangan,
harmoni, dan kesatuan. Tujuan dari seluruh prinsip pengorganisasian
adalah untuk mendapatkan susunan atau komposisi yang ‘harmonis’ dan
memiliki ‘kesatuan’ antara unsur-unsur yang disusun dan dengan ide
penciptaan. Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada bab 4.
Marvin Rader dan Betram Jessup menyebutnya sebagai organic unity
yang memiliki tiga aspek yaitu adequacy, economy, dan internal
coherence Adequacy menunjukan bila penikmat karya seni merasa puas
dalam menyaksikan sebuah karya seni, karena karya itu lengkap tidak
ada yang kurang, economy jika sebuah karya seni tidak berlebihan dan
tidak bertaburan dengan unsur-unsur yang kurang penting. Perhatikan
gambar (16 a), dalam karya seni patung tersebut bentuk manusia dibuat
dengan penyederhanaan namun dapat mengungkapkan expresi irama
suara tentang orang yang sedang bermain seruling. Dalam hal itu unsur
visual (garis, bentuk, warna dan tekstur) yang digunakan diolah untuk
mengikuti ungkapan rasa sebagaimana halnya patung Siwa yang sedang
bertempur dan mengalahkan lawannya banyak menggunakan ungkapan
garis diagonal sehingga geraknya terlihat dinamis (gb.17). Internal
cohenrence menunjukkan bahwa dalam karya itu ada hubungan yang
erat antara bagian-bagiannya: antara warna dengan warna, warna
dengan bentuk, bentuk dengan bentuk, bentuk dengan warna dan
dengan tema. Selanjutnya mengenai ekspresi agak mirip dengan apa
yang diungkapkan oleh Read, bahwa ekspresi dalam seni mengandung
pengertian ganda, pertama sebagai perilaku pengungkapan pikiran dan
perasaan, kedua sebagai isi atau nilai yang diungkapkan mencerminkan
’roh’ karya seni ang dibuat.
Berdasarkan latar belakang penciptaannya, seni dibedakan menjadi
dua jenis yaitu seni murni dan seni terpakai. Disebut seni murni karena
ketika proses awal penciptaannya seni tersebut bukan dimasudkan untuk
digunakan keperluan tertentu seperti untuk ilustrasi, propaganda, wadah,
dan sebagainya (gb. 18 a ). Sebaliknya seni pakai, pada proses awal
penciptaanya sudah dimaksudkan untuk diaplikasikan atau digunakan
keperluan tertentu (gb. 18 b dan c). Seni murni lebih dominan mengungkapkan
kualitas estetik dan karakter obyek penciptaan serta seniman
20
sebagai subyek penciptanya. Namun, uniknya setelah seni murni itu
selesai diciptakan dapat digunakan untuk keperluan lainnya seperti untuk
ilustrasi, penghias ruang atau halaman. Jadi perbedaannya terletak
terutama dalam awal prosesnya, dalam sikap batin seniman pembuatnya.
Ringkasnya, seni murni niat pembuatannya adalah untuk ekspresi dan
a b c
Gambar 18. Produk Seni murni dan seni terpakai pada keramik
Gambar 17. Patung Dewa Siwa.
(Sumber: Indonesian Heritage).
21
Perhatikan gambar 18 a, dari sisi fungsi berbeda dengan
gambar 18 b dan c, apa sebabnya? Diskusikan dengan temantemanmu
!
menunjukan pribadi senimannya, dan seni pakai untuk tujuan kegunaan
tertentu. Pada gambar (16a) patung Peniup Seruling bukan digunakan
untuk fungsi tertentu dan pada gambar (18 a) keramik kelihatan sebagai
wadah namun secara fungsional sulit digunakan, sedang gambar (18b
dan c) dilihat dari struktur bentuknya memang tujuannya untuk fungsi
wadah benda cair.
B. Pengertian Seni Rupa
Seni rupa dengan jenis seni lain intinya adalah sama yaitu sama-sama
buatan manusia yang mengandung ekspresi dan atau keindahan.
Namun, seni rupa utamanya dinikmati oleh indra penglihatan. Hal yang
dinikmati dalam seni rupa adalah sepert apa yang telah diuraikan
sebelumnya, yakni kualitas unsur-unsur rupa yang disusun dan memiliki
kualitas harmoni, kesatuan dan ekspresi. Jadi seni rupa adalah seni yang
nampak oleh indra penglihatan dan wujudnya terdiri dari unsur rupa
berupa titik, garis, bidang atau ruang, bentuk atau wujud, warna, gelap
terang, dan tekstur. Seni rupa dapat sebagai properti pendukung jenis
seni lainnya seperti seni tari dan teater. Apabila membahas kedua jenis
seni tersebut juga tidak lepas membahas aspek seni rupanya.
Berdasarkan wujud dan bahannya seni rupa dibedakan menjadi dua yaitu
seni rupa dua dimensional dan seni rupa tiga dimensional. Selanjutnya
berdasarkan jenisnya seni rupa terdiri dari beberapa cabang seni yakni
seni lukis, seni grafis, seni patung, seni dekorasi, seni komunikasi visual,
dan seni kriya atau seni kerajinan. Pada saat ini seni kriya berkembang
menjadi seni kriya murni dan seni kriya terpakai. Dalam buku ini tidak
dibahas masing-masing cabang seni tersebut karena cakupannya sangat
luas.
Buku ini membahas dan melatihkan inti dari kegiatan seni rupa,
dengan asumsi apabila intinya telah dikuasai semua cabang seni rupa
dapat dilakukan. Namun perlu menambah kemampuan keteknikan
masing-masing cabang seni rupa yang ditekuni. Inti kemampuan dalam
seni rupa adalah menguasai keteknikan seni rupa dua dan tiga dimensional,
kepekaan estetik, kreativitas, dan wawasan seni budaya. Itulah
kemampuan pokok yang harus dimiliki oleh seorang pekerja seni rupa,
keempat kemampuan tersebut berhubungan satu dengan lainnya tidak
dapat salah satu diabaikan.
22
C. Seni Rupa Dalam Kehidupan Manusia
Kehadiran seni rupa dalam kehidupan manusia telah terjadi sejak
zaman purba ketika ma-nusia masih hidup di gua-gua (gb. 1) hingga saat
ini. Hal itu membuktikan bahwa seni rupa melekat dalam kehidupan
manusia. Seni rupa hadir hampir di setiap sektor kehidupan manusia,
seperti dalam kegiatan agama, politik, ekonomi, teknologi, dan kemanapun
kita pergi seni rupa selalu ada. Dalam kehidupan rumah
tangga misalnya, peralatan dapur, pakaian, kamar mandi, halaman
rumah, topeng, jam tangan, semuanya tersentuh oleh seni (gb. 19).
a
b
c
d
e
f
Gambar 19. Macam-macam seni rupa: (a) seni lukis, (b) seni tenun, (c) seni
perhiasan logam, (d) seni dekorasi interior, (e) seni dekorasi eksterior, (f) seni
anyam ( Sumber: (a) Gombrich, (b) anne Richter, (c) Majalah Garuda, (d)
Majalah Poleng, (e) Majalah ASRI, (f) Indonesian Heritage).
23
Dalam acara televisi maupun di jalanan banyak kita jumpai seni
reklame. Pada benda yang kita lihat itu semua memiliki sentuhan
keindahan. Seni rupa dalam kehidupan sehari-hari, menurut Malvin
Rader merupakan salah satu bagian yang penting dalam kehidupan
manusia. Misalnya, aktivitas makan sebagai salah satu kebutuhan dasar
manusia dikelilingi oleh berbagai keindahan seni. Perhatikan sendok,
garpu, piring, dan gelas minum yang digunakan, pada alat-alat tersebut
terdapat unsur-unsur seni yang menyertainya. Pada proses
pembuatannya salah satunya menggunakan pertimbangan keindahan
selain kenyamanan dan keamanan bagi penggunanya.
Dalam kegiatan sehari-hari, orang pada zaman sekarang
menggunakan pakaian dan aksesoris di tubuhnya yang selalu
menggunakan pertimbangan keindahan, agar yang menggunakannya
merasa percaya diri dan bangga terhadap apa yang dikenakannya.
Perhatikan arloji, sepatu, baju, celana, gaun, bros, cincin, tidak satupun
benda tersebut dalam wujud fisiknya tidak menggunakan sentuhan
keindahan. Sama halnya dengan aktivitas tidur memerlukan berbagai
produk seni seperti selimut, sarung bantal, sprei, bed cover, tempat tidur,
lampu, dan lain sebagainya. Begitu pula ruang tamu, pemilik rumah pasti
menginginkan tampilannya seindah mungkin dengan diberi lukisan pada
dindingnya, vas bunga di meja, maksudnya adalah agar dapat
menyenangkan perasaan orang yang melihatnya. Dengan demikian, seni
rupa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari dan
merupakan bagian yang integral dengan kebutuhan biologis manusia.
Semakin modern peradaban manusia, semakin banyak produk seni rupa
yang diinginkannya untuk meningkatkan kualitas hidupnya, sehingga
masa depan seni tidak akan pudar selama manusia masih memiliki rasa
keindahan untuk dipuaskan, selama manusia menginginkan untuk
mendengar dan melihat sesuatu yang menyenagkan dan menenangkan
pikiran dan perasaannya.
1. Seni rupa dalam kehidupan beragama
Hubungan seni dan agama memiliki sejarah yang paling tua, mulai
dari kepercayaan manusia yang paling sederhana yaitu magi,
berkembang menjadi animisme, hingga menjadi agama seni terus
mengiringinya. Di dalam theory magi and religi diuraikan bahwa
timbulnya seni karena adanya dorongan-dorongan gaib. Salmon Reinoch
mengatakan, bahwa kehadiran seni digunakan untuk mendapatkan
tenaga-tenaga gaib bagi kepentingan berburu. Lukisan pada zaman
prasejarah yang ada di gua-gua mengilustrasikan, bahwa sebelum
berburu binatang orang pada zaman itu melakukan upacara menusuknusukkan
tombaknya pada lukisan binatang di dinding gua itu.
Maksudnya untuk mendapatkan tenaga gaib agar ia berhasil menangkap
24
binatang buruannya. Dalam perkembangan berikutnya, yaitu sistem
kepercayaan yang disebut animisme, bahwa benda-benda memiliki roh,
seni berkembang pula menjadi lukisan dan patung tentang roh-roh
manusia, hewan, dan roh alam. Selanjutnya ketika evolusi kepercayaan
manusia tentang spiritualitas berkembang menjadi agama wujud seni
semakin dibutuhkan sebagai representasi kepercayaan atau keagamaan
manusia dalam bentuk patung-patung atau lukisan-lukisan dua
dimensional. Pada masa Mesir Kuno misalnya, merupakan gambaran
pemujaan terhadap para dewa. Begitu pula dalam peradaban India dan
China kuno, perwujudan seni sangat erat kaitannya dengan pemujaan
terhadap para dewa.
Gambar 20. Yantra Bindu (sumber:
Goegle.com : Indian Culture)
Di India meditasi merupakan kegiatan spiritual dalam mengontrol
pikiran untuk dipusatkan kepada manifestasi kekuasaan Tuhan. Sarana
untuk pemusatan pikiran disebut dengan yantra (gb. 20) dapat berupa
gambar abstrak geometris dapat pula dalam bentuk yang realistik berupa
patung dewa. Namun dalam peradaban modern pun seringkali seni
berkaitan erat dengan keagamaan. Perhatikanlah kegiatan setiap agama,
tentu ada unsur seni yang digunakan agar kegiatan keagamaan yang
dilakukan terasa tidak ‘gersang’.
Hubungan seni dan agama tidak hanya terdapat dalam seni rupa,
tetapi hampir dalam seluruh cabang seni selalu berkaitan dengan agama.
Dalam menyuratkan ayat-ayat suci Al-Quran melahirkan seni kaligrafi,
karena dalam ajaran Islam tidak diperbolehkan menggambarkan mahluk
hidup, maka perkembangannya dalam seni rupa Islam adalah dalam
bentuk ragam hias atau ornamen untuk menghias mesjid.
25
Gambar 21. Sesaji dalam ritual
agama Hindu (Foto: A.Agung
Suryahadi, 2006).
Dalam agama Hindu Dharma seni dan agama seakan tidak dapat
dipisahkan karena saling memberi. Seni mendapat inspirasi tematik dari
agama, sedang agama menggunakan seni untuk meng-artikulasikan
paham atau ajaran-ajarannya sehingga mudah dipahami oleh masyakat
luas dan menyenangkan. Selain itu kegiatan seni merupakan perwu-
Gambar 22. Patung
Budha dalam sikap
Dyana Mudra (sumber:
Indonesian Heritage).
26
judan bhakti pemeluk Hindu kepada Tuhan sebagai pencipta alam
semesta. Misalnya, seni sesaji (gb. 21 ) selain berfung sebagai yantra
juga sebagai perwujudan bhakti umat Hindu untuk mempersembahkan
kembali apa yang telah dianugrahkan oleh Tuhan kepada umat manusia
sehingga sesaji mengandung segala jenis hasil bumi yang disusun
secara indah. Maka seni dalam hal ini juga mengandung etika. Dengan
demikian setiap kegiatan ritual dalam.
agama Hindu tidak dapat lepas dari kegiatan berkesenian, hampir seluruh
seni terlibat dalam ritual yang berskala besar. Hal ini menyebabkan
artefak seni dalam Agama Hindu sangat banyak. Di dalam Agama Budha,
Konghucu dan Nasrani penggunaan seni dalam kegiatan keagamaan
juga sangat banyak.
Di Candi Borobudur misalnya, ada ribuan relief dan patung yang
menggambarkan kehidupan Sidharta Gautama dan Budha sedang
melakukan meditasi (gb. 22). Dari segi anatomi plastis, patung tersebut
mengalami penyederhanaan, yang tujuannya mungkin untuk lebih
menggambarkan suasana yang kontemplatif waktu meditasi dibandingkan
keceriaan duniawi.
Gambar 23. Nabi Adam ketika diturunkan ke bumi, Michel Angelo.
(sumber: Gombrich)
27
Dalam gereja banyak dijumpai lukisan relief dan patung yang
menggambarkan kehidupan para nabi termasuk kehidupan Yesus
Kristus. Hal ini nampak sekali dalam geraja-gereja zaman Renaissance di
Eropa. Misalnya pada langit-langit Gereja St. Chapel digambarkan oleh
Michel Angelo ketika Nabi Adam (gb. 23) diperintahkan Tuhan turun ke
bumi karena tidak mau mengikutikan larangan-Nya. Dalam gambar
tersebut nampak ekspresi memelas nabi Adam dan ketegangan
pertemuan antara telunjuk Nabi Adam dengan telunjuk petugas Ilahi
yang menurunkannya ke bumi. Tema keagamaan sangat kuat
mengilhami penciptaan karya-karya seni yang abadi, tak terkecuali di
Indonesia seperti halnya wayang yang sarat dengan falsafah kehidupan,
sekarang dijadikan sebagai peninggalan warisan kebudayaan manusia
yang bernilai tinggi. Kisah Ramayana (gb. 24) diungkapkan dalam bentuk
wayang menggambarkan kesetiaan seorang wanita bernama Dewi Shinta
kepada suaminya Ramawijaya.
Dalam epos Mahabarata dimensinya sangat luas karena dapat
dipandang dari berbagai sudut padang falsafah kehidupan. Misalnya, sifat
taat kepada perintah guru dalam lakon Dewa Ruci (gb. 25), yaitu ketika
Bima diminta mencari air amerta oleh gurunya yang mustahil untuk
diperoleh, tetapi Bima dengan tekad yang sangat kuat ia harus mendapatkannya.
Bima sangat percaya kepada gurunya walaupun memper-
Gambar 24. Wayang kulit Jawa: Hanuman dan Dewi Shinta
(Sumber: Ann Richter )
28
taruhkan jiwa dan raganya. Akhirnya ia berhasil mendapatkan apa yang
dinginkannya. Lakon ini juga memiliki dimensi tentang simbolisasi
pencarian jati diri seseorang dalam mendaki kehidupan spiritual yang
penuh dengan rintangan dan berbahaya. Perhatikan perjalanan Bima ke
hutan, ke gunung dan terakhir ke laut. Semua perjalanan tersebut menggambarkan
pencarian melalui perbuatan tulus dan menyelam ke dalam
lautan pikiran yang penuh dengan gejolak. Namun karena keteguhan hati
dan dalam bimbingan hati nurani yang tulus dan suci, semuanya dapat
diatasi dan sang diri bertemu dengan diri sejati yang dilambangkan
dengan Dewa Ruci yang kecil dengan bentuk fisik sama dengan Bima
berada dalam hati sanubarinya, namun Bima yang besar dapat masuk ke
dalam tubuhnya dan di sana Bima dapat menyaksikan kejadian di alam
semesta.
2. Seni rupa dalam aktivitas ekonomi
Seni dapat menjadi sebuah produk yang penting dalam kegiatan
ekonomi. Beberapa negara di Asia telah menempatkan produk seni
sebagai penghasil devisa negara yang dapat diperhitungkan. Negara
Gambar 25. Bima berhasil mengalahkan raksasa penghalangnya dalam
mendapatkan air kehidupan (Sumber: Ann richter ).
29
Cina misalnya membangun pusat kegiatan dan pemasaran produk seni
secara besar-besaran.
Di dalam sejarahnya, perubahan sosial dalam suatu negara biasanya
dimotori golongan kelas menengah ke atas. Begitu pula dalam
perkembangan seni, menyebabkan lahirnya bentuk seni yang cocok
dengan selera mereka. Sebagai komunitas yang mapan dari sisi
ekonomi, mereka dapat mengendalikan kecenderungan bentuk seni
sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Gambar 27. Iklan kopi di
majalah (Sumber: Majalah
Garuda).
Gambar 26. Iklan
sampo di Koran
(sumber: Kompas
Minggu, 6 Sept. 2007)
30
Aktivitas seni rupa dan ekonomi pada saat ini semakin semarak,
karena memiliki hubungan sangat dekat dengan pencitraan suatu
produk. Misalnya, seni reklame memegang peran yang sangat penting
untuk promosi dan pemasarannya. Tanpa sentuhan seni, kegiatan
promosi tidak akan menarik, sehingga perusahan-pe-rusahaan tidak
ragu mengeluarkan dana yang besar guna mem-promosikan hasil
produksinya melalui seni rupa dalam bentuk iklan di majalah, surat
khabar (gb. 26, 27), TV dan bahkan melalui Internet yang harga
tayangnya jauh lebih murah dan lebih efisien dibanding dengan media
lainnya. Pada saat ini orang dapat melakukan transaksi dari rumah dan
tidak harus datang langsung ke tempat penjualan barang di toko atau
super market. Dengan melihat tayangan di internet yang meyediakan
segala jenis barang kebutuhan terutama barang non-makanan orang
dapat memesannya dan dalam beberapa waktu dapat diterima di rumah.
Pembayarannya pun tidak dalam bentuk tunai karena dilakukan melalui
internet. Perkembangan teknologi ini diprediksi akan mengubah budaya
dan peradaban manusia secara radikal karena kegiatan dapat dilakukan
secara maya melalui teknologi informasi tersebut.
3. Seni rupa dalam kehidupan politik
Politik merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia,
sehingga mempengaruhi terhadap sektor kehidupan lainnya. Seni rupa
dalam kehidupan politik di Indonesi, pernah pada tahun 1950-1960an
dimanfaatkan oleh partai-partai untuk menggalang masa. Mereka
mendirikan organisasi-organisasi kesenian. Misalnya Partai Komunis
Indonesia menggunakan para seniman untuk tujuan-tujuan politik
mereka, dengan mendirikan organisasi politik seperti Lekra yang muncul
sebagai bagian dari kepentingan kekuasaan dari partai komunis saat itu.
Sehingga pada waktu pemberontakan G30S/PKI banyak seniman seni
rupa ditangkap dan dipenjarakan.
Pada saat ini, partai politik tidak mendirikan organisasi-organsasi
kesenian seperti tahun 1950an, tetapi masih melibatkan seniman guna
mencapai tujuan politiknya. Misalnya dalam seni komunikasi grafis,
sebagai cabang seni rupa, banyak terlibat dalam pembuatan poster,
spanduk, kaos dan atribut partai lainnya. Dalam hal ini seni rupa dalam
politik bukan sebagai bagian ideologi partai tetapi mendukung promosi
program partai yang disampaikan kepada masyarakat secara visual.
Senimannya pun tidak terlibat secara intens dalam kegiatan partai.
Selain seni rupa dimanfaatkan oleh partai, seni rupa juga banyak
digunakan oleh rezim pemerintah yang berkuasa. Pada zaman Orde
Lama hingga Orde Baru seni rupa khususnya seni patung, banyak
digunakan untuk memperingati kejadian bersejarah. Patriotisme para
31
pejuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari
cengkraman penjajahan Belanda dan Jepang, tokoh negarawan, serta
nilai-nilai kemanusiaan diwujudkan sehingga pada kedua zaman itu
banyak didirikan patung monumen terutama di ibukota negara dan
hampir di seluruh ibukota provinsi dan kabupaten.
4. Seni rupa dalam pendidikan
Dalam konsepsi pendidikan, secara teoretik gambaran tentang
manusia Indonesia telah tertuang secara jelas dalam rumusan tujuan
Pendidikan Nasional Indonesia, yakni membentuk manusia seutuhnya
lahir dan batin. Dalam dunia pendidikan ada empat aliran yang
berhubungan dengan pengembangan pendidikan khususnya pendidikan
seni.
Pertama, faham progressivisme yakni suatu paham dalam pendidikan
yang menekankan pada kebebasan, keaktifan dan kreativitas;
essensialisme memandang bahwa budaya hanya me-rupakan salah
satu dimensi dalam kehidupan manusia. Se-lanjutnya, perenialisme
menekankan bahwa akal budi manusia mempunyai kedudukan yang
amat penting, sehingga aktivitas pendidikan perlu mengupayakan
perkembangannya seoptimal mungkin. Dalam aliran ini guru dipandang
memiliki kedudukan sentral. Terakhir, re-konstruksionisme memandang
manusia sebagai mahluk sosial. Manusia tumbuh dan ber kembang
dalam kaitannya dengan proses sosial dan sejarah perkembangan
masyarakat. Dalam kaitan ini pendidikan memiliki peran penting untuk
mengadakan pembaharuan dan pembangunan masyarakat. Dengan
demikian, pendidikan seni memiliki keterkaitan dengan paham tersebut
terutama dengan paham progresif yang me-mentingkan kebebasan,
keaktifan dan kreativitas, sebab karakteristik kegiatan seni tidak dapat
lepas dari sifat tersebut (gb. 28, 29). Melalui pendidikan seni diharapkan
dapat melahirkan generasi yang kreatif, memiliki kecerdasan dan
kehalusan budi dalam mengantisipasi perubahan yang terjadi di
masyarakat sebagai yang diharapkan oleh paham perenial dan
rekonstruksi.
Alam ini dipenuhi dengan berbagai jenis mahluk hidup, salah satunya
adalah manusia. Dalam menjalani kehidupannya manusia berbeda
dengan mahluk hidup lainnya. Manusia hidup dengan kemampuan cipta,
rasa, dan karsanya, sedang mahluk lainnya hidup dengan menggunakan
nalurinya. Dengan kemampuan yang dimilikinya itu manusia mampu
menciptakan apa yang menjadi kebutuhannya. Seni lahir karena
kebutuhan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui berbagai
jenis media yang berhubungan dengan pancaindera – media yang dapat
32
dilihat, didengar, diraba, dibau, dan dikecap yang kemudian bermuara
pada rasa dalam hati atau kalbu. Kelima indera yang dimiliki manusia itu
ingin dipuaskan. Untuk keperluan itu manusia mengubah dan menyusun
kualitas material dari yang berkualitas ’apa adanya’ menjadi memiliki
kualitas berbagai jenis rasa. Kemudian nilai rasa tersebut (terutama yang
berhubungan dengan pendengaran dan penglihatan) oleh para ahli
estetika disebut sebagai rasa keindahan - the sense of pleasurable
ralation is the sense of beauty (Read, 1972 : 18), sehingga lahirlah seni
rupa, seni musik, seni tari, seni teater, seni sastra. Hal-hal yang membuat
manusia mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya dalam wujud
karya seni disebabkan sejak lahir manusia telah dibekali dengan
kemampuan untuk itu. Jadi pada dasarnya semua indera manusia ingin
dipuaskan, penglihatan melalui mata, pendengaran melalui telinga,
penciuman melalui hidung, pengecap melalui lidah, peraba melalui
tangan. Hanya pemuasan melalui mata, dan pendengaran baru disebut
seni, sedang pemuasan melalui indera lainnya seperti hidung, lidah, dan
telapak tangan belum dapat dikatakan sebagai seni.
Gambar 28. Kegiatan seni rupa di sekolah Taman
Kanak-kanak (Foto: Agung Suryahadi, 2005).
33
Coba bayangkan bagaimana jika kehidupan manusia tanpa
diiringi oleh seni ?
Para ahli neurophsychologist menemukan bahwa otak manusia terdiri
dari dua hemisphere yaitu belahan otak kiri dan otak kanan yang masingmasing
memiliki fungsi berbeda dan memiliki potensi sama untuk
berkembang (gb. 30). Hemisphere kiri memiliki fungsi mengontrol
rational, analytical thinking, language skills, mathematical functions, and
sequentially order-ed think-ing’, sedang otak kanan mengontrol intuittive
functions, spatial orientation, spatial construction, crafts, skills, art, music,
creative expression, and the recognition of images (Roukes, 1984:32).
Selanjutnya Howard Gardner yang terkenal dengan ‘multiple intelligencenya’
merumuskan bahwa manusia memilki potensi tujuh jenis kecerdasan
yaitu : language, music, logic and mathematics, visual-spatial conceptualization,
bodily-kinesthetic, knowledge of other person, dan knowledge
of ourselves ( Gardner, 1983 :105). Dengan demikian sangat pasti
secara alamiah manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan
potensi seni yang dimilikinya. Namun sayang dalam kenyataan hanya
beberapa aspek yang mendapat prioritas untuk berkembang. Apabila
Gambar 29. Bermain layang-layang, karya Dian Pertiwi,
2006.(Koleksi P4TK Seni dan Budaya Yogyakarta.
34
dicermati, seni memiliki dua aspek yang berguna bagi manusia yakni
aspek produk dan aspek prosesnya. Pertama, produk atau karya seni
bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup manusia, karena dengan
menghayati karya seni seseorang dapat memahami kemungkinan cara
baru dalam berfikir, merasakan dan membayangkan, sehingga karya seni
memiliki banyak informasi tentang kehidupan.
Hemisphere Hemisphere
Kanan Kiri
Manfaat seni yang kedua, yakni proses berkarya seni. Hal ini dalam
pendidikan di sekolah umum (TK, SD, SMP, dan SMA) merupakan hal
yang sangat penting. Di dalam proses kegiatan berkesenian terjadi
beberapa aktivitas fisik dan psikologis yang dapat merangsang dan
mengembangkan kapasitas potensi-potensi pada diri manusia, baik pertumbuhan
fisik maupun mentalnya. Lowenfeld mengiden-tifikasikan ada
beberapa hal yang dapat berkembang pada diri manusia melalui proses
berkesenian antara lain pertumbuhan emosi, intelektual, fisik, persepsi,
sosial, estetik, dan kreatifitas. Oleh sebab itu peran seni dalam
pendidikan adalah untuk mencapai tujuan pendidikan agar manusia lebih
utuh kepribadiannya berkembang karakter, potensi atau kapasitas yang
dimiliki oleh manusia.
D. Seni Rupa Indonesia
Claire Holt kesulitan untuk secara tegas membagi tahap
perkembangan seni budaya Indonesia, karena setiap daerah
perkembangannya tidak sama. Ada daerah yang masih berada dalam
tahap zaman prasejarah, ada daerah yang telah memasuki zaman
modern. Namun, ia berusaha membuat periodesasinya sebagai berikut.
Gambar 30. Fungsi otak kanan
dan otak kiri
35
1. Zaman Prasejarah
Zaman prasejarah rentang waktunya sangat panjang sampai manusia
mengenal tulisan yang kemudian disebut zaman sejarah. Zaman
prasejarah Indonesia berakhir pada abad keempat dengan
diketemukannya tulisan berupa prasasti pada batu. Zaman prasejarah
Indonesia diklasi-fikasikan menjadi beberapa zaman sebagai berikut.
a. Zaman Paleolithikum (Zaman Batu Tua), rentang waktunya tidak
jelas, wujud dan ciri peninggalannya adalah berupa alat-alat batu yang
dipecah secara kasar dan diduga digunakan sebagai alat pemotong,
penumbuk, dan kapak (gb.31). Periode ini merupakan yang terpanjang
dalam sejarah kemanusiaan, pada zaman ini manusia hidup tidak
menetap atau nomaden yaitu berpindah-pindah sebagai pemburu dan
pengumpul makanan, tinggal dalam gua, menggunakan alat batu untuk
keperluannya sehari-hari seperti alat pemotong, alat pemecah. Mereka
sudah menggunakan api dan memiliki sistem kepercayaan dengan
berpusat kepada magic dan supranatural.
b. Zaman Mesolithikum (Zaman Batu Pertengahan), rentang waktunya
juga tidak jelas diperkirakan 10, 000 tahun yang lalu. Wujud dan ciri
peninggalannya berupa benda-benda terbuat dari tulang, kerang, dan
tanduk, serta lukisan pada dinding batu dan gua, banyak terdapat di
Indonesia Timur (gb. 1, dan 32). Manusia zaman ini sudah mulai
bercocok tanam dan memlihara ternak. Mereka hidup berkelompok,
menggunakan panah untuk berburu dan membuat manik-manik serta
gerabah. Selain itu mereka juga membuat lukisan pada dinding gua-gua
Gambar 31. Peninggalan zaman batu
tua (sumber: Soekmono, 1973)
36
berupa bentuk tangan, kaki, serta binatang seperti kadal (gb. 32), kurakura,
burung, dan benda-benda langit berupa matahari, bulan, serta
perahu. Menurut para ahli hal ini memiliki hubungan dengan kepercayaan
mereka, misalnya bentuk tangan merupakan tanda berduka jika keluarga
mereka ada yang meninggal dunia. Kemudian bentuk kadal sebagai
simbol nenek moyang dan di sekitarnya ada bentuk-bentuk ikan yang
menandakan bahwa kehidupan mereka tergantung dari menangkap ikan.
Bentuk kadal juga digunakan berlanjut hingga zaman sejarah, misalnya di
lingkungan masyarakat Batak di Sumatera Utara, bentuk kadal
dipahatkan pada daun pintu dengan empat buah bentuk mirip payudara
perempuan. Bentuk ini menyimbolkan nenek moyang yang terdiri dari laki
dan perempuan. Bentuk laki-laki diwakili oleh kadal disebut boraspati,
bentuk perempuan direpresentasikan oleh bentuk payudara disebut
bagok. Melihat dari nama boraspati diasumsikan sebagai pengaruh
penamaan setelah Agama Hindu menyebar di Nusantara.
c. Zaman Neolithikum ( Zaman Batu Baru), diperkirakan rentang
waktunya mulai dari 2500 S.M – 1000 S.M. Periodesasinya berbeda
secara geografis, misalnya Asia Tenggara berbeda dengan Asia Barat
Daya. Peninggalan zaman ini di Indonesia diperkirakan banyak
dipengaruhi oleh imigran dari Asia Tenggara berupa pengetahuan
tentang kelautan, pertanian, dan peternakan berupa kerbau, babi, dan
anjing. Alat-alat berupa gerabah, alat pembuat pakaian kulit kayu, tenun,
teknik pembentukan kayu dan batu dalam bentuk mata panah, lumpang,
beliung (gb.33), hiasan kerang, gigi binatang, dan manik-manik. Seiring
dengan berkembangnya ke-terampilan dan kemampuan bercocok tanam
yang dibantu oleh kerbau untuk membajak tanah, kerbau juga dijadikan
sebagai binatang simbolik tentang kekuatan dan kekuasaan. Hal ini
Gambar 32. Lukisan pada dinding gua
(sumber: Indonesian Heritage)
37
nampak hingga saat ini menjadi bagian kehidupa adat-istiadat dalam
masyarakat Sumatera Barat, Kalimantan, dan Sulawesi.
d. Zaman Megalithikum (Zaman Batu Besar), pada zaman ini
peninggalan yang menonjol adalah bentuk-bentuk menhir atau tugu
peringatan, tempat duduk dari batu, altar, bangunan berundag, peti kubur
atau sarkopagus, bentuk-bentuk manusia, binatang yang dipahat pada
batu-batu dengan ukuran besar (gb.34). Peninggalan ini banyak terdapat
di Sulawesi Tengah.
Bangunan berundak memiliki hubungan kepercayaan kepada leluhur
dan kepada yang suci, bahwa bagian yang lebih tinggi adalah tempat suci
yaitu gunung. Oleh sebab itu bangunan suci, tempat pemujaan leluhur
banyak dibangun pada tempat yang tinggi. Penerapan konsep ini sampai
Gambar 33.
Alat batu
peninggalan
zaman Batu
Baru
Gambar 34. Patung Zaman Megalitikum
38
saat ini digunakan oleh masyarakat Hindu Dharma di Bali dalam
membuat tempat tinggal terutama tempat suci pura.
e. Zaman Perunggu (Zaman Logam), waktunya diperkirakan kurang
lebih 300 S.M. Peninggalan-peninggalan yang nyata dari zaman ini
adalah berupa peralatan yang dibuat dari perunggu. Gambar-gambar
tentang burung terdapat pada genderang, burung enggang memiliki
hubungan dengan kepercayaan hidup setelah kematian dan kebangkitan.
Sehubungan dengan itu burung merupakan simbol dari dunia atas,
kepercayaan ini terdapat di Kalimantan dan Sumatera Utara.
Selain bentuk burung peninggalan zaman perunggu yang menonjol
adalah benda yang disebut Nekara diduga sebagai alat upacara (gb. 35,
36) sehingga sampai sekarang disucikan oleh masyarakat di tempat
nekara itu berada. Nekara yang terbesar saat ini berada di Pura
Penataran Sasih Pejeng Bali Berdasarkan dongeng tradisi lisan
masyarakat Bali menganggap nekara itu bagian dari bulan yang jatuh di
Bali. Hiasan pada badan nekara banyak berupa bentuk geometris,
adapula hiasan muka manusia, burung, gajah, bahkan kodok. Teknik
pembuatannya diperkirakan oleh para ahli meng-gunakan teknik cetak
Gambar 36. Bagian atas Nakara
(sumber: Museum Nasional
Jakarta)
Gambar 35. Nakara (sumber:
Museum Nasional Jakarta.
39
cor yang disebut a cire perdue, dan menyebar dari benua Asia atau
Indonesia bagian barat ke arah timur Indonesia sampai di pulau Alor.
2. Zaman Sejarah
Zaman sejarah Indonesia ditandai oleh penemuan tulisan pada
prasasti batu. Sebelum diketemukan prasasti tersebut sejarah Indonesia
seakan gelap karena tidak adanya petunjuk yang authentik tentang
keberadaan budaya yang sebenarnya telah berkembang jauh sebelum
ada prasasti. Ada sementara orang mengatakan bahwa di Indonesia
sebenarnya telah dikenal budaya tulis-menulis dengan huruf sebelum
adanya huruf yang diperkenalkan dari luar Indonesia, namun sayangnya
bukti yang sah mengenai hal itu belum diketemukan sampai saat ini,
huruf-huruf etnis yang ada seperti di Sumatera Utara, di Lampung, dan di
Sulawesi Selatan belum diteliti keberadaannya. Sistem kepercayaan
memang telah ada jauh sebelum agama-agama dari luar masuk ke
Indonesia, namun hal itu tidak diakui sebagai agama karena tidak
memenuhi kriteria dibanding agama yang ada saat ini. Pembagian zaman
sejarah di Indonesia diklasifikasikan menjadi empat, sebagai berikut.
a b
a. Zaman Penyebaran Agama-Agama India
Zaman sejarah Indonesia mulai dikenal dengan munculnya kerajaankerajaan
yang bernafaskan Hindu. Hal ini ditandai dengan
diketemukannya prasasti-prasasti pada batu yang menggunakan huruf
Palawa di dekat Sungai Cisedana Bogor Jawa Barat, di Kutai Kalimantan
Gambar 37. Prasati batu tulis dari Kutai, (b) Parasati Adityawarman,
Batu Sangkar (sumber: Soekmono)
40
Timur dan Sumatera Barat (gb.37). Penemuan bukti sejarah itu
diperkirakan keber-adaannya pada abad ke 4-5 Masehi. Agama yang
berasal dari India adalah Agama Hindu dan Agama Budha.
Peninggalannya selain prasasti juga berupa bangunan suci keagamaan
berupa candi tersebar terutama di pulau Sumatera, Jawa, dan Bali.
Peninggalan candi yang terkenal adalah Candi Prambanan (gb. 38)
merupakan peninggalan kerajaan Mataram Hindu dan Candi
Borobudur dari Agama Budha (gb 39). Keduanya berlokasi di Jawa
Tengah, namun saat ini Candi Prambanan berada di perbatasan Jawa
Tengah dan Yogyakarta. Pada kedua candi tersebut terdapat ribuan
panel relief dengan tema religius.
Pada Candi Borobudur dipahatkan relief tentang kehidupan Sidharta
Gautama (gb. 40, 41), sedang relief di Candi Prambanan
menggambarkan cerita Ramayana yang terkenal di dunia. Selain kedua
candi besar tersebut masih ada candi dengan ukuran lebih kecil yakni
Candi Dieng peninggalan Hindu di dataran tinggi Dieng dan Candi
Mendut serta Pawon peninggalan Budha berada di dekat Candi
Borobudur. Kerajaan Hindu terbesar Majapahit di Jawa Timur yang
pernah menguasai Nusantara. peninggalan candinya tidak sebesar candi
zaman Hindu di Jawa Tengah, namun banyak meninggalkan candi-candi
kecil bertebaran terutama di Jawa Timur dan Bali, serta beberapa karya
Gambar 38. Candi Prambanan
41
sastra yang lestari dan fungsional sampai saat ini khususnya di daerah
Bali.
Seni patung yang terdapat di Candi Borobudur baik yang diletakkan di
relung-relung candi dan di dalam stupa adalah patung Budha dengan
sikap sedang bermeditasi dan dengan berbagai sikap mudranya. Di
Candi Prambanan patung-patungnya menggambarkan dewa-dewa
Agama Hindu seperti Dewa Brahma, Wisnu, Siwa, Durga, Agastya,
Ganesha dan patung kendaraan Dewa Tri Murti berupa patung Lembu
Nandi, Angsa, dan Garuda. Bentuk candi patung dan relief pada kedua
candi tersebut masih sangat kuat dipengaruhi oleh seni rupa dan
arsitektur India. Bentuk reliefnya realis dekoratif. Menurut analisis
Permadi Tabrani keistimewaan pada candi Borobudur adalah dalam
menggambarkan beberapa adegan yang waktunya berbeda sekaligus
dalam satu panel. Banyak posisi figur-figurnya menggunakan pedoman
struktur bentuk gerak tribangga sehingga terlihat tidak kaku. Ragam hias
yang penting terdapat pada badan candi antara lain Kalamakara yang
biasanya terdapat pada bagian atas pintu masuk candi (gb.42). Bentuk
ini merupakan simbolisasi dari waktu (kala), bahwa apapun yang ada di
dunia ini tidak luput untuk memasuki lorong waktu, semua ditelan oleh
sang waktu. Kembang padma atau teratai (gb. 43 a) sering dijumpai pada
peninggalan Hindu dan Budha. Kedua agama ini memandang bunga
teratai sebagai bunga suci karena sebagai tempat duduknya para
dewata. Selain itu dalam tradisi yoga pusat-pusat energi dalam tubuh
manusia disebut cakra juga digambarkan dalam bentuk bunga teratai.
Hiasan berbentuk swastika digunakan pula oleh kedua agama tersebut.
Dalam agama Hindu swastika merupakan lambang perputaran alam
Gambar 39. Candi Borobudur.
42
semesta yang tidak pernah berhenti oleh karenanya sekaligus juga
sebagai lambang keselamatan dan kehidupan. Arah perputarannya dari
kiri ke kanan, namun swastika Budha perputarannya terbalik. Ragam hias
binatang juga banyak dijumpai pada relief-relief candi, salah satu yang
Gambar 40. Relief penari di depan Pangeran Sidharta Gautama
menarik adalah mahluk kahyangan yang disebut kinara-kinari yaitu
mahluk berbadan burung dan berkepala manusia berpasangan laki-laki
dan perempuan mengapit pohon kalpa taru (gb. 43 c) sebagai lambang
pohon surga yang memberikan segala keinginan manusia. Selain diapit
oleh kinara-kinari dalam beberapa hiasan pohon kalpa taru di apit oleh
burung merak dan diantara dua hiasan kalpa taru terdapat patung singa
dalam relung kecil. Pada Candi Prambanan, reliefnya menggambarkan
tentang epos Ramayana.
Dalam peninggalan situs Agama Hindu sering diketemukan wujud
simbol yang disebut Lingga Yoni (gb. 43 b) merupakan artefak penting
dalam Agama Hindu karena digunakan sebagai media menghubungkan
diri manusia dengan Siwa sebagai Tuhan. Lingga dan Yoni merupakan
simbolisasi dari rwa binedha yaitu dua hal berbeda dari kemahakuasaan
Tuhan sehingga menyebabkan adanya alam semesta beserta isinya.
Dua hal tersebut yaitu laki-laki dan perempuan, siang dan malam, halus
kasar, tinggi rendah, dan sebagainya; hanya saja dalam visualisasinya
Gamar 41. Relief ketika Budha melakukan
meditasi dengan mudra Bumi Sparsa.
43
penekanannya lebih kepada laki-laki dan perempuan sehingga
simbolisasi yang realistik (alat kelamin laki-laki sebagai lingga dan alat
kelamin perempuan sebagai yoni) menyebabkan muncul persepsi
negatif di masyarakat. Padahal kalau ditelusuri lebih jauh hal tersebut be
berhubungan dengan penghormatan kepada nenek moyang, orang tua
(bapak/lingga dan Ibu/yoni) yang telah melahirkan dan membesarkan,
selain itu lingga dan yoni juga bermakna kesuburan, oleh karena
pertemuan kedua kekuatan berbeda tersebut dapat melahirkan sesuatu.
Hal yang menarik pada Candi Borobudur adalah struktur bangunannya.
Menurut Stutterheim, bangun candi Borobudur merupakan
kombinasi piramid dari timur tengah dengan stupa India. Struktur
bangunan terbagi menjadi tiga tingkat, berturut dari bawah yaitu
kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu. Ketiga tingkatan itu merupakan
refleksi dari tingkatan kehidupan spiritual manusia secara alami menurut
pandangan Budha. Tingkatan kama adalah tahap kehidupan manusia
yang masih diliputi oleh berbagai jenis hawa nafsu duniawi, kemudian
Gambar 42. a. Kepala Kala dari
zaman Hindu Jawa Tengah awal,
b.Kepala Kala dari zaman Jawa
Tengah peralihan ke zaman Hindu
Madya, c. Kepala Kala dari zaman
Hindu Jawa Timur (sumber:
Museum Nasional Jakarta dan
Indonesiaan Heritage.
44
meningkat ke tingkat rupa masih terikat dengan wujud dan simbol, dan
tingkatan arupa tahapan kehidupan sudah bebas dari keduniawian.
Pada masa Hindu dan Budha seni rupa yang menggunakan bahan
keras (batu dan logam) seperti patung, senjata, alat upacara, sangat
banyak peninggalannya, sedangkan seni rupa yang menggunakan bahan
lunak seperti lukisan dan ukiran kayu tidak banyak dapat diketahui
jejaknya karena mudah hancur dimakan zaman selain faktor vandalisme
oleh manusia.
a
b
c
Gambar 43. a. Motif Teratai, b. Linga-Yoni, c. Kinara-Kinari.
45
b. Zaman Penyebaran Agama Islam
Perkembangan agama Islam di Indonesia diperkirakan mulai tahun 1250
hingga sekarang. Hal ini diawali dari daerah pesisir Sumatera dan Jawa,
dimana daerah pesisir merupakan kota pelabuhan dan perdagangan.
Penyebaran Islam dilakukan oleh para pedagang dari Parsi dan Gujarat.
Menurut Holt pada awal abad ke – 16 kerajaan Islam di pantai Utara
Jawa Tengah merebut kekuasaan Majapahit. Pada akhir abad – 16
muncul kerajaan Islam Mataram sebagai suatu kesultanan, kemudian
setelah Belanda menduduki Indonesia kerajaan tersebut di-pecah
menjadi kerajaan kecil yaitu Surakarta dan Yogyakarta.
Gambar 44. Menara Mesjid
Kudus (sumber: Soekmono,
1973)
46
Peninggalan kesenian zaman Islam yang terkenal adalah mesjid Kudus
dan menaranya (gb.44) yang masih mengadopsi bentuk bangunan
bergaya Hindu dengan atapnya bertumpang dan gapura Mesjid Sendang
Duwur (gb. 46). Selain itu hal yang menonjol dalam seni Islam adalah
stilisasi bentuk tumbuh-tumbuhan, wayang, dan seni kaligrafi (gb.45).
Stilasi tersebut dilakukan karena dalam ajaran Islam tidak diperkenankan
meng gambarkan mahluk hidup terutama binatang. Sebagai konsekwensinya
bentuk-bentuk mahluk hidup (manusia, binatang) sering
digayakan dan dibentuk dengan huruf-huruf Arab.
Gambar 45. Ukiran
dalam medalion dari
masjid Mantingan
Jepara (sumber: Soekmono
1973)
Gambar 46. Gapura
mesjid Sendangduwur
Tuban (
sumber:Soekmono,1973)
.
47
c. Zaman Pengaruh Kebudayaan Eropa
Masuknya pengaruh kebudayaan Eropa dimulai juga melalui aktivitas
perdagangan dengan bangsa Portugis pada pertengahan abad 16.
Komoditas utama yang diperdagangkan adalah rempah-rempah,
selanjutnya disusul oleh kedatangan bangsa Belanda, Spanyol, dan
Inggris. Persaingan ketat dari ketiga bangsa tersebut dalam perdagangan
di Indonesia akhirnya dimenangkan oleh Belanda dengan mendirikan
VOC. Dari awalnya berdagang berlanjut menjadi pendudukan dan
menguasai pemerintahan berkepanjangan hingga tiga setengah abad
dan berakhir tahun 1945. Peninggalan Belanda yang paling penting
diwarisi Indonesia saat ini adalah Agama Katholik dan Kristen, sistem
pendidikan, serta beberapa infrastruktur berupa jalan dan bangunan fisik.
Pengaruh seni rupa Barat diduga telah mulai masuk ke Indonesia pada
abad ke-16 dibawa oleh para pedagang V.O.C yang digunakan untuk
hadiah kepada para pembesar kerajaan-kerajaan di Nusantara, seperti
lukisan besar yang diberikan kepada seorang raja di Bali, Sultan
Palembang, dan raja Surakarta.
Pengaruh seni lukis Barat secara nyata pada awal sekali dipelajari
oleh seorang putra bangsawan dari Jawa yaitu Raden Saleh Syarif
Bustaman pada abad ke-19. Raden Saleh belajar seni lukis Barat
langsung dengan tinggal di Eropa selama 20 tahun. Menurut pendapat
para ahli lukisan Raden Saleh mendapat pengaruh kuat dari Delacroix
(seorang pelukis terkenal pada zaman Renaissance) dengan gaya
romantiknya. Dengan keterampilannya yang baik Raden Saleh pulang ke
Indonesia dan banyak melukiskan tentang suasana Indonesia zaman
penjajahan Belanda seperti gunung Merapi yang sedang meletus (gb.47),
perkelahian antara singa dan banteng yang ditafsirkan sebagai perta-
Gambar 47. Raden
Saleh, Gunung Merapi,
(Sumber: Indonesian
Heritage).
48
rungan kaum pejuang nasionalis dengan penjajah. Selain itu lukisan
Raden Saleh yang terkenal di Indonesia adalah saat penangkapan
Pangeran Diponegoro dan Perburuan Harimau (gb.48). Raden Saleh
tidak menurunkan kemahirannya melukis ala Barat kepada masyarakat
Indonesia pada waktu itu, namun ketika Abdulah Surio Subroto dari Jawa
Gambar 49. Abdulah SR., Pemandangan di Jawa .(sumber: Koleksi
Presiden Soekarno).
Gambar 48. Raden Saleh, Perburuan Harimau (Sumber: Indonesian Heritage)
49
Barat kembali ke Indonesia setelah belajar melukis di Akademi Seni Rupa
Belanda, ia menularkan kemampuannya kepada anaknya sendiri sebagai
muridnya yang menjadi pelukis terkenal yaitu Basuki Abdulah dan anak
didiknya yang lain ialah Mas Pirngadi. Selain itu pelukis pribumi lainnya
yang belajar dengan orang Belanda ialah Wakidi, yang tinggal di
Sumatera Barat dan memiliki banyak murid. Abdulah Surio Subroto,
Basuki Abdulah, Wakidi dan pelukis sejenis lainnya mereka semua
sangat mahir melukis dengan gaya realis dan naturalis melukiskan
kondisi yang indah-indah dan menyenangkan ( gb. 49, 50, 51). Hal yang
demikian ini sangat ditentang oleh pelukis nasionalis yang menyebutnya
sebagai seni lukis “Indonesia Molek” (Mooi Indie).
Menurut pandangan mereka lukisan tersebut tidaklah
menggambarkan kondisi sesungguhnya tentang Indonesia. Pada tahun
1937, gerakan yang menentang seni lukis “Indonesia Molek” mendirikan
Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) dipimpin oleh Agus
Djayasuminta dan Sudjoyono dengan jumlah anggota sebanyak 20
orang. Upaya kelompok ini adalah untuk mencari terobosan teknik
melukis yang dirasa membosankan dan tidak mencerminkan suasana
batin Indonesia yang sebenarnya. Kelompok ini mengembangkan sendiri
tema kerakyatan dan teknik melukisnya sebagaimana nampak dalam
lukisan Sudjojono ‘Tetangga’ (gb. 52) dan lukisan Hendra Gunawan
Gambar 50. Wakidi, Balai Desa Minagkabau
(sumber: Koleksi Presiden Soekarno).
50
‘Mencari Kutu Kepala’ ( gb.53). Sudjojono terkenal dengan motto melukisnya
sebagai ‘jiwa ketok’, bahwa melukis tidak hanya sekedar
mengungkapkan fenomena keindahan di luar diri manusia tetapi juga
merupakan pencerminan dinamika jiwa pelukisnya. Dengan demikian
tersirat, bahwa seorang seniman seni lukis harus terus mencari apa yang
menjadi keinginannya dalam mengungkapkan gerak perasaan hatinya
sehingga dapat mencerminkannya dalam lukisan-lukisan yang dibuatnya.
Hal inilah yang dapat membedakan pelukis satu dengan lainnya baik
dalam preferensi pemilihan tema, warna dan bentuk. Dari sisi tema
misalnya, Sudjojono berbeda dengan Abdulah Surio Subroto, begitu pula
dalam warna dan bentuk serta goresan dan sapuan kuasnya. Perbedaan
antar individu meluas menjadi perbedaan faham antar kelompok yaitu
antar “Mooi Indie” dengan kelompok Persagi. Perbedaan paham
membuat dunia seni lukisa zaman itu menjadi dinamis sehingga
melahirkan banyak seniman seni lukis. Dinamika tersebut tidak terjadi
dalam bidang seni rupa lainnya. Hal ini menyebabkan seni lukis menjadi
bidang seni satu-satunya yang paling banyak dibahas dan memiliki
dimensi keilmuan seni yang paling maju di samping seni musik yang
sifatnya lebih eksak.
d. Zaman Kemerdekaan
Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945,
namun baru berdaulat penuh pada tahun 1950. Guna mengembangkan
Gambar 51. Ernest Dezentje, Pemandangan Sudut Jakarta
(sumber: Koleksi Presiden Soekarno
51
seni budaya, pemerintah mendirikan sekolah dan perguruan tinggi seni.
Pada tahun 1947 di Bandung lahir Sekolah Seni Rupa Bandung sebagai
bagian dari Institut Teknologi Bandung, selanjutnya pada tahun 1950
berdiri Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Selain sekolah formal
berdiri pula sangar-sanggar seni sejak sebelum kemerdekaan sebagai
tempat kegiatan seniman seni rupa berkarya dan berdiskusi, di antaranya
adalah Pusat Tenaga Pelukis Rakyat, didirikan oleh Djayengasmoro
Seniman Indonesia Muda didirikan oleh Sudjojono, Pelukis Rakyat oleh
Affandi. Selain itu ada seniman yang menguasai seni lukis sekaligus seni
patung yaitu Trubus dalam gaya realis (gb 54).
Sebenarnya sejak sebelum kemerdekaan para pemimpin bangsa telah
berupaya untuk mencari format kebudayaan Nasional, misalnya dengan
lahirnya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908, dideklarasikannya
sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928. Pencarian kebudayaan Nasional
masih terus bergulir hingga sekarang dengan segala pasang surutnya
dan pernah terjadi perdebatan di antara para ahli, di satu kutub ingin
mencari budaya yang berasal dari akar budaya daerah, di pihak lain ingin
mencari budaya yang universal. Apabila dicermati, kawasan budaya
Indonesia merupakan pertemuan dari berbagai jenis budaya, puncak-
Gambar 52. Sudjojno,
Tetangga (sumber:
Koleksi Presiden
Soekarno)
52
puncak budaya yang ada merupakan hasil pembauran berbagai budaya
dengan budaya setempat, mulai dari masuknya budaya India, Cina,
Timur Tengah, dan Eropa. Saat ini datangnya berbagai jenis budaya dari
berbagai bangsa dan negara semakin bertambah hebat melalui kegiatan
perdagangan, pariwisata, dan yang paling kuat datangnya melalui media
komunikasi audio-visual dengan berbagai nilai positif dan negatif masuk
menjadi bagian kehidupan seharí-hari masyarakat Indonesia. Selain itu
banyak pula anak bangsa yang belajar ke luar negeri dan sepulangnya
sudah pasti membawa pengaruh terutama pada pengetahuan,
keterampilan dan sikapnya.
Dalam mengisi kemerdekaan dan pembangunan, sekolah dan
perguruan tinggi seni telah banyak menghasilkan budayawan dan
seniman akademisi. Sebagai bangsa yang memiliki akar budaya yang
kuat, sudah seharusnya bangsa Indonesia terutama para cendekiawan
dalam bidang seni dan budaya dapat merespon kondisi zaman yang
terus berubah dengan cepat dengan merumuskan setrategi budaya yang
baik.
Gambar 53. Hendra
Gunawan, Mencari
Kutu Kepala ( sumber:
Koleksi Presiden
Soekarno ).
53
e. Seni Rupa Etnis Indonesia
Seperti yang telah diketahui bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni
budaya yang sangat kaya, dari sekian banyak itu ada beberapa yang
termasuk seni rupa yang menonjol untuk diperhatikan dan dibahas
secara lebih khusus, di antaranya adalah batik, wayang, dan keris.
Ketiga jenis seni rupa ini sangat populer hingga ke manca negara.
1) Seni Batik
Seni batik di Indonesia usianya telah sangat tua, namun belum
diketahui secara pasti kapan mulai berkembang di Indonesia, khususnya
di Jawa. Banyak negara seperti India, Cina, Thailand, dan terakhir
Malaysia, mengakui bahwa batik berasal dari sana. Namun demikian,
dalam kenyataannya perkembangan batik yang menjadi sangat populer
dan mendunia berasal dari Indonesia-Jawa. Hal ini dibuktikan dengan
diadopsinya istilah batik ke dalam bahasa Inggris. Jejak penggunaan kain
batik diketemukan pada patung dan relief di candi-candi. Dalam perkembangan
penggunaannya sejak masa kerajaan di Jawa, penggunaan
batik menunjukan status kebangsawanan dan ritual yang sedang
diselenggarakan. Misalnya untuk motif-motif tertentu seperti parangbarong,
parang-rusak hanya boleh dikenakan oleh raja, kemudian ketika
ada ritual perkawinan, sang pengantin dianjurkan menggunakan motif
truntum, atau sidomukti yang memiliki makna harapan positif bagi sang
pengantin. Namun, saat ini aturan tradisi tersebut sudah kurang ditaati
oleh kebanyakan masyarakat.
Gambar 54. Trubus, Gadis
dan Kodok (sumber: Koleksi
Presiden Soekarno)
54
a b
Gambar 55. (a) Motif Parang, (b) Motif Kawung (sumber: Amri Yahya).
Motif batik jumlahnya tak terhitung banyaknya, motif-motif batik
memiliki ciri khas yaitu hasil dari stilasi dan abstraksi, disusun se
cara acak dan mengikuti prinsip pengulangan, selang-seling dengan arah
diagonal, vertikal, ataupun horizontal. Dilihat dari gaya dan corak motif
batik dapat dibedakan menjadi dua, yakni motif batik pedalaman dan pesisir.
Batik pedalaman diwakili oleh Surakarta dan Yogyakarta cenderung
warnanya berat dan gelap terdiri dari hitam, biru, putih, dan coklat (gb.55
a,b]. Bentuk motifnya merupakan abstraksi dan stilasi alam lingkungan
seperti motif parang, garuda, hujan, kawung dan sebagainya. Sedangkan
batik pesisir warnanya cerah, ringan dan bebas (gb. 56 a,b). Bentuk
motifnya banyak berupa stilasi dari alam seperti gunung, awan, burung,
tumbuh-tumbuhan, naga, kaligrafi Arab. Hal ini diduga banyak mendapat
a
b
Gambar 56 . (a) Motif Awan / Mega Mendung, (b) Motif Tumbuh-tumbuhan (sumber: Amri Yahya)
55
pengaruh dari seni rupa Cina karena kontak perdagangan terutama di
daerah Pekalongan.
Teknik membatik pada prinsip dasarnya adalah tutup dan celup untuk
mendapatkan motif yang diinginkan. Alat dan bahan utama yang
digunakan adalah berupa canting, wajan, dan kompor, sebelum ada
kompor pembatik menggunakat anglo (tungku kecil dibuat dari gerabah).
Bahan penutupnya disebut malam terdiri dari campuran gondorukem,
damar mata kucing, microwax, lemak binatang, minyak kelapa, dan lilin
bekas. Bahan pewarnanya terdiri dari pewarna alami dan sintetis.
Pewarna alami berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti daun pohon jati ,
daun teh, akar menggkudu, untuk warna coklat; daun indigo untuk
warna biru. Pewarna sintetis ada beberapa jenis yang populer yang dijual
di toko yaitu Naphtol, Indigosol dan rhemasol. Bahan kain yang biasa
digunakan adalah kain dari bahan katun dan sutera. Kain dengan bahan
dasar sintetis kurang cocok menggunakan bahan pewarna tersebut.
a b
c d
Gambar 57. (a) Bambang Oetoro, Kreasi Baru, (b) Amri Yahya, Kaligrafi, (c) Kuwat dan
Simuharjo, Kreasi Baru, (d) Kuswadji,K, Lampor.
56
Untuk mencairkan malam dilakukan dengan memanaskannya. Malam
dimasukkan ke dalam wajan kecil yang diletakkan di atas tungku kecil
tanah liat yang disebut anglo, bahan bakarnya digunakan arang kayu.
Teknik membatik dengan menggunakan canting dilakukan selama
berabad-abad. Pada tahun 1840 teknik membatik mengalami kemajuan
dengan diketemukannya ’canting cap’ sehingga mempercepat proses
produksi. Hal ini didukung pula dengan diketemukannya warna sintetis
pada tahun 1918 di kawasan Eropa yang dapat memperpendek proses
pewarnaan. Penggunaan warna alami dapat memakan waktu berharihari,
sedangkan pewarnaan sintetis hanya memerlukan waktu beberapa
menit, dengan demikian produksi kain batik mengalami perkembangan
yang sangat pesat. Selain teknik batik dengan menggunakan malam,
adapula teknik membatik tidak mengunakan malam yang disebut kain
jumputan. Motif kain ini didapat dengan menggunakan teknik mengikat
kain dengan benang, motif-motifnya sangat terbatas pada bentuk bulat
karena teknik ikat tidak seleluasa menggunakan lilin dan canting dalam
membentuk motif yang diinginkan.
Kemampuan kreatif menyebabkan terjadinya suatu perkembangan,
begitu pula terjadi pada seni batik. Pada sekitar tahun 1966 - 1970,
seniman-seniman di Yogyakarta melakukan eksperimen menggunakan
teknik batik menjadi seni lukis. Pembaharuan ini dipelopori oleh Sulardjo
seorang pengusaha batik bekerjasama dengan seniman-seniman lainnya
yaitu Kuswadji, Bagong Kusudihardjo, Kusanadi, Abas Alibasyah,
Gustami disusul oleh Amri Yahya, Bambang Oetoro dan lain-lainnya.
Dari eksperimen mereka lahirlah motif-motif dan teknik membatik baru
(gb.57 ) . Selanjutnya batik tidak hanya sebagai kain batik yang berfungsi
sebagai penutup badan, namun berkembang menjadi media ekspresi
seni lukis batik yang banyak digeluti oleh seniman seni rupa dalam dan di
luar negeri.
2) Wayang
Indonesia boleh bangga karena mewarisi kesenian wayang yang
diakui sebagai warisan peradaban manusia yang berkualitas tinggi oleh
lembaga kebudayaan dunia Unesco. Sama halnya dengan batik, wayang
juga belum diketahui dengan pasti kapan mulainya, siapa pencipta
awalnya, dan dimana tempat dilahirkan. Banyak versi pendapat
mengenai wayang, ada yang menduga wayang merupakan hasil seni dan
budaya asli Indonesia yang berkaitan dengan dunia para leluhur. Ada
pula yang berpendapat wayang berasal dari India. Namun dalam misteri
dan kenyataannya wayang telah hadir pada relief-relief candi di Jawa
Timur (gb. 58 a, c).
57
a
b c
d
e
f
Wayang Gedhog kurang jelas makna simboliknya, ceritera yang
dilakonkan berupa legenda Panji dan Damarwulan dari Jawa Timur.
Secara etimologi wayang berarti bayangan, penamaan ini mungkin
karena wayang dinikmati melalui bayangannya (gb. 59a ) Jenis wayang
cukup banyak namun yang populer di masyarakat adalah wayang kulit
dan wayang golek. Wayang kulit terbuat dari kulit binatang khususnya
kulit sapi, dan wayang golek terbuat dari kayu untuk bagian badan dan
kepala, bahan kain digunakan untuk pakaiannya.
Gambar 58. (a) Arjuna Wiwaha, Relief Candi Sarawana Jawa Timur, (b) Arjuna, wayang Bali,
(c) Samba dan Tilotama, Candi Kedaton Jawa Timur (sumber: Claire Holt), (d) Arjuna,wayang
Jawa, (e) Semar, versi Jawa, (f) Wayang Golek, Sunda/ Jawa Barat ( sumber: Ann Richter
58
Menurut tempat atau daerah, ada beberapa jenis wayang antara lain
wayang Sunda, wayang Jawa, wayang Madura, wayang Bali, dan
wayang Sasak. Wayang Sunda lebih dominan wayang goleknya (gb. 58 f,
59 b), sedang wayang lainnya yang disebut wayang kulit antara daerah
satu dengan lainnya berbeda dalam ungkapan bentuknya. Wayang Jawa
dan Madura ukuran bentuknya lebih besar dibanding wayang Bali dan
wayang Sasak. Wayang Bali sangat mirip dengan relief pada badan
candi di Jawa Timur (gb. 58 b).
Berdasarkan cerita yang dilakonkan, menurut Calire Holt wayang
dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu wayang Purwa, wayang Gedhog, dan
wayang Madya. Wayang Purwa berarti wayang awal atau mula-mula,
cerita yang dilakonkan mengambil cerita Hindu yang berasal dari India.
Cerita atau mitos Hindu dibedakan menjadi empat, yakni: Adiparwa,
Arjuna Sasrabahu, Mahabaratha, dan Ramayana. Wayang Madya berarti
tengah, mengambil ceritera tentang silsilah raja Jawa terutama raja
Jayabaya dari Kediri Jawa Timur.
a
Gambar 59. (a) Pertunjukan wayang Bali (sumber: Bali Traveler
Guide, (b) Karakter orang biasa dalam wayang Golek
b
Karakter wayang Purwa dapat diklasifikasikan menurut oposisi
berlawanan, yakni halus x keras, baik x jahat, dewa x raksasa, kesatria x
jahat. Kedua karakter berlawanan ini dapat diidentifikasikan melalui
tampilan fisiknya. Misalnya tokoh keras matanya bulat, tokoh halus
matanya sipit kepala menunduk. Tokoh jahat mulutnya bertaring, tokoh
kesatria tersenyum. Sifat-sifat tokoh yang digambarkan dapat pula dilihat
dari warnanya. Tokoh keras warnanya coklat tua, atau merah, sedang
tokoh halus warnanya kekuningan, dan putih. Secara tradisional wayang
difungsikan untuk melakukan ruwatan atau pembersihan seseorang dari
sial dan kemalangan karena waktu kelahirannya atau kondisi hidupnya,
59
juga pembersihan desa jika dirasa terjadi banyak bencana, hama, dan
wabah penyakit. Biasanya ceritera yang dipentaskan untuk ruwatan
adalah Murwakala. Selain itu wayang juga berfungsi untuk mendidik
masyarakat dalam hal moral dan agama serta sebagai hiburan, sehingga
untuk menjadi seorang dalang harus menguasai berbagai disiplin dan
kemampuan.
3) Keris
Keris memiliki sejarah yang panjang dan penyebarannya tidak hanya di
Jawa, tetapi hampir di seluruh wilayah Indonesia bahkan ke utara hingga
Philipina, dan ke barat hingga Malaysia. Bukti autentik tentang keris
terekam pada relief candi Penataran di Jawa Timur pada abad ke 13 dan
candi Sukuh pada abad ke 15. Keris bagi masyarakat khususnya di Jawa
dan Bali tidak hanya berfungsi sebagai senjata, tetapi juga berfungsi
sebagai pusaka keluarga yang diwariskan secara turun temurun. Pada
zaman kerajaan keris amat penting fungsinya sebagai pusaka kerajaan
dan dianggap memiliki kekuatan ’sakti’ yang melindungi keluarga raja dan
masyarakat.
Menurut Soedarso ada beberapa ciri-ciri keris yaitu: (a) keris terdiri
dari dua bagian yaitu bilah atau badan keris dan pangkal keris disebut
ganja, (b) keris selalu bermata dua atau tajam kedua sisinya, (c) bentuk
keris selalu asimetris, (d) posisi bilah terhadap ganja tidak tegak lurus, (e)
Keris dibuat dengan teknik tempa dari kombinasi beberapa jenis logam.
Jadi menurut kriteria ini, apabila ada senjata di luar kriteria itu bukan
disebut keris.
Selain sebagai benda bertuah, keris juga memiliki nilai seni yang
tinggi. Bentuk keris ada yang bergelombang (luk) dan ada yang lurus
(gb. 59 a, c), bagian ujung bawah (ganja) dekat gagang lebih lebar dari
pada ujung atasanya dan ada yang berhiaskan naga, burung, singa dan
sebagainya. Kadang ada yang diberi hiasan ornamen dengan emas dan
permata. Bahan keris terdiri dari cam-puran berbagai jenis logam seperti
besi, baja, tembaga, nikel ditempa dan dibentuk menjadi satu kesatuan.
Dalam proses pembentukannya logam nikel yang warnanya paling
terang membentuk motif hiasan abstrak yang disebut pamor. Kiranya
pamor terbentuk ketika badan keris ditempa dengan panas yang tinggi
sehingga membentuk motif-motif pamor yang tak terduga sebelumnya,
seperti halnya teknik marbling ketika cat minyak dituang ke dalam air lalu
bentuk catnya ditangkap dengan kertas. Pamor yang didapat dengan
cara ini disebut sebagai pamor tiban, dan ini dipercaya sebagai anugrah
dari Tuhan. Pamor jenis ini antara lain disebut Beras Wutah, Mrutu Sewu,
60
dan Tunggak Sem, sedangkan motif yang sengaja didesain, dibentuk,
dikontrol dan distandarkan bentuknya disebut pamor rekan antara lain
pamor Adeg, Ron Genduru, Ri Ider, dan Naga Rangsang. Sebenarnya
jenis pamor keris jumlahnya ada lebih dari seratus motif. Jenis-jenis
pamor tersebut diyakini masing-masing memiliki kekuatan spiritual
tertentu. Misalnya ada pamor untuk kewibawaan berarti cocok untuk
pemimpin, sedangkan pamor untuk mendapat rezeki cocok untuk
pedagang dan pengusaha. Standarisasi bentuk pamor keris berguna
untuk menentukan tuah dan kegunaannya. Di Bali tuah keris utamanya
dilihat dari hitungan panjang berbanding lebar keris tepat di bagian
tengah antara ujung dan pangkal keris. Lebar keris disebut lumbang rai,
untuk mengukurnya dapat digunakan janur atau tali. Janur dilipat-lipat
sesuai lebar keris dan jumlah hasil lipatan menentukan tuah keris, makna
dari keris yang diukur adalah sebagai tabel 1 berikut.
a b c
Gambar 60. (a) Keris Bali, (b) Gagang Keris Bali (sumber: Bali Traveler Guide), (c) Keris
Jawa (sumber: Keraton Jogjakarta)
61
Tabel 1 . Makna Keris
Sumber : Eiseman
f. Seni Rupa Bali
Bali sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia
memiliki ciri khas tersendiri dalam seni dan budayanya. Berbeda dengan
Jawa dan daerah lainnya, Seni dan budaya tradisi di Bali bagai sebuah
garis lurus yang tidak pernah terputus karena adanya perubahan.
Pengaruh budaya dari luar yang masuk dijadikan sebagai sumber
pengembangan dalam satu nafas bingkai khas Bali. Oleh karenanya
apapun yang masuk ke Bali akan menjadi Bali. Sebagai contoh dalam hal
seni rupa, prinsip-prinsip seni rupa Barat diperkenalkan pada tahun
1930an oleh seniman Belanda dan Jerman yaitu Bonnet dan Walter
Spies, seni rupa asli bukan menjadi pudar malah mengalami
perkembangan pesat karena tumbuh subur seni baru yang mencairkan
kebekuan tradisi. Dengan demikian perlu diketahui dan dipelajari
bagaimana masyarakat / seniman Bali secara alami mengadopsi
No. Jumlah
Lumbang
Rai
Nama Makna / Kegunaan
1. 10 Kala ngamah
awak
Pemiliknya merusak diri sendiri.
2. 11 Durga masiyung Pemilik dan keluarganya men-jadi hina untuk waktu
lama.
3. 12 Lara muwuh Kemiskinan dan kesakitan di-alami oleh
pemiliknya.
4. 13 Bima kosa krana Pemilik keris ini akan mendapat kedamaian dan
keuntungan dalam usahanya, prajurit akan hidup
panjang jika memiliki keris ini.
5. 14 Darmawangsa Keris ini baik dimiliki oleh dukun, dokter, orang
yang se-ring sembahyang, keinginannya selalu
terpenuhi oleh orang lain maupun Tuhan
6. 15 Arjuna sakti Pemilik keris dapat melihat musuhnya yang tidak
kasat mata. Keris ini baik dimiliki oleh kaum
kesatria dan pedagang. Pemilik juga memiliki
banyak teman, jika laki-laki dicintai wanita, apa
yang dikerjakan berhasil, tetap men-dapat
keberuntungan.
7. 16 Suksma angel Pemiliki tidak bahagia, kekuatan keris dapat
membahayakannya.
8. 17 Naga samparna Pemilik mudah mendapat per-tolongan, baik bagi
dukun yang menggunakan pengobatan tradisi-onal.
9. 18 Sesangkep
purna
Baik disimpan di dalam rumah, pemiliknya
disenangi teman dan familiy tidak baik dibawa berpergian.
10. 19 Durga Katemu Tidak baik dibawa bepergian, baik disimpan di
rumah untuk meniadakan masalah. Keris ini dapat
digunakan untuk keperluan yang tidak baik jika
dibawa ke luar rumah.
62
pengaruh budaya dari luar dengan tidak meninggalkan ciri khas yang
telah mengakar dan dimiliki selama berabad-abad.
Seni rupa Bali kuno baru diketahui dari beberapa peninggalan yang
diketemukan antara lain berupa hiasan pada nekara di Desa Pejeng.
Hiasan tersebut berupa garis, bentuk geometris dan muka manusia
mengenakan hiasan telinga (gb.61 dan 62 ) .Selanjutnya perkembangan
seni rupa diperkirakan setelah Agama Hindu berkembang di Bali sekitar
abad ke-8 dengan berdirinya Candi Besakih di lereng Gunung Agung.
Seni rupa berkembang semakin intensif setelah adanya hubungan
kerajaan Bali dan Jawa serta mencapai puncaknya ketika Majapahit meluaskan
kekuasaannya di Bali dengan pusat pemerintahan di Klungkung.
Seni ukir logam dan seni lukis berkembang pesat di Desa Kamasan
Klungkung tidak lepas pula dari peran raja pada waktu itu. Tema-tema
yang dilukiskan menyangkut ajaran-ajaran agama yang banyak diambil
dari epos Mahabaratha dan Ramayana (gb.63a), selain itu adapula yang
berhubungan dengan kehidupan sehari-hari yang disebut reroncodan,
namun tema ini jarang dibuat. Tema lain yang unik adalah mengenai ka
lender yang terdiri dari pelelintangan atau perbintangan, wariga atau tika
yaitu baik buruknya hari, pewatekan mengenai perwatakan seseorang,
dan pelelindon tentang makna gempa bumi.
Agama Hindu memberikan inspirasi kepada para seniman untuk
menciptakan berbagai bentuk seni, oleh sebab itu seni memiliki
Gambar 61. Nakara Pejeng
(sumber: Indonesian Heritage)
63
hubungan yang sangat erat dengan agama. Seni lukis dan patung
misalnya, banyak digunakan dalam kegiatan keagamaan seperti upacara
Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya dan Manusa Yadnya. Seni lukis banyak
digunakan untuk mengilustrasikan perbintangan ( gb.63c), mendidik
moral masyarakat (gb.63d) menghias tempat pura dan istana.
Khusus untuk konsep ruang, di Bali menggunakan klasifikasi dua dan
tiga. Hal ini paling sering dijumpai dalam seni arsitektur, tata ruang desa,
dan tempat tinggal semuanya mengacu kepada manusia sebagai
mikrokosmos. Manusia itu simetris kiri kanan, dan terdiri dari bagian kaki,
badan, dan kepala degan orientasi vertikal. Tempat suci misalnya, ruang
terbagi menjadi tiga, jabaan (ruang bagian luar) sebagai tempat hiburan;
jaba tengah (ruang bagian tengah) tempat peneriamaan tamu, persiapan
ritual; dan jeroan ( ruang bagian dalam) sebagai ruang yang paling suci
berfungsi sebagai tempat sembahyang. Untuk tata ruang desa terdiri dari
palemahan (sawah, ladang, kebun, hutan, binatang), pawongan (tempat
tinggal manusia), parhyangan (tempat suci pemujaan). Orientasi arah
penataan membujur utara – selatan atau timur – barat, utara dan timur
merupakan arah yang suci bagi umat Hindu Dharma dan pertemuan
utara dan timur adalah timur laut sebagai arah yang paling sakral.Utara
dianggap suci, dimungkinkan karena konsep zaman purba bahwa utara
sebagai tempat tinggi, tempat tinggi adalah gunung tempat
bersemayamnya para leluhur dan roh suci. Di Bali digunakan Gunung
Agung sebagai otientasi arah utara. Selanjutnya timur bagi umat Hindu
merupakan pusat alam semesta, mulainya kehidupan karena dari timur
matahari bersinar yang memberi energi bagi kehidupan di bumi.
Demikian konsep pembagian ruang di Bali yang mempengaruhi karya
seni terutama yang berhubungan dengan keagamaan.
Selain itu, ada hal yang berhubungan dengan seni adalah taksu.
Taksu sebenarnya tidak hanya berlaku bagi profesi berkesenian,
fenomena ini dapat berlaku bagi setiap orang. Apabila ia seorang penari,
Gambar 62. Hiasan muka manusia
pada nakara.
64
ketika di atas panggung ia sangat menarik, yang tidak cantik menjadi
nampak cantik, yang lucu menjadi sangat lucu. Jika ia seorang seniman
seni rupa karya-karyanya memiliki bobot, apabila ia seorang politikus
kata-katanya memukau banyak orang ketika berpidato. Jadi taksu
merupakan suatu kekuatan yang ada pada diri seseorang yang dapat
meningkatkan kualitas kinerjanya. Taksu ada yang dibawa sejak lahir,
ada pula yang didapat dengan melakukan treatment spiritual tertentu
(nglakoni) yang dituntun oleh seorang ahli dalam hal itu. Namun,
semuanya itu tergantung pula dari anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Unsur rupa seperti bentuk dan warna dalam seni lukis semuanya
memiliki pedoman yang baku, sehingga penampilan seni lukis ini memiliki
kesamaan (gb. 64) Bentuk karakter tokoh dibedakan menjadi dua yaitu
karakter halus dan karakter keras. Mereka dibedakan secara fisik
terutama dari bentuk mata dan mulut, kedua unsur ini segera dapat
dikenali karena karakter halus digambarkan dengan mata sempit, dan
mulut tersenyum serta warna kulit terang seperti kuning oker atau putih.
Sebaliknya karakter keras digambarkan dengan mata bulat melotot ,
mulut bertaring dan warna kulit coklat tua. Bentuk karakter halus adalah
untuk menggambarkan tokoh kesatria, dan dewa; sedangkan bentuk
karakter keras yang meng-gunakan taring adalah untuk menggambarkan
raksasa dan yang tidak menggunakan taring adalah kesatria seperti
Bima. Penggambaran ini berlaku juga untuk tokoh punakawan, rakyat
biasa, dan binatang. Misalnya punakawan dari pihak kesatria memiliki
mata sipit, sebaliknya punakawan dari pihak raksasa matanya bulat.
Semua bentuk binatang memiliki mata bulat dan binatang buas mulutnya
bertaring.
Seni patung dan relief banyak digunakan dalam menghias pura, amat
jarang dijumpai patung dewa seperti zaman Hindu di Jawa. Tradisi
seperti ini mencair ketika bangsa-bangsa Eropa masuk ke Bali. Mereka
menemukan seni dan budaya masyarakat Bali yang unik dan alamnya
yang indah, sehingga menarik perhatian banyak seniman Eropa
berkunjung ke Bali bahkan menetap dan kawin dengan penduduk
setempat. Di antara seniman yang tertarik dan tinggal di Bali dan peduli
terhadap pengembangan seni dan budaya Bali ialah Walter Spies dari
Jerman dan Rudolf Bonnet dari Belanda, belakangan disusul oleh Arie
Smith. Spies dan Bonnet bersama dengan penguasa di daerah Ubud
Cokorda Gede Agung mendirikan perkumpulan seniman bernama
Pitamaha. Dalam perkumpulan ini Spies dan Bonnet memperkenalkan
materi dan teknik melukis ala Eropa seperti cat minyak, prinsip anatomi
dan perspektif. Dalam perkumpulan itu ada beberapa seniman Bali yang
bergabung di antaranya ialah I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung
Gede Sobrat, I Gusti Ketut Kobot, I Gusti Made Deblog, Ida Bagus Made,
65
a
b
c
d
e
Gambar 63. (a, c,d) Lukisan tradisional Bali (sumber: Koleksi Presiden Soekarno dan Bali Traveler
Guide, (b, e) Patung tradisional Bali penghias pintu gerbang pura (sumber: Bali Traveler Guide)
dan lain-lainnya. Setelah mempelajari konsep berkarya seni rupa ala
Barat, perubahan terjadi dalam tema dan teknik melukis maupun
mematung. Tema melukis yang tadinya hanya menyangkut tentang
keagamaan berubah menjadi tema kehidupan sehari-hari. Pada gambar
(67) Ida Bagus Made menggambarkan seni pertujukan dalam rangka hari
suci di pura, begitu pula Anak Agung Gede Sobrat pada gambar (69)
menggambarkan kegiatan ritual di dalam pura yaitu ketika seorang
pemangku memercikkan air suci tirta kepada orang yang telah selesai
melakukan persembahyangan. Teknik melukis yang dikembangkan
sebenarnya teknik half tone, namun di Bali disebut teknik abur-aburan.
66
a b
c d
e f
g h
Gambar 64. Beberapa bentuk bagian-bagian tubuh tokoh lukisan tradisional Kamasan
Bali: (a, b) bentuk muka karakter halus dan keras; (c,d) bentuk mulut karakter halus
laki-laki dan perempuan, keras dan tua; (e,f) bentuk mata karakter halus laki-laki,
perempuan, keras dan tua; (g,h) bentuk badan karakter halus dan keras. (sumber:
A.Agung Suryahadi).
Gambar 65. Dua bentuk tokoh dalam lukisan wayang Kamasan: (a) Bima sebagai tokoh
kesatria keras, (b) Arjuna sebagai tokoh kesatria halus (sumber: Miguel Cobarrubias).
67
Tahap melukisnya cukup sederhana, pertama membuat sketsa
(ngreka) di atas kanvas dengan pensil, selanjutnya sket dipertebal
dengan tinta menggunakan pena terbuat dari bambu, kegiatan ini disebut
nyawi. Tahap berikutnya adalah menerapkan warna hitam memberikan
tone gelap terang sehingga menimbulkan kesan volume pada obyek
benda dan ruang kedalaman pada ruang negatif. Selanjutnya
memberikan warna pada obyek dan latar belakang, serta memperjelas
kembali tone gelap terang dan terakhir memberikan penekanan dengan
warna putih (highlight) pada bagian-bagian tertentu yang dianggap paling
terang pada obyek disebut nyenter. Berbeda dengan Lempad pada
gambar (68) dan Kobot pada gambar (70), Lempad memiliki ciri khas
karena lukisannya tidak diberi warna, ia masih mempertahankan teknik
melukis tradisional yang disebut sigar mangsi yang sebenarnya adalah
gradasi warna hitam putih. Ia hanya mempertebal garis tepi obyek yang
dilukis, namun tema-temanya sudah menggambarkan kehidupan seharihari.
Kobot masih melukiskan tema keagamaan tetapi teknik melukisnya
adalah teknik abur-aburan. Ciri khas Kobot adalah sedikit menggunakan
A
b
Gambar 66. (a) Walter Spies, Pemandangan
Desa di Bali (sumber: Bali Traveler Guide), (b)
Rudolf Bonnet, Wanita Bali Menghaturkan Sesaji
(sumber: Koleksi Presiden Soekarno).
68
warna dan yang dominan adalah tone hitam putihnya. Teknik melukis ini
kemudian disebut sebagai gaya Ubud yang berkembang hingga saat ini.
Gambar 67. Ida Bagus Made, Seni Pertunjukan, (sumber: Koleksi Presiden Soekarno).
Perkembangan seni lukis terjadi tidak hanya di Ubud, di luar Ubud
juga mengalami perkembangan antara lain di Desa Batuan, Sanur dan
Denpasar. Di Batuan dipelopori oleh I Gusti Wija dan I Nyoman Djata,
Gambar 68. I
Gusti Nyoman
Lempad,
Pedagang Nasi
(sumber:
Indonesian
Heritage).
69
gaya lukisannya agak berbeda dengan Ubud walaupun proses
melukisnya sama. Gaya Batuan bentuk-bentuknya lebih kecil dan tone
hitam lebih kuat. Sebenarnya di Denpasar dan Sanur juga pernah
berkembang seni lukis yang berpijak dari seni lukis tradisional namun
sayang tidak dapat berlanjut. Salah satu tokohnya ialah I Gusti Made
Deblog dengan ciri khas lukisannya hanya menggunakan hitam putih dan
cenderung surealistik.
Gambar 69. Anak Agung Gede Sobrat, Percikan Air Tirta (sumber: Koleksi Presiden
Soekarno)
Seiring dengan berkembangnya seni lukis, dalam bidang seni patung
juga mengalami perkembangan hanya personal yang mengembangkan
tidak sebanyak dalam bidang seni lukis. Di antara tokoh pembaharu seni
patung di Bali yang terkemuka angkatan Pitamaha adalah Ida Bagus
Nyana dan I Nyoman Cokot. Gaya mereka sangat berbeda walaupun
sama-sama berangkat dari seni tradisi dan menggunakan bahan kayu,
hasil akhirnya berbeda. Ida Bagus Nyana mengembangkan seni patung
tradisi dengan menstilasi, memanjangkan bentuk dan tekstur permukaan
patung sangat halus (gb.71a), sedang I Nyoman Cokot memilih kayukayu
dan akarnya yang telah keropos dimakan rayap. Imajinasinya
mengikuti image-image yang timbul dari sosok kayu yang dipahatnya,
serta image Cokot lebih bernafaskan seni patung primitif dan magis
70
dengan tekstur permukaan kasar memberikan ekspresi sangat kuat (gb.
70b ).
Perkembangan seni lukis berikutnya adalah lahirnya gaya Young
Artist. Pada tahun 1960-an, Arie Smith juga seorang seniman lukis dari
Belanda melakukan eksperimen dengan memfasilitasi anak-anak petani
di Desa Panestanan Ubud dengan menyediakan bahan dan alat untuk
melukis. Mereka dibiarkan melukis dengan caranya sendiri, akhirnya lahir
gaya seni lukis baru berbeda dengan gaya ubud sebagai pendahulunya.
Lukisan Young Artist ditandai dengan warna-warna yang segar (gb. 72
b,c) karena intensitasnya tinggi dan bentuk-bentuknya datar dan naif
layaknya bentuk yang dibuat oleh anak-anak pada umumnya. Tema-tema
yang dilukiskan meliputi suasana lingkungan hidup di Bali. Uniknya
Gambar 70. I Gusti
Ketut Kobot, Krisna
Murti (sumber: Koleksi
Presiden Soekarno).
71
walaupun bebas menentukan pilihan teknik dan tema, masih menyimpan
ciri khas Bali.
Periode berikutnya, pada tahun 1960 - 1970 generasi muda Bali
banyak yang melanjutkan ke sekolah-sekolah perguruan tinggi seni di
Bandung, Yogyakarta, dan Denpasar. Hal ini berdampak pada
perkembangan seni rupa di Bali, karena seniman-seniman yang lahir
secara akademis ini diwarnai oleh kebebasan dan kreativitas mencipta
dan estetika tinggi. Ada yang masih menggali ciri-ciri Bali, ada pula yang
lepas bebas sepenuhnya.
a
b
Gambar 71. (a) Ida Bagus Nyana, Seorang wanita dengan binatang kesayangannya, (b) I
Nyoman Cokot, Bubuksah dan Gagang Aking Mengendarai Macan (sumber: Indonesian
Heritage).
Beberapa seniman akademis terkemuka di Bali diantaranya ialah I
Nyoman Gunarsa, I Made Wianta, I Made Jirna, I Nyoman Erawan dan
72
lain-lainnya. Sementara seni lukis Bali modern berkembang sangat cepat,
namun pematung Bali modern tidak sebanyak pematung tradisional,
namun demikian ada pematung Bali terkemuka dan mengerjakan proyek
raksasa Garuda Wisnu Kencana di Nusa Dua Bali ialah I Nyoman Nuarta
tinggal di Bandung memperkuat kasanah seni patung Nasional.
a b
c
Gambar 72. (a) Arie Smith, Pura di Bali, (b) Ketut Soki, Panen Padi, (c) Ketut Tagen, Prosesi.
I Nyoman Gunarsa terkenal karena lukisannya yang ekspresif dengan
spontanitas tinggi. Obyek lukisannya banyak menampilkan seni budaya
73
Bali seperti seni pertunjukkan dan mitos-mitos berasal dari cerita Hindu.
Tema seni pertunjukan banyak melukiskan tentang seni tari (gb.74)
dengan warna-warna ceria. Salah satu tema mitologi yang ia ungkapkan
adalah tentang Kalarahu (gb 6). Mitos ini juga ada di Jawa, yaitu
menyangkut tentang terjadinya gerhana matahari dan bulan.
Kejadiannya merupakan lanjutan dari mitos Pemutaran Gunung Mandara
Giri yang dilakukan oleh para dewa dan rakasasa, tujuannya adalah
untuk mendapatkan air Amerta Kamandalu atau air kehidupan untuk
hidup abadi. Setelah amerta keluar diperbutkan oleh para dewa dan
raksasa yang pada akhirnya dikuasai oleh para dewa. Ketika Dewa Siwa
Gambar 73. I Nyoman Erawan, Bingkai Rusak (sumber:
Katalog Erawan: Pralaya).
74
membagi-bagikan air tersebut kepada para dewa, seorang raksasa
menyelundup dengan berubah wujud menyerupai dewa. Pada saat ia
kebagian amerta diketahui oleh Dewa Surya (Matahari) dan Dewi Ratih
(Bulan) dan melaporkannya kepada Dewa Wisnu, seketika itu senjata
cakranya yang ampuh dilempar dan memenggal kepalanya. Karena
amerta telah sempat diminum hingga tenggorokan kepalanya tetap hidup
dan badanya mati. Sejak itu Kalarahu terus dendam kepada Dewa Surya
dan Dewi Ratih dan selalu mengejarnya, ketika sempat ditangkap dan
ditelannya kedua dewa itu keluar lagi lewat tenggorokannya Kalarahu.
Sebenarnya mitos tersebut sebagai suatu cara menjelaskan tentang
keabadian sang waktu.
Gambar 74. I Nyoman Gunarsa, Dua Penari Bali (foto: Agung Suryahadi )
75
Berbeda dengan Gunarsa yang lukisannya eskpresif dua dimensi,
Erawan terkenal karena kolase dan seni instalasinya. Sejak masa kuliah
ia selalu mencari bahan alternatif untuk melukis misalnya pada gambar
(73) dengan Judul Bingkai Rusak, ia menggunakan bingkai rusak atau
sengaja dirusak dan dibakar untuk mendapatkan kesan artistik. Berbeda
dengan Gunarsa yang lukisannya eskpresif dua dimensi, Erawan terkenal
karena kolase dan seni instalasinya.
g. Potensi yang dimiliki Indonesia dan pengembangannya
Setelah meraih kemerdekaan kini nasib dan masa depan seni dan
budaya Indonesia terletak ditangan bangsa sendiri. Banyak potensi yang
dimiliki baik potensi alam, budaya dan manusia, hanya mampukah
bangsa ini mengelolanya? Oleh karena itu siswa-siswi sekolah seni rupa
dan kriya di masa depan harus dapat mengembangkan kemampuan
kreatifnya dalam menciptakan karya seni dengan menggunakan bahan
lokal dan juga desain yang bertolak dari kekayaan budaya Indonesia.
Sumber daya alam yang memiliki hubungan dengan pengembangan
potensi seni dan budaya adalah hasil hutan berupa kulit dan serat kayu.
Hasil tambang berupa mas, perak tembaga, timah, perunggu, begitu pula
hasil laut berupa mutiara dan kerang dapat dibuat produk perhiasan yang
mahal harganya. Potensi sumber daya alam ini dapat dihambat
’kepunahannya’ jika terlebih dahulu diwujudkan dalam bentuk produk
sebelum diekspor dan nilai tambah serta efek gandanya berlipat untuk
kesejahteraan masyarakat.
E. Seni Rupa Manca Negara
Seni rupa mancanegara yang banyak memberikan pengaruh penting
terhadap seni rupa Indonesia adalah seni rupa India, Cina dan Eropa.
Pengaruh mereka hingga kini masih nampak kuat keberadaannya pada
perkembangan seni di Indonesia. Selain itu seni dan kebudayaan besar
di dunia ada beberapa yang perlu diketahui antara lain seni dan budaya
Mesir, Yunani, Romawi, Jepang, dan Maya di Amerika.
1. Mesir
Seni rupa Mesir Kuno merupakan hasil kebudayaan yang sangat tua
dan termasyur di dunia karena peninggalan berupa piramid dan sphink
hingga saat ini masih menjadi misteri bagaimana manusia 2700 tahun
sebelum Masehi dapat membuat bangunan dengan menggunakan
teknologi yang belum jelas diketahui oleh orang modern. Selain itu
peninggalan seni rupanya juga sangat mengagumkan seperti lukisan,
76
patung, dan relief. Gagasan pembangunan piramid oleh masyarakat
Mesir kuno adalah untuk menyimpan jenazah raja yang meninggal dunia.
Hal ini berkaitan dengan kepercayaan mereka bahwa raja adalah titisan
dewa sehingga ketika meninggal dunia agar arwahnya tetap hidup di
alam akhirat, badan wadagnya harus dipelihara agar tidak rusak dengan
cara dibalsem dan dibungkus dengan kain putih, kemudian diletakkan
dalam peti batu tepat di tengah-tengah piramid. Selain itu tubuh, terutama
Gambar 75. Relief berwarna dengan bahan kayu, menggambarkan Pharaoh
Tutan-Khamen bersama permaisurinya (sumber: Gombrich .)
77
bagian kepalanya, dibuat patung dan diletakkan di atas peti jenazahnya.
Beberapa ciri seni rupa Mesir Kuno adalah penyederhanaan pada bentuk
patung manusia, tidak mengenal perspektif pada lukisannya. Ketika
menggambarkan adegan tokoh-tokohnya terlihat dari samping, tokoh
penting digambarkan lebih besar. Relief-reliefnya pipih dan timbul,
terkadang diberi warna (gb 76 b).
b
c
a
Gambar 76. (a) Mumi, (b) Relief menggambarkan roh
dengan sesajinya, (c) Tempat menyimpan organ dalam
orang yang meninggal (sumber: http://www.google. co.id/
Egypt)
a. Kepercayaan Hidup Setelah Mati
Mengawetkan jenazah merupakan kebutuhan berkaitan dengan kepercayaan
hidup setelah kematian merupakan kepercayaan penting pada
zaman Mesir Kuno, mereka menggangap roh orang meninggal akan
kembali menggunakan raganya suatu saat nati. Pada zaman 3000
Sebelum Masehi saat dimulainya zaman Pharaoh jenazah ditanam dalam
78
kuburan di pasir dengan beberapa sesaji yang sederhana. Panas dan
kekeringan yang bersifat alami mengawetkannya dengan sedikit bantuan
pembalseman. Selanjutnya seiring perkembangan masyarakat, cara
penguburan menjadi lebih meningkat kualitasnya, karena dilakukan
perawatan terhadap jenazah untuk melindunginya dari kehancuran.
Jenazah dibuat mumi dibungkus kain dengan pola dekoratif. Bagian
muka biasanya ditutup dengan topeng dari bahan semacam tanah liat
atau dari bahan logam menyerupai orangnya yang meninggal (gb 76a).
Bagian organ dalam dipisahkan dari tubuhnya dan ditempatkan pada
tempat sejenis tabung dari tanah liat atau batu (gb.76c). Wadah ini disea
b
c
Gambar 77. (a) Kucing sebagai
binatang suci, (b) Burung elang
lambing Dewa Horus, (c) Lukisan
potret di kuburan (sumber:
http://www.google. co.id/ Egypt) .
79
but Canopic Jars ditutupi dengan empat bentuk yaitu: kepala manusia,
kera baboon, elang, dan serigala sebagai lambang empat roh pelindung
yang disebut Empat Putra Horus. Dalam periode tertentu hiasan
pada dinding kuburan, peralatan yang digunakan untuk roh disertakan
dalam pemakaman. Misalnya perahu adalah untuk menyeberangi air di
akhirat.
b. Kuburan Mesir
Banyak yang diketahui tentang hidup dan seni pada zaman Mesir
Kuno dapat dijumpai pada kuburan-kuburan yang dipersiapkan untuk
melindungi jenazah orang yang meninggal. Masyarakat Mesir pada waktu
itu percaya bahwa kehidupan yang akan datang harus dipersiapkan dan
dilengkapi secara detail, sebagai hasilnya kuburan dihiasi dengan
penggambaran orang yang meninggal (gb. 76b) seperti kegiatan selama
hidupnya dan sesaji yang dibutuhkan oleh roh untuk bekal kehidupannya
di akhirat yang terdiri dari berbagai jenis minuman dan makanan dan
pewarna mata untuk melindunginya dari terpaan sinar matahari Mesir
yang panas. Oleh karena roh hidup dalam dunia dewa maka ada standar
sesaji yang dipersembahakan yakni yang serba baik dan suci sesuai
dengan apa dipersembahkan kepada para dewa.
c. Binatang Suci
Dalam kepercayaan agama Mesir Kuno, para dewa diasosiasikan
dengan aspek alam dan kosmos, khususnya yang berhubungan dengan
geografi secara lokal atau episode pengalaman hidup dan mati manusia.
Misalnya Osiris adalah dewa tumbuh-tumbuhan dan fecondity adalah
dewa yang sangat penting dalam kehidupan setelah kematian. Istrinya
Isis adalah kepala mourner dan juga sebagai image keibuan. Beberapa
dewa memiliki binatang diasosiasikan dengan binatang itu dan beberapa
digambarkan dengan sifat binatang. Dewa Thot yang berkepala ibis
sebagai contohnya adalah dewa sastra dan tulisan juga sebagai dewa
bulan. Di antara sekian banyak binatang, kucing (gb. 77a) bagi
masyarakat Mesir Kuno merupakan binatang suci.
2. Yunani
Seni Yunani Kuno, seperti halnya seni zaman Mesir Kuno, juga
merupakan hasil kebudayaan manusia yang sangat tua usianya.
Keberadaaanya diperkirakan telah ada pada abad 7-5 sebelum Masehi.
Kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno merupakan asal muasal
kebudayaan Eropa yang ada saat ini. Kesenian Yunani Kuno dikenal
melalui peninggalan arsitekturnya yang indah dan megah serta patungpatung
realis dengan bentuk anatomi sangat sempurna. Dalam seni rupa
maupun arsitektur hal penting yang menjadi peninggalan zaman Yunani
80
Kuno adalah tentang proporsi bentuk dan pembagian ruang yang disebut
’Proporsi Emas’ atau Golden Section: bahwa perbandingan bagian yang
pendek dengan bagian yang panjang adalah 1 : 1,618. Proporsi ini juga
dijumpai di alam, yakni pada pertumbuhan pepohonan dan pada
pertumbuhan kulit kerang dan juga pada manusia. Proporsi ini hampir
diterapkan dalam setiap karya seni rupa dan arsitektur (gb. 78, 79).
Seni Yunani Kuno dapat dibedakan menjadi beberapa periode, yakni
Geometric, Archaic, Classical dan Hellenistic. Periode Geometric
dimulai sekitar 1000 tahun sebelum Masehi. Pada masa ini pot dihiasi
dengan motif abstrak geometris dan diakhiri dengan motif-motif ketimuran
seperti teratai, bentuk singa, sphinx dan ornamen berkembang semakin
halus. Periode Archaic ditandai dengan produksi patung dan bentuk
berwarna hitam pada pot. Kekuatan niaga didominasi oleh dua kelompok
etnis yakni Corinth dan Athen. Produksi pot keramik mereka dijual
diseluruh daerah di Yunani dan menyebar hingga Spanyol, Ukraina dan
Italia dan mengalahkan produksi daerah lainnya. Warna-warna keramik
pada masa ini dibatasi oleh teknik pembakarannya yang hanya
mendapatkan warna hitam, merah, putih, dan kuning.
Pada seni patungnya sangat dipengaruhi oleh patung Romawi dan
menjadi model patung klasik di kawasan Eropa. Dalam hal bahan
dipengaruhi oleh Mesir dan Mesopotamia yang menggunakan batu
tetapi bentuknya lebih dinamis dibanding patung Mesir. Ada tiga gaya
dalam pengambaran manusia dalam patung yaitu: patung telanjang
berdiri, patung berdiri dengan draperi pada pakaiannya, dan patung
duduk. Semua menggambarkan tentang pemahaman kesempurnaan
dengan ketepatan anatomi bentuk tubuh manusia. Hal ini menjadi subyek
yang sangat pokok dalam kesenian Yunani, melihat bentuk tubuh dewa
sama dengan bentuk tubuh manusia, tidak ada perbedaan antara seni
sakral dan seni sekuler. Oleh karenanya, tubuh manusia dipandang dari
keduanya yaitu suci dan duniawi. Hingga akhirnya masyarakat melarang
Gambar 78. Kuil
Parthenon
(sumber:
Gombrich)
81
penggambaran tubuh wanita telanjang pada abad IV sebelum Masehi
yang menyebabkannya menjadi kurang penting dalam perkembangan
seni patung Yunani.
Patung-patung yang dibuat bukan semata untuk keperluan artistik,
tetapi pembuatannya banyak didasari dari pesanan para bangsawan dan
negara yang digunakan sebagai monumen publik, sebagai persembahan
di tempat suci keagamaan atau sebagai tanda pada kuburan. Patungpatung
tersebut tidak semuanya menggambarkan tokoh individual tetapi
lebih kepada nilai-nilai keindahan, keibaan, penghormatan, dan pengorbanan.
Nilai-nilai tersebut selalu digambarkan dalam bentuk tubuh
pemuda telanjang (kouros/kouroi) walaupun ditempatkan pada kuburan
orang tua. Patung telanjang pemuda (kouros/kouroi) gayanya
hamper sama. Gradasi dalam status sosial digambarkan dengan ukuran
besar kecilnya dibanding nilai artistiknya.
Gambar 79. Pot Bunga Yunani
dengan hiasan geometris
(sumber: Paul Zelanski)
82
Pada zaman klasik (500 tahun sebelum Masehi) terjadi perubahan
besar dalam seni patung Yunani karena diperkenalkannya konsep
demokrasi yang mengakhiri kekuasaan bangsawan yang diasosiasikan
oleh patung kouroi. Pada masa ini terjadi perubahan gaya dan fungsi
patung, teknik menggambarkan posenya berkembang menjadi lebih
naturalistik dengan wujud patung manusia realistik (gb. 80 ). Seni patung
a b
pada masa ini penggunaannya diperluas yaitu digunakan sebagai relief
pada tempat-tempat suci dan pemakaman. Selain itu para filusuf dan
karyanya juga mewarnai pemikiran orang di seluruh dunia hingga saat ini,
antara lain karya Plato, dan Aristoteles. Plato misalnya, menganggap
Gambar 80. (a) Venus dari Milo, abad 1 sebelum Masehi, (b) Prajurit dari Riace,
abad 5 sebelum Masehi (sumber: Paul Zelanski ).
83
bahwa lukisan merupakan tiruan dari tiruan, karena apabila pelukis
melukis meja, meja tersebut sebenarnya merupakan tiruan dari dunia ide
pembuatnya. Jadi menurut pandangan ini pelukis yang melukiskan benda
buatan manusia adalah meniru tiruan dari pembuat awalnya.
3. Romawi
Seni dan budaya Eropa selain didasari oleh kebudayaan Yunani Kuno
juga didasari oleh kebudayaan Romawi yang terkenal karena
kerajaannya sangat agresif dalam melebarkan wilayah kekuasaannya.
Seni budaya Romawi pada awalnya sangat mirip dengan seni Etruscan,
oleh karenanya memiliki hubungan yang dekat dengan seni budaya
Yunani. Seni budaya Romawi menemukan ciri khasnya bersamaan
dengan perkembangan sistem pemerintahannya yang bersifat republic
sekitar 500 tahun sebelum masehi. Masyarakat Romawi sangat senang
dengan seni potret, yaitu penggambaran orang persis seperti aslinya
terutama orang terkenal (gb. 83). Sebaliknya masyarakat Yunani lebih
bersifat idealis yakni menggambarkan manusia secantik mungkin dan
seatletis mungkin bagi laki-laki. Namun masyarakat Romawi lebih
menyukai yang relistik.
Masyarakat Romawi nampaknya memiliki sistem kepercayaan melalui
seni rupanya, bahwa orang yang meninggal dunia dibuat image-nya
seindah mungkin agar arwahnya bahagia sehingga tidak mengganggu
orang yang masih hidup. Oleh karena itu, selama Romawi berbentuk
Gambar 81. Relief patung pada
kubur batu dari Hegeso, abad 5
sebelum Masehi (sumber:
Gombrich).
84
republik, banyak sekali karya seni berupa potret lukisan maupun patung.
Sekitar 200 tahun sebelum masehi Romawi mulai menduduki Yunani,
dan hal ini membuat perubahan dalam gaya seninya. Ketika pasukan
Romawi memasuki Yunani mereka banyak melihat karya seni di tempattempat
pemujaan, di kuburan, di tempat-tempat umum, dan di perumahan
penduduk. Hal ini mempengaruhi pikiran orang Romawi menjadi lebih
ramah dari pada watak aslinya. Akhirnya, apapun yang dikerjakan oleh
orang Yunani, dalam berkesenian orang Romawi ingin memilikinya,
mereka membawa pulang ke Romawi banyak sekali karya seni bangsa
Yunani. Mereka juga membawa pematung Yunani untuk membuat karya
seni di Romawi. Perkembangan kesenian Romawi hingga abad ke 2
Masehi masih meneruskan tradisi potret sebagai pengaruh Yunani (gb.
84).
Seniman Romawi menggunakan seni sebagai propaganda
kekaisaran dan juga ada banyak lukisan dinding yang menghiasi
perumahan (gb.85). Lukisan dinding pada zaman ini diklasifikasikan
menjadi empat macam tipe, pertama berupa fresco pada dinding yang
menyerupai panel marmer. Tipe kedua, seniman mulai menambah
sesuatu pada imitasi marmer tersebut pada lukisan dindingnya berupa
buah-buahan, bunga, dan burung. Tipe ketiga obyek lukisan berkembang
menjadi suasana lengkap pada seluruh dinding seperti orang bercakapcakap
duduk di kursi seakan ada ruang tiga dimensi selain ruang yang
sebenarnya. Tipe keempat adalah variasi kedaerahan yang ada di bawah
kekaisaran Roma yang meliputi seluruh Eropa. Setiap daerah mengembangkan
keseniannya dengan menambahkan gagasan baru berasal
dari Romawi.
Gambar 82.
Colloseum, tahun 80
Masehi (sumber:
Gombrich)
85
Gambar 83. Altar Ara Pacis, Abad ke 2 sebelum Masehi sumber:http://www.google.
co.id/ Roman Art)
Pada abad ketiga sesudah Masehi ada beberapa gagasan baru masuk
kepada seni budaya Romawi. Pertama, akibat perang dengan Jerman,
dalam karya seninya ditambahkan adegan ‘berdarah’ dalam ungkapan
keseniannya yang menggambarkan kepala terpenggal, pemerkosaan
atau penderitaan lainnya. Kedua, dalam hal keteknikan membuat patung
banyak menggunakan drill dibanding pahat seba-gaimana biasanya. Hal
ini disebabkan karena teknik drill lebih mudah dan cepat untuk
membuat patung dan memberikan tampilan yang berbeda dibanding
dengan teknik pahat. Ketiga, perkembangan tema kesenian banyak
menggambarkan tentang roh, mungkin karena banyak mendapat
pengaruh Agama Kristen. Hal ini dapat dilihat dalam penggambaran
orang lebih banyak melihat ke atas, maksudnya ke sorga atau ke dewa,
akibatnya seniman kurang menaruh perhatian dalam menggarap
bagian badan karena dianggap kurang penting, kadang lengan dan kaki
nampak terlalu pendek dan kepala terlalu besar. (gb. 85) Fenomena ini
berlanjut hingga masa jatuhnya kekaisaran Romawi pada abad keempat
Masehi. Selain kesenian, kebudayaan Romawi juga banyak membangun
jalan dari Roma ke daerah jajahannya, membangun tempat pertunjukan,
tempat ibadah, mereka menemukan teknik membuat kubah, teknik
membuat semen dan beton.
86
.
Gambar 84. Patung potret (sumber:
http://www.google.co.id/Roman Art)
Gambar 85. Lukisan dinding tipe ketiga (sumber: http.//www. Google.co.id/
Roman Art).
87
4. Renaissance dan Eropa
Istilah Reanissance muncul pertama kali di Italia pada abad XIV, atau
awal abad XV yang berarti kelahiran kembali. Hal ini muncul ketika
masyarakat Italia pada waktu itu mengagumi karya seni yang dibuat oleh
seniman berupa puisi dan lukisan, mereka menganggap bahwa karya
seni para seniman sebaik karya seni zaman klasik Yunani dan Romawi.
Hal inilah memicu masyarakat Italia untuk menggali kembali nilai-nilai
kebudayaan klasik terutama Romawi yang pernah jaya tetapi dihancurkan
oleh bangsa Jerman dari suku Goths dan Vandal. Dari sinilah
muncul istilah barbar dan vandalisme yang berarti suka merusak sesuatu
yang bernilai baik. Oleh masyarakat Italia, antara zaman kejatuhan
Romawi hingga zaman Renaissance disebut sebagai periode Ghotic.
Perkembangan Renaissance tidak dapat lepas dari perkembangan
perekonomian di kota Florence sebagai pusat kota bisnis. Hal ini
melahirkan banyak keluarga kaya yang memerlukan karya seni untuk
Gambar 86. Dewi Venus muncul
dari laut, abad 4 Masehi
(sumber:http://www.google.co.id/Ro
man Art).
88
membuat istana-istana mereka. Guna melahirkan kembali keunggulan
kedua zaman tersebut para senimannya mempelajari patung dan
arsitekturnya secara cermat terutama prinsip harmoni dan simetrinya.
Zaman ini melahirkan tokoh arsitek bernama Filppo Brunellechi (1377-
1446). Dengan diketemukannya prinsip perspektif, dua tokoh seni lukis
bernama Giotto dan Fran Angelico yang memanfaatkan temuan Brunellechi
untuk diterapkan ke dalam lukisan-lukisannya.
Awal Renaissance juga melahirkan konsep berpikir logis yang tadinya
lebih didominasi dengan cara berpikir religius, walaupun masih melayani
kebutuhan gereja terutama dalam kesenian (arsitektur dan seni rupa).
Pada waktu itu seniman harus menguasai beberapa disiplin ilmu yakni
tata bahasa, ilmu ukur, filosofi, pengobatan, astronomi, perspektif, sejarah,
anatomi, teori desain, dan aritmatik. Maka pada puncaknya zaman
Renaissance tidak mengherankan Itali pada waktu itu melahirkan banyak
seniman genius yang menguasai berbagai disiplin ilmu, antara lain yang
terkenal adalah Michelangelo dan Leonardo da Vinci.
Michelangelo dikagumi karena kepiawaiannya mematung dan melukis.
Ia membuat patung Pieta (gb.87) yang sangat terkenal karena
kesempurnaan teknik, bentuk dan keindahannya dibuat pada waktu
masih berusia 24 tahun. Selain itu karyanya yang mengagumkan adalah
lukisannya yang menghias langit-langit gereja Sistine Chapel (gb. 88),
Gambar 87. Michelangelo, Pieta,
1499 (sumber: Gombrich
89
orang menikmati lukisan ini harus menengadah seakan kejadian religius
tentang nabi Adam dibuang ke Bumi oleh Tuhan terjadi di langit. Menurut
orang menikmati lukisan ini harus menengadah seakan kejadian religius
tentang nabi Adam dibuang ke Bumi oleh Tuhan terjadi di langit. Menurut
pandangannya bahwa badan manusia adalah penjara bagi roh, badannya
harus mencerminkan kesempurnaan sebagai refleksi keilahian roh yang
ada di dalamnya. Ia mengerjakan lukisan tersebut selama berbulan-bulan
dalam posisi berbaring.
Leonardo da Vinci adalah seorang jenius yang menguasai banyak
disiplin ilmu termasuk seni, sehingga ia dianggap sebagai cermin dari
manusia zaman Reanissance. Kejeniusannya membuatnya ia menguasai
ilmu teknik, matematik, musik, puisi, arsitektur, ilmu alam, seni rupa dan
seni patung. Ia secara terus-menerus mempelajari binatang, tumbuhtumbuhan,
anatomi tubuh manusia, gerakan air, peran sinar dan bayang
an dengan tujuan agar dapat memahami tentang alam lebih baik. Di
dalam bidang seni rupa, sketsa-sketsa tubuh manusia sampai saat ini
masih digunakan sebagai acuan oleh para seniman dalam mengungkapkan
anatomi plastis manusia. Dalam mengungkapkan kesan emosional,
dramatis serta fokus perhatian pada lukisannya, Leonardo da
Gambar 88. Michelangelo, Adam di turunkan ke bumi, lukisan langit-langit
Gereja St. Chapel, 1508-1512 (sumber: Gombrich)
90
Vinci menerapkan prinsip chiaroscuro (keseimbangan antara gelap dan
terang). Ia pula yang mengembangkan teknik sfumato (memperlembut
bagian tepi bentuk) untuk mendapatkan kesan kabur yang menghilangkan
efek tajam pada bagian tepi. Salah satu lukisannya yang
terkenal adalah Mona Lisa (gb.89). Seniman seni lukis yang lain dan
terkenal dalam zaman puncak Renaissance adalah Raphael. Lukisannya
mencerminkan harmonisasi antara nafas klasik, reason, dan idealisme.
Pencapaian dan penemuan besar yang terjadi di Italia pada zaman
Renaissance menjadikan daya tarik bagi intelektual dan seniman di lain
negara. Akhirnya etos Reanissance dalam mengembangkan budaya
berdasarkan rasio menyebar ke bagian utara Eropa, antara lain ke
Jerman, Perancis, Spanyol, Hungaria, dan Belanda. Pengaruh Renaissance
tidak hanya pada kesenian, tetapi juga merambah ke bidangbidang
lainnya, antara lain bidang perdagangan, penjelajahan alam, teknologi,
sehingga kerajaan-kerajaan di Eropa melakukan ekspedisi ke luar
Gambar 89. Leonardo da
Vinci, Monalisa, 1502
(sumber: Gombrih)
91
Eropa. Inilah awal dari keinginan bangsa Eropa untuk menjelajahi dunia
dan menaklukkan negeri-negeri yang dikunjunginya.
Perkembangan selanjutnya berdampak pada perkembangan yang
pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi hingga sekarang.
Gambar 90. Jan Van Eyck, Pertunangan Arnolfilni ( sumber: Gombrich)
92
Era Renaissance juga melahirkan seniman-seniman besar di Eropa, dari
Belanda yang menonjol adalah Jan van Eyck bersaudara. Mereka terkenal
karena penemuan cat minyak untuk melukis. Hal ini menjadi perhatian
zaman itu karena pada umumnya pelukis menggunakan cat
tempera dengan medium air sebagai pengencernya. Cat minyak memiliki
beberapa keunggulan karena lebih kuat dan lebih tahan terhadap air dan
kelembaban. Selain van Eyck seniman lainnya dari Eropa adalah Albert
Durer, ia berasal dari Hungaria dan belajar tentang Renaissance di
Gambar 91 . Rembrant, Jan Six ( sumber: Gombrich)
93
Jerman. Kemudian, pada akhir Renaissance dari Belanda muncul
Rembrandt yang terkenal karena mengeksploitasi chiaroscuro untuk
mendapatkan kesan teatrikal dan emosional dalam lukisannya (gb 91).
Hal-hal penting yang perlu diperhatian dalam melukis teknik tradisional
Renaissance adalah: pertama, menekankan kepada penguasaan teknik
menggunakan alat dan bahan untuk mendapatkan image sesempurna
mungkin sesuai dengan apa yang dilihat. Kedua, adalah ketepatan
bentuk baik proporsi di dalam bentuk itu sendiri juga proporsi antara
bentuk dengan bentuk yang digambar. Penerapan chiaroscuro untuk gelap
terang agar memfokuskan perhatian dan suasana dramatik,
selanjutnya adalah teknik sfumato guna mendapatkan kelembutan pada
setiap tepi bentuk yang mendukung pada efek ilusi volumenya.
5. Lahirnya Aliran-Aliran Dalam Seni Rupa
Pada abad ke 17 di Eropa, kaum bangsawan, kelompok menengah
dan gereja sebagai patron bidang kesenian. Seni berkembang mejadi
lebih realistik dan narturalistik serta langsung menyentuh perasaan
pengamatnya, serta ukurannya besar, gaya ini disebut sebagai gaya
Baroque. Di Italia tokohnya dalam seni lukis adalah Caravaggio, Diego
Velazquez, dalam seni patung Gianlorenzo Bernini terkenal dengan
patungnya The Ecstacy of St Teresa. Di belahan Utara Eropa ada pelukis
ternama Paul Rubens dari Antwerp dengan lukisannya The Assumption
of the Virgin, dan di Belanda ada Rembrant terkenal dengan teknik
chiaroscuro dan sfumatonya. Selain dalam bidang seni lukis dan patung,
dalam bidang seni arsitektur juga berkembang pesat, dengan munculnya
orang kaya baru bekerjasama dengan pihak gereja, mereka senang
membuat istana, gereja dan bangunan-bangunan besar yang indah. Akhir
zaman Barocque disebut zaman Racoco, pada zaman ini formalisme
dalam lukisan ditinggal, para seniman berupaya melepaskan diri dari
aturan-aturan akademis dalam membuat komposisi. Ciri dari karya seni
lukis zaman ini adalah suasana gembira tentang keadaan yang indah
dengan manusia-manusia cantik di alam dan komposisi dinamis dari
obyek yang dilukiskan.
a. Neo Klasik
Sebagai reaksi gaya Baroque dan Racoco, muncul pandangan baru
tentang estetika. Dalam seni lukis para seniman berupaya menggali
kembali ide-ide estetik zaman klasik Yunani dan Romawi. Untuk itu
pelukis merekonstruksi bentuk-bentuk patung Yunani dan Romawi ke
dalam lukisannya karena peninggalan lukisan tidak banyak. Maka
lahirlah pandangan baru dalam mengungkapkan gagasan yang disebut
Neo Klasik. Dalam seni lukis dipelopori oleh Jacques-Louis David dengan
94
lukisannya yang terkenal The Oath of the Horatii (gb.94), komposisinya
statis dan suasananya mencekam dengan sedikit menampilkan obyek.
Gambar 92 . Gialorenso Bernini, The Ecstacy of St Teresa
(sumber: Paul Zelanski).
95
Gambar 94. Jacques-Louis David, The Oath of Horatii ( sumber: Paul Zelanski).
Gambar 93. Jeane
Honore Fragonard, The
Swing (sumber: Paul
Zelanski).
96
b. Romantisme
Romatisme lahir juga sebagai reaksi atas kebiasaan mencipta dalam
seni rupa yang mengutamakan emosi dan imajinasi dari pada logika dan
harmoni dari nilai-nilai klasik. Hal ini berbarengan dengan lahirnya paham
Neoklasik, perbedaaanya adalah pada esetetika Neoklasik cenderung
impersonal, sedangkan estetika Romantik lebih menonjolkan perasaan
sendiri ketika melihat suatu suasana atau kejadian atau potensi bahan
yang digunakan. Tokoh-tokoh pelukis aliran ini yang ternama antara lain
John Constable, Turner, dan Theodore Gericault. Constable lebih tertarik
melihat pemandangan pedesaan (gb. 95), Turner tertarik dengan sifat
warna murni yang mempengaruhi emosi, dan Gericault tertarik dengan
kejadian dramatis sehingga melahirkan karya Rakit Medusa yang
terkenal.
Gambar 95 . John Constable, The Haywain (sumber: Gombrich)
97
Gambar 96. Joseph Mallord William Turner, Snow Storm (sumber: Paul Zelanski)
Gambar 97. Gustave Courbet, The Stone Breaker (sumber: Paul Zelanski)
98
c. Realisme
Di Perancis pada sekitar tahun 1850 hingga 1875 ada pendekatan
baru dalam melukis, Sebelumnya seniman hanya mengandalkan
imajinasi dan perasaannya dalam berkarya, pendekatan baru ini
menginginkan pengungkapan kondisi yang nyata dari apa yang dilihat
tanpa tambahan idealisme senimannya. Pelopor gerakan ini adalah
Honore Daumier dan Gustave Courbet terkenal dengan ungkapannya:
“Show me an angle and I’ll paint one”. Hal ini berarti ia ingin melukiskan
kondisi sebenarnya dari apa yang dilihatnya, bahwa keindahan yang di
berikan oleh alam adalah mengatasi semua yang dikerjakan oleh
seniman, hal ini ditunjukan oleh lukisannya dengan judul The Stone
Breaker (gb. 97).
d. Impresionisme
Pada pameran yang diselenggarakan pada tahun 1863 di Salon resmi
di Perancis, lukisan realisme oleh para juri dan kurator akademis
dianggap tidak baik, termasuk lukisannya Eduard Manet yang berjudul
Déjeuner sur l’Herbe . Menurut Manet keindahan lukisan terletak pada
keindahan warna, gelap terang/cahaya, pola, dan brushstroke-nya pada
permukaan kanvas. Pernyataan Manet ini mendapat dukungan dari
seniman lainnya, mereka menolak penggambaran ceritera, dan suasana
realistik. Sebagai gantinya mereka mencari kesan cahaya yang sebentar
menerpa obyek dalam waktu dan kondisi yang berlainan. Pandangan ini
direalisasikan oleh Eduard Manet dengan lukisannya yang terkenal
Rouen Cathedral dan The Haystack (gb.98). Kaum impresionis
mengungkapkan efek cahaya alami terhadap benda.
Gambar 98. Claude Monet, The Haystack (sumber: Paul Zelanski)
99
e. Post-Impresionisme
Paham impresionisme terus berlanjut dan melahirkan paham baru
yang dimotori oleh Cezanne. Ia menolak pandangan sebelumnya
terutama penggunaan perspektif sejak zaman Renaissance dan
pandangan kaum impresionis yang melukiskan kesan cahaya pada
benda, ia ingin mengembangkan seni rupa dua dimensional dari goresan,
ia membuat lapisan-lapisan ruang, bentuk geometris, irama warna, garis
dan bentuk dengan hati-hati menyusun hubungan-hubungan bentuk
dalam bidang lukisan. Dalam sebuah karyanya berjudul Still Life with
Apples, ia berkonsentrasi dalam mendapatkan keindahan melalui
keseimbangan, intensitas warna, kesan kedalaman ruang walaupun ia
melakukan distorsi terhadap obyeknya. Tokoh lain yang terkenal dari
kelompok impresionisme adalah George Seurat, van Gogh dan Gauguin.
Gambar 99 . Paul Cezanne, Still Life With Apples (sumber: Paul Zelanski).
f. Expresionisme
Disebut ekspresionisme karena senimannya menjelajah ke dalam
batin, sehingga apa yang diungkapkan adalah bentuk psikologis dari
senimannya. Hal ini nampak pada karya Edvard Munch dengan judul The
Scream dibuat dengan media campuran cat minyak, pastel dan kasein.
Munch mengungkapkan rasa takut yang dialaminya melalui tarikan garis
100
dan warna bergelombang memenuhi bidang lukisannya. Van Gogh juga
termasuk ekspresionis yang sangat terkenal. Ia lahir di Belanda pada
tahun 1853, putra seorang pendeta. Pada waktu muda ia sangat religius
dan menjadi penghotbah di depan para pekerja tambang di Inggris dan
Belgia. Awal mulanya ia sangat terkesan dengan lukisannya Milet yang
penuh dengan pesan sosial sehingga ia memutuskan untuk menjadi
pelukis. Oleh adiknya Theo yang bekerja sebagai karyawan di Artshop ia
diperkenalkan dengan seorang pelukis impresionis. Selanjutnya ia
memutuskan untuk pergi ke Arles di Perancis Selatan, dengan harapan ia
dapat bekerja dengan tenang. Selama bekerja sebagai pelukis di Arles
hidupnya dibantu oleh adiknya Theo, ia banyak menulis surat kepada
Theo mengukapkan kesulitan hidupnya. Akhirnya setelah setahun ia
frustrasi dan menjadi gila, pada tahun 1889 ia masuk rumah sakit gila
namun ia masih sempat melukis, setelah empat belas bulan dalam
perawatan ia akhirnya bunuh diri dalam usia 38 tahun. Lukisan-lukisannya
yang terkenal saat ini ia kerjakan dalam kurun waktu tiga tahun.
Dalam sebuah surat kepada adiknya, ia mengatakan, bahwa ketika
emosinya sangat kuat ia melukis tanpa menyadari apa yang dibuatnya,
seperti halnya orang menulis surat dengan penuh emosi ia menggoreskan
kuasnya seperti menggoreskan pena di atas kertas menuliskan
kata-kata emosional. Begitu pula kaum ekspresionis melukiskan emo-
Gambar 100 . Edvard
Munch, The Scream
(sumber: Paull
Zelanski).
101
sinya dengan goresan dan warna diiringi oleh ledakan emosi pada
perasaannya. Perhatikan lukisannya dengan judul Starry Night (gb. 101),
ia menggunakan obyek malam hari ketika langit penuh bintang emosinya
meletup tercurahkan menjadi sebuah lukisan dengan tarikan kuas yang
kuat, tegas, bintang-bintang sinarnya berpendar bergulung-gulung
mewakili emosinya yang meledak-ledak.
Di Dresden Jerman pada tahun 1905, kelompok ekspresionis membentuk
Die Bruck ( The Bridge) tokoh-tokohnya adalah Enrst Ludwig
Kirchner, Erich Eckel, Otto Muller dan lain-lainnya. Karya-karya mereka
mengungkapkan tetang kekerasan. Kelompok ini berakhir setelah delapan
tahun, namun telah dapat melahirkan gaya baru dalam seni rupa di
Jerman. Selang beberapa tahun setelah munculnya Die Bruck, pada
tahun 1911 lahir pula kelompok lain di Munich yang bernama The Blaue
Reiter ( The Blue Rider) dipelopori oleh Kandinsky dan Jawlensky.
Kelompok ini banyak mengungkapkan kelesuan dan kemarahan dalam
karya seni rupanya.
Gambar 101. Van Gogh, Stary Naight, (sumber: Belinda Thompson and Michael Howard)
g. Fauvisme
Fauvisme lahir ketika seklompok pelukis dipimpin oleh Matisse
mengadakan pameran pada tahun 1901 di Perancis. Karya lukisan yang
dipamerkan dianggap sangat revolusioner karena pembaharuannya
102
dalam menampilkan konsep estetiknya oleh karena itu kelompok ini
dijulukis le Fauves atau the Wild beast. Mereka meninggalkan semua
konsep deskriptif naturalistik dalam pengunaan warna dan dalam bebera-
Gambar 102 . Henri Matisse, The Red Studio (sumber: Paul Zelanski).
Gambar 103. Andre Derain, The Pool of London (sumber: Paul Zelanski)
103
pa hal juga penggunaan bentuk. Sebaliknya mereka menggunakan
unsur-unsur seni rupa tersebut sebagai unsur atau ekspresi dari esensi
tentang sesuatu, bebas dari asosiasi yang ketat tentang lingkungan yang
dikenal sebagaimana halnya seni lukis realis dan naturalistik. Dengan
demikian mereka memberi warna benda bukan warna benda yang dilihat
sebagaimana pelukis realis dan naturalis, mereka memberi warna-warna
benda sesuai dengan kemauan dan selera mereka dalam menafsirkannya
untuk mencapai harmoni dan kesatuan. Hal ini tercermin dari
karya Matisse dengan judul The Red Studio (gb.102) dan karya Andre
Derain The Pool of London (gb103) . Dalam The Red Studio Matisse
menggunakan warna secara murni dan datar, sebagian dari bentukbentuknya
hanya berupa kontur dengan dominasi warna merah maroon
di seluruh bidang. Berbe-da dengan Andre Derain dalam karyanya The
Pool of London, ia masih terikat dengan perspektif namun sangat bebas
dalam menafsirkan warna. Kelompok ini bubar setelah tiga tahun.
h. Kubisme
Kubisme dikembangkan oleh Picasso dan Georges Braque, sebenarnya
dimulai oleh Cezanne tentang konsepnya dalam memandang obyek
lukisannya, yaitu bahwa bentuk yang kita lihat dapat dikembalikan
kepada bentuk aslinya yaitu bentuk geometris. Pada periode sebelumnya
Picasso mengungkapkan gagasan dalam lukisannya masih terikat dengan
bentuk-bentuk senyatanya, ia hanya berkiprah dalam pembaharuan
warna mengikuti emosi dan perasaannya dalam mengungkapkan
obyek yang diamatinya. Selanjutnya pada tahun 1907 ia terinspirasi oleh
konsep geomaterisnya Cezanne dan bentuk-bentuk stilisasi patung dari
Afrika. Dengan mengkombinasikan kedua hal tersebut ia mengembangkan
gaya seni lukis baru yang disebut kubisme. Kubisme merupakan
seni rupa yang dihasilkan karena studi terhadap seni-seni purba, konsepkonsep
seni tersebut diungkapkan dalam bahasa rupa baru. Salah satu
konsepnya adalah menggambarkan beberapa sudut pandang sekaligus
dalam sebuah lukisan, misalnya pandangan depan, samping dan atas.
Hasilnya memang bukan benda sebagaimana yang dilihat tetapi susunan
unsur-unsur dari obyek benda yang dilukis. Kubisme dibedakan menjadi
Kubisme Analitik cenderung memecah-mecah obyek kemudian menyusun
kembali dalam susunan berbeda serta tidak mementingkan warna
(gb. 104) Kubisme Sintetik merupakan lanutan dari Kubisme Analitik
tetapi lebih memberikan penekanan kepada unsur-unsur rupa seperti
warna dan tekstur. Akibat dari pemecahan obyek dan penyusunan
kembali, lukisan obyek menjadi lain dari penampakan aslinya, inilah salah
satu cara membuat abstraksi terhadap suatu kenyataan obyek.
104
i. Futurisme
Di Italia pada tahun 1910 muncul reaksi oleh kelompok seniman yang
dipelopori oleh Marcel Ducamp terhadap industrialisasi dan perubahan
gaya hidup modern yang serba bergerak dan berubah sangat cepat.
Komsepsi estetiknya adalah berupaya menangkap karakteristik dari
kekuatan, kecepatan dan perubahan dalam kehidupan modern. Hal ini
terungkap secara visual dalam lukisan Duchamp dengan judul Nude
Descending a Staircase (gb. 105). Dalam lukisan tersebut ia mengabstraksikan
obyeknya dan menjajarkannya menjadi suatu rang-kaian
bentuk bagaikan potografi yang menggunakan teknik stop-action waktu
memotret orang bergerak sehingga terekam bentuk gerakannya.
a
b
Gambar 104. (a) Pablo Picasso, Violin and Grapes (sumber: Gombrich), George Braque, The
Portuguese (sumber: Paul Zelanski)
105
j. Seni Abstrak
Pada tahun yang sama dengan perkembangan futurisme, Vassily
Kandinsky pelukis kelahiran Rusia mengembangkan seni lukis dengan
konsepsi abstraksinya, bahwa seni lukis harus bebas dari arti, representasi
naturalistik, dan standar estetik yang bersifat akademis. Ia menggunakan
warna-warna lepas dari asosiasi fenomena bentuk duniawi,
tetapi menggiring pengamat lukisannya kepada realitas spiritual yang
nonmaterial (gb. 107). Tokoh lain yang sangat berpengaruh dalam seni
lukis abstrak adalah Piet Mondrian, proses abstraksinya sangat mudah
dipahami dalam lukisan serial pohon (gb. 106). Seni rupa abstrak adalah
seni yang mengungkapkan intisari atau esensi dari suatu obyek yang
nyata, jadi bukan menggambarkan apa yang kasat mata. Dalam
perkembangan selanjutnya mondrian tidak lagi bertolak dari suatu obyek,
namun betul-betul sepenuhnya murni tanpa obyek dengan lukisan
berupa komposisi warna-warna.
Gambar 105. Marcel Duchamp,
Nude Decending a Staircase
(sumber: Paul Zelanski).
106
a b
c
Gambar 106 . Proses abstraksi Piet Mondrian: (a)
Tree II, (b) The Gray Tree, (c) Flowering Apple
Tree (sumber: Paul Zelanski.
Gambar107. Vassily
Kandinski, Imprvisation
No. 30 (sumber: Paul
Zelanski).
107
k. Abstrak Ekspresionisme
Aliran ini berkembang di Amerika Serikat setelah perang dunia II. Para
eksponennya menolak keterikatan yang ada dalam seni-seni rupa yang
telah ada. Karya mereka menekankan kepada ekspresi spontanitas dari
gerakan tubuh, dan semua ruang dalam kanvas adalah penting. Salah
satu tokohnya yang terkenal adalah Jackson Pollock dan William de
Koning. Khususnya Pollock gaya lukisannya disebut action painting,
karena dalam kegiatan melukisnya Pollock mencipratkan warna di atas
kanvas yang lebar di lantai dengan gerakan seluruh tubuhnya (gb.108).
Gambar 108. Jackson Pollock, No 14 (sumber: Paul Zelanski).
l. Dadisme
Pada tahun 1916 di Zurich Jerman lahir kelompok ekstrim dalam
berkesenian, mereka anti rasional dan anti estetik. Kelompok tersebut
bernama Dada yang tidak memiliki arti beranggotakan seniman seni rupa
dan sastra. Sesuai dengan idenya, kelompok Dada menjungkirbalikkan
nilai-nilai seni yang telah mapan, karya-karyanya kadang-kadang humor
dengan menambahkan sesuatu pada tiruan sebuah karya terkenal,
misalnya lukisan Monalisa diberi kumis, memanfaatkan barang-barang
bekas dan semuanya menentang analisis logika dan kelaziman nilai seni
secara tradisional yaitu estetika yang diciptakan oleh seniman.
108
Gambar 109. Jean Arp,Automatic
Drawing (sumber: Paul Zelanski).
Jean Arp misalnya, untuk menghilangkan keterikatan kepada bentukbentuk
yang telah dikenal, ia menggambar mengikuti gerak tangannya,
sehingga gambarnya diberi judul Automatic Drawing (gb. 109).
m. Surealisme
Perkembangan selanjutnya adalah lahirnya aliran Surealisme dalam
seni rupa di antara masa perang Dunia I dan II. Berlandaskan kepada
teori Sigmund Freud tentang alam bawah sadar, para seniman
menggunakannya sebagai sumber gagasan dalam melahirkan image
yang unik, yaitu apa yang ada jauh di dalam alam pikiran manusia. Untuk
Gambar
110.
Salvador
Dali,
Apparition of
Face and
Fruit-dish an
a Beach
(sumber:
Gombrich)
109
itu para pelukis memanfaatkan bentuk-bentuk nyata menjadi bentukbentuk
dalam mimpi yang tidak logis. Surealism sebenarnya akronim dari
Super-realism, sebab apa yang diungkapkan dalam lukisan merupakan
hal-hal diluar kenyataan. Bagi kaum surealis seni tidak dapat diciptakan
ketika kita berada dalam pikiran sadar dan logis dengan berbagai bentuk
reasoning, seni yang baik dapat lahir dari alam bawah sadar manusia
yang tidak logis tanpa reasoning. Tokoh-tokoh surealisme yang terkenal
antara lain Salvador Dali dan Max Ernst.
n. Pop Art
Kata Pop Art merujuk kepada suatu perkembangan gaya seni modern
antara 1956 dan 1966 di London Inggris dan berimbas ke New York di
Amerika. Dalam perkembangannya Pop Art memiliki tiga karakteristik
utama yaitu, pertama, Pop Art adalah figuratif dan realis. Kedua, Pop Art
lahir di lingkungan perkotaan dan melihat kepada apa yang ada di
lingkungan tersebut. Oleh karena itu para seniman menggunakan bahanbahan
dari obyek yang sedang populer di masyarakat perkotaan
khususnya yang berbau komersial seperti komik, kartun, gambar majalah,
iklan, kemasan dalam berbagai jenisnya kaleng minuman, barang-barang
bekas; dunia pertunjukan pop termasuk film Hollywood, musik pop, radio,
televisi dansebagainya. Ketiga, seniman pop yang menggunakan bahanbahan
tersebut dengan cara sedemikian rupa, memilih bahan yang belum
pernah digunakan sebelumnya untuk menarik perhatian pengamat.
a
b
Gambar 111. (a) Andy Warhol, Green Coca-Cola Bottles, (b) Roy Lichtenstein, Roto Broil
(sumber: Simon Wilson)
110
o. Realisme Baru
Dalam hingar-bingar perkembangan seni rupa kontemporer terutama
seni abstrak, beberapa seniman kembali kepada seni dengan garapan
yang lebih realistik terhadap obyek-obyek nyata tetapi bukan yang
tradisional. Mereka melakukan eksplorasi terhadap obyek-obyek industri
seperti toko, restoran, mobil, manusia dengan ciri-ciri khusus. Ungkapan
bentuk-bentuknya menjadi super-realistik dengan keterampilan teknik dan
kecermatan yang tinggi sehingga mirip hasil fotografi. Untuk mendapatkan
teknik melukis realisnya seniman menggunakan alat-alat teknologi
seperti proyektor untuk membuat sketsa dari obyek yang digambar agar
mendapatkan akurasi bentuknya.
Gambar 112 . Bill Martin, Abalone Shell (sumber: Paul Zelanski).
p. Seni Instalasi
Konsep seni pada saat ini terus berkembang, apapun yang dikatakan
dan dihasilkan oleh seniman dapat dipandang sebagai seni; museum dan
galeri tidak lagi hanya memamerkan lukisan dan patung, tetapi suatu
desain tiga dimensi yang dipasang hanya untuk beberapa waktu
kemudian dibongkar. Selain itu ada pula yang memanfaatkan lingkungan
alam, gedung, benda-benda yang ada dalam kehidupan manusia
dibungkus dengan kain, ada pula lingkungan alam dibentuk atau diberi
asesoris dengan benda-benda yang telah ada dalam skala besar. Seni
rupa yang demikian disebut seni instalasi. Instalasi berasal dari bahasa
Inggris installation yang berarti memasang, menyatukan dan mengkon111
Gambar 113 . Christo, Running Fence (sumber: Paul Zelanski)
konstruksikan. Dalam kegiatannya seni instalasi memasang,
menyatukan, dan mengkontruksi sejumlah benda yang dianggap bisa
merujuk pada suatu konteks kesadaran makna tertentu. Biasanya makna
dalam persoalan-persoalan sosial-politik, diangkat dalam konsep seni
instalasi ini. Dalam kontek visual merupakan perupaan yang menyajikan
visual tiga dimensional yang memperhitungkan elemen-elemen ruang,
waktu, suara, cahaya, gerak dan interaksi spektator (pengunjung
pameran) sebagai konsepsi akhir dari olah rupa (Wikipedia Indonesia).
Tujuan dari seni instalasi ini ada berbagai macam, misalnya untuk
112
menghilangkan kejenuhan dengan kegiatan seni rupa konvensional, ada
pula yang menginginkan kejutan, dan ketakjuban dengan sesuatu yang
aneh dan mencengangkan. Christo misalnya ia tidak segan-segan
membungkus tebing karang di tepi pantai, membungkus gedung-gedung
besar, dan pada gambar 113, ia membuat pagar dengan kain berkilo-kilo
meter panjangnya di gurun pasir. Membuat seni instalasi memberikan
ruang kebebasan lebih kepada seniman, tidak terikat dengan kaidahkaidah
estetik yang biasanya digeluti, ada semacam pelepasan
kepenatan dengan kegiatan rutinitas berkarya seni yang melelahkan.
Kegiatan seni instalasi juga memberikan peluang kepada seniman untuk
melakukan eksplorasi terhadap kemampuan kreativitasnya menggunakan
bahan-bahan seni rupa yang inkonvensional dengan memanfaatkan
berbagai jenis media yang diketemukan dalam kehidupan sehari-hari
sebagaimana halnya pada gambar 301 a dan b.
5. India
Seni India sama halnya dengan seni Yunani dan Romawi yang
memiliki sejarah panjang. Sejarah kebudayaan India mulai terungkap dari
peninggalan kota kuno Harappa dan Mahenjodaro. Dari peninggalan
tersebut diketahui bahwa bangsa India kuno telah memiliki seni dan kebudayaan
yang tinggi.
Gambar 114. Relief-relief dari kota kuno Mahenjodaro (sumber: )
http://www.google. co.id/ Indian Art and Philoshopy)
113
Dari kota Mahenjodaro diketemukan patung wanita (gb.115) menari
dengan anatomi yang jelas dan juga pada bentuk-bentuk patung
binatangnya. Seni klasik India sangat kental dipengaruhi oleh filosofi
agama Hindu sehingga tercermin dalam setiap jenis seni terutama seni
arsitektur, patung, relief dan seni lukisnya. Seni India muncul dan
berhubungan erat dengan ritual seperti memuja dewa, mengusir
kekuatan negatif, kelahiran dan kematian; dari pengucapan mantra menimbulkan
gerakan (mudra); dari gerakan, obyek dan peralatan
digunakan untuk persembahan berupa sesaji dan susunannya menimbulkan
keindahan. Kebutuhan untuk ruang sakral melahirkan tempat
pemujaan (bangunan candi) dan yantra sebagai fokus peribadatan,
simbol dan icon merupakan kekuatan dewata.
Gambar 115. Patung wanita di
reruntuhan kota kuno
mahenjodaro (sumber:
http://www. Google.co.id/Indian
Art and Philosophy).
114
Perkembangan seni India sangat dipengaruhi oleh filosofi di antaranya
aliran Tantra, yakni suatu aliran filosofi keagamaan yang memandang
bahwa manusia sebagai micro cosmos sama dengan alam semesta atau
macro cosmos. Jagat kecil ada dalam jagat besar dan jagat besar ada
dalam jagat kecil. Jagat besar mempengaruhi kehidupan jagat kecil
sebagai individu. Mahluk individu dan mahluk universal adalah satu. Jadi
semua yang ada dalam alam raya juga ada dalam alam individu. Guna
mendapatkan hubungan antara kedua alam tersebut dalam ajaran Tantra
divisualisasikan menjadi simbol yang dapat dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu: (a) bentuk-bentuk geometri sebagai representasi dewa disebut
yantra, (b) representasi tubuh manusia sebagai simbol alam semesta,
dan (c) bentuk-bentuk ikonografi.
Yantra berasal dari kata Sanskrit yam berarti memegang, mempertahankan.
Dalam kegiatan yoga meditasi digunakan sebagai media
untuk konsentrasi pikiran. Yantra disusun dari bentuk-bentuk geometris
seperti lingkaran, segitiga, segiempat sebagai simbol psikologis kesadaran
manusia. Prinsipnya adalah bentuk yang sama berasal dari satu
titik disusun secara berulang, bertautan dan mengembang ke luar dari
titik pusat. Penggunaannya adalah ketika sang meditator melakukan
Gambar 116. Yantra segitiga Mahejodaro
(sumber: http://www.google. co.id/ Indian Art
and hilosophy)
115
meditasi, penglihatan ditujukan kepada titik pusat yantra. Tujuannya
adalah untuk memusatkan pikiran dan pada level tertentu sang meditator
mengalami efek psikologis, pikirannya lebur dengan titik pusat
pandangan. Hal ini diyakini berdampak kepada kekuatan konsentrasi
pikiran yang digunakan dalam berbagai keperluan yang bersifat spiritual.
Gambar 117 . Yantra segiempat di dalamnya yantra lingkran berwujud teratai
Mahejodaro (sumber: http://www.google. co.id/ Indian Art and hilosophy)
.
Setiap bentuk memiliki makna yang berbeda, bentuk segitiga berarti
tiga hal yang universal, seperti penciptaan, pemeliharaan dan peleburan;
masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Ketika digunakan untuk
yantra segitiga digunakan dapat berdiri atau terbalik, segitiga berdiri
melambangkan maskulin sedang segitiga sebaliknya adalah feminim.
Bentuk lingkaran mengandung makna keabadian karena sifat lingkaran
tidak ada ujungnya, ketika digunakan sebagai yantra biasanya
ditempatkan di tengah segiempat. Selanjutnya segi empat melambangkan
totalitas arah mata angin yang menyatukan bumi dalam
keteraturan. Segi empat memiliki empat pintu pada setiap arah dan
dikenal sebagai pintu kosmik yang melambangkan jalan dari alam
duniawi ke alam spiritual yang suci dalam yantra. Ke empat pintu tersebut
dijaga oleh kekuatan dewata yang menjaga kesucian yang ada di dalam
dari intervensi kekuatan negatif.
116
Dalam pandangan Hindu, khususnya ajaran Tantra, tubuh manusia
merupakan miniatur alam semesta oleh karenanya apa yang terjadi di
alam semesta juga terefleksi dalam tubuh manusia secara fisik dan
psikologis. Siapa yang mengetahui kebenaran yang ada dalam tubuh
manusia akan mengetahui kebenaran yang ada di alam semesta. Untuk
itu, ada dua hal penting yang dipelajari mengenai konsep tubuh manusia
sebagai microcosmos adalah tentang cakra dan kundalini. Cakra adalah
tujuh titik pusat energi utama yang ada dalam tubuh manusia terletak di
sepanjang tulang punggung mulai dari bawah di antara kemaluan dan
anus. Cakra berurutan ke atas hingga ubun-ubun, sedangkan kundalini
merupakan energi kosmos yang terletak pada cakra paling bawah. Dalam
ajaran Tantra kedua hal inilah menjadi pusat perhatian dalam meditasi
untuk dapat didayagunakan. Orang yang telah menguasainya diyakini
mampu menyatu dengan alam semesta sesuai dengan kemauannya.
.
Dalam penciptaan karya seni yang bersifat religius tidak boleh keluar
dari pedoman yang telah ada karena simbol yang dibuat merupakan
wujud standar secara spiritual. Kemampuan kreatif seniman merupakan
Gambar 118. Patung
Dewa Siwa sebagai
dewa tertinggi dalam
sekte Siwa dalam
Agama Hindu
Mahejodaro (sumber:
http://www.google.
co.id/ Indian Art and
hilosophy)
117
bagian dari ekspresi kolektif secara keseluruhan. Dalam membuat patung
seorang dewa dengan banyak tangan merupakan simbolisasi dari
kekuasaanNya (gb.118), selanjutnya ada standar yang yang harus
dikuasai oleh seniman, antara lain sebagai berikut:
a. Pengetahuan tentang batu,
b. Struktur komposisi,
c. Teknik mengukir batu,
d. Susunan unsur-unsur patung,
e. Representasi karakter,
f. Kesatuan dari bagian-bagian.
6. Cina
Seni sebagai bagian dari kebudayaan Cina usianya sudah sangat tua.
Periodesasinya dibagi berdasarkan dinasti yang memerintah. Seni Cina
sangat dipengaruhi oleh para filusuf, guru spiritual, dan juga pemimpin
politik. Bentuk awal seni Cina pada Zaman Batu Baru adalah berupa
gerabah dan batu giok, kemudian berkembang menggunakan bahan
perunggu pada zaman Dinasti Song. Selanjutnya, penggunaan bahan
kayu dan bambu dimulai sekitar abad pertama Masehi bersamaan
dengan masuknya ajaran Budha yang baru populer pada abad ke 4
Masehi, pada zaman itu pula diperkenalkan porselin.
Gambar 119. Ornamen kembang dengan bahan batu giok
Dinasti Jin , 1115-1234 Masehi (sumber: http://www.google.
co.id/ Chinese Art)
118
Perkembangan agama Budha di Cina berlangsung hingga abad ke-8
Masehi. Pada zaman imperial, seni kaligrafi dan lukisan sangat dihargai
di lingkungan istana, yang dibuat di atas kain sutra dan berlangsung
hingga diketemukannya bahan dari kertas. Pada zaman dinasti Tang,
sangat terbuka dengan pengaruh kesenian dari luar, sehingga patungpatung
Cina pada zaman ini banyak dipengaruhi oleh patung India zaman
Gupta untuk mendukung ajaran Taoisme.
Pada dinasti Song seni lukis mengalami perkembangan pesat dengan
ekspresi lembut pada lukisan-lukisan pemandangannya. Nampak bentukbentuk
gunung diberi kontur yang kabur untuk memberi kesan kejauhan.
Dalam zaman inilah penekanan pada lukisan terletak pada nilai-nilai
spiritual dibanding nilai emosional.
Pada dinasti Song seni lukis mengalami perkembangan pesat dengan
ekspresi lembut pada lukisan-lukisan pemandangannya. Nampak bentukbentuk
gunung diberi kontur yang kabur untuk memberi kesan kejauhan.
Gambar 120. Patung
Bodhisatwa dari Dinasti
Song, 960-1279 Masehi
(sumber: http://www.
Google.co.id/Chinese
Art)
119
Dalam zaman inilah penekanan pada lukisan terletak pada nilai-nilai
spiritual dibanding nilai emosional.
Pada periode selanjutnya ditandai oleh dua dinasti yang kuat yaitu
Dinasti Ming dan Qing. Seni rupa pada Dinasti Ming perkembangannya
terletak pada penyempurnaan pewarnaan lukisan dibanding dengan
lukisan pada Dinasti Song. Pada Dinasti Qing yang berkembang pesat
adalah seni opera. Atas usaha seorang ahli dari Sekolah Shanghai, seni
tradisional China mencapai klimaksnya kembali dalam bidang seni lukis.
Usahanya itu adalah pengembangan teknik melukis tradisional dan
menghargai hasil-hasil karya masterpiece kuno.
a b
Gambar 121. (a) Wang Hui, Puncak-puncak gunung, (b)Gao Kogong,
Bebukitan dan Awan, 1270-1310 Masehi (sumber:
http://www.google.co.id/Chinese Art.).
120
Salah satu prinsip yang diajarkan dalam seni rupa Cina kuno, adalah
bagi seorang seniman agar menjadi kreatif ia harus melatih batinnya
melakukan konsentrasi karena seni tidak dapat dipisahkan dengan
spiritualisme. Hal ini berhubungan dengan ajaran Taoisme yang berarti
jalan yang menyimpan banyak rahasia, sumber kreativitas, sumber
kehidupan yang berada di lubuk hati yang paling dalam. Ajaran lainnya
dari guru spiritual Cina Konfusius, adalah pengandaian seniman seperti
halnya kertas putih sebelum diberikan warna ke atasnya. Sama halnya
dengan seniman, ia harus putih sebelum mulai berkarya. Maksud yang
lebih jauh adalah mungkin sang guru mengharapkan seniman jika ingin
mendapat sesuatu yang murni ia harus melepas semua yang ada
dibenaknya, sehingga gagasan orisinal menampakkan dirinya. Ada
beberapa ciri unik dari lukisan Cina klasik yaitu spontanitas goresan cat
air, sebagaimana halnya lukisan Jepang. Terkadang ukurannya memanjang
ke bawah sebagaimana terlihat pada gambar (98a). Bentuk baru
seni rupa Cina dipengaruhi oleh gerakan kebudayaan baru, dengan
mengadopsi teknik Barat yang menggunakan cat minyak dan mengangkat
tema-tema realisme sosialis.
7. Jepang
Seni dan budaya Jepang tidak dapat lepas dari pengaruh budaya luar
Jepang. Sejak zaman prasejarah ada beberapa gelombang budaya luar
masuk dan mempengaruhinya. Gelombang pertama bangsa yang mendiami
Jepang disebut bangsa Jomon kira-kira 11000 – 300 tahun sebelum
Masehi. Mereka masih hidup dengan berburu, bertani tetapi
nomaden, namun telah dapat membuat tempat berteduh, membuat gerabah
dan manik-manik dari batu kristal yang disebut dogu. Gelombang
kedua masuk bangsa Yayoi kira-kira 350 tahun sebelum Masehi, peninggalannya
pertama kali diketemukan di daerahTokyo. Mereka sudah mampu
menanam padi, membuat senjata dari tembaga, dan genta dari
perunggu disebut dotaku serta membuat keramik dengan teknik bakar di
dalam tungku. Gelombang ketiga yang masuk ke Jepang adalah bangsa
Kofu atau Tumulus kira-kira pada tahun 250 – 552 Masehi. Ketiga suku
bangsa yang mendiami Jepang kemudian membuat pemerintahan, karya
seni mereka terbuat dari kombinasi perunggu dengan cermin, sebagai
lambang aliansi dan patung tanah liat yang disebut haniwa ditempatkan
dekat kuburan.
Sama halnya dengan Cina, kesenian Jepang juga memiliki sejarah
yang panjang. Dalam perkembangannya, pengaruh Agama Budha sangat
kuat, sebagai gelombang keempat dimulai sekitar abad ke-7 – ke-8
Masehi dalam satu doktrinnya yang berkaitan dengan seni yaitu: Zen
langsung menuju ke dalam hati manusia, lihat sifat aslimu dan kamu akan
menjadi Budha”. Kemudian pada abad ke-9 Jepang mulai menjauh dari
Cina dan mengembangkan bentuk keseniannya sendiri sehingga seni
121
yang bersifat sekuler dan religius berkembang sangat pesat hingga akhir
abad ke-15. Pada tahun 1467 – 1477 Jepang mengalami krisis politik,
ekonomi, dan social dan berlangsung lebih kurang satu abad. Kemudian
dalam kepemimpinan Kaisar Tokugawa Shogunate peran agama banyak
berkurang dalam kehidupan masyarakat. Seni menjadi sangat sekuler
a
b
Gambar 122. (a) Patung Keramik, (b) Umataka zaman pemerintahan bangsa Jomon
(sumber: Joan Stanley Baker).
yakni digunakan dan dinikmati dalam kehidupan sehari-hari untuk
memenuhi kebutuhan manusia terhadap keindahan yang sifatnya sangat
duniawi. Namun demikian pengaruh meditasi Zen Budisme dalam seni
lukis nampak banyak ruang kosong terungkapkan dalam lukisan,
mungkin kekosongan tersebut merupakan refleksi dari kegiatan meditasi
yang memang mencari kekosongan pikiran secara psikologis untuk
mendapatkan keheningan dan kejernihan pikiran. Hal ini juga mungkin
mempengaruhi seni taman Jepang yang memiliki ciri khas sangat kuat.
Menulis dengan kuas merupakan kebiasaan yang telah mentradisi, hal
ini menyebabkan masyarakat sangat sensitif terhadap nilai estetik suatu
122
lukisan. Seni kaligrafi Jepang dan Cina begitu pula lukisannya memiliki
kesamaan nafas. Lukisan tradisinya mengutamakan spontanitas dalam
menggunakan kuas dengan media tinta hitam maupun cat air menjadi
ciri khusus yang tidak dapat ditandingi oleh tradisi seni lukis lainnya di
dunia. Dalam seni rupa, selain tradisi melukis, pada periode Edo tahun
1603, muncul pula seni tradsional lainnya yaitu teknik cetak kayu sebagai
suatu teknik berekspresi yang sangat popular di kalangan seniman dan
menghasilkan hasil cetak warna-warni yang sangat indah. Salah seorang
a
b
Gambar 123. (a) Dotaku genta perunggu zaman Yayoi, (b) Haniwa patung petani
membawa bajak dari bahan gerabah (sumber: Joan Stanley Baker).
seniman yang terkenal pada zaman Edo ialah Kano Tanyu cucu dari
seniman terkenal Eitoku Kano. Ia banyak melukis untuk istana di Kyoto
123
dan Nagoya. Salah satu lukisannya yang terkenal berjudul Menangkap
Ikan Malam hari dengan Burung Pemangsa, lukisannya dibuat di atas
enam buah panel besar.
Seni patung Jepang mendapat pengaruh kuat dari seni patung Cina,
pada tahun 1183 seniman patung Cina diboyong ke Jepang untuk
merestorasi kepala patung Budha yang rusak di Todaiji. Untuk mengerjakannya
ia banyak dibantu oleh seniman patung Jepang dan diselesaikan
dalam beberapa generasi. Kedatangan seniman patung Cina
banyak meninggalkan pengaruh kepada seniman patung Jepang terutama
dalam meningkatkan nafas realisme dan penyederhanaannya.
Seni tradisional Jepang lainnya yang menonjol di dunia adalah seni
pertamanan yang juga tidak ada yang menandingi keindahannya, karena
memanfaatkan keindahan karakter alami batu, karang, pasir,
rumput, pohon, dan air termasuk juga gemerisiknya angin yang menerpa
pepohonan. Seperti nampak dalam gambar 126 kolam dibelah dengan
jalan setapak kemudian disambung dengan steping stone. Semuanya
dibuat dengan meniru alam dengan cermat, sehingga dapat memberikan
Gambar 124. Hakui Ekaku, Kaligrafi
Bodidarma, abad 17 (sumber:
http://www.google.co.id/Japanese
Art)
124
suasana seakan kita berada di alam yang sesungguhnya. Padahal kita
sedang berada di dalam karya seni yang dapat kita alami secara nyata.
Unsur-unsurnya dapat kita sentuh dan orang yang masuk ke taman juga
dapat berperan sebagai unsur karya seni.
Pada taman Ryoanji (gb.127) karena taman ini merupakan tempat suci,
maka pengaruh Zen tentang ketenteraman nampak pada keluasan
halaman dengan hamparan pasir putih bergaris-garis yang sengaja
dibuat dengan alat menyerupai garpu dalam proses pembentukannya..
Dengan taman diatur seperti itu berarti lingkungan dapat digunakan
sebagai media berkarya seni. Taman juga biasanya didukung oleh seni
bonsai, yaitu pengerdilan pohon yang menyebar saat ini ke seluruh dunia.
Gelombang terakhir dari kebudayaan luar mempengaruhi Jepang
adalah kebudayaan Barat pada tahun 1867 yang terkenal dengan zaman
Meiji yang terkenal dengan masa Restorasi Meiji. Era ini merupakan era
keterbukaan bagi Jepang untuk menyerap teknologi Barat. Oleh karenanya
banyak pemuda-pemuda Jepang di kirim ke Eropa untuk mempelajari
budaya Eropa terutama teknologinya. Dalam perkembangan selanjutnya
Gambar 125. Toshusai
Sharaku, Otani Oniji II,
1794, teknik cetak
warna.
125
Jepang dapat mengejar ketertinggalan teknologi dari Eropa dan saat ini
berkembang sangat pesat serta dalam beberapa hal dapat mengungguli
Eropa dan Amerika.
Gambar 126. Taman
Istana Katsura,
Kyoto, dari periode
Edo, (sumber: Paul
Zelanski.
Gambar 127. Taman Ryoanji (sumber: Paul Zelanski).
Pengetahuan alat dan bahan dalam bidang seni rupa sangat
penting bagi perupa, sebab tanpa pengetahuan tentang karaker
bahan dan cara menggunakannya mustahil seorang perupa dapat
membuat karya seni rupa yang baik. Oleh sebab itu pemahaman dan
keterampilan menggunakan alat dan bahan merupakan salah satu
yang harus dikuasai oleh seorang perupa jika hendak menghasilkan
karya yang baik.
A. Alat dan Bahan Seni Rupa Dua Dimensi
Sesuatu yang dapat membuat tanda goresan dapat dikatakan
sebagai media atau alat untuk menggambar. Ada banyak sekali jenis alat
dan bahan menggambar. Pada bab sebelumnya telah dibahas beberapa
jenis alat dan bahan untuk membuat karya dua dimensi, jenis dan alat
tersebut hampir sama dengan alat dan bahan untuk menggambar. Oleh
karena itu pada bagian ini akan dibahas yang belum terbahas
sebelumnya. Perlu pula diingat bahwa dalam kegiatan menggambar tidak
boleh lepas dari percobaan secara individu untuk mendapatkan alat dan
bahan yang cocok dengan kemampuan dan kesenangan masing-masing.
1. Pena
Penggunaan pena untuk kegiatan menggambar telah dimulai sejak
abad pertengahan. Garis yang dihasilkan oleh pena bervariasi
ketebalannya dan ini tergantung pula dari jenis dan bentuknya. Garis
yang dihasilkan pena lebih kuat dan pasti dibanding garis yang dihasilkan
oleh pensil. Ada beberapa jenis pena, baik yang dapat dibuat sendiri
maupun yang dapat dibeli di toko, dan kualitasnya pun bervariasi.
a. Pena bambu, pena ini tidak perlu dibeli di toko karena dapat dibuat
dan diatur sendiri bentuk ketebalan ujungnya yang menghasilkan
goresan. Biasanya pena ini dibuat dari jenis batang barnbu kecil. Ambil
batang atau ranting bambu yang kecil dan lurus, lalu potong menjadi
ukuran 20 cm. Kemudian ujungnya dibuat runcing atau pipih tergantung
dari tebal tipisnya garis yang diinginkan. Kelemahan pena ini tidak dapat
menyimpan tinta sehingga dalam penggunaannya harus sering
dicelupkan ke tinta agar dapat membuat goresan dengan terus menerus.
b. Pena bulu, pena bulu yang baik apabila bulu itu memang sudah lepas
dari binatangnya (ayam, angsa, bebek, merak dan sebagainya), karena
sudah cukup kerasa. Garis yang dihasilkan dengan pena bulu sangat
127
jelas dan indah, sehingga jenis pena ini sering digunakan untuk menulis
indah.
c. Pena Batang, seperti halnya pena bambu, pena batang ini juga,
berasal dari ranting atau batang pohon, tidak ada pohon yang khusus
untuk ini. Ambil sebatang ranting pohon, kemudian potong menjadi 20 cm
lalu raut ujungnya sesuai dengan tebal tipisnya garis yang diinginkan.
Pena batang ini lebih lembut dibanding pena bambu. Dalam
penggunaannya juga harus sering dicelupkan ke dalam tinta.
d. Pena Logam, pena
logam sudah umum digunakan
dan dapat dibeli di
toko. Tebal tipisnya garis
yang dihasilkan tergantung
dari bentuk ujung
penanya. Keunggulan jenis
pena ini dapat menggaris
lebih lancar dan
menyimpan tinta sehingga
tidak terlalu sering mencelupkannya
ke dalam tinta.
Gambar 128.
Jenis pena bulu,
pena logam, pena
batang, pena bambu.
a
b
Gambar 129. (a) Tarzan (sumber: Burne Hogarth ),(b) Albrecht Durrer, pillows (sumber: Colin
Saxton, Art School)
128
2. Kuas
Kuas merupakan alat pokok dalam menggambar, selain pena dan
pensil. Mutu kuas ditentukan oleh mutu bulunya dan teknik
mencengkeramkan pada gagangnya. Bentuk goresan yang dihasilkan
ditentukan oleh bentuk, ketebalan dan panjang bulunya. Bulu kuas cat air
berbeda dengan bulu kuas cat minyak. Bulu dari serat tumbuhan baik
untuk cat air karena daya serapnya baik sedangkan untuk cat minyak
kuas yang berkualitas dibuat dari bulu binatang dan nilon. Ukuran kuas
dibuat bervariasi sesuai dengan teknik dan proses pembentukan
gambarnya. Saat ini banyak jenis kuas di jual di pasaran, kuas yang
mutunya baik lebih mahal harganya tetapi cukup tahan lama dan dapat
menghasilkan karya yang bermutu, terutama dalam membuat karya yang
halus dan detail agak sulit jika menggunakan mutu kuas yang kurang
baik.
Gambar 130. Jenis Kuas cat minyak
3. Kertas
Namun ribuan tahun yang lalu, manusia telah membuat tanda pada
permukaan batu, atau kulit kayu. Selanjutnya pada zaman Mesir Kuno
digunakan papirus dan kulit kambing untuk membuat surat dan
menggambar.Pada zaman dinasti Han di Cina, ada seorang bernama
Ts’ai Lun membuat kertas dengan campuran kain, serat yang dibuat
bubur lalu dikeringkan pada pada permukaan datar. Temuan ini
dipresentasikan kepada raja, dan disiarkan ke seluruh negeri bahwa
temuan Lun tersebut dapat digunakan untuk keperluan menulis dan
menggambar dengan tinta. Sejak saat itu pembuatan kertas terus
disempurnakan dan divariasikan jenisnya hingga saat ini. Secara umum
ada dua jenis kertas untuk keperluan menggambar atau melukis yaitu
kertas buatan pabrik dan kertas buatan tangan. Kertas buatan pabrik
terstandar kualitasnya, sedang kertas buatan tangan dibuat khusus untuk
mendapatkan karakter tertentu guna keperluan khusus pula.
129
Untuk keperluan menggambar pada saat ini ada banyak jenis kertas
yang dapat dijumpai di pasaran dengan berbagai kualitas dan ukuran.
Namun yang penting diingat dalam memilih kertas untuk menggambar
adalah kualitas permukaannya, sebab menggambar dengan pensil
kertasnya berbeda dengan menggambar menggunakan cat air. Kertas
yang permukaannya halus dan keras sangat baik digunakan untuk
menggambar dengan pena dan tinta. Permukaan kertas yang kasar baik
untuk arang, krayon, pastel dan pensil lunak. Bagi pemula, penggunaan
kertas sebaiknya yang harganya murah dan dengan kualitas cukup.
Kertas produksi Padalarang dan Blabak baik untuk tahap belajar karena
cocok untuk setiap jenis media seperti arang, pensil, pastel, krayon, cat
air, cat poster dan cat akrilik. Kertas manila karena permukaannya halus
baik untuk menggambar dengan bahan tinta tetapi kurang baik untuk
menggambar dengan pastel. Sebenarnya, di toko alat-alat melukis dan
menggambar tersedia jenis-jenis kertas yang telah disesuaikan dengan
karakter bahan perwarnanya. Ada kertas khusus untuk pastel, pensil dan
cat air, namun harganya cukup mahal. Namun, untuk menjelajahi
karakter kertas dengan berbagai media pewarna gunakanlah seluruh
jenis kertas yang dijumpai, dengan demikian dapat menambah
pengalaman untuk mengetahui karakteristiknya.
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam menggunakan kertas
adalah cara menyimpannya. Kertas yang telah ada gambarnya
hendaknya jangan dilipat-lipat, untuk itu diperlukan map khusus yang
dibuat sendiri dengan karton tebal agar gambar yang telah dibuat tidak
rusak. Selain itu dalam belajar seni rupa, seorang calon seniman seni
rupa harus memiliki buku sketsa yang dapat dibawa kemana-mana untuk
selalu melatih tangan agar dapat menghasilkan sketsa atau gambar
dengan kualitas garis yang luwes dan baik
4. Kanvas
Menurut sejarahnya, sebelum diketemukan kanvas para pelukis
menggunakan bidang lukisan dari bahan papan. Hal ini tentu kurang
praktis karena berat untuk dibawa dan tidak dapat digulung sehingga
mengambil tempat. Kanvas diketemukan menyusul setelah diketemukannya
cat minyak, bidang untuk melukis ini lebih praktis dan terbuat
dari bahan kain. Kain dibentangkan pada spanram kemudian diberi
lapisan perekat untuk menutup pori-pori kain dan selanjutnya diberi
lapisan cat dasar. Cat dasar dapat dari cat dengan medium minyak dapat
juga cat dengan medium air. Kanvas dengan cat dari medium minyak
tidak dapat digunakan untuk melukis dengan medium air kecuali cat
akrilik. Namun cat dasar kanvas dengan medium air lebih fleksibel karena
dapat digunakan melukis menggunakan cat dengan medium minyak
maupun air. Daya tahan kanvas lebih lemah dibanding dengan bidang
gambar dari bahan kayu, terutama dengan kelembaban.
130
Kualitas kanvas dibedakan berdasar kelenturan, daya tahan dan
tekturnya. Kanvas yang baik pada umumnya jika daya tahannya tinggi
terhadap perubahan cuaca, lentur dan teksturnya halus. Hal ini
ditentukan oleh kualitas kain dan teknik pemberian cat dasar yang
digunakan. Kain linen adalah kain yang memiliki daya tahan tinggi dan
agak stabil jika dibentangkan, sedangkan kain katun elastisitasnya sangat
tingi. Untuk mengetahui lebih jauh tentang kualitas kanvas akan lebih
baik mencoba berbagai jenis kain untuk dibuat kanvas, dan hal ini dapat
menentukan pilihan yang paling tepat sesuai dengan keinginan dan
kecocokan dalam menerapkan teknik melukisnya.
Cat dasar yang baik digunakan disebut acrylic gesso primer yang
dalam penggunaannya menggunakan air sebagai medium pengencernya.
Cat dasar untuk kanvas ini akomodatif terhadap cat minyak maupun
akrilik yang menggunakan pengencer air.
5. Karet Penghapus
Menurut sejarah, pada masa Ialu penghapus dibuat dari bahan kulit
yang empuk. Kemudian setelah diketemukan karet dan plastik kualitas
bahan penghapus bertambah meningkat menjadi lebih baik. Penghapus
yang terbuat dari karet yang empuk sangat baik untuk menghapus
gambar yang terbuat dari pensil dan arang.
Dalam penggunaan karet penghapus harus disesuaikan dengan
jenisnya. Penghapus yang keras tidak baik digunakan untuk menghapus
goresan pensil pada kertas yang lunak. Penghapus keras memang dibuat
bukan untuk menghapus pensil tetapi untuk menghapus goresan tinta.
Penghapus yang lunak biasanya digunakan untuk menghapus goresan
pensil. Kalau membuat goresan-goresan putih pada blok hitam dari pensil
(dalam teknik dry brush), penghapus yang digunakan harus dibuat tipis
ujungnya dengan mengirisnya menggunakan pisau. Perlu diperhatikan
penghapus yang sering digunakan dapat menjadi kotor, jika telah
kelihatan hitam segera bersihkan dengan menggosokkannya di kertas
lain hingga bersih.
6. Papan Gambar
Dalam kegiatan menggambar sangat penting memiliki papan gambar
untuk dapat bekerja lebih baik, karena dengan papan gambar kertas yang
digunakan menggambar permukaannya lebih rata dan stabil. Papan
gambar biasanya digunakan untuk menggambar di luar ruangan, oleh
sebab itu salah satu persyaratannya papan harus ringan dan kuat. Papan
yang baik bagi pemula dianjurkan menggunakan papan dari bahan
tripleks dengan ukuran tebal 3 mm, panjang 55 cm dan lebar 50 cm.
Spesifikasi ini dapat menahan kertas agar tidak bergerak oleh terpaan
angin. Agar posisinya tidak miring digunakan penjepit kertas atau selotip,
131
namun harus hati-hati karena bahan perekatnya dapat merobek kertas
pada waktu mau melepaskannya.
a
b
Gambar 131. (a) Papan gambar, (b) Standar Gambar
B. Eksplorasi Bahan Seni Rupa Dua Dimensi
Jenis alat dan bahan untuk seni rupa sebenarnya sangat banyak
sebab apa saja yang ada dilingkungan kita dapat digunakan sebagai
bahan membuat karya seni rupa. Namun, dalam pembahasan ini dibatasi
pada penggunaan alat dan bahan seni rupa dua dan tiga dimensional
yang lumrah digunakan dikalangan perupa seperti arang, pensil, pastel,
cat air, cat poster, cat akrilik, karton, tanah liat, plastisin, gip, kayu dan
sebagainya.
1. Arang
Di antara sekian banyak bahan untuk membuat karya seni rupa dua
dimensional, arang adalah bahan yang paling mudah untuk didapat
karena jika tidak ada bahan lain arang dapat dibuat sendiri. Ambil bilahbilah
kayu yang tingkat kekerasannya sedang, kemudian bakar menjadi
bara; tutuplah rapat-rapat dalam wadah dari bahan tanah liat dan bila
baranya telah padam anda sudah mendapatkan arang. Mudah bukan?
Perhatikan, kayu yang sangat keras atau sangat lunak kurang baik untuk
dibuat arang gambar. Sebab kayu yang amat keras arangnyapun keras
dan sulit untuk mendapatkan goresan yang baik, begitu pula kayu yang
amat lunak arangnyapun amat rapuh. Maka bahan kayu yang digunakan
sebaiknya kayu yang tidak keras atau sebaliknya tidak terlalu lunak, dari
referensi yang ada, untuk membuat arang batang yang baik digunakan
adalah kayu pohon jeruk. Namun, karena ada banyak jenis kayu maka
diperlukan banyak percobaan dalam mendapatkan alternatif arang yang
berkualitas baik.
132
Goresan yang dibuat dengan arang sangat rapuh karena mudah
rontok dan terhapus sehingga untuk menguatkannya diperlukan bahan
pelapis pengawet seperti fixative dengan cara disemprotkan atau
dioleskan atasnya, jika karya sudah dianggap selesai. Resiko untuk tidak
merusak gambar atau lukisan yang telah dibuat, lebih baik menggunakan
zat pelapis dengan menyemprotkannya, karena tidak ada kontak
langsung antara alat dengan karya sebagaimana menggunakan kuas.
Pada saat ini ada empat jenis arang yang dijual di pasaran, yaitu arang
batangan, arang serbuk,
Gambar 132. Pemandangan dengan bahan arang (sumber: Richard McDaniel)
arang pensil, dan arang cetak atau pres. Arang batangan, arang pensil,
dan arang pres baik untuk membuat garis sedangkan arang serbuk baik
digunakan untuk blocking dan shading serta teknik dry brush, karena
serbuk arang tersebut tinggal menerapkannya ke atas kertas dengan
menggunakan tisu atau kain halus. Sifat yang menyenangkan dari arang
adalah gambar dapat dengan mudah diperbaiki jika ada yang terasa
kurang terutama dalam menggambar realis atau naturalis. Karena arang
mudah dihapus.
Bahan arang sangat baik bagi pemula menggeluti seni rupa dua
dimensional, karena bahan tersebut mudah didapat dan murah, sehingga
untuk latihan meluweskan goresan dan pemahaman tentang gelap terang
sangat baik digunakan. Namun, bukan berarti karya seni rupa dengan
menggunakan arang tidak berkualitas dan murahan. Teknik berkarya
133
dengan menggunakan arang merupakan awal ’keberangkatan’ menekuni
bidang seni rupa dua dimensional dan jika ditekuni secara mendalam
juga dapat menghasilkan karya yang berkualitas baik. Perhatikan gambar
132 dan 133, pelukisnya memanfaatkan efek tekstur kasar dalam
menggambarkan pohon dan gunung, sebaliknya pada gambar 134,
goresan arang dibuat halus mengikuti tekstur obyek yang digambar, yaitu
bunga anggrek dan kulit manusia. Jadi menggambar dengan arang
dengan hitam putih dapat menghasilkan gambar yang baik.
Gambar 133. Kathe Kolowitz, Self-Potrait (sumber:
Paul Zelanski).
Pelukis kenamaan zaman Renaissance seperti Leonardo da Vinci
(gb.133), Rembrant dan Durrer, sangat mahir menggunakan arang untuk
melukis. Seharusnya para pemula banyak menggunakan arang untuk
melatih keterampilan dasar dalam membuat bentuk dan ilusi tiga dimen-
Perhatikan gambar (132, 133, 134, 135)
dengan seksama, bagaimana potensi arang
dapat digunakan untuk membuat karya seni
rupa yang berkualitas
sional pada kertas. Perhatikan gambar 134, pelukisnya sangat maghir
dalam memanipulasi arang dalam membuat ilusi volume tiga dimensi
terhadap obyek yang digambar. Perhatikan gambar 134a tone atau gelap
terang yang membentuk plastisitas helai bunga dibuat dengan cermat,
134
diberi latar belakang gelap, sehingga obyek bunga menonjol. Pada
gambar 134b, tone gelap terang juga dapat membentuk ilusi volume pada
manusia yang digambar dengan menonjolkan plastisitas kepala dan
lengan yang kekar. Pemahaman terhadap plastisitas dilakukan melalui laa
b
Gambar 134. (a)Bunga anggrek (sumber : Richard McDaniel ),(b) Laki-laki tertidur
(sumber: Burne Hogsrth )
Gambar 135.
Leonardo da
Vinci,The Virgin and
the
Child and with St.
Anne and St. John
the Baptist
(sumber; Paul
Zelanski)
135
tihan dengan arang, kelak faedahnya akan mempermudah penggunaan
bahan menggambar yang lain. Menggunakan bahan arang merupakan
dasar pemahaman tentang pembentukan plastisitas yang dihasilkan
dengan kecekatan teknik membuat tone gelap terang khususnya pada
kegiatan gambar dan melukis realis. Pada kedua jenis seni rupa ini, tone
gelap terang menjadi salah satu unsur seni rupa yang penting dalam
mendapatkan ilusi tiga dimensi pada bidang datar. Untuk itu perlu
melakukan latihan yang intens agar dapat menguasainya dengan baik.
Tugas :
Untuk lebih menghayati bagaimana cara menggunakan bahan arang,
lakukanlah latihan berikut ini. Ambilah selembar kertas gambar dan
sebatang arang, lalu buatlah goresan-goresan berupa blok dan garis
dengan berbagai variasinya. Dapat menggunakan jari, kertas atau
kain untuk membuatnya. Ulangi latihan ini beberapa kali dan perhatikan
hasilnya. Amati bagaimana potensi goresan arang itu dan
pikirkanlah bagaimana menerapkannya menjadi sebuah karya seni
rupa.
2. Pensil
Selain arang, pensil juga merupakan alat sederhana dalam
pembuatan karya seni rupa dua dimensional. Menurut sejarahnya, pensil
mulai berkembang pada abad ke 16 ketika diketemukannya bahan grafit
secara kebetulan dibawah pohon tumbang karena badai di desa
Barrowdale, Cumberland, Inggris. Grafit merupakan benda menyerupai
batu hitam mengkilap tetapi dapat menghasilkan tanda hitam yang
136
awalnya dinamakan plumbago dalam bahasa Latin. Grafit kemudian
digunakan untuk berbagai keperluan terutama sebagai bahan menulis
dan menggambar dengan cara ditajamkan dan dibungkus dengan
benang agar mudah dipegang. Pada perkembangannya di akhir abad ke
18, Nicolas Jacques Conte diminta oleh Napoleon untuk mengembangkan
pensil. Ia mencampur serbuk grafit dengan tanah liat untuk
membuatnya keras. Semakin banyak campuran tanah liat semakin keras
pensil yang dihasilkan dan tanda yang dihasilkan semakin tipis warna
hitamnya. Jadi dengan perbandingan campuran grafit dan pensil, gelap
terang tanda yang dihasilkan oleh pensil menjadi bervariasi. Campuran
grafit dan tanah liat dibakar dan dimasukkan ke dalam tabung kecil
terbuat dari kayu sebagaimana halnya pensil yang kita ketahui saat ini.
Derajat kekerasannya ditentukan oleh jumlah kandungan grafitnya
sehingga untuk kepentingan penggunaannya pensil dibuat dalam variasi
dengan sistim bertingkat. Untuk dapat mengenalinya, pensil dengan kode
H menunjukkan bahwa pensil itu keras (hard) sedangkan dengan kode B
adalah pensil lebih lunak dan hitam (black). Pensil 3H lebih keras
dibanding pensil 2H, begitupula pensil 3B lebih hitam hasil goresannya
dibanding pensil 1B.
Untuk keperluan berkarya seni rupa dianjurkan menggunakan
pensil hitam yang lunak (B). Penggunaannya dalam praktek, biasanya
pensil keras H digunakan untuk sketsa awal kemudian dilanjutkan penyelesaiannya
dengan pensil B dalam berbagai variasi kepekatan. Namun
perlu diperhatikan bahwa pensil H karena sangat keras, jika digunakan,
sering membuat kertas gambar ’luka’ dan bekasnya sulit dihilangkan.
Selain pensil H ada jenis pensil HB yang merupakan pensil dengan
kekerasan yang sedang. Pensil ini baik untuk memulai pekerjaan awal
berupa sketsa karena tidak merusak kertas dan hasil goresannya tidak
terlalu tipis atau gelap. Pensil yang terlalu lunak dan pekat kurang baik
untuk sketsa awal karena agak sulit dihapus. Menghapus sket atau
goresan gunakan penghapus karet yang selunak mungkin agar kertas
tidak luka waktu digosok. Upayakan jangan terlalu sering menghapus
agar kertas tetap terjaga kondisinya. Pada waktu menghapus jaga
tekanan penghapus pada kertas, begitu pula jaga kebersihan penghapus,
karena apabila penghapus sudah terlalu sering digunakan warna hitam
pensil akan melekat pada penghapus dan dapat membuat kotor kertas
gambar. Oleh karenanya, bersihkan penghapus karet dengan
menggsokkannya pada kertas yang tidak terpakai dan gunakan alas
kertas ketika tangan menggambar dan menyentuh bagian yang tidak
sedang dikerjakan tetapi sudah ada goresan pensilnya. Upaya ini adalah
untuk tetap menjaga kebersihan gambar.
137
Gambar 136. Goresangoresan
pensil cat air
dan pensil warna biasa.
138
Pensil berwarna agak berbeda dengan kedua jenis pensil hitam
sebelumnya, karena diproduksi tidak berdasar tingkatan kualitas tetapi
berdasar jumlah warna. Seiring dengan perkembangan teknologi, pensil
berwarna ada yang diproduksi sebagai kombinasi dengan cat air dan
pastel. Dalam penggunaan pensil cat air, pada awalnya sama dengan
penggunaan pensil pada umumnya, hanya untuk proses selanjutnya
digunakan kuas cat air basah yang dikuaskan di atas goresan pensil dan
goresan tersebut akan mencair sehingga warnanya memiliki karakter
Selanjutnya perhatikan karya pensil warna dan pensil cat air berikut
ini, kenali potensi dan karakter teknik cat air yang digunakannya.
Gambar 138. The
Woodstock Office,
(sumber: Richard
McDaniel).
Gambar 137.
Peman-dangan
(sumber: Richard
McDaniel)
139
sama dengan cat air namun masih terlihat bekas goresan pensilnya. Hal
itu menjadi ciri khasnya yang tersendiri. Pensil ini sangat praktis
digunakan untuk membuat karya out door karena tidak banyak
memerlukan perlengkapan sebagaimana halnya melukis menggunakan
bahan cat minyak.
Kelemahan pensil berwarna biasa maupun pensil cat air adalah
warna-warna yang dihasilkan tidak cemerlang seperti halnya warna yang
dihasilkan pastel atau perwarna lainnya. Perhatikan gambar 137 dan 138,
warna pensil cat air pada gambar pemandangan tersebut nampak
lembut, goresannya pun tidak dapat ’garang’ sebagaimana halnya
goresan cat minyak, akrilik dan pastel. Untuk melindungi agar awet,
gambar yang telah dihasilkan perlu diberi pelapis fixatif. Pelapis ini ada
dua jenis kemasan yaitu dalam bentuk spray dapat langsung
disemprotkan dan yang dalam botol harus menggunakan kuas.
Tugas:
Untuk lebih dapat menhayati tentang cara penggunaan pensil,
lakukanlah latihan berikut ini. Ambilah selembar yertas kemudian
buatlah goresan-goresan berupa garis dan blok dengan berbagai
variasinya dengan menggunakan jenis pensil H dan B. Perhatikan
perbedaan efeknya dan potensi artistiknya. Setelah selesai ambil
lembar yertas yang lain gunakan pensil berwarna untuk membuat
goresan-goresan seperti sebelumnya. Perhatikan hasilnya dan
amati perbedaan efeknya!
3. Pastel
Pastel adalah media menyerupai kapur tulis tetapi dibuat dengan
pigmen warna dicampur dengan zat pengikat berupa resin dan plaster.
140
Bahan ini dicampur, dibuat pasta kemudian dibentuk batangan lalu
dikeringkan. Kualitas pastel tergantung dari komposisi bahannya. Pastel
dengan warna cerah biasanya bahan plasternya sedikit, karena bahan ini
berfungsi untuk mengurangi cerahnya pigmen warna. Pigmen warna
cerah disebabkan oleh tingginya konsentrasi (extract) pigmen yang dibuat
dari dedadunan, bagian tertentu binatang (tulang, lemak), dan bahan
sintetis. Baik buruknya kualitas pastel maupun bahan pewarna lainnya
sangat tergantung pada daya tahannya terhadap sinar. Artinya, warna
tidak cepat berubah jika terkena sinar matahari langsung, tidak pecah,
tidak berubah dalam jangka waktu panjang. Hal ini penting diperhatikan
karena akan mempengaruhi pula kualitas karya. Selain berbentuk kapur
tulis, pada saat ini diproduksi pastel dalam bentuk pensil, namun di
Indonesia belum banyak beredar.
Derajat kekerasan pastel ditentukan oleh komposisi bahannya. Pastel
yang keras dan tidak mudah patah disebabkan karena banyak
mengandung bahan pengikat, sedangkan pastel yang mudah patah
mengandung sedikit pengikat. Pada saat ini ada dua jenis pastel dalam
kemasan yang dapat dijumpai di pasaran yaitu pastel kapur dan pastel
minyak. Pastel kapur sangat mudah patah dan hasil goresannya pun
mudah rontok. Oleh sebab itulah kertas yang digunakan untuk
menggambar dan melukis dengan pastel yang dipilih memiliki tekstur
kasar untuk menahan warna pastel sehingga tidak mudah rontok. Namur
demikian keistimewaan warna pastel kapur yaitu powdery kesan khas
warna kapur. Sebaliknya pastel minyak lebih kuat daya lekatnya karena
mengandung pengikat minyak. Oleh sebab itu goresannya pun
berkesan seperti cat minyak.
Di dalam penggunaannya, pastel dapat diterapkan dengan membuat
garis atau arsiran dan dikombinasi blok tipis atau sebaliknya dengan blok
yang tebal menutup permukaan kertas. Menggunakan pastel perlu
didukung peralatan dan bahan lainnya seperti alat peruncing untuk
mendapatkan ujung runcing ketika membuat garis atau bagian yang kecil.
Peruncing pastek dapat menggunakan amril yang dilekatkan pada papan
atau menggunakan peruncing pensil. Untuk pastel kapur dapat menggunakan
karet penghapus yang lembut untuk memperbaiki kesalahan
atau membuat efek lighting dalam menggambar benda-benda yang
mengkilat. Sedang untuk pastel minyak, jika ada kesalahan dalam
penerapan warnanya dapat ditumpang dengan warna yang lain, dan jika
warnanya tebal dapat dikerok dengan pisau ‘cutter’. Percampuran warna
dapat dilakukan langsung di atas kertas dengan menggosokkan kain atau
jari, atau alat lainnya seperti kuas, kapas, dan tisu. Pencampuran dapat
pula dilakukan di luar kertas dengan membuatnya menjadi serbuk terlebih
dahulu, lalu serbuk tersebut dicampur hingga menjadi homogen sebelum
digunakan. Apabila batang pastel sudah kotor, bersihkan dengan
menggunakan kain.
141
Pastel yang telah pendek dan sulit untuk menggunakannya dapat di
daur ulang, kumpulkan warna yang sejenis kemudian tumbuk hingga
halus, kemudian dicampur dengan bahan perekat dari getah (gum) lalu
dibentuk dengan mencetaknya. Selanjutnya pastel daur ulang tersebut
dapat digunakan setelah dikeringkan beberapa hari.
Amati kedua karya seni lukis ini dengan menggunakan pastel!
Bagaimana pelukisnya mengunakan karakter pastel ? Perhatikan
kesan teksturnya, apakah ada perbedaan
a b
Gambar 140. Karya-karya seni lukis dengan bahan dan teknik pastel dan tema gadis : (a)
Wardoyo, pastel minyak, (b) Basuki Abdulah, pastel kapur .
Gambar 139: Menggosok
pastel dengan tisu atau kain
halus agar mendapat kesan
halus dan warna tercampur
(sumber : Stan Smith).
142
Perhatikan goresan-goresan pastel kapur dan minyak berikut ini !
Bagaimana potensi pastel dapat digunakan untuk melukis?
a b c
d
Gambar 141. Goresan-Goresan Pastel
Perhatikan pula penerapannya ke dalam lukisan
berikut
143
a
b c
Gambar 142. (a) Gambar pantai, (b) Gambar sapi, (c)
Gambar alam benda, (e) Singa bersayap
144
Tugas :
Lakukanlah tugas ini untuk mengetahui dengan sebenarnya tentang
potensi estetik (keindahan) dari bahan pastel tersebut.
�� Ambil sehelai kertas gambar pastel A4
�� Gunakan pastel kapur untuk membuat goresan-goresan dengan
berbagai variasinya
�� Kembangkan rasa keindahan anda pada waktu membuat
goresan
�� Setelah selesai, ambil yertas gambar pastel yang lain dan
gunakan pastel minyak untuk membuat goresan sama dengan
prosedur sebelumnya.
�� Perhatikan dalam membuat goresan tidak harus selalu berupa
garis, dapat pula berupa blok dan dalam membuatnya dapat
menggunakan alat bantu seperti alat gosok ‘torchon’, yertas kain
dan sebagainya.
�� Perhatikan pula contoh-contoh sebagai acuan
��
4. Tinta
Tinta merupakan salah satu bahan yang sudah tua usianya guna
membuat karya seni rupa . Pada abad pertengahan, di Cina, India,
Jepang dan Eropa tinta sudah digunakan untuk berbagai keperluan,
seperti menulis surat dan menggambar. Pada saat ini tinta gambar dibuat
dari pigmen warna, shellac dicampur air, sedang pada jaman dahulu tinta
hitam dibuat dari campuran jelaga dengan lem dan sejenis cuka. Dengan
berkembangnya teknologi, tinta tidak lagi hanya hitam, sekarang banyak
dijual tinta dengan warna-warni. Secara tradisional, dalam penggunaan
tinta memerlukan alat berupa pena dan kuas. Pena tidak hanya berupa
pena standar yang dibuat oleh pabrik untuk menggambar atau menulis,
tetapi dapat pula menggunakan pena buatan tangan dari bambu, tangkai
bulu unggas, kayu atau bahan lain dengan maksud mendapatkan variasi
145
garis yang artistik. Perhatikan potensi tinta dengan menggunakan pena
logam dalam membuat sketsa dan gambar hitam putih (gb. 143 dan 144)
Perhatikan karya berikut ini, bagaimana ketrampilan pembuatnya
menggunakan alat pena, kuas dan bahan tinta. Kemudian lakukan
latihan membuat goresan dengan tinta dan menyusun bentuk dan
garis dengan tonasi dari terang ke gelap, amati dan rasakan
potensi keindahannya!
a
b
Gambar 143. (a dan b) Gambar suasana hanya dengan tinta hitam
(sumber:Burne Hogart)
Dua buah karya hitam putih
ini memiliki kekuatan pada
penggunaan siluet serta
tone hitam putih dalam
menggambarkan
background
dan foreground. Pada
gambar (a) ada tonasi yang
mengesankan areal
perspektif, sedangkan pada
gambar (b) hanya siluet
tetapi dengan
karakter bentuk yang
tepat dan mengesakan suasana
senja hari.
146
Ada beberapa istilah untuk menunjukkan kualitas ketahanan tinta
yakni permanent, lightfast, archival. Istilah permanent menunjukkan
bahwa tinta tersebut tahan lama setelah berkali-kali dicuci, lightfast
berarti tinta tersebut tahan lama untuk tidak luntur jika sering terkena
sinar matahari langsung. Archival merupakan tinta atau material lain
dengan daya tahan yang amat tinggi sehingga kuat berabad-abad
lamanya. Ada istilah lain untuk tinta yaitu waterproof menunjukkan bahwa
tinta tersebut tidak dapat cair kembali jika terkena air, sedang nonwaterproof
dapat cair kembali jika diberi air dengan kuas basah, berarti
gambar dapat diubah atau diperbaiki. Sifatnya lebih luwes jika digunakan
untuk menggambar atau melukis. Tinta waterproof baik digunakan untuk
kontur sehingga jika menggunakan warna lain tidak berubah bentuknya.
Jenis tinta ini banyak digunakan pada lukisan tradisional Bali.
Gambar 144. I Ketut Mara, Seorang Dewi (Sumber: Koleksi
P4TK Seni dan Budaya Yogyakarta).
147
Tugas Latihan
Agar lebih memehami tentang bentuk, lakukanlah latihan berikut.
�� Dengan pesil hitam buatlah skesta bentuk binatang dan bentuk
tumbuhan dengan tepat.
�� Setelah bentuk digambar dengan tepat beri kontur dengan tinta
hitam.
�� Selanjutnya bentuk-bentuk diblok penuh dengan tinta hitam.
�� Tugas selanjutnya buat gambar yang sama dengan tambahan
tonasi obyek sebagai latar belakangnya.
�� Gunakan contoh gambar sebagai acuan.
��
5. Cat Air
Cat air adalah media seni rupa yang memiliki sifat khusus yaitu
tembus pandang / transparan. Apabila terjadi susunan warna tumpang
tindih maka warna yang tertindih tidak tertutup sepenuhnya. Bahkan dari
garis tumpang tindih itu menimbulkan efek warna campurannya. Cat air
menggunakan air sebagai medium pengencernya sehingga tidak dapat
digunakan di atas kanvas cat minyak. Kertas yang digunakan sebaiknya
khusus untuk cat air, karena daya serapnya telah disesuaikan dengan
sifat cat air yang harus banyak menggunakan air dalam penggunaannya.
Cat air tidak digunakan untuk pewarna yang tebal dan pekat, karena jika
digunakan secara tebal dan pekat pengeringannya lama dan kemungkinan
merusak kertas jika tertempel dengan kertas atau benda lain.
Pada waktu mengeluarkannya tidak boleh diambil dengan kuas yang
basah langsung dari tubenya, sebab jika air masuk ke dalam tube warna
di dalam akan menjadi keras dan tidak dapat dikeluarkan. Dalam
menggunakannya keluarkanlah warna cat air secukupnya di atas palet
cat air. Kemudian tetesi air secukupnya dan aduk sampai rata baru dapat
digunakan dengan menguaskan di atas kertas.
148
Dalam penggunaannya cat air harus 'sekali gores jadi’ dan tidak bisa
diperbaiki kembali jika ada kesalahan. Oleh sebab itu penggunaan cat air
harus betul-betul cermat, penuh konsentrasi dan berhati-hati. Sebelum
menerapkan warna, sebaiknya kertas dibersihkan dahulu dengan
menggunakan kapas atau tisu lembab dengan cara mengusapkannya di
permukaan kertas dengan lembut dan hati-hati agar kertas tidak luka.
Kapas atau tisu jangan terlalu basah karena dapat menyebabkan kertas
bergelombang. Pembersihan ini penting dilakukan untuk menghilangkan
kotoran-kotoran pada permukaan kertas yang dapat mengganggu
penyerapan warna yang digunakan. Teknik pewarnaan dengan cat air
biasanya mulai dari warna tipis dan ringan kemudian secara perlahan
diberikan tonasinya ke warna yang lebih kuat. Cat yang masih basah
tidak dapat segera ditindih dengan warna lain karena warna akan
bercampur dan nampak kotor, untuk itu harus ditunggu sampai warna
setengah kering.
Perhatikan karya pada gambar (145 a dan b), yang pertama hanya
menggunakan hitam putih, tetapi kemampuan teknik menggunakan cat
air atau tinta yang menggunakan media air sangat piawai. Kesan
suasana berkabut dengan air terjun berwarna putih sangat sulit didapat
jika tidak sering latihan pengunaannya secara spontan. Kedua pada
gambar (145 b) penggunaan cat air berwarna juga tidak kalah piawinya
dengan teknik hitam putih. Tidaklah mudah membuat goresan spontan
yang menggambarkan wujud realistik , namun pada gambar atau lukisan
ini penggambaran pohon bunga dan burung secara spontan dapat
dicapai dengan sempurna. Perhatikan bentuk dan warna daun, bunga,
dan burung dan gerakannya, semuanya sangat ’pantas’ dan dikerjakan
dengan sempurna. Bagaimana pelukis Cina dapat menggunakan teknik
cat air demikian sempurna? Latihan dan kebiasaan merupakan kunci
utamanya karena masyarakat Cina menulis dengan menggunakan kuas
dan tinta. Jadi, kalau senimannya melukis tidak ada hambatan teknis.
Oleh sebab itu jika ingin berhasil melukis dengan teknik cat air tidak ada
lain kuncinya adalah latihan dan latihan terus menerus sehingga dapat
dikuasai karakter cat air tersebut, diketahui kelebihan dan keterbatasannya.
Selain cat air, ada bahan cat yang sejenis disebut tempera dan
sifatnya juga transparan. Namur pada saat ini jarang digunakan dan di
toko pun sulit diketemukan. Pada zaman Renaissance tempera banyak
digunakan sebelum diketemukan cat minyak. Tempera terbuat dari
serbuk pigment warna dengan médium pengencer air murni dan zat
Amati karya cat air berikut diskusikan dengan teman mengenai
teknik yang digunakan dan bagaimana pula proses pengerjaannya.
Amati efek cat air yang menjadi ciri khasnya. Kemudian coba
menirunya, untuk mengetahui tekniknya, lalu coba membuat gambar
tentang lingkunganmu dengan teknik yang sama
149
a
b
Gambar 145. Lukisan klasik Cina dengan ciri
khas goresan yang spontan, transparan sebagai ciri khasnya
(sumber: (a,b) Koleksi Presiden Soekarno
150
a
b
c
d
Gambar 146. Goresan-goresan cat air
perekatnya menggunakan kuning telur. Namur saat ini tela hada cat
tempera yang diproduksi secara sintetis, ada médium pencairnya
menggunakan air, ada pula tempera pengencernya menggunakan
terpentin. Untuk itu perhatikan labelnya, jira ada label “O-W” (oil-water)
berarti tempera tersebut dicairkan dengan air, apabila ada label “W-O”
(water-oil) berarti pengencernya menggunakan terpentin. Dalam
pengunaannya, tempera digunakan tipis, jika digunakan terlalu tebal
setelah kering dapat mengelupas. Tempera efektif digunakan pada
kanvas dengan cat dasar gesso dengan permukaan yang halus. Cat
tempera memungkin digunakan dengan berbagai variasi teknik seperti
151
cipratan, transparan, atau dengan dikerok untuk mendapatkan warna
yang semula. Jadi lebih luwes dibandingkan cata ir.
Tugas :
Untuk menghayati karakter cat air lakukanlah latihan berikut ini :
�� Ambil selembar kertas cat air ukuran A4, bersihkan dengan
kapas lembab.
�� Keluarkan beberapa jenis warna cat air dari tubenya, beri air dan
aduk sampai rata.
�� Dengan kuas cat air berbagai ukuran buatlah percobaan
goresan-goresan dengan berbagai variasinya.
�� Setelah selesai cermati hasil goresan itu, kenali efek-efek yang
baik dari goresan cat air tersebut
6. Cat Poster
Cat poster tergolong jenis cat air karena untuk medium pengencernya
menggunakan air. Cat ini berbeda dengan cat air biasa karena sifatnya
yang cepat kering dan dapat digunakan seperti cat minyak yakni teknik
penggunaannya dengan wama pekat karena tidak banyak menggunakan
air. Cat ini cepat kering, oleh karena itu warna awal dapat segera
ditumpang dengan warna berikutnya. Sifat lainnya adalah wamanya datar
dan rata maka selain dapat digunakan dengan teknik brush stroke yang
ekspresif atau untuk gambar dekoratif yang memerlukan warna-warna
rata dan datar. Kelemahan warna ini tidak baik digunakan terlalu tebal
karena ketika kering cepat pecah dan rontok. Selain itu jika warna yang
sudah diterapkan kena percikan air akan menjadi tidak rata. Sesuai
dengan namanya, cat ini sangat baik untuk menggambar atau melukis
poster dengan goresan-goresan kuas yang kuat dan tegas sebagai ciri
khasnya. Kelemahan lainnya yang cukup unik adalah binatang lalat
senang dengan warna ini, jika tidak waspada menyimpan gambar dapat
rusak karena dimakan olehnya.
Coba perhatikan karya cat poster berikut, diskusikan dengan
teman bagaimana pembuatnya menggunakan cat poster dapat
menghasilkan karya yang baik
152
a b
c
Gambar 147 . (a dan b) Goresan cat poster, (c) Karya I Ketut Mara mahasiswa D III Guru
Kesenian PPPG Kesenian Yogyakarta, 1987
153
Tugas Latihan
Sebelum membuat karya yang sebenarnya lakukanlah latihan
berikut ini untuk mengetahui karakter dan cara menggunakan cat
poster yang sesungguhnya:
�� Gunakanlah kertas gambar biasa
�� Keluarkan beberapa warna cat poster dari tube seperlunya dan
taruh di atas palet cat air
�� Beri sedikit air dan aduk sampai rata
�� Gunakan kuas cat air atau cat minyak buatlah eksperimen
goresan dalam berbagai variasinya
�� Cari kemungkinan dari cat poster itu, coba bandingkan hasil
campuran air yang banyak dan sedikit, bagaimana pula
warnanya yang tumpang-tindih
�� Gunakan contoh di atas sebagai acuan
7. Cat Akrilik
Cat akrilik tergolong cat baru karena diciptakan dan diproduksi
beberapa puluh tahun yang lalu. Cat ini dibuat dengan bahan pigmen
sintetik yaitu polyvinyl accetate (plastik). Cat ini juga termasuk keluarga
cat air. Dalam penggunaannya dapat menggunakan air sebagai
pengencernya dan dapat juga digunakan secara langsung dari tubenya,
seperti menggunakan cat minyak atau dengan kuas dan 'air brush'.
Selain dikuaskan dengan tebal, cat akrilik dapat juga digunakan
secara tipis seperti cat air. Cat akrilik sangat cepat kering. Oleh sebab itu,
kuas yang digunakan harus cepat dimasukkan ke air. Jika tidak kuas
akan menjadi rusak karena warna yang ada pada kuas mengering sulit
untuk dibersihkan.
154
Gambar 148. Goresan cat akrilik.
Perhatikan karya berikut yang dibuat dengan
media akrilik apakah anda sudah pernah
menggunakannya ? Apa keistimewaannya ?
Gambar 149. Nelayan, karya I Ketut Marra mahasiswa DIII Guru
Kesenian PPPG Kesenian Yogyakarta 1987.
Perhatikan ! Gunakan contoh di atas sebagai acuan,
kemudian lakukanlah latihan membuat goresan cat akrilik
dengan kuas. Amati hasilnya, kenali efek-efek yang indah,
kenapa sampai bisa demikian ?
155
8. Cat Minyak
Penggunaan cat minyak untuk membuat lukisan sudah dimulai
ratusan tahun yang lalu, diawali oleh Jan Van Eyck dari Belanda.
Selanjutnya penggunaan cat minyak meluas karena memberikan
keleluasaan kepada para pelukis untuk mengungkapkan idenya serta
kualitasnya yang melebihi media sebelumnya. Cat minyak dapat
digunakan untuk menggambarkan ilusi keruangan dengan memainkan
gelap terang dari benda yang digambarkan. Pada awal penggunaanya
cat minyak diterapkan di atas panel, kemudian disadari bahwa panel
kurang fleksibel dan sulit untuk dibawa ke mana-mana. Lalu
ditemukanlah kanvas yang terbuat dari kain yang dapat digulung
sehingga lebih mudah untuk dibawa pergi terutarna jika pelukisnya ingin
bekerja di luar ruangan (out door), misalnya melukis pemandangan.
Sesuai dengan namanya, dalam penggunaannya cat minyak
memerlukan minyak khusus untuk mencairkannya dan daya keringnya
sangat lambat. Cat minyak terdiri dari bahan pigment, minyak dari
tumbuh-tumbuhan, dan terpentin. Pigmen warna adalah bahan warna
berupa serbuk alami, atau sintetis. Pigmen warna berasal dari mineral
(tanah), tumbuh-tumbuhan, dan binatang tertentu, akan tetapi saat ini
kebanyakan yang digunakan adalah bahan sintetis yang berasal dari
bagian industri bahan bakar minyak bumi. Kualitas cat minyak ditentukan
oleh kehalusan dan kepekatan pigmennya yang dicampur dengan
minyak. Setiap pigmen memiliki karakteristik tingkat kekeringan dan
stabiltasnya jika terkena sinar matahari langsung.
Ada beberapa pigmen yang memiliki karakter, khususnya warna putih.
Titanium wahite misalnya memiliki sifat menutup cat sebelumya dan
dapat mempermuda warna lainnya. Zinc white adalah untuk
mendapatkan efek transparan, Lead white memiliki karakter stabil dan
elastis.
Oleh sebab itu untuk membersihkan kuas dan palet setelah selesai
bekerja, terlebih dahulu menggunakan minyak tanah atau terpentin,
selanjutnya baru dicuci dengan air dan sabun. Alat dan bahan bantu
156
menggunakan cat minyak relatif lebih banyak dibandingkan
menggunakan media lainnya. Kuas yang digunakan adalah kuas khusus
cat minyak yang dalam satu setnya terdiri kurang lebih kuas nomor 1
hingga 12, disamping kuas khusus untuk mengerjakan bagian-bagian
tertentu dari lukisan yang dibuat. Keistimewaan cat minyak adalah tahan
terhadap perubahan cuaca sehingga karya lukisan yang menggunakan
cat minyak dapat bertahan berabad-abad. Dalam perkembangan
penggunaannya, cat minyak dapat ditorehkan langsung dari tubenya ke
atas kanvas guna keperluan ekspresi yang ingin diungkapkan oleh
pelukisnya.
Kelemahan cat minyak adalah baunya yang sangat kuat dan
menyebabkan udara dalam ruangan menjadi pengap. Oleh karena itu,
untuk menjaga kesehatan diperlukan ruang khusus untuk bekerja dengan
ventilasi yang dapat mengatur sirkulasi udara dengan baik. Selain itu
kelemahan cat minyak ketika telah menjadi lukisan adalah tidak tahan
terhadap kelembaban. Untuk menghindarinya, apabila lukisan digantung
di tembok harus ada celah antara tembok dan lukisan. Maksudnya
adalah untuk memberikan sirkulasi udara di belakang lukisan, sehingga
lukisan terhindar dari kelembaban. Ada beberapa tanda terjadinya
kerusakan pada lukisan cat minyak yaitu retak, keriput, kering, berjamur.
Cat lukisan dapat retak jika kualitas cat minyak kurang baik, perubahan
cuaca yang ekstrim, tidak stabilnya percampuran pigmen dan minyak.
Keriput dapat disebabkan karena kesalah dalam percampuran warna,
atau ada unsur lain yang tercampur seperti air. Warna lukisan dapat
kering disebabkan oleh tidak ratanya cat dasar pada kanvas, sehingga
bagian yang tipis dapat menyerap minyak pada cat yang digunakan.
Lukisan dapat berjamur jika menempel pada diding lembab dalam waktu
yang lama.
Tugas Latihan :
Untuk mengetahui karakter dan potensi cat minyak yang
sesungguhnya lakukanlah latihan berikut ini :
�� Ambilah sebidang kanvas cat minyak 30x 30 cm, taruh di atas
meja atau standar lukis
�� Keluarkan beberapa warna cat minyak dari tubenya di atas palet
�� Keluarkan pula minyak cat seperlunya dalam wadah yang
disediakan
�� Dengan kuas ambilah minyak cat itu dan cairkanlah warnawarna,
mulailah mencoba membuat goresan dengan kuas di atas
kanvas.
�� Bebaskanlah perasaan, lakukanlah percobaan dengan berbagai
variasi arah dan ketebalan goresan, buatlah pula warna-warna
yang tumpang tindih kembangkan kemampuan untuk menguasai
teknik penggunaan cat minyak.
157
�� Selanjutnya pada kanvas yang lain gunakan cat minyak untuk
membuat bentuk-bentuk dengan ilusi tiga dimensi. Untuk latihan
ini fokuskan perhatian pada teknik pembuatan gelap terang.
�� Perhatikan contoh sebagai acuan.
Gambar 150. Goresan-goresan cat minyak
PerhatikannIah karya-karya yang menggunakan cat
minyak berikut ini, bagaimana potensi cat minyak
digunakan membuat karya seni rupa berupa lukisan
realis?
Gambar 151. Dullah, Tentara Pendudukan (sumber: Koleksi Presiden Soekarno)
158
B. Media Campuran Seni Rupa Dua Dimesional
Media campuran sering disebut mixed media. Maksud dari istilah ini
adalah menujukan kepada penggunaan kombinasi lebih dari satu bahan
seni rupa dua dimensional, misalnya cat air dikombinasi dengan pastel,
pensil dikombinasi dengan pastel dan seterusnya. Penggunaan media
campuran tujuannya tidak lain untuk mendapatkan efek-efek artistik yang
tidak didapatkan dalam penggunaan media tunggal. Media campuran
sangat menantang karena menggabungkan sifat media yang berbeda,
seperti cat minyak dengan cat akrilik, cat minyak menggunakan minyak
sebagai medium pengencernya, sedang cat akrilik menggunakan air; dua
medium ini sangat kontras. Namun jika dari sifat kontras tersebut dapat
dikendalikan efeknya, maka akan mendapatkan karya yang artistik dan
a
Gambar 152. (a) Omar, Hendak
Mencuci, (b) Soedjojono, Di Balik
Kelambu, (sumber: Koleksi
Presiden Soekarno
b
159
unik. Hal yang penting untuk dipertimbangkan adalah prosedurnya,
medium yang mana didahulukan, karena hal ini menentukan efek yang
ditimbulkannya. Misalnya, cat akrilik lebih dahulu diterapkan karena
sifatnya cepat kering dan dapat digunakan membuat efek tekstur. Setelah
kering diterapkan cat minyak, kemudian sebelum kering disapu dengan
lap maka dapat menimbulkan efek tekstur yang menarik sesuai dengan
pembentukan awalnya perupa tonjolan-tonjolan warna akrilik yang tebal.
Media akrilik sangat fleksibel karena dapat dikombinasi dengan berbagai
media seperti pastel, pensil, tinta, arang, atau untuk mendapatkan efek
tekstur yang unik dapat dicampur dengan serbuk gergaji, pasir dan
material lainnya.
a b
c d
Gambar 153. Goresan- goresan campuran pensil dan pastel
160
Penggunaan cat air juga dapat dicampur dengan media lain seperti
pastel,akrilik, pensil hitam, pensil warna, atau media kering lainnya.
Prosedurnya dapat bolak-balik, masksudnya dapat cat air lebih dahulu
kemudian dilanjutkan dengan media lainnya. Misalnya, untuk membuat
efek tekstur terlebih dahulu digunakan pastel minyak, selanjutnya
diterapkan cat air. Oleh karena pastel mengandung minyak, maka ketika
cat air dikuaskan warna pastel tidak hilang oleh warna cat air dengan
demikian tekstur dapat tercipta oleh goresan-goresan pastel. Selain
dengan pastel minyak, cat air dapat dikombinasi dengan pensil, tinta,
akrilik dan cat minyak. Jadi pada dasarnya seluruh material untuk seni
rupa dua dimensi dapat dicampur atau dikombinasi penggunaanya dalam
menciptakan karya seni rupa.
C. Bahan dan Alat Seni Rupa Tiga Dimensional
Pada bab sebelumnya telah disinggung sedikit mengenai seni rupa
tiga dimensional. Pada bab ini akan dibahas lebih jauh tentang alat,
bahan seni rupa tiga dimensional dengan tujuan agar setiap siswa
memahami potensinya dan dapat mengembangkan kepekaan estetik
sebagai dasar untuk membuat karya tiga dimensional selanjutnya. Oleh
sebab itu di dalam latihan penekanannya bukan membuat karya seni
rupa yang sesungguhmya, tetapi sifatnya lebih kepada eksplorasi terhadap
unsur seni rupa terutama unsur wujud dan sifat bahan yang
digunakan. Dalam pembahasan alat dan bahan seni rupa tiga dimensional
ini karena penekanannya bukan membuat karya seni tiga dimensi
yang sesungguhnya, dan kecenderungannya lebih kepada pemahaman
karakter unsur seni rupa tiga dimensional melalui eksplorasi terhadap
kualitas bahan untuk mendapatkan kualitas artistiknya. Seni rupa dua
dimensional hanya terdiri dari dimensi panjang dan lebar, sedangkan seni
rupa tiga dimensional ditambah dengan ketebalan.
Kalau kita cermati sebenarnya kita hidup berada di dalam ruang. Apa
yang ada di sekitar kita bukan gambar pipih yang hanya memiliki panjang
dan lebar, tetapi ruang yang memiliki kedalaman dan ujud yang memiliki
panjang, lebar dan ketebalan atau volume. Oleh karena itu, untuk
membuat karya seni rupa tiga dimensional, seorang perupa harus
mampu berimajinasi tentang ujud dari setiap arah dan sisi benda yang
akan dibuat.
Sebelum melaksanakan praktek untuk membuat karya seni rupa tiga
dimensional perlu mengenal terlebih dahulu karakter beberapa bahan
dan alat yang digunakan.
161
Untuk eksplorasi wujud tiga dimensional ada beberapa jenis bahan
dan alat. Bahan-bahan tersebut dikategorikan menjadi tiga, yakni : bahan
lunak, bahan liat, dan bahan keras. Semua bahan itu memiliki karakternya
masing-masing dan harus diketahui oleh perupa dan kriyawan.
Namun pada praktek ini, dan mengingat beberapa keter-batasan, tidak
semua bahan sempat digunakan.
1. Bahan Lunak
Kertas, karton, gabus dan styrofoam termasuk bahan lunak.
Bahan-bahan ini relatif mudah didapat dan membentuknya dapat dengan
alat yang sederhana seperti pisau, silet dan gunting. Bahkan tanpa
alatpun, kertas dapat dilipat langsung dengan tangan tanpa bantuan alat
yang lain. Latihan dengan bahan lunak ini lebih banyak menggunakan
bahan karton. Jenis karton cukup banyak, namun untuk latihan dengan
teknik potong dan toreh gunakanlah karton yang kaku agar bentuk yang
dibuat tidak mudah melengkung. Untuk teknik melipat, karton tebal dan
kaku tidak baik digunakan karena sulit dilipat. Walaupun dapat digunakan
tetapi hasilnya kurang baik. Bagi pemula karton dan styrofoam sangat
baik digunakan untuk latihan memahami seni rupa tiga dimensional.
Untuk styrofoam, agar mendapatkan hasil potongan yang baik, perlu
menggunakan alat khusus yang dapat dibeli di toko dan harganya pun
tidak terlalu mahal. Apabila menggunakan pisau kadang-kadang hasil
potongan kurang baik
2. Bahan Liat
Bahan liat ada beberapa jenis, seperti tanah liat, gips, plastisin dan
lilin. Dalam latihan ini digunakan bahan tanah liat yang mudah didapat
karena hampir ada di seluruh tempat, hanya pengolahannya perlu
ditingkatkan kualitasnya.Tanah liat ada beberapa jenis, yaitu : Earthenware,
stoneware, raku dan porselin. Tanah liat sangat mudah dibentuk.
Untuk itu ada beberapa teknik dasar dalam pembentukannya dan
memiliki cirinya masing-masing. Hal ini dibahas dalam bab V.
Earthenware pada umumnya dikenal berwarna merah, namun ada
juga yang berwarna putih. Jenis tanah liat ini paling banyak digunakan
karena mudah mendapatkannya. Untuk pembakaran dengan tungku
diperlukan panas 1000ºC, dan untuk mengglasirnya diperlukan panas
1040º C - 1160º.
162
a
b
c
d
Gambar 154. Jenis tanah liat (a) Earthen Ware, (b) Stone Ware, (c) Porselin, (d) Raku
Stoneware berbeda dengan earthenware karena memerlukan suhu
yang lebih tinggi dalam pembakaran glasirnya, yaitu untuk bakaran
biscuit diperlukan panas 1000º C dan untuk glasir 1200-1300º C.
Stoneware hasilnya lebih berat dan kuat dibanding earthenware. Efek
lebih halus dapat dihasilkan jika menggunakan teknik reduksi dalam
pembakarannya. Untuk itu perlu digunakan tungku yang dapat dimatikan
dengan seketika.
163
Porselin merupakan jenis tanah liat yang sangat halus dan hasilnya
keras. kehalusannya hampir seperti glasir jika digunakan untuk memoles
tanah liat lainnya dan dibakar dengan suhu bakaran glasir. Porselin
memiliki kualitas bening yang tidak dimiliki oleh tanah liat lainnya dan
dapat juga dibuat kusam. Sifatnya sangat cepat kering namun masih
memungkinkan untuk dibentuk, sekalipun dengan teknik putar. Untuk
pembakaran biscuit dibutuhkan panas 1000º C dan untuk glasir 1240 -
1300º C.
Bahan raku merupakan jenis tanah liat yang kasar karena
mengandung pertikel butiran pasir. Ketika telah menjadi produk bahan
raku ini memberikan kesan tekstur seperti batu. Untuk pembakaran
biskuit memerlukan temperatur panas lebih rendah dari jenis tanah liat
lainnya yaitu sekitar 900º C, sedangkan untuk glasir 800-1000º C. Bahan
raku dapat dibakar beberapa kali hingga mendapatkan hasil pembakaran
yang diinginkan.
Gambar 155. Benda-benda dari bahan eartheware (a) Periuk kuno dari NTT,
(b) Kendi dari Zaman Majapahit (sumber: Museum Nasional)
3. Bahan Keras
Yang termasuk bahan keras adalah kayu, batu dan logam. Ketiga
jenis bahan ini telah digunakan oleh perupa dan kriyawan sejak jaman
dahulu untuk membuat karya seni rupa dan kriya. Karena bahan ini sukar
dibentuk, maka memerlukan alat-alat khusus seperti alat potong berupa
gergaji, gunting, alat pembentuk berupa pahat dan sebagainya. Di antara
ketiga bahan itu yang paling banyak peralatannya adalah logam, karena
di samping jenis alat di atas dibutuhkan pula peralatan lain, seperti alat
penyambung berupa las serta alat pelebur dan pencetak.
164
a. Kayu
Hampir seluruh kebudayaan masyarakat menggunakan kayu sebagai
bahan untuk produk seni rupa dan kriya. Hal ini disebabkan karena,
hampir di seluruh penjuru dunia ada kayu. Tingkat kekerasan kayu
berbeda-beda, yakni kayu sangat keras, keras, sedang, dan lunak. Hal ini
akan menentukan cara pengerjaannya. Kayu sangat keras sangat sulit
membentuknya, sedang kayu lunak mudah patah, untuk itu dibutuhkan
pengalaman yang cukup untuk mengetahui sifat-sifat kayu termasuk
tekstur, serat, dan daya tahannya terhadap perubahan cuaca. Namun
demikian, dibanding bahan keras lainnya kayu relatif mudah dibentuk
dengan menggunakan alat peraut (pisau), gergaji, pahat, dan ketam
dalam membuat benda seni rupa dan kriya seperti patung, mainan anak,
peralatan rumah tangga dan sebagainya. Alat utama dan minimal yang
harus dimiliki untuk mengerjakan kayu dalam seni rupa adalah pisau raut,
dan pahat dengan berbagai jenis dan fungsi serta alat pemukulnya.
Dengan kedua jenis alat ini seorang perupa telah dapat membuat produk
seni rupa tiga dimensi dengan teknik raut, ukir, dan membentuk.
Beberapa hal yang perlu diketahui tentang kondisi kayu adalah faktor
kekeringan dan pengawetan, serat, dan mata kayu. Kekeringan dan
pengawetan harus menjadi pertimbangan serius dalam mengerjakan
produk seni dengan bahan kayu, oleh karena banyak kasus terjadi
produk kayu yang diekspor ke luar negeri sering mengalami masalah
pecah dan dimakan hama atau ’bubukan’ sehingga kayu menjadi kropos.
Faktor kekeringan yang baik adalah kadar air dibawah 12 persen. Jadi
bagi perupa yang menggunakan bahan dasar kayu utuk karyanya perlu
mempelajari teknologi pengawetan dan pengeringannya dengan baik.
Serat kayu ada beberapa macam, dan hal ini perlu juga diketahui
sifatnya karena berhubungan dengan cara mengerjakannya. Ada
beberapa jenis serat kayu yakni serat lurus dan rapat, serat kasar, dan
serat diagonal. Serat kayu lurus dan rapat adalah sangat baik untuk
pmembuat produk seni, serat kasar dan serta diagonal memerlukan
kehati-hatian dan kesabaran dalam mengerjakannya. Selain serat ada
pula bagian lapisan kayu yang dapat digunakan untuk mengetahui mudah
dan sulit dalam mengerjakan; lapisan kayu yang warnanya cerah dan
lebar menandakan kayu tersebut mudah untuk dikerjakan, sebaliknya
lapisan yang gelap lebih keras dan sulit untuk mengerjakannya. Untuk
referensi lebih detail tentang sifat kayu lihat dalam Wood Carving Basic
tulisan Allan dan Gill Bridgewater.
b. Batu
Karya seni rupa yang menggunakan batu biasanya dalam wujud
patung dan relief. Bahan batu jenisnya bervariasi, ada batu pualam,
marmer, onix dan batu kali. Sejak zaman dahulu batu telah digunakan
untuk membuat benda-benda yang berhubungan dengan ritual. Pada
165
zaman purba batu digunakan untuk alat potong seperti kapak. Hasilnya
untuk pemujaan nenek moyang. Belakangan berkembang menjadi wujud
lingga dan yoni. Oleh karena bahannya tahan lama menyebabkan karyakarya
dengan bahan ini menjadi tidak lekang dimakan jaman, sehingga
jejak seni rupa yang menggunakan bahan batu sangat banyak
diketemukan. Jenis bahan batu ada beberapa macam, yaitu mamer, onix,
batu andesit dan batu paras. Marmer adalah jenis batu yang paling keras
sebaliknya batu paras adalah jenis batu yang paling lunak.
a
b
Gambar 156. (a) Patung Dewa Kuwera dengan bahan logam (sumber: Museum Nasional,
(b)Patung Penunggang Kuda dari Nias bahan batu.
c. Logam
Ada beberapa nama bahan logam yang kekerasannya juga bertingkat,
yaitu: aluminium, besi, baja, tembaga, perunggu, kuningan, nikel, emas,
perak dan platina. Bahan-bahan ini dalarn pembentukannya dapat
langsung ditekuk, dikenteng, disambung dengan las maupun harus
dicairkan untuk keperluan teknik cor. Bahan logam tahan sangat lama,
misalnya perunggu, tembaga, kuningan, perak dan emas yaitu jenis
logam yang anti karat, sehingga karya-karya dengan bahan ini dapat
tahan berabad-abad dan tidak rusak. Di Indonesia hal ini telah dibuktikan
oleh peninggalan seni rupa jaman pra Hindu, jaman Hindu, Budha dan
Islam berupa patung, relief, alat upacara dan perhiasan.
Menyaksikan karya seni atau membuat karya seni, khususnya seni
rupa, memerlukan kepekaan persepsi terutama yang berhubungan
dengan masalah keindahan atau disebut estetik atau disebut the sense of
beauty. Ada tiga cara yang umum untuk melatih kepekaan persepsi
penglihatan. Pertama dengan latihan melihat langsung berbagai jenis
karya seni rupa. Kedua dengan cara latihan membuat langsung karya
seni rupa. Ketiga, dengan membaca ulasan atau keterangan mengenai
seni rupa.
Pada umumnya orang yang melihat langsung karya seni akan mudah
mencerna jika karya seni rupa itu wujudnya realis. Artinya, karya seni
rupa itu menggambarkan secara nyata tentang kondisi sesungguhnya
dari suatu kenyataan. Namun apabila karya seni rupa itu tampilan
wujudnya bukan realis atau bukan mengungkapkan kondisi
sesungguhnya dari suatu kenyataan, maka secara umum orang akan
mulai merasa tidak dapat puas menikmatinya. Kenapa hal itu dapat
terjadi? Hal ini dapat dikiaskan sebagai orang yang belum ‘melek huruf’
lalu disuruh membaca sebuah kata atau kalimat. Orang tersebut tidak
dapat mengetahui makna bentuk huruf atau rangkaian huruf yang
membentuk kata, atau rangkaian kata yang membentuk kalimat. Begitu
pula orang yang pertama kali mendengarkan percakapan bahasa asing
tentu apa yang didengarnya hanya merupakan bunyi yang keluar dari
orang yang bercakap tanpa diketahui maknanya.
Untuk mengetahui dan dapat memahami karya seni rupa yang
nampaknya ‘asing’ karena wujudnya tidak menampilkan kenyataan yang
sudah dikenal baik, seseorang perlu mengetahui ‘bahasa’ rupa dan
propertinya. Bahasa rupa itu disebut unsur-unsur seni rupa dan prinsip
pengorganisasiannya. Namun demikian, hal ini belumlah cukup sebab
bahasa rupa itu dipahami bukan dengan pengertian nalar atau logika,
tetapi dapat dipahami dengan kehalusan perasaan yang berhubungan
dengan the sense of beauty. Kepekaan estetik ini sangat penting,
terutama bagi orang yang berprofesi dalam bidang seni, karena
kepekaan estetik merupakan hal pokok dalam dunia seni. Bagi
masyarakat umum juga penting karena hakekat menjadi manusia salah
satunya memiliki kebutuhan untuk menikmati keindahan, baik yang ada di
alam maupun buatan manusia.
Kepekaan estetik tidak mudah didapat, maksudnya tidak secepat
menghafal sebuah rumus-rumus kimia atau matematik atau perbendaharaan
kata. Kepekaan didapat dengan mengasah setiap saat.
167
Orang yang hidup di lingkungan masyarakat seni akan lebih cepat
memiliki kepekaan estetik dibanding yang tinggal terpencil dari pusat
budaya dan seni. Namun demikian, setiap orang memilikinya, karena hal
ini telah ada dan dibawa sejak lahir. Selain itu kenyataan telah
membuktikan, bahwa masyarakat yang masih terbelakang pun dalam
peradaban ini dapat menghasilkan karya seni. Berarti secara naluriah
manusia memang membutuhkan seni dalam kehidupannya.
Dalam mengasah kepekaan estetik tersebut, dalam seni rupa
dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu secara produktif melalui praktek,
apresiatif melalui kegiatan analisis karya seni rupa baik langsung maupun
melalui mediator, dan melalui alat bantu visual,seperti buku, slide, foto
reproduksi dan sebagainya.
Perhatikanlah karya-karya seni rupa (gb 157 dan 158) berikut !
a
b
c
Gambar 157 . (a) Bonnet, Pengarit, (b) Basuki Abdulah, Penari Bali, (c) Nyoman Gunarsa, Dua Penari Bali
(sumber: (a,b)Koleksi Presiden Soekarno, (c) Foto Agung Suryahadi)
Dari enam jenis karya seni rupa di atas ini semuanya memberikan kesan
‘rasa’ yang berbeda. Perhatikan gambar (157 a, b dan c), begitu pula
gambar patung (158 a,b,c). Dapatkah diungkapkan perasaan atau kesan
apa yang disampaikan oleh masing-masing karya seni rupa tersebut?
Setiap orang akan memberikan ungkapan yang berbeda, hal ini
tergantung dari kemampuan kepekaan persepsi visual seseorang dalam
‘mencerna’ unsur-unsur yang ada dalam karya itu, yang juga dipengaruhi
oleh latar belakang pengalaman setiap individu dalam intensitasnya
‘bergaul’ dengan karya seni rupa. Agar dapat efektif mengasah kepekaan
168
persepsi visual yang berhubungan dengan estetik, pembahasan unsurunsur
seni rupa disajikan melalui teori dan praktek.
Gambar 158. (a) Ratu dan putrinya, karya patung zaman Mesir Kuno (b) Thorn Puller, karya patung
zaman Helenistik, (c) Nyoman Nuarta (sumber: (a,b) Paul Zelanski, (c) Indonesian Heritage).
A. Unsur Seni Rupa
1. Unsur Garis
Garis adalah salah satu unsur seni rupa yang paling pokok, sebab
garis merupakan unsur rupa yang ada dimana-mana. Untuk lebih
memahami tentang garis coba perhatikan bagian tepi sebuah benda,
perhatikan jejak yang ditinggalkan oleh binatang melata di atas tanah
berdebu, batas pandangan di laut lepas, tiang listrik, cabang pohon, kilat
yang menyambar, retak pada tembok. Setelah itu dapatkah anda
mernahami apakah garis itu ?
Perhatikanlah bentuk-bentuk di bawah ini ?
a b c d e
Gambar 159 . Unsur seni rupa: bentuk (a,b) dan garis (c,d,e)
a
b
c
169
Perhatikanlah bentuk a dan b, apa yang menyebabkan bentuk itu
berbeda? Lihat pula garis-garis yang ada di sebelahnya, cermati
satu persatu, bagaimana perasaan anda melihat setiap garis itu ?
Pada dasarnyaya garis itu hanya ada dua, yaitu garis lurus dan garis
lengkung. Garis-garis lainnya merupakan pengembangan dan variasi dari
kedua jenis garis tersebut dan menyampaikan karakter yang berbeda.
Walaupun garis itu sederhana, ia dapat menyampaikan suatu perasaan
dan ini tergantung dari kondisi jenis garis tersebut, yaitu tebal tipisnya,
posisi dan arahnya.
Sebuah garis lengkung tebal menyampaikan kesan yang berbeda
dibanding dengan garis lengkung tipis, apalagi dengan garis lurus dalam
posisi yang berbeda tentu akan memberikan kesan yang sangat berbeda
dalam perasaan kita. Terwujudnya sebuah bentuk disebabkan karena
garis yang membatasi ruang, baik nyata maupun sugestif. Sifat-sifat garis
yang membatasi itu menentukan pula sifat bentuk yang dihasilkannya.
Oleh sebab itu, keterampilan dalam membuat garis erat hubungannya
dengan keterampilan membuat bentuk dengan garis.
Penggunaan garis dalam seni rupa tidak hanya pada karya dua
dimensional, perhatikanlah (gb. 158 c) karya Nyoman Nuarta. Garis
dalam karya itu sangat efektif digunakan dalam membuat patung yang
ekspresif. Hampir seluruh wujud patung terbentuk dari garis sehingga
patung kelihatan seperti dibalut oleh kain namun memberi ekpresi
dinamis oleh karena patung itu seakan bergerak oleh ilusi garis. Sama
pula halnya dengan (gb. 157 b dan c). Dalam kedua lukisan tersebut
ekspresi garis sangat memegang peran penting dalam menghasilkan
lukisan yang bersifat dinamis dan ekspresif.
Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan garis adalah
mengetahui potensi ekspresi garis tersebut. MisaInya jika ingin
menyampaikan karakter kuat, berani dan agresif tentu harus menggunakan
garis yang sesuai untuk itu, misalnya garis tebal, rata, tajam dan
halus. Jika ingin menyampaikan suatu sifat yang lembut dan halus
gunakanlah garis lengkung tipis dan tak terputus. Namun, perlu diingat
bahwa hal itu tidak selalu demikian karena yang lebih menentukan adalah
bagaimana perasaan itu dapat diwakili oleh garis yang dibuat. Seorang
yang membuat garis dengan perasaan yang terkonsentrasi pada waktu
menggoreskannya hasilnya berbeda dengan orang yang hanya sekedar
membuat garis. Agar dapat selaras antara gerak perasaan dengan gerak
tangan dalam menghasilkan garis yang diinginkan diperlukan latihan dan
latihan yang terus menerus. Untuk keperluan itu lihatlah aspek dan sifat
beberapa garis di bawah ini, rasakan perbedaan kesan yang
disampaikan, kemudian latihlah tangan membuat garis sesuai dengan
perasaan yang dikehendaki.
170
Tabel 2. Garis dan Kesan Efek Fisiknya
No Aspek Variasi Tampilan Kesan Fisik
1. Jenis : - Lurus
- Kesan kaku, keras,
tajam.
- Lengkung
- Lembut, empuk, halus
- Berombak
- Dinamis mengalun.
bergerak, menyenangkan
- Zigzag
- Kaku, tegang,
panas, menakutkan
2. Ketebalan: - Tebal
- Menambah berat,
berani, kasar, tegas
- Tipis
- Halus, ringan, ragu
3. Kontinyuitas
:
- Tak
Terputus
- Lancar, konsisten,
tidak ragu
- Terputus
- Tersendat, ragu,
kurang berani
- Titik-Titik
- Ritmis, ragu
4. Arah: - Tegak Lurus
- Kesan tinggi, menyempit
- Mendatar
- Melebar, pendek, tenang,
mati, istirahat
- Diagonal
- Dinamis, tidak stabil,
oleng.
5. Ekspresif
- Spontan, berani,
segar
171
Tugas latihan
Perhatikanlah garis-garis berikut ini, gunakanlah sebagai acuan,
kemudian latihlah tangan dengan membuat berbagai jenis garis
dengan berbagai jenis alat dan bahan seperti pensil, pastel, tinta
dan arang.
a
b
c d e
f
Gambar 160. Berbagai jenis bahan dan teknik membuat garis, hasil latihan peserta Diklat
Dasar Seni Rupa/Kekriyaan P4TK Seni dan Budaya
Latihan membuat garis selain untuk melancarkan tangan dalam
membuat garis juga berlatih mengamati potensi garis, baik keterbatasan
maupun kelebihannya. Pada gambar 160 a, garis dibuat dengan tinta dan
dengan alat pena, dilakukan ekplorasi tebal tipisnya, serta efek-efek
172
visualnya untuk mendapatkan nilai estetiknya. Pada gambar 160 b garis
spontan dengan tinta dikombinasi degan warna cat air. Pada gb.160 c,
garis dibuat di atas tekstur kasar dengan arah melingkar menuju ke pusat
di tengah. Gambar 160 d, garis dibuat dengan pensil tumpang tindih dan
membentuk irama bergelombang. Gambar 160 e, garis-garis lengkung
dengan variasi arah dan ketebalan memberikan kesan dinamis. Gambar
160 f, garis tidak hanya dapat dibuat dengan alat yang runcing, namun
dapat pula memanfaatkan batas tepi kertas dengan teknik arsiran dan
gosok. Masih ada banyak kemungkinan lain dalam membuat garis untuk
mendapatkan nilai estetik dan ekpresinya, baik dengan media dua
dimensional dan tiga dimensional selain itu pada gb. 161 dan 162, garis
dapat digunakan untuk membentuk ilusi tiga dimensional. Pada gambar
tersebut, arah garis yang disusun secara teratur dan berulang-ulang
dapat membentuk ilusi ruang serta gerakan.
b
Gambar 161 . Dua gambar dengan hanya menggunakan garis
a
173
a
b
Gambar 162. Ilusi Garis (sumber: Robert H. McKim)
2. Unsur Ruang
Ruang termasuk unsur seni rupa yang pokok. Dengan adanya ruang,
maka karya seni rupa dapat dibuat. Ada ruang dua dimensional (bidang)
ada pula tiga dimensional. Sebuah titik di atas kertas ada pada ruang
datar, sedang kita ada pada ruang berongga. Penggunaan ruang pada
permukaan datar menyangkut hubungan antara ruang datar (bidang) latar
belakang dengan figur (bentuk). Dalam istilah keruangan hal ini disebut
sebagai ruang positif (bentuk) dan ruang negatif, yaitu ruang di belakang
atau di sekitar bentuk atau latar belakang. Apabila bentuk datar v(ruang
positif) dan latar belakang datar ukurannya sama, dapat menimbulkan
bentuk yang simultan dan penglihatan mata kita dipaksa untuk melihat
kedua bentuk secara bersamaan. Efek ini dapat menyebabkan mata
kelelahan untuk mengidentifikasikannya (gb. 163 b)
174
a b
Gambar 163. (a) Positif dan negatif, (b) Positif negatif simultan
Membuat karya seni rupa pada dasarnya merupakan kegiatan mengorganisasikan
ruang positif dan ruang negatif, dalam susunan yang baik
interaksi keduanya dapat mencapai harmoni.
Dengan diketemukannya perspektif pengorganisasian ruang dalam
bidang dua dimensional semakin berkembang, sebab dengan menggunakan
prinsip perspektif dimungkinkan untuk menggambarkan ilusi
ruang dengan kedalaman pada bidang datar. Dalam prinsipnya ada dua
jenis perspektif, pertama, benda-benda yang posisinya sejajar semakin
menjauh akan kelihatan semakin mengecil menuju kepada titik lenyap
pada garis batas pandangan hal ini disebut linear perspektif (gb.164),
kedua, benda-benda yang menjauh akan semakin kabur karena
pengaruh atmosfer, sedang benda yang dekat terlihat lebih terang dan
besar, prinsip ini disebut areal perspektif (gb.162, 163). Penggunaan
perspektif sangat penting bagi pelukis naturalis dan realis, kedua jenis
perspektif terkadang digunakan secara bersamaan untuk mendapatkan
ilusi tiga dimensi lebih efektif. Perhatikan gambar 165 pepohonan
semakin jauh semakin mengecil, begitu pula warna semakin jauh
semakin melemah intensitasnya.
Perhatikan pula gambar berikut ! Bagaimana caranya
menggambarkan ilusi ruang ?
175
Gambar 164. Ruang positif negatif dengan areal perspektif.
Gambar 165. Albert Biersatdt, The Rocky Mountain (sumber: Paul Zelanski)
176
Gambar 166 . Jacopo Tintoretto, The Finding of the Body of St Mark
( sumber: Paul Zerlanski)
Tugas Latihan
Agar mengetahmi potensi ruang yang sesungguhnya lakukanlah
latihan belikut ini:
�� Camkanlah tentang perbedaan ruang negatif dan ruang positif
�� Pada kertas gambar A4 susunlah ruang positif secara tumpang
tindih dan gunakan tinta hitam sebagai warnanya
�� Dengan kertas yang lain susunan ruang positif dan negatif dalam
perbandingan yang sama, gunakan pula tinta hitam sebagai
warnanya
�� Perhatikan hasilnya dan cermati hal-hal yang kurang memuaskan
perhatian
�� Gunakan contoh sebagai acuan
177
Gambar 167 . Contoh Ruang positif dan negatif karya peserta
Diklat Desain Dasar Seni Rupa/Kriya P4TK Seni Budaya
3. Unsur Bentuk
Bentuk merupakan salah satu unsur seni rupa yang menentukan
keberhasilan sebuah karya seni rupa dan kriya. Namun di samping istilah
bentuk ada pula istilah wujud untuk membedakan antara 'image' (2
dimensional) yang memiliki panjang dan lebar pada area yang datar
dengan 'image' (3 dimensional) yang memiliki panjang, lebar, dan
volume/tebal pada area dengan kedalaman.
178
Bagan 1 . Bentuk dan wujud
Lihatlah kedua karya ini, dapatkah anda mendapatkan perbedaan
dan persamaannya ?
a b
Gambar 168. (a) Bentuk organik dua dimensi, (b) Bentuk organik tiga dimensi
Bentuk ada karena dibatasi oleh garis. Garis yang membatasi
bidang menjadikan bentuk dan karakter bentuk itu ditentukan oleh jenis
garis yang membatasinya itu. Bentuk yang dibatasi oleh garis lurus
karakternya berbeda dengan bentuk yang dibatasi oleh garis lengkung.
Pembatasan bidang oleh garis ini menghasilkan dua jenis bentuk yaitu
179
bentuk geometris dan bentuk organis (gb.169). Bentuk geometris
struktumya teratur misaInya: segitiga, segiempat dan bulat; sedangkan
bentuk organis strukturnya tidak teratur dan banyak terdapat pada
bentuk-bentuk alami seperti pepohonan, akar, tulang binatang, mahluk di
dalam lautan dan sebagainya.
a b
Bagan 2 . (a) Bentuk organis, (b) Bentuk
Selanjutnya perhatikanlah bentuk-bentuk di bawah ini, kesan apa
saja yang timbul dalam hati ketika memperhatikannya ?
a b
Gambar 169. Bentuk dengan ilusi tiga dimensi, (a) Bentuk organis, (b) Bentuk geometris.
Dalam seni rupa dua dimensional (nirmana datar) sejak dahulu telah
dilakukan upaya untuk menggambarkan ilusi tiga dimensional atau ruang
pada bidang datar. Salah satunya adalah dengan cara tumpang tindih
180
atau overlapping (gb.169, 170). Kita tahu bahwa bila sesuatu tersusun
dalam posisi tumpang tindih maka ada suatu celah di antara bentukbentuk
tersebut dan celah itu adalah ruang. Cara lain adalah dengan
memberikan sinar dan bayangan pada bentuk itu dengan teknik arsiran
dan blok (gb. 169,170).
Perhatikanlah gambar di bawah ini! Apakah anda dapat melihat
adanya perbedaan bentuk dan teknik menggambarkannya ?
a
b
Gambar 170 .
Bentuk-bentuk
organis dan geometris
bervolume,
karya peserta
Diklat Dasar
Seni Rupa/
Kekriyaan.
c
d
Pada gambar (a) arsiran untuk memberikan kesan volume diterapkan pada tepi
bentuk organis, sedang pada gambar (b) bagian gelap menggunakan teknik blok
pada bagian yang tidak atau sedikit kena sinar, Namun pada bentuk geometris
dapat juga diterapkan teknik arsiran untuk mendapatkan ilusi tiga dimensional
(gb.170a,d).
186
4. Unsur Warna
Dalam seni rupa warna sangat esensial, karena penampilan pertama
yang diperhatikan orang selain bentuk adalah warna. Warnalah yang
menyebabkan kita berhenti sejenak untuk melihat kain yang dijual di
sebuah toko, demikian juga war-na menyebabkan kita dapat mengenali
sebuah benda. Bagaimana rupa dunia ini jika tidak ada warna ? Lalu
apakah warna itu ?
a. Teori Warna
Ada beberapa pendapat yang mencoba menjelaskan tentang warna,
namun yang menonjol dan aplikatif dalam bidang seni rupa adalah teori
cahaya dan teori pigmen. Teori cahaya dipelopori oleh Sir Isaac
Newton yang mengatakan bahwa warna yang kita Iihat pada suatu benda
berasal dari cahaya putih matahari. Hal ini dibuktikannya dengan
membiaskan cahaya putih itu dengan prisma kaca (bagan 3 ). Hasil yang
keluar dari prisma itu berupa tujuh spektrum warna.
Selanjutnya menurut teori itu kita dapat melihat warna sebuah benda
karena benda tersebut menyerap dan memantulkan spektrum warna ke
mata kita.
MisaInya kita melihat warna merah suatu benda karena hanya
spektrum merah yang dipantulkan, sedang yang lainnya diserap oleh
benda tersebut. Jika benda itu kelihatan abu-abu artinya seluruh
spektrum dipantulkan setengah, jika kelihatan hitam seluruh spektrum
diserap dan apabila putih seluruh spektrum dipantulkan secara penuh.
Dalam teori pigmen dinyatakan bahwa warna itu terdapat pada
pigmen dan hanya ada tiga jenis warna pokok,yaitu merah, biru dan
kuning. Warna-warna itu tidak bisa didapat dengan mencampur, warnawarna
tersebut adalah warna murni. Teori ini dipelopori oleh Prang
Brewster. Dalam perkembangannya warna dikelompokkan menjadi tiga,
Bagan 3 . Pembiasan cahaya putih
menjadi warna dengan prisma
kaca
187
yakni warna primer, warna sekunder dan warna tertier. Warna primer
merupakan warna induk karena warna sekunder didapat dengan
mencampur warna-warna primer sedang warna tertier didapat dengan
mencampur warna primer dan sekunder. Tiga kelompok warna itu
tersusun dalam lingkaran warna dan lingkaran warna tersebut dapat
digunakan sebagai pedoman dasar penggunaan warna. Uraian
selanjutnya tentang warna dalam buku ini adalah berdasarkan teori
Prang.
Lingkaran Warna
Bagan 4 . Tint & Shade, dan lingkaran warna
Kelompok Warna Nama Warna
Warna Primer : Merah, Biru, Kuning
Warna Sekunder : Hijau, Jingga, Ungu
Warna Tertier : Kuning Jingga, Merah Jingga, Ungu
Merah, Ungu Biru, Hijau Biru, Hijau
Kuning
188
Tugas Latihan
Agar dapat memahami percampuran warna lakukan latihan berikut
ini :
�� Pada kertas gambar A4 buatlah sebuah lingkaran dan bagi
lingkaran itu menjadi dua belas bagian yang sama.
�� Tentukan bagian paling atas sebagai ruang warna kuning,
kemudian searah jarum jam adalah berturut-turut warna kuning
jingga, jingga, merah jingga, merah, ungu merah, ungu, biru
ungu, biru, hijau biru, hijau dan hijau kuning.
�� Selanjutnya isilah ruang-ruang tersebut dengan warna cat poster
sesuai dengan namanya.
�� Untuk mendapatkan warna sekunder campurlah dua warna
primer dengan perbandingan 1:1 ( k+b=h, k+m=j, b+m=u). Begitu
pula untuk mendapatkan warna tertier campurlah warna primer
dengan sekunder 1:1.
�� Dengan kertas gambar A4 yang lain buatIah sebuah segitiga
sama sisi
�� Bagilah ruang segi-tiga itu menjadi tiga bagian, kemudian pada
bagian tersebut terapkanlah warna-warna primer
�� Pada kertas yang lain buatIah segi-empat sama sisi dan bagi
menjadi empat bagian. Seterusnya terapkanlah empat warna
yang saling berhadapan pada lingkaran warna pada empat ruang
pada segi-empat tersebut
�� Perhatikan dengan seksama bagaimana kelihatannya warnawarna
yang saling berjajar itu baik pada lingkaran maupun pada
segi-tiga dan segi-empat Kenalilah sifat-sifat warna itu dengan
perasaaan anda, warna yang menonjol, menyurut, panas, dingin,
bergetar dan sebagainya.
b. Temperatur Warna
Warna-warna dalam lingkaran warna selain dikelompokkan menjadi
tiga kelompok wama dapat pula diklasifikasikan menjadi dua kelompok
warna menurut temperaturya, yaitu warna panas dan warna dingin.
Warna-warna yang temasuk kelompok wama panas adalah : kuning,
kuning jingga, jingga, merah jingga, merah dan merah ungu; sedangkan
yang termasuk warna dingin adalah: ungu, ungu biru, biru, hijau biru,
hijau dan hijau kuning. Kesan temperatur yang ditimbulkannya
disebabkan karena kebiasaan dari keadaan yang ada setiap hari di
lingkungan kita. Pengalaman kita menunjukkan bahwa sesuatu yang
berwarna merah, jingga, kuning adalah panas; misalnya: api, matahari,
dan logam yang dilelehkan. Sebaliknya sesuatu yang berwarna violet,
189
hijau, biru adalah dingin; misalnya : laut, danau, dan pegunungan. Hijau
dan ungu dapat menjadi panas jika pada unsurnya lebih banyak
mengandung warna panas, seperti kuning dan merah. Warna yang paling
panas adalah kuning dan yang paling dingin adalah ungu. Sedangkan
kelompok warna netral adalah abu-abu, hitam dan putih. Sebenarya
hitam dan putih bukanlah warna sebab hanya berupa gelap dan terang .
Value dan intensity juga dapat mengandung temperatur warna ini. Value
yang terang kelihatan lebih panas daripada value yang gelap, begitu pula
warna yang intesitasnya penuh kesannya lebih panas dibandingkan
dengan warna yang intensitasnya lebih lemah. Penerapan warna panas
dan dingin akan efektif jika disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
Misalnya, pada terik matahari jika menggunakan warna panas suasana
akan lebih menjadi panas, untuk itu dalam kondisi panas akan lebih baik
jika menerapkan warna dingin.
Hal yang sama adalah penggunaan warna pada ruang atau
perlengkapan anak-anak, seperti ruangan, pakaian, dan mainan. Untuk
anak-anak lebih baik menggunakan warna ringan yang ceria, tidak
menggunakan warna-warna berat dan kusam. Hal ini sesuai dengan sifat
anak-anak yang menyukai hal-hal yang menggembirakan. Jadi secara
alami berbeda dengan selera orang dewasa yang sering menyesuaikan
dengan kondisi kegemaran dan kejiwaannya.
Tugas Latihan
Untuk dapat memahami potensi warna lakukanlah latihan berikut ini:
�� Ambil selembar kertas gambar, lalu buatIah bentuk-bentuk
geometris dengan ukuran yang bervariasi, gunakan pensil.
�� Pertimbangkan dan rasakan susunannya, jika dirasa sudah baik
terapkanlah warna-warna panas pada bentuk dan latar
belakangnya . Gunakan warna cat poster
�� Dengan prosedur yang sama buatIah bentuk-bentuk organis
dengan warna-warna dingin
�� Bandingkan kedua hasil karya itu dan rasakan temperatur
warnanya!
190
a
b
Gambar 171. Aplikasi warna panas (a) dan warna dingin (b)
c. Dimensi Warna
Jumlah warna diperkirakan kurang lebih ada 30.000 jenis. Setiap
warna sesungguhnya mengandung tiga aspek yaitu : Hue, Value dan
Intensity. Perbedaan warna disebabkan oleh ketiga aspek tersebut dan
setiap aspek memiliki peran khusus dan berinteraksi satu dengan lainnya.
Hue adalah nama warna pada lingkaran warna dan keberadaannya
ditentukan oleh adanya sinar langsung maupun tak langsung. Hue murni
intensitasnya tinggi dan biasanya hue sangat kuat menarik perhatian.
Value merupakan istilah untuk menunjukkan terang gelapnya hue.
Hue yang mumi jika ditambah putih disebut tint dan bila hue murni
ditambah hitam disebut shade. Aplikasi dari kedua hal ini tampak dalam
membuat tone warna terutama gelap terang untuk ilusi tiga dimensional
pada lukisan realis begitu pula pada karya-karya jenis lainnya yang datar
seperti pada karya grafis, dekorasi interior dan sebagainya.
Intensity adalah cerah suramnya wama. Warna yang cerah memiliki
intensitas yang tinggi, sedangkan warna suram memiliki intensitas
rendah. Hitam, putih dan abu-abu adalah warna suram yang tidak
memiliki intensitas hue. Oleh sebab itu warna abu-abu dapat berperan
191
sebagai warna netral yang dapat menyatukan warna lainnya terutama
warna kontras. Warna hitam dapat mengikat warna-warna kontras oleh
karena hitam menyerap cahaya, karena warna-warna kontras yang
intensitasnya tinggi kekuatan refleksi cahayanya dikurangi oleh warna
hitam jika digunakan sebagai latar belakang, atau sebagai kontur garis
tepi bentuk. Putih adalah sebaliknya dari hitam karena memantulkan
seluruh gelombang spektrum warna, sehingga warna kelihatan lebih
cerah di atas putih. Sedangkan abu-abu memantulkan setengah dari
setiap spektrum warna.
Untuk lebih memahami bagaimana peran warna dalam seni rupa
perhatikanlah karya-karya berikut. Perhatikan cerah suramnya,
gelap terangnya dan bagaimana perannya dalam ruang dan bentuk ?
a
b
Gambar172. (a)
Aplikasi warnawarna
intesitas
tinggi, (b) Aplikasi
warna-warna
intesitas rendah.
192
Perhatikan warna-warna yang ada di alam disekeliling anda. Apakah
ada kombinasi warna yang tidak menyenangkan? Alam sangat
bijaksana, lihatlah warna-warna bunga, walaupun kontras dengan
daunnya yang hijau tetapi tetap menyenangkan. Pelajarilah itu !
d. Skema warna
Bagaimana caranya mengkombinasikan warna? Walaupun selera
dalam memilih dan mengkombinasikan warna itu sifatnya sangat pribadi,
pertanyaan tadi maksudnya untuk mengetahui apakah ada pedoman
dalam penyusunan kombinasi warna. Skema warna memberikan suatu
kunci bagaimana mendapatkan susunan warna serasi yang dapat
diterapkan ke dalam karya seni rupa dan kriya. Namun demikian kunci
skema warna ini bukanlah harga mati, ini hanyalah suatu tuntunan jika
Tugas Latihan
Untuk dapat memahami
potensi warna lakukanlah
latihan berikut ini:
�� Ambil selembar kertas
gambar, lalu buatIah
bentuk-bentuk geometris
dengan ukuran
yang bervariasi, gunakan
pensil.
�� Pertimbangkan dan rasakan
susunannya, jika
dirasa sudah baik terapkanlah
warna-warna
panas pada bentuk dan
latar be-lakangnya .
Gunakan warna cat
poster
�� Dengan prosedur yang
sama buatIah bentukbentuk
organis dengan
warna-warna dingin
�� Bandingkan kedua hasil
karya itu dan rasakan
temperatur warnanya!
Gambar 173 . Aplikasi warna primer
193
menemui kebuntuan dalam upaya mendapatkan warna yang diharapkan.
Hal yang sangat menentukan adalah suasana hati berupa ketajaman
rasa dalam menentukan warna. Sumber penggunaan skema warna ini
adalah lingkaran warna. Ada beberapa kunci untuk mendapatkan warna
yang serasi yaitu monokromatik, analogus dan komplementer.
Monokromatik, susunan warna ini berdasarkan satu hue; 'mono' berarti
satu dan 'kromatik' berarti warna. Dalam kombinasinya menggunakan
satu nada warna, yaitu hue murni ditambah dengan tint dan shade.
Keharmonisan mudah dicapai, namun perlu variasi dalam unsur lainnya
agar tidak membosankan. Pada gambar berikut motif divariasikan
ukurannya, dan susunan pengulangan motif secara acak, walaupun
motifnya sejenis terasa tidak membosankan. Pada gambar 175 susunan
warna monokromatik diberi aksen merah, sehingga merah menjadi
dominan dan pusat perhatian. Warna merah memiliki intensitas yang kuat
sehingga mengalahkan warna lainnya, selain itu merah dalam bentuk
segitiga bersifat kontras dengan bentuk bulat dengan warna abu-abu
dengan tiga variasinya sehingga susunan sangat menarik perhatian
dengan latar belakang hitam. Susunan bentuk bulat sangat menarik
walaupun dalam satu nada, oleh karena ukuran dan susunannya yang
dinamis seakan bentuk bulat tersebut bergerak-gerak seperti gelembunggelembung
di udara. Penyusunan dengan cara demikian sangat baik
menghindari kejemuan karena bentuk dan nada warna yang monotone.
Gambar 174. Penerapan warna monokromatik
194
Gambar175 . Warna monokromatik dengan aksen warna
primer merah
Gambar 176. Penggunaan warna monokromatik
195
Analogus, susunan warna yang terdiri dari dua sampai empat warna
yang bersebelahan dalam lingkaran warna dengan satu warna primer.
Susunan warna ini juga mudah untuk mendapatkan harmoni karena
hampir semuanya memiliki nada warna yang sama, misalnya ungu
memiliki unsur biru, ungu biru memiliki unsur yang sama pula. Pada
susunan berikut biru merupakan aksen yang tidak kontras sehingga
harmoni tidak sulit untuk didapat. Sedangkan latar belakang abu-abu
sebagai warna netral juga menyatukan warna dan bentuk yang agak
berbeda dalam kualitasnya. Susunan analogus lebih menarik karena ada
salah satu warna pokok yang menonjol sebagai penekanan perhatian.
Hal ini berbeda dengan warna monokromatik karena semua warna
senada. Pada susunan berikut, warna dan bentuk saling berinteraksi,
misalnya bentuk ungu dalam garis spiral geometris berhubungan
dengan bentuk biru dalam garis spiral organik namun kontras dalam
kualitasnya, yaitu sifat geometris dan organisnya dari kedua jenis garis
sehingga hubungannya tidak menjadi monotone walau warnanya senada.
Komplementer, yaitu susunan warna yang berhadapan dalam lingkaran
warna. Skema warna ini terdiri beberapa macam. Perhatikan tabel
berikut. Warna komplemen pada dasarnya adalah warna kontras, apabila
disusun secara tepat dapat sangat menarik perhatian, namun sebaliknya
jika kontras tidak dapat dikontrol dapat menyebabkan tidak nyaman pada
penglihatan. Dalam susunan warna berikut, kontras diikat dengan latar
Gambar 177. Penerapan warna analogus
196
belakang hitam sehingga dapat menjadi harmoni. Susunan terlihat
dinamis karena karena warna-warna yang diterapkan pada bentukbentuk
kontras memancar dari satu titik pusat di sudut kiri bawah.
Dengan demikian hitam sangat kuat menyatukan unsur-unsur yang
berbeda.
Gambar 179. Penggunaan warna komplementer.
Gambar 178 . Penerapan warna komplementer
197
Bagan 5. Skema Warna
Sumber: Marial L. Davis.
e. Makna Warna
Hal yang perlu juga diketahui dalam menggunakan warna adalah
tentang bahasa warna. Walaupun sesungguhnya bahasa warna sangat
subyektif dalam mengartikan dan menggunakannya, namun secara
umum warna dingin dan gelap dengan intensitas yang rendah kelihatan
lebih tenang, meditatif dan introspektif. Sebaliknya warna panas dengan
intensitas tinggi dapat memberi kesan cerah, kelihatan dinamis, lincah
dan menonjol. Dengan demikian kedua jenis warna ini memiliki sifat
kontras, jika digunakan dengan tepat proporsinya dapat memberikan
kesan perasaan yang menyenangkan.
Sebagai acuan, para ahli telah mengartikan warna sebagai tabel
berikut .
198
Tabel 3 . Makna Warna
Nama Warna Makna Warna
Merah : cinta, nafsu, kekuatan, semangat, tenaga,
ketertarikan, bahaya, kemarahan.
Merah – Orange : spirit, enerji, kekuatan, berani dan tindakan.
Orange : hangat, ceria, muda, kenikmatan.
Kuning – orange: kebahagiaan, kemakmuran, keramahan, optimisme,
dan keterbukaan.
Kuning : terang, pintar, bijaksana, hangat .
Kuning - hijau : persaudaraan, muda, hangat, baru.
Hijau : muda, belum berpengalaman, tumbuh, kaya,
kesegaran, kalem dan istirahat.
Biru - hijau : diam, santai, halus, setia.
Biru : damai, setia, tertahan, konservatif, pasif hormat,
kesedihan, kelembutan.
Biru - ungu : spiritualisme, kerendahan hati, kedewasaan, kehormatan,
kelelahan.
Ungu : keajegan, keagungan, dramatis, dominan, misteri,
formal, melankoli, tenang.
Merah - ungu : tegang, terasing, dramatis.
Cokelat : tidak formal, hangat, alamiah, persahabatan,
kemanusiaan, seperti tanah.
Hitam : kehormatan, berduka, formal, kematian, muram, tak
menentu, sedih, misteri.
Abu-abu : ketenangan, penyerahan, keagungan, netral.
Putih : kesenangan, harapan, kemurnian, mustahil,
kebersihan, spiritualisme, kenikmatan, pemberian
maaf, pencerahan, kesucian.
Sumber: Marian L. Davis
199
Tugas A : Studi Observasi Warna di Lingkungan
Agar lebih dapat mengahayati bagaimana arti sebuah warna coba
amati lingkungan anda di rumah, di sekitar rumah dan di kampung
anda. Warna apa yang dominan dalam lingkungan itu dan bagaimana
perasaan anda tentang warna tersebut? Selain itu amati warna
pakaian dari teman-teman anda, warna apa yang dominan
dikenakannya lalu tanyakan kenapa mereka menyukai warna tersebut!
Kemudian untuk melatih perasaan anda lihatlah warna langit
yang biru bersih, warna api yang menyala, warna tanah, warna daun
dari pepohonan, resapi betul warna-warna itu dan apakah ada
perbedan rasa yang dimiliki olek setiap warna itu? Tuliskan hasil
pengamatan itu sebagai laporan sebanyak 3 halaman A4, satu
setengah spasi.
Tugas B : Latihan Pengembangan Motif dan Penerapan Warna
Untuk dapat memahami bagaimana menyusun warna serasi yang
menurut kunci skema warna sebaiknya lakukanlah latihan berikut :
�� Pergilah ke kebun, pilih sebuah pohon besar, pohon bunga atau
sejenis rerumputan. Amati dengan cermat batangnya, daunnya,
bunganya mungkin juga ada buahnya
�� Mulailah membuat sket dari beberapa bagian pohon tersebut
secara terpisah-pisah. Gambar ini merupakan studi dari pohon
itu yang nantinya akan dipindahkan menjadi sebuah motif
sederhana.
�� Dengan kertas lain buatlah lima buah motif berdasarkan bentukbentuk
dari pohon yang telah digambar tadi
�� Pilih salah satu motif yang paling disenangi kemudian beri warna
monokromatik dengan warna poster atau cat air.
�� Dengan prosedur yang sama buatlah gambar studi dari berbagai
obyek, dapat binatang atau benda-benda lainnya yang ada
disekitar anda, kentudian terapkan pula skema-skema warna
lainnya : analogus dan kontplementer.
�� Gunakan contoh-contoh di atas sebagai acuan.
200
5. Unsur Tekstur
Perhatikanlah tekstur berikut, bagaimana anda melihat dan
merasakan permukaannya? Untuk lebih nyata lagi lihatlah permukaan
lantai di bawah anda, sepatu anda, kaca jendela, almari dan kalau bisa
lihat permukaan sebuah karya seni rupa atau kriya. Bagaimana
kelihatannya? Bagaimana pula, rasanya kalau diraba ? Semua itu
menunjukkan kepada kondisi permukaan suatu benda. Dapatkah anda
mendefinisikan tekstur itu lebih jelas?
Tekstur sangat menentukan keberhasilan sebuah karya seni rupa dan
kriya, karena bersamaan dengan warna, tekstur menentukan kualitas
permukaan yang terlihat paling awal. Dalam seni rupa dan kriya tekstur
dapat dianalisa melalui dua aspek, yaitu kualitas raba suatu permukaan
dan kualitas visual suatu benda. Oleh sebab itu, tekstur dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu tekstur kasar dan tekstur semu.
Gambar 180. Tekstur
dengan teknik marbling
karya peserta
Diklat Dasar Seni
Rupa/Kekriyaan
Gambar 181 .
Tekstur semu
dengan teknik
cipratan
201
Karya mahasiswa Poliseni Yogyakarta
Tekstur kasar bereaksi terhadap cahaya dengan memancarkan,
menyerap dan memantulkannya. Oleh sebab itu tekstur dapat sebagai
penetralisir unsur-unsur yang tidak serasi, misaInya warna-warna yang
saling bertentangan dapat serasi di atas tekstur kasar. Hal itu disebabkan
karena permukaan tekstur kasar tidak rata. Karena tonjolan permukaan
menyebabkan ada bayangan hitam yang sifatnya mengikat dan
menyerap cahaya sehingga warna menjadi harmonis.
Gambar 183. Tekstur kasar
dengan teknik batik/lilin dan
cipratan
202
Tugas latihan
Agar berhasil menggunakan tekstur dalam karya seni rupa dan
kerajinan lakukanlah latihan berikut:
�� Ambil selembar kertas gambar A4
�� Keluarkan beberapa warna cat air dari tubenya secukupnya dan
taruh di palet, kemudian beri air dan aduk hingga rata.
�� Ambil warna dengan kuas cat air no. 4 lalu cipratkan ke atas
kertas berulang-ulang.
�� Untuk mendapatkan tekstur semu yang unik, semasih cat belum
kering dapat ditimpa atau kertas dimiring-miringkan sehingga cat
meleleh membentuk tekstur semu secara spontan.
�� Gunakan kertas yang lain kuaskan lem kertas di atasnya secara
tipis Ambil kertas tisu, basahi dan tempelkan pada permukaan
kertas yang sudah diberi lem
�� Pada waktu menempel dapat dibuat kerut-kerut yang membentuk
tekstur kasar kemudian dikeringkan.
�� Setelah kering, permukaan yang telah bertekstur itu dapat diberi
warna. Gunakan warna kontras untuk mengetahui bagaimana
tekstur kasar itu dapat menetralisirnya.
�� Perhatikan karya tekstur yang telah dibuat itu, rasakan !
Bagaimana perbedaan antara tekstur nyata dan tekstur semu ?
Untuk memperkaya perbendaharaan tekstur lakukanlah
percobaan yang banyak !
B. Prinsip Pengorganisasian Unsur Seni Rupa
Suatu kalimat akan mudah dimengerti jika susunan kata-katanya
menggunakan tata bahasa yang baik. Begitu pula dengan karya seni rupa
dan kriya, akan nyaman dilihat jika menerapkan prinsip-prinsip
pengorganisasian dengan mantap. Prinsip pengorganisasian unsur seni
rupa dan kriya adalah tuntunan dasar dalam mengatur suatu komposisi
dari unsur-unsur tersebut. Karena itu dalam penerapannya tidak kaku
atau terpaku dengan contoh yang ditawarkan dalam buku ini. Contohcontoh
tersebut harus digunakan sebagai acuan, dikembangkan dan
dijelajahi kemungkinan-kemungkinannya. Secara umum ada tiga tipe
prinsip pengorganisasian, yaitu bersifat mengarahkan, memusatkan dan
menyatukan.
Prinsip yang mengarahkan menuntun perhatian dari satu tempat ke
tempat lainnya, membuat klimaks dan menekankan arah dalam suatu
komposisi. Prinsip ini terdiri dari pengulangan, selang-seling, rangkaian,
203
transisi, gradasi, irama dan radiasi. Prinsip yang bersifat memusatkan
cenderung menonjolkan dan memfokuskan perhatian kepada suatu
bagian yang khusus dalam komposisi. Prinsip ini terdiri dari konsentrasi,
kontras dan penekanan. Prinsip menyatukan menuntun perhatian kepada
seluruh bagian dari kornposisi, menghubungkan dan menyatukan unsurunsur
serta prinsip-prinsip yang digunakan. Oleh karenanya prinsip ini
paling rumit dibandingkan dengan lainnya.
Seluruh jenis prinsip dapat diterapkan secara struktural maupun
dekoratif, namun ada yang lebih cocok diterapkan secara dekoratif,
seperti selang-seling dan konsentrasi. Prinsip pengorganisasian mempengaruhi
struktur, fungsi dan hiasan sebuah karya. Oleh sebab itu seorang
pekerja seni rupa dan kriya harus mengetahui betul karakter dan potensi
setiap, prinsip pengorganisasiannya agar dapat mengembangkan dalam
menerapkannya ke dalam karyanya dengan baik.
1. Prinsip Mengarahkan
a. Pengulangan
Prinsip pengulangan merupakan
prinsip pengorganisasian unsur yang
paling sederhana dan paling mendasar.
dalam penerapannya prinsip
ini menggunakan unsur yang sama
berulang-ulang dalam lokasi yang
berbeda. Dengan prinsip ini perhatian
dituntun mengikuti suatu arah
susunan unsur dalam komposisi dan
cepat mendapatkan harmoni dan
kesatuan. Namun karena mengulang
hal yang sama dapat cepat membosankan.
Pengulangan ada dua
macam yaitu pengulangan teratur
dan pengulangan tak teratur. Pengulangan
teratur menerapkan unsur
sama dalam segala hal sedang
pengulangan tak terratur ada sedikit
variasi sehingga, kelihatan lebih menarik.
Perhatikan contoh gambar gunakan
sebagai acuan untuk latihan.
b
Bagan 5. Prinsip Pengulangan (a)
Pengulangan Teratur, (b) Pengulangan tak
teratur
204
a
b
Gambar 184 . (a) Pengulangan tak teratur, (b) pengulangan teratur.
Tugas Latihan
Lakukanlah latihan berikut ini agar dapat menghayati bagaimana
menerapkan unsur-unsur seni rupa secara berulang-ulang.
�� Buatiah satu jenis bentuk geometris dan susun secara berulang
dengan ukuran yang sama, gunakan pensil dengan goresan tipis.
�� Setelah dirasa susunannya baik terapkanlah warna yang sama
pada setiap bentuk itu. Gunakan warna cat poster
�� Dengan kertas yang lain gambarlah sebuah bentuk organis dan
susun secara berulang dengan variasi ukuran, selanjutnya beri
warna dengan tone yang berbeda.
�� Amati hasilnya, apakah bisa diterapkan ke dalam karya seni rupa
dan kerajinan?
205
b. Selang-Seling
Prinsip selang-seling menerapkan
dua jenis unsur
yang berbeda dan disusun
secara bergantian.
Meskipun prinsip ini mengarahkan
perhatian, tetapi
tidak selancar prinsip
pengulangan,karena ada
tempo perhatian yang
tertahan oleh perbedaan
unsur yang di-susun.
Perbedaan unsur biasanya
dalam satu jenis
misalnya; unsur bentuk.
Dalam susunan itu hanya
ada bentuk geometris
yang berbeda, seperti segitiga
dan bulatan. Prinsip
ini lebih kuat bila
warna-warna pada bentuknya
juga selang-selingnya
sama. Perhatikanlah
contoh (gb.185)
bagaimana bentuk dan
warna di-susun secara
bergantian.
Bagan 6. Selang-seling bentuk dan warna
Gambar 185 . Penerapan Prinsip Selang-Seling, karya
mahasiswa DIII Poliseni Yogyakarta
Tugas Latihan
�� Resapi latihan berikut ini dan lakukanlah dengan penuh
perhatian :
�� Buatah kolom-kolom persegi dengan pensil pada kertas gambar
anda.
�� Pilih dua jenis bentuk binatang kemudian pada kolom-kolom
tersebut gambarlah kedua bentuk binatang itu dengan
menempatkannya secara selang-seling.
�� Selanjumya terapkanlah warna yang berbeda pada bentuk
binatang itu.
�� Perhatikanlah hasilnya, amati dan rasakan. Jika ada yang kurang
sempurna perbaiki. Pikirkan apakah prinsip ini dapat diterapkan
dalam seni rupa dan kerajinan ?
206
Tugas Latihan
Lakukanlah latihan ini agar dapat menyusun unsur dengan
prinsip rangkaian.
�� Buatlah kolom-kolom segi-empat pada kertas gambar dengan
pensil.
�� kemudian dengan tinta hitam dan alat pena isilah kolomkolom
itu dengan berbagai jenis unsur, terutama garis dan
bentuk
�� Setiap kolom terdapat unsur-unsur yang berbeda.
�� Perhatikan hasilnya, pikirkan apakah dapat diterapkan dalam
seni rupa dan kerajinan ?
c. Rangkaian
Rangkaian merupakan
satu unit susunan unsur
yang disusun secara berulang
dalam satu komposisi.
Susunan dari unitunit
itu menuntun dan mengarahkan
perhatian kepada
suatu klimaks. Unit
unsur-unsur itu tidak harus
selalu sama, mungkin dalam
satu unit ada beberapa
unsur, misalnya satu unit
terdiri dari garis dan bentuk
dan gabungan dari unit itu
dapat membentuk motif
Perhatikanlah contoh (gb.
186) gunakan sebagai acuan
dalam latihan.
Bagan 7. Prinsip Rangkaian
Gambar 186 . Penerapan Prinsip Rangkaian
207
d.Transisi
Transisi disebut sebagai
perubahan dari satu
kondisi ke kondisi yang
lain. Dalam seni rupa dan
kerajinan, ini merupakan
prinsip yang mengarahkan
secara halus melalui
perubahan yang ditampilkan.
Tidak ada tingkatan
perubahan, tidak ada perbedaan
kondisi dalam
proses perubahannya, tidak
disadari ada perubahan
karena kehalusannya.
Kekuatan prinsip
ini justru pada kehalusan
perubahannnya sehingga
dalam beberapa hal, prinsip
termasuk prinsip yang
menyatukan hal-hal yang
berbeda. Biasanya transisi
dikonotasikan hanya
terhadap warna, tetapi
sebenamya dapat diterapkan
kepada setiap unsur.
Perhatikan ( gb. 187)
gunakan sebagai acuan
dalain praktek.
a
b
c
Bagan 8. Prinsip transisi: (a) Transisi garis, (b) Transisi
ruang, (c) Transisi warna dan tekstur
Gambar 187 . Kehalusan gradasi dapat memunculkan
transisi warna.
208
Tugas Latihan
Prinsip ini sangat penting dalam seni rupa dan kerajinan terutama
dalam menyerasikan unsur-unsur yang tidak sama. Oleh sebab itu
lakukanlah latihan berikut ini untuk lebih menguasai potensinya.
�� Letakkan kertas gambar dalam posisi melintang, di sebelah
kiri taruh cat poster warna merah, dan di sebelah kanan taruh
warna poster kuning.
�� Secara perlahan lelehkan kedua warna itu menuju ke tengah
dengan kuas, setelah kedua warna bertemu gunakan kuas
untuk mencampur warna tersebut dengan menguasnya
secara berulang sehingga pertemuan warna itu betul-betul
tercampur dengan halus.
�� Lakukanlah ladhan transisi ini terhadap unsur yang lain,
gunakan contoh gb. sebagai acuan.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
a
b
C
Bagan 5. Prinsip Gradasi
e. Gradasi
Tingkatan merupakan ciri
khas prinsip gradasi. Tingkatan
tersebut adalah satu
perubahan dari sebuah unsur.
Karena merupakan tingkatan
maka unsur tersebut
sama dalam segala hal kecuali
ukuran pada unsur
garis, ruang, dan bentuk, dan
value dalam warna. Tanpa
kita sadari gradasi ini sering
digunakan dalam kehidupan
kita sehari-hari, misalnya
tingkatan dalam belajar di sekolah,
tingkatan dalam lapisan
masyarakat, dalam kualitas
benda produk indus-tri
dan sebagainya. Dalam seni
rupa prinsip ini sangat kuat
mengarahkan perhatian. Untuk
membuat gradasi di-perlukan
lebih dari dua tingkatan.
Prinsip ini jika digunakan
dalam tingkatan yang panjang,
yang dapat menimbulkan
ilusi ruang tiga dimensional.
209
a
Gambar 188 . Penerapan Prinsip
Gradasi warna
Tugas Latihan
�� Gunakan kertas gambar A4, tentukan sebuah bentuk organis
untak digambar.
�� Buatlah perubahan bentuk itu dalam lima tingkatan dalam lima
kolom, sehingga perubahannya dari besar ke kecil bisa dari atas
ke bawah atau sebaliknya
�� Gunakan dua warna dan terapkan secara bertingkat pula.
�� Setelah selesai pikirkan bagaimana menerapkannya ke dalam
karya anda.
f. lrama
Di dalam seni rupa dan seni
kerajinan irama merupakan susunan
kesan gerakan dari unsur visual.
Kesan gerakan itu mungkin mengalir
bergelombang, putus-putus, zig-zag
dan sebagainya. Irama akan lebih
kuat efeknya bila dilakukan secara
berulang. Irama dalam seni rupa
dapat dianalogikan dengan irama
dalam seni musik. Unsur-unsur visual
a
b
Bagan 9. (a) Irama Berombak, (b) Irama Zigzag
210
seperti garis, bentuk dan warna dapat
diulang, dikelompokkan, dibe-sarkan
dikecilkan disusun dalam suatu
bidang dapat memberi kesan irama.
Irama mempengaruhi ukuran bidang
menjadi lebih besar karena sifatnya
yang dinanis. Penerapan garis
lengkung lebih mudah untuk mendapatkan
kesan irama, diban-dingkan
unsur-unsur lainnya. Walaupun irama
dapat juga dicapai dengan unsur
bentuk dan ruang. Gerakan irama
dapat ke berbagai arah dapat dimulai
dari pinggir maupun tengah. Perhatikan
contoh gb.189 (a,b) dan
gunakan sebagi acuan dalam latihan.
a
Dalam kedua karya ini yang paling
jelas terlihat adalah irama garis.
Kedua gambar memiliki irama yang
kontras; gambar (189a) irama garisnya
zig-zag oleh karenanya kesan
yang disampaikan tajam, gambar (189
b) irama garisnya mengalun begitu
pula susunan bentuk mengikuti irama
garis sehingga kesannya lembut
menyenangkan.
b
Gambar 189. (a) Penerapan Irama berombak, (b)
penerapan irama Zigzag
211
Tugas Latihan
Lakukanlah latikan berikut ini agar dapat memahami potensi prinsip
Irama sebagai pedoman untuk menyusun unsur seni rupa.
�� Gunakan kertas gambar A4, buatlah garis-garis bergelombang
dari sisi kiri ke sisi kanan.
�� Buatiah susunan bentuk geometis dengan mengikuti gerak garis
tersebut
�� Berilah warna-warna analogus pada bentuk itu dan warna netral
pada latar belakangnya
�� Dengan kertas lain dengan prosedur yang sama, buatlah
susunan bentuk organis dengan jenis irama yang lain.
�� Perhatikan hasilnya , pikirkan tentang penerapannya ke dalam
karya seni rupa dan kriya.
g. Radiasi
Perhatikanlah matahari yang baru terbit di ufuk timur, perhatikan pula
bunga yang berhelai daun lancip. Keduanya memiliki sifat pancaran
menuju titik pusat. Prinsip radiasi mengikuti sifat pancaran itu. Dalarn
menyusun unsur-unsur seni rupa penampilannya menyampaikan kesan
gerakan memancar dari suatu titik pusat ke segala arah. Titik pusat dapat
nampak secara nyata maupun tidak kelihatan, dan dapat dimulai dari
setiap sisi atau dari tengah. Prinsip ini sangat kuat mengarahkan
perhatian jika penerapannya tepat. Misalnya bentuk-bentuk yang kecil
diletakkan dekat dengan titik pusat pancaran dan bentuk-bentuk yang
besar menjauh dari titik pusat. Begitu pula value warna terang dekat titik
pusat dan yang gelap jauh dari titik pusat.
Bagan 10. Prinsip Radiasi
212
a b
Gambar 190 . Penggunaan Prinsip Radiasi
Tugas Latihan
�� Gunakan kertas gambar A4 dan buadah garis-garis yang
memancar dari satu titik pusat di tengah kertas.
�� Buatlah bentuk-bentuk geometris yang mengikuti gerak garis
yang memancar, dimana bentuk yang kecil didekatkan ke titik
pusat pancaran dan yang besar jauh dari titik pusat itu.
�� Dengan warna pastel terapkanlah warna-warna panas pada
bentuk-bentuk itu dan warna netral pada latar belakang.
�� Dengan prosedur yang sama buatIah pancaran titik pusatnya
tidak kelikatan dan posisinya tidak harus ditengah kertas.
Terapkan bentuk organis, warna dingin dan warna netral.
�� Pikirkan tentang aplikasinya ke dalam karya seni rupa dan kria.
2. Prinsip Memusatkan
Bagan 11. Prinsip konsentrasi
213
a. Konsentrasi
Prinsip ini merupakan susunan dari perkembangan satu bentuk yang
memiliki satu pusat. Prinsip ini mirip prinsip radiasi. Jika radiasi
memancar dari satu titik pusat, sedangkan konsentrasi membesar dari
satu bentuk atau bentuk-bentuk ber-putar mengarah kepada satu titik.
Bentuk-bentuk itu dapat geometris atau organis. Konsentrasi sangat kuat
memfokuskan perhatian, sehingga penerapannya harus dipertimbangkan
dengan matang. Unsur-unsur yang dapat diterapkan dengan prinsip ini
hanya garis, ruang dan bentuk, sedangkan tekstur dan warna hanya
mendukung efektifitasnya.
a
Gambar 191 . Penggunaan Prinsip
Konsentrasi
b
214
Tugas Latihan
�� Ambilah kertas gambar A4, buatlah sebuah bentuk geometris.
�� Besarkanlah ukuran bentuk itu dengan menarik garis yang
identik dengan kontur bentuk tersebut. Lakukanlah hal ini
beberapa kali.
�� Buat bentuk lain di sebelah bentuk yang pertama itu lalu
besarkanlah ukuran bentuk itu dengan cara yang sama dengan
sebelumnya.
�� Buat bentuk-bentuk yang sama sehingga susunannya dirasa
sudah baik lalu terapkan warna-warna panas dan dingin pada
bentuk itu dengan gradasi dari tua ke muda mulai dari tepi
bentuk.
�� Pikirkanlah tentang penerapannya ke dalam karya seni rupa dan
kria
b. Kontras
Kehidupan ini terjadi karena kontras: ada siang-malam, pria-wanita,
panas-dingin, sedih-bahagia dan seterusnya. Dalam seni rupa banyak
yang menghindari penerapan kontras, padahal dapat memberikan daya
tarik yang luar biasa bagi penglihatan.
Perhatikanlah pohon bunga, lihat warna daunnya hijau, lihat warna
bunganya yang merah, itu merupakan susunan unsur warna kontras
antara daun dan bunga tentu menyenangkan untuk dilihat. Kenapa
bisa demikian ?
Kontras adalah suatu perasaan tentang perbedaan sesuatu. Dalam
seni rupa, kontras justru digunakan untuk memperlihatkan hal-hal yang
tidak sama atau untuk tujuan fokus perhatian. Jika kontras digunakan
secara bijaksana akan menghasilkan susunan unsur yang menarik.
Tetapi sebaliknya jika terlalu banyak kontras dapat menyebabkan susunan
menjadi kacau. Kontras juga dapat digunakan untuk menim-bulkan
ilusi mengurangi ukuran, apabila bentuk terlihat terlalu tinggi, garis
horizontal ditempatkan pada pada bentuk itu dapat mengurangi kesan
yang tinggi. Kontras juga dapat memberikan keseimbangan, misalnya
dalam suatu komposisi jika terlalu berat ke kanan dapat diseimbangkan
dengan menempatkan sesuatu di sebelah kiri dengan posisi mengarah ke
luar sebelah kiri. Dengan demikian komposisi yang tadinya mengarah ke
kanan ditarik ke kiri oleh sesuatu yang ditempatkan mengarah ke kiri.
215
Bagan 12. Prinsip Kontras
Gambar 192 . Penerapan Prinsip Kontras: Kontras warna dan bentuk.
216
Gambar 193 . Penerapan Prinsip Kontras: Kontras warna dan bentuk.
Perhatikan gambar 192 ada dua unsur kontras, yakni unsur bentuk
dan warna. Bentuk segitiga dan bentuk organik bergelombang adalah
kontras begitu pula warna biru pada bentuk segi tiga dan warna orange
pada bentuk lainnya. Masih mirip dengan gambar 192, pada gambar 193
ada dua jenis kontras bentuk dan warna, namun pada unsur warna ada
empat warna kontras yaitu biru dan orange, serta kuning dan ungu.
Fungsi kontras yang paling kuat jika digunakan tidak berlebihan dapat
membuat susunan tidak membosankan.
Temukan unsur-unsur apa saja yang kontras dalam karya ini?
Bagaimana pendapatmu tentang kontras dalam karya tersebut,
diskusikan dengan teman anda !
217
Tugas Latihan
�� Gunakan kertas gambar A4, susunlah dua jenis bentuk
geometris yang bertentangan, gunakan pensil untuk
membentuknya.
�� Setelah dirasa susunan sudah baik maka selanjutnya gunakan
pastel dan terapkan warna komplementer pada bentuk tersebut
serta warna netral pada latar belakang.
�� Gunakan kertas yang lain, berilah tekstur pada kertas itu dengan
cipratan-cipratan cat air.
�� Setelah kering buatIah susunan bentuk-bentuk geometris dan
organis di atas tekstur itu.
�� Terapkan warna komplemen triad pada bentuk-bentuk tersebut
Perhatikan hasilnya dan pikirkan bagaimana kontras diterapkan
ke dalam karya seni rupa dan kerajinan baik dalam struktur dan
hiasannya.
�� Gunakan contoh berikut sebagai acuan.
Gambar 194 .
Stuart Davis,
Seme, 1953,
(sumber: Paul
Zelanski ).
218
c. Penekanan
a b
c
Gambar 195 . Penerapan Prinsip Penekanan
Perhatikanlah gambar 195 di atas ! Dimana perhatian anda
dipusatkan? Kenapa demikian? Diskusikan dengan teman!
Penekanan sebagai salah satu prinsip yang memusatkan perhatian
berbeda dengan dua prinsip sebelumnya. Prinsip ini lebih bebas karena
dalam menempatkan 'centre of interest' dalam komposisi tidak terikat
dengan gerakan arah garis, tetapi dapat dilakukan dengan berbagai cara
seperti mengelompokan bentuk, memberikan warna yang berbeda dari
sekitarnya, memberikan hiasan atau motif sehingga perhatian tertuju
kepada tempat yang ingin ditonjolkan. Selain itu dapat pula salah satu
219
unsur diisolasi untuk mendapat perhatian khusus dan klimaks pada karya
yang dibuat. Prinsip ini sering juga disebut sebagai prinsip dominan atau
prinsip subordinasi, yang mana ada satu aspek yang mendominasi
lainnya. Apabila dalam suatu komposisi ada lebih dari satu fokus
perhatian harus diperhatikan kekuatannya jangan membuat fokus
perhatian dengan kekuatan sama, karena hal tersebut dapat membuat
kekacauan. Namun demikian tidak semua karya seni rupa dan kriya atau
kerajinan memiliki penekanan perhatian, biasanya hal tersebut ada pada
karya-karya desain tekstil yang motif-motifnya disusun secara berulang
dalam ukuran yang sama memenuhi ruang.
Selanjutnya perhatikan pula aplikasi prinsip pengorganisasian pada
gambar 196 ! Bagaimana prinsip yang diterapkan?
Gambar 196 . Agus Djaja, Dalam Taman nirwana (sumber: koleksi Presiden Soekarno
220
Gambar 197 . Henri Rousou, The Dream (sumber: Paul Zelanski)
Tugas Latihan
Lakukanlah latihan berikut agar mengetahui bagaimana potensi
prinsip penekanan dapat digunakan untuk menyusun unsur-unsur
seni rupa.
�� Gunakan kertas gambar A4, berilah tekstur yang lembut dengan
warna-warna yang intensitasnya lemah.
�� Buatlah susunan bentuk segi empat sama sisi dengan
menerapkan prinsip penekanan, dapat dengan mengelompokan,
membedakan warna, atau memberikan motif.
�� Terapkan warna-warna dingin pada bentuk-bentuk tersebut.
�� Perhatikan hasiInya dan pikirkan bagaimana menerapkan ke
dalam karya seni rupa dan kerajinan.
�� Gunakan contoh berikut sebagai acuan.
221
3. Prinsip Menyatukan
a. Proporsi
Salah satu cara membuat susunan nampak menyenangkan adalah
melalui penerapan prinsip proporsi. Prinsip ini tidak hanya terdapat dalam
seni rupa, yang menakjubkan proporsi terdapat pada semua benda yang
ada di alam ini. Pada tubuh manusia misalnya, tubuhnya dapat terlihat
menarik jika proporsinya tepat antara bagian tubuh yang satu dengan
lainnya antara kepala dengan seluruh badan, anatara telapak tangan
dengan lengan, antara hidung dan tinggi kepala dan seterusnya.
Proporsi merupakan hasil dari hubungan perbandingan antara jarak,
jurnlah, tingkatan, dan bagian disebut sebagai proporsi atau hubungan
satu bagian dengan bagian lain dan keseluruhan dalam suatu susunan.
Sebuah karya seni rupa dan seni kerajinan dikatakan berhasil jika unsurunsurnya
disusun berdasarkan suatu proporsi. Proporsi dapat diterapkan
pada karya nirmana datar maupun nirmana ruang. Dengan proporsi dapat
ditelaah bagian-bagian dari sebuah karya atau keseluruhan dari karya
itu. Pada dasarnya proporsi dapat dilihat dari empat tingkatan, yaitu :
1. Di dalam satu bagian, seperti perbandingan antara panjang dan
lebar.
2. Di antara bagian-bagian, perbandingan antara satu bentuk dengan
bentuk lainnya dalam satu susunan.
3. Bagian dengan keseluruhan, perbandingan antara bentuk-bentuk
dalam susunan dengan keseluruhannya.
4. Keseluruhan dengan sekitarnya, perbandingan antara seluruh
susunan dengan apa yang ada disekitarnya
Perhatikanlah gambar bagan di bawah ini !
a b c
Bagan 13. Beberapa jenis proporsi
222
Dari suatu test yang dilakukan oleh Patrick Carpenter terhadap
beberapa kelompok orang yang berbeda pekerjaannya, ternyata hasilnya
menunjukkan bahwa pembagian bidang (bagan 13c) yang disenangi oleh
sebagian besar partisipan. Pembagian bidang itu berdasarkan proporsi
Golden Section atau proporsi emas. Proporsi ini berasal dari Yunani
Kuno yang berpijak kepada pembagian secara matematik yaitu bagian
yang kecil cukup menarik perhatian dan bagian yang besar cukup kecil
untuk menjadi pembandingnya kira-kira perbandingannya 3 : 5 atau 5 : 8.
Misalnya pada pembagian bidang di atas lebarnya dua pertiga dari
panjangnya. Dari percobaan itu menunjukkan bahwa proporsi yang
menarik adalah pembagian yang secukupnya dan tidak berlebihan.
Pembagian yang sama kurang menarik karena statis, begitu pula
pembagian yang berlebihan yang membuat salah satu menjadi dominan.
Oleh karena itu, proporsi (bagan13c) merupakan proporsi alami.
Secara tidak disadari pertumbuhan mahluk hidup proporsi fisiknya
mengikuti proporsi ’emas’ tersebut.
Selanjutnya perhatikan pula analisa proporsi terhadap hasil lukisan
di bawah ini!
a
b
Gambar 198 . (a) Pemandangan di Pegunungan (b)
Pemandangan di Cina (sumber: Koleksi Presiden
Soekarno
223
Tugas Latihan
Karena Proporsi sangat penting dalam kegiatan penyusunan
komposisi maka untuk memahaminya lakukanlah latihan berikut ini.
�� Ambilah sebuah benda seni rupa dan kerajinan.
�� Analisalah proporsi benda tersebut. Bagaimana pembagian
bidangnya ?
�� Gunakan kertas A4, buatlah tiga buah segi empat panjang
dengan pensil.
�� Bagilah ketiga bidang itu berdasarkan ketiga proporsi tersebut di
atas, selanjutnya berilah warna kepada bidang-bidang tersebut.
�� Dengan kertas gambar yang lain buatlah tiga buah gambar benda
pakai yang masing-masing menerapkan ketiga jenis proporsi
tersebut di atas.
�� Amati hasilnya, bagaimana menurut anda penerapan proporsi
tersebut ?
b. Keseimbangan
Bagaimana pendapatmu tentang keseimbangan dalam seni rupa?
Konsep tentang keseimbangan menyangkut hal berat, ukuran, dan
kepadatan yang ada pada perasaan kita jika melihat sebuah karya.
Keseimbangan tercapai jika ada suatu perasaan akan kesamaan,
keajegan dan kestabilan.
Ada tiga jenis keseimbangan yaitu: keseimbangan mendatar,
keseimbangan tegak lurus dan keseimbangan radial. Keseimbangan
mendatar unsur yang disusun mengikuti arah garis mendatar bagan 14a,
begitu pula keseimbangan tegak lurus mengikuti posisi garis vertikal
bagan 14b, dan keseimbangan radial mengikuti arah garis ke segala arah
bagan 14c.
Tipe keseimbangan ada dua, yaitu keseimbangan formal atau simetris
dan keseimbangan informal atau asimetris. Dalam keseimbangan formal
kedua bagian dari pusat keseimbangan identik dalam segala hal satu
dengan lainnya. Keseimbangan ini lebih mudah dicapai, tetapi sifatnya
lebih statis, sedang pada keseimbangan informal atau asimetris bagianbagian
di sebelah pusat keseimbangan berbeda tetapi dapat memberikan
perasaan kesetaraan. Tentu hal ini memerlukan interaksi yang lebih rumit
di antara unsur yang disusun. Hasilnya lebih dinamis dibanding keseimbangan
formal.
224
a
b
c
Gambar 199. Penerapan prinsip
keseimbangan mendatar, vertikal dan
radial.
225
Bagan 14 . Jenis Prinsip Keseimbangan: a. Keseimbangan mendatar,
b. Keseimbangan tegak lurus, c. Kseimbangan radial
a b
c
Lihatlah karya seni rupa berikut, jelaskan tentang prinsip
keseimbangan yang diterapkan masing-masing dalam karya
tersebut. Carilah garis porosnya di tengah dengan demikian akan
lebih mudah melihat kanan-kiri, atas- bawah untuk menentukan jenis
keseimbangan yang diterapkan.
226
a b
c
d
Gambar 200 . Penerapan prinsip keseimbangan pada lukisan , patung dan relief: (a) Nyoman Gunarsa,
penari (foto: Agung Suryahadi), (b) Botticeli, The Birth of Venus (sumber: Paul Zelanski), (c) Henry Moore,
The Reclining Figure (sumber: Gombrich), Relief di Candi Surawana, Arjuna Wiwaha (sumber:
Soekmono).
a
b
Bagan 15. Tipe Prinsip Keseimbangan: a. Keseimbangan simetris,
b. Keseimbangan asimetris
227
Perhatikan gambar 201, diskusikan dengan teman !
Keseimbangan apa yang diterapkan dalam lukisan itu?
Tugas Latihan
Keseimbangan dalam suatu karya seni rupa dan kerajinan juga
menentukan keberhasilannya. Jika tidak ada keseimbangan,
perasaan menjadi tidak puas melihat karya tersebut Untuk itu
lakukanlah latihan ini agar mengalami langsung bagaimana
menyusun unsur seni rupa agar seimbang dan menarik perhatian.
�� Tentukanlah jenis dan tipe keseimbangan apa yang akan dipraktekan.
�� Gunakan pensil dan buatlah susunan bentuk-bentuk organis
pada kertas gambar A4.
�� Selanjunya jika dirasa keseimbangan susunan bentuk itu sudah
tercapai, terapkanlah warna berdasarkan skema warna
komplemen 'single split' (lihat skema warna).
�� Dalam menerapkan warna harus hati-hati, pertimbangkan dan
rasakan betul keseimbangannya
�� Selanjunya pikirkan tentang penerapannya dalam seni rupa.
Gambar 201 . Thomas Gainsborough, Mr. And Mrs Andrew, (sumber: Paul zelanski).
228
c. Harmoni
Untuk memahami tentang harmoni atau keselarasan coba perhatikan
jari-jari anda. Perhatikan bentuknya, warnanya, garis-garisnya, teksturnya.
Apakah ada kesamaan? Apakah anda senang melihatnya?
Kemudian jelaskan bagaimana unsur rupa yang terdapat pada jari anda
itu!
Harmoni merupakan suatu perasaan kesepakatan, kelegaan suasana
hati, suatu yang menyenangkan dari kombinasi unsur dan prinsip yang
berbeda, namun memiliki kesamaan dalam beberapa unsurnya. Semua
unsur, semua bagian dikompromikan, bekerja sama satu dengan lainnya
dalam suatu susunan yang memiliki keselarasan. Dalam (gb. 202 a) kea
b
Gambar 202 . Penerapan Prinsip Harmoni karya peserta Diklat Dasar Seni Rupa/Kriya
samaan bentuk dan warna dasar hitam mengikat unsur warna yang
berbeda, dan dikompromikan, diarahkan oleh prinsip yang memusat
sehingga harmoni dan kesatuan dapat dicapai. Berbeda dengan (gb.202
b) yang hanya terdiri dari hitam putih dengan bentuk dominan segi
empat. Kontras terjadi dengan adanya sedikit lingkaran dan bentuk segi
empat hitam dan putih. Perbedaan tersebut juga diikat dengan warna
hitam. Keunikannya terletak pada adanya empat pusaran bentuk yang
membuat empat pusat perhatian, namun, tiga pusaran itu memiliki
kesamaanyang diimbangi oleh pusaran bentuk hitam pada latar
belakang.
229
Tugas Latihan
Latihan ini sangat penting dilakukan untuk mengasah kepekaan rasa
anda dalam menyusun suatu komposisi yang selaras.
�� Gunakan kertas gambar A4, lalu susunlah bentuk-bentuk organis
dan geometis.
�� Upayakan bentuk-bentuk itu dapat dikompromikan satu dengan
lainnya Boleh menggunakan dua atau lebih prinsip
pengorganisasian
�� Setelah itu terapkanlah tekstur dan warna analogus.
�� Perhatikan dan perbaiki hal-hal yang belum selaras dan
pertimbangkan tentang penerapannya dalam karya seni rupa dan
kerajinan.
d. Kesatuan
Kesatuan merupakan perasaan adanya kelengkapan, menyeluruh,
intergrasi total, kualitas yang menyatu dan selesai. Dalam kesatuan ada
hubungan dari seluruh bagian dalam susunan bekerjasama untuk
konsistensi, kelengkapan dan kesempumaan. Ini adalah puncaknya dari
seluruh prinsip pengorganisasian unsur seni rupa setelah prinsip harmoni.
Kesatuan dicapai dalam suatu komposisi menciptakan suatu
hubungan yang kuat antar unsur yang disusun (gb, 203 ), dapat karena
setiap unsur saling sentuh satu dengan lainnya atau berdialog satu
dengan lainnya, dapat karena adanya ketegangan saling tarik menarik
antar bagian. Jadi kesatuan secara skematik dapat terlihat nyata dapat
pula hanya tersirat karena hanya persepsi kita yang merasakan adanya
kebersamaan.
Perbedaan utama antara keserasian dan kesatuan adalah bahwa
pada harmoni semuanya berhubungan secara indah tetapi belum tentu
utuh. Kesatuan memberikan sentuhan akhir, perasaan yang lengkap dan
selesai. Dalam suatu susunan kemungkinan ada keserasian tanpa
kesatuan, tetapi kesatuan tidak bisa diperoleh jika tanpa adanya keserasian.
Misalnya, sekuntum bunga merupakan satu kesatuan yang
serasi tetapi jika salah satu helai bunganya rontok kesatuannya tidak ada
tetapi masih ada keserasian. Oleh karena itu kesatuan tidak bisa ada
salah satu dari unsur atau bagian yang hilang. Setiap bagian terkait
dengan bagian lainnya untuk menjadi keseluruhan yang utuh.
230
Perhatikan dua kuntum bunga
ini, pada bunga a terlihat
bunganya masih utuh, setiap
bagian mengandung unsur
yang sama dan terkait satu
sama lainnya. Pada bunga b
satu helai daun bunganya
hilang sehingga kesatuan dari
susunan daun bunga yang
indah itu menjadi rusak.
a
b
Gambar203 . Penerapan Prinsip Kesatuan
231
Selanjutnya Perhatikan karya-karya berikut
ini. Diskusikan dengan teman tentang
kesatuannya !
a b
Gambar 204. (a) A. Agung Suryahadi, The Zipped Lady, (b) Yudiantoro, Kuda-Kuda Binal,
(c) Basuki Sumartono, Apa yang di dalam, (d) Heri Dono, Unttitled (sumber: (a) Agung
Suryahadi, b,c,d (Katalog pameran Rekreasi 80)
232
a b
Gambar 205. (a) Dani Daoed, Crossing, (b) Dunadi, Embarang (sumber: Katalog
Pameran Patung Yogya).
Tugas Latihan
Ini adalah tugas terakhir dari latihan menyusun prinsip pengorganisasian,
oleh karena itu lakukanlah latihan ini dengan sebaikbaiknya.
�� Ambil selembar kerlas gambar A 4, dengan pensil buatlah
susunan bentuk geometis dan organis.
�� Dalam menyusun bentuk-bentuk ita terapkanlah dua sampai tiga
prinsip pengorganisasian sekaligus.
�� Setelah selesai membuat bentuk-bentuk berdasar tiga prinsip itu,
selanjutnya terapkanlah warna-warna monokromatik dengan
satu hue tambahan.
�� Dengan prosedur yang sama terapkan empat prinsip sekaligus
dan gunakan pula warna ganda komplemen ditambah warna
netral.
�� Setelah selesai perhatikan bagaimana prinsip kesatuan itu dapat
diterapkan ke dalam karya seni rupa?
233
e. Ekonomi
Prinsip ekonomi merupakan salah satu prinsip menyatukan dengan
membuang hal-hal detail yang dirasa kurang esensial sehingga
visualisasi yang ditampilkan sesedikit mungkin tetapi dapat memberikan
nilai yang paling penting dari apa yang dimaksud oleh senimannya.
Prinsip ini dapat memberi kelegaan perasaan karena persepsi tidak
disibukkan oleh banyak hal. Hal ini banyak diterapkan di dalam seni rupa
Jepang klasik karena pengaruh dari ajaran Zen Budisme dan pada saat
ini banyak mempengaruhi seni dan arsitektur modern dalam istilah yang
berbeda yaitu minimalis. Prinsip ini juga diterapkan dalam Bauhaus suatu
lembaga pendidikan seni di Jerman terutama mengenai desain yaitu
Less is more , maksudnya suatu kemungkinan mensugestikan ide-ide
yang kompleks dalam seni rupa atau desain dengan hanya menampilkan
sedikit visualisasi.
a
b
Gambar 206. (a) Vas bunga produk dinasti Ch’ing di Cina (sumber: Paul Zelanski), (b)
Hasegawa Tohaku, Hutan Pinus (sumber: Joan Stanley Baker)
Prinsip ekonomi yang ditampilkan dalam kedua karya ini nampak
dengan jelas, pada gambar (206 a) vas bunga tidak ada hiasan dan
hanya menampilkan warna merah sehingga perhatian tertumpu pada
bentuk vas secara keseluruhan, pada gambar (206 b) Hasegawa dalam
menggambarkan hutan finus hanya menekankan lepada beberapa pohon
di latar depan dan beberapa pohon dengan tone warna lebih lemah di
latar belakang. Namun dapat mensugestikan bahwa itu adalah gambar
hutan.
234
f. Hubungan dengan Lingkungan
Salah satu hal yang perlu diketahui oleh seniman adalah untuk apa
dan siapa karya seni itu diciptakan. Apakah karya seni itu sebagai karya
seni murni ? Berarti yang akan menikmati adalah terbatas kepada
masyarakat yang paham dan mencintai seni, karya tersebut tentu akan
disimpan sebagai koleksi pribadi, galeri atau museum. Apabila karya seni
tersebut diciptakan untuk memenuhi kebutuhan fungsional bagi masyarakat,
maka karya tersebut perlu mempertimbangkan segmentasi atau
lapisan masyarakat yang menjadi sasaran? Karya ini dalam prosesnya
memerlukan beberapa pertimbangan, antara lain jenis ke-butuhan setiap
lapisan masyarakat yang menjadi sasaran karya seni, kemudian pertimbangan
kenyamanan, keamanan, kekuatan dan seba-gainya. Apabila
karya seni itu untuk diposisikan di tempat umum atau di suatu lingkungan
tertentu, karya seni tersebut perlu dipertimbangkan bahwa keberadaannya
serasi dengan lingkungan sekitarnya. Kesesuaian tersebut
meliputi ukuran, bentuk dan warnanya juga daya tahan jika berada
ditempat terbuka.
Pertimbangan ukuran perlu menjadi perhatian seperti luas atau ukuran
ruang yang tersedia untuk sebuah karya seni, sehingga tidak terlalu
besar dan tidak pula terlalu kecil. Maka dalam hal ini pertimbangan
proporsi ruang dengan bentuk sangat diperlukan. Selanjutnya pertimbangan
bentuk, warna, dan tekstur adalah untuk menyesuaikan rupa
karya seni dengan lingkungan agar dapat menyatu, tidak lepas, dan
berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Untuk
itu unsur-unsur seni harus dapat ’berdialog’ dengan unsur-unsur
lingkungannya. Maksudnya aspek karya seni memiliki hubungan yang
serasi dengan aspek sekitarnya, dapat dinikmati dengan baik oleh orangorang
yang berada di lingkungan karya seni tersebut.
278
a b
Gambar 204. (a) A. Agung Suryahadi, The Zipped Lady, (b) Yudiantoro, Kuda-Kuda Binal,
(c) Basuki Sumartono, Apa yang di dalam, (d) Heri Dono, Unttitled (sumber: (a) Agung
Suryahadi, b,c,d (Katalog pameran Rekreasi 80)
279
a b
Gambar 205. (a) Dani Daoed, Crossing, (b) Dunadi, Embarang (sumber: Katalog
Pameran Patung Yogya).
Tugas Latihan
Ini adalah tugas terakhir dari latihan menyusun prinsip pengorganisasian,
oleh karena itu lakukanlah latihan ini dengan sebaikbaiknya.
�� Ambil selembar kerlas gambar A 4, dengan pensil buatlah
susunan bentuk geometis dan organis.
�� Dalam menyusun bentuk-bentuk ita terapkanlah dua sampai tiga
prinsip pengorganisasian sekaligus.
�� Setelah selesai membuat bentuk-bentuk berdasar tiga prinsip itu,
selanjutnya terapkanlah warna-warna monokromatik dengan
satu hue tambahan.
�� Dengan prosedur yang sama terapkan empat prinsip sekaligus
dan gunakan pula warna ganda komplemen ditambah warna
netral.
�� Setelah selesai perhatikan bagaimana prinsip kesatuan itu dapat
diterapkan ke dalam karya seni rupa?
280
e. Ekonomi
Prinsip ekonomi merupakan salah satu prinsip menyatukan dengan
membuang hal-hal detail yang dirasa kurang esensial sehingga
visualisasi yang ditampilkan sesedikit mungkin tetapi dapat memberikan
nilai yang paling penting dari apa yang dimaksud oleh senimannya.
Prinsip ini dapat memberi kelegaan perasaan karena persepsi tidak
disibukkan oleh banyak hal. Hal ini banyak diterapkan di dalam seni rupa
Jepang klasik karena pengaruh dari ajaran Zen Budisme dan pada saat
ini banyak mempengaruhi seni dan arsitektur modern dalam istilah yang
berbeda yaitu minimalis. Prinsip ini juga diterapkan dalam Bauhaus suatu
lembaga pendidikan seni di Jerman terutama mengenai desain yaitu
Less is more , maksudnya suatu kemungkinan mensugestikan ide-ide
yang kompleks dalam seni rupa atau desain dengan hanya menampilkan
sedikit visualisasi.
a
b
Gambar 206. (a) Vas bunga produk dinasti Ch’ing di Cina (sumber: Paul Zelanski), (b)
Hasegawa Tohaku, Hutan Pinus (sumber: Joan Stanley Baker)
Prinsip ekonomi yang ditampilkan dalam kedua karya ini nampak
dengan jelas, pada gambar (206 a) vas bunga tidak ada hiasan dan
hanya menampilkan warna merah sehingga perhatian tertumpu pada
bentuk vas secara keseluruhan, pada gambar (206 b) Hasegawa dalam
menggambarkan hutan finus hanya menekankan lepada beberapa pohon
di latar depan dan beberapa pohon dengan tone warna lebih lemah di
latar belakang. Namun dapat mensugestikan bahwa itu adalah gambar
hutan.
281
f. Hubungan dengan Lingkungan
Salah satu hal yang perlu diketahui oleh seniman adalah untuk apa
dan siapa karya seni itu diciptakan. Apakah karya seni itu sebagai karya
seni murni ? Berarti yang akan menikmati adalah terbatas kepada
masyarakat yang paham dan mencintai seni, karya tersebut tentu akan
disimpan sebagai koleksi pribadi, galeri atau museum. Apabila karya seni
tersebut diciptakan untuk memenuhi kebutuhan fungsional bagi
masyarakat, maka karya tersebut perlu mempertimbangkan segmentasi
atau lapisan masyarakat yang menjadi sasaran? Karya ini dalam
prosesnya memerlukan beberapa pertimbangan, antara lain jenis kebutuhan
setiap lapisan masyarakat yang menjadi sasaran karya seni,
kemudian pertimbangan kenyamanan, keamanan, kekuatan dan sebagainya.
Apabila karya seni itu untuk diposisikan di tempat umum atau di
suatu lingkungan tertentu, karya seni tersebut perlu dipertimbangkan
bahwa keberadaannya serasi dengan lingkungan sekitarnya. Kesesuaian
tersebut meliputi ukuran, bentuk dan warnanya juga daya tahan jika
berada ditempat terbuka.
Pertimbangan ukuran perlu menjadi perhatian seperti luas atau ukuran
ruang yang tersedia untuk sebuah karya seni, sehingga tidak terlalu
besar dan tidak pula terlalu kecil. Maka dalam hal ini pertimbangan
proporsi ruang dengan bentuk sangat diperlukan. Selanjutnya pertimbangan
bentuk, warna, dan tekstur adalah untuk menyesuaikan rupa
karya seni dengan lingkungan agar dapat menyatu, tidak lepas, dan
berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Untuk
itu unsur-unsur seni harus dapat ’berdialog’ dengan unsur-unsur
lingkungannya. Maksudnya aspek karya seni memiliki hubungan yang
serasi dengan aspek sekitarnya, dapat dinikmati dengan baik oleh orangorang
yang berada di lingkungan karya seni tersebut.
A1
KEPUSTAKAAN
Abdulah, Irwan (2006) Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan.
Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Appellof, Marian Ed. (1992) Everything You Ever Wanted to Know
About Water Color, New Cork, Watson-Guptil Publication.
Ave, Joop et.al (1978) Puri Bhakti Rena Tama, Museum Istana
Kepresidenan.
Baker, Joan Stanley (1984) Japanese Art, London, Tahmes and Hudson
Bangun, Sem C. (2001) Kritik Seni Rupa. Bandung, Penerbit ITB.
Barnes, Rob (1987) Teaching Art to Young Children, London, Unwin
Hyman.
Barrer, Chris (2005) Cultural Studies: Teori & Praktik. Terj. Nurhadi.
Yogyakarta, Kreasi Wacana.
Birk, Tony (1979) Pottery, London, A Pan Original Books Ltd.
Broudy, Harry S. (1987) “Theory and Practice in Aesthetic Education.
Studies in Art Education, Chicago, Rand McNally & Co.
Christy, Greraldine and Sara Pearch (1991) Step by Step Art School
Ceramic, London, The Hamlyn Publishing Group Limitted.
Darby, Max (1986) Image in Life, Victoria, Ministry of education (School
Division).
Dewantara, Ki Hadjar ( 1994) Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian II
Kebudayaan, Yogyakarta, Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
Dunkelberg, Klaus (1984) Drawing The Nude: The Body, Figures,
Forms,New York, Van Nostrand Reinhold Company.
Eberly, Bob (1989) Scamper On, Australia, Hawker Brownlow Education.
Eisner, Elliot W. & David W. Ecker ( 1970) ‘Some Historical Development
in Art Education’ dalam George Papas Concept in Art Education an
Anthology of Current Issues, Florida: The MacMillan Company.
Feldman, Edmund Burke (1967) Art As Image and Idea, Englewood
Cliffs, Prentice-Hall, INC.
Fischer, Joseph (1994) The Folk Art of Java, Oxford, Oxford University
Press.
Gardner, Howard ( 1983) A cognitive View of the Art. Artistic
Intelligences, Art Education, Oxford, Pergamon Press
Geertz, Clifford (1973) Interpretation of Culture, New Cork, Basic
Books, Inc., Publisher.
Gombrich, E.H (1978) The Story of Art, London, Phaidon.
Guilford, J.P (1968) Intelligence, Creativity and Their Educational
Implications California: Robert R.Knapp,Publisher.
Haer, Debbie Guthrie , Juliete Morrilot, Irene Toh, Ed. (2000) Bali a
Travellers’s Companion, Singapore, Archipelago Press.
A2
Harrison, Hazle (2006) Art School: How to Saint and Draw, London,
Hermes Houses.
Holt, Claire (2000) Melacak Jejak-Jejak Perkembangan Seni Di
Indonesia, Terj. R.M. Soedarsono. Bandung, Masyarakat Seni
Pertunjukkan Indonesia.
Homekler, Ori (1982) Homekler’s People, London, Europa Publication
Limited.
Irving, Kaufman ( 1966) Art and Education New York, The MacMillan
Company.
Jaxtheimer, Bodo W.(1982) How to Paint and Draw, London, Thames
and Hudson.
Koentjaraningrat (2002) Pengantar Ilmu Antrpologi, Jakarta, Rineka
Cipta.
___________ (2002) Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta:
Penerbit Jambatan, 2002.
Lansing, Kenneth M ( 1969 ) Art, Artist, And Art Education, New York,
McGraw-Hill Book Company.
Lowenfeld, Viktor( 1970) Creative and Mental Growth, London,
MacMillan Publishing Company.
McKim, Robert H. (1972) Experiences in Visual Thinking, California,
Wadsworth Publishing Company.
Mistchell, W.J.T. ( ) Iconology: Image, Text, Ideology, Chicago, The
University of Chicago Press
Ngantung, Henk (1981) Sketsa-Sketsa Henk Ngantung, Jakarta,
Penerbit Sinar Harapan.
Parramon’s Editorial Team (1998) All About Tehniques in Oil, New
York, Barron’s Educational Series, Inc.
Parramon’s Editorial Team (1998) All About Tehniques in Pastel, New
York, Barron’s Educational Series, Inc.
Parson, J. Michael ( 1987) How We Understand Art, New York,
Cambridge University Press.
Peursen, van (1976). Setrategi Kebudayaan, terjemahan Dick Hartoko,
Yogyakarta, Percetakan Kanisius.
Pritzker, Pamela (1975) Max Ernst, New York, Leon Amiel Publisher.
Read, Herbert ( 1968) The Meaning of Art, London, Faber & Faber.
Richter, Ann (1993) Art and Craft of Indonesia,San Francisco, Chronicle
Books.
Roukes, Nicholas (1980) Design Synectics, Worcester, Davis
Publication, Inc.
------------- (1984) Art Synectics, Worcestr, Davis Publication Inc.
Saxton, Collin (1981) Art School, London, McMilan.
Sidaway, Ian (1996) The Mixed Media, London, A Quarto Book.
Sitowati, Retno Suliastianingsih & Jphn N. Miksic (2006) Icons of art,
Jakarta, Museum Nasional.
A3
Smith, Ralph A. (1986) Excelence in Art Education, Virginia, National
Art Education Association.
Smith, Stan (1984) Anatomy Perspective and Composition for The
Artist, New York, Watson-Guptil Publication.
Sediawati, Edi (2006) Budayaan Indonesia:Kajian Arkeologi, Seni,
dan Sejarah. Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada.
Soedarso SP. Tinjauan Seni, Yogyakarta, Saku Dayar Sana.
___________ Seni Lukis Batik Indonesia, Yogyakarta, Taman Budaya
Soekmono (1973) Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1.
Yogyakarta, Penerbit Kanisius.
Soemantri, Hilda et.al (2002) Indonesian Heritage, Yakarta. P.T
Widyadara.
Spradley, James.P Culture and Cognition, London, Chandler
Publishing Company.
Sternberg, Robert J. Ed. (1999) Handbook of Creativity, United
Kingdom, Cambridge University.
Sudarmadji et.al (1985) Apresiasi Seni, Jakarta, Badan Pelaksana
Pembanguan Proyek Ancol, PT. Pembangunan Jaya.
Thompson, Belinda and Michel Howard (1988) Impresionism,London,
Bison Books Ltd.
Walter, Ingo F. and Rainer Metzger (1987) Marc Chagall,Hamburg,
Taschen .
Wilson, Simon (1974) Pop, London, Tahmes and Hudson.
Yudoseputro, Wiyoso (1993) Pengantar Wawasan Seni Budaya,
Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Zelanski, Paul & Mary Pat Fisher (1988) The Art of Seeing, London, Bay
Books.
Zimmer, Heinrich (2003) Sejarah Filasafat India, Yogyakarta, Pustaka
Pelajar.
Zoetmoelder (2004), Kamus Bahasa Jawa Kuna,Jakarta, P.T Gramedia
Pusataka Utama.
A4
B1
GLOSARIUM
.
Adjacent
Jenis kombinasi warna, komplemen yang
terdiri dari tiga warna dimana ada satu warna
berhadapan ditambah satu warna yang ada
disebelah salah satu dari wama yang
berhadapan itu. (Lihat gambar pada bagian
warna).
Air Brush Alat yang berperan sebagai kuas tetapi dalam
menerapkan warna dilakukan dengan cara
menyemprotkan melalui bantuan kompresor
sebagai penyimpan dan pengeluar angin
Akumulasi Bersatu melalui percampuran
Analogus
Jenis kombinasi warna yang terdiri dari tiga
sampai empat warna bersebelahan dalam
lingkaran warna dimana padakornbinasi warna
itu ada satu warna primer
Aplikatif Dapat diterapkan
Artistik Mengandung nilai keindahan
Areal perspektif
Areal. perspektif = Prinsip perspektif
dalam mengungkapkan ruang dimana,benda
yang jauh digambarkan semakin kabur untuk
membuat ilusi ruang dengan kedalaman.
Asosiasi
Mengira, menyangka, seakan memunculkan
sesuatu
Blocking Menutup dengan warna
Brush stroke Goresan kuas yang kuat,tegas dan berani
Cyan Warna biru terang
Cutter Pisau pemotong yang tipis, taJam dan dapat
dibuang bagiannya yang tumpul
Detail
Bagian yang kecil-kecil dalam karya seni rupa
dan kria.
Dimensi Matra, aspek dalam ruang pada seni dan kria
Double split
Jenis kombinasi warna komplemen atau
kontras yang terdiri dari empat warna
berhadapan dalam lingkaran wama diselingi
oleh satu warna yang bersebelahan. (Lihat
gambar pada bagian warna).
Estetik Nilai keindahan
Eksplorasi
Penjelajahan terhadap sesuatu, untuk
menemukan hal-hal yang baru dari apa vang
dijelajahi itu.
Ekspresi Ungkapan pikiran dan perasaan terefleksi
B2
dalam karya seni
Eksakta
Ilmu pasti: matematik, kimiaf, fisika dan
sebagainya.
Figur
Istilah dalam seni rupa mengenai bentuk; nonfiguratif
berarti tanpa bentuk.
Fiksi Khayal, tidak nyata.
Focus Pemusatan.
Full round
Tiga dimensi penuh, dapat dilihat dari seluruh
sudut pandang,
Geometris
Mengenai ilmu, ukur; bentuk geometris adalah
bentuk yang ada dalarn ilmu ukur dengan
strukturnya yang teratur.
Hue Nama warna : hue merah, hue biru dsb.
llusi Seakan ada tetapi nyatanya tidak ada.
Intensity Kekuatan warna, cerah suramnya warna.
Image Gambaran ujud dalarn benak, imaji.
Imajinasi Gambar dalam pikiran
Karya frontal
Jenis karya seni rupa dengan tiga dimensi
penuh tetapi hanya untuk disaksikan dari
bagian depan saja.
Komunikasi Hubungan dengan kata, rupa,gerakan dsb.
Komparatif Bandingan
Komoditi Barang yang diperjual belikan
Komplementer Berhadapan, warna yang berhadapan dalarn
lingkaran warna.
Life-size Ukuran yang sebenarnya
Linear perspektif
Prinsip perspektif untuk menggambarkan ilusi
ruang dengan kedalaman dimana bentuk yang
jauh ukurannya semakin mengecil.
Magenta Warna merah lembayung
Mentransmisikan Memindahkan
Monokromatik Susunan warna yang mengadung satu hue
warna
Organis Bentuk menyerupai mahluk hidup, struktur
tidak teratur
Overlaping Tumpang tindih
Palet Tempat mencapur cat
Perspektif Cara atau prinsip menggambarkan suasana
tiga dimensi
Pigmen Zat warna yang terkandung dalam benda
Powdery Sifat atau penampakan seperti kapur
Proporsi Perbandingan antara bagian pada benda
Shade Menggelapkan warna dengan campuran hitam
Single split Jenis komposisi warna kontras atau komplemen,
satu warna berhadapan dengan dua
B3
warna bersebelahan dalam lingkaran
wama(Lihat gambar pada bagian warna).
Silinder Bentuk bulat panjang bervolume, tabung.
Sketsa Gambar hanya dengan garis atau goresan
yang mengandung unsur bentuk.
Solid Padat, tidak berongga
Tetrad komplemen
Jenis kombinasi warna komplemen atau
kontras yang terdiri dari empat warna dimana
masing-masing diselingi oleh dua warna dalam
lingkaran wama.Lihat garnbar pada bagian
warna)
Tint
Membuat warna lebih terang dengan mencampurkan
warna putih.
Torso
Bagian badan manusia dari dada sampai
pinggul
Transparan Tembus pandang
Triad komplemen
Jenis kombinasi warna kontras yang terdiri dari
tiga warna berhadapan dimana masing-masing
diselingi dua warnadalarn lingkaran
wama.(Lihat gambar pada bagian warna)
Tube
Tempat cat dari aluminium yang bentuknya
seperti tempat pasta gigi.
Value Gelap terangnya warna
Walk-Through
Jenis karya tiga dimensi yang melibatkan
lingkungan sebagai bagian dari karya itu.
C1
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Gambar Halaman
1. Gambar di dinding gua prasejarah 1
2. Benda-benda seni dalam kehidupan
manusia
2
3. Seni dalam produk-produk teknologi 2
4. Hasil bidang seni rupa, lukisan, patung,
keramik dan ukiran logam
3
5. Patung karya G. Sidharta dan lukisan
karya Agus Djaya
4
6. Lukisan ‘Kalarahu’ Nyoman Gunarsa 5
7. Produk seni etnis tradisional Indonesia 7
8. Patung karya I Nyoman Cokot 9
9. Lukisan karya Lee Man Fong 10
10. Sketsa catatan untuk melukis 11
11. Sketsa dilanjutkan menjadi lukisan 11
12. Pengembangan kreativitas melalui rangsang
visual
12
13. Foto dan lukisan pemandangan 13
14. Produk seni rupa tradisonal tiga dimensi 14
15. Patung Dewa Siwa 15
16. Produk seni murni dan seni terpakai 16
17. Berbagai produk seni rupa 18
18. Yantra Bindu 19
19 Seni Sesaji dalam ritual Agama Hindu di
Bali
20
20. Patung Buddha 20
21. Lukisan Nabi Adam diturunkan ke bumi 21
22. Wayang Kulit Jawa: Dewi Sinta dan
Hanuman
21
23. Wayang Kulit Jawa: Bima dan raksasa 22
24. Iklan Shampo di koran 22
25. Iklan Kopi di majalah 23
26. Kegiatan seni rupa di TK 24
27. Lukisan Anak : bermain Layang-layang 25
28. Fungsi otak kanan dan otak kiri 26
29. Peninggalan Zaman Batu Tua 27
30. Lukisan pada dinding gua 28
31. Peninggalan Zaman Batu Baru 28
32. Patung Zaman Megalitikum 29
33. Nakara 29
34. Bagian atas nakara 29
C2
35. Prasasti Batu Tulis dari Kutai dan Batu
Sangkar
30
36. Candi Borobudur 31
37. Relief di Candi Borobudur 31
38. Motif Kepala Kala dari Jawa Tengah dan
Jawa Timur
32
39. Motif Teratai, Kinara-Kinauri, Lingga 33
40. Gapura Masjid Sendangduwur, Tuban 34
41. Ukiran dalam medalion Masjid Mantingan,
Jepara
34
42. Menara Masjid Kudus 35
43. Lukisan Gunung Merapi karya Raden Saleh 36
44. Lukisan ‘Perburuan Harimau’ karya Raden
Saleh
36
45. Lukisan ‘Pemandangan di Jawa’ Karya
Abdullah SR
37
46. Lukisan ‘ Balai Desa Minangkabau’ karya
Wakidi
38
47. Lukisan ‘ Pemandangan Sudut Jakarta ‘
karya Ernest Dezentje
38
48. Lukisan ‘Tetangga’ karya Sudjojono 39
49. Lukisan ‘ Mencari Kutu Kepala’ Karya
Hendra Gunawan
40
50. Patung ‘ Gadis dan Kodok’ Karya Trubus 40
51. Beberapa motif batik 41
52. Batik kreasi baru 42
53. Bentuk-bentuk wayang 44
54. Pertunjukan Wayang Bali 45
55. Keris Bali dan Jawa 46
56. Nakara Pejeng 48
57. Hiasan muka manusia pada Nakara Pejeng 48
58. Lukisan dan patung tradisional Bali 49
59. Lukisan karya Walter Spies dan Bonnet 50
60. Lukisan tradisonal Bali 51
61. Patung Karya I.B. Nyana dan I Nyoman
Cokot
52
62. Lukisan Arie Smith, Ketut Soki dan Ketut
Tagen
53
63. Lukisan I Nyoman Erawan 54
64. Lukisan I Nyoman Gunarsa dan Made
Wianta
55
65. Relief berwarna, Mesir Kuno 56
66. Mummi, relief, dan tempat menyimpan
organ dalam orang yang meninggal
57
C3
67. Patung Binatang dan lukisan potret pada
kuburan
58
68. Kuil Parthenon 59
69. Pot Bunga Yunani 60
70. Patung Venus dan prajurit dari Ruice 61
71. Relief patung pada kubur Batu 62
72. Colosseum tahun 80 Masehi 63
73. Relief pada altar Ara Pacis 64
74. Patung potret Zaman Romawi kuno 65
75. Lukisan Dinding Zaman Romawi kuno 65
76. Dewi Venus Muncul dari Laut 66
77. Michelangelo, Pieta 67
78. Michelangelo, Adam diturunkan ke bumi 68
79. Lukisan ‘Monalisa’ karya Leonardo Da Vinci 69
80. Lukisan ‘Pertunangan Arnaltini’ karya Jan
Van Eyck
70
81. Lukisan ‘ Jan Six’ karya Rembrandt 71
82. Relief dari Mohenjodaro 72
83. Patung Wanita Mahenjodaro 73
84. Yantra Segitiga 74
85. Yantra Segiempat 75
86. Patung Dewa Siwa 76
87. Ornamen Kembang dari Batu Giok 77
88. Patung Boddhisatva dari Dinasti Song 78
89. Lukisan Wang Hui dan Guo Kogong 79
90. Kaligrafi Bodhidharma karya Hakui Ekaku 81
91. Lukisan Otani Oniji karya Toshusai
Sharaku
82
92. Foto Taman Istana Katsura, Kyoto 82
93. Taman Ryoanji 83
94. Gambar dengan pena 85
95. Gambar pemandangan dengan bahan arang 88
96. Self Potrait karya Kate Kolowitz, dari bahan
arang
88
97. Gambar dari bahan arang 89
98. Lukisan Leonardo Da Vinci dengan bahan
arang
89
99. Gambar goresan pensil 90
100. Lukisan pemandangan dengan bahan
pensil cat air
91
101. Menggosok pastel dengan tissue 93
102. Karya Seni Lukis dengan Bahan dari teknik
pastel
93
103. Lukisan dengan Pastel 94
C4
104. Gambar dengan Tinta Hitam 96
105. Lukisan klasik Cina dengan cat air 98
106. Gorean dengan cat air 99
107. Goresan dengan cat poster 100
108. Lukisan dengan cat akrilik 101
109. Goresan cat akrilik 102
110. Goresan cat minyak 103
111. Lukisan cat minyak 104
112. Jenis-jenis tanah liat 105
113. Benda-benda dari tanah liat 106
114. Patung dari logam dan batu 107
115. Patung dan lukisan dengan teknik berbeda
memberi kesan rasa berbeda
109
116. Unsur bentuk dan garis 110
117. Bahan dan teknik membuat garis 112
118. Gambar hanya dengan garis 113
119. Potensi garis membuat ilusi 113
120. Ruang Positif dan ruang negatif 114
121. Ruang positif dan negatif dengan linear dan
areal per-spektif
115
122. Lukisan dengan areal perspektif 115
123. Lukisan dengan linear perspektif 116
124. Aplikasi ruang positif dan negatif 117
125. Bentuk organis dua dimensi dan tiga
dimensi
118
126. Bentuk organis dan geometris dengan ilusi
tiga dimensi
119
127. Bentuk organis dan geometris bervolume 120
128. Aplikasi warna panas dan warna dingin 124
129. Aplikasi warna intensitas tinggi dan rendah 126
130. Aplikasi warna primer 126
131. Penerapan warna monokromatik 127
132. Penerapan warna analogus 127
133. Penerapan warna netral dengan aksen
warna merah
128
134. Penerapan warna komplementer 128
135. Penerapan warna monokromatik, analogus,
dan komplementer
131
136. Tekstur dengan teknik marbling 132
137. Tekstur semu dengan teknik cipratan 132
138. Tekstur kasar dengan bahan kulit telur 133
139. Tekstur kasar dengan teknik batik 133
140. Prinsip pengulangan teratur dan tak teratur 135
141. Prinsip selang-seling 136
C5
142. Prinsip rangkaian 137
143. Prinsip transisi 138
144. Prinsip gradasi 140
145. Prinsip irama 141
146. Prinsip radiasi 142
147. Prinsip konsentrasi 144
148. Prinsip kontras 147
149. Penerapan prinsip kontras 148
150. Prinsip penekanan 149
151. Penerapan prinsip penekanan pada lukisan 150
152. Penerapan prinsip proporsi pada lukisan
pemandangan
152
153. Prinsip keseimbangan 153
154. Penerapan prinsip keseimbangan pada
lukisan, patung dan relief
155
155. Penerapan prinsip keseimbangan informal 156
156. Prinsip harmoni 157
157. Prinsip kesatuan 158
158. Penerapan prinsip kesatuan dalam lukisan
tradisional Bali
159
159. Goresan berbagai variasi garis 163
160. Dua sketsa Henk ngantung 164
161. Studi anggota tubuh manusia 165
163. Studi Sybil oleh Michelangelo 166
164. Studi Guernica oleh Pcasso 166
165. Hasil studi gambar binatang peserta diklat 167
166. Rakit Medusa oleh Delacroix 168
167. Studi Rakit Medusa oleh Delacroix 169
168. Seni sketsa oleh Nyoman Gunarsa 169
169. Seni sketsa Henri Matisse 170
170. Seni sketsa Henk Ngantung 170
171. Seni sketsa oleh Picasso 171
172. Seni Sketsa Oleh Christiano 171
173. Memahami perspektif 173
174. Gambar proyeksi 177
175. Gambar alam benda: sepatu dan buah
dengan pensil
178
176. Kursi tua dan pipa cerutu, karya Van Gogh 179
177. Gambar alam benda dengan pastel 179
178. Gambar alam benda dengan cat air dan
spidol
180
179. Proses menggambar alam benda dengan
teknik dry brush
181
180. Proses menggambar alam benda dengan 182
C6
warna akrilik
181. Gambar tumbuh-tumbuhan 183
182. Gambar rerumputan oleh Durrer dengan
cat air
184
183. Gambar semak dengan pastel kapur 184
184. Gambar pepohonan oleh siswa SMK 185
185. Sketsa binatang 186
186. Jenis Binatang 187
187. Gambar binatang oleh Rembrant dan
Durrer
188
188. Gambar burung oleh peserta diklat 188
189. Proporsi tubuh manusia 189
190. Gambar bagian kepala 190
191. Gambar torso 190
192. Ilustrasi berbeda fungsi 192
193. Ilustrasi fantasi 192
194. Ilustrasi cerita anak 193
195. Ilustrasi ilmu pengetahuan 194
196. Ilustrasi cerita fiksi 194
197. Ilustrasi cerita fiksi 195
198. Gambar ornamen karya peserta diklat 195
199. Ornamen motif daerah 196
200. Gambar ornamen dengan
menyederhanakan
197
201. Gambar ornamen dengan pengayaan 197
202. Proses membentuk tanah liat dengan
teknik pijit / pinch
200
203. Proses membentuk tanah liat dengan
teknik lempeng
201
204. Proses membentuk tanah liat dengan
teknik pilin/coil
201
205. Proses membentuk tanah liat dengan
teknik putar
202
206. Relief rendah 203
207. Relief tinggi 204
208. Patung frontal 206
209. Jenis patung full round 207
210. Rongga-rongga persegi 209
211. Bentuk kubus dengan teknik potong,
tempel
210
212. Bentuk Limas dengan teknik potong, lipat,
dan toreh
210
213. Karya seni walk through 212
214. Karya Abdul Azis dan Fajar Sidik 214
C7
215. Karya seniman dengan tipe terstruktur dan
sintesa
217
216. Karya seni lukis dekoratif 218
217. Karya Marc Chagall 219
218. Karya Salvador Dali 220
219. Sketsa abstrak Henry Moore 220
220. Karya Monet dan Cezanne 221
221. Konsep bentuk kubisme 222
222. Guernica karya Picasso 222
222. Karya Durrer, Affandi, dan pollock 223
224. Konsep bentuk ekspresionisme 224
225. Karya M.C. Escher, Born with Union 225
226. Karya Marc Chagall, Birthday 226
227. Pemanfaatan ilusi optik dalam seni rupa 227
228. Karya Hopmekler, Jimmy Carter dan
kawannya
228
229. Karikatur G.M Sudarta 228
230. Animasi dalam lukisan dan keramik 229
231. Visual brain storming 230
232. Karya Erawan, Kekunoan 233
233. Karya Martin Sharp, dan Lucas Maramas 234
234. Karya Spies, dan Bonnet 234
235. Pengembangan kombinasi dan sinergi
bentuk
235
236. Karya Salvador Dali, The persistence of
memory
236
237. Pengembangan dan penyatuan garis dan
bentuk
237
238 Pengembangan bentuk organis 238
239. Tiga karya Picasso periode biru 243
240. Lukisan wayang beber dan kamasan 244
241. Prose membuat patung Rodin 245
242. Karya Trubus dan Sadali 246
243. Karya Manaise Manipik, Good Spirit 248
244. Karya Lee Man-Fong, Menenun 249
245. Karya Sudjojono dan karya Lee Man-Fong 250
246. Karya G. Sidartha dan Irianti Marmaya 252
247. Karya Marc Chagall, The Gree Violinist 253
248. Analisis the Gree Violinist 254
249. Unsur rupa sebagai tanda 259
250. Hubungan antar unsur 261
C8

0 komentar: