____ Baca Baca: SMK 10 Bhs. Indonesia_Budi Html BSE_______welcome
Memuat...
Share |

Senin, 01 Maret 2010

SMK 10 Bhs. Indonesia_Budi Html














Budi Waluyo
Rudi Adi Nugroho
BAHASA INDONESIA
1 Tingkat Semenjana
untuk SMK Kelas X
Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional
ii Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
Bahasa Indonesia 1
Tingkat Semenjana untuk SMK Kelas X
Disusun Oleh : 1. Budi Waluyo
2. Rudi Adi Nugroho
Setting dan Layout : 1. Indah Isniarti
2. Rony Novianto
Desain Kulit : Marwanto
Ukuran Buku : 17,6 × 25 cm
410
WAL Waluyo, Budi
b Bahasa Indonesia 1: untuk SMK/MAK kelas X (Tingkat Semenjana)/
Budi Waluyo dan Rudi Adi Nugroho. — Jakarta: Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
xii, 176 hlm.: ilus.; 25 cm.
Bibliografi : hlm. 174-176
Indeks.
ISBN 979-462-944-8
1. Bahasa Indonesia-Studi dan Pengajaran I. Judul
II. Nugroho, Rudi Adi
Diterbitkan oleh Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
Diperbanyak oleh ...
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya,
Pemerintah, dalam hal ini, Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah
membeli hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis/penerbit untuk disebarluaskan
kepada masyarakat melalui situs internet (website) Jaringan Pendidikan Nasional.
Buku teks pelajaran ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan
dan telah ditetapkan sebagai buku teks pelajaran yang memenuhi syarat kelayakan
untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 34 Tahun 2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para penulis/
penerbit yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para siswa dan guru di seluruh
Indonesia.
Buku-buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (down load), digandakan, dicetak,
dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun, untuk penggandaan yang
bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan
oleh Pemerintah. Diharapkan bahwa buku teks pelajaran ini akan lebih mudah diakses
sehingga siswa dan guru di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada
di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para
siswa kami ucapkan selamat belajar dan manfaatkanlah buku ini sebaik-baiknya.
Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu,
saran dan kritik sangat kami harapkan.
Jakarta, Juli 2008
Kepala Pusat Perbukuan
KATA SAMBUTAN
iii
Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa yang telah berkenan
menganugerahkan kesempatan sehingga buku Bahasa Indonesia Tingkat
Semenjana untuk SMK Kelas X dapat diselesaikan oleh penulis.
Buku ini disusun untuk memudahkan siswa dalam memahami empat aspek
keterampilan berbahasa yang meliputi aspek mendengarkan, berbicara,
membaca, dan menulis. Penulisan buku ini menggunakan Standar Isi 2006
sebagai acuan dan diharapkan siswa dapat mengembangkan keterampilan dan
kreativitas, baik secara mandiri maupun kelompok, melalui pemahaman konsep
dan wacana serta pelatihan-pelatihan dalam setiap babnya.
Materi dalam buku ini disajikan secara tematik. Setiap tema pada bahasan
dapat dikembangkan siswa melalui keterampilan dan kreativitas berbahasa
sehingga diharapkan dapat mendukung pengembangan setiap kompetensi dasar.
Dalam hal ini siswa diajak untuk berperan aktif sebagai pelaku utama dalam
pembelajaran.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang berkenan memberikan kritik dan saran dalam rangka penyempurnaan
buku ini di kemudian hari. Akhirnya penulis berharap dengan terbitnya buku
ini dapat memberikan motivasi yang positif bagi guru dan siswa SMK pada
semua program keahlian untuk lebih mencintai bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasional.
Penulis
iii
PETUNJUK
PENGGUNAAN BUKU
Petunjuk Penggunaan Buku v
Setiap bab diawali dengan
Pendahuluan yang memberi
petunjuk pada siswa mengenai halhal
yang ditekankan dalam proses
pembelajaran. Dilanjutkan dengan
Subbab-Subbab yang menerangkan
aspek-aspek keterampilan berbahasa
disertai contoh-contoh untuk
memudahkan siswa memahami
materi yang dipelajarinya dan dapat
mengembangkan potensi masingmasing
dalam bidang bahasa.
Halaman pembuka bab memuat Tujuan
Pembelajaran sesuai dengan materi yang
akan dipelajari. Pencantuman tujuan
pembelajaran ini dimaksudkan untuk
membantu siswa agar dapat merancang
kegiatan belajarnya dengan baik dan
mencapai tujuan yang diinginkan.
vi Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Penugasan diberikan dalam dua
bentuk, tugas individu dan tugas
kelompok. Tugas Individu berupa
latihan atau kegiatan yang harus
dikerjakan siswa secara mandiri untuk
mengukur kemampuan individual
dalam menguasai materi. Tugas
Kelompok berupa latihan atau
kegiatan yang bertujuan untuk
mengukur kemampuan siswa bekerja
sama memecahkan berbagai persoalan.
Pengayaan diberikan
kepada siswa dalam
tajuk Seputar
Pengetahuan Bahasa,
ditujukan untuk
menambah pengetahuan
siswa mengenai bahasa
Indonesia dan
penggunaannya dengan
baik dan benar.
Rangkuman pokok-pokok materi
diberikan sebagai sarana siswa
merefleksi kembali materi yang telah
diterimanya. Dilanjutkan dengan
Latihan yang berfungsi sebagai
sarana mengukur kemampuan
pemahaman konsep siswa secara
individu.
Indeks diberikan untuk
memudahkan siswa menemukan
kembali materi-materi yang telah
dipelajari ketika ingin
memelajarinya lebih lanjut.
Glosarium berisi penjelasan arti
dari kata-kata sukar dan istilahistilah
asing yang ditemui siswa
dalam buku ini, diberikan dengan
tujuan untuk membantu siswa
memahami kata-kata sukar dan
istilah-istilah asing tersebut.
Petunjuk Penggunaan Buku vii
Sebagai motivator bagi
siswa untuk lebih giat
dalam memelajari bahasa
dan mengembangkan
potensinya, diberikan
rubrik pengayaan dengan
tajuk Kabar Tokoh.
Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
DAFTAR ISI
Kata Sambutan ....................................................................................... iii
Kata Pengantar ....................................................................................... iv
Petunjuk Penggunaan Buku ................................................................... v
Daftar Isi ................................................................................................. viii
Tema 1 KETENAGAKERJAAN
A. Mendengarkan
Menyimak untuk Memahami Lafal, Tekanan, Intonasi,
dan Jeda pada Bahasa Tutur ............................................... 2
B. Berbicara
Melafalkan Kata dengan Artikulasi yang Tepat ............... 6
C. Membaca
Membaca Cepat Suatu Teks ............................................. 9
D. Menulis
Mengenal Kategori/Kelas Kata .......................................... 11
E. Rangkuman ................................................................... 15
Latihan................................................................................... 16
Tema 2 TEKNOLOGI KOMUNIKASI
A. Mendengarkan
Memahami Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda yang
Lazim/Baku dan yang Tidak................................................ 19
B. Berbicara
Memahami Lafal Baku dan Tidak Baku .......................... 22
C. Membaca
1. Membaca Cepat untuk Memahami Informasi
Tertulis ........................................................................ 27
viii
2. Membedakan antara Fakta dan Pendapat dalam
Teks ............................................................................. 30
D. Menulis
Memilih Kata, Bentuk Kata, dan Ungkapan yang
Tepat ................................................................................. 31
E. Rangkuman .................................................................... 33
Latihan................................................................................... 34
Tema 3 SENI BUDAYA
A. Mendengarkan
Memahami Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda pada
Siaran Radio ..................................................................... 38
B. Berbicara
Melafalkan Kata dengan Artikulasi yang Tepat dalam
Pidato ............................................................................... 41
C. Membaca
1. Membaca Cepat dengan Teknik Skimming dan
Scanning ..................................................................... 44
2. Langkah-langkah Membaca Cepat dengan Teknik
Skimming dan Scanning.............................................. 45
3. Tujuan dan Manfaat Membaca Cepat......................... 45
D. Menulis
1. Menulis dengan Memanfaatkan Kategori/
Kelas Kata .................................................................. 47
2. Menulis dengan Menggunakan Kata Berimbuhan
yang Menyatakan Proses dan Hasil ............................... 48
E. Rangkuman ................................................................... 50
Latihan................................................................................... 50
Tema 4 INFORMASI
A. Mendengarkan
Menyimak Penggunaan Lafal, Tekanan, Intonasi, dan
Daftar Isi ix
Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Jeda dalam Wawancara...................................................... 54
B. Berbicara
1. Melafalkan Kata dengan Menggunakan Ragam
Bahasa Baku ................................................................ 58
2. Memahami Fungsi Ragam Bahasa Baku dan
Tidak Baku ................................................................. 59
C. Membaca
Memahami Informasi Tertulis dengan Memanfaatkan
Kamus .............................................................................. 61
D. Menulis
1. Memahami Bentuk Kata dalam Bahasa Indonesia ..... 64
2. Memahami Makna Denotatif dan Konotatif ................... 66
E. Rangkuman ................................................................... 67
Latihan................................................................................... 67
Tema 5 OLAHRAGA DAN KESEHATAN
A. Mendengarkan
Memahami Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda pada
Pembacaan Puisi .............................................................. 72
B. Berbicara
Memahami Ragam Bahasa............................................... 75
C. Membaca
Membaca Cepat untuk Memahami Informasi Tertulis ..... 78
D. Menulis
1. Memahami Kata Umum dan Kata Khusus ................. 79
2. Menggunakan Kata-kata yang Sama atau Hampir
Sama Artinya ................................................................ 80
E. Rangkuman .................................................................... 81
Latihan................................................................................... 81
Latihan Ulangan Semester 1 ................................................................. 84
x
Tema 6 WISATA
A. Mendengarkan
Mengenal Informasi Lisan sebagai Sumber Informasi ..... 88
B. Berbicara
Menggunakan Kalimat yang Baik, Tepat, dan Santun ..... 90
C. Membaca
Memahami Informasi Tertulis dalam Teks ....................... 92
D. Menulis
Menggunakan Kalimat Tanya Tertulis Sesuai dengan
Situasi ................................................................................ 95
E. Rangkuman ................................................................... 99
Latihan................................................................................... 99
Tema 7 KEHIDUPAN MASYARAKAT
A. Mendengarkan
Menyimak Informasi dari Tuturan Lisan ......................... 104
B. Berbicara
Mengucapkan Kalimat dengan Lancar, Bernalar, dan
Wajar ................................................................................ 106
C. Membaca
Memahami Informasi dalam Teks Berbentuk Narasi ....... 108
D. Menulis
Membuat Parafrasa dari Teks Tertulis ................................. 112
E. Rangkuman ................................................................... 115
Latihan................................................................................... 115
Tema 8 LINGKUNGAN HIDUP
A. Mendengarkan
Memahami Informasi Lisan dari Siaran Berita ................ 120
B. Berbicara
Mengucapkan Kalimat dengan Baik, Tepat, dan Santun
Daftar Isi xi
Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
dalam Membawakan Acara ................................................ 123
C. Membaca
Memahami Informasi dalam Teks Berbentuk
Deskripsi .......................................................................... 125
D. Menulis
Memparafrasakan Puisi ...................................................... 127
E. Rangkuman .................................................................... 150
Latihan................................................................................... 130
Tema 9 PENGETAHUAN
A. Mendengarkan
Menyimak untuk Memahami Informasi Lisan ................. 136
B. Berbicara
Mengucapkan Dialog Drama dengan Jelas, Lancar,
dan Wajar ......................................................................... 138
C. Membaca
Memahami Informasi dalam Teks Berbentuk
Eksposisi .......................................................................... 141
D. Menulis
Menulis Paragraf secara Efektif........................................... 144
E. Rangkuman .................................................................... 145
Latihan................................................................................... 146
Tema 10 PEREKONOMIAN
A. Mendengarkan
Memahami Informasi dalam Pengumuman ..................... 150
B. Berbicara
Menggunakan Kalimat Efektif ......................................... 152
C. Membaca
1. Memahami Informasi dalam Teks Berbentuk
Argumentasi ............................................................... 155
2. Memahami Informasi Nonverbal dan Verbal ............. 156
xii
D. Menulis
Meringkas Isi Buku ............................................................ 159
E. Rangkuman .................................................................. 161
Latihan................................................................................... 161
Latihan Ulangan Semester 2 .................................................................. 165
Glosarium ................................................................................................ 169
Indeks Subjek dan Pengarang ............................................................... 171
Daftar Pustaka ....................................................................................... 174
xii
Ketenagakerjaan 1
Tema
1
KETENAGAKERJAAN
Tujuan Pembelajaran:
1. Memahami lafal, tekanan, intonasi, dan jeda pada bahasa tutur.
2. Melafalkan kata dengan artikulasi yang tepat.
3. Membaca cepat suatu teks.
4. Mengenal dan memahami kategori/kelas kata.
Sumber: Garuda, Maret 2006
2 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Pendahuluan
Pada pertemuan ini Anda akan memelajari empat aspek kemampuan berbahasa,
yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada aspek mendengarkan,
Anda akan diajak menyimak untuk memahami lafal, tekanan, intonasi, dan jeda pada
bahasa tutur. Pada aspek berbicara, Anda akan memelajari cara melafalkan kata dengan
artikulasi yang tepat pada suatu teks. Bagaimana cara membaca cepat suatu teks dapat
Anda temui pada aspek membaca. Adapun pada aspek terakhir, yaitu menulis, Anda
diajak untuk belajar mengenal dan memahami kategori atau kelas kata.
Setiap aspek di atas akan dilengkapi dengan tugas, berupa tugas individu atau
kelompok, untuk merangsang dan memotivasi Anda berpikir kreatif dalam memahami
uraian materi. Selain itu, pada akhir bab Anda akan menemui rangkuman dan pelatihan.
Rangkuman berguna untuk mengingatkan Anda kembali mengenai isi materi yang
telah dipelajari. Adapun pelatihan akan membantu mengukur sejauh mana pemahaman
materi yang telah Anda capai dengan cara mengerjakan soal-soal.
A. Mendengarkan
Menyimak untuk Memahami Lafal, Tekanan, Intonasi,
dan Jeda pada Bahasa Tutur
Pernahkah Anda mengalami kesulitan
menangkap isi percakapan ketika sedang
bercakap-cakap dengan seorang teman?
Apa saja sebabnya? Salah satu faktor
penting penyebabnya kemungkinan besar
adalah ketidaktepatan lafal, tekanan,
intonasi, dan jeda dalam mengucapkan
kata atau kalimat. Mengapa demikian?
Anda perlu mengetahui bahwa lafal,
tekanan, intonasi, dan jeda memegang
peranan penting dalam bahasa tutur atau
bahasa lisan. Ketidaktepatan dalam
penggunaannya akan mengakibatkan isi tuturan tidak dapat dimengerti oleh
pendengarnya dengan jelas. Oleh karena itu, agar terhindar dari kasus tersebut,
Anda hendaknya mengenal dan menguasai lafal, tekanan, intonasi, dan jeda dalam
bahasa tutur.
1. Lafal
Lafal adalah cara mengucapkan bunyi bahasa. Misalnya, kata ”kita”
berbeda bunyinya dengan kata ”pita”. Perbedaan pengucapan bunyi bahasa
ini sangat dipengaruhi oleh perbedaan konsonan dan vokal.
Gambar 1.1 Informasi yang disampaikan
dengan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda
yang tepat memudahkan pendengar untuk
memahami isi informasi
Sumber: Kompas, 12 Agustus 2007
Ketenagakerjaan 3
2. Tekanan
Tekanan adalah proses pemberian tekanan pada bagian kata yang dianggap
lebih penting dalam sebuah kalimat.
Contoh:
Saya akan pulang besok pagi bersama adik.
Kalimat di atas dapat diberi penekanan berbeda seperti berikut.
a. Saya akan pulang besok pagi bersama adik.
b. Saya akan pulang besok pagi bersama adik.
c. Saya akan pulang besok pagi bersama adik.
d. Saya akan pulang besok pagi bersama adik.
Contoh di atas menunjukkan bahwa kalimat (a) menekankan pada kata
saya, kalimat (b) menekankan pada kata akan pulang, kalimat (c) menekankan
pada kata besok pagi, dan kalimat (d) menekankan pada kata bersama adik.
3. Intonasi
Intonasi adalah lagu kalimat yang mencakup nada dan tekanan. Dalam
hal ini intonasi dipengaruhi oleh tinggi rendahnya nada dan keras lembutnya
tekanan pada kalimat.
Coba Anda lafalkan dua kalimat di bawah ini untuk lebih memahami
mengenai perbedaan intonasi dalam kalimat.
a. Bagaimana hasilnya? (intonasi naik)
b. Kita tidak mendapatkan hasil apa-apa. (intonasi datar)
4. Jeda
Jeda adalah perhentian sebentar dalam sebuah tuturan. Aspek jeda juga
berpengaruh pada perubahan makna dalam tuturan.
Contoh:
a. Paman ayah dan ibu baru datang dari Surabaya.
b. Paman, ayah, dan ibu baru datang dari Surabaya.
Kalimat pertama memiliki makna yang baru datang dari Surabaya adalah
paman dari ayah dan ibu. Adapun kalimat kedua memiliki makna yang baru
datang dari Surabaya adalah paman, ayah, dan ibu.
Tugas Individu
1. Simaklah pembacaan teks berikut yang akan dilakukan oleh lima teman
Anda secara bergiliran, kemudian berilah penilaian mengenai baik buruknya
penggunaan lafal, tekanan, intonasi, serta jeda pada bahasa tutur temanteman
Anda tersebut.
4 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Dari Penembakan Buruh ke Resolusi
Peringatan buruh bermula pada 5 September 1882. Parade Hari Buruh
pertama diadakan di Kota New York, AS, dengan peserta 20.000 orang
yang membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam
rekreasi.
Pada 1887, Oregon menjadi negara bagian pertama yang menjadikannya
sebagai hari libur umum. Pada 1894, Presiden Grover Cleveland menandatangani
sebuah undang-undang yang menjadikan minggu pertama bulan
September sebagai hari libur umum resmi nasional.
Kongres Pekerja Internasional pertama diselenggarakan pada September
1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan
dunia. Kongres tersebut menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja
menjadi delapan jam sehari yang sebelumnya (masih pada tahun sama)
dilakukan National Labor Union di AS.
Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades
and Labor Unions yang terinspirasi kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872
menuntut delapan jam kerja di AS dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.
Pada 1 Mei 1886, sekitar 400.000 buruh di AS berdemonstrasi besarbesaran
untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi delapan
jam sehari. Aksi itu berlangsung selama empat hari sejak 1 Mei.
Pada 4 Mei 1886, para demonstran berpawai besar-besaran. Polisi AS
kemudian menembaki para demonstran tersebut, sehingga ratusan orang
tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati. Sebelum
peristiwa 1 Mei itu, di berbagai negara juga terjadi pemogokan-pemogokan
buruh untuk menuntut perlakuan yang lebih adil dari para pemilik modal.
Pada Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris
menetapkan peristiwa di AS pada 1 Mei tersebut sebagai Hari Buruh sedunia
dan mengeluarkan resolusi.
Resolusi itu disambut hangat oleh berbagai negara. Sejak 1890, tanggal
1 Mei yang diistilahkan May Day diperingati kaum buruh di berbagai negara,
meski mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.
Indonesia pernah memperingati Hari Buruh pada masa pemerintahan
Soekarno, lalu terhenti selama pemerintahan Orde Baru. Setelah Soeharto
jatuh dan memasuki era reformasi, kelompok pekerja dari seluruh Indonesia
secara rutin berdemo pada 1 Mei.
Sumber: Jawa Pos, 4 Mei 2007
Ketenagakerjaan 5
No. Nama Penutur
2. Isikan penilaian tersebut pada kolom di bawah ini.
Aspek yang Dinilai
Lafal Tekanan Intonasi Jeda
1.
2.
3.
4.
5.
3. Bacakan hasil penilaian Anda pada akhir kegiatan, sehingga dapat menjadi
masukan bagi teman-teman yang lain.
Tugas Kelompok
1. Bentuklah siswa di kelas Anda menjadi beberapa kelompok di mana setiap
kelompok dapat terdiri atas 4 – 5 orang.
2. Berilah kode urut pada setiap kelompok, misalnya kelompok 1, kelompok 2,
dan seterusnya.
3. Selama 15 menit setiap kelompok diberi kesempatan untuk berlatih
membacakan teks yang berjudul Dari Penembakan Buruh ke Resolusi
di atas secara bersama-sama. (Setiap kelompok dapat mencari lokasi yang
tenang untuk melatihnya)
4. Latihlah kekompakan dalam kelompok Anda sehingga menjadi satu paduan
suara yang selaras ketika membacakan teks, baik pada lafal, tekanan,
intonasi, dan jedanya.
5. Setelah waktu berlatih selesai, setiap kelompok diberi kesempatan untuk
membacakan teks tersebut di depan kelas.
6. Kelompok yang lain dapat menyimak dan memberi penilaian yang objektif
pada kolom berikut.
6 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Keterangan:
Nilai 5 : Baik sekali
Nilai 4 : Baik
Nilai 3 : Cukup
Nilai 2 : Buruk
Nilai 1 : Sangat buruk
7. Pada akhir kegiatan coba Anda bacakan hasil penilaian setiap kelompok
untuk menentukan kelompok mana yang paling baik penyajiannya
berdasarkan nilai rata-rata pada setiap aspeknya.
B. Berbicara
Melafalkan Kata dengan Artikulasi yang Tepat
Apa yang dimaksud dengan artikulasi? Lalu,
mengapa artikulasi sangat penting dalam pelafalan
kata? Untuk memahaminya, terlebih dulu cobalah
untuk melafalkan nama lengkap Anda dengan
lantang. Nah, apakah Anda merasakan perbedaan
pengucapan dalam pelafalan Anda, baik dari vokal
atau konsonannya?
Artikulasi berarti produksi bunyi bahasa yang
terjadi karena gerakan alat ucap. Artikulasi
merupakan bagian dari alat ucap yang dapat
digerakkan atau digeserkan untuk menimbulkan
suara bunyi. Adapun titik artikulasi adalah bagian
alat ucap yang menjadi tujuan sentuh dari
artikulator.
1.
2.
3.
4.
5.
Kekompakan
dan
Ketepatan
Lafal
Kekompakan
dan
Ketepatan
Tekanan
Kekompakan
dan
Ketepatan
Intonasi
Kekompakan
dan
Ketepatan
Jeda
Aspek yang Dinilai
Nama
Kelompok
No.
Gambar 1.2 Seorang
pembicara membutuhkan
artikulasi yang tepat
Sumber: Seputar Indonesia, 9
Maret 2007
Ketenagakerjaan 7
Bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat ucap berdasarkan artikulator dan
titik artikulasinya adalah sebagai berikut.
1. Konsonan bilabial, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan mempertemukan
kedua bentuk bibir. Misalnya, konsonan p, b, m, w.
2. Konsonan labiodental, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan mempertemukan
gigi atas dan bibir bawah. Misalnya, konsonan f dan v.
3. Konsonan apikodental, yaitu bunyi yang terjadi dengan ujung lidah dan daerah
antargigi. Misalnya, konsonan t dan n.
4. Konsonan apiko alveolar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah sebagai
artikulator dan lengkung kaki gigi sebagai titik artikulasinya. Misalnya saja
konsonan t, d, n.
5. Konsonan pealafal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh bagian tengah lidah
dan langit-langit keras. Misalnya, konsonan c dan j.
Tugas Individu
1. Coba Anda lafalkan kata-kata pada kalimat-kalimat berikut dengan artikulasi
yang tepat.
a. Pemerintah hendaknya segera mencarikan jalan keluar sehubungan
dengan semakin meningginya angka pengangguran.
b. Profesi sebagai pembantu rumah tangga rata-rata dijalani oleh kaum
perempuan yang berpendidikan kurang tinggi.
c. Banyaknya tenaga kerja dari Indonesia yang bekerja di luar negeri secara
ilegal menimbulkan dampak yang negatif.
d. Di Indonesia masih banyak perusahaan yang membayar gaji karyawannya
di bawah ketentuan Upah Minimum Regional.
e. Hubungan antara tenaga kerja dengan perusahaan seharusnya dapat
saling menguntungkan secara ekonomi.
2. Mintalah teman-teman Anda untuk mendengarkan dan mencatat kembali
kalimat yang Anda lafalkan tersebut secara tepat pada buku tugas.
3. Jika teman-teman Anda dapat mencatatnya secara tepat kalimat yang Anda
ucapkan tersebut, berarti Anda sudah mampu melafalkan kata-kata dalam
kalimat dengan baik.
4. Kalimat-kalimat yang ada pada poin nomor 1 dapat diganti dengan kalimatkalimat
baru untuk menguji siswa-siswa yang lain.
8 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Tugas Kelompok
1. Bentuklah siswa di kelas Anda menjadi beberapa kelompok. Masing-masing
kelompok dapat terdiri atas 4 – 5 orang.
2. Anggota kelompok membacakan teks berikut ini secara bergantian dari
paragraf pertama sampai terakhir dengan memerhatikan penggunaan
artikulasi yang tepat.
Sumsel Dinilai Rawan Perdagangan Manusia
Provinsi Sumatera Selatan tergolong kawasan yang rawan terhadap
kegiatan penyelundupan calon TKI dan perdagangan perempuan-anak ke
luar negeri.
Penyebabnya, antara lain, letak geografis Sumsel yang menjadi jalur
penghubung darat paling strategis sebelum menuju kawasan pelabuhan ke
laut lepas internasional.
Penilaian ini diungkapkan Direktur Women’s Crisis Center (WCC)
Palembang, Yeni Roslaini Izi, dan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH)
Palembang, Eti Gustina.
Yeni mengatakan bahwa jumlah kasus penipuan calon tenaga kerja
Indonesia (TKI) dan perdagangan perempuan yang didampingi WCC
Palembang melonjak tajam selama dua tahun terakhir.
Eti Gustina menambahkan, Sumsel merupakan salah satu provinsi yang
rawan kegiatan penyelundupan calon TKI dan perdagangan perempuan.
Dari hasil analisis terhadap semua korban, Yeni memperkirakan Provinsi
Sumsel memiliki daerah rawan penyelundupan calon TKI dan perdagangan
perempuan, meliputi Kabupaten Ogan Komering Ilir, Lahat, dan Kota Pagar
Alam.
Yeni mengajak seluruh masyarakat agar waspada dan mengenali
sejumlah indikator awal dari kegiatan penyelundupan calon TKI dan perdagangan
perempuan ini. Dijelaskan, dua hal terpenting adalah pembebasan
biaya (gratis) membuat paspor/identitas lainnya dan iming-iming memberikan
gaji besar.
Menurut dia, ujung tombak pemberantasan penyelundupan TKI dan
perempuan justru ada di tangan perangkat desa, khususnya kepala desa
atau lurah. Alasannya, pemerintah desa merupakan lembaga yang pertama
kali didatangi untuk proses pengurusan kartu tanda penduduk.
Sumber: Kompas, 31 Maret 2008 (Diambil seperlunya)
3. Kelompok lain dapat memberikan penilaian mengenai ketepatan
penggunaan artikulasi dari kelompok yang sedang membacakan teks dengan
cara memberi tanda (√) dalam kolom berikut.
Ketenagakerjaan 9
C. Membaca
Membaca Cepat Suatu Teks
Di zaman sekarang, kebutuhan membaca teks dengan cepat sangat dibutuhkan
oleh masyarakat, termasuk Anda. Semakin banyaknya informasi yang hadir di
tengah-tengah masyarakat menyebabkan tidak semua informasi tersebut dapat
diserap apabila kita tidak mencari jalan keluar untuk mengatasinya.
Oleh karena itu, teknik membaca cepat perlu Anda pelajari sedini mungkin
sehingga dapat menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Dengan kata lain, teknik
membaca cepat merupakan cara termudah untuk mendapatkan beragam informasi
yang kita butuhkan.
Anda dapat melakukan metode berikut agar dapat membaca cepat suatu teks
dengan lancar.
1. Siapkan teks yang akan dibaca.
2. Mulailah membaca dalam hati ketika guru memberi tanda ketukan pertama
sebagai awal satu menit pertama.
3. Baca dengan kecepatan yang tinggi.
4. Setelah satu menit, guru akan memberi tanda. Berhentilah membaca dan
berikan tanda dalam bacaan batas akhir yang Anda baca.
5. Guru memberi tanda ketukan kedua sebagai awal satu menit yang kedua.
6. Teruskan sampai naskah selesai dibaca.
7. Setelah selesai membaca, hitunglah jumlah kata yang sudah berhasil dibaca
dari menit pertama dan seterusnya.
8. Rata-rata hasil pembacaan menunjukkan kecepatan membaca Anda.
Di samping itu, Anda perlu mengetahui ada kalanya seseorang tidak dapat
membaca cepat suatu teks dengan lancar. Kasus tersebut dapat disebabkan oleh
beberapa faktor seperti:
No. Nama Kelompok
Ketepatan Penggunaan Artikulasi
Baik Kurang Baik
10 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
1. membaca kata demi kata atau terpatah-patah;
2. mengulang kata atau kalimat yang telah dibaca;
3. berhenti lama di awal baris;
4. kritis terhadap kata kunci;
5. membaca dengan bergumam.
Tugas Individu
1. Bacalah teks berikut dengan cara membaca cepat dan gunakan metode yang
telah Anda pelajari.
Problem Buruh yang Tak Kunjung Tuntas
Advokasi Buruh Masih Setengah Hati
Problem buruh di Indonesia memang tak pernah tuntas. Menurut data
Badan Pusat Statistik, penduduk usia kerja di Indonesia mencapai 160 juta
jiwa. Di antara jumlah sebanyak itu, yang benar-benar bekerja hanya 95,18
juta jiwa. Jumlah yang tidak sebanding.
Menurut Koordinator Aliansi Buruh Menggugat (ABM), Anwar Sastro
Ma’ruf, problem utama pekerja saat ini adalah tindakan pemerintah yang
sangat protektif pada pihak pengusaha.
Ketua Divisi Kajian dan Kampanye Perhimpunan Bantuan Hukum dan
Hak Asasi Manusia (PBHI), Gunawan, menambahkan, sikap pemerintah
yang mendukung pengesahan UU Penanaman Modal menjadi ganjalan baru
bagi kaum pekerja. Sebab, dalam salah satu pasal, diperbolehkan adanya
pengalihan modal tanpa melibatkan serikat pekerja. Menurut dia, hal itu
membuat kaum buruh rawan terkena pemutusan hubungan kerja secara
massal.
Selain itu, kata Gunawan, penetapan upah minimum (UMP) harus
berdasar kesepakatan bipartit. Selama ini, penetapan UMP berdasar survei
kebutuhan hidup yang dilakukan Dewan Pengupahan Daerah (DPD/K) yang
terdiri atas unsur pengusaha, buruh, pemerintah, serta akademisi. Karena
itu, UMP pun terus naik dari tahun ke tahun sejalan dengan perkembangan
harga-harga. Namun, karena UMP naik untuk mengikuti kenaikan biaya
hidup, kesejahteraan buruh dinilai tidak membaik.
Sementara itu, hasil-hasil penelitian menunjukkan, kenaikan upah
minimum akan menambah pengangguran. Sebab, UMP baru akan
mendorong pekerja lama menuntut kenaikan upah. Di negara surplus tenaga
kerja seperti Indonesia, teori Philips (upah naik mengurangi pengangguran)
Ketenagakerjaan 11
tak berlaku. Berbagai faktor itulah yang menyebabkan para buruh
melakukan demonstrasi, baik dengan turun ke jalan ataupun mogok kerja.
Menurut data resmi dari situs Depnaker, pada 2005, jumlah mogok
tercatat 174 kasus dan pada 2006 turun menjadi 112 kasus. Sejalan dengan
penurunan aksi mogok, jumlah jam kerja yang hilang juga menurun tajam.
Yakni, dari 1,1 juta jam menjadi 497 ribu jam.
Beberapa indikator tersebut menunjukkan masalah buruh-pengusaha
sebenarnya bisa diatasi. Lantas, mengapa kedua pihak tidak bisa berdialog
secara bipartit atau tripartit? Mungkin pengusaha dan pekerja sama-sama
kehilangan trust culture atau budaya saling percaya.
Sumber: Jawa Pos, 4 Mei 2007 (Dengan pengubahan seperlunya)
2. Setelah menghitung rata-rata hasil pembacaan Anda, bandingkan hasilnya
dengan teman-teman yang lain.
Tugas Kelompok
1. Siapkan diri Anda untuk berlomba membaca cepat dengan teman sebangku.
Anda dapat menggunakan materi bacaan berjudul Problem Buruh yang
Tak Kunjung Tuntas di atas.
2. Sebagai isyarat dimulainya lomba, Anda atau teman sebangku dapat
mengetuk meja dan mulailah membaca dengan kecepatan tinggi.
3. Jika sudah selesai, bandingkan catatan waktu baca Anda dengan teman
sebangku.
4. Tugas ini memerlukan kejujuran Anda dalam pelaksanaannya.
D. Menulis
Mengenal Kategori/Kelas Kata
Pemahaman mengenai kelas kata merupakan salah satu dasar untuk dapat
menulis dengan baik dan benar. Anda tentu sering menemukan penulisan kalimat
yang salah dalam kehidupan sehari-hari. Kesalahan dalam penulisan tersebut
dapat menimbulkan ketidaknyamanan atau bahkan ketidakmengertian bagi
pembacanya.
Sebagai siswa yang berpendidikan, Anda diwajibkan untuk menghindari
kesalahan semacam itu. Salah satu caranya adalah Anda harus memelajari kelas
kata dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
12 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Kelas kata dalam bahasa Indonesia, antara lain, sebagai berikut.
1. Verba (Kata Kerja)
Secara umum, verba dapat diidentifikasi dan dibedakan dari kelas kata
yang lain karena memiliki ciri-ciri berikut.
a. Verba berfungsi sebagai predikat/inti predikat dalam kalimat.
b. Verba mengandung makna dasar perbuatan, proses, atau keadaan yang
bukan sifat.
c. Verba yang bermakna keadaan tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti
paling. Verba seperti mati atau suka, misalnya, tidak dapat diubah menjadi
termati atau tersuka.
d. Pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang
menyatakan makna kesangatan. Tidak ada bentuk seperti agak belajar,
sangat pergi, dan bekerja sekali, meskipun ada bentuk seperti sangat
berbahaya, agak mengecewakan, dan mengharapkan sekali.
Contoh:
a. Pencuri itu lari.
b. Mereka sedang belajar di kamar.
c. Bom itu seharusnya tidak meledak.
d. Orang asing itu tidak akan suka masakan Indonesia.
Bagian yang dicetak miring pada kalimat-kalimat di atas adalah predikat,
yaitu bagian yang menjadi pengikat bagian lain dari kalimat itu. Dalam sedang
belajar, tidak meledak, dan tidak akan suka, verba belajar, meledak, dan
suka berfungsi sebagai inti predikat.
2. Adjektiva (Kata Sifat)
Adjektiva adalah kata sifat atau keadaan yang dipakai untuk
mengungkapkan kata sifat atau keadaan orang, benda, atau binatang. Ciriciri
adjektiva, antara lain, sebagai berikut.
a. Adjektiva dapat diberi keterangan pembanding, seperti lebih, kurang,
paling.
b. Adjektiva dapat diberi keterangan penguat, seperti sangat, amat, terlalu.
c. Adjektiva dapat diingkari dengan kata tidak, seperti tidak bodoh, tidak
benar.
d. Adjektiva dapat diulang dengan awalan se-, seperti sejelek-jeleknya.
e. Adjektiva berakhir dengan akhiran tertentu, seperti duniawi, negatif.
3. Nomina, Pronomina, dan Numeralia (Kata Benda, Kata Ganti, dan
Kata Bilangan)
a. Nomina
Ciri-cirinya:
1) sebagai subjek dalam kalimat yang predikatnya verba,
2) dapat diingkari dengan kata tidak,
3) dapat diikuti adjektiva.
Ketenagakerjaan 13
b. Pronomina
Pronomina merupakan kata yang dipakai untuk mengacu pada nomina
lain. Jenis-jenis pronomina adalah
1) pronomina persona, seperti saya, engkau, dia, mereka, -nya;
2) pronomina penunjuk, seperti ini, itu, sini, situ, sana;
3) pronomina penanya, seperti apa, siapa, mana.
c. Numeralia
Numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya
maujud (orang, binatang, barang, dan konsep). Jenis-jenis numeralia
adalah
1) numeralia pokok, seperti dua, empat, delapan;
2) numeralia pecahan, seperti seperdua, separuh, sebelah;
3) numeralia tingkat, seperti kesatu, kesepuluh.
4. Adverbia (Kata Keterangan)
Adverbia dalam bahasa Indonesia diklasifikasikan dengan
mempertimbangkan bentuk, sintaksis, dan makna.
a. Bentuk adverbia
Kelompok 1 : sangat, hanya, lebih, segera
Kelompok 2 : diam-diam, lekas-lekas, sedalam-dalamnya, sekuatkuatnya,
agaknya, habis-habisan, sebaiknya,
sesungguhnya
b. Sintaksis adverbia
Kelompok 1 : lebih tinggi, sangat indah
Kelompok 2 : jelek benar, marah sekali
Kelompok 3 : lekas-lekas pulang
Kelompok 4 : tinggi sekali, agak cantik
Kelompok 5 : tiba-tiba sekali, kurang serempak
Kelompok 6 : hanya petani, cuma kamu
Secara umum adverbia memiliki makna agak, kurang, sering, dan selalu.
5. Kata Tugas
Jenis-jenis kata tugas adalah sebagai berikut.
a. Preposisi, seperti bagi, untuk, guna, dari, dengan.
b. Konjungsi, seperti dan, atau, tetapi, agar, supaya.
c. Interjeksi, seperti aduhai, astaghfirullah, syukur.
d. Artikel, seperti sang, sri, hang, dang.
e. Partikel, seperti kah, lah.
14 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Tugas Individu
1. Coba Anda kelompokkan kata-kata dalam teks berikut sesuai dengan kelas
katanya.
Eksploitasi Pelajar Berkedok Praktik Kerja
Kisah tragis tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Malaysia sudah
semakin nyata. Setiap harinya, KBRI Malaysia mendapat laporan tiga hingga
empat kasus yang menimpa WNI.
Sejumlah kasus di antaranya gaji yang tidak dibayar majikan atau agensi,
diperlakukan secara tidak manusiawi, penganiayaan, pelecehan seksual atau
perkosaan, dipekerjakan di tempat maksiat atau dijadikan penjaja seks
komersial, serta kondisi tempat dan jam kerja yang tidak manusiawi.
Selain itu, KBRI juga menemukan kasus eksploitasi pelajar Indonesia
berkedok program praktik kerja industri. Yang mengenaskan, program
tersebut ditawarkan secara resmi di berbagai media di Indonesia. Faktanya,
mereka dipekerjakan di kedai-kedai kopi di Malaysia.
Kuasa Usaha Ad Interim/Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia, Tatang
Razak, mengemukakan, pada 2007 lalu, 763 orang TKW meminta
perlindungan ke KBRI Kuala Lumpur. Jumlah TKW yang ditampung saat
itu sebanyak 171 orang, termasuk 10 bayi.
Satuan Tugas (Satgas) Pelayanan dan Perlindungan WNI yang
melakukan investigasi ke berbagai penjara di Malaysia, juga menemukan
WNI yang terancam hukuman mati sebanyak 328 orang. Sementara kasus
yang menimpa TKW dan masih dalam proses hukum sebanyak 19 kasus.
Eka A. Suripto, koordinator bidang Penerangan Humas KBRI, Kuala
Lumpur, menjelaskan, saat ini upaya perlindungan terhadap WNI di
Malaysia relatif lebih baik.
Selain memperbaiki fasilitas publik di KBRI, Satgas Pelayanan dan
Perlindungan WNI juga melaksanakan gapaian ke kantong-kantong TKI di
berbagai daerah di Malaysia. Selain itu, KBRI membuka layanan SMS
sehingga banyak warga Indonesia yang bermasalah bisa langsung memberikan
informasi.
Sumber: Seputar Indonesia, 16 Februari 2008 (Diambil seperlunya)
Ketenagakerjaan 15
2. Bandingkan hasil kerja Anda dengan teman-teman yang lain.
3. Mintalah guru untuk mengevaluasi hasil kerja Anda.
Tugas Kelompok
1. Bentuklah kelas Anda menjadi beberapa kelompok di mana setiap kelompok
beranggotakan 4 – 5 orang.
2. Setiap kelompok mencari berbagai referensi yang membahas mengenai kelas
kata dalam bahasa Indonesia.
3. Tulislah serinci mungkin materi mengenai kelas kata tersebut pada kertas
khusus (dapat ditulis tangan atau ketik komputer).
4. Kumpulkan hasilnya kepada guru Anda agar dapat diberi penilaian.
Rangkuman
1. Lafal, tekanan, intonasi, dan jeda memegang peranan penting dalam bahasa
tutur atau bahasa lisan. Ketidaktepatan dalam penggunaannya akan
mengakibatkan isi tuturan tidak dapat dimengerti oleh pendengarnya dengan
jelas.
2. Pelafalan kata dengan artikulasi yang tidak tepat akan menyebabkan kata
yang diucapkan tidak dapat didengar orang lain dengan jelas dan tepat.
3. Teknik membaca cepat merupakan cara termudah dan efektif untuk mendapatkan
beragam informasi yang dibutuhkan.
4. Kelas kata dalam bahasa Indonesia meliputi verba; adjektiva; nomina,
pronomina, dan numeralia; adverbia; dan kata tugas.
Nomina,
Pronomina,
dan
Numeralia
Verba Adjektiva Adverbia Kata Tugas
16 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Latihan
A. Pilihlah jawaban yang paling benar!
1. Tekanan yang menyatakan tinggi rendahnya suara disebut ….
a. lafal c. intonasi e. jeda
b. diksi d. tekanan
2. Pengucapan kata atau kalimat harus jelas dan tepat sehingga tidak
menimbulkan salah tangkap bagi pendengar. Proses pengucapan seperti ini
dikenal dengan istilah ….
a. jeda c. diksi e. intonasi
b. tekanan d. lafal
3. Kita seharusnya menghargai profesi para tenaga kerja wanita karena mereka
turut menyumbangkan pemasukan devisa negara yang tidak sedikit.
Jeda atau hentian sejenak paling tepat pada kalimat di atas dilakukan setelah
kata ….
a. wanita c. profesi e. kita
b. karena d. negara
4. Kata ”kami” harus dilafalkan secara tepat dan jelas, baik huruf vokal maupun
konsonannya, sehingga pendengar dapat mendengar kata tersebut dengan
jelas. Ketepatan dan kejelasan dalam pelafalan seperti itu disebut ….
a. artikulasi c. diksi e. apersepsi
b. intonasi d. refleksi
5. Teknik membaca paling efektif untuk menyerap informasi sebanyakbanyaknya
adalah dengan cara membaca ….
a. sekilas c. memindai e. meloncat-loncat
b. cepat d. dalam hati
6. Berikut yang tidak termasuk kelas kata dalam Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia adalah ….
a. kata seru dan kata tugas d. kata sifat dan kata keterangan
b. kata benda dan kata ganti e. kata ganti dan kata bilangan
c. kata tanya dan kata seru
7. (1) sebagai subjek dalam kalimat yang predikatnya verba,
(2) dapat diingkari dengan kata tidak,
(3) dapat diikuti adjektiva.
Pernyataan-pertanyaan di atas merupakan ciri-ciri dari ….
a. numeralia c. verba e. adverbia
b. nomina d. adjektiva
Ketenagakerjaan 17
Sekilas Pengetahuan Bahasa
Dalam pembentukan bunyi bahasa ada tiga faktor utama yang terlibat, yakni
sumber tenaga, alat ucap yang menimbulkan getaran, dan rongga penyebab
getaran. Proses pembentukan bunyi bahasa dimulai dengan memanfaatkan
pernapasan sebagai sumber tenaganya. Pada saat kita mengeluarkan napas, paruparu
kita mengembuskan tenaga yang berupa napas, paru-paru kita mengembuskan
tenaga yang berupa arus udara. Arus udara itu dapat mengalami perubahan
pada pita suara yang terletak pada pangkal tenggorokan atau laring. Arus udara
dari paru-paru itu dapat membuka kedua pita suara yang merapat sehingga
menghasilkan ciri-ciri bunyi tertentu. Gerakan membuka dan menutup pita suara
itu menyebabkan udara di sekitar pita suara itu bergetar. Perubahan bentuk saluran
suara yang terdiri atas rongga laring, rongga mulut, dan rongga hidung
menghasilkan bunyi bahasa yang berbeda-beda. Udara dari paru-paru dapat keluar
melalui rongga mulut, rongga hidung, atau lewat rongga mulut dan hidung
sekaligus. Bunyi bahasa yang arus udaranya keluar melalui mulut disebut bunyi
oral, bunyi bahasa yang arus udaranya keluar dari hidung disebut bunyi sengau
8. Kata tugas seperti dan, atau, tetapi, agar, supaya memiliki fungsi
sebagai ….
a. preposisi c. artikel e. konjungsi
b. partikel d. interjeksi
9. Makna yang berupa agak, kurang, sering, dan selalu dimiliki oleh ….
a. verba c. adjektiva e. numeralia
b. adverbia d. nomina
10. Kata-kata seperti saya, engkau, dia, mereka, -nya merupakan jenis
pronomina ….
a. penanya c. penyerta e. pendamping
b. penunjuk d. persona
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Jelaskan pengertian mengenai lafal, intonasi, tekanan, dan jeda!
2. Mengapa artikulasi sangat dibutuhkan dalam pelafalan suatu kata?
3. Sebutkan beberapa faktor yang menyebabkan seseorang tidak dapat membaca
cepat dengan lancar!
4. Sebutkan ciri-ciri yang terdapat pada adjektiva!
5. Sebutkan ciri-ciri verba!
18 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
atau bunyi nasal. Bunyi bahasa yang arus udaranya sebagian keluar melalui mulut
dan sebagian keluar melalui hidung disebut bunyi yang disengaukan atau
dinasalisasi.
Setelah melewati rongga faring, arus udara mengalir ke bagian atas
tenggorokan. Jika yang kita kehendaki adalah bunyi oral, tulang rawan yang
dinamakan anak tekak atau uvula akan menutup saluran ke rongga hidung.
Dengan demikian, bunyi tersebut akan keluar melalui rongga mulut. Jika yang
kita kehendaki bunyi nasal, uvula diturunkan sehingga udara keluar melalui
rongga hidung. Contoh bunyi bahasa yang udaranya melewati rongga mulut
adalah [p], [g], dan [f], sedangkan bunyi yang udaranya melewati rongga hidung
adalah [m], [n], [ñ], dan [ ].
Macam bunyi bahasa yang kita hasilkan juga dipengaruhi oleh ada tidaknya
hambatan dalam proses pembuatannya. Pada bunyi seperti [a], [u], dan [i], udara
mengalir melewati rongga mulut tanpa hambatan oleh alat ucap apa pun.
Sebaliknya, pada bunyi seperti [p] udara dihambat oleh dua bibir yang terkatup,
dan pada bunyi [t] udara dihambat oleh ujung lidah yang bersentuhan dengan
gusi atas.
Perhatikan bagan alat ucap berikut.
Keterangan:
1. Bibir atas (labium) 12. Tengah lidah
2. Bibir bawah (labium) 13. Belakang lidah
3. Gigi atas (dentes) 14. Akar lidah
4. Gigi bawah (dentes) 15. Faring
5. Gusi (alveolum) 16. Rongga mulut
6. Langit-langit keras (palatum) 17. Rongga hidung
7. Langit-langit lunak (velum) 18. Epiglotis
8. Anak tekak (uvula) 19. Pita suara
9. Ujung lidah 20. Pangkal tenggorokan (laring)
10. Daun lidah 21. Trakea
11. Depan lidah
Sumber: Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Balai Pustaka 2003
Teknologi Komunikasi 19
Tema
2
TEKNOLOGI
KOMUNIKASI
Sumber: Seputar Indonesia, 13 Februari 2008
Tujuan Pembelajaran:
1. Memahami lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang lazim/baku dan yang tidak.
2. Memahami lafal baku dan tidak baku.
3. Membaca cepat untuk memahami informasi tertulis.
4. Membedakan antara fakta dan pendapat dalam teks.
5. Memilih kata, bentuk kata, dan ungkapan yang tepat.
20 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Pendahuluan
Pada pertemuan ini Anda akan memelajari empat aspek kemampuan berbahasa,
yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada aspek mendengarkan,
Anda akan diajak memahami lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang lazim/baku dan
yang tidak. Pada aspek berbicara, Anda akan memelajari cara memahami lafal baku
dan tidak baku. Bagaimana cara membaca cepat suatu teks untuk memahami informasi
tertulis serta membedakan antara fakta dan opini dapat Anda temui pada aspek
membaca. Adapun pada aspek terakhir, yaitu menulis, Anda diajak untuk belajar memilih
kata, bentuk kata, dan ungkapan yang tepat.
Setiap aspek di atas akan dilengkapi dengan tugas, berupa tugas individu atau
kelompok, untuk merangsang dan memotivasi Anda berpikir kreatif dalam memahami
uraian materi. Selain itu, pada akhir bab Anda akan menemui rangkuman dan pelatihan.
Rangkuman berguna untuk mengingatkan Anda kembali mengenai isi materi yang
telah dipelajari. Adapun pelatihan akan membantu mengukur sejauh mana pemahaman
materi yang telah Anda capai dengan cara mengerjakan soal-soal.
A. Mendengarkan
Memahami Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda yang
Lazim/Baku dan yang Tidak
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menerima informasi, baik tertulis
maupun lisan. Ketika kita menerima informasi tersebut, kadangkala kita mengalami
kesulitan dalam menerima dan memahami isinya. Apalagi jika informasi tersebut
dalam bentuk lisan. Hal ini disebabkan karena ketidakjelasan lafal, tekanan, intonasi,
dan jeda dari si pemberi informasi lisan tersebut. Untuk itu kita dituntut memelajari
bagaimana memahami lafal, tekanan, intonasi, maupun jeda yang tepat agar tidak
terjadi kasus serupa. Metode yang paling tepat untuk memelajari hal-hal tersebut
adalah dengan mencoba berulang-ulang membaca secara lisan dan menyimak
bacaan tersebut. Jadi, ada dua pihak yang berperan di sini untuk memperbaiki
pemahaman lafal, tekanan, intonasi, maupun jeda, yaitu antara si pembaca (pemberi
informasi, khususnya lisan) dengan si penyimak.
Tugas Individu
1. Tentukan salah seorang di antara Anda untuk membacakan teks berikut
dengan menggunakan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang tepat.
PesonaEdu, ”Software” Pendidikan
Indonesia kerap dipandang sebelah mata saat dikaitkan dengan kemajuan
pendidikan dan teknologi informasi. Tak heran jika seri perangkat lunak
Teknologi Komunikasi 21
pendidikan PesonaEdu, yang terdiri atas Pesona Fisika dan Pesona Matematika,
yang sudah menyebar hingga ke-23 negara itu awalnya diragukan
murni buatan Indonesia.
Perangkat lunak (software) Pesona Fisika dan Pesona Matematika,
atau versi Inggrisnya, Amazing Phyisics dan Amazing Mathematics, adalah
karya ahli perangkat lunak, ahli pendidikan, hingga ilustrator dan animator
Indonesia. Perjalanan terciptanya perangkat lunak pendidikan yang sesuai
kurikulum hingga memudahkan pembelajaran Fisika dan Matematika di
sekolah itu dimulai tahun 1986.
Perangkat lunak PesonaEdu berawal dari mimpi Bambang Yuwono dan
Hary Sudiyono, suatu saat dunia pendidikan di Indonesia menjadi maju dengan
memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi. Perangkat lunak
PesonaEdu tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK hadir karena cinta kepada
pendidikan dan teknologi informasi.
Semasa kuliah, keduanya senang berkegiatan sosial, semisal memberikan
les atau pendampingan belajar buat anak di panti asuhan dan anak tunanetra
di Yayasan Wyata Guna, Bandung. Setelah lulus dan bergelut dengan
pekerjaan sebagai kontraktor, bidang pendidikan itu kembali memanggil. Ini
menyatukan keduanya lewat perusahaan PT Kreasi Inti Dinamika (sekarang
menjadi PT Pesona Edukasi). Untuk ahli teknologi informasi ada Suyanto,
lulusan elektro dari Taiwan.
Dari awal, pengembangan perangkat lunak yang dilakukan perusahaan
ini berdasarkan riset dengan melibatkan pakar pendidikan. Berbagai
perangkat lunak awalnya dibuat untuk membantu siswa SD, seperti belajar
berhitung, pembagian, perkalian, peta Indonesia, dan kidspell.
Pada 2001 mereka berkeyakinan, penggunaan seri software pendidikan
yang sesuai kurikulum merupakan kebutuhan mendesak bagi guru. Ini demi
meningkatkan mutu pengajaran. Tahun itu dimulai penerbitan seri perangkat
lunak Fisika untuk SMP dan SMA, dilanjutkan Pesona Matematika tahun
2003.
Kekuatan animasi, penjelasan yang mudah dicerna, dan latihan soal yang
interaktif dan terkadang lucu menjadi kekuatan software Pesona Fisika dan
Matematika.
Menurut Hary, software ini awalnya untuk mendukung pendidikan di
dalam negeri, tetapi pemakaiannya belum meluas. Tak adanya dukungan
Departemen Pendidikan Nasional sempat membuat Bambang dan Hary
kecewa. Untuk menciptakan perangkat lunak ini, penelitian hingga
pemasaran murni dilakukan perusahaan, menggandeng pakar pendidikan
yang mampu membuat skrip pelajaran Fisika dan Matematika.
22 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
”Di Singapura, swasta yang melakukan penelitian mendapat dukungan
dana pemerintah. Di Malaysia, perusahaan yang menghasilkan produk bagus
didukung pemerintahnya supaya bisa ekspor,” katanya.
”Kalau tak ada Merah Putih di dada kami, bisa saja hak cipta software
ini dijual ke negara lain. Malaysia sudah menawar tinggi, tapi kami tidak
melepas. Kami ingin software ini bisa mendunia dengan nama Indonesia,”
kata Bambang, Managing Director.
Di Indonesia tercatat 2.000 sekolah memakai perangkat lunak ini. Pada
masa awal harga jualnya Rp60 juta per paket, sekarang turun menjadi Rp12
juta. Software ini juga dipakai setidaknya di 23 negara, di antaranya
Singapura, Thailand, Vietnam, AS, Polandia, Kanada, Jepang, Belanda,
Australia, Perancis, Mesir, Ghana, China, Korea, India, dan Yunani. Pengguna
sofware PesonaEdu di luar negeri menyewa sebesar 250 dollar AS setahun
per paket.
Sukses membawa perangkat lunak ini mendunia membuat mereka berani
bermimpi Indonesia menjadi pusat software pendidikan dunia. ”Pasarnya
sudah terbuka. Setiap presentasi kami ditanya mana Biologi dan Kimia.
Peluang ini perlu didukung pemerintah dan kerja sama pengembang software
lain,” katanya.
Sumber: Kompas, 31 Maret 2008 (Diambil seperlunya)
2. Teman yang lain menyimak dan mencatat informasi penting yang terdapat
pada teks tersebut.
3. Bandingkan hasil catatan Anda dengan teman yang lain. Jika terdapat
perbedaan yang sangat mencolok mengenai hasil pencatatan informasi yang
didapat, berarti penggunaan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda pada pembacaan
belumlah tepat.
4. Ulangi kembali langkah pada nomor 1 dan 2 untuk mendapatkan hasil yang
lebih baik. Pembaca teks dapat dilakukan secara bergantian oleh teman
yang lain.
B. Berbicara
Memahami Lafal Baku dan Tidak Baku
Ada dua bentuk pelafalan dalam bahasa kita, yaitu menggunakan lafal baku
dan tidak baku. Kedua bentuk pelafalan ini dipergunakan dalam situasi yang
berbeda. Pelafalan baku lebih tepat digunakan pada situasi-situasi resmi, baik
lisan maupun tertulis, misalnya seminar, diskusi, wawancara lamaran pekerjaan,
penulisan artikel ilmiah, dan sebagainya. Adapun untuk pelafalan tidak baku dapat
Teknologi Komunikasi 23
dipergunakan saat situasi
tidak resmi, misalnya,
ketika berbicara dengan
teman atau menulis surat
kepada sahabat pena. Apabila
penggunaan kedua
pelafalan tersebut tidak
dilakukan pada situasi
yang sesuai, maka akan
terjadi kejanggalan dalam
berkomunikasi.
Berikut beberapa ciri pelafalan baku.
1. Tidak dipengaruhi bahasa daerah.
Contoh:
Baku Tidak Baku
saya gue
ibu nyokap
dilihat dilihatin
bertemu ketemu
2. Tidak dipengaruhi bahasa asing.
Contoh:
Baku Tidak Baku
kesempatan lain lain kesempatan
kantor tempat kantor di mana
3. Bukan merupakan ragam percakapan.
Contoh:
Baku Tidak Baku
dengan sama
mengapa ngapa
memberi kasih
tidak nggak
tetapi tapi
Gambar 2.1 Dalam forum-forum resmi sebaiknya kita
menggunakan pelafalan yang baku
Sumber: Kompas, 29 Juli 2007
24 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
4. Pemakaian imbuhan secara eksplisit.
Contoh:
Baku Tidak Baku
ayah bekerja keras ayah kerja keras
ia menendang musuhnya ia tendang musuhnya
5. Pemakaian yang sesuai dengan konteks kalimat.
Contoh:
Baku Tidak Baku
suka akan suka dengan
disebabkan oleh disebabkan karena
lebih besar daripada lebih besar dari
6. Tidak rancu (tidak terkontaminasi).
Contoh:
Baku Tidak Baku
berkali-kali berulang kali
mengesampingkan mengenyampingkan
7. Tidak mengandung pleonasme.
Contoh:
Baku Tidak Baku
para tamu para tamu-tamu
hadirin para hadirin
pada zaman dahulu pada zaman dahulu kala
maju maju ke depan
banyak sarjana banyak sarjana-sarjana
8. Tidak mengandung hiperkorek.
Contoh:
Baku Tidak Baku
insaf insyaf
sah syah
syukur sukur
Teknologi Komunikasi 25
Tugas Individu
1. Coba Anda baca dan cermati teks di bawah ini, apakah penggunaan lafalnya
sudah sesuai dengan pelafalan yang baku.
Operator Bersaing
Churn Kian Marak
Pernahkah Anda berpindah operator kartu prabayar? Bila pernah, berarti
Anda telah melakukan churn atau perpindahan dari satu operator ke
operator lain. Tidak salah memang, tapi churn membuat statistik pengguna
prabayar tidak akurat lagi.
Bila sebuah operator mengklaim memiliki 40 juta pelanggan prabayar,
itu bukanlah angka riil karena sebagian dari pelanggan diduga melakukan
churn.
Menurut Par Karlsson, Regional Manager Consumer and Enterprise
Lab Ericsson Swedia, porsi pengguna yang sering melakukan churn
mayoritas adalah konsumen muda yang gemar bereksplorasi dan sebagian
kalangan terdidik.
Di Indonesia, perilaku semacam itu banyak dilakukan kalangan pelajar.
Bagi mereka ponsel belumlah menjadi kebutuhan vital, lebih sering digunakan
untuk berkirim salam atau bertukar cerita-cerita remeh dan sepele antarteman.
Pemilihan kartu prabayar pun lebih sering berdasar kesepakatan
komunitas. Kalau seorang teman menggunakan kartu X, maka teman-teman
lainnya juga menggunakan kartu yang sama.
Pada sisi lain, remaja juga gampang terbujuk promosi. Bila sebuah
operator mempromosikan kartu prabayar dengan berbagai keunggulannya,
maka remaja akan berpaling untuk menggunakan kartu tersebut.
Bagi yang gemar bicara, akan memilih kartu yang sedang menerapkan
tarif bicara murah. Begitu pula yang gemar berkirim SMS, akan mencari
kartu dengan tarif SMS termurah, meskipun mereka tahu tarif murah tersebut
hanya berlaku selama promosi.
Ditengarai tindakan churn selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini
dipicu oleh persaingan antaroperator yang kian ketat dan sengit. Pengguna
selular semakin mendapatkan banyak pilihan, mulai tarif termurah hingga
berbagai bonus dan hadiah yang terkesan jor-joran. Seringkali persaingan
itu membuat masyarakat terhenyak.
Betapa tidak, tarif bicara yang semula terhitung mahal, kini bisa sangat
murah. Bila dulu tarif bicara Rp2.000/menit, kini hanya Rp100/menit bahkan
26 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
ada yang berani lebih murah lagi. Apakah operator melakukan subsidi? Berapa
keuntungan operator? Ah, itu bukan urusan pelanggan.
Harga kartu perdana yang semakin murah juga menggoda masyarakat
untuk melakukan churn. Selain murah, perdana juga menawarkan berbagai
bonus, yang bila dihitung-hitung jauh lebih murah daripada mengisi ulang
pulsa.
Misalnya, Anda mengisi ulang pulsa sebesar Rp10.000 dengan harga
Rp11.000, Anda hanya menerima pulsa saja. Tetapi bila membeli perdana
seharga Rp10.000, anda akan menerima pulsa, bonus SMS, bicara gratis,
serta bonus lainnya yang bila dihitung nilainya lebih dari Rp20.000.
Menguntungkan, bukan?
Tak heran bila banyak pengguna prabayar lebih suka membeli perdana
daripada mengisi ulang pulsa. Beli, pakai, habis, buang! Akibatnya banyak
nomor ”mati”. Masalahnya, nomor kartu perdana ”habis-buang” itu sudah
didaftarkan operator sebagai pelanggan baru. Jadi kalau misalnya dalam
satu bulan seorang pelanggan berganti nomor sebanyak 4 kali, maka operator
mencatat telah mendapatkan 4 pelanggan.
Diperkirakan dari seluruh kartu perdana prabayar yang dijual semua
operator saat ini, hanya 15 – 20 persen saja yang bertahan menjadi pelanggan.
Sisanya hangus namun tetap dihitung sebagai pelanggan oleh operator yang
bersangkutan.
Tetapi bagi operator, hal itu tidak masalah. ”Churn tidak akan banyak
berpengaruh ke pendapatan bila penjualan kartu perdana juga naik,” ungkap
Erik Meijer, praktisi selular yang juga suami artis Maudy Koesnaedi.
Beberapa kalangan menilai bahwa tindakan ”mengobral” kartu perdana
adalah usaha untuk mempercepat ”balik modal” bagi para pemilik sahamnya.
Yang penting kartu perdana cepat laku, persoalan berapa jumlah pelanggan
mereka, bisa diutak-utiklah.
Sumber: Suara Merdeka, 9 September 2007 (Diambil seperlunya)
2. Tunjukkan bukti yang mendukung hasil pengamatan Anda dengan
menuliskannya pada buku tugas.
3. Bacakan hasil pengamatan Anda secara lisan dan mintalah teman yang lain
untuk menanggapi.
Tugas Kelompok
1. Bentuklah siswa di kelas Anda menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok
mencari satu buah naskah drama untuk dianalisis.
Teknologi Komunikasi 27
2. Bagaimana menurut kelompok Anda mengenai penggunaan ragam bahasa
dalam naskah drama tersebut? Coba diskusikan dengan kelompok Anda
mengenai alasan penulis naskah drama tersebut memilih ragam bahasa (baku/
tidak baku) yang digunakan dalam dialog-dialognya.
3. Buatlah laporan mengenai hasil diskusi kelompok Anda.
4. Kumpulkan hasil kerja kelompok Anda kepada guru untuk diberi penilaian.
C. Membaca
1. Membaca Cepat untuk Memahami Informasi
Tertulis
Apakah Anda menyadari
bahwa kegiatan membaca belum
menjadi budaya di kalangan
masyarakat kita? Ya, masyarakat
kita ternyata cenderung lebih
menyukai budaya mendengar dan
melihat daripada budaya membaca.
Salah satu alasan klise yang
sering diungkapkan oleh masyarakat
adalah mereka tidak memiliki
cukup waktu untuk membaca.
Ironisnya, masyarakat memiliki
banyak waktu untuk mendengar
dan melihat (radio dan televisi).
Pada situasi inilah teknik membaca cepat sangat dibutuhkan untuk
mengatasi permasalahan seperti di atas. Kita dapat meluangkan sedikit waktu
untuk membaca dengan cara membaca cepat. Inti dari membaca cepat adalah
bahwa tidak semua kata yang ada pada bacaan harus dibaca semuanya. Kita
hanya perlu mencari informasi-informasi penting yang terdapat pada bacaan.
Jadi, kita tidak membaca hal-hal yang tidak dibutuhkan.
Untuk meningkatkan kecepatan membaca, keterampilan dasar harus dilatih,
yakni membaca dengan hanya mengandalkan gerakan mata, membaca frasa
(bukan kata), dan cepat mengenali kata kunci. Konsentrasilah untuk mendapatkan
ide dan jangan melamun. Langkah-langkah seperti ini dapat memudahkan
kita menyerap informasi dari sebuah bacaan.
Gambar 2.2 Membaca cepat memerlukan
konsentrasi untuk menemukan informasi penting
yang dibutuhkan
Sumber: Kompas, 2 Desember 2007
28 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Tugas Individu
1. Bacalah teks di bawah ini dengan cara membaca cepat.
”Push Mail”
Kotak Surat di Dalam Saku
Semakin hari semakin tinggi saja kebutuhan update informasi yang
dibutuhkan kaum profesional. Dalam kondisi mobile sekalipun, akses
informasi tetap diperlukan untuk mengetahui perkembangan situasi maupun
memantau berbagai aktivitas kantor.
Mulanya, SMS adalah salah satu pilihan. Namun, keterbatasan jumlah
karakter dalam SMS membuat ketidaknyamanan untuk berbagai informasi
panjang. Apalagi jika digabung data dan image. E-mail lalu menjadi medium
yang paling tepat saat ini.
Namun, surat elektronik ini lazimnya diakses melalui komputer atau
laptop yang terkoneksi dengan jaringan internet. Padahal, perangkat itu tidak
selamanya dibawa seorang eksekutif atau profesional. Begitu juga koneksi
internet.
Adanya konvergensi, e-mail pun pindah medium dan bisa diakses secara
mobile melalui perangkat seluler, baik melalui PDA ataupun smartphone.
Konvergensi teknologi informasi dengan telekomunikasi berhasil
mengatasinya.
Akses mobile e-mail makin diminati ketika layanan push mail muncul.
Berbeda dengan pull mail, push mail jauh lebih mudah diakses, selayaknya
SMS. Dilengkapi fitur incoming alert, membuat push mail sangat efisien
karena e-mail langsung masuk ke mailbox dan memberi tanda kepada
penerima.
Untuk menjawabnya pun semudah mengirim SMS. Tak heran jika
karakter push mail dirasa sesuai dan sangat mendukung kebutuhan kaum
metropolis yang semakin mobile. Dengan push mail, pengguna tak perlu
lagi melakukan browsing dan berkali-kali memeriksa mailbox untuk
mengetahui surat masuk, seperti menggunakan pull mail.
Seperti halnya e-mail, push mail juga bekerja dengan basis IP (internet
protocol) yang bisa diakses melalui GPRS, sebuah kanal komunikasi data
di infrastruktur telekomunikasi seluler.
Beberapa operator telepon seluler telah mengeluarkan produk push mail
yang kini bisa diakses menggunakan jaringan 2,5 G/GPRS dan juga 3G.
Saat ini diperkirakan ada sekitar 5 persen pelanggan seluler yang sudah
menggunakan layanan ini melalui teknologi GPRS.
Teknologi Komunikasi 29
Tampaknya seiring tuntutan globalisasi dan untuk selalu terhubung dengan
informasi, tren push mail akan terus meningkat. Kebutuhan pasar pada
dan kemudahan push mail ibarat dua magnet yang berhadapan.
Seiring dengan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap teknologi
informasi, di masa mendatang bisa diprediksikan komunikasi data akan menjadi
sebuah kebutuhan masyarakat luas. Tak hanya kaum profesional, tapi juga
para pribadi aktif. Mereka adalah pasar yang butuh kotak surat di tangan
atau di sakunya. Apalagi, belakangan ini konvergensi teknologi informasi
dan komunikasi semakin mengkristal dan melahirkan berbagai produk yang
berbasis IP yang bisa menjawab kebutuhan akan kecepatan, aksesabilitas,
serta efisiensi dalam biaya. Maka, bisa diperkirakan pasar push mail pun
akan turut berkembang.
Masyarakat Indonesia boleh dibilang terlalu cepat dalam menyerap
teknologi. Lihat saja ujung barat Indonesia, Aceh. Sejak pemulihan Aceh
pascatsunami, banyak LSM asing hadir dan ”membawa” berbagai perangkat
telekomunikasi canggih yang memacu percepatan pembangunan
infrastruktur di sana, salah satunya jaringan backbone internet.
Salah seorang pucuk pimpinan LSM asing pernah terkejut ketika
berjumpa dengan salah seorang korban tsunami, yang ternyata ponselnya
jauh lebih canggih ketimbang yang dimiliki bos LSM tersebut.
Lain di Aceh, lain pula di Papua. Di wilayah paling timur Indonesia ini,
sekalipun infrastruktur dan perangkat telekomunikasinya masih terbatas,
masyarakat Papua tergolong antusias memelajari kemajuan teknologi
komunikasi informasi.
Contohnya, di Wamena. Sebuah fasilitas internet (berbasis satelit dan
disediakan LSM asing), setiap hari ramai dikunjungi anak-anak sekolah.
Padahal, mereka harus menempuh puluhan kilometer untuk sampai ke kios
internet itu. Ada yang sekadar belajar mengenai komputer sampai menulis
e-mail.
Ke depan, rasanya tidak akan terjadi kanibalisme antara SMS dan push
mail karena keduanya memiliki guna dan nilai berbeda. Segmen penggunanya
pun beda. Segmen SMS tumbuh seiring meningkatnya penetrasi seluler,
sementara pasar push mail tumbuh seiring dengan perkembangan teknologi
informasi dan meningkatnya pemahaman masyarakat akan pentingnya akses
informasi secara cepat.
Sumber: Kompas, 23 Mei 2007 (Diambil seperlunya)
2. Informasi penting apa saja yang Anda dapatkan? Coba buatlah daftarnya
secara ringkas.
30 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
2. Membedakan antara Fakta dan Pendapat dalam
Teks
Salah satu tujuan kita membaca
adalah untuk mendapatkan
informasi. Informasi yang kita
dapatkan tersebut dapat berupa
fakta atau opini. Lalu, bagaimana
cara kita membedakannya?
Di dalam sebuah tulisan,
seorang penulis perlu mengungkapkan
fakta yang diperjelas
dengan opini, demikian juga
sebaliknya. Hal ini dilakukan oleh
penulis agar tulisannya dapat
diterima pembaca.
Fakta adalah hal/sesuatu
yang tidak diragukan lagi kebenarannya,
karena benar-benar terjadi. Sifatnya objektif. Artinya semua orang
menyetujui/mengiyakan.
Pendapat/opini adalah hal/sesuatu yang kebenarannya masih perlu diuji,
karena bentuknya masih berupa pendapat. Sifatnya subjektif.
Contoh:
a. Produk Blackberry yang sekarang beredar di pasaran Indonesia adalah
seri 8707v yang didistribusikan di Indonesia melalui operator seluler XL.
(Fakta)
b. Penggunaan Blackbery secara intens ditengarai sebagai salah satu
penyebab rusaknya rumah tangga untuk kasus yang parah. (Opini)
Tugas Individu
1. Bacalah kembali dengan cermat teks berjudul ”Push Mail” Kotak Surat
di Dalam Saku di atas.
2. Analisislah kalimat-kalimat di dalamnya. Coba Anda pilah, mana yang
merupakan fakta dan mana yang opini.
Gambar 2.3 Informasi yang kita temukan dalam
berbagai media dapat berupa fakta ataupun
opini
Sumber: Kartini No. 2099 30 Oktober–
13 November 2003; Kompas, 10 Februari
2008; Suara Merdeka, 19 Agustus 2007
Teknologi Komunikasi 31
D. Menulis
Memilih Kata, Bentuk Kata, dan Ungkapan yang Tepat
Salah satu faktor keefektifan berbahasa adalah bagaimana ketepatan kita dalam
memilih kata. Ketepatan pemilihan kata ini berhubungan dengan kosa kata dan
makna kata. Keefektifan berbahasa sangat kita butuhkan ketika menulis.
Banyaknya kosa kata akan memudahkan kita mengungkapkan pikiran secara
tepat dan jelas, sehingga pembaca pun akan mudah menangkap isi tulisan.
1. Kata
Kata merupakan satuan bebas terkecil yang bermakna. Kata dapat terdiri
atas satu morfem dan dapat juga terdiri atas beberapa morfem. Misalnya,
kata berkenalan terdiri atas morfem ber-, -an, dan kenal. Sebuah kata
dapat dibentuk beberapa turunannya. Misalnya, kata budaya dapat menjadi
berbudaya, membudayakan, kebudayaan, membudaya, budayawan.
Perubahan bentuk kata tersebut menyebabkan perubahan kelas kata dan
maknanya.
Jika sebuah kata berpadu antara bentuk dan makna, makna kata akan
menjadi akurat dalam konteks kalimat. Di dalam menyusun kalimat, kita harus
cermat memilih kata dari segi ketepatan bentuk, ketepatan makna gramatikal,
dan ketepatan makna leksikalnya. Ketidakcermatan terhadap ketiga hal
tersebut akan menimbulkan kesalahan berbahasa sehingga kalimat yang kita
susun menjadi tidak baku.
Contoh:
Orang itu membom sebuah gedung sekolah. (Salah)
Orang itu mengebom sebuah gedung sekolah. (Benar)
2. Ungkapan
Ungkapan atau idiom adalah kelompok kata untuk menyatakan sesuatu
maksud dalam arti kias. Ungkapan dibentuk oleh kata-kata yang polanya
terbentuk/tersusun secara tetap. Kata-kata itu tidak dapat diubah susunannya
dan tidak dapat pula disisipi dengan kata lain. Makna dari tiap-tiap kata itu
melebur membentuk makna baru.
Berdasarkan pemakaian dan pilihan kata yang dijadikan ungkapan, macam
ungkapan dapat dikelompokkan sebagai berikut.
a. Ungkapan dengan bagian tubuh
Contoh:
1) kecil hati = penakut
2) tebal muka = tidak mempunyai rasa malu
3) panjang lidah = suka mengadu
b. Ungkapan dengan kata indra
Contoh:
1) perang dingin = perang tanpa senjata, hanya saling menggertak
32 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
2) uang panas = uang yang tidak halal
3) tertangkap basah = tertangkap ketika sedang beraksi
c. Ungkapan dengan nama warna
Contoh:
1) lampu merah = isyarat yang membahayakan
2) masih hijau = belum berpengalaman
3) lembah hitam = tempat maksiat
d. Ungkapan dengan benda-benda alam
Contoh:
1) kabar angin = berita yang isinya belum jelas
2) bintang lapangan = pemain terbaik
3) kejatuhan bulan = mendapat untung
e. Ungkapan dengan nama binatang
Contoh:
1) kambing hitam = orang yang disalahkan
2) kuda hitam = pemenang yang tidak diunggulkan
3) buaya darat = laki-laki yang senang mengumbar nafsunya
f. Ungkapan dengan bagian-bagian tumbuhan
Contoh:
1) sebatang kara = hidup seorang diri
2) naik daun = mendapat nasib baik
3) buah pena = karangan
g. Ungkapan dengan kata bilangan
Contoh:
1) berbadan dua = sedang mengandung
2) diam seribu bahasa = tidak berkata sepatah kata pun
Ungkapan telah lama dikenal dalam perbendaharaan bahasa Indonesia.
Ungkapan umumnya merupakan warisan nenek moyang, dalam hal ini
masyarakat Melayu tradisional pada masa lampau.
Dalam bahasa Inggris, ungkapan disebut idiom. Idiom berfungsi
menyatakan maksud dengan arti tak sebenarnya.
Tugas Individu
1. Berilah lima contoh kata yang salah penulisannya di dalam kalimat dan
tunjukkan penulisannya yang tepat.
2. Terangkan arti ungkapan-ungkapan di bawah ini dan terapkan penggunaannya
ke dalam kalimat.
Teknologi Komunikasi 33
a. buah hati f. keras hati
b. lapang dada g. buah pena
c. keras kepala h. banting tulang
d. naik daun i. darah biru
e. kaki tangan j. ringan mulut
Rangkuman
1. Metode yang paling tepat untuk mempelajari penggunaan lafal, tekanan,
intonasi, dan jeda adalah dengan mencoba berulang-ulang membaca secara
lisan dan menyimak bacaan tersebut. Ada dua pihak yang berperan untuk
memperbaiki pemahaman lafal, tekanan, intonasi, maupun jeda, yaitu antara
si pembaca (pemberi informasi, khususnya lisan) dengan si penyimak.
2. Ciri-ciri pelafalan baku, antara lain,
a. tidak dipengaruhi bahasa daerah,
b. tidak dipengaruhi bahasa asing,
c. bukan merupakan ragam percakapan,
d. pemakaian imbuhan secara eksplisit,
e. pemakaian yang sesuai dengan konteks kalimat,
f. tidak rancu (tidak terkontaminasi),
g. tidak mengandung pleonasme, dan
h. tidak mengandung hiperkorek.
3. Untuk meningkatkan kecepatan membaca, keterampilan dasar harus dilatih,
yakni membaca dengan hanya mengandalkan gerakan mata, membaca frasa
(bukan kata), dan cepat mengenali kata kunci. Kita juga harus berkonsentrasi
untuk mendapatkan ide dan jangan melamun.
4. Fakta adalah hal/sesuatu yang tidak diragukan lagi kebenarannya, karena
benar-benar terjadi. Sifatnya objektif. Artinya, semua orang menyetujui/
mengiyakan. Adapun opini adalah hal/sesuatu yang kebenarannya masih
perlu diuji, karena bentuknya masih berupa pendapat. Sifatnya subjektif.
5. Kata merupakan satuan bebas terkecil yang bermakna. Adapun ungkapan
atau idiom adalah kelompok kata untuk menyatakan sesuatu maksud dalam
arti kias.
34 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Latihan
A. Pilihlah jawaban yang paling benar!
1. Dua pihak yang dibutuhkan untuk memperbaiki pemahaman lafal, tekanan,
intonasi, maupun jeda adalah ….
a. pembaca dan penulis d. pemerhati dan pelaksana
b. pembaca dan penyimak e. pembaca dan pelaksana
c. penulis dan penyimak
2. Membaca cepat berarti membaca dengan kecepatan tertentu sesuai dengan
kemampuan sampai dapat menemukan ….
a. penjelasan c. pemahaman e. kata yang tepat
b. gagasan utama d. isi bacaan
3. Tujuan utama seseorang membaca adalah untuk ….
a. mengisi waktu luang
b. mendapatkan informasi penting
c. menambah kecakapan membaca
d. mengasah keterampilan berpikir
e. mengembangkan budaya membaca
4. Sangat disayangkan jika e-mail tidak mampu menyebar ke pelosokpelosok
negeri ini. Padahal, jika e-mail bisa tersosialisasikan dengan
baik dan digunakan secara massal, banyak hal positif yang bisa diperoleh
untuk perkembangan ekonomi negara kita.
Pernyataan di atas merupakan bentuk ….
a. fakta c. data e. ungkapan
b. opini d. kesimpulan
5. Jika komunikasi data yang dilakukan melalui SMS bertarif Rp250 untuk
sekali kirim maksimal 160 karakter dikombinasi dengan pengiriman
image melalui MMS, maka push mail (via GPRS) Rp10/kb. Dengan
kata lain, relatif lebih murah.
Pernyataan di atas merupakan bentuk ….
a. fakta c. kesimpulan e. ungkapan
b. opini d. data
6. Kalimat yang tidak baku adalah seperti berikut ….
a. Hidupnya emang sudah susah dari sananya.
b. Bapak tidak ingin anaknya kelak menjadi menderita.
c. Para guru berolah raga dengan penuh semangat.
d. Mengapa dia tidak pernah bercerita tentang persoalan itu?
e. Tamu undangan sudah mulai berdatangan ke pesta itu.
Teknologi Komunikasi 35
7. Kata-kata yang baku terdapat pada ….
a. anggauta, apotik, metoda d. saksama, apotek, metoda
b. sistem, seksama, apotek e. sistem, metode, anggauta
c. metode, saksama, apotek
8. Di bawah ini yang merupakan arti dari ungkapan tebal muka adalah ….
a. tidak punya malu c. dipermalukan e. sangat malu
b. mempermalukan d. malu-malu
9. Satuan bebas terkecil yang memiliki makna disebut ….
a. kalimat c. ungkapan e. paragraf
b. kata d. bahasa
10. Berikut yang bukan merupakan ungkapan adalah ….
a. darah biru c. naik daun e. lapang dada
b. ringan tangan d. naik meja
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Terangkan metode paling efektif mempelajari lafal, tekanan, intonasi, dan
jeda dalam bahasa lisan!
2. Sebutkan ciri-ciri pelafalan yang baku!
3. Jelaskan mengenai pengertian kata dan ungkapan!
4. Jelaskan perbedaan antara fakta dan opini!
5. Buatlah lima contoh kalimat baku dan tidak baku!
Sekilas Pengetahuan Bahasa
Dalam berbahasa Indonesia sehari-hari, kita sering menggunakan kata
komputer, maus, monitor, kuantitas, atau kualitas. Kita menyadari bahwa katakata
tersebut berasal dari bahasa asing (terutama bahasa Inggris).
Dalam politik bahasa nasional, untuk mengembangkan kosa kata atau istilah
dalam bahasa Indonesia kita memang kadang-kadang mengambil bahasa lain.
Urutannya, jika ada sebuah konsep yang belum terwakili oleh kata dalam bahasa
Indonesia, kita akan mencari kata-kata lama. Jika kata atau istilah lama dalam
bahasa Indonesia tidak dijumpai, kita akan mencarinya dalam bahasa daerah.
Urutan pertama untuk menyerap bahasa asing adalah bahasa Inggris, baru
kemudian diikuti bahasa lain. Mengapa demikian? Karena kiblat kita adalah bahasa
internasional, yaitu bahasa Inggris. Dahulu kita menggunakan bahasa Belanda
sebagai acuan, sehingga kita menggunakan kata legalisir, dramatisir, dan netralisir.
Ketika kiblat kita beralih ke bahasa Inggris, kita kemudian menggunakan kata
legalisasi, dramatisasi, dan netralisasi.
Sumber: Situs Bahasa, Yunior Edisi 38 11 November 2007 (Dengan sedikit perubahan)
36 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Kabar Tokoh
Sapardi Djoko Damono
Lahir di Solo, 20 Maret 1940.
Saat kecil, ia suka keluyuran
sendirian di areal pedesaan,
sambil membaca puisi-puisi pada
majalah Kisah, langganan
keluarganya. Itu merangsang
Sapardi muda untuk menulis puisi.
Dia menulis puisi sejak kelas II SMA dan sajaknya pertama kali dipublikasikan
di ruang kebudayaan tabloid Pos Minggu (Semarang), tahun 1957. Tahun 1958,
sajaknya dimuat di Mimbar Indonesia (Jakarta). Saat melanjutkan studi ke
Jurusan Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, ia
semakin tekun mempelajari sastra, termasuk sastra asing, dan menciptakan
banyak puisi.
Sapardi termasuk penyair yang produktif. Dia sibuk mengajar di Universitas
Indonesia sejak tahun 1974 sampai pensiun, pernah jadi redaksi Majalah Horison,
Basis, dan Kalam, lalu sempat menjadi Dekan Fakultas Sastra UI dan guru
besar, serta berkecimpung dalam sejumlah organisasi budaya.
Kumpulan sajak pertamanya, Duka-Mu Abadi terbit di Bandung tahun 1969.
Sejak itu hingga sekarang, sudah delapan kumpulan sajaknya yang diterbitkan,
yaitu Mata Pisau (tahun 1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984),
Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-Ayat Api (2000), Mata Jendela
(2002), dan Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2002).
Sejumlah puisi Sapardi menjadi populer di masyarakat, seperti puisi Aku
Ingin. Puisi ini sudah dimainkan dalam film, musik, sandiwara, sinetron, dan
dikutip di mana-mana.
Sumber: Kompas, 17 Februari 2008 (Diambil seperlunya)
Sumber: Kompas, 17 Februari 2008
Seni Budaya 37
Tema
3
SENI BUDAYA
Sumber: Kompas, 16 September 2007
Tujuan Pembelajaran:
1. Memahami lafal, tekanan, intonasi, dan jeda pada siaran berita.
2. Melafalkan kata dengan artikulasi yang tepat dalam pidato.
3. Membaca cepat dengan teknik skimming dan scanning.
4. Menulis dengan memanfaatkan kategori/kelas kata.
5. Menulis dengan menggunakan kata berimbuhan yang menyatakan proses dan hasil.
38 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Pendahuluan
Pada pertemuan ini Anda akan memelajari empat aspek kemampuan berbahasa,
yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada aspek mendengarkan,
Anda akan diajak memahami lafal, tekanan, intonasi, dan jeda pada siaran berita.
Pada aspek berbicara, Anda akan memelajari cara melafalkan kata dengan artikulasi
yang tepat dalam pidato. Bagaimana cara membaca cepat suatu teks dengan teknik
skimming dan scanning dapat Anda temui pada aspek membaca. Adapun pada aspek
terakhir, yaitu menulis, Anda diajak untuk belajar menulis dengan memanfaatkan kelas
kata serta kata berimbuhan yang menyatakan proses dan hasil.
Setiap aspek di atas akan dilengkapi dengan tugas, berupa tugas individu atau
kelompok, untuk merangsang dan memotivasi Anda berpikir kreatif dalam memahami
uraian materi. Selain itu, pada akhir bab Anda akan menemui rangkuman dan pelatihan.
Rangkuman berguna untuk mengingatkan Anda kembali mengenai isi materi yang
telah dipelajari. Adapun pelatihan akan membantu mengukur sejauh mana pemahaman
materi yang telah Anda capai dengan cara mengerjakan soal-soal.
A. Mendengarkan
Memahami Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda pada
Siaran Berita
Penggunaan lafal, tekanan,
intonasi, dan jeda sering kita jumpai
pada penyiar berita. Berita atau
peristiwa, baik di radio maupun televisi,
biasanya hanya dituturkan sekali
saja tanpa ada pengulangan. Oleh
karena itu, kita harus mendengarkan
siaran berita tersebut dengan cara
yang efektif sehingga mampu memahami
isinya. Keefektifan tersebut
sangat bergantung pada proses dan
prinsip mendengarkan. Apabila kita
dapat menerapkan proses dan prinsip
dalam mendengarkan, dengan sendirinya akan memudahkan kita dalam
menangkap isi siaran.
1. Proses mendengarkan
Proses menuju keberhasilan mendengarkan siaran berita, tuturan langsung,
atau pembacaan teks dapat dilakukan melalui langkah-langkah:
a. mendengarkan suara sampai jelas,
b. berkonsentrasi kepada materi siaran,
Gambar 3.1 Informasi lisan yang
disampaikan dalam siaran radio biasanya
tidak diulang
Sumber: Kompas, 29 Juli 2007
Seni Budaya 39
c. menangkap materi siaran secara sadar,
d. menyesuaikan diri dengan ide-ide pokok siaran, dan
e. memberikan reaksi atas ide-ide pokok siaran.
2. Prinsip-prinsip mendengarkan
Beberapa prinsip yang hendaknya dimiliki dalam kegiatan mendengarkan,
yaitu sebagai berikut.
a. Bersiap untuk mendengarkan dengan pikiran terbuka, baik fisik maupun
psikis. Artinya siap untuk memulai mendengarkan dengan tanpa beban
apapun dalam pikiran dan tubuh pendengar. Di samping itu, pendengar
bisa memilih tempat dengan tepat, bisa menyesuaikan diri, dan menyingkirkan
hal dan sikap-sikap negatif lainnya.
b. Memahami ide siaran atau tuturan langsung, baik ide sentral, penunjang,
struktur ide, dan kesimpulan.
c. Menilai ide dan fakta dalam siaran atau tuturan langsung dan generalisasinya.
d. Memberikan sambutan atas ide siaran atau tuturan langsung dibuktikan
dengan berhasil membuat catatan terhadap ide yang dimaksud.
e. Memotivasi diri untuk mencatat dan membuat laporan berupa ikhtisar isi
siaran atau tuturan langsung secara lengkap dan benar. Jika perlu
membandingkan hasil tangkapan ikhtisar diri sendiri dengan pihak lain.
f. Mencari hal-hal yang menarik, baru, tepat, dan berguna dari isi siaran
atau tuturan langsung sesuai dengan urutan materi.
g. Menangkap teknik penguraian dari siaran atau tuturan langsung yang
meliputi ilustrasi, logika, bukti, kata-kata terpilih, tata bahasa, dan kesan
mendalam pada isinya.
h. Berlatih mendengarkan berbagai jenis isi siaran atau tuturan langsung untuk
memperluas pandangan dan pengetahuan pendengar.
3. Faktor keefektifan mendengarkan
Faktor yang memengaruhi keefektifan mendengarkan, antara lain, sebagai
berikut.
a. Fisik komunikator dan komunikan, misalnya kesehatan, organ atau alat
bicara, dan alat dengar kedua belah pihak.
b. Psikis kedua belah pihak, misalnya, keegoismean, prasangka, kebosanan,
kepicikan, dan sebagainya.
c. Pengalaman kedua belah pihak terhadap isi siaran informasi.
d. Bahan pembicaraan dalam siaran informasi.
e. Situasi saat berlangsungnya siaran informasi, misalnya, ventilasi, suhu,
kebisingan, sinar, waktu, dan dekorasi.
f. Kesibukan, pikiran, minat, pengalaman, asosiasi, dan perasaan pendengar.
40 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Tugas Individu
1. Coba Anda dengarkan berita berikut yang akan dibacakan oleh salah satu
teman di kelas. Gunakan metode dalam materi proses dan prinsip
mendengarkan yang telah Anda pelajari.
Prospek Usaha Sablon Digital
Usaha sablon, khususnya yang konvensional, telah ada sejak lama di
Indonesia. Hal ini disebabkan usaha ini tidak membutuhkan modal yang
besar dan peralatan yang canggih, serta tidak memerlukan tenaga dari sekolah
khusus, sehingga banyak orang yang bergerak di bidang usaha ini.
Perkembangan zaman dan teknologi telah menjadikan usaha sablon
memasuki babak baru dengan adanya sistem sablon digital pada saat ini.
Banyak pelaku usaha yang mulai beralih untuk menggunakan sistem digital,
meskipun dari sisi modal usaha sablon digital membutuhkan modal yang
lebih besar dibandingkan dengan usaha sablon konvensional. Hal ini tidak
menjadi masalah bagi mereka karena sablon digital dinilai lebih
menguntungkan dari berbagai segi. Salah satu contohnya adalah modal awal
yang akan kembali lebih cepat, yaitu sekitar enam bulan. Selain itu dengan
sistem digital, pengusaha juga tidak harus menerima order dalam jumlah
yang besar, sebab pemesanan dalam jumlah kecil pun dapat dilayani.
Sablon digital sangat sesuai untuk menyablon gambar, baik foto maupun
lukisan. Usaha sablon digital ini tidak hanya memenuhi kebutuhan segmen
tertentu saja. Hal ini disebabkan semua kalangan, mulai dari remaja hingga
orang tua sangat menyukai bila gambar diri mereka dapat dipajang pada
barang yang selalu mereka butuhkan, misalnya, gelas, piring, dan mug.
Khusus di kalangan remaja, tren yang masih disukai adalah kaos dan pin.
Pelaku usaha sablon digital memang membutuhkan komitmen yang kuat
untuk menjalankan usahanya. Hal ini dikarenakan usaha di bidang sablon
digital selain membutuhkan modal yang tidak sedikit, juga membutuhkan
keberanian yang tinggi dalam menjalankan usaha. Ilustrasi yang tepat
mengenai komitmen tersebut adalah ibarat seseorang yang ingin belajar
berenang. Orang tersebut bila berpikir dan takut pada bayangan, maka dia
tidak akan bisa berenang. Lain halnya bila orang tersebut memiliki
keberanian, maka dia pun akan bisa berenang dengan baik. Beberapa pelaku
usaha sablon digital yang belum mempunyai komputer sampai sekarang,
benar-benar menghayati pengandaian tersebut. Mereka tidak ragu untuk
menjalankan usahanya. Mereka menyiasatinya dengan membuat sketsa di
rental-rental komputer terlebih dahulu, setelah itu baru mencetaknya.
Sumber: Tabloid Peluang Usaha, No. 21 30 Juni – 13 Juli 2008
(Diambil seperlunya dengan pengubahan)
Seni Budaya 41
2. Catatlah inti informasi yang terdapat di dalamnya dan bandingkan hasilnya
dengan teman yang lain.
3. Diskusikanlah dengan teman yang lain mengapa dapat terjadi persamaan
atau perbedaan mengenai isi berita yang Anda tangkap. Apakah persamaan
atau perbedaan tersebut memang dipengaruhi oleh proses dan prinsip
mendengarkan Anda? Ungkapkan dengan jujur pengalaman Anda kepada
teman-teman diskusi.
Tugas Kelompok
1. Bentuklah siswa di kelas Anda menjadi beberapa kelompok.
2. Dengarkan sebuah berita yang disiarkan lewat radio atau televisi yang
berhubungan dengan seni budaya dan rekamlah berita tersebut menggunakan
alat perekam.
3. Buatlah laporan mengenai isi berita yang Anda dengar bersama anggota
kelompok yang lain.
4. Bacakan laporan kelompok Anda di hadapan kelompok yang lain dan
mintalah mereka untuk mencatatnya.
B. Berbicara
Melafalkan Kata dengan Artikulasi yang Tepat dalam
Pidato
Artikulasi berhubungan dengan penggunaan
bahasa, khususnya secara lisan, misalnya dalam
pidato. Penggunaan bahasa dalam pidato dikatakan
baik apabila bahasa yang digunakan sesuai dengan
situasi pembicaraan, orang yang berbicara, serta
tempat itu digunakan.
Tentu tidak menyenangkan apabila seseorang
dalam berpidato tidak menggunakan kalimat-kalimat
yang jelas. Maksudnya adalah pengucapan lafalnya
tidak jelas, sehingga informasi yang disampaikan
tidak mudah dipahami.
Penyampaian informasi dalam pidato akan
terganggu apabila seseorang dalam mengucapkan
Gambar 3.2 Berpidato
sangat penting
memerhatikan ketepatan
artikulasi
Sumber: Suara Merdeka,
19 Agustus 2007
42 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
kata atau kalimat tidak jelas secara artikulasi. Oleh karena itu, artikulasi memegang
peranan penting dan utama dalam pidato.
Berpidato membutuhkan kepiawaian dalam menyusun kosa kata yang tepat
berdasarkan tempat, pendengar, dan tujuan dari pidato tersebut. Berdasarkan
tujuannya, pidato dibedakan menjadi:
1. pidato yang bertujuan mendorong,
2. pidato yang bertujuan meyakinkan,
3. pidato yang bertujuan untuk bertindak,
4. pidato yang bertujuan memberitahukan atau mengabarkan, dan
5. pidato yang bertujuan menyenangkan atau hiburan.
Pidato dengan tujuan apa pun, dapat disampaikan secara lugas maupun dengan
ungkapan yang mengiaskan maksud-maksud tertentu. Jenis-jenis metode pidato
adalah sebagai berikut.
1. Metode impromptu (serta merta)
Pembicara berpidato secara spontanitas, mendadak, dan serta merta dengan
penyampaian secara improvisasi.
2. Metode menghafal
Pembicara membuat semacam teks dan terus dihafalkan selama pidato.
3. Metode naskah
Pembicara selalu membawa dan menggunakan naskah atau teks selama
berpidato.
4. Metode ekstemporan
Merupakan jalan tengah antara metode menghafal dan naskah. Uraian yang
akan disampaikan dipersiapkan dalam bentuk kerangka/catatan. Kerangka
itulah yang dikembangkan selama pidato berlangsung.
Tugas Individu
1. Bacakan naskah pidato berikut dengan artikulasi yang jelas dan ekspresi
yang mendukung di depan kelas.
Kesenian Sudah Dipolitisir
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera untuk kita semua,
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang
Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kita dapat berkumpul di
tempat ini dengan keadaan sehat walafiat.
Saudara-saudara yang saya hormati,
Barangkali di antara Saudara ada yang tidak setuju dengan topik yang
akan saya bicarakan saat ini. Kesenian sudah dipolitisir? Apa maksudnya?
Seni Budaya 43
Apakah kesenian sudah menjadi tunggangan para politikus dalam rangka
menyukseskan kampanyenya? Bukan itu maksud yang ingin saya sampaikan.
Kalau hanya sekadar menjadi tunggangan politik, sejak dulu kesenian
memang sudah menjadi alat kampanye politik yang jitu, misalnya saja, lewat
pertunjukan wayang kulit, musik, bahkan drama di atas panggung.
Maksud yang hendak saya sampaikan adalah bahwa yang menjadi
fenomena sekarang ini adalah kesenian yang dipolitisir menjadi barang
konsumsi yang tidak punya nilai seni lagi. Kesenian sudah menjadi alat
pengeduk uang yang luar biasa tanpa memperhatikan nilai estetika maupun
moralitas. Lihat saja tontonan di televisi kita. 90% sinetron dipenuhi dengan
sinetron-sinetron yang mutunya sangat rendah. Tidak ada estetika,
pendidikan kemanusiaan, ataupun moralitas dalam sinetron-sinetron kita.
Saudara-saudara yang saya hormati,
Kita hendaknya memahami bahwa sinetron adalah salah satu bentuk
kesenian yang berbentuk drama, yang dibungkus lewat sarana elektronika,
yang mampu dinikmati di layar kaca oleh siapa pun. Karena dapat dinikmati
oleh siapa pun itulah, maka para produser sinetron kita berlomba-lomba
membuat sinetron yang mampu merangkul banyak pemirsa. Parahnya,
pemirsa kita kebanyakan adalah masyarakat yang bodoh. Masyarakat yang
sudah terkuras pikirannya oleh permasalahan sehari-hari yang semakin lama
semakin berat. Mereka pun ingin lari sejenak untuk melupakan persoalan
tersebut dengan mencari alternatif hiburan.
Nah, dunia hiburan kita ternyata tidak banyak alternatifnya, khususnya
dunia hiburan di televisi. Produser yang tahu betul keinginan masyarakat
langsung memberi obat yang sangat jitu dan manjur, yaitu tontonan yang
menghibur, yang meninabobokan, yang membuat para pemirsa terbang ke
alam impian. Akhirnya terjadi hubungan timbal balik yang saling
membutuhkan, meskipun dalam arti yang negatif. Produser ingin mengeduk
uang sebanyak-banyaknya, dan sudah ada lahan yang tersedia.
Saudara-saudara yang saya muliakan,
Padahal kalau dirunut dengan saksama, tontonan di televisi kita, ratarata
menjebak dan menjerumuskan penonton ke dalam suatu persoalan baru,
yaitu semakin hancurnya moralitas bangsa. Tidak ada kesadaran antara
produser dan masyarakat akan pentingnya suatu tontonan yang menghibur
sekaligus mendidik. Padahal tontonan semacam ini sangat mungkin diproduksi
dan dihadirkan untuk masyarakat. Memang, dibutuhkan banyak orang
bermoral mulia dalam rangka mewujudkan produksi tontonan semacam ini.
Mungkin itulah yang menjadi kendala bangsa ini, tidak mempunyai banyak
orang bermoral mulia.
44 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Saudara-saudara yang budiman,
Kita seharusnya rindu tontonan yang mampu memberi kesegaran pikiran
dan jiwa. Kita seharusnya mengharapkan tontonan yang menghibur sekaligus
mendidik. Barangkali lewat sepatah dua patah kata dari saya ini, ada beberapa
orang yang tergerak hatinya untuk mewujudkan kerinduan kita tersebut.
Saya yakin dengan adanya tontonan yang bermutu akan menjadikan
kehidupan masyarakat kita menjadi lebih baik, baik dalam moralitas,
kebudayaan, etika, religi, bahkan politik.
Cukup sekian tutur kata dari saya dan apabila ada kata-kata yang kurang
berkenan, saya mohon maaf dari hati yang paling dalam.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
2. Bacalah dalam hati naskah pidato yang berjudul Kesenian Sudah
Dipolitisir di atas. Bagaimana menurut Anda mengenai penggunaan
bahasanya? Coba Anda perbaiki naskah pidato tersebut dengan
memerhatikan penggunaan kalimat efektif.
3. Kumpulkan hasil perbaikan naskah pidato Anda kepada guru untuk diberi
evaluasi.
C. Membaca
1. Membaca Cepat dengan Teknik Skimming dan
Scanning
Tentu Anda masih ingat bahwa membaca cepat
adalah membaca dalam waktu yang relatif singkat,
segera, tangkas, cekatan, namun mendapatkan
informasi/hal-hal penting yang terdapat dalam
wacana, serta tepat dalam menjawab pertanyaanpertanyaan
yang berhubungan dengan wacana.
Membaca cepat dapat dilakukan dengan dua
teknik, yaitu skimming dan scanning. Membaca
dengan teknik skimming atau pelayapan adalah
upaya mengambil intisari suatu bacaan berupa ide
pokok. Ide pokok atau detail penting tersebut dapat
berada di awal, tengah, atau akhir. Adapun
membaca dengan teknik scanning atau pemindaian adalah teknik membaca
cepat untuk memperoleh informasi tanpa membaca yang lain atau langsung
ke masalah yang dicari berupa fakta khusus atau informasi tertentu. Membaca
dengan teknik scanning biasa dilakukan pada saat kita membaca kamus,
Gambar 3.3 Membaca cepat
merupakan upaya mengambil ide
pokok bacaan
Sumber: Kompas, 12 Agustus 2007
Seni Budaya 45
ensiklopedi, indeks, dan sejenisnya. Indeks adalah daftar kata atau istilah
penting yang terdapat dalam buku cetakan (biasanya pada akhir buku) tersusun
menurut abjad yang memberikan informasi mengenai halaman tempat kata
atau istilah itu ditemukan.
2. Langkah-langkah Membaca Cepat dengan Teknik
Skimming dan Scanning
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam membaca cepat dengan
teknik skimming adalah sebagai berikut.
a. Siapkan wacana atau buku yang hendak dibaca.
b. Siapkan dua kertas kosong, satu untuk mencatat ide pokok, satu lagi untuk
mencatat apabila ada hal-hal yang mengganggu konsentrasi, seperti ada
janji atau kegiatan yang lain.
c. Mulailah membaca dalam hati.
d. Urutkan catatan pada kertas pertama dan sisihkan catatan pada kertas
kedua.
e. Mulailah untuk menyimpulkan.
f. Lakukan berulang-ulang sampai mendapatkan hasil maksimal.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam membaca cepat dengan
teknik scanning adalah sebagai berikut.
a. Siapkan wacana atau buku yang hendak dibaca.
b. Siapkan kebutuhan/pokok informasi yang diinginkan dari buku atau wacana
yang dibaca.
c. Carilah informasi yang dibutuhkan saja.
d. Catat informasi yang dibutuhkan dalam selembar kertas kosong.
e. Teliti kembali catatan yang telah dibuat.
f. Tampilkan kembali informasi yang telah ditulis dengan bahasa sendiri.
g. Lakukan terus menerus untuk mendapatkan hasil optimal.
3. Tujuan dan Manfaat Membaca Cepat
Tujuan utama membaca cepat adalah
a. memeroleh kesan umum dari suatu buku, artikel, atau tulisan singkat;
b. menemukan hal tertentu dari suatu bahan bacaan;
c. menemukan/menempatkan bahan yang diperlukan dalam perpustakaan.
Adapun manfaat membaca cepat adalah sebagai berikut.
a. Untuk mencari informasi yang kita perlukan dari sebuah bacaan secara
cepat dan efektif.
b. Dalam waktu yang singkat dapat menelusuri bahan halaman buku atau
bacaan.
c. Tidak banyak waktu yang terbuang karena tidak perlu memerhatikan atau
membaca bagian yang tidak diperlukan.
46 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Tugas Individu
1. Bacalah teks berikut dengan menggunakan teknik skimming.
Kerajinan Etnik dan Cenderamata
Seseorang yang memutuskan untuk menekuni sebuah usaha, biasanya
diawali dengan kesenangan di bidang usaha itu. Penghasilan dari usaha
tersebut menjadi hal kedua yang diperhitungkan. Hal inilah yang dialami
oleh Sandra, seorang pengusaha kerajinan.
Sandra memutuskan untuk serius merintis usaha kerajinan mulai tahun
1997. Dia memilih bidang kerajinan sebab kerajinan yang menggunakan
bahan dasar daur ulang dan ramah lingkungan sudah menjadi perhatiannya
sejak masa sekolah. Pada awalnya ia hanya membuat barang-barang kecil
seperti kotak-kotak, tetapi barang tersebut memiliki bentuk yang unik,
sehingga menarik minat teman-temannya untuk membeli.
Setelah itu Sandra mulai mengembangkan produk dengan membuat
undangan bernuansa etnik, pernak-pernik untuk keperluan pesta pernikahan,
sampai cenderamata untuk berbagai kesempatan. Bahan-bahan yang
digunakan untuk keperluan tersebut semuanya berasal dari bahan dasar
daur ulang.
Bertahun-tahun berkecimpung dengan bahan dasar daur ulang untuk
membuat berbagai produk, ternyata tidak membuat Sandra menjadi bosan.
Dia tetap setia dengan produk dari daur ulang, mulai dari biji-bijian, daundaunan
kering, kerang, sampai pasir laut. Hasil dari kerja keras Sandra
telah berbuah manis. Sekarang ini ia sudah dapat mempekerjakan 10 perajin
tetap dan 5 perajin dengan sistem borongan. Produknya pun semakin
beragam, selain pernak-pernik, dia juga menerima pesanan untuk paket
pernikahan.
Sandra menjual produk cenderamata dari Rp2.500,00 hingga Rp25.000,00
per buah. Adapun untuk paket pernikahan, harganya tergantung bahan baku
dan kerumitan pembuatan, sesuai dengan model yang diinginkan pemesan.
Khusus untuk undangan pernikahan, harganya berkisar antara Rp2.500,00
hingga Rp22.500,00 per lembar.
Usaha Sandra kini dapat disebut sudah mantap. Konsumennya tidak
hanya di sekitar Surabaya, tetapi sampai ke Suriname, Belanda, dan Malaysia.
Meskipun konsumennya dari berbagai tempat, Sandra mengaku hingga kini
belum memiliki keinginan untuk mengekspor produknya. Ia pun tidak memiliki
impian untuk mengekspor produknya. Ia hanya menginginkan agar usaha
kerajinannya itu bisa bertahan dari generasi ke generasi berikutnya.
Sumber: Membuat Usaha Sukses dari Rumah, Penerbit Buku Kompas, 2006
(Diambil seperlunya dengan pengubahan)
Seni Budaya 47
2. Tutup buku Anda dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut untuk
mengukur pemahaman Anda mengenai isi bacaan.
a. Pada tahun berapa Sandra merintis usaha kerajinan dengan serius?
b. Apa alasan Sandra menggunakan bahan dasar daur ulang?
c. Apa saja barang-barang kerajinan yang dibuat oleh Sandra?
d. Berapa orang yang menjadi pekerja Sandra?
e. Faktor apa saja yang membuat harga cenderamata untuk paket
pernikahan berbeda dengan produk-produk lainnya?
f. Negara mana saja yang menjadi konsumen dari produk kerajinannya
Sandra?
g. Mengapa Sandra belum atau tidak ingin mengekspor produk
kerajinannya?
D. Menulis
1. Menulis dengan Memanfaatkan Kategori/Kelas
Kata
Sebuah kalimat sederhana dapat diperluas dengan menambahkan
keterangan pada frasa-frasa kalimat tersebut. Keterangan yang dapat
ditambahkan adalah keterangan tempat, waktu, alat, dan cara.
Perhatikan contoh berikut.
a. Iwan menulis surat. (kalimat sederhana)
b. Iwan menulis surat di kamarnya. (keterangan tempat)
c. Iwan menulis surat pada malam hari. (keterangan waktu)
d. Iwan menulis surat menggunakan bolpoin baru. (keterangan alat)
e. Iwan menulis surat dengan hati-hati. (keterangan cara)
Dalam bahasa Indonesia, keterangan tempat selalu terdiri atas kata depan
seperti ke, dari, dalam, ke atas, ke bawah, ke dalam, ke luar, dari atas,
dan dari bawah. Adapun keterangan cara memberikan keterangan tambahan
bagaimana suatu peristiwa, kegiatan, atau keadaan itu berlangsung. Keterangan
cara dapat diikuti dengan kata benda, tetapi dapat juga diikuti dengan kata
sifat.
Keterangan waktu menunjuk lamanya suatu proses atau keadaan
berlangsung, atau keadaan sesuatu, yang penggunaannya didahului dengan
numeralia. Dalam pemakaian, keempat kata keterangan itu dapat dikombinasikan,
misalnya, keterangan tempat dan keterangan waktu, atau dapat
juga keterangan cara dipadukan dengan keterangan tempat dan keterangan
waktu.
48 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
2. Menulis dengan Menggunakan Kata Berimbuhan
yang Menyatakan Proses dan Hasil
Penggunaan kata berimbuhan yang menyatakan proses dan hasil terdapat
pada imbuhan asli Indonesia maupun imbuhan asing. Beberapa contoh kata
yang menyatakan proses, antara lain, sebagai berikut.
a. Imbuhan me- seperti pada menata, menulis, dan menabung.
b. Imbuhan me(N)-kan seperti pada menayangkan, menebarkan, dan
menuliskan.
c. Imbuhan ber- seperti pada bergembira, berdoa, dan bernyanyi.
d. Imbuhan pe(N)-an seperti pada penayangan, penebangan, dan
pendaftaran.
e. Imbuhan –isasi seperti pada standarisasi, industrialisasi, dan
sentralisasi.
Beberapa contoh kata berimbuhan yang menyatakan hasil, antara lain, sebagai
berikut.
a. Imbuhan –an seperti pada tendangan, pukulan, dan hukuman.
b. Imbuhan pe(N)-an seperti pada pendanaan, pendulangan, dan
penataan.
c. Imbuhan per-an seperti pada pertobatan, perdamaian, dan persatuan.
Tugas Individu
1. Buatlah lima kalimat sederhana dan perluaslah kalimat tersebut dengan
keterangan tempat, waktu, alat, serta cara. Kemudian kombinasikan antara
satu keterangan dengan keterangan yang lain sehingga menjadi semakin
luas.
2. Bacalah teks di bawah ini dan daftarlah kata-kata berimbuhan yang
menyatakan proses dan hasil.
Mengembangkan Aksesori Keramik
Tidak berbeda dengan logam, batu, kayu, bahkan batok kelapa, ternyata
keramik juga bisa dibuat aksesori. Keramik sebagai aksesori memiliki
berbagai desain dan warna beraneka, dari warna alam hingga warna-warna
mencolok. Desainnya pun bisa dipesan, disesuaikan dengan busana yang
dipakai orang.
Salah seorang pembuat aksesori keramik adalah Elina Farida, yang
mengembangkan aksesori keramik sejak hampir 10 tahun lalu. Usaha ini
diawali dengan keisengannya saat masih kuliah di Jurusan Seni Keramik
Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB), sekitar tahun 1985.
Setiap praktik membuat keramik di kampus, Elina mengumpulkan sisa-sisa
Seni Budaya 49
tanah. Sisa tanah itu ia bentuk menjadi berbagai aksesori untuk digunakan
sendiri. Ia membuat bros, anting, liontin, atau gelang. Aksesori keramik yang
digunakannya itu ternyata menarik perhatian teman-teman. Elina pun
kemudian mengerjakan aksesori pesanan dari teman-temannya.
Elina menekuni pembuatan aksesori keramik di studio keramik di
rumahnya. Ia mengeluarkan modal sekitar Rp10.000.000,00 untuk menjalankan
usahanya. Saat ini Elina sudah mengembangkan berbagai desain aksesori,
mulai anting, kalung, bros, gelang, ikat pinggang, sampai kancing baju. Dia
juga merambah aksesori interior, seperti gelang serbet, cangkir, berbagai
wadah makanan, vas bunga, hiasan dinding, dan lantai.
Peminat produk buatan Elina umumnya berasal dari kelas masyarakat
yang sudah memiliki apresiasi cukup baik terhadap keramik. Elina rajin
mengikuti pameran, setidaknya dua kali setahun, untuk mendapatkan pembeli.
Selain di Jakarta, ia juga berpameran di Singapura, Malaysia, Jepang, dan
Dubai. Hasilnya? Setelah pameran ia bisa mendapat banyak pesanan. Ia
pernah mendapat pesanan aksesori keramik dari pembeli asal Eropa, Amerika,
Australia, Jepang, Dubai, Singapura, dan Malaysia. Bagi Elina, pameran
tidak hanya dijadikannya sebagai sarana mempromosikan produk, tetapi juga
mengamati minat pasar. Kalau sebuah desain tidak diminati para pengunjung
pameran, biasanya tidak diproduksi lagi.
Elina mengatakan, bahwa desain aksesori keramik harus penuh inovasi
dan kreatif, sebab pergantian trennya cepat, mengikuti tren busana. Oleh
karena sangkut pautnya sangat erat dengan tren busana, Elina sering mendapat
inspirasi dari mode terbaru untuk mengembangkan desain. Saat ini, ia
tengah mengangkat tren kembali ke alam. Desainnya menggambarkan
nuansa alam seperti bulir padi, bunga, atau dedaunan. Sebagian besar desain
terinspirasi dari benda-benda alam di Indonesia. Elina menuturkan lebih lanjut,
bahwa baginya menggunakan desain yang diadaptasi dari budaya sendiri
memiliki nilai jual lebih tinggi, sebab karakter budaya Indonesia tidak dimiliki
bangsa lain. Hal itulah yang membuat respons dari luar negeri sangat tinggi.
Modal untuk membuka usaha aksesori dari keramik sendiri ternyata
relatif tidak besar. Seseorang yang hanya memiliki modal Rp100.000,00
pun dapat menjalankan usaha aksesori keramik ini. Hal itu dimungkinkan
karena pembakaran bisa dilakukan dengan menyewa tungku di studio-studio
keramik. Adapun desainnya sendiri tidak memerlukan biaya, hanya
membutuhkan ketekunan dan keuletan.
Sumber: Membuat Usaha Sukses dari Rumah, Penerbit Buku Kompas, 2006
(Diambil seperlunya dengan pengubahan)
3. Coba Anda buat kalimat lain dengan menggunakan kata-kata berimbuhan
yang menyatakan proses dan hasil tersebut.
50 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Rangkuman
1. Keberhasilan seseorang dalam menangkap isi siaran berita bergantung pada
proses dan prinsip mendengarkan yang efektif. Adapun keefektifan mendengarkan
juga bergantung pada kondisi dan situasi kedua belah pihak, yaitu
komunikator dan komunikan.
2. Berdasarkan tujuannya, pidato dibedakan menjadi: pidato yang bertujuan
mendorong, pidato yang bertujuan meyakinkan, pidato yang bertujuan untuk
bertindak, pidato yang bertujuan memberitahukan atau mengabarkan, dan
pidato yang bertujuan menyenangkan atau hiburan.
3. Jenis-jenis metode pidato:
a. metode impromptu (serta merta);
b. metode menghafal;
c. metode naskah;
d. metode ekstemporan.
4. Membaca dengan teknik skimming atau pelayapan adalah upaya mengambil
intisari suatu bacaan berupa ide pokok. Adapun membaca dengan teknik
scanning atau pemindaian adalah teknik membaca cepat untuk memperoleh
informasi tanpa membaca yang lain atau langsung ke masalah yang dicari
berupa fakta khusus atau informasi tertentu.
5. Sebuah kalimat sederhana dapat diperluas dengan menambahkan keterangan
pada frasa-frasa kalimat tersebut. Keterangan yang dapat ditambahkan
adalah keterangan tempat, waktu, alat, dan cara.
6. Penggunaan kata berimbuhan yang menyatakan proses dan hasil terdapat
pada imbuhan asli Indonesia maupun imbuhan asing.
Beberapa contoh kata yang menyatakan proses adalah imbuhan me-; me(N);
ber-; pe(N)-an; –isasi.
Beberapa contoh kata berimbuhan yang menyatakan hasil adalah imbuhan
–an; pe(N)-an; per-an.
Latihan
A. Pilihlah jawaban yang paling benar!
1. Keefektifan memahami isi siaran berita bergantung pada ….
a. proses dan hasil mendengarkan d. proses dan hasil menikmati
b. proses dan hasil membaca e. proses dan hasil melakukan
c. proses dan hasil mengamati
Seni Budaya 51
2. Berikut yang tidak termasuk faktor yang dapat memengaruhi keefektifan
mendengarkan adalah ….
a. fisik komunikator dan komunikan
b. psikis kedua belah pihak
c. pengalaman kedua belah pihak terhadap isi siaran informasi
d. daya khayal antara komunikator dan komunikan
e. situasi saat berlangsungnya siaran informasi
3. Membaca kamus, ensiklopedi, dan indeks dapat dilakukan dengan cara
membaca ….
a. scanning c. sekilas e. intensif
b. skimming d. ekstensif
4. Artikulasi sangat dipentingkan dalam membaca, sebab dengan ketepatan
artikulasi ….
a. akan memudahkan pendengar mengambil isinya
b. akan memudahkan pendengar mencatat isinya
c. pendengar akan senang
d. pendengar akan mudah mengikuti
e. pendengar mudah menirukannya
5. Berikut yang merupakan artikulator manusia adalah ....
a. mata c. bibir e. hati
b. telinga d. tangan
6. Metode pidato yang mempersiapkan kerangka pidato dan mengembangkannya
selama pidato disebut metode ...
a. serta merta c. ekstemporan e. tanpa teks
b. naskah d. menghafal
7. Ia membaca buku di kamar.
Kalimat di atas mendapat tambahan keterangan ….
a. keadaan c. alat e. tempat
b. cara d. waktu
8. Sebuah kalimat sederhana dapat diperluas dengan menambahkan keterangan
pada frasa-frasa kalimat tersebut. Berikut keterangan yang tidak
ditambahkan adalah keterangan ….
a. cara c. waktu e. sebab
b. alat d. tempat
9. Merupakan kata-kata berimbuhan yang menyatakan hasil adalah ….
a. penayangan; penebangan; pendaftaran
b. menayangkan ; menebarkan; menuliskan
c. bergembira; berdoa; bernyanyi
d. standarisasi; industrialisasi; sentralisasi
e. pendanaan; pendulangan; penataan
52 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
10. Berpidato secara mendadak dengan improvisasi adalah ....
a. serta merta c. ekstemporan e. terencana
b. naskah d. menghafal
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Sebutkan faktor yang memengaruhi keefektifan mendengarkan!
2. Apa yang dimaksud dengan pidato impromtu?
3. Jelaskan yang dimaksud dengan teknik membaca skimming dan scanning!
4. Sebutkan tujuan dan manfaat membaca cepat!
5. Sebutkan imbuhan-imbuhan pada kata yang menyatakan proses dan hasil!
Berilah contoh dalam bentuk kalimat!
Sekilas Pengetahuan Bahasa
Ragam bahasa orang yang berpendidikan atau bahasa dunia pendidikan,
merupakan pokok yang sudah banyak ditelaah orang dan diajarkan di sekolah.
Sejarah umum perkembangan bahasa menunjukkan bahwa ragam itu memperoleh
gengsi dan wibawa yang tinggi karena dipakai oleh kaum berpendidikan yang
kemudian dapat menjadi pemuka di berbagai bidang kehidupan yang penting.
Ragam itu kemudian menjadi tolok bandingan pemakaian bahasa yang benar.
Fungsinya sebagai tolok menghasilkan nama bahasa baku atau bahasa standar.
Ragam bahasa standar memiliki sifat kemantapan dinamis berupa kaidah
dan aturan yang tetap. Baku atau standar tidak dapat berubah setiap saat. Kaidah
pembentukan kata yang menghasilkan bentuk perasa dan perumus dengan taat
asas harus dapat menghasilkan bentuk perajin dan perusak, bukan pengrajin
dan pengrusak. Kehomoniman yang timbul akibat penerapan kaidah itu bukan
alasan yang cukup kuat untuk menghalalkan penyimpangan itu. Bahasa mana
pun tidak dapat luput dari kehomoniman. Di pihak lain, kemantapan itu tidak
kaku, tetapi cukup luwes sehingga memungkinkan perubahan yang bersistem
dan teratur di bidang kosa kata dan peristilahan serta mengizinkan perkembangan
berjenis ragam yang diperlukan di dalam kehidupan modern.
Ciri kedua yang menandai bahasa baku ialah sifat kecendekiaannya.
Perwujudan dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa lain yang lebih besar
mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal.
Baku atau standar menuntut keseragaman. Proses pembakuan berarti proses
penyeragaman kaidah, bukan penyamaan ragam bahasa atau penyeragaman
variasi bahasa.
Sumber: Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Balai Pustaka 2003
Informasi 53
Tema
4
INFORMASI
Sumber: Kompas, 10 Februari 2008
Tujuan Pembelajaran:
1. Menyimak penggunaan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda dalam wawancara.
2. Melafalkan kata dengan menggunakan ragam bahasa baku.
3. Memahami fungsi ragam bahasa baku dan tidak baku.
4. Memahami informasi tertulis dengan memanfaatkan kamus.
5. Memahami bentuk kata dalam bahasa Indonesia.
6. Memahami makna denotatif dan makna konotatif.
54 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Pendahuluan
Pada pertemuan ini Anda akan memelajari empat aspek kemampuan berbahasa,
yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada aspek mendengarkan,
Anda akan diajak menyimak untuk memahami lafal, tekanan, intonasi, dan jeda dalam
wawancara. Pada aspek berbicara, Anda akan memelajari cara melafalkan kata dengan
menggunakan ragam bahasa baku serta memahami fungsi ragam bahasa baku dan
tidak baku. Bagaimana cara memahami informasi tertulis dengan memanfaatkan kamus
dapat Anda temui pada aspek membaca. Adapun pada aspek terakhir, yaitu menulis,
Anda diajak untuk memahami bentuk kata dalam bahasa Indonesia serta memahami
makna denotatif dan makna konotatif.
Setiap aspek di atas akan dilengkapi dengan tugas, berupa tugas individu atau
kelompok, untuk merangsang dan memotivasi Anda berpikir kreatif dalam memahami
uraian materi. Selain itu, pada akhir bab Anda akan menemui rangkuman dan pelatihan.
Rangkuman berguna untuk mengingatkan Anda kembali mengenai isi materi yang
telah dipelajari. Adapun pelatihan akan membantu mengukur sejauh mana pemahaman
materi yang telah Anda capai dengan cara mengerjakan soal-soal.
A. Menyimak
Menyimak Penggunaan Lafal, Tekanan, Intonasi, dan
Jeda dalam Wawancara
Penggunaan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda juga sering
kita temui pada peristiwa wawancara. Proses wawancara
akan tercapai tujuannya apabila pewawancara dan narasumber
dapat menggunakan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda
yang tepat dalam bertutur. Tujuan ini dapat tercapai karena
penggunaan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang tepat akan
memudahkan kedua pihak, yaitu pewawancara dan narasumber,
untuk memahami isi pembicaraan di antara mereka.
Di media, baik cetak maupun elektronik, sekarang ini
sering kita jumpai bahasa tutur dalam wawancara yang tidak
tepat penggunaannya, baik oleh pewawancara maupun
narasumber. Pewawancara, khususnya, hendaknya memiliki
bekal pengetahuan berbahasa yang baik dan benar dalam
menjalankan tugasnya. Apalagi jika pewawancara akan
melakukan wawancara dalam situasi yang sifatnya resmi,
misalnya, mewancarai tokoh, pejabat, atau seseorang yang
memiliki kedudukan tertentu di masyarakat. Oleh karenanya, penguasaan lafal,
tekanan, intonasi, dan jeda sangatlah penting dalam wawancara.
Gambar 4.1 Tujuan
wawancara akan
tercapai jika
menggunakan lafal,
tekanan, intonasi, dan
jeda yang tepat
Sumber: Jawa Pos, 24 Juni
2007
Informasi 55
Cara paling efektif bagi pewawancara agar dapat menggunakan bahasa yang
baik dalam wawancara adalah menyusun daftar pertanyaan secara tertulis terlebih
dahulu. Daftar pertanyaan wawancara memuat apa saja yang akan ditanyakan
pewawancara kepada narasumber. Sebelum melakukan wawancara, pewawancara
dapat mengoreksi kembali tata bahasa dalam daftar pertanyaannya. Hal ini
bertujuan agar saat berlangsungnya acara tanya jawab, bahasa yang digunakan
oleh pewawancara tidak menyimpang dari kaidah tata bahasa yang baik dan benar.
Tugas Individu
1. Simaklah wawancara berikut yang akan dibacakan oleh dua orang teman
Anda (satu orang menjadi pewawancara dan satu orang lagi menjadi
narasumber).
Ibarat Oksigen, Informasi Harus Sehat
Wacana kemungkinan masuknya sistem pemberedelan media ke dalam
revisi Undang-Undang Nomor 40/1999 tentang pers akan mereduksi kebebasan
pers dan berpengaruh terhadap melemahnya kritisisme publik. Berikut
wawancara Jawa Pos dengan Menteri Komunikasi dan Informatika Prof.
Dr. Ir. Mohammad Nuh.
Bagaimana pandangan Anda tentang siginifikansi pemberedelan
media?
Kita harus merujuk pada kesadaran lebih dulu bahwa pers itu merupakan
pilar bagi masyarakat madani (civil society). Selain menjadi fungsi kontrol
strategis, media juga merupakan instrumen penting bagi terjadinya transformasi
sosial. Karena itu, pada prinsipnya kebebasan untuk menyatakan
pendapat menjadi keniscayaan. Jadi, bagaimana mungkin kita bisa menyampaikan
kontrol yang benar kalau hak orang berbicara dibatasi. Jadi, saya
berprinsip, jangan sampai media sebagai trasmitter diputus.
Jadi kebebasan media tetap perlu dipertahankan?
Benar. Hak dasar media harus dipenuhi. Tetapi, perlu dipahami, bukan
sekadar kebebasan pers (freedom of press) yang harus penuhi tetapi juga
tanggung jawab media yang matang. Sebab, kebebasan tanpa tanggung
jawab akan mengakibatkan chaos. Karena, tidak selalu yang disampaikan
media itu selalu benar. Tentu ada kemungkinan memuat kekhilafan.
Apakah derajat kebebasan pers di Indonesia sudah masuk kategori
mengkhawatirkan?
Saya tidak bisa mengeneralisasi kondisi saat ini dalam kategori tertentu.
Karena penilaian itu bisa berubah sesuai waktu. Kadang, media dalam
menampilkan berita bisa proporsional, standar, atau bisa saja kurang. Kita
56 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
harus melihatnya kasus per kasus. Jadi tidak bisa dikategorikan secara
umum. Yang perlu kita dorong adalah, memberikan kebebasan dan tanggung
jawab dalam konteks membangun bangsa. Karena itu, pemerintah tidak
akan berkonsentrasi mengatur wilayah teknis dalam perubahan UU Pers.
Pemerintah berharap ada perubahan dari yang bersifat teknis menuju yang
subtantif.
Artinya pemerintah tidak sepakat dengan ide pemberedelan?
Wis blas gak sepakat. Iku kurang kerjaan wae. Jadi, kita memberikan
kepada setiap media berupa self controlling. Media diberi keleluasaan untuk
memahami secara mendalam mana yang benar dan mana yang salah. Jadi,
bebas, tidak akan diberedel, tapi media juga tidak boleh sembarangan. Semua
harus memegang komitmen untuk bekerja secara konstruktif bagi bangsa ke
depan.
Jika pintu kebebasan dibuka lebar-lebar, bagaimana mekanisme kontrol
yang ideal bagi pers?
Secara alamiah, masyarakat memiliki sistem kontrol sendiri. Masyarakat
juga bisa mencermati kualitas media, mana yang beritanya tidak proporsional
dan mana yang profesional. Karena yang diperlukan publik itu kebenaran
informasi. Saya mengibaratkan, informasi itu seperti oksigen. Nah,
oksigen yang terkontaminasi polusi bukan menyehatkan, tetapi akan
menyakitkan. Jadi, informasi yang tidak baik dan bias itu ibarat informasi
yang mengandung Monosodium Glutamat (MSG). Karakter informasi yang
bias itu akan membuat publik semakin semangat untuk melahap. Dan, perlu
diingat, konsumsi semacam itu mengandung karsinogenik atau bahan awal
yang bisa menumbuhkan kanker. Jadi, kalau masyarakat kita terlalu banyak
disuguhi berita yang bias dan tidak mencerdaskan, maka mindset masyarakat
akan bergeser, yang ujung-ujungnya tidak benar.
Contohnya?
Dulu, mindset masyarakat mengatakan bahwa apa pun yang disampaikan
pemerintah itu salah, dan apa yang disampaikan media itu benar. Padahal,
keduanya bisa berpotensi benar, juga bisa salah. Alasannya sepele. Pada
prinsipnya, al-insanu mahalli al-khoto’wa al-nis’yan atau manusia itu
tempatnya salah dan lupa. Media yang dijalankan manusia itu juga bisa
berpeluang salah. Jadi, pemeritnah yang dipersepsikan memiliki intensitas
kepentingan tinggi tidak selalu salah. Untuk itu saya tegaskan sekali lagi,
yang dibutuhkan adalah menyeimbangkan degree of freedom dan degree of
responsibility.
Bagaimana tentang urgensi perubahan UU Pers itu sendiri?
Prinsipnya, yang namanya peraturan perundangan itu selalu bergantung
waktu (certain time), contain atau isi, dan konteks. Kalau kita berpikir
positif, setiap perubahan itu bisa dilakukan dalam rangka perbaikan. Jadi,
Informasi 57
perubahan perlu dijalankan tanpa harus menyalahkan yang lalu-lalu. Selain
itu, undang-undang yang lama tetap dipengaruhi konteks sosial atau asbabu
annuzul yang berbeda dengan konteks kontemporer. Berangkat dari prinsip
dasar itu, maka setiap pergeseran waktu selalu memerlukan perbaikan aturan
lewat perubahan-perubahan. Prinsip itu berlaku umum kecuali pada Alquran
yang tidak boleh digonta-ganti.
Apa saja yang belum terakomodasi dalam perubahan itu?
Tentang perlindungan kerja para insan pers harus diakomodasi. Karena
jurnalis juga perlu mendapatkan kepastian dalam kerja, jaminan hidup,
seperti pendapatan yang layak sebagai pekerja. Artinya, industri pers dituntut
untuk serius, tidak sekadar terbit lalu tutup. Kita jangan hanya melindungi
lembaga persnya, tetapi juga para insan pekerja persnya. Pers harus
memberikan optimisme bagi publik, bukan karena saya sekarang yang duduk
di pemerintahan. Negara ini milik kita bersama. Terkait tentang kemungkinan
masuknya pidana pers sebagai lex specialist atau tidak, saya belum
punya pendapat. Semua terserah rekan-rekan pers untuk mengkajinya
terlebih dahulu.
Sumber: Jawa Pos, 24 Juni 2007 (Diambil seperlunya)
2. Daftarlah kata-kata yang lafalnya diucapkan dengan lafal tidak baku,
kemudian betulkan lafal tersebut agar menjadi lafal yang baku.
3. Daftarlah kalimat-kalimat yang menggunakan tekanan, intonasi, dan jeda
yang sejenis.
4. Cermati istilah-istilah asing yang terdapat pada dialog. Apakah istilah
tersebut dipengaruhi oleh lafal, tekanan, intonasi, dan jeda? Berilah
alasannya.
5. Bagaimana kalimat-kalimat yang terdapat dalam wawancara tersebut?
Apakah sudah mewakili kalimat yang baik dan benar secara tata bahasa
dan situasi? Tunjukkan bukti dan alasannya.
Tugas Kelompok
1. Bentuklah siswa di kelas Anda menjadi beberapa kelompok untuk
melakukan wawancara mengenai bahasa tutur guru ketika sedang
menginformasikan pelajaran kepada siswa dari segi tata bahasanya, apakah
para guru tersebut sudah mempraktikkan tata bahasa yang baik dan benar
dalam pengajarannya. Coba Anda minta kepada guru yang diwawancarai
untuk jujur mengungkapkannya.
58 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
2. Narasumber yang akan diwawancarai adalah para guru di sekolah Anda
dari berbagai bidang studi yang Anda pelajari. (Setiap kelompok dapat
menentukan satu orang guru studi sebagai narasumbernya, misalnya guru
Matematika, guru Bahasa Indonesia, dan seterusnya).
3. Susunlah daftar pertanyaan Anda terlebih dahulu sebelum melakukan
wawancara. Diskusikan dengan anggota kelompok Anda mengenai tata
bahasanya.
4. Setelah daftar pertanyaan tersebut selesai Anda buat, lakukan wawancara
dengan sikap yang santun. Cermati pula tata bahasa yang digunakan oleh
para narasumber ketika sedang diwawancarai. Rekamlah wawancara Anda
tersebut apabila perlu.
5. Buatlah laporan dan kesimpulannya setelah Anda selesai melakukan
wawancara.
6. Bandingkan hasil kerja kelompok Anda dengan hasil kerja kelompok lain.
B. Berbicara
1. Melafalkan Kata dengan Menggunakan Ragam
Bahasa Baku
Pemakai bahasa dikatakan benar apabila si pemakai bahasa memakai
bahasa sesuai dengan peraturan yang berlaku, baik yang menyangkut ejaan
dan struktur bahasa. Perhatikan contoh berikut.
a. Saya belon makan nasi.
b. Saya belum makan nasi.
Kedua kalimat di atas adalah benar menurut struktur bahasa Indonesia
dan menurut ejaan bahasa Indonesia, tetapi berlainan ragamnya, yang satu
ragam tak resmi (tak baku) dan satunya lagi ragam resmi (baku). Dalam
membicarakan ragam bahasa baku dan tidak baku, kita hendaknya memerhatikan
beberapa hal berikut.
a. Bahasa baku merupakan ragam bahasa yang dipakai dalam situasi resmi
atau formal, baik lisan maupun tertulis. Pemakaian bahasa baku ini
terdapat pada:
1) pembicaraan di muka umum, misalnya, pidato, seminar, rapat;
2) pembicaraan dengan orang yang dihormati, misalnya, dengan guru,
pejabat, atasan;
3) komunikasi resmi, misalnya, surat dinas, surat lamaran pekerjaan,
surat izin;
4) wacana teknis, misalnya, laporan penelitian, makalah, tesis.
Informasi 59
b. Segi kebahasaan yang telah diupayakan pembakuannya, meliputi:
1) tata bahasa yang mencakup bentuk dan susunan kata atau kalimat
yang berpedoman pada tata bahasa Indonesia yang baik dan benar,
2) kosa kata yang berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia,
3) istilah kata yang berpedoman pada Pedoman Pembentukan Istilah,
4) ejaan yang berpedoman pada Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan, dan
5) kriteria lafal baku adalah tidak menampakkan dialek kedaerahan.
2. Memahami Fungsi Ragam Bahasa Baku dan Tidak
Baku
Ragam bahasa baku dan tidak baku
berkaitan dengan situasi dan kondisi pemakaiannya.
Ragam bahasa baku biasanya
digunakan pada situasi dan kondisi resmi.
Adapun ragam bahasa tidak baku pada
umumnya digunakan untuk pergaulan
sehari-hari, yang memang tidak menuntut
keformalan berbahasa.
Penggunaan bahasa baku memiliki
fungsi sebagai berikut.
a. Pemersatu, pemakaian bahasa baku
dapat memersatukan sekelompok orang menjadi satu kesatuan masyarakat
bahasa. Seseorang dapat dikatakan sebagai bangsa Indonesia, antara lain,
ditandai oleh kemampuannya dalam menggunakan bahasa Indonesia
secara baik dan benar.
b. Pemberi kekhasan, pemakaian bahasa baku dapat menjadi pembeda
dengan masyarakat pemakai bahasa lainnya.
c. Pembawa kewibawaan, pemakaian bahasa baku dapat memperlihatkan
kewibawaan pemakainya.
d. Kerangka acuan, bahasa baku menjadi tolok ukur benar tidaknya
pemakaian bahasa seseorang atau sekelompok orang.
Tugas Individu
1. Bacalah wacana berikut dengan saksama.
Mengkaji Wajah Iklan di Televisi
Deregulasi pemerintah yang bergulir, khususnya di dunia pertelevisian
nasional, ternyata telah menciptakan realitas baru. Di satu sisi, muncul
Gambar 4.2 Wawancara resmi
hendaknya menggunakan ragam
bahasa baku
Sumber: Kompas,23 Desember 2007
60 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
banyak industri televisi yang diikuti munculnya iklan-iklan baru yang
jumlahnya sangat banyak dengan kreativitas yang sangat beragam. Televisi
dan iklan adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan keberadaannya, TV
tanpa iklan lumpuh, demikian juga iklan tanpa TV buta. Mengapa demikian?
Dari hasil riset dapat diketahui bahwa hampir 80% belanja iklan saat ini
dihabiskan di kotak ajaib itu.
Di sisi lain, kehadiran banyaknya stasiun TV swasta akhir-akhir ini
telah menciptakan realitas lain, di mana karakteristik masyarakat berubah
menjadi pemirsa (viewer society). TV telah menjadi media yang paling
populer dan akrab di masyarakat. Mengapa demikian? Pertama, isi pesan
mudah dijangkau terlepas dari status sosial ekonomi mereka, di samping
orientasi tayangannya yang menghibur. Kedua, dari perspektif teori
komunikasi yang menyebabkan TV sedemikian akrab dan populer adalah
sifat media televisi yang auditif (didengar) dan visual (dilihat). Faktor ketiga
adalah keterjangkauannya. Artinya, tanpa harus memiliki pesawat televisi
misalnya, orang dapat menikmati siaran. Contoh tipikal adalah fenomena
menonton televisi di daerah pedesaan. Di sana menonton siaran televisi
adalah peristiwa sosial, dan bukannya kegiatan individual. Bahkan fenomena
seperti itu akhir-akhir ini tidak hanya berlangsung di pedesaan, tapi di
perkotaan pun juga ada istilah nonbar (nonton bareng) pada saat acaraacara
tertentu.
Iklan merupakan produk budaya massa. Suatu kebudayaan masyarakat
industri yang ditandai oleh produk massal konsumsi massal. Kepraktisan
dan pemuasan jangka pendek merupakan ciri serta nilai utama budaya
massa. Dalam konteks seperti itu, sektor industri dan bisnis memandang
massa tidak lebih sebagai konsumen. Maka hubungan yang berlaku pun
hubungan komersial semata. Artinya, tidak ada fungsi lain dari iklan selain
memanipulasi kesadaran, selera, dan perilaku konsumen. Untuk merangsang
jual beli dan konsumsi secara massal itulah iklan diciptakan.
Pada dasarnya iklan menjalankan dua fungsi, yakni pertama, memberi
informasi pada konsumen tentang ciri, kualitas, dan keunggulan sebuah
produk. Kedua, iklan melakukan persuasi agar produk yang diiklankan
tersebut dibeli/laku oleh konsumen.
Sebagaimana pengaruh media massa terhadap khalayak, iklan sebagai
bagian dari isi media massa memiliki dampak pada masyarakat. Terlepas
dari kontroversi seputar pengaruh iklan pada masyarakat, realitas menunjukkan
bahwa iklan mampu memengaruhi kognisi (pengetahuan), afeksi
(perasaan), bahkan behavioral (perilaku) manusia.
Kekhawatiran umum terutama berdasarkan pada pendapat bahwa motif
memperoleh keuntungan (profit oriented) merupakan motif utama dari
kegiatan periklanan dengan sendirinya akan menyebabkan manipulasiInformasi
61
manipulasi informasi serta menafikan etika periklanan. Dampak iklan yang
lain adalah menimbulkan budaya masyarakat yang konsumtif. Dampak lebih
lanjut adalah terlihat adanya perubahan gaya hidup masyarakat (yang jadi
korban).
Berbicara tentang iklan tidak bisa dilepaskan dengan eksistensi
perempuan, sebab hampir seluruh iklan di televisi kita menampilkan
perempuan. Wajah perempuan dalam iklan televisi kita masih diposisikan
tidak lebih sebagai objek seks. Banyak iklan yang sebenarnya tidak perlu
menampilkan perempuan, namun memaksakan diri menampilkan perempuan
dalam iklannya. Tujuannya adalah untuk merangsang daya tarik penonton
(calon konsumen).
Kadang memang menjadi sebuah dilema bagi para praktisi periklanan.
Di satu sisi harus mampu menjalankan fungsi dan misinya yang profit
oriented, yakni menjual produk dengan merancang dan menampilkan iklan
sedemikian rupa sehingga mampu menarik calon konsumen, namun di sisi
lain telah memunculkan dampak-dampak buruk dari iklan tersebut.
Solusinya adalah dengan merancang dan menampilkan iklan ”cerdas”.
Iklan cerdas adalah iklan yang mampu menyuguhkan tontonan yang
menarik dan kreatif sekaligus mampu menjadi tuntunan (bernilai edukasi)
bagi masyarakat, tanpa harus memanipulasi informasi, menafikan etika,
bias gender, serta mampu mengeliminir dampak-dampak negatif sebagaimana
telah diungkapkan di atas. Iklan cerdas ini akan menjadi harapan
sekaligus tantangan bagi praktisi periklanan.
Sumber: Solopos, 2 Maret 2008 (Diambil seperlunya dengan perbaikan)
2. Ceritakan kembali secara lisan isi wacana tersebut dengan bahasa Anda
sendiri menggunakan bahasa yang baik dan benar.
3. Berilah tanggapan pula secara lisan mengenai isi wacana tersebut.
Tanggapan dapat berupa persetujuan atau penolakan disertai dengan alasan
yang logis.
4. Siswa yang lain dapat menyimak dan memberi komentar mengenai
ketepatan pemakaian bahasa baku yang digunakan oleh teman yang
menceritakan kembali isi wacana.
C. Membaca
Memahami Informasi Tertulis dengan Memanfaatkan
Kamus
Kita sering menjumpai kata-kata penting pada suatu bacaan. Kata-kata tersebut
kadang tidak kita ketahui artinya, baik secara leksikal maupun gramatikal, karena
62 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
keterbatasan pengetahuan kita. Oleh karenanya, kita dapat memanfaatkan kamus
untuk mengetahui arti kata-kata tersebut.
Kamus adalah alat bantu untuk menuntun kita memahami makna sebuah kata.
Berdasarkan luas lingkup isinya, kamus dibedakan sebagai berikut.
1. Kamus umum, yaitu kamus yang memuat semua kata dalam sebuah bahasa.
Misalnya, Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI).
2. Kamus khusus/kamus istilah, yaitu kamus yang hanya memuat kata-kata dari
suatu bidang tertentu. Misalnya, kamus linguistik, kamus istilah teknologi,
atau kamus istilah kedokteran.
3. Kamus ekabahasa, yaitu kamus yang memuat kata-kata dari satu bahasa,
biasanya berisi definisi, sinonim, dan contoh penggunaan dalam kalimat.
Misalnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
4. Kamus dwibahasa, yaitu kamus yang memuat dua bahasa, biasanya berisi
kata dari sebuah bahasa yang makna atau definisinya dijelaskan dengan bahasa
lain (terjemahan). Misalnya, kamus Inggris–Indonesia.
5. Kamus multibahasa, yaitu kamus yang memuat lebih dari dua bahasa.
Misalnya, Kamus Jerman–Inggris–Indonesia.
Bagian-bagian kamus biasanya dimulai dari petunjuk penggunaan, batang
tubuh, dan indeks. Bagian-bagian batang tubuh kamus meliputi hal-hal berikut.
1. Lema, berupa kata tunggal, kata majemuk, kata ulang, afiks, bahkan akronim
yang disusun seara alfabetis. Biasanya, penulisan lema dibuat cetak tebal
dan ditulis dengan pemenggalan berdasarkan pedoman EYD.
Contoh:
in.for.ma.si n 1 orang yang memberi informasi; …
in.for.ma.tif a bersifat memberi informasi; bersifat menerangkan; …
2. Label, merupakan penjelasan tentang ragam
bahasa, bidang ilmu, kelas kata, dan daerah atau
negara asal dari kata yang dimaksud.
Contoh:
a. Label kelas kata
a (adjektiva), adv (adverbia), n (nomina),
num (numeralia), p (partikel), pron
(pronomina), v (verba)
b. Label akronim
akr (akronim)
c. Label kependekan
kp (kependekan)
d. Label bidang ilmu
Bio (biologi)
Gambar 4.3 Teknik
membaca memindai
berlaku dalam membaca
kamus
Sumber: KBBI, Balai Pustaka 2002
Informasi 63
3. Makna, merupakan penjelasan mengenai medan makna dari kata atau lema
yang bersangkutan. Apabila sebuah kata memiliki makna lebih dari satu,
namun masih dalam medan makna yang sama (polisemi), maka penjelasannya
diberi nomor. Penjelasan tersebut biasanya dilengkapi dengan contoh
penggunaan dalam kalimat.
Contoh:
me.dia n 1 alat; 2 alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio,
televisi, film, poster, dan spanduk; 3 yang terletak di antara dua pihak (orang,
golongan, dsb): wayang bisa dipakai sbg — pendidikan; …
4. Sublema, memuat kata yang bersangkutan yang telah mengalami proses
afiksasi.
Contoh:
1si.ar v, me.nyi.ar.kan v 1 meratakan ke mana-mana: …
ter.si.ar v telah diumumkan; …
si.ar.an n yang disiarkan (di berbagai-bagai arti): …
per.si.ar.an ark n pengumuman; …
pe.nyi.ar n 1 orang yang menyiarkan; …
pe.nyi.ar.an n proses, cara, perbuatan menyiarkan
Tugas Individu
1. Bacalah kembali wacana yang berjudul Mengkaji Wajah Iklan di Televisi
dengan cermat.
2. Daftarlah kata-kata penting yang terdapat pada wacana tersebut dan carilah
artinya di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
3. Buatlah kalimat baru berdasarkan kata-kata penting yang Anda daftar
tersebut (masing-masing satu kalimat).
Tugas Kelompok
1. Bentuklah siswa di kelas Anda menjadi beberapa kelompok (satu kelompok
beranggotakan 4 – 5 orang).
2. Setiap kelompok mendaftar minimal 10 kata penting yang berhubungan
dengan tema informasi, misalnya, kata media, siaran, berita.
3. Carilah arti dari kata-kata yang didaftar tersebut di dalam Kamus Bahasa
Indonesia.
4. Salinlah secara lengkap mengenai kata-kata tersebut (lema, label, definisi,
dan sublemanya).
64 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
D. Menulis
1. Memahami Bentuk Kata dalam Bahasa Indonesia
Bentuk kata yang terdapat pada bahasa Indonesia terdiri atas kata dasar,
kata berimbuhan, kata ulang, dan kata majemuk.
a. Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang menjadi dasar bentukan kata yang lebih besar.
Contoh:
Kata dasar tolong dapat dibentuk menjadi kata yang lebih besar lagi,
seperti menolong, penolong, pertolongan, tolong-menolong.
b. Kata berimbuhan
Kata berimbuhan adalah kata yang mendapatkan imbuhan atau afiks
(prefiks, infiks, sufiks, atau konfiks).
Contoh:
Kata Dasar Imbuhan Jenis Kata Berimbuhan
ganjal meng- prefiks mengganjal
usaha ber- berusaha
lebar per- perlebar
tanda ter- tertanda
suling -er- infiks seruling
tapak -el- telapak
tekan -an sufiks tekanan
jasmani -ah jasmaniah
pukul me-i konfiks memukuli
lupa me-kan melupakan
debat memper-kan memperdebatkan
indah ke-an keindahan
baik per-i perbaiki
c. Kata ulang
Kata ulang adalah kata yang terjadi sebagai hasil reduplikasi.
Contoh: baju-baju, sayur-mayur, berbunga-bunga, kedua-duanya, dan
sebagainya.
d. Kata majemuk
Kata majemuk adalah gabungan kata yang membentuk makna baru.
Contoh: sepakbola, air mata, rumah sakit, dan sebagainya.
Informasi 65
Tugas Individu
1. Bacalah wacana di bawah ini dengan cermat.
Ratapan Anak Bangsa di Layar Kaca
Kekerasan tidak hanya muncul di sinetron, namun juga di film kartun
untuk anak-anak, acara bincang-bincang, hingga berita-berita.
Sunarto, doktor Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia yang meneliti
kekerasan televisi terhadap perempuan, menengarai, kekerasan yang terusmenerus
ditonton orang tua sekalipun bisa menimbulkan disentilasi atau
penumpulan kepekaan.
”Berdasar studi resepsi, pengaruh tayangan kekerasan bervariasi pada
setiap orang. Orang tua biasanya sudah mempunyai kedewasaan mental
psikologis sehingga bisa memilah-milah. Namun, jika menonton tayangan
itu lebih dari empat jam sehari, orang menjadi tidak peka. Melihat kekerasan
diam saja,” kata Sunarto.
Selain kekerasan, banyak pula cerita di sinetron yang tidak masuk akal
dan membodohi. Tebaran cerita yang membodohi itu muncul pula dalam
film televisi atau sinetron berbau mistik, supranatural, horor, bahkan atas
nama moral dan agama.
Tidak hanya sinetron, bahkan tayangan animasi untuk anak-anak pun,
berdasarkan penelitian Sunarto, ternyata berpengaruh menyemaikan
kekerasan pada wanita dan anak-anak. Kekerasan psikologis dilakukan
dengan memarahi, membuat jengkel, mengancam, mengejek. Kekerasan
seksual misalnya dengan mempermalukan di depan umum, atau merayu
untuk menipu. Adapun kekerasan fungsional misalnya dengan memaksa
datang ke suatu tempat.
Menurut dosen FISIP Universitas Indonesia, Dedy N. Hidayat, tayangan
kekerasan yang dikonsumsi terus akan tampil dalam persepsi penonton
sebagai realitas simbolis. Ini adalah suatu realitas yang sedikit banyak
berpijak pada realitas objektif dalam masyarakat meski penonton sadar
tayangan itu hanyalah fiktif. Bisa jadi, penonton menempatkan adegan itu
sebagai alternatif perilaku yang bisa dilakukan saat menghadapi situasi
tertentu.
Selama rating masih dijadikan patokan oleh industri pertelevisian,
selama itu pula pendidikan lewat televisi tidak berjalan. Industri televisi
butuh hidup untuk membiayai produksi. Rating rendah akan berpengaruh
pada perolehan iklan yang rendah pula sehingga tidak bisa menutup biaya
produksi. Alasan yang selalu dikemukakan itu memang masuk akal.
66 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Tarik-menarik antara idealisme dan komersialisme di jagat pertelevisian
agaknya akan selalu ada. Sejak tahun 1990-an televisi sudah kerap dikritik
soal kekerasan dan cerita tidak masuk akal itu, namun seperti layaknya
tren, hal itu berulang dan berulang lagi.
Barangkali bukan anak tiri yang meratap, tetapi anak bangsa!
Sumber: Kompas, 29 Juli 2007 (Diambil seperlunya)
2. Carilah bentuk kata dalam teks di atas kata berimbuhan, kata ulang, dan
kata majemuknya.
3. Buatlah kalimat baru dengan menggunakan bentuk kata yang Anda temukan
dari teks di atas.
2. Memahami Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif disebut juga makna lugas atau makna sebenarnya, yaitu
makna yang sesuai dengan makna yang terdapat dalam kamus. Makna ini
bersifat objektif.
Contoh:
a. Tangan kanan Iwan terluka ketika sedang bermain sepak bola.
b. Anak itu tangannya kotor sekali.
Adapun makna konotatif disebut juga makna sampingan, yaitu makna
yang didasarkan atas perasaan tertentu atau nilai rasa tertentu, di samping
makna dasar yang umum. Makna ini bersifat subjektif.
Contoh:
a. Ayah Iwan adalah tangan kanan pemilik perusahaan besar itu.
b. Jangan berpangku tangan saja melihat kejadian itu.
Tugas Individu
1. Coba Anda berikan 10 contoh makna denotatif dan konotatif.
2. Buatlah kalimat berdasarkan makna kata yang Anda contohkan tersebut
sehingga maknanya menjadi lebih jelas.
3. Tukarkan pekerjaan Anda dengan teman sebangku. Catatlah hasil pekerjaan
teman Anda untuk menambah pengetahuan mengenai makna denotasi dan
konotasi.
Informasi 67
Rangkuman
1. Seorang pewawancara hendaknya menguasai kemampuan berbahasa (lafal,
tekanan, intonasi, jeda) yang baik dan benar dalam menjalankan tugasnya.
2. Ragam bahasa baku dan tidak baku berkaitan dengan situasi dan kondisi
pemakaiannya. Ragam bahasa baku biasanya digunakan pada situasi dan
kondisi resmi. Adapun ragam bahasa tidak baku pada umumnya digunakan
untuk pergaulan sehari-hari, yang memang tidak menuntut keformalan
berbahasa.
3. Kamus adalah alat bantu untuk menuntun kita memahami makna sebuah
kata. Berdasarkan luas lingkup isinya, kamus dibedakan menjadi kamus
umum, kamus khusus/kamus istilah, kamus ekabahasa, kamus dwibahasa,
dan kamus multibahasa. Bagian-bagian kamus biasanya dimulai dari
petunjuk penggunaan, batang tubuh, dan indeks. Bagian-bagian batang tubuh
kamus meliputi lema, label, makna, dan sublema.
4. Bentuk kata yang terdapat pada bahasa Indonesia terdiri atas kata dasar,
kata berimbuhan, kata ulang, dan kata majemuk.
5. Makna denotatif disebut juga makna lugas atau makna sebenarnya, yaitu
makna yang sesuai dengan makna yang terdapat dalam kamus, bersifat
objektif. Adapun makna konotatif disebut juga makna sampingan, yaitu
makna yang didasarkan atas perasaan tertentu atau nilai rasa tertentu, di
samping makna dasar yang umum, bersifat subjektif.
Latihan
A. Pilihlah jawaban yang paling benar!
1. Cara paling efektif agar pewawancara dapat mempergunakan bahasa yang
baik dalam proses wawancara adalah ….
a. menyusun kesimpulan hasil wawancara dengan bahasa yang baik dan
benar
b. menyusun daftar pertanyaan terlebih dahulu dengan menggunakan bahasa
yang baik dan benar
c. memasukkan istilah asing ke dalam daftar pertanyaan sehingga terkesan
intelek
d. memohon kepada narasumber agar menggunakan bahasa yang baik dan
benar ketika menjawab pertanyaan
e. memasukkan dialek kedaerahan di dalam daftar pertanyaan agar terkesan
akrab
68 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
2. Penggunaan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang tepat di dalam wawancara,
baik oleh pewawancara maupun narasumber, memiliki tujuan ….
a. mengakrabkan situasi sehingga wawancara dapat berjalan dengan lancar
b. menghangatkan suasana sehingga proses wawancara berjalan dinamis
dan tidak monoton
c. memudahkan kedua belah pihak memahami isi pembicaraan dalam
wawancara
d. memberikan contoh yang baik kepada pemirsa tentang proses wawancara
yang benar
e. menghindarkan kesalahpahaman antara pewawancara dengan narasumber
perihal tujuan wawancara
3. Berikut yang bukan merupakan fungsi penggunaan bahasa baku adalah ….
a. pemersatu d. kerangka acuan
b. pemberi kekhasan e. penjaga keseimbangan
c. pembawa kewibawaan
4. Kamus yang memuat kata-kata dari satu bahasa, biasanya berisi definisi,
sinonim, dan contoh penggunaan dalam kalimat disebut ….
a. kamus multibahasa d. kamus khusus
b. kamus dwibahasa e. kamus ekabahasa
c. kamus umum
5. Salah satu ciri kata bermakna denotatif adalah ….
a. munculnya arti tambahan
b. arti yang sederhana
c. menimbulkan arti baru
d. arti yang muncul dalam kalimat
e. memiliki arti tetap
6. Bentuk kata yang terdapat pada bahasa Indonesia terdiri atas ….
a. kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, dan kata majemuk
b. kata dasar, kata sifat, kata ulang, dan kata berimbuhan
c. kata benda, kata sifat, kata bilangan, dan kata kerja
d. kata dasar, kata berimbuhan, kata kerja, dan kata majemuk
e. kata sifat, kata berimbuhan, kata majemuk, dan kata ulang
7. Gabungan kata yang membentuk makna baru disebut ….
a. kata berimbuhan c. kata ulang e. kata keterangan
b. kata dasar d. kata majemuk
8. Di bawah ini yang merupakan kalimat bermakna denotatif adalah ….
a. Anak itu memang keras kepala jika dinasihati orang tuanya.
b. Ibu kota adalah kawasan yang padat penduduk.
c. Orang itu adalah kaki tangan para penjahat.
d. Ibu menggoreng ikan di dapur.
e. Kakek adalah orang yang keras hati.
Informasi 69
9. Ciri utama kata yang bermakna konotatif adalah ….
a. makna kiasan d. makna asli
b. maknanya tidak jelas e. bermakna sebenarnya
c. makna tambahan
10. Berikut yang bukan merupakan kalimat bermakna konotatif adalah ….
a. Dia mempunyai mental baja.
b. Salah satu benda itu menjadi kaki tumpu.
c. Bayi itu lahir dengan kepala yang besar.
d. Korban kecelakaan dibawa ke rumah sakit.
e. Orang itu gugur sebagai bunga bangsa.
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Mengapa seorang pewawancara hendaknya menguasai lafal, tekanan,
intonasi, dan jeda yang baik dan benar dalam menjalankan tugasnya?
2. Sebut dan jelaskan fungsi penggunaan bahasa baku!
3. Sebut dan jelaskan macam kamus berdasarkan luas lingkup isinya!
4. Sebut dan jelaskan macam bentuk kata yang terdapat dalam bahasa Indonesia!
5. Jelaskan pengertian makna denotatif dan konotatif! Berilah contohnya dalam
kalimat!
Sekilas Pengetahuan Bahasa
Kata kerja dalam bahasa Indonesia ada dua macam. Ada yang terdiri atas
kata-kata sederhana berupa kata dasar dan ada pula yang berbentuk kata turunan,
yaitu kata-kata yang sudah diberi afiks (imbuhan: awalan, sisipan, akhiran).
Contoh pertama: lari, duduk, mandi, naik. Contoh kata turunan: membatu, batui,
panasi, dipanasi, pertinggi, duakan, mengaku.
Berdasarkan contoh-contoh di atas, kita melihat bahwa pada kata-kata
turunan, kata-kata itu bisa berasal dari kata yang bukan kata kerja. Bisa kata
sifat (dipanasi), kata benda (membatu), kata bilangan (mendua), dan kata ganti
orang (mengaku). Kata batu (kata benda) dijadikan kata kerja membatu yang
artinya ’menjadi seperti batu’. Kata aku (kata ganti orang) dijadikan mengaku
yang artinya ’menyebut diri aku, saya’. Kata gemetar (bergetar) berasal dari
kata dasar getar (kata benda) yang diberi sisipan -em-. Oleh karena itu, katakata
nama bagian tubuh yang berupa kata benda tentu dapat pula dibentuk menjadi
kata kerja dengan memberinya imbuhan.
Namun, dalam kenyataan berbahasa kita akan melihat bahwa hanya beberapa
di antaranya yang dapat digunakan untuk membentuk kata kerja. Misalnya, kata
70 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
lidah. Tidak ada kata bentukan melidah, dilidahi, terlidah, atau terlidahi dan
terlidahkan. Mengapa tidak terdapat kata-kata seperti itu dalam bahasa Indonesia?
Secara gramatikal (menurut kaidah bahasa), bentuk seperti itu dapat saja dibuat,
tetapi dalam kenyataannya tidak ada orang yang menggunakannya. Jika suatu
bentuk digunakan dan berterima, bentuk itu kita sebut idiom.
Contohnya, bentuk diketahui/mengetahui. Mengapa muncul unsur kesebelum
kata tahu? Mengapa kata yang terbentuk bukan ditahui/menahui seperti
bentuk lain, misalnya, dimasuki/memasuki atau ditanami/menanami? Jawaban
yang dapat diberikan hanyalah bahwa bentuk itu dipakai, dipahami orang artinya,
dan sudah diterima. Kita sebut itu sebuah idiom, sebuah bentuk bahasa yang
sudah biasa digunakan pemakai bahasa dan tidak dipersoalkan lagi benar
tidaknya.
Dari nama-nama bagian tubuh yang dapat dijadikan kata kerja dalam bahasa
Indonesia, didapat contoh bentuk-bentuk: menangani (dari kata dasar tangan),
mengaki (dari kata dasar kaki), menguping (dari kata dasar kuping), menapaki
(dari kata dasar tapak), menghidung (dari kata dasar hidung), memata-matai
(dari kata dasar mata), dada-mendada (dari kata dasar dada), bahu-membahu
(dari kata dasar bahu), memunggungi (dari kata dasar punggung), membelakangi
(dari kata dasar belakang), menjari (dari kata dasar jari), dan menguliti (dari
kata dasar kulit).
Apabila kita bentuk kata kerja dengan bagian-bagian tubuh dengan awalan
ber-, akan banyak sekali dan hampir semua bagian tubuh kita dapat dijadikan
bentuk kata kerja berawalan ber- karena awalan tersebut dapat berarti
’mempunyai’ atau ’memiliki’ benda yang disebutkan oleh kata dasar. Misalnya,
kata berambut berarti ’mempunyai rambut’.
Kata-kata benda bagian tubuh banyak sekali dipakai sebagai ungkapan atau
idiom dalam bentuk kata majemuk atau frase. Bukalah Kamus Besar Bahasa
Indonesia dan Anda akan menemukan ungkapan-ungkapan, seperti mata hati,
buah hati, patah hati, dan ungkapan-ungkapan yang mengandung unsur kata
hati lainnya, atau ungkapan-ungkapan yang mengandung unsur kata mata. Masih
banyak lagi contoh-contoh yang lain.
Sumber: J.S. Badudu, Intisari Edisi Mei 2002 (Dengan pengubahan seperlunya)
Olahraga dan Kesehatan 71
Tema
5
OLAHRAGA
DAN KESEHATAN
Sumber: Kompas, 2 Desember 2007
Tujuan Pembelajaran:
1. Memahami lafal, tekanan, intonasi, dan jeda pada pembacaan puisi.
2. Memahami ragam bahasa.
3. Membaca cepat untuk memahami informasi tertulis.
4. Memahami kata umum dan kata khusus.
5. Menggunakan kata-kata yang sama atau hampir sama artinya.
72 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Pendahuluan
Pada pertemuan ini Anda akan memelajari empat aspek kemampuan berbahasa,
yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada aspek mendengarkan,
Anda akan diajak memahami lafal, tekanan, intonasi, dan jeda pada pembacaan puisi.
Pada aspek berbicara, Anda akan memelajari ragam bahasa. Bagaimana cara membaca
cepat untuk memahami informasi tertulis dapat Anda temui pada aspek membaca.
Adapun pada aspek terakhir, yaitu menulis, Anda diajak untuk memahami kata umum
dan kata khusus serta menggunakan kata-kata yang sama atau hampir sama artinya.
Setiap aspek di atas akan dilengkapi dengan tugas, berupa tugas individu atau
kelompok, untuk merangsang dan memotivasi Anda berpikir kreatif dalam memahami
uraian materi. Selain itu, pada akhir bab Anda akan menemui rangkuman dan pelatihan.
Rangkuman berguna untuk mengingatkan Anda kembali mengenai isi materi yang
telah dipelajari. Adapun pelatihan akan membantu mengukur sejauh mana pemahaman
materi yang telah Anda capai dengan cara mengerjakan soal-soal.
A. Mendengarkan
Memahami Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda pada
Pembacaan Puisi
Ada yang berpendapat bahwa sebuah puisi
tidak dibaca secara indah dan tepat, ibarat alat
musik yang belum dimainkan. Pendapat tersebut
benar, karena puisi memiliki kekuatan bunyi dan
nada yang akan terdengar keindahannya jika puisi
tersebut dibaca. Kekuatan bunyi dan nada dalam
puisi erat kaitannya dengan penggunaan lafal,
tekanan, intonasi, dan jeda. Di samping itu, unsur
penghayatan dan ekspresi turut menunjang
keberhasilan dalam pembacaan puisi.
Puisi merupakan bentuk karangan yang
diciptakan oleh penyair berdasarkan perenungan
atas suatu keadaan atau peristiwa. Puisi dituliskan
dalam bahasa yang padat dan indah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca puisi adalah sebagai berikut.
1. Lafal
Lafal harus jelas, suara yang kita keluarkan diupayakan suara yang terolah,
sehingga terdengar bulat dan mantap.
2. Nada
Nada membaca puisi meliputi keras lemahnya suara dan cepat lambatnya
suara yang disesuaikan dengan kata, baris, dan suasana puisi.
Sumber: Kompas, 9 Desember 2007
Gambar 5.1 Membacakan
puisi sangat perlu
memerhatikan lafal, tekanan,
intonasi, dan jeda yang tepat
Olahraga dan Kesehatan 73
3. Tekanan
Pembacaan puisi harus terampil mengelompokkan kata yang memiliki
kesatuan makna. Pemenggalan kelompok kata maupun kata harus tepat.
Demikian pula jika bertemu kata-kata tertentu yang perlu mendapat tekanan
khusus harus dipertegas sehingga terdengar lebih hidup dan jelas.
4. Intonasi
Intonasi adalah lagu membaca puisi. Intonasi harus diatur sedemikian
rupa, sehingga mampu menghasilkan/menampilkan karya seni yang indah.
5. Penghayatan
Penghayatan adalah kemampuan pembaca menyatu dengan isi dan maksud
puisi. Pembaca puisi harus mampu menggugah atau menyentuh emosi
pendengar melalui penghayatan maksimal. Seorang pembaca dikatakan
berhasil apabila mampu mengajak pendengar ikut larut dengan penghayatan
pembaca, sehingga muncul rasa haru, merinding, bahkan meneteskan air mata
saat mendengar seseorang membacakan puisi yang bertema kesedihan.
6. Ekspresi
Ekspresi merupakan perwujudan rasa yang ada dalam benak pembaca.
Ekspresi bisa ditunjukkan melalui mimik wajah maupun gerakan anggota
tubuh secara wajar.
Tugas Kelompok
1. Bentuklah kelompok yang terdiri atas 4 – 5 orang.
2. Setiap anggota kelompok diwajibkan untuk membacakan puisi yang
berjudul ”Rumah Pak Karto” karya W.S. Rendra berikut secara bergantian.
Rumah Pak Karto
Menyusuri tanggul kali ini
aku ’kan sampai ke rumahnya.
Sawah di kanan-kiri
dan titian-titian dari bambu
melintasi kali.
Menjalani tanggul berumput ini
aku ’kan sampai ke rumahnya
yang besar dan lebar
dengan berpuluh unggas di halaman,
pohon-pohon buahan,
lambang-lambang kesuburan,
dan balai-balai yang tentram.
74 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Lalu sebagai dulu
akan kujumpai ia mencangkul di kebunnya
dengan celana hitam dan dada terbuka
orang yang tahu akan hidupnya:
orang yang pasti akan nasibnya.
Ia akan mengelu-elukan kedatanganku
dan bertanya:
”Apa kabar dari kota?”
Dadanya bagai daun talas yang lebar
dengan keringat berpercikan.
Ia selalu pasti, sabar, dan sederhana.
Tangannya yang kuat mengolah nasibnya.
Menyusuri kali irigasi
aku ’kan sampai ke tempat yang dulu
aku ’kan sampai kepada kenangan:
ubi goreng dan jagung bakar,
kopi yang panas di teko tembikar,
rokok cengkeh daun nipah,
dan gula jawa di atas cawan.
Kemudian akan datang malam:
bulan bundar di atas kandang,
angin yang lembut
bangkit dari sawah tanpa tepi,
cengkerik bernyanyi dari belukar,
dan di halaman yang lebar
kami menggelar tikar.
Menyusuri jalan setapak ini
jalan setapak di pinggir kali
jalan setapak yang telah kukenal
aku ’kan sampai ke tempat yang dulu:
udara yang jernih dan sabar
perasaan yang pasti dan merdeka
serta pengertian yang sederhana.
Sumber: Sajak-Sajak Sepatu Tua,
Kumpulan Puisi Rendra 2003
Olahraga dan Kesehatan 75
3. Kelompok lain menilai pembacaan puisi kelompok yang tampil. Selain
menilai juga memberi masukan tentang perbaikan pembacaan puisi. Format
penilaian bisa sebagai berikut.
Keterangan:
Isilah dengan keterangan baik, sedang, atau kurang baik
B. Berbicara
Memahami Ragam Bahasa
Faktor sejarah dan perkembangan masyarakat
turut berpengaruh pada timbulnya sejumlah
ragam bahasa Indonesia. Ragam bahasa yang
beraneka macam itu tetap disebut bahasa
Indonesia. Ciri dan kaidah tata bunyi, pembentukan
kata, dan tata makna umumnya sama.
Itulah sebabnya kita masih dapat memahami
orang lain yang berbahasa Indonesia walaupun
bahasa yang dipergunakan memiliki dialek
kedaerahan.
Ragam bahasa yang ditinjau dari sudut
pandangan penutur dapat dirinci menurut patokan
daerah, pendidikan, dan sikap penutur.
Ragam daerah dikenal dengan nama logat atau dialek. Misalnya, logat Batak,
Jawa, Sunda, Bali, dan Betawi. Ragam pendidikan dibedakan dari ragam nonpendidikan.
Ragam bahasa pendidikan merupakan ragam bahasa tinggi, sedangkan
ragam nonpendidikan disebut ragam rendah. Adapun ragam menurut sikap penutur
Sumber: Suara Merdeka,5 Agustus 2007
Gambar 5.2 Ragam bahasa
rendah dipergunakan dalam
pergaulan sehari-hari
1.
2.
3.
4.
5.
Tekanan Intonasi
No. Nama
Pembaca
Hal-Hal yang Dinilai
Lafal Nada Ekspresi dan
Penghayatan
76 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
dibagi menjadi ragam bahasa resmi dan ragam bahasa tidak resmi. Variasi ini
sering disebut langgam, laras, atau gaya. Ragam bahasa menurut bidang pemakaiannya
dapat dirinci menjadi bahasa berita, bahasa laporan, bahasa hukum,
bahasa prosa, bahasa puisi, dan sebagainya.
Tugas Individu
1. Coba Anda baca secara cermat wacana berikut.
Tetap Sehat dengan Madu
Menurut sumber kepustakaan, setiap 1.000 g madu bernilai 3.280 kalori.
Nilai kalori 1 kg madu sama dengan 50 butir telur atau 5,575 liter susu,
atau 1,680 kg daging.
Madu yang baik biasanya kalau berkategori madu asli yang berkualitas
dan akan semakin baik bila mengandung banyak faktor antioksidan di
dalamnya. Madu asli biasanya merupakan eksudat gula atau sari bunga
yang dikumpulkan, diubah, dan diikat dengan senyawa-senyawa tertentu
oleh lebah, terutama Apis mellifera. Kualitas madunya sendiri ditentukan
oleh kualitas tanah tempat sumber nektar tumbuh, sumber nektar, cuaca,
derajat pemasakan, dan cara ekstraksi.
Pemasaran madu asli dalam dua jenis, yaitu madu cair (dijual setelah
diekstrak dari sarangnya) dan madu sisir (dijual dalam keadaan utuh tertutup
dalam sisirannya atau sarangnya). Sayangnya di Indonesia belum ada
lembaga resmi yang independen untuk menguji kualitas produk madu yang
beredar di pasaran, karenanya sulit untuk menentukan jenis produk mana
yang memiliki kualitas prima.
Madu memiliki manfaat penting bagi tubuh manusia di antaranya karena
dia mudah dicerna. Molekul gula pada madu dapat berubah menjadi jenis
gula lain (misalnya, sukrosa menjadi glukosa). Madu mudah dicerna oleh
perut yang paling sensitif sekalipun, walau memiliki kandungan asam yang
tinggi, serta membantu ginjal dan usus untuk berfungsi lebih baik.
Selain itu, madu juga biasa dimanfaatkan untuk menambah tenaga.
Walau memberi energi yang besar, madu tidak menambah berat badan.
Kandungan gizi utamanya terdiri atas senyawa karbohidrat seperti gula
fruktosa (41,0%), glukosa (35%), sukrosa (1,9%), dan dekstrin (1,5%) akan
menambah asupan energi yang diperlukan.
Fungsi otak juga bisa ditopang oleh konsumsi madu. Jika dicampur
dengan air hangat, madu dapat berdifusi ke dalam darah hanya berselang
tujuh menit setelah dikonsumsi. Molekul gula bebas dalam madu membuat
otak berfungsi lebih baik karena otak merupakan pengonsumsi gula terbesar.
Olahraga dan Kesehatan 77
Madu juga menyediakan banyak energi yang dibutuhkan tubuh untuk
pembentukan sel darah. Lebih jauh lagi, ia membantu pembersihan darah
karena berpengaruh positif dalam mengatur dan membantu peredaran darah,
melindungi dari masalah pembuluh kapiler dan arteriosklerosis.
Peran penting madu juga dapat membunuh bakteri (efek inhibisi).
Penelitian tentang madu menunjukkan bahwa sifat ini meningkat dua kali
lipat bila madu diencerkan dengan air.
Bagi mereka yang susah makan, madu dapat membantu. Konsumsi madu
secara rutin dapat mengurangi kepekaan terhadap rasa sakit, sekaligus
memperbaiki nafsu makan balita. Madu juga bisa dimanfaatkan untuk
memenuhi kebutuhan protein. Kadar protein dalam madu relatif kecil,
sekitar 2,6%. Tapi kandungan asam aminonya cukup beragam, baik asam
amino nonesensial maupun esensial. Asam amino inilah yang memenuhi
kebutuhan protein balita. Madu juga mengandung antibiotik. Penelitian
Peter C. Molan (1992), peneliti di Department of Biological Sciences,
University of Waikoto, Hamilton, New Zealand, membuktikan bahwa madu
mengandung antibiotik yang aktif melawan serangan berbagai patogen
penyebab penyakit. Beberapa infeksi yang dapat ”disembuhkan” dan
dihambat dengan mengonsumsi madu secara teratur, antara lain batuk,
demam, penyakit jantung, gangguan hati, paru-paru, penyakit yang dapat
mengganggu fungsi mata, syarat dan telinga plus infeksi saluran pernapasan
akut (ISPA).
Sumber: Suara Merdeka, 19 Agustus 2007 (Diambil seperlunya)
2. Daftarlah istilah-istilah penting menurut bidangnya pada wacana tersebut.
3. Carilah makna istilah-istilah tersebut dengan cara membuka kamus.
Tugas Kelompok
1. Bagilah siswa di kelas Anda menjadi beberapa kelompok.
2. Coba cermati puisi berjudul Rumah Pak Karto dan wacana berjudul Tetap
Sehat dengan Madu di atas.
3. Bandingkan penggunaan ragam bahasa pada kedua wacana tersebut.
4. Buatlah kesimpulan dari pengamatan Anda tersebut secara tertulis dalam
bentuk lembar laporan.
5. Bacakan laporan kelompok Anda dengan artikulasi yang tepat di depan
kelas.
78 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
C. Membaca
Membaca Cepat untuk Memahami Informasi Tertulis
Membaca cepat adalah salah satu jenis membaca yang menitikberatkan pada
pemahaman gagasan pokok secara tepat dan berlangsung dalam waktu yang relatif
singkat. Dalam membaca cepat, mata kita dituntut bergerak dengan cepat melihat
dan memerhatikan bahan tertulis untuk mencari serta mendapatkan informasi
tertentu. Informasi yang dimaksud seperti kata-kata tertentu dan ide pokok/gagasan
utama tiap paragraf.
Kemampuan membaca cepat membuat pembaca mampu menemukan gagasan
pokok dengan cepat dan mampu menceritakan kembali isi teks dengan tepat.
Kemampuan membaca cepat dapat ditingkatkan dengan cara:
1. meningkatkan perbendaharaan kosakata;
2. menerapkan teknik membaca secara efisien;
3. meninggalkan kebiasaan yang dapat menghambat membaca cepat, seperti
vokalisasi, membaca mundur/regresi, dan membaca kata demi kata.
Tugas Individu
1. Bacalah dengan cepat wacana di bawah ini.
Latihan Jasmani bagi Diabetisi
Diabetes merupakan penyakit yang sudah akrab di telinga kita. Penyakit
ini merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup. Sifatnya tidak
bisa disembuhkan, namun bisa dikendalikan kadar gula darahnya. Mengapa
perlu dikendalikan? Karena dengan gula darah terkendali dapat menyebabkan
rasa nyaman di badan dan mencegah munculnya komplikasi yang
biasanya ada pada Diabetes mellitus (DM), antara lain stroke, serangan
jantung, penyakit ginjal kronik, dan kesemutan (neuropati perifer).
Pengelolaan DM meliputi tiga pilar utama, yaitu pengaturan diet, latihan
jasmani, dan obat penurun gula darah (baik yang diminum maupun yang
disuntikkan seperti insulin). Penyandang DM yang sedang melakukan
kegiatan sehari-hari seperti berpakaian, memasak, mencuci, bekerja,
sebenarnya telah melakukan latihan jasmani. Hanya saja, kegiatan tersebut
perlu ditambah dengan aktivitas yang dikhususkan untuk latihan jasmani
atau olahraga.
Olahraga dan Kesehatan 79
Prinsip latihan jasmani bagi diabetisi sama persis dengan prinsip latihan
jasmani secara umum dan memenuhi beberapa hal, seperti frekuensi,
intensitas, durasi, dan sejenisnya.
Frekuensi latihan jasmani sebaiknya dilakukan secara teratur 3 – 5 kali
per minggu. Intensitasnya ringan dan sedang (60 – 70% denyut jantung
maksimal). Durasi atau lamanya adalah 30 – 60 menit. Jenis latihan jasmani
sebaiknya yang bersifat aerobik, guna meningkatkan kemampuan kardiorespirasi,
seperti jogging, berenang, dan bersepeda.
Latihan jasmani yang dipilih sebaiknya yang disenangi masing-masing
diabetisi dan memungkinkan untuk melibatkan otot-otot besar. Kegiatan
jalan di tempat selama 10 menit yang dilakukan secara rutin, sesaat sebelum
mandi pagi dan mandi sore, ternyata juga sangat bermanfaat sebagai latihan
jasmani bagi diabetisi.
Dengan demikian, para diabetisi mesti melakukan latihan jasmani secara
teratur dan terukur. Jangan sampai merasa bosan. Sebab, latihan jasmani
yang teratur penting bagi kesehatan, tidak saja diabetisi, tapi semua orang.
Karena akan memberikan lebih banyak tenaga, membuat jantung lebih kuat,
meningkatkan sirkulasi darah, memperkuat otot, dan meningkatkan
kelenturan.
Lagi pula, latihan jasmani juga meningkatkan kemampuan bernapas,
membantu mengatur berat badan, memperlambat proses penuaan, memperbaiki
tekanan darah, mengontrol kadar kolesterol dan lemak tubuh
lainnya.
Sumber: Suara Merdeka, 5 Agustus 2007 (Diambil seperlunya)
2. Coba Anda tentukan gagasan pokok wacana tersebut.
3. Tulislah istilah-istilah baru yang terdapat pada wacana tersebut dan carilah
artinya dalam kamus.
4. Ungkapkan kembali isi wacana tersebut dengan menggunakan bahasa Anda
sendiri secara tertulis dalam buku tugas.
D. Menulis
1. Memahami Kata Umum dan Kata Khusus
Kata umum adalah suatu kata yang memiliki ruang lingkup yang luas dan
masih mencakup banyak hal. Kata umum dikenal dengan istilah hipernim.
Adapun kata khusus adalah kata yang memiliki ruang lingkup yang lebih
sempit dan tercakup dalam kata umum (kata yang lebih luas pengertiannya).
Kata khusus juga disebut hiponim.
80 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Contoh:
Kata Umum Kata Khusus
buah durian, mangga, apel, jeruk, melon
mainan kelereng, mobil-mobilan, ketapel, layang-layang
binatang kambing, harimau, srigala, gajah
Tugas Individu
1. Coba Anda cari kata khususnya berdasarkan kata umum berikut ini.
a. mobil c. warna e. penginapan
b. unggas d. melihat
2. Buatlah kalimat berdasarkan kata-kata khusus tersebut.
3. Carilah kata umum dari deretan kata khusus di bawah ini.
a. manusia, binatang, tumbuhan
b. prosa, puisi, drama
c. runtuh, roboh, rebah, gugur
2. Menggunakan Kata-kata yang Sama atau Hampir
Sama Artinya
Kata mati, gugur, wafat, dan meninggal dunia memiliki arti sama, tetapi
dalam penerapannya berbeda. Hal ini sangat dipengaruhi oleh nilai rasa dalam
penggunaannya, makna, dan lingkungan yang dimasukinya.
Contoh:
a. Harimau jantan itu akhirnya mati karena terluka parah.
b. Pamanku meninggal dunia dua hari yang lalu.
c. Kapten Slamet Riyadi gugur di medan pertempuran.
Tugas Individu
1. Coba Anda cari contoh kata-kata yang sama atau hampir sama maknanya.
2. Terapkan kata-kata tersebut ke dalam kalimat sehingga menjadi jelas
maknanya.
3. Tukarkan hasil kerja Anda dengan teman sebangku.
4. Catatlah hasil kerja teman sebangku Anda untuk menambah perbendaharaan
kosakata.
Olahraga dan Kesehatan 81
Rangkuman
1. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca puisi adalah lafal, nada,
tekanan, intonasi, penghayatan, dan ekspresi.
2. Ragam bahasa yang ditinjau dari sudut pandangan penutur dapat diperinci
menurut patokan daerah, pendidikan, dan sikap penutur. Ragam daerah
dikenal dengan nama logat atau dialek. Ragam pendidikan dibedakan dari
ragam nonpendidikan. Adapun ragam menurut sikap penutur dibagi menjadi
ragam bahasa resmi dan ragam bahasa tidak resmi. Ragam bahasa menurut
bidang pemakaiannya dapat dirinci menjadi bahasa berita, bahas laporan,
bahasa hukum, bahasa prosa, bahasa puisi, dan sebagainya.
3. Kemampuan membaca cepat dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan
perbendaharaan kosakata; menerapkan teknik membaca secara efisien;
meninggalkan kebiasaan yang dapat menghambat membaca cepat, seperti
vokalisasi, membaca mundur/regresi, dan membaca kata demi kata.
4. Kata umum adalah suatu kata yang memiliki ruang lingkup yang luas dan
masih mencakup banyak hal. Adapun kata khusus adalah kata yang memiliki
ruang lingkup yang lebih sempit dan tercakup dalam kata umum (kata yang
lebih luas pengertiannya).
5. Penggunaan kata-kata yang sama atau hampir sama artinya sangat
dipengaruhi oleh nilai rasa, makna, dan lingkungan yang dimasukinya.
Latihan
A. Pilihlah jawaban yang paling benar!
1. Kekuatan utama dalam pembacaan puisi adalah ….
a. bunyi dan nada d. rima dan irama
b. syair dan penyair e. refleksi dan tanggapan
c. judul dan isi
2. Selain penggunaan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda, unsur lain yang turut
menunjang keberhasilan dalam pembacaan puisi adalah ….
a. pemahaman dan keseimbangan
b. penghayatan dan penajaman
c. ekspresi dan penghayatan
d. pikiran dan perasaan
e. ekspresi dan sikap terbuka
82 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
3. Ragam bahasa menurut penutur didasarkan pada ….
a. isi tuturan, gaya, dan tata bunyi
b. bahasa resmi dan tidak resmi
c. langgam, laras, dan gaya
d. bahasa tinggi dan bahasa rendah
e. daerah, pendidikan, dan sikap penutur
4. Timbulnya sejumlah ragam bahasa Indonesia dipengaruhi oleh faktor ….
a. sejarah dan perkembangan masyarakat
b. penutur dan isi tuturan
c. budaya dan tradisi
d. mental dan psikis masyarakat
e. kebutuhan dan perkembangan bahasa
5. Pembagian bahasa atas bahasa berita, bahasa hukum, dan bahasa puisi
didasarkan pada ….
a. penggunaanya d. penuturnya
b. bidang pemakaiannya e. sarananya
c. jenis bahasanya
6. Pengaruh bahasa lain di dalam bahasa Indonesia yang sifatnya mengganggu
keefektifan penyampaian informasi disebut ….
a. interpretasi c. diglosia e. kodifikasi
b. interferensi d. dialek
7. Dalam teknik membaca cepat, pembaca harus dapat menemukan … secara
cepat dan tepat.
a. kata-kata sulit c. latar persoalan e. gagasan utama
b. amanat d. kerangka wacana
8. Salah satu tolok ukur keberhasilan seseorang dalam membaca teks
adalah ….
a. mampu menyimpulkan isi teks tersebut secara tepat
b. mampu membaca beberapa teks sekaligus secara cepat
c. mampu mengembangkan isi teks yang dibaca menjadi karangan yang
baru
d. mampu menampilkan istilah-istilah baru untuk mengganti kata-kata yang
dianggap kuno atau tidak menarik
e. mampu menyisihkan waktu luang untuk memahami isi teks
9. Suatu kata yang memiliki ruang lingkup yang luas dan masih mencakup
banyak hal disebut kata ….
a. khusus c. luas e. baru
b. umum d. sempit
Olahraga dan Kesehatan 83
Kabar Tokoh
Jusuf Sjarif Badudu
Lahir di Gorontalo, 19 Maret 1926. Ia menyelesaikan
pendidikan sarjananya di Fakultas Sastra
Universitas Padjadjaran, Bandung, pada tahun
1963. Tahun 1975, ia memperoleh gelar Doktor
Ilmu Sastra dengan pengkhususan linguistik di
Universitas Indonesia, Jakarta, melalui disertasi
yang berjudul Morfologi Kata Kerja Bahasa Gorontalo. Tokoh bahasa ini juga
dikenal sebagai pembawa acara Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI
Pusat Jakarta pada tahun 1977 sampai dengan tahun 1979 dan sebagai penatar
bahasa Indonesia untuk berbagai lapisan masyarakat, seperti mahasiswa, dosen,
guru, wartawan, pegawai pemerintah, dan polisi. Ia juga sering menyajikan
makalah di luar negeri, seperti di Belanda, Inggris, Prancis, Amerika Serikat,
Australia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Jepang. Saat ini, J.S.
Badudu tidak hanya aktif sebagai guru, dosen, dan penatar bahasa Indonesia,
tetapi juga aktif sebagai penulis artikel tentang bahasa Indonesia di surat kabar
dan majalah. Sejak tahun 1977 hingga sekarang, ia menjadi pengisi rubrik tentang
pembinaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di majalah Intisari, Jakarta.
Sebagai guru dan dosen bahasa Indonesia, ia pernah menerima bintang jasa dari
Pemerintah RI, yaitu Satyalencana 25 Tahun Pengabdian dan Bintang Mahaputra
yang diserahkan oleh Presiden Megawati Sukarnoputri pada tanggal 15 Agustus
2001 di Istana Negara.
Sumber: http://www.pusatbahasa.depdiknas.go.id
10. Kata gugur, mati, wafat, dan tewas berbeda penerapannya dalam kalimat,
karena dipengaruhi oleh nilai ….
a. makna c. rasa e. kebutuhan
b. bunyi d. asal
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Terangkan pentingnya penggunaan lafal, tekanan, intonasi, jeda, ekspresi,
dan penghayatan yang tepat dalam pembacaan puisi!
2. Sebutkan ragam bahasa menurut bidang pemakaiannya!
3. Sebutkan cara meningkatkan kemampuan membaca cepat!
4. Apa yang dimaksud dengan kata umum dan kata khusus?
5. Faktor apa saja yang memengaruhi penerapan kata-kata yang sama atau
hampir sama maknanya pada suatu kalimat?
Sumber: http://
www.pusatbahasa.depdiknas.go.id
84 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Latihan Ulangan Semester 1
A. Pilihlah jawaban yang paling benar!
1. Pengucapan sebuah kalimat berita menggunakan intonasi ….
a. menaik d. menaik lalu menurun
b. menurun e. menurun lalu menaik
c. mendatar
2. Untuk memahami isi dari informasi lisan, kita memerlukan ….
a. teknologi tinggi d. kerja sama
b. telinga yang peka e. konsentrasi penuh
c. kepandaian
3. Dalam situasi resmi, kita hendaknya menggunakan kata-kata ….
a. tak baku c. baku e. sederhana
b. puitis d. sulit
4. Pemberian dua macam tanda akan mengakibatkan perbedaan ….
a. suara c. penjedaan e. intonasi
b. nada d. kalimat
5. Di bawah ini yang merupakan salah satu cara meningkatkan kemampuan
membaca cepat adalah meningkatkan ….
a. perbendaharaan kosakata d. artikulasi
b. kualitas pendidikan kita e. produk bacaan
c. kemandirian belajar
6. Membaca cepat biasanya untuk memperoleh gambaran yang ….
a. detail c. global e. rumit
b. rinci d. sepotong-potong
7. Di bawah ini yang tidak perlu dilakukan dalam membaca cepat adalah ….
a. kritis terhadap kata kunci
b. membaca dengan cara bergumam
c. mengulang kata yang dibaca
d. jangan membaca kata demi kata
e. jangan berhenti terlalu lama di awal baris
8. Artikulasi sangat dipentingkan dalam membaca sebab dengan ketepatan
artikulasi ….
a. akan memudahkan pendengar mengambil isinya
b. akan memudahkan pendengar mencatat isinya
c. pendengar akan senang
d. pendengar akan mudah mengikuti
e. pendengar mudah menirukannya
Latihan Ulangan Semester 1 85
9. Salah satu faktor penyebab kegagalan dalam menyimak suatu informasi
adalah ….
a. badan capek
b. tidak tergesa-gesa dalam mendengarkan
c. tidak ada gangguan situasi
d. situasi emosional yang mendukung
e. tidak merasakan kebingungan
10. Berikut yang bukan ukuran keberhasilan menyimak sebuah informasi
adalah ….
a. arah pembicaraan yang ditangkapnya tidak menjadi kabur
b. ide yang ditangkap menjadi tidak berbalik-balik
c. benar dalam memisahkan bagian-bagian yang penting dengan tidak
d. adanya kesalahpahaman terhadap makna
e. ada kesimpulan yang baik dan benar
11. Salah satu ciri kata bermakna denotatif adalah ….
a. munculnya arti tambahan
b. arti yang sederhana
c. menimbulkan arti baru
d. arti yang muncul dalam kalimat
e. memiliki arti tetap
12. Ciri utama kata yang bermakna konotatif adalah ….
a. makna kiasan
b. maknanya tidak jelas
c. makna tambahan
d. makna asli
e. bermakna sebenarnya
13. Perbedaan informasi lisan dengan tertulis, antara lain ….
a. informasi lisan dapat kita dengar berulang kali, sedangkan informasi
tertulis hanya dapat kita baca sekali saja
b. informasi lisan dapat kita dengar berulang kali, sedangkan informasi
tertulis tidak dapat kita baca berulang kali
c. informasi lisan hanya dapat kita dengar sekali saja, sedangkan informasi
tertulis dapat kita baca berulang kali
d. informasi lisan tidak merinci objek informasi secara jelas, sedangkan
informasi tertulis merinci objek informasi secara jelas
e. informasi lisan menggunakan bahasa tak resmi, sedangkan informasi
tertulis menggunakan bahasa resmi
86 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
14. Berikut ini yang tidak termasuk hal-hal yang harus dihindari ketika membaca
cepat adalah ….
a. membaca dengan terpatah-patah
b. berhenti lama di awal baris
c. membaca dengan bergumam
d. mengulang kata atau kalimat yang sudah dibaca
e. membaca dengan kecepatan yang tinggi
15. Bahasa tidak baku dapat berupa ….
a. dialek sosial tak baku d. dialek domisili
b. dialek antarstrata e. dialek sosial baku
c. dialek kesukuan
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Sebutkan faktor yang memengaruhi keefektifan mendengarkan!
2. Apa fungsi artikulasi dalam pelafalan suatu kalimat atau kata?
3. Sebutkan ciri ragam bahasa baku dan tidak baku!
4. Sebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membaca cepat!
5. Jelaskan pengertian ragam bahasa!
Wisata 87
Tema
6
WISATA
Sumber: Garuda, Maret 2004
Tujuan Pembelajaran:
1. Mengenal informasi lisan sebagai sumber informasi.
2. Menggunakan kalimat yang baik, tepat, dan santun.
3. Memahami informasi tertulis dalam teks.
4. Menggunakan kalimat tanya secara tertulis sesuai dengan situasi.
88 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Pendahuluan
Pada pertemuan ini Anda akan memelajari empat aspek kemampuan berbahasa,
yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada aspek mendengarkan,
Anda akan diajak mengenal informasi lisan sebagai sumber informasi. Pada aspek
berbicara, Anda akan memelajari cara menggunakan kalimat yang baik, tepat, dan
santun. Bagaimana cara memahami informasi tertulis dalam teks dapat Anda temui
pada aspek membaca. Adapun pada aspek terakhir, yaitu menulis, Anda diajak untuk
belajar menggunakan kalimat tanya secara tertulis sesuai dengan situasi.
Setiap aspek di atas akan dilengkapi dengan tugas, berupa tugas individu atau
kelompok, untuk merangsang dan memotivasi Anda berpikir kreatif dalam memahami
uraian materi. Selain itu, pada akhir bab Anda akan menemui rangkuman dan pelatihan.
Rangkuman berguna untuk mengingatkan Anda kembali mengenai isi materi yang
telah dipelajari. Adapun pelatihan akan membantu mengukur sejauh mana pemahaman
materi yang telah Anda capai dengan cara mengerjakan soal-soal.
A. Mendengarkan
Mengenal Informasi Lisan sebagai Sumber Informasi
Fakta menunjukkan bahwa untuk
mendapatkan informasi yang disampaikan
secara lisan lebih sulit dibandingkan
dengan informasi yang disampaikan
secara tertulis. Hal ini disebabkan karena
informasi yang disampaikan
secara lisan hanya dapat kita dengar
sekali saja dan tidak akan diulang kembali.
Adapun pada informasi tertulis,
kita dapat membacanya berulang kali.
Oleh sebab itu, dalam mendengarkan
informasi lisan kita dituntut untuk
menyimak dengan baik.
Kemampuan menyimak sangat
penting karena mendengarkan merupakan salah satu cara belajar yang paling
mendasar. Tanpa kemampuan menyimak yang baik, kita akan mengalami kesulitan
dalam menyerap informasi. Adapun sumber-sumber informasi lisan dapat kita
peroleh melalui penuturan langsung dari narasumber, media radio dan televisi,
rekaman, dan sumber informasi lisan lainnya.
Sumber: Intisari, No. 482 September 2003
Gambar 6.1 Tanpa kemampuan
menyimak yang baik, kita akan
mengalami kesulitan dalam menyerap
informasi lisan dari media televisi
Wisata 89
Tugas Individu
1. Coba simak petikan wawancara berikut ini yang akan dibacakan oleh dua
orang teman Anda.
Menurut Anda, apakah rasa itu?
Rasa adalah sesuatu yang kita rasakan. Keberadaan rasa sangat
bergantung pada segala sesuatu yang terjadi pada diri kita. Jika kita sedang
dalam kondisi kasar, rasa pun jadi kasar. Karena itu, kita harus mengolah
rasa, melakukan bawa raos. Dan ini merupakan tradisi yang menguntungkan,
karena dengan demikian saya akan bisa mengelola perasaan cinta,
kasih sayang, keadilan, dan lain-lain.
Rasa itu harus dilatih. Jika saya makan asal makan saja, saya tidak
akan tahu apa kapulaga atau berbagai jenis bumbu. Karena tahu pelangi
bumbu itulah, saya jadi menghargai dan mengapresiasi berbagai makanan.
Rasa itu juga hasil investigasi. Dengan melakukan investigasi, saya jadi
tahu mengapa sebuah makanan bernama lontong cap go meh.
Bagaimana cara Anda melatih rasa?
Melatih rasa itu bisa dengan berbagai cara. Antara lain dengan membaca
dan berdoa. Setiap hari selama satu jam, setelah membuka e-mail, saya
berkeliling di sekitar rumah, tanpa bawa telepon genggam atau ditemani
istri. Selama itu pula saya berdoa dan merasakan angin, hangat matahari,
daun hijau, dan biru langit dari Gusti Allah. Saat itulah saya menyatakan
rasa syukur. Saat itu pula jika ada keluhan atau kekurangan, saya utarakan
juga kepadaNya. Bahkan di tengah kesibukan, saya memiliki oase-oase
khusus yang bisa saya gunakan untuk mengolah rasa dan berelasi dengan
Gusti Allah.
Apa komentar Anda tentang berbagai makanan Indonesia jika
dibandingkan dengan makanan-makanan lain di berbagai belahan dunia?
Ada beberapa persamaan antara makanan China dengan makanan
Indonesia. Kedua-duanya ternyata selalu berkait dengan ritual. Suatu kali
saat makan di sebuah restoran China, saya memesan fumak. Mendadak
sang pemilik restoran bertanya, ”Apakah Bapak sedang bersedih karena
makan makanan pahit?” Saya bilang, ”Tidak. Saya mengira makanan pahit
itu akan berguna untuk peredaran darah.”
Jika kita makan tumpeng, saya kira harus ada bahan-bahan yang berasal
dari darat, laut, dan udara. Jika tidak, ia tak layak disebut sebagai tumpeng
yang bisa digunakan untuk selamatan. Makanan-makanan di Bali atau India
juga senantiasa dilekatkan dengan ritual. Bertolak dari hal itu, saya memang
lebih setuju menggunakan istilah para antropolog boga atau food ways
90 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
ketimbang kuliner. Makanan dengan demikian mengandung sejarah dan
proses kebudayaan. Ia adalah produk kebudayaan.
Bagaimana cara mendapatkan makanan sebagai sesuatu yang sakral
sekaligus enak?
Sebenarnya kian mengenal makanan, kita makin tidak rigid terhadap
segala hal yang dimakan. Tidak perlu diet. Anda bisa hari ini makan jeroan,
tetapi hari lain ya makan lain. Jika bisa dilakukan, saya jamin Anda akan
makan dengan enjoy.
Makanan Thailand sudah bisa diterima dunia. Apakah makanan kita
bisa menjadi makanan global?
Sangat bisa. Cobalah bikin restoran Indonesia di Singapura. Akan tetapi
ia harus ditampilkan dengan setting yang lebih baik. karena itu fine dining
setting adalah sebuah keharusan. Makanan Thai memang sudah menjadi
kuliner dunia, karena memang ada kebijakan menyebarkan makanan itu ke
seluruh dunia.
Kita, jika mau, saya kira bisa. Libatkan swasta. Ada strategi. Ada
penyesuaian rasa yang memungkinkan ia bisa dinikmati oleh bangsa lain.
dan jangan lupa promosi.
Sumber: Suara Merdeka, 26 Agustus 2007 (Diambil seperlunya)
2. Apakah menurut Anda petikan wawancara tersebut dapat dikatakan sumber
informasi lisan? Terangkan alasannya dengan logis.
3. Apabila wawancara di atas termasuk informasi lisan, apa saja informasi
yang Anda dapatkan dari petikan wawancara tersebut?
B. Berbicara
Menggunakan Kalimat yang Baik, Tepat, dan Santun
Kita sering tidak menyadari bahwa
dalam berkomunikasi sehari-hari kita
menggunakan kalimat yang tidak tepat,
baik secara tata bahasa maupun situasi.
Hal ini menjadikan mitra bicara kita
kadang mengalami kesulitan dalam
memahami maksud kata-kata kita. Oleh
karena itu kita perlu memelajari cara
menggunakan kalimat yang baik, tepat,
dan santun.
Kalimat yang baik, tepat, dan santun
adalah kalimat yang komunikatif dan
Sumber: Solopos, 23 Oktober 2007
Gambar 6.2 Berkomunikasi secara lisan
memerlukan penggunaan kalimat yang baik,
tepat, dan santun
Wisata 91
cermat. Kalimat bersifat komunikatif apabila kalimat dapat dipahami oleh mitra
bicara dengan tepat. Suatu kalimat disebut cermat apabila kalimat tersebut sesuai
dengan kaidah yang berlaku dan logis (bernalar). Jadi, syarat yang harus dipenuhi
oleh kalimat yang baik, tepat, dan santun yaitu sesuai sesuai kaidah bahasa,
nalar, dan memiliki ketersampaian pesan.
Kaidah bahasa dapat diartikan sebagai aturan atau pedoman yang harus
dipenuhi oleh seorang pembicara untuk menyampaikan ide kepada mitra bicara.
Secara tertulis, kaidah berbahasa biasanya berbentuk pedoman umum, yaitu ejaan
bahasa Indonesia. Secara lisan, kaidah yang digunakan pembicara dipengaruhi
oleh situasi pembicaraan.
Penalaran merupakan suatu proses berpikir untuk menghubungkan data atau
fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan. Penalaran yang benar
menghasilkan kesimpulan yang benar dan penalaran yang salah akan
menghasilkan kesimpulan yang salah pula.
Ketersampaian pesan dapat terwujud apabila sarana yang digunakan untuk
menyampaikannya tepat dan situasinya mendukung. Selain itu, antara pembicara
dengan mitra bicara harus saling memahami kode-kode yang digunakan.
Tugas Individu
1. Coba Anda cermati teks di bawah ini.
Jejak Wali di Kota Kretek
Kalau Anda memasuki Kabupaten Kudus untuk kali pertama, yakinlah
pasti banyak yang bisa Anda rekam dalam ingatan. Kalau Anda dari arah
barat (Semarang), Anda segera akan berhadapan dengan wilayah berkarakter
perkotaan kental.
Ada banyak industri yang pesat berkembang di sana. Ada pabrik kertas
dengan bangunan mewah, juga banyak dijumpai unit-unit (brak) pembuatan
rokok yang menebarkan aroma saus tembakau. Wajar saja, Kudus memang
kota penghasil rokok. Atribut Kota Kretek juga sudah sangat populer di
telinga.
Bukan cuma itu. Di pusat kota, papan-papan promosi makanan banyak
terpancang, khususnya tentang jenang. Dan sebutan Kota Jenang juga
menjadi atribut Kudus yang lain.
Ya, boleh saja Kudus itu sebuah kota industri yang cenderung
materialistis. Tapi jangan lupakan posisi penting wilayah tersebut dalam
sejarah perkembangan Islam di Jawa. Sudah kesohor jika Kudus menjadi
salah satu penyebaran Islam pada masa Wali Songo dengan dua tokohnya
Sunan Kudus dan Sunan Muria.
92 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Dengan dua tokoh penyebar Islam itu, wajar saja kisah dan artefak
kebudayaan Islam bisa dijumpai di banyak tempat di Kudus. Wilayah itu
pun akhirnya mendapat sebutan yang paling kuat di antara citra lain yang
melekat yaitu Kota Santri. Lengkaplah pula sebutan itu ketika Purbatjaraka,
ahli antropolog nusantara mengatakan, di seluruh Jawa hanya ada satu nama
kota yang diambil dari bahasa Arab, yaitu Kudus (dari kata Al Quds yang
berarti ”tempat suci”). Walhasil pula, jejak-jejak sejarah dakwah para wali
beserta peninggalannya itu sampai sekarang dapat kita telusuri baik untuk
kepentingan ibadah maupun keilmuan (sejarah).
Sumber: Suara Merdeka, 26 Agustus 2007 (Diambil seperlunya)
2. Catat kaidah, penalaran, dan kekomunikatifan yang tidak sesuai dengan
pedoman EYD.
3. Betulkan kalimat-kalimat yang tidak baik, tepat, dan santun tersebut.
4. Bacakan hasil akhir teks yang Anda perbaiki tersebut di depan kelas.
5. Simak hasil kerja teman yang lain dan bandingkan dengan hasil kerja Anda.
Tugas Kelompok
1. Susunlah daftar pertanyaan wawancara dan jawabannya sekaligus bersama
teman sebangku. Tema wawancara berkenaan dengan kondisi tempat wisata
di Indonesia.
2. Gunakanlah kalimat yang baik, tepat, dan santun dalam daftar wawancara
dan jawabannya tersebut.
3. Praktikkanlah wawancara tersebut bersama teman sebangku Anda di depan
kelas. Misalnya, Anda menjadi pewawancara dan teman sebangku Anda
menjadi narasumbernya.
4. Mintalah tanggapan dari teman dan guru Anda mengenai hasil kerja Anda
dan teman sebangku Anda.
C. Membaca
Memahami Informasi Tertulis dalam Teks
Kita dapat mendengar dan menyerap informasi setiap hari. Salah satu sumber
informasi tertulis yang dapat kita temukan adalah melalui media cetak, misalnya,
koran, majalah, dan buletin. Ketika kita menemukan informasi di media cetak,
tentunya kita mengharapkan agar dapat memahami isinya dengan tepat. Oleh
Wisata 93
karenanya, kita memerlukan cara yang tepat dalam melakukannya, salah satunya
adalah dengan membuat catatan atau ringkasan.
Langkah-langkah yang dapat kita lakukan saat membuat catatan agar informasi
tertulis tersebut dapat dipahami dengan baik adalah sebagai berikut.
1. Bacalah informasi tersebut dari awal hingga akhir dengan cermat.
2. Pahami isi informasi tersebut secara teliti.
3. Catat ide pokok atau informasi yang sekiranya dianggap penting dan
kesampingkan keterangan atau hal-hal yang tidak penting.
4. Pertahankan urutan ide sesuai dengan sumber informasi aslinya.
5. Simpulkan ide-ide dalam sumber informasi tersebut dengan menggunakan
kalimat sendiri.
Tugas Individu
1. Bacalah wacana berikut ini dengan saksama.
Pesona Teluk dan Benteng Tua
Di tepi pantai Teluk Tomini, ada bongkahan batu besar yang menjorok
ke tepi jalan. Ada lekukan di permukaannya yang oleh masyarakat setempat
dipercayai sebagai tapak kaki Lahilote, nenek moyang orang Gorontalo.
Benar memang, apabila diamati dari laut, lanskap Kota Gorontalo
tampak begitu khas: terapit dua bukit dan terbelah Sungai Bone. Uniknya,
struktur tanah di kedua bukit itu begitu kontras: tanah bebatuan keras di
sebelah barat, dan tanah biasa di timur.
Penataan kotanya memakai konsep ”waterfront city”. Walhasil, jalan
di pinggir pantai adalah prasarana untuk menikmati pemandangan ke Teluk
Tomini. Apabila ditata lebih baik, maka kawasan tepi pantai itu akan
berperan seperti ”boulevard” di sepanjang tepian Pantai Manado. Pada pagi
hingga sore hari, dapat kita jumpai aktivitas pelabuhan barang dan
penumpang yang sangat berdaya ekonomis. Pada senja dan malam hari, di
sepanjang pantai terdapat dego-dego atau kafe tempat rendez-vous atau
berkencan kaum remaja.
Mengisar ke arah lain, di sebelah selatan Danau Limboto terdapat bukit.
Di atasnya terdapat tiga benteng yang kalau ditilik dari segi topografis
sangatlah strategis. Tak termungkiri, benteng bernama Otanaha itu banyak
dikunjungi masyarakat lokal maupun luar daerah. Untuk mencapainya dari
kaki bukit dengan menaiki tangga 2.000. Dua ribu? Tentu saja jumlahnya
tak persis. Itu hanya untuk menekankan betapa banyak trap tangga yang
mesti ditapaki.
94 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Pengunjung juga dapat menggunakan kendaraan roda dua atau roda
empat melewati jalan curam yang berkelok-kelok hingga ke pelataran parkir
di atas bukit. Menurut Ir. Harley Rizal Lihawa M.T., arsitek yang mendesai
tata bangunan dan lingkungan benteng tersebut, itu bangunan Portugal.
Namun ada penelitian yang menemukan benda kuno di pondasi benteng.
Makanya ahli purbakala menyimpulkan bahwa sebelum orang Portugis
datang, pada tempat tersebut pernah dibangun semacam benteng oleh suku
atas yang tinggal di perbukitan untuk menghalau suku bawah dari sekitar
Danau Limboto. Yang pasti, pendapat berbeda tersebut semakin menambah
daya tarik Benteng Otanala. Dan yang lebih pasti lagi, dari banguna itu
panorama Danau Limboto dan Kota Gorontalo terpampang.
Untuk wisatawan lokal maupun mancanegara berkocek tebal, objek
laut eksklusif Teluk Tomini di Kepulauan Togian bolehlah dipilih.
Lokawisata itu dilengkapi fasilitas diving, spa, dan banyak lagi lainnya.
Mirip benar dengan Bunaken di Sulut. Secara administratif, Kepulauan
Togian masuk wilayah Sulawesi Tengah. Sayangnya, dari ibukota provinsi
di Palu, rutenya lebih panjang dan lama waktu tempuhnya. Dari Kota
Gorontalo dengan boat justru lebih mudah, cepat, dan praktis. Tak perlu
khawatir soal akomodasi. Sejak jadi provinsi tersendiri, pembangunan hotel
berkembang pesat.
Perlu ditambahkan, kita yang dari Jawa kalau pergi ke Gorontalo,
cobalah ”tengok” saudara sesuku yang ada di sana. Mereka kini mendapat
sebutan orang Jaton. Mereka adalah keturunan orang Jawa yang dibuang
Belanda ke Sulawesi bersamaan dengan pengasingan Pangeran Diponegoro.
Disebut Jaton atau Jawa Tondano, karena pada awalnya masyarakat Jawa
tersebut dikirim ke Tondano dan menikah dengan masyarakat setempat
hingga menyebar ke Gorontalo. Mereka umumnya orang-orang makmur
bermata pencaharian utama berkebun cokelat dan kelapa. Bahasa mereka
sudah merupakan campuran Jawa dan Tondano. Walhasil, kalau mereka
ngomong Jaton, orang Jawa dan Tondano sama-sama tak dapat memahami.
Perkampungan Jaton di desa Reksonegoro, Kecamatan Tibawa, Kabupaten
Gorontalo mudah dikunjungi karena lokasinya dekat dengan bandara
Djalaludin. Untuk wisatawan, Jaton memiliki beberapa tradisi yang sangat
bagus untuk disaksikan. Sebut salah satunya balap kereta sapi. Hampir mirip
karapan sapi Madura. Tetapi kalau yang di Madura tanpa kereta dan roda,
balapan di Jaton itu dilengkapi kereta kecil dan roda yang ditarik dua ekor
sapi. Sayangnya, tradisi itu hanya berlangsung satu kali per tahunnya, yakni
hari ketujuh Idul Fitri atau yang umum dikenal sebagai Lebaran Ketupat.
Yang pasti, banyak pesona yang bisa kita saksikan di wilayah Gorontalo.
Sumber: Suara Merdeka, 5 Agustus 2007
Wisata 95
2. Catatlah ide pokok atau informasi yang Anda anggap penting dan urutkan
sesuai informasi aslinya.
3. Simpulkan informasi tersebut dengan menggunakan kalimat Anda sendiri
secara runtut dan komunikatif.
4. Bacakan hasil kerja Anda untuk dijadikan perbandingan dengan temanteman
yang lain.
D. Menulis
Menggunakan Kalimat Tanya Tertulis sesuai dengan
Situasi
Seseorang dikategorikan sebagai orang yang kritis secara pemikiran apabila
ia senang menanyakan segala sesuatu yang sifatnya positif. Pertanyaan-pertanyaan
yang dimilikinya bertujuan untuk mendapatkan informasi penting. Oleh karena
itu bentuk kalimat tanya yang tepat sangat dibutuhkan untuk mengetahui, memastikan,
dan menilai suatu informasi yang ingin ditangkap. Kalimat tanya yang
tepat akan menghasilkan jawaban yang dikehendaki juga tepat.
Kalimat tanya juga dikenal dengan nama kalimat interogatif. Kalimat ini
ditandai dengan kehadiran kata tanya, seperti apa, siapa, berapa, kapan, dan
bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah sebagai penegas.
Kalimat tanya diakhiri dengan tanda tanya (?) pada bahasa tulis. Adapun
pada bahasa lisan ditandai dengan intonasi yang naik pada akhir kalimat.
Dalam pemakaiannya kalimat tanya dapat berupa sungguh-sungguh suatu
pertanyaan, tetapi dapat juga berupa suruhan atau pertanyaan yang tidak memerlukan
jawaban.
1. Kalimat tanya biasa
Kalimat tanya ini merupakan kalimat tanya yang memerlukan jawaban.
Contoh: Siapa nama Anda?
2. Kalimat tanya retoris
Kalimat tanya retoris adalah kalimat tanya yang sama sekali tidak menghendaki
jawaban dan dipakai sebagai suatu cara. Kalimat tanya retoris memiliki
ciri-ciri sebagai berikut.
a. Berisi pertanyaan.
b. Terdapat intonasi tanya.
c. Menggunakan kata tanya.
d. Tidak memerlukan jawaban.
e. Orang yang bertanya dan yang ditanya sama-sama mengetahui jawabannya.
96 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Contoh:
a. Apakah berekreasi ke tempat wisata dapat menyegarkan pikiran kita?
b. Apakah kita boleh membuang sampah sembarangan di tempat wisata?
c. Apakah kita boleh mencorat-coret dinding bangunan yang dianggap
memiliki nilai sejarah?
3. Kalimat tanya yang senilai dengan perintah
Kalimat tanya jenis ini merupakan kalimat tanya namun memiliki maksud
memerintah atau menyuruh.
Contoh: Mengapa tidak kita perbaiki saja tempat ini mulai dari sekarang?
4. Kalimat tanya tersamar
Kalimat tanya ini merupakan kalimat yang bentuk ekspresinya berupa kalimat
tanya, namun isi atau maksudnya bukan untuk bertanya melainkan untuk
tujuan-tujuan lain, seperti memohon, meminta, mengajak, merayu, menyindir,
meyakinkan, dan menyanggah.
Contoh:
a. Bersediakah Anda menghadiri acara kami besok sore?
b. Bolehkah saya mengajakmu menonton film?
c. Bagaimana kalau kita ikut membantu korban bencana itu?
d. Kapan kita dapat memancing di laut seperti dulu, Paman?
e. Apakah saya harus bersumpah untuk meyakinkan kalian?
Berikut merupakan berbagai kata tanya yang dapat digunakan untuk membuat
kalimat tanya.
No. Kata Tanya Menanyakan
1. apa benda
2. siapa orang
3. mengapa alasan
4. kapan waktu
5. berapa jumlah
6. ke berapa urutan
7. mana pilihan
8. di mana tempat
9. ke mana arah (yang dituju)
10. dari mana arah (asal)
11. bagaimana cara, proses
12. bilamana waktu
Wisata 97
Tugas Individu
1. Bacalah wacana di bawah ini.
Wisata Nias Selatan
Sorake tempat Selancar Terbaik
Kabupaten Nias Selatan (Nisel) berada di utara di Pulau Nias, Sumatra
Utara. Sebelumnya ia adalah bagian dari Kabupaten Nias dengan status
otonom diperoleh pada 25 Februari 2003 dan diresmikan pada 28 Juli 2003.
Kabupaten yang beribukota di Teluk Dalam terdiri atas 104 gugusan pulau
besar dan kecil, dan masyarakatnya tersebar di 21 pulau dalam delapan
kecamatan.
Di bidang pariwisata, potensi wisata kabupaten itu sebenarnya cukup
menjanjikan. Banyak pantai indah di sana. Sorake, salah satunya, akrab di
telinga penggemar olahraga selancar, karena mempunyai ombak yang cukup
tinggi. Turnamen selancar tingkat dunia beberapa kali diadakan di pantai
itu.
Ada pula andalan wisata lainnya, yaitu Pantai Lagundri yang berpasir
putih. Pantainya berada di sebuah laguna, bersebelahan dengan Pantai
Sorake, sekitar 13 kilometer di selatan Kota Teluk Dalam. Di Kecamatan
Pulau-pulau Batu juga ada lokasi menyelam, terumbu karang, serta ikanikan
hias plus pantai berpasir putih. Ada juga peninggalan zaman megalitik
berupa batu-batu megalit di Kecamatan Lahusa dan Gomo.
Selain itu, terdapat juga peninggalan cagar budaya, yaitu permukiman
desa adat Nias di Bawomataluo yang terletak di pedalaman dan berada di
puncak bukit. Kompleks tersebut menyimpan banyak pesona, khususnya
kehidupan asli masyarakat di sana dengan berbagai tradisi, di antaranya
adalah Hombo Batu atau yang kita kenal sebagai Lompat Batu.
Kawasan tersebut sangat bagus untuk tujuan wisata. Pasalnya, di
sepanjang Pantai Lagundri dan Pantai Sorake berjajar homestay yang siap
melayani dan membuai wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai.
Tarifnya cukup semurah penginapan melati. Sampai saat ini kalau kita naik
feri dari Sibolga menuju Gunung Sitoli atau naik pesawat dari Polonia
Medan ke Binaka, akan menjumpai banyak sekali turis berkulit putih.
Mereka adalah penggemar olahraga selancar yang akan ke Pantai Sorake
dan menikmati keindahan pantai pasir putih di Lagundri. Wajar saja mereka
berdatangan ke sana. Sebab, Sorake dan Lagundri disebut-sebut sebagai
tempat selancar paling baik kedua setelah Hawaii.
98 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Ya, sebenarnya Nisel sangat potensial dalam segi wisata. Sayang sekali
potensi tersebut seolah-olah terabaikan karena lupa membangun sarana dan
prasarana, terutama transportasi yang memadai. Padahal berselancar atau
sekadar bertelanjang dada menikmati sinar mentari di pantai menjadi
gambaran yang lekat begitu kata ”Nias” disebut. Bayangan indahnya pulau
itu pun menyeruak dengan gambaran laut jernih berlapis warna hijau bening
dan biru memukau, pasir putih, dan nyiur pepohonan kelapa. Belum lagi
pesona yang memikat dari peninggalan budaya megalitik dan juga rumah
adat ramah lingkungan serta berbagai hasil karya masyarakat Nias yang
telah berumur ratusan tahun.
Dibandingkan dengan daerah lain di Sumatra Utara, Nias bisa dibilang
tertinggal nyaris dalam segala hal. Mungkin ada yang beranggapan bahwa
pemerintah ”mengabaikan” Nias. Namun, ada realitas lain yang tidak boleh
diabaikan kemungkinannya, yaitu soal posisi dan keadaan geografisnya
sendiri.
Sebenarnya Nias sangat potensial untuk bisa menjadi daerah tujuan
wisata karena mempunyai alam yang indah. Begitu banyak potensi siap
membuai wisatawan dan diharapkan mampu membuka sejuta peluang
pengembangan ekonomi bagi warga. Kenyataannya, jauh panggang dari
api. Untuk menelusuri dan menikmati potensinya yang tersebar di pulau
itu membutuhkan nyali besar.
Sumber: Suara Merdeka, 13 Mei 2007 (Diambil seperlunya)
2. Buatlah contoh-contoh kalimat tanya berdasarkan wacana di atas.
3. Klasifikasikan jenis kalimat tanya yang Anda buat tersebut.
Tugas Kelompok
1. Carilah contoh artikel di koran atau majalah bersama teman sebangku Anda.
2. Buatlah kalimat tanya sebanyak-banyaknya berdasarkan artikel tersebut.
3. Kumpulkan hasilnya kepada guru Anda untuk diberi penilaian.
Wisata 99
Rangkuman
1. Sumber-sumber informasi lisan dapat diperoleh melalui penuturan langsung
dari narasumber, media radio dan televisi, rekaman, dan sumber informasi
lisan lainnya.
2. Syarat yang harus dipenuhi oleh kalimat yang baik, tepat, dan santun, yaitu
sesuai sesuai kaidah bahasa, nalar, dan memiliki ketersampaian pesan.
3. Langkah-langkah saat membuat catatan agar informasi dapat dipahami
dengan baik antara lain dengan membacanya terlebih dahulu sampai selesai,
memahami isi, mencatat ide pokok, mempertahankan urutan ide, dan
menyimpulkannya dengan kalimat sendiri.
4. Berdasarkan penggunaannya, kalimat tanya terdiri dari kalimat tanya biasa,
kalimat tanya retoris, kalimat tanya senilai dengan perintah, dan kalimat
tanya tersamar.
Latihan
A. Pilihlah jawaban yang paling benar!
1. Di bawah ini yang bukan termasuk sumber informasi lisan adalah ….
a. wawancara c. televisi e. koran
b. radio d. gosip
2. Alasan informasi lisan lebih sulit diserap dibandingkan dengan informasi
tertulis adalah ….
a. informasi lisan hanya dapat didengar sekali, sedangkan informasi tertulis
dapat dibaca berulang kali
b. informasi lisan dapat didengar berulang kali, sedangkan informasi tertulis
hanya dibaca sekali
c. informasi tertulis mengandung pokok-pokok informasi yang lebih ringan
dibandingkan informasi lisan
d. informasi lisan didapat dari berbagai sumber, seperti radio, televisi, dan
wawancara
e. isi informasi lisan biasanya lebih berbobot dibandingkan dengan isi
informasi tertulis
3. Berikut yang tidak termasuk syarat-syarat kalimat yang baik adalah ….
a. menggunakan ejaan yang berlaku
b. kelogisan dalam isi kalimat
c. taat azas terhadap kaidah bahasa
d. menggunakan bahasa yang pendek
e. menggunakan penalaran yang baik
100 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
4. Kalimat yang baik dan santun adalah seperti berikut ….
a. Barangkali ini semua sudah menjadi keputusan daripada pimpinan kita.
b. Banyak buah-buah di dalam negeri yang tergolong berkualitas baik.
c. Kepada para tamu-tamu dimohon untuk mengikuti jalannya acara.
d. Pepohonan di tepi jalan mulai ditebangi oleh para pekerja.
e. Peraturan mengharuskan bahwa sesama bus kota dilarang saling dahulu
mendahului.
5. Kata dalam kalimat-kalimat berikut yang baku adalah ….
a. Ibu menyuruh adik membeli obat di apotik.
b. Kami berjanji akan segera menyelesaikan tugas praktek tersebut.
c. Ayah mengharapkan agar kami dapat mengevaluasi diri sendiri.
d. Invlasi yang berkepanjangan itu menyebabkan rakyat di negara itu jatuh
miskin.
e. Jika kita tidak masuk sekolah hendaknya membuat surat ijin.
6. Suatu proses berpikir untuk menghubungkan data atau fakta yang ada
sehingga sampai pada suatu kesimpulan di dalam kalimat disebut ….
a. pengamatan c. penyimpulan e. percobaan
b. penalaran d. penataan
7. Kata tanya yang tepat untuk menanyakan waktu terjadi suatu peristiwa
adalah ….
a. mengapa c. apa e. siapa
b. bilamana d. bagaimana
8. Di bawah ini yang tidak termasuk kalimat tanya adalah ….
a. Mengapa tempat wisata itu tidak dikelola dengan baik sebelumnya?
b. Bagaimanapun hasilnya, aku tetap akan melanjutkan rencana yang telah
kita sepakati.
c. Siapa yang bertugas membersihkan halaman Candi Borobudur hari ini?
d. Kapan peresmian tempat wisata itu diselenggarakan?
e. Apakah kita tidak malu menjadi bangsa yang tidak berbudaya?
9. Mengisar ke arah lain, di sebelah selatan Danau Limboto terdapat bukit. Di
atasnya terdapat tiga benteng yang kalau ditilik dari segi topografis
sangatlah strategis. Tak termungkiri, benteng bernama Otanaha itu banyak
dikunjungi masyarakat lokal maupun luar daerah.
Informasi penting dari paragraf di atas adalah ….
a. Di sebelah selatan Danau Limboto terdapat bukit.
b. Di atas bukit terdapat tiga benteng.
c. Di atas bukit sebelah selatan Danau Limboto terdapat tiga benteng yang
bernama Otanaha.
d. Benteng Otanaha banyak dikunjungi masyarakat lokal maupun daerah.
e. Letak Benteng Otanaha sangat strategis ditinjau dari segi topografis.
Wisata 101
10. Salah satu cara untuk memahami informasi di media cetak dengan tepat
adalah ....
a. membandingkan informasi tersebut dengan informasi lain yang serupa
b. membuat ringkasan yang berisi pokok-pokok gagasan
c. mencari narasumber yang berkompeten untuk diajak wawancara
d. menindaklanjuti dengan praktik berdasarkan informasi
e. memilih dan memilah sudut pandang penulis informasi
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Apakah penutur cerita rakyat pada zaman dahulu termasuk dalam sumber
informasi lisan? Terangkan alasannya!
2. Mengapa informasi lisan perlu kita pelajari? Apa manfaatnya?
3. Bagaimana menurut pendapat Anda tentang kalimat dalam puisi yang
biasanya tidak mengindahkan kaidah bahasa yang baik, benar, dan bernalar?
Mengapa bahasa dalam puisi terkesan bebas?
4. Jelaskan langkah-langkah yang hendaknya dilakukan ketika membuat catatan
suatu informasi!
5. Sebut dan jelaskan macam kalimat tanya berdasarkan penggunaannya!
Berilah contohnya!
Sekilas Pengetahuan Bahasa
Terkadang, kita ingin menggunakan bahasa yang kesannya indah atau
menguatkan ekspresi, tetapi ternyata tidak tepat. Contohnya adalah pada permasalahan
penggunaan kata tatah dan takhta yang akan dibahas dalam ulasan
berikut.
Dalam selembar voucher belanja tertulis: ”Cincin gratis, sebuah cincin
bertahtakan permata indah untuk pembelian barang minimal Rp100.000,00.”
Adakah yang aneh dari kalimat tersebut?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata tahta adalah bentuk tidak baku
dari kata takhta. Maknanya adalah tempat duduk raja. Jika mengacu pada makna
tersebut, penggunaan kata tahta pada kalimat dalam voucher tersebut tentulah
tidak tepat. Seharusnya, bukan kata tahta yang digunakan, melainkan kata tatah.
Kata tatah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pahat. Dengan
demikian, kalimat tersebut akan lebih tepat jika ditulis: ”Cincin gratis, sebuah
cincin bertatahkan permata indah untuk pembelian barang minimal
Rp100.000,00.”
Sumber: Situs Bahasa, Yunior Edisi 28, 26 Agustus 2007 (Dengan pengubahan)
102 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Kabar Tokoh
Pramoedya Ananta Toer
Lahir 6 Februari 1925 di Blora (Jawa Tengah).
berpendidikan SD Blora (tamat 1939), Radiovakschool
Surabaya (1940 – 1943), sekolah stenografi (1944 –
1945), dan Sekolah Tinggi Islam Jakarta (1945).
Pernah menjadi juru ketik di Kantor Berita Jepang
Domei, letnan dua dalam Resimen 6 Divisi Siliwangi (1946), redaktur Balai
Pustaka (1950 – 1951), pimpinan Literary & Features Agency Duta (1951 –
1954), redaktur bagian penerbitan pada The Voice of Free Indonesia, anggota
pleno Lekra, anggota Dewan Ketua Komite Perdamaian Indonesia, Ketua
Delegasi Indonesia ke Konverensi Pengarang Asia-Afrika di Tasjkent, Uni Soviet
(1958), redaktur Lentera (lampiran kebudayaan harian Bintang Timur (1962 –
1965), dosen Fakultas Sastra Universitas Res Republica, Jakarta, dan dosen
Akademi Jurnalistik Dr. Abdul Rivai, Jakarta. Pernah bermukim di Belanda
(1953) dan mengunjungi negara-negara Singapura, Malaysia, India, Mesir,
Jerman, Cekoslowakia, Hongaria, Rumania, Yunani, Polandia, Hongkong, dan
Cina.
Kumpulan cerpennya, Cerita dari Blora (1952), memperoleh Hadiah
Sastra Nasional dari BMKN untuk cerpen-cerpen yang terbit tahun 1952.
Kumpulan cerpen yang lain, Cerita dari Jakarta (1957), memperoleh hadiah
dari Yayasan Yamin pada tahun 1964 (tetapi hadiah itu ditolak oleh Pramoedya).
Adapun novelnya, Perburuan (1950), memenangkan Hadiah Pertama dalam
sayembara yang diadakan oleh Balai Pustaka tahun 1949. Karyanya yang lain
adalah Kranji-Bekasi Jatuh (1947), Keluarga Gerilya (1950), Subuh (1950),
Percikan Revolusi (1950), Mereka yang Dilumpuhkan I & II (1951), Bukan Pasar
Malam (1951), Di Tepi Kali Bekasi (1951), Dia yang Menyerah (1951), Gulat
di Jakarta (1953), Midah Si Manis Bergigi Emas (1954), Korupsi (1954), Cerita
Calon Arang (1957), Suatu Peristiwa di Banten Selatan (1958), Hoakiau di
Indonesia (1960), Panggil Aku Kartini Saja I & II (1962), Realisme Sosialis
dan Sastra Indonesia (1963), Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980),
Tempo Doeloe (1982), dan sejumlah terjemahan. Sebagian besar karya Pramoedya
telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa.
Sumber: Proses Kreatif–Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, Gramedia 1984
Sumber: Arus Balik, Hasta Mitra
2001
Kehidupan Masyarakat 103
Tema
7
KEHIDUPAN
MASYARAKAT
Sumber: Kompas, 29 Juli 2007
Tujuan Pembelajaran:
1. Menyimak informasi dari tuturan lisan.
2. Mengucapkan kalimat dengan lancar, bernalar, dan wajar.
3. Memahami informasi dalam teks berbentuk narasi.
4. Membuat parafrasa dari teks tertulis.
104 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Pendahuluan
Pada pertemuan ini Anda akan memelajari empat aspek kemampuan berbahasa,
yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada aspek mendengarkan,
Anda akan diajak menyimak informasi dari tuturan lisan. Pada aspek berbicara, Anda
akan memelajari cara mengucapkan kalimat dengan lancar, bernalar, dan wajar
Bagaimana cara memahami informasi dalam teks berbentuk narasi dapat Anda temui
pada aspek membaca. Adapun pada aspek terakhir, yaitu menulis, Anda diajak untuk
belajar membuat parafrasa dari teks tertulis.
Setiap aspek di atas akan dilengkapi dengan tugas, berupa tugas individu atau
kelompok, untuk merangsang dan memotivasi Anda berpikir kreatif dalam memahami
uraian materi. Selain itu, pada akhir bab Anda akan menemui rangkuman dan pelatihan.
Rangkuman berguna untuk mengingatkan Anda kembali mengenai isi materi yang
telah dipelajari. Adapun pelatihan akan membantu mengukur sejauh mana pemahaman
materi yang telah Anda capai dengan cara mengerjakan soal-soal.
A. Mendengarkan
Menyimak Informasi dari Tuturan Lisan
Kegiatan menyimak memiliki
banyak manfaat. Misalnya, dengan
kegiatan menyimak kita akan mengetahui
banyak hal tentang informasi,
fakta, peristiwa, fenomena, kenyataan,
konsep, opini, gagasan, proses,
asumsi, pengandaian, khayalan, dan
harapan.
Untuk memperoleh beberapa
manfaat tersebut, dibutuhkan berbagai
sumber informasi. Sumber informasi
dapat diperoleh dari radio,
televisi, koran, majalah, internet, ataupun narasumber. Sumber informasi ada
yang langsung atau mengutip dari sumber yang lain. Sumber informasi langsung
didapat dari narasumber, komentar lisan, maupun internet. Adapun sumber
informasi tidak langsung didapat dari televisi atau radio, karena kedua sumber
informasi tersebut mengutip dari sumber yang lain.
Ciri-ciri atau kriteria suatu sumber, baik secara langsung maupun tidak, yang
dapat disebut sebagai sumber informasi atau bukan, antara lain, sebagai berikut.
1. Dapat dicek kebenarannya.
2. Dapat dipertanggungjawabkan.
3. Mengacu pada informasi tertentu.
Gambar 7.1 Salah satu sumber informasi
langsung didapat dari wawancara dengan
narasumber
Sumber: Kompas, 31 Maret 2008
Kehidupan Masyarakat 105
Tugas Individu
1. Simaklah artikel yang akan dibacakan oleh guru Anda berikut.
Peluang Pemrogram Komputer
di Balik Kegagapan Teknologi Masyarakat
Di zaman sekarang masyarakat tidak bisa lepas dari produk teknologi
yang bernama komputer. Terlebih di era informasi dan teknologi yang
semakin berkembang pesat, kebutuhan akan komputer dan memahami
penggunaannya pun sudah menjadi keharusan. Pertanyaan yang muncul
kemudian adalah, apakah memang masyarakat memahami seluk-beluk
komputer? Jawabannya, sebagian besar masyarakat hanya mampu
mengoperasikan komputer sebatas menggunakan aplikasi yang ada. Aplikasi
ini hanya meliputi mengetik, mengolah data, atau membuat berbagai desain
dengan memanfaatkan program yang sudah dipersiapkan. Sementara itu,
untuk membuat terobosan baru, misalnya membuat software, tidak semua
masyarakat dapat melakukannya.
Keahlian membuat program inilah yang disebut dengan pemrogram.
Pemrogram biasa dikenal juga sebagai analis program, insinyur perangkat
lunak, ahli komputer, atau pun analis perangkat lunak. Bahasa komputer
yang biasa dikuasai adalah Java, C++, dan lain sebagainya, dan biasa
digunakan untuk memperbaiki program software atau situs komputer.
Kemampuan di bidang komputer seperti ini dapat digunakan untuk
mengeruk keuntungan yang tidak sedikit. Salah seorang yang mampu
memanfaatkan ketidakmampuan masyarakat dalam memahami program
komputer adalah Septian. Ia menguasai program seperti visual basic dan
oracle yang dapat dimanfaatkan untuk membuat program-program komputer
yang sederhana bagi klien (masyarakat). Beberapa toko yang menjadi klien,
meminta Septian untuk menciptakan program yang dapat memudahkan
pengelolaan toko, seperti aplikasi lalu lintas barang di gudang dan daftar
tabel harga untuk program kasir. Kedua program ini akan memudahkan
pemilik toko untuk mengetahui barang apa saja yang sudah dan belum
dijualnya.
Di awal usahanya, Septian bekerja sama dengan sebuah toko penjualan
dan perbaikan komputer di kotanya. Ia memberlakukan sistem bagi hasil
setiap kali mendapatkan pesanan program melalui toko tersebut. Masyarakat
yang mendatangi toko komputer tempat Septian bekerja biasanya meminta
pelayanan untuk kepentingan pribadi atau pun instansi. Selain mendapatkan
klien secara berkesinambungan, toko tempat Septian bekerja sama sudah
106 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
mengetahui kapabilitas yang dimilikinya, sehingga klien pun dengan
sendirinya akan berdatangan. Cara promosi seperti ini sangat efektif bagi
Septian khususnya, yang masih harus menyelesaikan masa studi belajarnya.
Selain itu, agar toko senantiasa percaya dengan kualitas dan kredibilitas
pemrogram, tidak ada salahnya jika pemrogram tersebut selalu menyiapkan
satu program yang sudah jadi sebagai contoh hasil karya.
Sumber: 21 Bisnis Sampingan untuk Mahasiswa, TransMedia Pustaka, 2007
(Diambil seperlunya dengan pengubahan)
2. Apakah artikel di atas dapat disebut informasi? Terangkan pendapat Anda
dengan bahasa yang runtut.
3. Jika artikel tersebut merupakan sumber informasi, termasuk jenis informasi
yang bersifat fakta, opini, khayalan, ataukah jenis yang lain? Jelaskan
dengan alasan yang tepat.
4. Adakah hal-hal penting yang dapat Anda serap dari isi artikel tersebut?
Jika ya, coba Anda catat hal-hal penting tersebut. Jika tidak, coba beri alasan
yang mendukung jawaban Anda.
Tugas Kelompok
1. Bekerjasamalah dengan teman sebangku Anda untuk mendaftar sumber
informasi jenis khayalan.
2. Sertakan contoh teksnya pada setiap satu sumber informasi tersebut.
3. Berilah alasan yang tepat mengapa sumber yang Anda daftar tersebut
merupakan sumber informasi.
4. Presentasikan di depan kelas agar mendapat masukan dari teman dan guru
Anda.
B. Berbicara
Mengucapkan Kalimat dengan Lancar, Bernalar, dan
Wajar
Setiap hari kita sering melakukan komunikasi secara lisan dengan orang lain.
Kegiatan berkomunikasi secara lisan tersebut tentunya memerlukan bahasa tutur
sebagai perantara. Pada praktiknya kita sering menemui kesulitan mengungkapkan
kalimat-kalimat secara lancar, bernalar, dan wajar dalam berkomunikasi.
Kehidupan Masyarakat 107
Ketidaklancaran, ketidaknalaran, dan ketidakwajaran kita dalam bertutur akan
mengakibatkan informasi yang ingin kita sampaikan kepada orang lain menjadi
tidak jelas maksudnya. Padahal, mungkin saja pada saat itu kita hendak
menyampaikan suatu informasi yang penting.
Mengucapkan kalimat dengan lancar berarti kita mengucapkan kalimat tanpa
mengalami hambatan apapun. Misalnya, hambatan dalam artikulasi, lafal, tekanan,
intonasi, maupun jeda.
Mengucapkan kalimat dengan bernalar berarti kita mengucapkan kalimat yang
dapat ditangkap maksudnya oleh lawan bicara karena kalimat tersebut sesuai
dengan kaidah tata bahasa sehingga terkesan nalar. Adapun mengucapkan kalimat
dengan wajar berarti kita mengucapkan kalimat dengan sewajarnya, baik menurut
tata bunyi maupun tata sikap.
Tugas Individu
1. Bacalah dalam hati teks berikut.
Beduk Berasal dari China
Belum ada penelitian yang memastikan dari mana sesungguhnya asalusul
beduk. Tapi, sebagian tokoh agama dan masyarakat yakin, tabuhan
besar itu berasal dari China. Wali Sanga–sembilan ulama pendakwah Islam
di Jawa–memanfaatkan beduk untuk kepentingan ibadah di masjid-masjid.
Menurut etnomusikolog Rizaldi Siagian, sebenarnya tradisi tabuhan
besar dari kulit merupakan budaya tua yang sudah tumbuh lama di
Nusantara. Di Nias, ada beduk besar yang disimpan di rumah adat, yang
disebut fondahi. Di Mandailing, ada tabuhan besar yang disebut tabu yang
disimpan di gordang sambilang untuk upacara adat. Tradisi serupa juga
berkembang di Minangkabau.
Spekulasi yang santer, kemungkinan besar beduk masuk bersama
penjelajahan Cheng Ho, seorang laksamana dari Provinsi Yunnan, China,
pada masa Dinasti Ming, yang mengunjungi beberapa wilayah Nusantara
sekitar abad ke-15 Masehi. Di negeri asalnya, alat musik itu jadi sarana
untuk mengumpulkan massa atau mengiringi ritual keagamaan.
Legenda yang beredar di masyarakat menceritakan, Wali Sanga
mengambil beduk untuk digantung di masjid atau surau. Alat itu kemudian
ditabuh lima kali sehari untuk mengumumkan awal waktu shalat. Pada
perkembangan berikutnya, beduk semakin lekat dengan masjid atau surau
dan dipakai untuk menandai berbagai peristiwa penting keagamaan lain,
terutama menyambut Ramadhan dan Idul Fitri.
108 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat
menengarai, kepercayaan masyarakat itu sangat mungkin benar terjadi
karena beberapa elemen lain dalam masjid juga diadopsi dari luar budaya
Islam. Menara masjid, misalnya, diduga berasal dari tempat pemujaan Dewa
Api dalam tradisi agama Majusi. Saat Islam datang, menara itu diambil
dan dialihkan fungsinya menjadi tempat azan dan landmark bangunan
ibadah.
Demikian juga kubah yang diperkirakan juga bukan dari Arab, tetapi
dari Romawi. Kubah dipadukan dalam masjid agar suara orang yang
beribadah jadi lebih bergema dan lengkungan atap untuk ventilasi udara
agar lebih segar. Adopsi budaya ini menghasilkan identifikasi yang unik.
Jika gereja identik dengan lonceng, maka masjid identik dengan beduk.
Sumber: Kompas, 30 September 2007 (Diambil seperlunya dengan pengubahan)
2. Coba cermati kalimat-kalimat yang tidak bernalar penggunaannya pada teks
tersebut.
3. Betulkan kalimat-kalimat tersebut sehingga menjadi kalimat yang baik dan
bernalar. Apabila perlu dapat Anda kembangkan sedikit kalimat-kalimat
yang tidak bernalar tersebut agar lebih mudah dibetulkan.
4. Setelah selesai, coba Anda salin teks tersebut ke dalam buku tugas.
5. Bacakan hasil kerja Anda di depan kelas dengan artikulasi, lafal, tekanan,
intonasi, dan jeda yang tepat dengan lancar.
6. Gunakan sikap yang baik ketika Anda membacakan dan bedakan
penggunaan intonasi yang terdapat pada kalimat di dalam teks (kalimat
pernyataan, kalimat tanya, atau kalimat perintah) secara tepat dan
sewajarnya.
C. Membaca
Memahami Informasi dalam Teks Berbentuk Narasi
Jika Anda membaca suatu tulisan yang isinya mengisahkan suatu cerita atau
rangkaian peristiwa yang berlangsung pada waktu tertentu, maka tulisan itu disebut
narasi. Berdasarkan pengembangannya, narasi dibedakan atas narasi sugestif dan
narasi ekspositoris. Narasi sugestif adalah narasi yang mengisahkan peristiwaperistiwa
imajinatif dengan menggunakan bahasa yang indah, seperti cerpen dan
novel. Narasi sugestif disebut juga narasi fiktif. Adapun narasi ekspositoris adalah
narasi yang menyampaikan informasi mengenai suatu kejadian dengan
menggunakan bahasa yang lugas. Narasi ekspositoris disebut juga narasi nonfiktif,
seperti biografi, autobiografi, dan laporan perjalanan.
Kehidupan Masyarakat 109
Perhatikan contoh teks narasi fiktif dan nonfiktif berikut.
1. Teks narasi fiktif
Mercusuar
Oleh Sori Siregar
….
Selama dua tahun terakhir Moira sangat sering menyanyikan lagu
ciptaan Gordon Tobing itu sambil membelai rambut putrinya. Semua
ini bermula dari sebuah tragedi yang menimpa keluarga mereka. Tujuh
tahun lalu, Bachtiar, abang Lilian, bersama empat rekannya sesama
aktivis mahasiswa tiba-tiba hilang entah ke mana. Belakangan beredar
kabar bahwa mereka diculik oleh tangan-tangan kekuasaan, dibunuh
lalu dikubur di sebuah pulau kecil tidak bernama di lepas pantai.
Mengapa mereka diculik, dibunuh, dan dimakamkan di pulau kecil
itu tidak seorang pun tahu. Apakah benar mereka diculik, juga tidak
seorang pun yang tahu. Yang beredar hanyalah dugaan-dugaan. Moira,
suaminya, dan Lilian tak jemu-jemunya mencari Bachtiar ke berbagai
penjuru. Polisi yang berupaya membantu para orangtua kelima pemuda
itu juga angkat tangan, menyerah.
Lilian tumbuh dalam suasana pencarian seperti itu. Di luar
keinginannya, perkembangan kejiwaannya berlangsung dalam
ketidakstabilan. Setelah lima tahun mencari, Moira, suaminya, dan
Lilian akhirnya menyerah. Moira dan suaminya mengikhlaskan
kepergian Bachtiar. Tidak demikian halnya dengan Lilian. Ia sangat
terpukul. Ia sangat kehilangan seorang abang yang sangat
menyayanginya.
….
Sumber: Kompas, 4 November 2007
2. Teks narasi nonfiktif
Ismail Marzuki
Komponis Betawi Pecinta Bandung
Ismail Marzuki merupakan putra Betawi. Lahir di Kwitang, 11 Mei
1914, meninggal di tempat yang sama, 25 Mei 1958. Sejak kecil ia gemar
bermain musik. Dia hobi mendengarkan piringan hitam (semacam kaset
zaman sekarang), juga mahir memainkan beragam instrumen, seperti
gitar, harmonika, dan mandolin.
Semula oleh ayahnya ia disekolahkan di sekolah Kristen HIS,
namun kemudian pindah ke Madrasah Unwanul Falah. Di sekolah
110 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
tersebut jiwa nasionalisme Ma’ing (panggilan Ismail Marzuki waktu
kecil) ditempa.
Saat remaja ia sempat bekerja sebagai penjual piringan hitam.
Dengan profesinya itu dia berkenalan dengan seniman lain. semakin
terasahlah bakat musiknya. Lagu pertamanya berjudul O Sarinah (tahun
1931). Sepintas, lirik ini menggambarkan penderitaan wanita. Namun
sebenarnya menggambarkan perasaan bangsa Indonesia yang dijajah
Belanda.
Beberapa lagu perjuangan ciptaannya, antara lain, Rayuan Pulau
Kelapa, Selendang Sutra, Sampul Surat, Indonesia Pusaka, Melati di
Tapal Batas, dan Selamat Datang Pahlawan Muda. Atas jasanya dia
memperoleh Piagam Wijayakusuma dari Presiden Soekarno pada 17
Agustus 1961.
Bertepatan dengan perayaan Hari Pahlawan, pada 10 November
2004, Ismail Marzuki dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh
Presiden SBY. Sebuah penghargaan yang layak karena dia turut
berjuang melalui musik.
Satu hal yang perlu dicatat, sebagai putera Betawi, dia mencintai
Bandung. Suatu metafora agar bangsa Indonesia bersatu tanpa
memandang kesukuan.
Sumber: Yunior, 12 Agustus 2007 (Diambil seperlunya)
Tugas Individu
1. Bacalah teks di bawah ini dengan cermat.
Berakar pada Budaya Agraris
Seperti juga perayaan hari besar agama lain yang telah menjadi pesta
rakyat, kemeriahan perayaan Natal di Manado dikhawatirkan makin
mengikis nilai dan makna Natal sesungguhnya.
”Saat agama hanya didominasi dengan acara-acara seremonial belaka,
substansinya makin lama makin hilang,” ungkap Pdt. Dr. Richard A.D.
Siwu, tokoh masyarakat Minahasa yang juga sosiolog dari Universitas
Kristen Indonesia Tomohon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara.
Budayawan Sulut, Eric Dayoh, mengatakan, perayaan Pohon Terang
telah menjadi daya tarik bagi perantau Kawanua untuk pulang kampung.
”Rasanya lain ketika merayakan Pohon Terang di Jakarta dan Manado.
Kami merasakan atmosfer kerukunan dan persaudaraan,” katanya.
Kehidupan Masyarakat 111
Menurut Siwu, Natal yang dirayakan secara besar-besaran sepanjang
bulan Desember oleh masyarakat Minahasa adalah konsekuensi diterimanya
agama Kristen sebagai agama rakyat. ”Sebagai public religion, agama
Kristen di sini kemudian mengakar pada budaya lokal. Agama pun kemudian
menjadi kerangka pergaulan,” tuturnya.
Sebagai masyarakat komunal, salah satu tradisi masyarakat Minahasa
adalah berkumpul dan makan bersama. Dalam salah satu artikelnya, Siwu
menyebutnya dengan ungkapan no meeting without eating, tak ada pertemuan
tanpa makan-makan.
Bagi Eric Dayoh, tradisi makan-makan merupakan apresiasi terhadap
sebuah kegiatan religius.
Menurut Siwu, tradisi ini berakar pada budaya agraris, yakni perayaan
rasa syukur setelah panen. Tradisi serupa dapat ditemui di daerah lain yang
sama-sama berakar pada kultur agraris, seperti perayaan Seren Taun di
masyarakat Sunda atau Sedekah Bumi di Jawa.
”Pada akhirnya, banyak sekali peristiwa di sekitar kehidupan pribadi,
keluarga, atau komunitas yang kemudian dirayakan dalam bentuk pesta
syukur. Bahkan punya mobil baru pun bikin pesta syukur,” papar Siwu.
Yang kemudian dikhawatirkan, budaya pengucapan syukur, baik dalam
kerangka hari raya keagamaan maupun hal-hal yang sifatnya lebih personal
itu, telah berkembang seiring dengan budaya konsumtif dan materialisme
masyarakat.
Di Minahasa, Siwu menyebut maraknya budaya pesta dan makan-makan
ini terutama terjadi saat era booming cengkeh dekade 1970-an. ”Dari
perayaan Natal yang sederhana di gereja, menjadi perayaan besar-besaran
di masyarakat. Natal pun akhirnya dikomersialkan,” kata Siwu.
Sumber: Kompas, 23 Desember 2007
2. Apakah teks tersebut termasuk jenis karangan narasi? Jelaskan alasannya
dengan logis.
3. Coba Anda catat pokok informasi dari bentuk teks yang Anda baca pada
buku tugas.
Tugas Kelompok
1. Carilah tiga buah teks yang berbentuk naratif dari media massa bersama
teman sebangku Anda. Isi teks berhubungan dengan kehidupan masyarakat
Indonesia.
112 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
2. Presentasikan di depan kelas mengapa tiga teks tersebut Anda tafsirkan
sebagai teks naratif. Gunakan bahasa yang baik, runtut, dan komunikatif
untuk mempresentasikannya.
3. Siswa-siswa yang lain dapat menyimak dan memberi komentar (saran, kritik,
maupun pertanyaan).
D. Menulis
Membuat Parafrasa dari Teks Tertulis
Membuat parafrasa dari teks tertulis merupakan kegiatan mengungkapkan
kembali dengan bahasa atau kalimat sendiri secara tertulis berdasarkan teks yang
telah dibaca atau berdasarkan uraian lisan yang didengarkan. Ciri-ciri parafrasa
adalah sebagai berikut.
1. Bentuk tuturan berbeda.
2. Makna tuturan sama.
3. Substansi tidak berubah.
4. Bahasa atau cara menyampaikannya berbeda.
Langkah-langkah membuat parafrasa, antara lain, sebagai berikut.
1. Membaca teks secara cermat kemudian mencari ide pokoknya.
2. Mencari atau mencatat kalimat utama dalam setiap paragraf. Kalimat utama
adalah kalimat yang menjadi inti atau pokok dalam sebuah paragraf.
3. Memahami makna tersurat, artinya memahami maksud yang jelas tertulis
langsung dalam bacaan, memahami makna kata, frase, kalimat, paragraf, bab,
dan subab.
4. Memahami makna tersirat, artinya memahami maksud yang tidak tertulis
secara jelas dalam bacaan.
5. Membedakan fakta-fakta dan detail bacaan.
6. Menuliskan kembali inti pikiran orang lain (bacaan) dengan susunan kalimatkalimat
sendiri tanpa mengubah arti.
Coba Anda perhatikan contoh berikut.
Kultur Kelapa di Tanah Halmahera
Pulau Halmahera di Maluku Utara tak bisa dilepaskan dari perkebunan
kelapa yang menjadi tulang punggung kehidupan sekitar 103.729 keluarga.
Kultur kelapa mengalir dalam urat nadi kehidupan masyarakat Halmahera
selama puluhan tahun.
Di pulau berbentuk K itu kebun kelapa ada di setiap desa, dari pantai
hingga perbukitan. Pun mudah menemui aktivitas membelah dan
Kehidupan Masyarakat 113
mencungkil kelapa. Jika masuk ke perkebunan kelapa, ada saja yang sedang
mengasapi daging kelapa untuk dijadikan kopra.
Masyarakat Halmahera menjadi petani kelapa sejak puluhan tahun
silam, melewati masa kejayaan dan keterpurukan harga kopra. Kesetiaan
pada kelapa tetap bertahan meskipun lebih dari 20 tahun dianaktirikan
karena pengambil kebijakan kepincut pada kelapa sawit. Saat harga
terpuruk, kelapa tetap meneteskan rezeki pada masyarakat.
Sumber: Kompas, 29 Juli 2007 (Diambil seperlunya)
Parafrasa dari teks di atas adalah sebagai berikut.
Mata pencaharian utama masyarakat di Pulau Halmahera adalah
bertanam kelapa dan mengolahnya menjadi kopra. Mata pencaharian
tersebut telah menjadi kultur masyarakat Halmahera selama puluhan tahun.
Meskipun harga kopra naik dan turun, mereka tetap setia menekuni profesi
tersebut. Bahkan ketika kelapa kalah bersaing dengan kelapa sawit, produk
kopra masih mampu memberikan rezeki bagi masyarakat Halmahera.
Tugas Individu
1. Bacalah teks di bawah ini dengan saksama.
”Starblack” dan Kopi Aceh
Tradisi minum kopi dikenal di banyak masyarakat di berbagai negara.
Tetapi, barangkali hanya ditemukan di Aceh, entah di kota maupun desa,
sejak subuh hingga tengah malam warga silih berganti ke kedai kopi.
”Di desa, sejak dulu orang biasa ke kedai kopi setelah shalat subuh,”
kata Sulaiman Tripa, peneliti budaya dan penulis beberapa buku di Banda
Aceh. Sulaiman sendiri pernah bekerja di kedai kopi kakaknya di Trieng
Gading, Pidie, saat masih duduk di bangku SLTP.
Menurut Sulaiman, fungsi kedai kopi telah berubah dari tempat minum
kopi menjadi sejenis ruang sosial, tempat tukar-menukar informasi.
Pendapat senada dikemukakan Teuku Kemal Fasya, antropolog di
Universitas Malikussaleh, Lhok Seumawe. Di kedai kopi tersedia jawaban
atas hal-hal yang tidak terselesaikan melalui jalur formal.
Di kedai kopi, warga berbincang mengenai masalah keluarga, politik
lokal, nasional, dan isu yang sedang hangat dalam sorotan pers. Pergantian
pejabat kerap lebih dulu terdengar di kedai kopi, termasuk skandal pejabat.
114 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Sosok kedai kopi itu sendiri mungkin akan mengejutkan mereka yang
belum pernah ke Aceh. Di Banda Aceh, ratusan manusia berjubel di beberapa
kedai kopi favorit. Kendaraan roda dua dan empat diparkir memanjang
seperti di kompleks pertokoan.
Kedai kopi umumnya berada di sebuah atau beberapa ruko. Ada pula
yang berbentuk warung seperti di Jawa. Dapat dibayangkan ketika ruangan
sempit tersebut dijejali manusia pada tengah hari yang terik. Ditambah
lagi asap rokok. Tetapi, semakin berjubel manusia justru semakin menarik
minat pelanggan.
Lebih seru komentar yang terbetik di dunia maya seputar keberadaan
kedai-kedai kopi khas Aceh ini.
Seorang blogger, Dudi Gurnadi dan teman-teman, misalnya, ia
memelesetkan ”warkop” di Aceh ini dengan sebutan ”Starblack”.
Kata Starblack merupakan kata plesetan dari warung kopi internasional
yang saat ini merambah di berbagai belahan dunia, Starbucks. Warna hitam
kopi di kedai-kedai Aceh, serta cita rasa yang tersendiri, membuat kopi
Aceh cocok disebut oleh blogger ini sebagai Starblack.
Suasana kedai adalah salah satu kunci sukses bisnis kedai kopi di Aceh.
Kedai kopi milik H. Nawawi di Ulee Kareng, Solong Banda Aceh, misalnya.
Kedainya selalu ramai, bahkan sering pengunjung berdesak-desakan duduk
di kedainya.
Keributan? Tidak juga pernah terjadi keributan maupun keluhan.
Padahal, setiap hari rata-rata 2.500 orang minum kopi di kedai Nawawi
yang dilayani 13 karyawan itu.
Hebatnya lagi, harga di kedai-kedai kopi ini juga bisa menjadi semacam
”indikator ekonomi” di Aceh.
Di sana, harga secangkir kopi lebih dipercaya sebagai indikator baikburuknya
keadaan ekonomi. Kenaikan harga BBM atau kebijakan makro
lain adalah hal berikut. Di sini, ke kedai kopi adalah bagian dari irama
kehidupan dan dianggap menyangkut ”hak asasi manusia”.
Sumber: Kompas, 2 Desember 2007 (Diambil seperlunya)
2. Buatlah parafrasanya secara singkat dengan tidak mengubah arti isi teks
tersebut.
Tugas Kelompok
1. Coba tukarkan hasil parafrasa Anda dengan teman sebangku.
2. Cermatilah hasil parafrasa teman sebangku Anda.
Kehidupan Masyarakat 115
3. Diskusikan dengan teman sebangku, apakah hasil kerja Anda tersebut
memang sudah memenuhi ciri-ciri parafrasa. Ungkapkan kelebihan dan
kekurangannya.
4. Laporkan hasilnya kepada guru Anda untuk mendapatkan evaluasi.
Rangkuman
1. Ciri-ciri atau kriteria suatu sumber, baik secara langsung maupun tidak,
yang dapat disebut sebagai sumber informasi atau bukan adalah dapat dicek
kebenarannya, dapat dipertanggungjawabkan, dan mengacu pada informasi
tertentu.
2. Ketidaklancaran, ketidaknalaran, dan ketidakwajaran kita dalam bertutur
akan mengakibatkan informasi yang ingin kita sampaikan kepada orang
lain menjadi tidak jelas maksudnya.
3. Berdasarkan pengembangannya, narasi dibedakan atas narasi sugestif dan
narasi ekspositoris. Narasi sugestif adalah narasi yang mengisahkan
peristiwa-peristiwa imajinatif dengan menggunakan bahasa yang indah,
seperti cerpen dan novel. Adapun narasi ekspositoris adalah narasi yang
menyampaikan informasi mengenai suatu kejadian dengan menggunakan
bahasa yang lugas, seperti biografi dan laporan perjalanan.
4. Membuat parafrasa dari teks tertulis merupakan kegiatan mengungkapkan
kembali dengan bahasa atau kalimat sendiri secara tertulis berdasarkan teks
yang telah dibaca atau berdasarkan uraian lisan yang didengarkan.
Latihan
A. Pilihlah jawaban yang paling benar!
1. Berikut yang termasuk sumber informasi langsung adalah ….
a. narasumber, komentar lisan, internet
b. radio, koran, majalah
c. wawancara, praktik, televisi
d. radio, televisi, wawancara
e. komentar lisan, koran, wawancara
116 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
2. Novel, cerpen, dan roman termasuk sumber informasi jenis ….
a. konsep d. pengandaian
b. khayalan e. fakta
c. opini
3. Ciri-ciri atau kriteria suatu sumber, baik secara langsung maupun tidak, yang
dapat disebut sebagai sumber informasi atau bukan, antara lain ….
a. dapat dinikmati keberadaannya, dapat digunakan sebagai bahan studi,
dan merujuk pada tata bahasa yang benar
b. dapat dicek kebenarannya, dapat dipertanggungjawabkan, dan mengacu
pada informasi tertentu
c. dapat disimak dengan jelas, dapat dipertanggungjawabkan, dan dapat
dinikmati keberadaannya
d. dapat dicek kebenarannya, dapat digunakan sebagai bahan studi, dan
merujuk pada fakta
e. dapat memberi manfaat yang positif, dapat digunakan sebagai hiburan,
dan bersifat nalar
4. Menurut seorang warga, kesenjangan sosial di Indonesia telah menyebabkan
perpecahan dalam masyarakat, bahkan telah menjurus pada sentimen ras
dan agama.
Pernyataan di atas merupakan sumber informasi dalam bentuk ….
a. opini d. pengandaian
b. khayalan e. fenomena
c. fakta
5. Mengucapkan kalimat tanpa mengalami hambatan apapun, misalnya, dalam
artikulasi, lafal, tekanan, intonasi, maupun jeda disebut mengucapkan kalimat
dengan ….
a. wajar d. indah
b. bernalar e. komunikatif
c. lancar
6. Narasi yang menyampaikan informasi mengenai suatu kejadian dengan
menggunakan bahasa yang lugas disebut narasi ….
a. fiktif d. pasif
b. argumentatif e. statis
c. ekspositoris
7. Parafrasa merupakan kegiatan mengungkapkan kembali teks yang
telah dibaca atau uraian lisan yang didengarkan dengan menggunakan
kalimat ….
a. lugas d. kias
b. tanya e. pengandaian
c. perintah
Kehidupan Masyarakat 117
8. Tak lagi akan kunanti
Tak lagi akan kukenang
Ini hati telah rapuh dan patah
Kau tak lagi meninggalkan mimpi, kekasihku
Parafrasa yang tepat untuk puisi di atas adalah ….
a. Penyair meninggalkan kekasihnya karena kecewa.
b. Penyair memiliki jiwa pengecut.
c. Penyair mempunyai mimpi-mimpi yang indah.
d. Penyair bermimpi bertemu kekasihnya.
e. Penyair mengharapkan kekasihnya untuk kembali.
9. Berdasarkan langkah-langkah membuat parafrasa, isi parafrasa dapat kita
katakan sebagai suatu ….
a. alasan d. perbandingan
b. kesimpulan e. penghargaan
c. penalaran
10. Berikut yang merupakan paragraf berbentuk narasi fiktif adalah ….
a. Potehi dalam bahasa ibunya disebut Bu Dai Xi. Potehi merupakan paduan
kata poo (kain), tay (kantong/karung), dan hie yang berarti wayang. Potehi
sendiri bisa diartikan wayang karung/kantong karena bentuk wayang yang
terbuat dari kain itu mirip kantong. Dalam perkembangannya, orang lebih
mengenal dengan sebutan wayang potehi.
b. Mudik menjadi ritual tahunan yang mewarnai hari-hari menjelang
Lebaran di negeri ini. Masyarakat berjibaku menerobos hiruk-pikuk lalu
lintas yang padat demi apa yang disebut ”pulang kampung”. Sesungguhnya
apa yang dikejar orang-orang–mungkin juga kita sendiri–dengan tradisi
itu?
c. Pria itu masih ingat ketika belasan tahun yang lalu ia pernah
menyelamatkan nyawa seorang gadis. Wajah gadis itu sekarang terbayang
di benaknya. Bukankah gadis itu berhutang budi bahkan nyawa
kepadanya? Mengapa ia tidak meminta pertolongan kepada gadis itu
saja?
d. Suasana kedai adalah salah satu kunci sukses bisnis kedai kopi di Aceh.
Kedai kopi milik H. Nawawi di Ulee Kareng, Solong Banda Aceh,
misalnya. Kedainya selalu ramai, bahkan sering pengunjung berdesakdesakan
duduk di kedainya.
e. Keharmonisan antarumat beragama sangat dibutuhkan untuk memperkuat
pondasi bangsa yang hampir keropos. Sikap tepa slira dan tolongmenolong
yang menjadi ciri khas bangsa ini hendaknya mampu dipraktikkan
dalam kehidupan bermasyarakat.
118 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Kabar Tokoh
Nh. Dini
Lahir 29 Februari 1936 di Semarang. Setamat
SMA bagian Sastra (1956), mengikuti Kursus
Pramugari Darat GIA Jakarta (1956), dan terakhir
mengikuti Kursus B-1 Jurusan Sejarah (1957). Tahun
1957 – 1960 bekerja di GIA Kemayoran, Jakarta.
Setelah menikah dengan Yves Coffin, berturut-turut
ia bermukim di Jepang, Prancis, Amerika Serikar, dan sejak 1980 menetap di
Jakarta dan Semarang.
Karyanya: Dua Dunia (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal
(1973, 1986), Keberangkatan (1977, 1986), Sebuah Lorong di Kotaku (1978,
1986), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979, 1987), Langit dan Bumi
Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981), Amir Hamzah Pangeran dari Seberang
(1981), Kuncup Berseri (1982), Tuileries (1982), Segi dan Garis (1983), Orang-
Orang Tran (1984), dan Pertemuan Dua Hati (1986). Terjemahannya: Sampar
(karya Albert Camus, La Peste; 1985).
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Sebutkan manfaat kegiatan menyimak!
2. Terangkan definisi mengucapkan kalimat dengan lancar, bernalar, dan wajar!
3. Jelaskan langkah-langkah membuat parafrasa teks tertulis!
4. Setiap benih ingin tumbuh
Menggapai cita di tingginya langit
Tapi jika benih tak tersiram percik air
Dahaga yang terik akan rakus menelan benih
Benih pun akan tunduk dan layu
Pun begitu dengan anak-anak kita kelak
Parafrasakan puisi di atas dengan tepat!
5. Sebut dan jelaskan jenis narasi berdasarkan pengembangannya! Berilah
contohnya dalam bentuk paragraf!
Sumber: Langit dan Bumi
Sahabat Kami, Gramedia 2002
Lingkungan Hidup 119
Tema
8
LINGKUNGAN HIDUP
Sumber: Kompas, 9 Desember 2007
Tujuan Pembelajaran:
1. Memahami informasi lisan dari siaran berita.
2. Mengucapkan kalimat dengan baik, tepat, dan santun dalam membawakan acara.
3. Memahami informasi dalam teks berbentuk deskripsi.
4. Memparafrasakan puisi.
120 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Pendahuluan
Pada pertemuan ini Anda akan memelajari empat aspek kemampuan berbahasa,
yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada aspek mendengarkan,
Anda akan diajak memahami informasi lisan dari siaran berita. Pada aspek berbicara,
Anda akan memelajari cara mengucapkan kalimat dengan baik, tepat, dan santun
dalam membawakan acara. Bagaimana cara memahami informasi dalam teks berbentuk
deskripsi dapat Anda temui pada aspek membaca. Adapun pada aspek terakhir, yaitu
menulis, Anda diajak untuk belajar memparafrasakan puisi.
Setiap aspek di atas akan dilengkapi dengan tugas, berupa tugas individu atau
kelompok, untuk merangsang dan memotivasi Anda berpikir kreatif dalam memahami
uraian materi. Selain itu, pada akhir bab Anda akan menemui rangkuman dan pelatihan.
Rangkuman berguna untuk mengingatkan Anda kembali mengenai isi materi yang
telah dipelajari. Adapun pelatihan akan membantu mengukur sejauh mana pemahaman
materi yang telah Anda capai dengan cara mengerjakan soal-soal.
A. Mendengarkan
Memahami Informasi Lisan dari Siaran Berita
Salah satu sumber informasi lisan dapat
kita peroleh melalui siaran berita di radio
atau televisi. Tujuan utama mendengarkan
siaran berita adalah untuk memahami isi
berita yang disiarkan.
Untuk menangkap isi siaran berita ini
kita harus memahami tujuan berbicara atau
bertutur. Adapun tujuan tersebut, antara
lain, sebagai berikut.
1. Memberitahukan atau menyampaikan
sesuatu kepada pendengar. Reaksi yang
diperlukan berupa situasi yang menunjukkan
bahwa pendengar paham akan
apa yang didengar. Tujuan ini disebut
tujuan informatoris.
2. Menghibur atau menyenangkan pendengar. Reaksi yang diperlukan berupa
situasi yang menunjukkan bahwa pendengar merasa puas, senang terhadap
apa yang didengarkan. Tujuan ini disebut tujuan humoris atau rekreatif.
3. Memengaruhi dan membujuk pendengar. Reaksi yang diperlukan berupa
situasi yang menunjukkan bahwa pendengar mau melakukan perbuatan
tertentu secara suka rela atas informasi yang diperolehnya. Tujuan ini disebut
tujuan persuasi.
Sumber: Swara Kartini, No. 23 18 September–
1 Oktober 2000
Gambar 8.1 Mendengarkan berita
dari radio harus dilakukan dengan
sungguh-sungguh agar dapat
menangkap isi berita
Lingkungan Hidup 121
4. Mengarahkan sesuatu kepada pendengar. Reaksi yang diperlukan berupa
situasi yang menunjukkan bahwa pendengar mengerti akan uraian yang akan
disampaikan kepadanya. Tujuan ini disebut tujuan ekspositif.
5. Merinci sesuatu kepada pendengar. Reaksi yang diperlukan berupa situasi
bahwa pendengar mengerti akan informasi yang di terimanya. Tujuan ini
disebut tujuan deskriptif.
Sikap yang diperlukan untuk mencapai tujuan di atas antara lain sebagai berikut.
1. Memotivasi diri terhadap materi yang didengar.
2. Membuat catatan-catatan sesuai dengan materi yang didengar.
3. Membuat tangkapan sebagai laporan secara lengkap yang meliputi ide utama
dan ide tambahan.
4. Memadukan materi yang ditangkap dengan hasil tangkapan orang lain.
5. Membiasakan diri mendengar tuturan lisan dalam berbagai situasi.
Agar berhasil dalam menyimak, janganlah kita melakukan kebiasaan buruk
seperti berikut.
1. Kadang-kadang mendengarkan kadang-kadang tidak.
2. Hanya mengingat beberapa fakta saja.
3. Emosional, hanya mengingat yang menyentuh perasaan atau yang dianggap
penting.
4. Supersensitif, terlalu perasa, mudah tersinggung, dan sebagainya.
5. Menghindarkan diri dari bagian yang dirasakan sulit.
6. Apriori dan menganggap ringan atau tidak penting materinya.
7. Suka mengkritik fisik pembicara.
8. Pura-pura hanya sopan santun.
9. Mudah menyerah kepada gangguan.
10. Memakai pena atau pensil, artinya mendengarkan/menyimak dengan membuat
catatan secara bersamaan tanpa ditangkap dahulu maknanya.
Ukuran keberhasilan mendengarkan/menyimak, antara lain seperti berikut.
1. Arah pembicaraan yang di tangkapnya tidak menjadi kabur.
2. Ide yang ditangkap menjadi tidak terbolak-balik.
3. Benar dalam memisahkan bagian-bagian yang penting dengan yang tidak
penting.
4. Tidak ada kesalahpahaman terhadap makna.
5. Ada kesimpulan yang baik dan benar.
6. Berhasil menangkap ide pusat/sentral.
7. Menyimak dengan latihan.
8. Menyimak dengan sunguh-sungguh.
9. Tidak lekas bosan atau formalis.
10. Tidak mudah tersinggung terhadap isi informasi.
122 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Penyebab kegagalan dalam mendengarkan/menyimak, antara lain:
1. badan capek,
2. tergesa-gesa dalam mendengarkan,
3. ada gangguan situasi,
4. situasi emosional yang tidak mendukung,
5. merasakan kebingungan, dan
6. organ tubuh tidak normal.
Prinsip-prinsip efektif mendengarkan atau menyimak, antara lain, sebagai berikut.
1. Siap dengan pikiran yang terbuka.
2. Memahami ide pembicaraan sentral maupun tambahan.
3. Memberikan penilaian terhadap ide yang didengar.
4. Bisa memberikan ide sambutan terhadap materi informasi.
5. Menangkap penting siaran yang ditonjolkan, urgen, berguna menjadi sentral
pembicaraan.
Dari poin-poin di atas, jika semuanya dapat dipahami dan dilakukan, maka
seseorang akan dengan mudah menangkap isi informasi. Berhasil tidaknya
seseorang menangkap isi informasi akan memengaruhi mutu dari tanggapan yang
akan disampaikan. Seseorang yang benar-benar dapat menangkap isi informasi
akan mampu memberi tanggapan yang akurat mengenai informasi tersebut, baik
mendukung maupun menolaknya.
Tugas Individu
1. Simaklah berita berikut yang akan dibacakan oleh guru Anda.
Hulu Harus Direstorasi
Kerusakan TNGHS Akibat Aktivitas Masyarakat dan
Pembangunan
Upaya restorasi hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-
Salak atau TNGHS mendesak dilakukan. Kerusakan hutan di kawasan itu
kian parah sehingga dikhawatirkan mengancam kuantitas dan kualitas air
di bagian hulu sungai yang mengalir ke Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.
Menurut pengajar Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan
Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Dones Rinaldi,
jika hutan taman nasional itu tak segera direstorasi dan dikembalikan pada
habitat semula, selama itu pula dampak bencana seperti banjir linear akan
dialami.
Dones bersama delapan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI) dan Japan International Cooperation Agency (JICA), pada 25-28
Lingkungan Hidup 123
Maret 2008 melakukan pengecekan lapangan untuk mendapatkan data atau
kondisi terkini terkait kerusakan hutan di kawasan Kodidor (lintasan satwa/
genetik) Halimun-Salak TNGHS.
Data dari kegiatan pengecekan lapangan itu akan direkomendasikan
kepada Balai TNGHS untuk dilakukan restorasi. Luasan lahan berapa hektar
untuk dilakukan restorasi, waktu yang dibutuhkan, dan pola partisipatif,
atau kerja sama yang dapat dilakukan antara Balai TNGHS dan masyarakat
lokal.
TNGHS merupakan kawasan yang memiliki fungsi hidrologis yang
berperan sebagai penyedia air untuk keperluan rumah tangga, selain untuk
irigasi pertanian hingga keperluan industri.
Kebutuhan air bukan hanya bagi masyarakat sekitar hutan, tetapi juga
masyarakat yang tinggal di daerah hilir, seperti di Jakarta, Tangerang,
Bekasi, Sukabumi, Cianjur, dan Bogor. TNGHS juga merupakan hulu 117
sungai dan anak sungai, termasuk di antaranya Cikaniki (Cisadane).
Sumber: Kompas, 31 Maret 2008 (Diambil seperlunya dengan pengubahan)
2. Daftarlah informasi-informasi penting yang terdapat pada berita yang Anda
simak tersebut.
3. Simpulkan informasi-informasi tersebut dengan menggunakan kalimat Anda
sendiri.
4. Coba Anda beri tanggapan (kritik dan saran) secara tertulis mengenai
informasi tersebut dengan bahasa yang runtut dan komunikatif.
B. Berbicara
Mengucapkan Kalimat dengan Baik, Tepat, dan Santun
dalam Membawakan Acara
Salah satu kegiatan yang membutuhkan
ketepatan dalam penggunaan kalimat adalah
membawakan acara. Dalam membawakan
acara, kita dituntut untuk menyampaikannya
secara baik, tepat, dan santun sesuai dengan
situasi.
Setiap situasi menuntut penggunaan
ragam bahasa yang sesuai. Faktor pembicara,
pendengar, pokok pembicaraan, tempat, dan
suasana pembicaraan berpengaruh terhadap
penggunaan ragam bahasa. Perbedaan ragam
bahasa ini terutama tampak pada pilihan kata
Sumber: Seputar Indonesia, 13 Februari 2008
Gambar 8.2 Seorang presenter dituntut
memiliki kemampuan berbahasa dengan
baik, tepat, dan santun
124 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
dan kalimat yang digunakan. Misalnya, pada acara yang sifatnya resmi dan dihadiri
oleh peserta terpelajar tidak tepat apabila kita menggunakan ragam bahasa santai
ketika membawakan acara.
Di samping itu, kita perlu memerhatikan beberapa hal yang dapat mengganggu
kelancaran dalam membawakan suatu acara. Hal-hal tersebut, antara lain, sebagai
berikut.
1. Pengulangan kata atau ungkapan tertentu terlalu banyak.
2. Penggunaan ungkapan dan kata-kata asing tidak tepat.
3. Tempo bicara terlalu cepat.
4. Suara monoton.
5. Artikulasi tidak jelas.
Hal lain yang menghambat kelancaran dalam berkomunikasi adalah
ketidaksiapan kita dalam membawakan acara. Ketidaksiapan ini akan mengakibatkan
banyak hal yang mengganggu. Salah satu contoh, pada saat membawakan
acara, kita tiba-tiba berhenti di tengah-tengah kalimat yang belum selesai karena
kehilangan ide atau konsentrasi. Oleh karenanya, kita harus mempersiapkan diri
dan berlatih sebaik-baiknya sebelum membawakan suatu acara sehingga pada
saat praktiknya nanti dapat berjalan dengan lancar.
Perhatikan contoh teks pembawa acara yang baik pada situasi resmi berikut.
Hadirin yang berbahagia,
Kami ucapkan selamat datang pada acara peresmian kantor cabang
yang baru dari perusahaan agrobisnis ABDI Surabaya. Marilah kita
panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat
dan hidayahNya sehingga kita dapat berkumpul di tempat ini dengan
selamat.
Hadirin sekalian,
Atas nama perusahaan agrobisnis ABDI Surabaya, kami mengucapkan
terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah berkenan hadir di tempat
ini untuk menjadi saksi atas pembukaan kantor cabang terbaru dari
perusahaan ini.
Untuk menyingkat waktu, kami akan membacakan susunan acara pada
malam hari ini.
1. Pembukaan.
2. Sambutan Direktur Perusahaan Agrobisnis ABDI Surabaya.
3. Sambutan Kepala Cabang yang baru.
4. Pengguntingan pita oleh Direktur Perusahaan Agrobisnis ABDI
Surabaya.
5. Pembacaan doa.
6. Makan malam bersama diselingi hiburan.
7. Penutup.
Lingkungan Hidup 125
Demikianlah susunan acara kita pada malam hari ini. Selanjutnya,
marilah kita buka acara ini bersama-sama dengan berdoa menurut agama
dan kepercayaan masing-masing.
Tugas Individu
1. Buatlah teks susunan acara yang sifatnya resmi seperti contoh di atas. Tema
acara berhubungan dengan lingkungan hidup.
2. Perankan sebagai pembawa acara dengan menggunakan teks susunan acara
yang Anda buat di depan kelas.
3. Gunakan bahasa sesuai dengan situasi dan lafalkan setiap kata dengan tepat.
C. Membaca
Memahami Informasi dalam Teks Berbentuk Deskripsi
Selain berbentuk narasi, ada juga teks yang berbentuk deskripsi. Teks
berbentuk deskripsi merupakan teks yang berisi gambaran mengenai suatu hal
atau keadaan secara terperinci sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasa,
atau mendengar hal tersebut.
Perhatikan contoh teks berbentuk deskripsi berikut.
Eksplorasi Titik Penyelaman Tanpa Batas
Setiap jengkal dunia bawah laut Teluk Cinderawasih seakan tak habis
dinikmati. Setiap penyelaman selalu menimbulkan sensasi baru. Mulai
dari menyelam di rataan terumbu karang yang rapat di Pulau Purupi, wreck
(bangkai) pesawat terbang di Selat Numamurang, hingga wall-reef di
Tanjung Mangguar.
Dari sebatas info masyarakat setempat dan perkiraan posisi di global
positioning system (GPS), titik penyelaman berupa wreck pesawat terbang
peninggalan Perang Dunia II dapat ditemukan di Selat Numamurang. Dari
kejauhan, bagian depan tubuh pesawat masih tampak jelas dengan sayap
kiri yang sudah patah.
Seluruh permukaan pesawat telah berubah menjadi terumbu yang
ditumbuhi aneka macam karang lunak, spons, anemon, dan teritip. Terumbu
ini menjadi tempat bermain ikan fusilier, kerapu, dan udang anemon
berwarna biru transparan yang meloncat-loncat di atas julur-julur anemon.
126 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Tak jauh dari wreck ini ada seekor kima raksasa (Tridacna gigas)
berukuran satu meter yang biasa disebut masyarakat setempat dengan bia
garu, fauna dilindungi yang memiliki ”mantel” biru yang tebal dan terdapat
dua lubang di tengahnya.
Di perairan antara Kampung Yaur dan Nurage, penyelaman yang penuh
tantangan telah menanti. Di sini merupakan gabungan wall-reef dan deep
dive dengan air berarus. Di beberapa bagian terdapat seafan atau gorgonian
kipas dengan diameter sekitar 1,5 meter.
Pemandangan serupa juga tampak saat menyelam di Tanjung
Mangguar. Lokasi ini diawali dengan wall-reef dan diakhiri dengan
perbukitan karang yang dihuni ikan-ikan besar, seperti kerapu dan kakap.
Sumber: Kompas, 13 Januari 2008 (Diambil seperlunya)
Tugas Individu
1. Bacalah teks di bawah ini dengan cermat.
Andai Hijau Bumi Terus Ada
Duduk di tepi kolam sambil memberi makan ikan koi yang berkejaran
di belakang rumah membuat suasana hati Gumilar tenang. Sebagai orang
yang besar di desa dan sekarang hidup di kota besar ia sering merasa rindu
pada suasana Tasikmalaya, kampung kelahirannya. Itulah masa kecil yang
menyenangkan dan menyegarkan pikirannya.
Ia rindu pada suara gemericik air, suara timba di sumur belakang rumah,
dan rindangnya pepohonan di sekitar halaman. Itu sebabnya suasana
kampung ini berusaha dia hadirkan ke rumahnya di Perumahan Pesona
Kayangan, Depok.
Sebuah kolam koi yang dilapis batu gunung, dilengkapi empat air
mancur kecil yang terus menimbulkan suara gemericik, menghiasi halaman
belakang.
Kurang puas dengan suasana kampung di rumahnya, Gumilar membeli
kebun di Mega Mendung, Bogor. Untuk mencapai kebun ini kalau lalu
lintas lancar dari rumahnya di Depok butuh waktu kurang dari dua jam
dengan kendaraan roda empat.
Ada lebih dari 100 pohon jati emas berusia lebih dari dua tahun yang
ditanam di sekeliling kebun. Di sela-sela jati ditanam pohon cabai, terung,
Lingkungan Hidup 127
dan jagung. Di tengah kebun tampak sebuah pondok kayu warna hijau yang
dibagian belakangnya terdapat tungku kayu bakar.
Di depan pondok itu ada sebuah kolam tanah yang baru digali enam
bulan lalu. Di kolam inilah anakan koi disebar. Di samping kolam tanah ini
tampak juga barisan tambulapot atau tanaman buah dalam pot di dalam
drum. Jenis pohon yang ditanam antara lain mangga, jeruk peras, dan jambu
biji.
Sumber: Kompas, 1 Juli 2007 (Diambil seperlunya)
2. Apakah teks tersebut memang berbentuk deskripsi? Coba Anda berikan
alasannya dengan tepat dan disertai bukti-bukti yang mendukung.
3. Daftarlah informasi-informasi penting yang terdapat pada teks tersebut dan
simpulkan isinya secara tertulis pada buku tugas.
Tugas Kelompok
1. Coba bandingkan kesimpulan yang telah Anda buat di atas dengan teman
sebangku.
2. Lengkapi kekurangan yang ada pada kesimpulan yang telah Anda buat
berdasarkan masukan dari teman sebangku.
3. Buatlah kesimpulan baru berdasarkan hasil diskusi dengan teman sebangku.
4. Kumpulkan hasilnya kepada guru untuk diberi penilaian.
D. Menulis
Memparafrasakan Puisi
Salah satu teks tertulis yang sering diparafrasakan adalah puisi. Puisi
merupakan sebuah curahan hati seorang penyair terhadap apa yang dirasakan,
dilihat, dan dituangkan ke dalam sebuah puisi. Untuk itu puisi dapat disebut juga
sebuah karangan sastra yang tinggi. Tujuan seseorang menulis puisi adalah untuk
mengekspresikan isi hati dan pikiran.
Unsur-unsur yang ada dalam puisi adalah unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur
intrinsik puisi adalah unsur dari dalam yang bersifat padu tidak dapat dipisahkan.
Di antaranya adalah gaya bahasa, persajakan, latar cerita, nada dan suasana, titik
kisah, dan tema cerita.
Unsur ekstrinsik puisi adalah unsur-unsur dari luar puisi. Di antaranya adalah
riwayat hidup pengarang, latar belakang sosial budaya pengarang, dan zaman
karya itu dikarang.
128 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Cara memparafrasakan puisi hampir sama dengan memparafrasakan teks
bentuk tertulis lainnya yang menggunakan bahasa lugas. Perbedaannya terletak
pada pemahaman arti kata-kata kias atau majas yang sering digunakan dalam
bahasa puisi. Secara garis besar, untuk memparafrasakan puisi kita harus mengetahui
amanatnya terlebih dahulu.
Perhatikan contoh parafrasa puisi berikut.
Kucari Jawab
Karya Y.E. Tatengkeng
Di mata air, di dasar kolam,
Kucari jawab teka-teki alam,
Di kawan awan kian ke mari,
Di situ juga jawabnya kucari.
Di warna bunga yang kembang,
Kubaca jawab penghilang bimbang,
Kepada gunung penjaga waktu,
Kutanya jawab kebenaran tentu,
Pada bintang lahir semula,
Kutangis jawab teka-teki Allah?
Ke dalam hati, jiwa sendiri,
Kuselam jawab! Tidak tercari ….
Ya, Allah yang Maha-dalam,
Berikan jawab teka-teki alam,
O, Tuhan yang Maha-tinggi,
Kunanti jawab petang dan pagi,
Hatiku haus’kan kebenaran,
Berikan jawab di hatiku sekarang
Sumber: Tifa Penyair dan Daerahnya,
H.B. Yassin – Gunung Agung 1977
Parafrasa puisi di atas adalah seseorang yang mencari-cari teka-teki kehidupan.
Ia bertanya kepada alam tentang hakikat kebenaran dan tidak menemui
jawabannya. Akhirnya ia bertanya kepada Tuhan untuk mendapatkan jawabannya.
Lingkungan Hidup 129
Tugas Individu
1. Cermatilah puisi di bawah ini.
Menuju ke Laut
Karya Sutan Takdir Alisyahbana
Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang tiada beriak,
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan,
sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat,
Ombak ria berkejar-kejaran
di gelanggang biru bertepi langit,
Pasir rata berulang dikecup,
tebing curam ditantang diserang,
dalam bergurai bersama angin,
dalam berlomba bersama mega,
Sejak itu jiwa gelisah,
Selalu berjuang tiada reda,
Ketenangan lama rasa beku,
gunung pelindung rasa pengalang,
Berontak hati hendak bebas,
menyerang apa segala mengadang,
Gemuruh berderau bunyi jatuh,
terhempas berderai mutiara bercahaya,
Gegap gempita suara mengerang,
dahsyat bahwa suara menang.
Keluh dan gelak silih berganti,
pekik dan tempik sambut menyambut.
Sumber: Tifa Penyair dan Daerahnya,
H.B. Yassin – Gunung Agung 1977
2. Buatlah parafrasanya dengan tidak mengubah makna puisi.
3. Bandingkan hasil parafrasa Anda dengan teman sebangku.
130 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Tugas Kelompok
1. Bentuklah kelompok yang beranggotakan lima orang.
2. Carilah lima buah puisi dengan tema berbeda dan buatlah parafrasanya.
3. Susunlah puisi-puisi dan parafrasanya tersebut dalam bentuk laporan tertulis.
4. Tentukan juga mengenai unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi-puisi tersebut
menurut tafsiran kelompok Anda.
5. Kumpulkan kepada guru untuk diberi penilaian.
Rangkuman
1. Tujuan berbicara atau bertutur antara lain untuk memberitahukan atau
menyampaikan sesuatu kepada pendengar, menghibur atau menyenangkan
pendengar, memengaruhi dan membujuk pendengar, mengarahkan sesuatu
kepada pendengar, dan merinci sesuatu kepada pendengar.
2. Hal-hal yang sering mengganggu kelancaran dalam membawakan suatu
acara adalah terlalu banyak mengulang kata atau ungkapan tertentu,
penggunaan ungkapan dan kata-kata asing yang tidak tepat, tempo bicara
yang terlalu cepat, suara yang monoton, dan artikulasi yang tidak jelas.
3. Teks berbentuk deskripsi merupakan teks yang berisi gambaran mengenai
suatu hal atau keadaan secara terperinci sehingga pembaca seolah-olah
melihat, merasa, atau mendengar hal tersebut.
4. Secara garis besar, untuk memparafrasakan puisi kita harus mengetahui
amanat puisinya terlebih dahulu.
Latihan
A. Pilihlah jawaban yang paling benar!
1. Di bawah ini yang tidak termasuk tujuan bertutur adalah ….
a. memberitahukan atau menyampaikan sesuatu kepada pendengar
b. menghibur atau menyenangkan pendengar
c. melatih bahasa percakapan dengan pendengar
d. mengarahkan sesuatu kepada pendengar
e. merinci sesuatu kepada pendengar
Lingkungan Hidup 131
2. Berikut kebiasaan buruk yang memengaruhi proses menyimak adalah ….
a. menghindarkan diri dari bagian yang dirasakan sulit
b. tidak mudah menyerah pada gangguan
c. tidak memandang remeh materi yang disimak
d. memilih dan memilah antara fakta dengan opini
e. menyimak dengan penuh konsentrasi
3. Di bawah ini yang tidak termasuk ukuran keberhasilan seseorang dalam
proses menyimak adalah ….
a. arah pembicaraan yang di tangkapnya tidak menjadi kabur
b. ide yang ditangkap menjadi tidak terbolak-balik
c. benar dalam memisahkan bagian-bagian yang penting dengan tidak
d. terdapat kesalahpahaman terhadap makna
e. ada kesimpulan yang baik dan benar.
4. Seorang pembawa acara umumnya diistilahkan dengan MC. Kepanjangan
dari MC adalah ….
a. master communication d. master control
b. master cooperation e. master coordination
c. master ceremony
5. Agar jalannya acara nantinya berjalan dengan lancar, seorang yang bertugas
sebagai pembawa acara hendaknya ….
a. berdoa dan mengingat-ingat materi apa saja yang hendak dibawakan
b. berlatih dan mempersiapkan diri dengan baik sebelumnya
c. meninjau lokasi acara dan memperkenalkan diri kepada penyelenggara
d. bermeditasi dan berolahraga untuk menjaga fisik dan mental
e. melakukan rileksasi dengan cara menenangkan pikiran
6. Berikut bukan termasuk beberapa hal yang dapat mengganggu kelancaran
dalam membawakan suatu acara adalah ….
a. terlalu banyak mengulang kata atau ungkapan tertentu
b. penggunaan ungkapan dan kata-kata asing yang tidak tepat
c. tempo bicara yang terlalu cepat
d. suara yang monoton
e. memahami ragam bahasa sesuai situasi
7. Teks deskripsi berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan secara
terperinci. Hal ini bertujuan agar ….
a. pembaca seolah-olah melihat, merasa, atau mendengar hal tersebut
b. pembaca mampu memahami dan menganalisis gambaran tersebut
c. pembaca memiliki keinginan untuk mengikuti apa yang digambarkan
tersebut
d. pembaca dengan mudah menangkap isi bacaan
e. pembaca berkhayal tentang apa yang digambarkan sehingga menjadi satu
dengan isi bacaan
132 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
8. Memahami makna tersirat dalam membuat parafrasa puisi adalah ….
a. memahami makna implisit puisi
b. memahami makna yang tidak tertulis secara jelas dalam puisi
c. memahami makna eksplisit puisi
d. memahami makna yang berkaitan erat dengan isi puisi
e. memahami makna yang tertulis langsung dalam teks puisi
9. Unsur intrinsik puisi adalah unsur dari dalam yang bersifat padu tidak dapat
dipisahkan. Di bawah ini yang tidak termasuk unsur instrinsik puisi
adalah ….
a. gaya bahasa d. nada dan suasana
b. persajakan e. tema cerita
c. sudut pandang penyair
10. Berikut yang termasuk paragraf berbentuk deskripsi adalah ….
a. Upaya restorasi hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-
Salak atau TNGHS mendesak dilakukan. Kerusakan hutan di kawasan
itu kian parah sehingga dikhawatirkan mengancam kuantitas dan kualitas
air di bagian hulu sungai yang mengalir ke Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.
b. Matahari merangkak perlahan dan menyemburatkan warna kuning
keemasan pertanda pagi sudah tiba. Ujung-ujung dedaunan terlihat penuh
dengan buliran embun yang menginap semalaman. Para petani mulai
tampak mengantri ketika meniti pematang sawah yang lembab. Riuh
tawa memenuhi mulut mereka yang tak henti-hentinya mengepulkan asap
tembakau. Di tangan mereka yang kekar, sabit dan cangkul menyatu
bersama lumpur coklat kehitaman.
c. Kebakaran pada tahun 1755 di museum di Oxford, Inggris, menghancurkan
kerangka lengkap burung dodo terakhir. Burung dodo telah punah
75 tahun sebelumnya sebagai korban penjelajah dan pendatang Eropa
yang pertama kali bertemu burung tersebut pada tahun 1558 di sebuah
pulau tak berpenghuni di Samudera Hindia.
d. Gajah kerdil Borneo merupakan spesies gajah yang dijumpai pada
Oktober 2003 dan disahkan sebagai spesies gajah baru. Hasil penelitian
oleh tim dari Universitas Colombia menunjukkan, DNA gajah kerdil
Bordeo (Kalimantan) mempunyai persamaan genetik dengan gajah
Sumatera, sehingga termasuk subspesies gajah Asia.
e. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kematian Ibu? Aku tidak bisa.
Aku belum siap menerima kehadiran seorang ibu baru di sampingku.
Aku berharap Ayah mengerti perasaanku ini. Tapi, kenapa aku tak berani
mengungkapkannya kepada Ayah secara langsung?
Lingkungan Hidup 133
Sekilas Pengetahuan Bahasa
Kita mengenal tiga macam bahasa dalam kehidupan sehari-hari: bahasa
Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing. Ketiga golongan bahasa itu masingmasing
menjalankan fungsi kemasyarakatan yang khusus, di antaranya yang
penting untuk disebutkan adalah fungsi bahasa resmi pada taraf negara atau
daerah, fungsi bahasa perhubungan luas, fungsi bahasa pendidikan formal, fungsi
bahasa kesenian, dan fungsi bahasa keilmuan dan keteknologian.
Fungsi bahasa resmi pada taraf nasional dijalankan oleh bahasa Indonesia.
Artinya, dalam segala urusan negara yang resmi, seperti dalam tata usaha, peradilan,
dan penyelenggaraan politiknya, digunakan bahasa Indonesia. Dalam berbagai
upacara adat, bahasa daerah berfungsi sebagai bahasa resmi. Adapun dalam
pertemuan internasional yang diselenggarakan di Indonesia, bahasa asing seperti
bahasa Inggris diterima sebagai bahasa resmi di samping bahasa Indonesia.
Fungsi bahasa perhubungan luas dalam komunikasi antardaerah dan
antarbudaya ditunaikan oleh bahasa Indonesia dan sejumlah bahasa asing. Dalam
fungsi itu, bahasa Indonesia menjadi alat perhubungan pada tingkat nasional
untuk kepentingan perencanaan, pemerintahan, dan pelaksanaan pembangunan.
Bahasa asing berfungsi sebagai alat perhubungan antarbangsa dan untuk
perolehan ilmu dan teknologi modern.
Fungsi bahasa dalam sistem pendidikan formal berkaitan dengan garis
kebijakan dalam penentuan jenis bahasa sebagai bahasa pengantar dan atau objek
studi. Dalam hal ini kita perlu memerhatikan tiga tujuan pendidikan. Pertama,
bagaimana peserta didik memperoleh kemahiran dalam menggunakan bahasa
kebangsaannya demi tercapainya perpaduan nasional dan dengan pemerataan
kesempatan bekerja yang mensyaratkan kemampuan itu. Kedua, bagaimana orang
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Sebut dan jelaskan tujuan berbicara atau bertutur!
2. Sebutkan beberapa penyebab kegagalan dalam mendengarkan/menyimak!
3. Sebutkan beberapa hal yang dapat mengganggu kelancaran dalam
membawakan suatu acara!
4. Tulislah sebuah teks berbentuk deskripsi minimal lima paragraf yang
bertemakan lingkungan hidup!
5. Salinlah sebuah puisi dari salah seorang penyair terkenal Indonesia dan
buatlah parafrasanya!
134 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
dapat memahami bahasa etnisnya sehingga ia dapat menghayati dan melestarikan
warisan budayanya. Ketiga, bagaimana orang dapat mempelajari jenis bahasa
asing yang akan membukakan gerbang baginya ke dunia ilmu dan teknologi
modern dan ke berbagai peradaban lain yang layak dikenal.
Fungsi bahasa kesenian bertalian dengan pengungkapan cabang seni lewat
bahasa, seperti bidang prosa, puisi, drama, teater, dan film.Karya seni itu diciptakan
oleh penyair, pengarang, dan penggubah drama yang latar sosial budayanya
beragam.
Fungsi bahasa keilmuan akan berkembang jika bahasa yang bersangkutan
memiliki ragam tulis yang dapat dipakai untuk merekam penelitian dan pengolahan
ilmu serta untuk komunikasi ilmiah dalam pelbagai jenisnya. Dewasa ini fungsi
itu terutama dilaksanakan untuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Karena ketiga golongan bahasa itu hidup berdampingan, terjadilah proses
saling memengaruhi yang tampak sekali dalam bentuk kata dan perluasan
kosakata. Tanpa kita sadari, kita telah banyak menyerap kata asing, antara lain,
dari bahasa Sanskerta kita mengenal kata karya, dwi, dan asrama; dari bahasa
Belanda kita mengenal kata kamar, kantor, dan pos; dari bahasa Portugis kita
mengenal kata bendera, kemeja, dan jendela. Hubungan antara bahasa Indonesia
dengan bahasa daerah sendiri bersifat timbal balik, di mana pemakaiannya
sekarang ini saling dipadukan. Perkembangan bahasa yang terjadi karena adanya
kontak bahasa dan budaya hendaknya tidak dianggap sebagai pencemaran,
meskipun jangan sampai disalahgunakan.
Sumber: Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Balai Pustaka 2003 (Dengan pengubahan)
Pengetahuan 135
Tema
9
PENGETAHUAN
Tujuan Pembelajaran:
1. Menyimak untuk memahami informasi lisan.
2. Mengucapkan dialog drama dengan jelas, lancar, dan wajar.
3. Memahami informasi dalam teks berbentuk eksposisi.
4. Menulis paragraf secara efektif.
Sumber: Garuda, Maret 2006
136 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Pendahuluan
Pada pertemuan ini Anda akan memelajari empat aspek kemampuan berbahasa,
yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada aspek mendengarkan,
Anda akan diajak menyimak untuk memahami informasi lisan. Pada aspek berbicara,
Anda akan memelajari cara mengucapkan dialog drama dengan jelas, lancar, dan
wajar. Bagaimana cara memahami informasi dalam teks berbentuk eksposisi dapat
Anda temui pada aspek membaca. Adapun pada aspek terakhir, yaitu menulis, Anda
diajak untuk belajar menulis paragraf secara efektif.
Setiap aspek di atas akan dilengkapi dengan tugas, berupa tugas individu atau
kelompok, untuk merangsang dan memotivasi Anda berpikir kreatif dalam memahami
uraian materi. Selain itu, pada akhir bab Anda akan menemui rangkuman dan pelatihan.
Rangkuman berguna untuk mengingatkan Anda kembali mengenai isi materi yang
telah dipelajari. Adapun pelatihan akan membantu mengukur sejauh mana pemahaman
materi yang telah Anda capai dengan cara mengerjakan soal-soal.
A. Mendengarkan
Menyimak untuk Memahami Informasi Lisan
Menyimak merupakan proses mendengarkan, mengenal, dan menginterpretasi
lambang-lambang lisan atau ujaran. Dalam menyimak dituntut kegiatan
mendengarkan dengan penuh perhatian.
Menyimak dan membaca memiliki hubungan yang erat karena keduanya
merupakan alat untuk menerima pesan dalam komunikasi. Perbedaannya terletak
pada jenis komunikasi, yaitu menyimak berhubungan dengan komunikasi lisan,
sedangkan membaca berkaitan dengan komunikasi tulis. Dalam hal tujuan,
keduanya mengandung kesamaan, yaitu untuk memperoleh informasi, menangkap
isi, dan memahami makna komunikasi.
Berdasarkan uraian di atas, menyimak dapat disebut sebagai suatu proses
mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, dan
penafsiran untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna
komunikasi yang disampaikan oleh si pembicara.
Beberapa hal yang perlu kita kenal dan pahami dalam kegiatan menyimak,
antara lain, sebagai berikut.
1. Bunyi fonemis bahasa yang bersangkutan.
2. Urutan bunyi dan pengelompokannya (lafal, tekanan, intonasi, dan jeda).
3. Kata tugas serta perubahan bunyi sesuai dengan posisinya di muka kata lain.
4. Infleksi sebagai penunjuk jamak, waktu, milik, dan sebagainya.
5. Perubahan bunyi dan pertukaran fungsi yang ditimbulkan oleh derivasi.
6. Pengelompokan struktural seperti frasa verbal dan preposisional.
7. Petunjuk susunan atau urutan kata yang menyangkut fungsi makna.
8. Makna kata sesuai dengan konteks atau situasi pembicaraan.
9. Makna budaya yang tercakup atau tersirat dalam suatu pesan.
Pengetahuan 137
Tugas Individu
1. Simaklah wacana berikut yang akan dibacakan oleh salah seorang teman
Anda. Pembacaan ini dapat diulang sebanyak tiga kali oleh siswa yang
berbeda.
Kala Dunia Meletup di Kuwu
Ratusan tahun sebelum lumpur meluap di Sidoarjo, Jawa Timur, di
Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Purwodadi, Jawa Tengah,
sudah ada kubangan lumpur yang luasnya beberapa hektar.
Sampai saat ini kubangan di Kuwu itu masih ada walau bagian yang
mengering makin luas. Namun, ciri yang tidak hilang dari kubangan lumpur
ini adalah pelepasan gas dari dalam bumi dalam bentuk letupan-letupan
lumpur.
Dan karena letupan-letupan yang oleh orang Jawa dianggap berbunyi
”bledug” itulah, kubangan lumpur di Kuwu disebut sebagai bledug kuwu.
Kemudian, fenomena alam ini lalu menjadikan Kuwu sebagai salah satu
objek wisata di Jawa Tengah. Orang senang menunggui adegan loncatan
lumpur yang kadang tingginya sampai sekitar 5 meter.
Hal lain yang juga penting adalah kenyataan bahwa lumpur di Kuwu
mengandung garam. Oleh penduduk setempat, garam dari lumpur yang
disebut bleng ini ditambang dan dijual sebagai bumbu masak dan obat.
Kemujaraban garam bleng sebagai obat belum bisa dibuktikan secara
ilmiah. Namun, kelezatan garam bleng konon tidak bisa ditandingi garam
laut. Banyak masakan yang hanya bisa terasa enak kalau memakai bleng,
antara lain kerupuk karak yang dijual di sekitar Purwodadi sampai Surakarta.
Bledug kuwu adalah fenomena alam yang khas dan cukup langka di
muka bumi ini. Yang disayangkan adalah kenyataan bahwa bledug kuwu
tidak terawat. Tempat itu, kecuali bledugnya, secara umum sulit dirasakan
keindahannya.
Sumber: Kompas, 26 Agustus 2007
2. Catatlah ketidakjelasan dalam proses pembacaan yang dilakukan oleh teman
Anda, baik dari segi lafal, tekanan, intonasi, dan jeda.
3. Catatlah ketidakefektifan kata atau kalimat yang terdapat pada wacana yang
Anda dengar tersebut.
4. Catatlah juga informasi yang dapat Anda serap dari isi wacana tersebut.
5. Kumpulkan hasil kerja Anda kepada guru untuk diberi penilaian.
138 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Tugas Kelompok
1. Bentuklah sebuah kelompok kerja yang terdiri atas tiga orang.
2. Simak dan catatlah dengan cermat isi ceramah atau pidato dari siaran radio
dan televisi yang bertemakan dunia pengetahuan. Catatlah juga mengenai
penggunaan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda pembicara dalam kegiatan
tersebut.
3. Buatlah laporan hasil kerja kelompok Anda dalam format tertulis.
4. Diskusikan laporan tersebut dengan guru Anda pada pertemuan berikutnya.
B. Berbicara
Mengucapkan Dialog Drama dengan Jelas, Lancar, dan
Wajar
Drama merupakan perpaduan
antara seni sastra, seni musik, seni
rupa, dan seni tari. Drama adalah seni
yang paling dekat dengan kehidupan
manusia. Konflik yang dihadirkan
dalam drama sama dengan konflik
dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Oleh karena itu, drama dapat
pula dikatakan sebagai potret kehidupan
manusia sehari-hari.
Memerankan drama berarti mempraktikkan
percakapan-percakapan
antartokoh yang terdapat di dalamnya, baik untuk keperluan latihan ataupun untuk
pementasan yang sesungguhnya. Praktik memerankan ini sangat bergantung pada
kejelasan, kelancaran, dan kewajaran dialog pemeran-pemerannya. Misalnya,
dialog yang berisi kemarahan hendaknya diucapkan dengan jelas dan lancar,
ditunjang dengan kewajaran ekspresi seseorang yang sedang marah.
Kejelasan dan kelancaran dialog serta kewajaran ekspresi seorang pemain
drama tersebut sangat memengaruhi tingkat apresiasi penonton. Penonton akan
dapat menangkap pesan melalui dialog-dialog yang jelas dan lancar pengucapannya.
Adapun kewajaran ekspresi pemain akan menguatkan dialog yang diucapkan
tersebut.
Sumber: Kompas, 29 Juli 2007
Gambar 9.1 Dialog dalam drama harus
diucapkan dengan jelas, lancar, dan wajar
Pengetahuan 139
Tugas Individu
1. Coba Anda dialogkan kalimat-kalimat berikut dengan jelas, lancar, dan wajar
di depan kelas secara bergiliran dengan teman yang lain.
a. Dialog dengan nada sedih
”Bulan purnama seindah ini. Pucuk-pucuk daun di pohon berkilat-kilat
seperti perak. Bau sedap malam timbul dengan lembut. Suara jangkrik
membawa ingatanku kepada tempat-tempat yang jauh. Ah, semua ini
membuat jiwaku semakin mengambang tak menentu karena aku ingat
nasib Ibu yang sakit di seberang sana.”
b. Dialog dengan nada marah
”Memang luar biasa kamu! Pandai sekali kamu menguasai bahasa!
Kamu memang gagah dan berkuasa! Kamu selalu benar dan tak pernah
salah! Ya! Ya! Jangan-jangan kamu ini manusia sempurna! Atau
Superman, barangkali!”
c. Dialog dengan nada kagum
”Kurang ajar, bisa saja ia punya gagasan semacam itu! Lihatlah gaya
pembawaan dirinya, bisa membuat luluh hati kita. Aduh! Kurang ajar
betul!”
d. Dialog dengan nada dingin dan acuh
”Terima kasih bahwa kamu tidak melupakan hari ulang tahunku. O,
buku novel. Ini hadiah untukku? Baik. Terima kasih. Maaf, ya. Aku
tidak punya banyak waktu. Lain kali saja kita bertemu lagi.”
e. Dialog dengan nada menghina
”Siapa namamu?”
f. Dialog dengan nada ramah
”Istirahatlah dulu. Perjalananmu masih sangat jauh. Aku akan membuatkan
secangkir kopi panas untukmu.”
g. Dialog dengan nada terkejut, heran, kagum, lalu rasa bersalah
”Ibu, bagaimana mungkin ini bisa terjadi dalam semalam?”
2. Bagaimana? Adakah kesulitan untuk mengucapkan dialog-dialog di atas
secara lancar, jelas, dan wajar? Menurut Anda, faktor apa saja yang menghambat
kelancaran, kejelasan, dan kewajaran dalam mengucapkan dialog?
3. Setelah Anda mendapatkan jawabannya melalui tukar pikiran dengan teman
yang lain, silakan mencoba lagi untuk mengucapkan dialog-dialog di atas.
140 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Tugas Kelompok
1. Tafsirkan terlebih dahulu nada dan ekspresi yang tepat untuk mengucapkan
dialog-dialog pada tokoh drama berikut.
Emak : Ketika prajurit-prajurit dengan tombak-tombaknya mengepung
istana Cahaya itu, Sang Pangeran Rupawan menyelinap di antara
pokok-pokok puspa, sementara air dalam kolam berkilau mengandung
cahaya purnama. Adapun Sang Puteri Jelita, dengan debaran
jantung dalam dadanya yang baru tumbuh, melambaikan setangan
suteranya di balik tirai merjan, di jendela yang sedang mulai
ditutup oleh dayang-dayangnya. Melentik air dari matanya bagai
butir-butir mutiara.
Abu : Dan Sang Pangeran, Mak?
Emak : Dan Sang Pangeran, Nak? Duhai, seratus ujung tombak yang
tajam berkilat membidik pada satu arah: purnama di angkasa
berkerut wajahnya lantaran cemas, air kolam pun seketika
membeku, segala bunga pucat lesi mengatupkan kelopaknya, dan

Abu : Dan Sang Pangeran selamat, Mak?
Emak : Selalu selamat. Selalu selamat.
Abu : Dan bahagia dia, Mak?
Emak : Selalu bahagia. Selalu bahagia.
Abu : Dan Sang Puteri, Mak?
Emak : Dan Sang Puteri, Nak? Malam itu merasa lega hatinya dari
tindihan kecemasan. Ia pun berguling-guling bersama Sang
Pangeran dalam mimpi yang sangat panjang, di mana seribu bulan
menyelimuti kedua tubuh yang indah itu penuh cahaya.
Abu : Dan bahagia, Mak?
Emak : Selalu bahagia. Selalu bahagia.
Majikan : Abu!
Abu : Mereka senantiasa bahagia. Pokok-pokok puspa. Cahaya
purnama. Istana cahaya. Cermin Tipu Daya.
Majikan : Abu!
Abu : Mereka senantiasa bahagia. Pokok-pokok puspa. Cahaya
purnama. Istana cahaya. Cermin Tipu Daya.
Emak : Sekarang kau harus tidur. Anak yang ganteng mesti tidur soresore.
Pengetahuan 141
Abu : Sang Pangeran juga tidur sore-sore, Mak?
Emak : Tentu. Sang Pangeran juga tidur sore-sore karena dia anak yang
ganteng. Kau seperti Sang Pangeran Rupawan.
Majikan : Abu!
Abu : Mak?
Majikan : Abu!
Abu : Bagaimana keduanya bisa senantiasa selamat?
Emak : Berkat Cermin Tipu Daya.
Abu : Berkat Cermin Tipu Daya, Mak?
Emak : Semuanya berkat Cermin Tipu Daya.
Abu : Cuma berkat itu?
Majikan : Abu!
Emak : Cuma berkat itu.
Abu : Cuma.
Majikan : Abu! Abu!
Abu : … di mana Cermin itu dapat diperoleh, Mak?
Emak : Jauh nun di sana … kala semuanya belum ada …
Sumber: Simbolisme Drama ”Kapai-Kapai”, Soediro Satoto 1979
2. Coba Anda dialogkan kutipan naskah drama ”Kapai-Kapai” karya Arifin
C. Noer di atas dengan teman sebangku di depan kelas berdasarkan
penafsiran Anda.
3. Ucapkan dialog-dialog tersebut dengan jelas, lancar, dan wajar.
4. Mintalah komentar dari teman dan guru yang menyaksikan mengenai
ketepatan penafsiran dan penampilan Anda.
C. Membaca
Memahami Informasi dalam Teks Berbentuk Eksposisi
Setelah Anda memahami bentuk teks narasi dan deskripsi, selanjutnya adalah
teks berbentuk eksposisi. Teks berbentuk eksposisi adalah teks yang berisi uraian
atau penjelasan tentang sesuatu hal atau suatu topik dengan tujuan memberi
informasi atau pengetahuan. Biasanya isi teks eksposisi disertai dengan datadata
yang rinci untuk memperkuat informasi. Hal ini bertujuan agar pembaca
memahami informasi tersebut dengan sejelas-jelasnya.
Perhatikan contoh teks eksposisi berikut.
142 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Gitar Sukoharjo
Ibarat Jual Sayur
Bicara soal industri gitar, Sukoharjo di Solo ternyata juga jagoan.
Lihatlah kenyataan bahwa sebagian besar gitar yang dipakai para
pengamen di Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota besar di Jawa dan luar
Jawa ternyata dipasok dari tiga desa di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah,
yang merupakan sentra industri gitar. Setiap minggu ribuan gitar diproduksi
di Desa Ngrombo dan Desa Mancasan, Kecamatan baki, serta Desa
Pondok, Kecamatan Grogol.
Selain gitar-gitar standar yang digunakan pengamen, para perajin gitar
di tiga desa ini juga memproduksi berbagai jenis gitar dengan kualitas
ekspor. Berdasarkan data Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan
Penanaman Modal Kabupaten Sukoharjo pada tahun 2006, jumlah perajin
gitar di Sukoharjo sekitar 162 unit usaha dengan 727 tenaga kerja. Dengan
produksi gitar 169.700 dosin per tahun, sebanyak 35 persen dipasarkan
ke luar negeri.
Selain gitar standar, ada berbagai jenis model gitar yang diproduksi
perajin, seperti gitar jumbo melodi, jumbo kaibu, jumbo tanduk, jumbo
lubang tanduk, dan jumbo lubang F mulai dari harga Rp250.000 hingga
Rp1,25 juta.
Beberapa perajin yang ditemui mengakui bahwa sebagian besar gitar
yang diproduksi adalah gitar standar. Gitar ini dijual murah dengan harga
Rp65.000 hingga Rp75.000 per buah. Saking murahnya, gitar yang terbuat
dari bahan tripleks ini kemudian diistilahkan dengan gitar ”sayur”. Di
pasar-pasar loak di Solo, harga gitar ”sayur” ini bahkan bisa lebih murah.
Sumber: Kompas, 21 Oktober 2007 (Diambil seperlunya)
Tugas Individu
1. Bacalah teks di bawah ini dengan saksama.
Mitos di Balik Oktan
Pemerintah berencana membatasi distribusi bensin Premium oktan 88
dengan bensin beroktan 90 yang harganya lebih mahal sebagai langkah
mencabut subsidi bahan bakar minyak. Terlepas dari rencana itu, apa
sebenarnya perbedaan Premium 88 dengan bensin beroktan di atasnya?
Pengetahuan 143
Mobil-mobil yang diproduksi tahun 1990-an ke atas mensyaratkan
penggunaan bensin dengan bilangan oktan 90 ke atas. Di Indonesia, ada
dua jenis bensin beroktan 90, yaitu bensin oktan 92 dan oktan 95.
Bensin oktan 92 dikenal dengan nama Pertamax (produksi Pertamina),
Super (produksi Shell), dan Primax (produksi Petronas). Sedangkan bensin
oktan 95 biasa disebut Pertamax Plus (Pertamina), Super Extra (Shell),
dan Primax95 (Petronas).
Adapun bensin Premium yang dipakai sebagian besar pengguna
kendaraan bermotor di Indonesia adalah bensin dengan kadar oktan 88.
Oktan adalah angka yang menunjukkan berapa besar tekanan maksimum
yang bisa diberikan di dalam mesin sebelum bensin terbakar secara spontan.
Di dalam mesin, campuran bensin dan udara (berbentuk gas) bisa terbakar
sendiri secara spontan sebelum terkena percikan api dari busi. Pembakaran
spontan ini menimbulkan ketukan di dalam mesin yang biasa disebut gejala
ngelitik atau knocking. Pembakaran spontan ini sebisa mungkin dihindari
dengan angka oktan yang tinggi.
Ngelitik terjadi karena bensin lebih cepat terbakar secara spontan
sehingga tenaga untuk menggerakkan mesin serta beban kendaraan lebih
kecil dari yang dibutuhkan. Sistem pemeringkatan oktan (octan rating)
adalah ukuran seberapa besar suatu jenis bensin bisa mencegah terjadinya
ngelitik pada mesin.
Kadar oktan dalam bensin juga sering dikait-kaitkan dengan soal ramah
lingkungan. Faktor ramah lingkungan pada bensin ditentukan oleh ada
tidaknya kandungan timbal (tetraethyl lead/TEL) dalam bensin. Saat ini,
semua produk bensin oktan di atas 90 sudah tidak mengandung timbal.
Bensin beroktan tinggi pada mobil yang memiliki spesifikasi oktan di
atas 90 membuat konsumsi bahan bakar lebih irit. Ini disebabkan bensin
lebih lama terbakar sehingga mesin bisa efisien.
Pengukuran angka oktan dilakukan dengan membandingkan
kemampuan mencegah ngelitik antara suatu jenis bensin dengan campuran
kimia antara senyawa isooktan dan n-heptan. Bensin beroktan 88, misalnya,
berarti memiliki kemampuan mencegah ngelitik sama dengan campuran
yang terdiri atas 88 persen isooktan dan 12 persen n-heptan.
Sumber: Kompas, 23 Desember 2007 (Diambil seperlunya)
2. Jelaskan dengan alasan yang logis bahwa teks tersebut berbentuk eksposisi.
Tuliskan alasan Anda pada buku tugas.
3. Catatlah juga informasi penting yang Anda dapatkan dari teks tersebut.
4. Bacakan hasil kerja Anda agar dapat dievaluasi oleh teman-teman dan guru.
144 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
D. Menulis
Menulis Paragraf secara Efektif
Seorang penulis memerlukan cara yang efektif untuk menulis sebuah karangan.
Hal ini dimaksudkan agar gagasan yang ingin disampaikan oleh penulis dapat
terwakili dalam karangannya.
Untuk berlatih menulis karangan dapat diawali dengan berlatih menulis
paragraf terlebih dahulu. Setelah itu susunan paragraf-paragraf tersebut dapat
dirangkai menjadi sebuah karangan yang utuh dan padu.
Langkah-langkah menulis paragraf, antara lain, sebagai berikut.
1. Menentukan topik karangan yang akan ditulis
Penentuan topik karangan hendaknya disesuaikan dengan jenis karangan
(narasi, deskripsi, eksposisi, persuasi) yang dibuat. Hal ini disebabkan tidak
setiap topik dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis karangan. Setiap
jenis karangan memiliki karakter dan tujuan yang berbeda. Sumber-sumber
topik dapat dicari dari pengalaman, pengamatan, pengetahuan, pendapat, dan
daya khayal.
2. Merumuskan tema
Rumusan tema yang dapat dijadikan pedoman, antara lain, sebagai berikut.
a. Dirumuskan dalam kalimat yang jelas.
b. Adanya kesatuan gagasan sentral yang menjadi landasan seluruh karangan.
c. Pengembangan tema yang terarah.
d. Tema yang dirumuskan mengandung keaslian (kebenaran).
3. Membuat kerangka karangan
Kerangka karangan paragraf hendaknya disusun berdasarkan syarat-syarat
berikut.
a. Mengungkapkan maksud yang jelas.
b. Tiap bagian hanya mengandung satu gagasan.
c. Disusun secara logis dan sistematis.
d. Memerlukan penggunaan simbol yang konsisten
4. Mengumpulkan bahan
Bahan-bahan karangan dapat dicari melalui berbagai sumber, seperti buku,
ensiklopedia, kamus, laporan penelitian, majalah, surat kabar, tabloid, daya
khayal, dan sebagainya.
5. Mengembangkan kerangka menjadi paragraf dan karangan
Setiap paragraf disusun oleh rangkaian kalimat yang saling berhubungan
untuk membentuk sebuah gagasan. Karangan yang utuh disusun oleh
rangkaian paragraf yang saling berhubungan dan melengkapi.
Syarat-syarat paragraf yang baik, antara lain, sebagai berikut.
Pengetahuan 145
a. Kesatuan, artinya semua kalimat yang membangun paragraf harus
mengacu pada satu tema atau satu pikiran.
b. Koherensi, artinya semua kalimat yang membangun sebuah paragraf harus
saling berhubungan.
c. Perincian dan urutan pikiran, artinya sebuah pikiran utama harus
dikembangkan menjadi paragraf, lalu dihubungkan dengan paragrafparagraf
lain yang berisi pikiran penjelas.
d. Sebuah paragraf dibangun oleh sebuah kalimat utama dan didukung
kalimat-kalimat lain sebagai kalimat penjelas.
e. Penggunaan tanda baca yang tepat di dalam kalimat.
Tugas Individu
1. Coba Anda buat karangan yang utuh bertemakan pengetahuan secara umum
di sekitar masyarakat dengan mengikuti langkah-langkah penulisan pada
materi di atas. Jenis karangan dapat Anda pilih sesuai keinginan.
2. Bacakan hasil karangan Anda di depan kelas dengan lafal, tekanan, intonasi,
dan jeda yang tepat.
3. Mintalah saran dan kritik dari teman-teman yang lain mengenai hasil
karangan Anda tersebut.
Rangkuman
1. Menyimak dan membaca memiliki hubungan yang erat karena keduanya
merupakan alat untuk menerima pesan dalam komunikasi. Perbedaannya
terletak pada jenis komunikasi, yaitu menyimak berhubungan dengan
komunikasi lisan, sedangkan membaca berkaitan dengan komunikasi tulis.
Dalam hal tujuan, keduanya mengandung kesamaan, yaitu untuk
memperoleh informasi, menangkap isi, dan memahami makna komunikasi.
2. Kejelasan dan kelancaran dialog serta kewajaran ekspresi seorang pemain
drama sangat memengaruhi tingkat apresiasi penonton. Penonton akan dapat
menangkap pesan melalui dialog-dialog yang jelas dan lancar pengucapannya.
Adapun kewajaran ekspresi pemain akan menguatkan dialog yang
diucapkan tersebut.
146 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
3. Teks berbentuk eksposisi adalah teks yang berisi uraian atau penjelasan
tentang sesuatu hal atau suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau
pengetahuan. Biasanya isi teks eksposisi disertai dengan data-data yang
rinci untuk memperkuat informasi. Hal ini bertujuan agar pembaca
memahami informasi tersebut dengan sejelas-jelasnya.
4. Langkah-langkah menulis paragraf, antara lain, menentukan topik karangan
yang akan ditulis, merumuskan tema, membuat kerangka karangan,
mengumpulkan bahan, serta mengembangkan kerangka menjadi paragraf
dan karangan.
Latihan
A. Pilihlah jawaban yang paling benar!
1. Alasan yang paling tepat bahwa menyimak dan membaca memiliki hubungan
yang erat adalah ….
a. keduanya menggunakan organ tubuh sebagai media
b. keduanya memberi manfaat secara ilmu pengetahuan
c. keduanya berfungsi sebagai pembanding informasi
d. keduanya merupakan sarana bantu untuk berpikir kritis
e. keduanya merupakan alat untuk menerima pesan dalam komunikasi
2. Proses mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian,
pemahaman, dan penafsiran untuk memperoleh informasi, menangkap isi,
serta memahami makna komunikasi yang disampaikan oleh si pembicara
disebut proses ….
a. menyimpulkan c. menyimak e. mendata
b. menganalisis d. memaparkan
3. Unsur utama yang menentukan alur cerita dan suasana dalam lakon drama
adalah ….
a. konflik c. penulis e. amanat
b. tokoh d. tema
4. Drama mengangkat kenyataan hidup manusia sehari-hari, oleh karena itu
drama diibaratkan sebagai ….
a. pandangan masyarakat d. teka-teki kehidupan
b. potret kehidupan e. potret kesenjangan sosial
c. jalan hidup
Pengetahuan 147
5. Di bawah ini yang termasuk paragraf berbentuk eksposisi adalah ….
a. Dan karena letupan-letupan yang oleh orang Jawa dianggap berbunyi
”bledug” itulah, kubangan lumpur di Kuwu disebut sebagai bledug kuwu.
Kemudian, fenomena alam ini lalu menjadikan Kuwu sebagai salah satu
objek wisata di Jawa Tengah. Orang senang menunggui adegan loncatan
lumpur yang kadang tingginya sampai sekitar 5 meter.
b. Sejak 1945 program Books for Asia Foundation telah mendistribusikan
lebih dari 41 juta buku jurnal ilmiah, materi pendidikan, bahkan bukubuku
sastra ke lebih dari 50.000 lembaga akademis maupun non-akademis
di negara-negara Asia. Pada tahun 2005 saja, lebih dari 750.000
sumbangan buku senilai USD28 juta telah dibagikan ke sekolah-sekolah,
universitas, perpustakaan umum, pusat penelitian, dan lembaga-lembaga
pendidikan lainnya di 15 negara.
c. Iklan merupakan produk budaya massa. Suatu kebudayaan masyarakat
industri yang ditandai oleh produk massal konsumsi massal. Kepraktisan
dan pemuasan jangka pendek merupakan ciri serta nilai utama budaya
massa. Dalam konteks seperti itu, sektor industri dan bisnis memandang
massa tidak lebih sebagai konsumen. Maka hubungan yang berlaku pun
hubungan komersial semata.
d. Selama rating masih dijadikan patokan oleh industri pertelevisian, selama
itu pula pendidikan lewat televisi tidak berjalan. Industri televisi butuh
hidup untuk membiayai produksi. Rating rendah akan berpengaruh pada
perolehan iklan yang rendah pula sehingga tidak bisa menutup biaya
produksi. Alasan yang selalu dikemukakan itu memang masuk akal.
e. Cobalah datang ke sentra tanaman hias di Sawangan, Depok, Jawa Barat.
Di sepanjang pinggir jalan kita bakal menemukan beragam anturium,
mulai dari indukan besar, tanaman dewasa, sampai kecambah kecil hasil
semaian. Kawasan itu juga menjadi tempat nongkrong para penggemar
tanaman ini.
6. Agar pembaca mampu memahami isi teks sejelas-jelasnya, maka di dalam
teks berbentuk eksposisi biasanya disertai dengan ….
a. konsep utama penulis
b. data-data yang rinci
c. tujuan penulis menulis teks tersebut
d. latar belakang mengapa teks tersebut ditulis
e. istilah-istilah penting
7. Sebuah karangan dikatakan efektif apabila isi karangan tersebut mampu ….
a. mewakili gagasan pengarang
b. menghibur para pembacanya
c. menampilkan istilah-istilah baru
d. menyediakan ruang berpikir bagi pembaca
e. mendokumentasikan suatu masalah yang aktual
148 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
8. Di bawah ini yang tidak termasuk langkah-langkah menulis paragraf
adalah ….
a. menentukan topik
b. merumuskan tema
c. membuat kerangka karangan
d. mencari bahan
e. menentukan banyaknya paragraf yang akan digunakan
9. Sumber ide paling mudah didapatkan untuk menulis karangan adalah ….
a. buku c. informasi e. pengamatan
b. pengalaman d. khayalan
10. Bagi saya pribadi, setiap pengetahuan akan ikut menentukan masa depan
seseorang. Pengetahuan ibarat uang saku yang harus kita sisihkan untuk
ditabung. Sayangnya, sepengetahuan saya tidak banyak pelajar yang rela
menyisihkan waktu mereka untuk berburu pengetahuan.
Paragraf di atas merupakan karangan berbentuk ….
a. khayalan c. fakta e. informasi
b. opini d. penelitian
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Sebutkan beberapa hal yang perlu dipahami dalam kegiatan menyimak!
2. Terangkan maksud kejelasan, kelancaran, dan kewajaran dalam memerankan
drama!
3. Terangkan arti teks berbentuk eksposisi!
4. Sebut dan jelaskan langkah-langkah menulis paragraf!
5. Tulislah sebuah karangan berbentuk eksposisi minimal satu halaman buku
tugas! Tema karangan dapat Anda tentukan sendiri!
Perekonomian 149
Tema
10
PEREKONOMIAN
Sumber: Jawa Pos, 4 Mei 2007
Tujuan Pembelajaran:
1. Memahami informasi dalam pengumuman.
2. Menggunakan kalimat efektif.
3. Memahami informasi dalam teks berbentuk argumentasi.
4. Memahami informasi nonverbal dan verbal.
5. Meringkas isi buku.
150 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Pendahuluan
Pada pertemuan ini Anda akan memelajari empat aspek kemampuan berbahasa,
yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada aspek mendengarkan,
Anda akan diajak memahami informasi dalam pengumuman. Pada aspek berbicara,
Anda akan memelajari cara menggunakan kalimat efektif. Bagaimana cara memahami
informasi dalam teks berbentuk argumentasi serta nonverbal dan verbal dapat Anda
temui pada aspek membaca. Adapun pada aspek terakhir, yaitu menulis, Anda diajak
untuk belajar meringkas isi buku.
Setiap aspek di atas akan dilengkapi dengan tugas, berupa tugas individu atau
kelompok, untuk merangsang dan memotivasi Anda berpikir kreatif dalam memahami
uraian materi. Selain itu, pada akhir bab Anda akan menemui rangkuman dan pelatihan.
Rangkuman berguna untuk mengingatkan Anda kembali mengenai isi materi yang
telah dipelajari. Adapun pelatihan akan membantu mengukur sejauh mana pemahaman
materi yang telah Anda capai dengan cara mengerjakan soal-soal.
A. Mendengarkan
Memahami Informasi dalam Pengumuman
Pengumuman merupakan salah satu
cara yang digunakan oleh suatu perusahaan,
instansi, atau perseorangan untuk memberitakan
atau menginformasikan tentang
sesuatu kepada masyarakat luas.
Pengumuman ditinjau dari segi sifatnya
meliputi sebagai berikut.
1. Pengumuman untuk kepentingan niaga,
yang tampil berupa iklan atau poster.
Iklan adalah pengumuman untuk kepentingan
perusahaan yang bertujuan
untuk memperkenalkan suatu produk,
menawarkan barang atau jasa kepada konsumen.
Poster ialah pengumuman untuk kepentingan niaga atau untuk suatu kegiatan
yang ditujukan kepada masyarakat yang ada dalam perjalanan. Oleh karena
itu, poster tampil dalam bentuk huruf dan gambar yang berukuran besar dengan
tata warna yang mencolok.
2. Pengumuman untuk penerangan, dari instansi pemerintah atau swasta, bahkan
dari perseorangan.
3. Pengumuman untuk kepentingan pendidikan, biasanya dibuat oleh instansi
yang berhubungan dengan bidang pendidikan.
4. Pengumuman yang berasal dari keluarga, misalnya, pengumuman tentang
duka cita, pertunangan, kehilangan, dan menikah.
Sumber: Seputar Indonesia, 9 Maret 2007
Gambar 10.1 Pengumuman
hendaknya ditulis dalam bahasa yang
mudah dipahami masyarakat luas
Perekonomian 151
Tugas Individu
1. Coba simak dua buah pengumuman berikut yang akan dibacakan oleh salah
seorang teman Anda.
Pengumuman a:
Pengumuman
Dengan ini kami umumkan bahwa Tuan Benny Dictus Dharma, Tuan
Ir. Handoko A. Tanuadji, Tuan Sukirno, Tuan Ir. Sunarto, dan Nyonya
Agustina Devi, secara bersama-sama sebagai pemilik/pemegang saham
100% saham yang telah dikeluarkan (para pemegang saham) oleh PT Global
Telekomunikasi Terpadu, berkedudukan di Semarang (Perseroan),
merencanakan untuk mengalihkan/menjual 90% saham milik para
pemegang saham dalam perseroan secara langsung kepada PT Sun Televisi
Network, berkedudukan di Jakarta.
Pihak-pihak yang berkepentingan yang ingin memperoleh informasi
lebih lanjut atas pengambilalihan saham tersebut dapat menyampaikan
secara tertulis dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak
tanggal pengumuman ini kepada PT Global Telekomunikasi Terpadu, Setia
Budi Square No. 14–15, Jalan Setia Budi Raya, Semarang 50263.
Pengumuman ini dilakukan guna memenuhi ketentuan pasal 125 ayat
7 juncto pasal 127 ayat 2 dan ayat 8 Undang-Undang Republik Indonesia
No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Semarang, 13 Februari 2008
Direksi PT Global Telekomunikasi Terpadu
Sumber: Seputar Indonesia, 13 Februari 2008
Pengumuman b:
RIP
Telah kembali ke rumah Bapa di surga dengan tenang, pada hari Kamis,
16 Agustus 2007 di Jakarta pukul 17.20 WIB, Anak Menantu, Suami, Papa,
Papa Mertua, Saudara kami yang tercinta:
Paulus Poedjiono Iskandar
(Ie Siong Poe)
Dalam Usia 68 tahun
Jenazah disemayamkan di Rumah Duka Dharmais Lt. Dasar Ruang AB
di Jl. S. Parman Kav. 84, Jakarta Barat.
152 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Misa Requiem akan diadakan pada hari Selasa, 21 Agustus 2007 pukul
19.30 WIB, dan akan dikremasikan pada hari Rabu, 22 Agustus 2007.
Berangkat dari Rumah Duka pukul 09.00 WIB di Krematorium Oasis.
Sumber: Kompas, 19 Agustus 2007 (Diambil seperlunya)
2. Tentukan jenis kedua pengumuman tersebut ditinjau dari sifatnya.
3. Tulislah isi pengumuman yang telah Anda dengar dengan bahasa yang
ringkas tanpa mengurangi informasinya.
Tugas Kelompok
1. Buatlah kelompok yang terdiri atas dua orang.
2. Carilah contoh-contoh pengumuman ditinjau dari sifatnya dan buatlah
dokumentasinya dengan rapi.
3. Kumpulkan hasil kerja kelompok Anda kepada guru untuk diberi penilaian.
B. Berbicara
Menggunakan Kalimat Efektif
Kegiatan berkomunikasi memerlukan penggunaan kalimat yang baik dan tepat.
Kalimat yang baik dan tepat tersebut memerlukan penggunaan kalimat yang
efektif.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menyampaikan pesan penutur secara
jelas, lengkap, dan tepat, sehingga isi atau maksudnya tergambar dengan lengkap
dalam pikiran pendengar atau lawan tutur.
Syarat sebuah kalimat disebut kalimat efektif adalah sebagai berikut.
1. Kalimat tersebut memiliki pola yang benar. Kalimat yang polanya salah
menurut tata bahasa, jelas tidak efektif. Namun, kalimat yang polanya benar
pun belum tentu efektif apabila isinya berbelit-belit.
2. Kalimat tersebut harus menggunakan pilihan kata secara tepat dan tidak
menggunakan kata secara berlebih atau bertumpang tindih.
Dalam bahasa tulis kalimat efektif dibantu oleh penggunaan tanda baca secara
tepat pula. Tanda baca seperti titik, koma, atau tanda tanya adalah alat pembantu
untuk menandai intonasi atau lagu tutur.
Jalan pikiran yang logis penutur harus didukung oleh susunan kalimat yang
teratur. Setiap unsur kalimat (kata) harus menempati posisi yang jelas. Misalnya,
mana bagian yang diterangkan dan mana bagian yang menerangkan, mana yang
Perekonomian 153
dipentingkan, dan di mana hendaknya bagian yang dipentingkan itu diletakkan
dalam susunan kalimat.
Sebagai contoh, Anda akan mengatakan Saya mengirimkan surat untuk Ibu.
Kalimat tersebut menimbulkan efek yang lain apabila dikatakan:
Untuk Ibu saya mengirimkan surat.
Surat saya mengirimkan untuk Ibu.
Mengirimkan saya surat untuk Ibu.
Untuk Ibu surat saya mengirimkan.
Walaupun kata-kata yang digunakan dalam kalimat tersebut sama, namun
terasa adanya ketidaknalaran. Penyebabnya adalah kata sebagai unsur kalimat
tidak jelas fungsinya.
Kalimat yang efektif menggunakan pilihan kata yang tepat. Tiap kata yang
digunakan dalam kalimat pun haruslah mendukung arti secara tepat. Pada
peristiwa memilih kata yang bersinonim, kita harus tahu kata mana yang tepat
untuk pengungkapan yang sesuai dengan yang kita maksudkan.
Cobalah kita bandingkan kalimat mana yang lebih efektif apabila ditinjau
dari pilihan kata yang digunakan pada dua contoh kalimat berikut.
Aku percaya bahwa hidup ini tidak selamanya susah.
Aku yakin bahwa hidup ini tidak selamanya susah.
Kata-kata yang bersinonim seperti percaya dan yakin, bersimpuh dan bersila,
menjenguk dan menengok mengandung nuansa makna tertentu sehingga
penggunaannya pun harus selektif.
Tugas Individu
1. Coba Anda perbaiki kalimat-kalimat di bawah ini menjadi kalimat efektif.
a. Hujan turun dengan sangat lebatnya, walaupun demikian temanku
datang juga.
b. Perkara pelanggaran itu rupanya memang sudah berada di tangan polisi.
c. Segala usahanya betul-betul sia-sia belaka.
d. Bantuan sandang dan pangan daripada masyarakat sangat dibutuhkan
untuk mereka para korban banjir.
e. Adalah suatu dosa besar bila kita melihat orang lain berbuat salah tapi
diam saja.
2. Bandingkan hasil pekerjaan Anda dengan teman sebangku.
3. Adakah kesamaan atau perbedaan antara hasil pekerjaan Anda dengan teman
sebangku Anda? Coba Anda diskusikan kesamaan atau perbedaan tersebut.
154 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Tugas Kelompok
1. Diskusikan wacana di bawah ini dengan teman sebangku Anda tentang
keefektifan penggunaan kalimat-kalimatnya.
Selalu Punya Desain Baru
Salah satu cara agar pembeli tidak bosan dengan hasil kerajinan industri
rumah tangga adalah selalu membuat desain baru. May Kartanegara
melakukan hal itu. Ia berupaya mengeluarkan desain baru setidaknya sekali
dalam setiap tiga bulan.
”Desain yang baru setidaknya membuat pelanggan punya pilihan lain,”
kata May. Apalagi, mengingat barang yang dia produksi unik dan masih
tergolong langka.
Ide membuat usaha sebenarnya bisa datang dari hal yang sering dianggap
sederhana. May merasakan pentingnya produk yang unik dan jarang dibuat
orang sebagai pelengkap interior sebuah ruangan.
Dia menggunakan bahan baku lempung bercampur plastik agar
produknya mudah dibentuk dan bisa tahan lama hingga bertahun-tahun
selain mudah dalam perawatan.
Untuk memberi warna agar tampak seperti asli, May menggunakan cat
air. Bahan lempung bercampur plastik itu diberi cat air, kemudian dibentuk
sesuai produk yang diinginkan, selanjutnya dijemur hingga kering.
”Proses pembuatannya membutuhkan waktu satu hari sampai barangnya
kering betul,” kata May. Karena itu, dia mengerjakan produk itu pada malam
hari. Setelah kering, barang dibungkus dengan plastik.
Merawat produk miniatur tidaklah rumit. Cukup membersihkan debu
dengan menggunakan lap kering.
May mengingatkan, pengerjaan miniatur interior ruangan membutuhkan
kesabaran, ketekunan, dan ketelitian karena barang yang diproduksinya
berukuran kecil.
Sumber: Kompas, 5 Agustus 2007
2. Jika terdapat kalimat-kalimat yang tidak efektif, cobalah untuk menafsirkan
alasannya mengapa penulis wacana tersebut menggunakan kalimat-kalimat
yang tidak efektif.
3. Sajikan pendapat Anda bersama teman sebangku lewat forum diskusi di
depan kelas sehingga didapatkan situasi tanya jawab dengan teman Anda
yang lain sebagai peserta diskusi.
4. Mintalah guru Anda untuk mengevaluasi hasil diskusi.
Perekonomian 155
C. Membaca
1. Memahami Informasi dalam Teks Berbentuk
Argumentasi
Argumentasi berasal dari kata argumen atau alasan. Teks berbentuk
argumentasi adalah teks yang berisi alasan-alasan yang kuat untuk membuktikan
kebenaran suatu pendapat dengan mengemukakan data dan fakta.
Perhatikan contoh teks berbentuk argumentasi berikut.
Suku Bunga vs Fundamental Ekonomi
Gejolak nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG)
Bursa Efek Indonesia (BEI) belakangan masih tidak bisa dilepaskan
dari dampak krisis kredit perumahan (subprime mortgage) di Amerika
Serikat. Kondisi ini jelas berdampak pada perekonomian nasional. Ini
juga menunjukkan bahwa pasar finansial kita telah terintegrasi dengan
pasar finansial global. Isu-isu global bisa berpengaruh secara langsung
pada pasar finansial di dalam negeri.
Dalam situasi demikian, para investor akan cenderung mengalihkan
dananya keluar dari pasar finansial yang berisiko anjlok harganya
menuju ke pasar finansial yang lebih menguntungkan. Risk and return
sebuah investasi, baik investasi portofolio maupun investasi langsung,
bisa kita lihat dari harga yang ditawarkan. Salah satunya tercermin
dari tingkat suku bunga yang ditawarkan.
Karena itu, suku bunga merupakan salah satu instrumen yang cukup
efektif dalam mengelola moneter, termasuk dalam menarik investasi
dari suatu negara. Suku bunga (BI Rate) juga dipakai oleh otoritas
moneter untuk mengatur jumlah uang yang beredar di masyarakat guna
mengendalikan laju inflasi pada tingkat yang diinginkan.
Sebab, inflasi merupakan ancaman bagi suatu negara dalam
mengelola perekonomian. Angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi
menjadi tidak berarti apabila pertumbuhan itu pada akhirnya hanya
habis tergerus inflasi. Untuk itu, langkah strategis yang perlu dilakukan
pemerintah adalah mengendalikan laju inflasi dan memberi insentif
bagi para investor agar menanamkan modal di Indonesia.
Dengan demikian, kebijakan menunda penurunan BI Rate dinilai
bisa menjadi solusi yang terbaik saat ini untuk tetap menjaga daya
saing investasi di pasar finansial dalam negeri. Secara bersamaan,
penundaan penurunan suku bunga juga bisa menahan jumlah uang yang
156 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
beredar, di tengah tingkat risiko investasi yang mulai meningkat. Ini
perlu diimbangi dengan return yang memadai, yaitu dengan tingkat
suku bunga yang pantas.
Namun, kebijakan menunda penurunan BI Rate bahkan menaikkan
BI Rate memiliki dampak serius yang patut diperhitungkna. Artinya,
kenaikan suku bunga akan menahan geliat perekonomian, sehingga
dikhawatirkan bisa mengoreksi target laju pertumbuhan ekonomi.
Suku bunga memang merupakan salah satu instrumen moneter,
namun fundamental ekonomi yang kuat sangat diperlukan untuk menjaga
stabilitas ekonomi sehingga mampu memberikan kesejahteraan
bagi masyarakat seluruhnya.
Sumber: Seputar Indonesia, 25 Maret 2008 (Diambil seperlunya)
Tugas Individu
1. Carilah sebuah teks berbentuk argumentasi yang bertemakan perekonomian
Indonesia di media massa.
2. Salinlah teks tersebut dengan rapi (boleh ditulis tangan atau diketik).
3. Bacakan hasilnya di depan kelas dan kemukakan alasannya mengapa Anda
beranggapan bahwa teks tersebut berbentuk argumentasi.
4. Mintalah komentar dari teman dan guru mengenai presentasi Anda.
Komentar dapat berupa saran, pertanyaan, sanggahan, atau persetujuan yang
sifatnya positif.
2. Memahami Informasi Nonverbal dan Verbal
Informasi verbal adalah informasi yang disampaikan dengan kata-kata.
Adapun informasi nonverbal adalah informasi yang disajikan dengan bentuk
visual, seperti gambar, bagan, grafik, diagram, matriks, dan tabel.
a. Bagan
Bagan merupakan gambar rancangan/skema/alat peraga grafis untuk
menyajikan data agar memudahkan penafsiran.
b. Grafik
Grafik adalah lukisan pasang surut atau naik turunnya suatu keadaan atau
suatu hasil dengan garis atau gambar.
Perekonomian 157
c. Diagram
Diagram merupakan gambaran (buram, sketsa) untuk memperlihatkan
atau menerangkan sesuatu.
d. Tabel
Tabel adalah daftar berisi ikhtisar sejumlah (besar) data informasi,
biasanya berupa kata-kata dan bilangan yang tersusun secara bersistem,
urut ke bawah dalam lajur dan deret tertentu dengan garis pembatas
sehingga dapat dengan mudah disimak.
e. Matriks
Matriks adalah tabel yang disusun dalam lajur dan jajaran sehingga butirbutir
uraian yang diisikan dapat dibaca dari atas ke bawah atau dari kiri
ke kanan.
Bila dicermati, informasi
akan terlihat lebih singkat jika
dinyatakan dengan data dibandingkan
dengan kata-kata, terutama
untuk informasi tertulis.
Untuk informasi lisan, kita
dapat menggunakan bahasa
yang efektif sehingga dapat
memperjelas informasi tersebut.
masing-masing memiliki
kelebihan dan kekurangan.
Dalam bahasa hukum, keefektifannya
lebih pada bahasa
tulis, sedangkan dalam forum
terbuka komunikasi lisan pun
terkadang lebih efektif. Dalam
berkomunikasi, penyajian
informasi verbal maupun nonverbal saling melengkapi. Penyajian informasi
nonverbal dapat memperjelas informasi verbal. Demikian juga informasi
verbal dapat memperjelas penyajian informasi nonverbal.
Tugas Individu
1. Cermatilah (bandingkan informasi verbal dengan informasi nonverbalnya)
wacana di bawah ini terlebih dahulu.
Sumber: Kompas, 31 Maret 2008
Gambar 9.2 Contoh penggunaan grafik untuk
memperjelas informasi
158 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
Realisasi Investasi Rendah
Kebijakan Pemerintah soal Persyaratan Lelang Jadi Kendala
Realisasi investasi di Jawa Tengah tahun lalu cukup rendah dibandingkan
persetujuan investasi yang dikeluarkan.
Hal ini terjadi
pada penanaman modal
asing (PMA) dan
penanaman modal dalam
negeri (PMDN).
Tercatat, realisasi
investasi untuk PMA
pada Januari – November
2007 hanya
sebesar USD66,8
juta. Pencapaian ini
jauh di bawah persetujuan
investasi yang
mencapai USD317,1
juta. Hal yang sama juga pada investasi PMDN, di mana persetujuannya
mencapai Rp1,2 triliun. Sementara realisasinya hanya sebesar Rp348,9
miliar.
Antara realisasi dan persetujuan memang terpaut jauh, karena investasi
memerlukan proses lama seperti perizinan. Persetujuan investasi yang
didapatkan investor biasanya baru bisa direalisasikan tahun berikutnya.
Selain karena pengurusan perizinan, juga perlu persiapan yang matang.
Persiapan ini menyangkut pendirian pabrik atau gedung guna mendukung
proyek investasinya. Di samping itu, beberapa kebijakan pemerintah soal
persyaratan lelang terhadap proyek yang lahannya milik pemerintah daerah
(pemda) juga menjadi kendala dalam merealisasikan sebuah proyek
investasi.
Sumber: Seputar Indonesia, 13 Februari 2008
(Diambil seperlunya dengan pengubahan)
2. Setelah Anda menemukan keterkaitan antara informasi verbal dan
nonverbalnya dengan tepat, coba presentasikan wacana tersebut di depan
kelas, seolah-olah Anda menjadi pembicara di suatu forum.
3. Mintalah teman dan guru untuk mengomentari hasil presentasi Anda.
Sumber: Seputar Indonesia, 13 Februari 2008
Perekonomian 159
D. Menulis
Meringkas Isi Buku
Ringkasan atau disebut juga ikhtisar, rangkuman, atau sinopsis adalah suatu
cara yang efektif untuk menyajikan karangan yang panjang menjadi bentuk yang
singkat. Berlatih meringkas isi buku berarti kita berlatih untuk membaca isi buku
dengan cermat kemudian menuliskannya kembali menjadi bentuk yang ringkas.
Hal-hal yang perlu diperhatikan jika kita hendak meringkas isi buku, antara
lain, sebagai berikut.
1. Bacalah buku tersebut dengan cermat, kalau perlu diulang-ulang sehingga
memahami seluruh isi buku, ide pengarang dan pandangannya.
2. Catatlah bagian isi yang merupakan ide pokok dan bagian yang merupakan
ide-ide tambahan.
3. Kemukakan intisari buku tersebut dan buanglah segala keindahan bahasa,
ilustrasi, dan detail-detail lain yang tidak perlu.
4. Susunlah garis besar ringkasan sesuai dengan urutan ide yang terdapat dalam
buku tersebut.
5. Mulailah menyusun ringkasan berdasarkan garis besar ringkasan yang telah
kita susun dengan menggunakan bahasa sendiri.
Perhatikan contoh ringkasan buku berikut.
Judul buku : Aki (Novel)
Pengarang : Idrus
Penerbit : Balai Pustaka Tahun 1949
Aki mengidap penyakit TBC, tubuhnya kurus kering dan bungkuk.
Karena penyakitnya ini, pekerjaannya di kantor terhambat. Tetapi Aki
bersikap tawakal menerima nasib dan penyakitnya. Sulasmi, istrinya, serta
kedua anaknya, Akbar dan Lastri, tak pernah membebani pikiran Aki.
Pada suatu saat, Aki mendadak pingsan. Setelah siuman, mulutnya bergerak
dan mengatakan bahwa ia akan mati setahun lagi, tanggal 16 Agustus. Ia
minta istrinya menyediakan kain kafan. Lalu ia mengundurkan diri dari
tempat kerjanya.
Mendengar hal itu, kepala kantornya menganggap Aki telah gila.
Kawan-kawan sekantor menganggap pernyataan Aki sebagai sebuah firasat
karena hidup Aki yang jujur. Sebagian kawannya menganggap sekadar
lelucon belaka. Seorang kawan Aki tergerak hatinya lalu mengarang lagu
berjudul ”Lagu Aki”.
Tibalah saatnya tanggal kematian yaitu jam tiga sore. Aki berpakaian
bagus. Jam tiga kurang seperempat Aki masuk ke kamarnya lalu berbaring
160 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
di atas ranjang. Banyak teman sekantor Aki yang datang karena ingin
mengetahui apa yang akan terjadi. Di luar rumah mereka menunggu dengan
tegang. Jam tiga lewat dua puluh menit, istri Aki memanggil-mangil
namanya, namun tidak mendapatkan jawaban. Istrinya lalu menangis
menjerit-jerit. Orang-orang yang di luar rumah yakin bahwa Aki telah
mati. Kemudian mereka memasuki kamar Aki. Betapa terkejutnya mereka
ketika melihat Aki sedang duduk merokok. Mereka mengira Aki telah
bangkit dari kematian, dan yang duduk merokok adalah hantunya Aki.
Ternyata Aki memang tidak mati. Tadi ia tertidur dan terbangun karena
mendengar keributan di luar rumahnya. Kepada istrinya Aki mengatakan
bahwa ia tidak jadi mati, bahkan ingin berusia 100 tahun. Kini Aki
menghadapi hidup penuh gairah karena harus bertanggungjawab kepada
keluarganya.
Tugas Individu
1. Carilah sebuah buku fiksi berbentuk novel di perpustakaan sekolah Anda.
2. Bacalah dengan cermat novel tersebut selama tiga hari di rumah.
3. Ringkaslah isi novel tersebut dengan menggunakan kalimat Anda sendiri.
4. Tentukan juga amanat yang terdapat pada novel tersebut.
5. Gunakan kalimat yang runtut dan bahasa yang komunikatif.
6. Kumpulkan hasil kerja Anda kepada guru untuk diberi penilaian.
Tugas Kelompok
1. Buatlah kelompok yang terdiri atas lima orang.
2. Carilah sebuah buku pengetahuan populer (bila mungkin edisi terbaru) di
perpustakaan sekolah atau perpustakaan umum di daerah Anda yang
bertemakan dunia perdagangan.
3. Catatlah judul buku, nama pengarang, penerbit, dan tahun penerbitannya.
4. Baca dan daftarlah pokok-pokok isi buku tersebut. (Diskusikan isinya
dengan anggota kelompok Anda)
5. Ringkaslah isi buku tersebut dengan kalimat yang efektif dan ejaan yang
tepat.
Perekonomian 161
6. Tuliskan juga mengenai keunggulan dan kekurangan isi buku tersebut
menurut pendapat kelompok Anda.
7. Presentasikan di depan kelas dalam bentuk diskusi agar kelompok lain ikut
mengetahui isi buku tersebut dan memberi komentar.
Rangkuman
1. Pengumuman merupakan salah satu cara yang digunakan oleh suatu
perusahaan, instansi, atau perseorangan untuk memberitakan atau
menginformasikan tentang sesuatu kepada masyarakat luas.
Pengumuman ditinjau dari segi sifatnya meliputi pengumuman untuk kepentingan
niaga, pengumuman untuk penerangan, pengumuman untuk kepentingan
pendidikan, dan pengumuman yang berasal dari keluarga.
2. Syarat sebuah kalimat disebut kalimat efektif adalah kalimat tersebut
memiliki pola yang benar dan menggunakan pilihan kata secara tepat dan
tidak menggunakan kata secara berlebih atau bertumpang tindih.
3. Teks berbentuk argumentasi adalah teks yang berisi alasan-alasan yang kuat
untuk membuktikan kebenaran suatu pendapat dengan mengemukakan data
dan fakta.
4. Informasi verbal adalah informasi yang disampaikan dengan kata-kata.
Adapun informasi nonverbal adalah informasi yang disajikan dengan bentuk
visual, seperti gambar, bagan, grafik, diagram, matriks, dan tabel.
5. Ringkasan atau disebut juga ikhtisar, rangkuman, atau sinopsis adalah suatu
cara yang efektif untuk menyajikan karangan yang panjang menjadi bentuk
yang singkat. Berlatih meringkas isi buku berarti berlatih untuk membaca
isi buku dengan cermat kemudian menuliskannya kembali menjadi bentuk
yang ringkas.
Latihan
A. Pilihlah jawaban yang paling benar!
1. Di bawah ini yang tidak termasuk pengumuman ditinjau dari sifatnya
adalah ….
a. pengumuman untuk kepentingan perusahaan
b. pengumuman yang berasal dari keluarga
c. pengumuman untuk kepentingan pendidikan
d. pengumuman untuk penerangan
e. pengumuman untuk hiburan
162 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
2. Pengumuman yang bertujuan untuk memperkenalkan suatu produk,
menawarkan barang atau jasa kepada konsumen disebut ….
a. poster
b. iklan
c. spanduk
d. kolom
e. sales
3. Telah hilang sebuah dompet pada hari … tanggal … atas nama …
Kutipan di atas merupakan jenis pengumuman untuk kepentingan ….
a. pendidikan
b. perusahaan
c. keluarga
d. penerangan
e. hiburan
4. Di bawah ini yang termasuk paragraf berbentuk argumentasi adalah ….
a. Mungkin bagi sebagian orang kenaikan harga komoditas seperti minyak
bumi, minyak kelapa sawit, gandum, jagung, dan kedelai di pasar dunia
seakan tidak berdampak dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia.
Masyarakat masih terlihat tenang dan tidak menunjukkan keresahan di
bidang ekonomi yang berarti.
b. Sementara itu, harga spot bungkil kedelai pada akhir 2005 di bursa
komoditas Brasil berada di kisaran 226,65 dollar AS per ton sebelum
naik tipis 3,57 persen menjadi 234,75 dollar AS per ton pada akhir tahun
2006. Kemudian melonjak 65,08 persen menjadi 387,53 dollar AS per
ton pada akhir tahun 2007. Mengapa harga kedua komoditas tersebut
relevan bagi mereka yang bergerak di industri pakan ternak?
c. Pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat belakangan ini ditambah
kenaikan harga-harga komoditas penting, termasuk bahan pangan dan
minyak bumi, tampaknya akan mengarah kepada terjadinya resesi
ekonomi global. Kondisi ini akan semakin menyulitkan pemerintah dalam
mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia yang masih tergolong tinggi.
d. Sejak keluarganya mengalami kesulitan ekonomi pada tahun lalu, lelaki
itu mulai sering uring-uringan. Di kepalanya selalu terngiang tagihantagihan
utang dari warung dan lintah darat. Bagaimana ia bisa tahan ini
semua? Ia harus melakukan sesuatu untuk dirinya dan keluarganya. Bunuh
diri? Mengapa harus bunuh diri? Bukankah bunuh diri tidak akan
menyelesaikan masalah?
e. Berdasarkan aturan yang ada, jika seorang debitor loncat di Bank A tetapi
macet di Bank B, maka klasifikasi di Bank A harus mengikuti klasifikasi
di Bank B. Dari sisi kekompakan dapat dibenarkan. Akan tetapi dalam
praktiknya menimbulkan kondisi yang tidak kondusif, karena akibat yang
harus dipikul bukan oleh nasabahnya, tetapi oleh banknya.
Perekonomian 163
5. Ringkasan yang disertai dengan ulasan mengenai kelebihan dan kekurangan
isi buku dikenal dengan istilah ….
a. resensi
b. editing
c. koreksi
d. apresiasi
e. opini
6. Di bawah ini yang tidak termasuk ciri-ciri kalimat tidak efektif adalah ….
a. kalimat yang menyimpang dari bentuk gramatikal
b. kalimat yang rancu
c. kalimat yang polanya salah menurut tata bahasa
d. kalimat yang singkat, jelas, dan benar
e. kalimat yang polanya benar tetapi isinya bertele-tele
7. Berikut ini yang merupakan kalimat efektif adalah ….
a. Keduanya saling dorong-mendorong.
b. Para hadirin semua dipersilakan berdiri.
c. Saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih.
d. Minumlah obat ini agar supaya cepat sembuh.
e. Saya mengirimkan surat lewat pos.
8. Berikut yang tidak termasuk informasi nonverbal adalah ….
a. peta
b. bagan
c. denah
d. grafik
e. laporan
9. Berikut karya sastra yang tidak biasa dibuatkan ringkasannya adalah ….
a. roman
b. novel
c. cerpen
d. puisi
e. cerber
10. Teks berbentuk argumentasi berisi alasan-alasan yang kuat dengan
tujuan ….
a. untuk membujuk pembaca agar mengikuti gagasan penulis
b. untuk memecahkan masalah yang dihadapi pembaca sehari-hari
c. untuk memberi saran dan pendapat terhadap permasalahan aktual yang
dihadapi masyarakat
d. untuk menutupi ketidakefektifan kalimat di dalam bacaan
e. untuk membuktikan kebenaran suatu pendapat dengan mengemukakan
data dan fakta
164 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Buatlah sebuah teks pengumuman yang sifatnya untuk kepentingan
perusahaan!
2. Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif dan tidak efektif? Apa saja syaratsyarat
kalimat efektif? Berilah contoh dalam bentuk kalimat untuk
memperjelas jawaban Anda!
3. Buatlah sebuah paragraf berbentuk argumentasi yang bertemakan
perekonomian!
4. Apakah mungkin seluruh informasi disampaikan dalam bentuk verbal?
Jelaskan jawaban Anda!
5. Sebutkan beberapa hal penting yang harus diperhatikan ketika meringkas isi
buku!
Latihan Ulangan Semester 2 165
Latihan Ulangan Semester 2
A. Pilihlah jawaban yang paling benar!
1. Hal penting yang harus dilakukan pada saat mendengarkan informasi lisan
adalah ….
a. mendengarkan sambil mencatat semua informasi yang disampaikan
b. mencatat semua informasi yang disampaikan
c. mendengarkan sepintas lalu
d. berkonsentrasi pada informasi yang sedang disampaikan
e. semuanya benar
2. Kalimat di bawah ini yang mengandung kesalahan bernalar akibat faktor
psikologis adalah ….
a. Orang yang gemar membaca pastilah nilai rapornya bagus.
b. Saya tidak sependapat dengan dia, Saudara perlu tahu bahwa dia pernah
dihukum.
c. Adapun saran yang diberikan oleh beliau akan saya laksanakan karena
beliau termasuk orang sukses.
d. Dia tidak masuk hari ini, pasti sakit.
e. Nilai matematika anak saya jelek, dia memang tidak berbakat.
3. Dalam sebuah pembicaraan resmi kita masih sering mendengar bunyi-bunyi
eu…eu… dan sejenisnya. Bunyi-bunyi ini menghambat kelancaran berbicara.
Sikap kita dalam hal ini adalah ….
a. membantu pembicara mengatasi hambatan
b. menganggap biasa bunyi-bunyi itu
c. menegurnya karena pembicaraan kurang serius
d. menganggap sebagai gangguan adanya bunyi-bunyi itu
e. menganggap pembicara yang demikian mengulur waktu
4. Di bawah ini yang bukan pembentuk kalimat tanya adalah ….
a. menambah kata apa
b. menempatkan kata bukan, belum, atau tidak
c. memberi tanda baca
d. mengubah urutan kata dalam kalimat
e. memakai kata tanya
5. Kalimat pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban karena penanya sudah
mengetahui jawabannya disebut ….
a. kalimat tanya biasa d. kalimat tanya tersamar
b. kalimat interogatif e. kalimat tanya retoris
c. kalimat tanya senilai perintah
166 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
6. Ciri-ciri kalimat tanya, antara lain ….
a. memengaruhi orang lain d. menggunakan jeda
b. menggunakan inti bertanya e. menggunakan kata tanya
c. menggunakan tanda baca
7. (1) membuat kerangka
(2) menentukan tujuan
(3) mengumpulkan bahan
(4) menetapkan topik tertentu
(5) mengembangkan kerangka menjadi karangan
Urutan yang tepat untuk menyusun karangan adalah ….
a. 2 – 3 – 5 – 4 – 1 c. 4 – 3 – 2 – 1 – 5 e. 2 – 3 – 5 – 1 – 4
b. 1 – 2 – 3 – 4 – 5 d. 4 – 2 – 3 – 1 – 5
8. Mengumpulkan bahan dalam membuat karangan memiliki tujuan ….
a. untuk menyusun kalimat efektif
b. untuk mempercepat alur
c. untuk membantu kata-kata sulit
d. untuk mengumpulkan data-kata yang mendukung pengembangan paragraf
e. untuk mengumpulkan ide sampai tuntas
9. Perbedaan mendasar antara argumentasi dengan eksposisi terletak pada ….
a. kegunaan data: argumen untuk pembuktian, eksposisi untuk penjelasan
b. jenisnya: argumen merupakan penelitian, eksposisi merupakan informasi
c. fungsinya: argumen merupakan pendapat, eksposisi merupakan fakta
d. panjang karangan: argumen lima halaman, eksposisi tiga halaman
e. bahasanya: argumen sulit, sedangkan eksposisi mudah
10. Di bawah ini tema yang tepat untuk dikembangkan ke dalam teks berbentuk
argumentasi adalah ….
a. Tamasya ke Lamongan Indah
b. Borobudur tempat terindah bagi wisatawan
c. Bercocok tanam secara hidroponik
d. Cara pembuatan susu kedelai
e. Kacang-kacangan bermanfaat untuk mencegah penyakit kanker
11. Tim sepakbola yang diandalkan Indonesia telah menderita kekalahan.
Akibatnya terjadi saling tuduh menuduh antara para pemain dengan pelatih.
Mereka dituduh menerima uang suap dari pihak lawan.
Agar kalimat kedua efektif, perbaikannya adalah ….
a. Antara para pemain dengan pelatih terjadi tuduh-tuduhan.
b. Terjadi saling tuduh antara pemain dengan pelatih.
c. Akibatnya terjadi tuduhan antara para pemain dengan pelatih.
d. Akibatnya terjadi tuduh-menuduh antara para pemain dengan pelatih.
e. Akibatnya saling menuduh antara para pemain dengan pelatih.
Latihan Ulangan Semester 2 167
12. Suatu teks digolongkan ke dalam jenis teks deskripsi apabila ….
a. berisi penegasan tentang kebenaran suatu pendapat
b. berisi kisah petualangan sang tokoh
c. berisi lukisan-lukisan, tempat, dan kejadian secara terperinci
d. berisi menyampaikan pengalaman kepada pembaca
e. berisi bujukan untuk mengikuti kehendak penulis
13. Di bawah ini yang termasuk paragraf berbentuk deskripsi adalah ….
a. Tak ada jadwal pertemuan khusus. Kumpul-kumpul seperti itu bisa terjadi
kapan saja jika dirasa ada kebutuhan penting. Mereka terdiri dari para
pedagang, penghobi, kolektor, serta penggemar anturium yang punya
hubungan erat.
b. Kalau dunia permobilan telah menjadi homogen dan nyaris tak ada lagi
yang bisa dipilih untuk menggungguli kompetitor, langkah apa lagi yang
harus dilakukan? Masuk wilayah post-modernisme, dan lakukan sesuatu
di situ.
c. Keinginan untuk pulang ke tempat asal merupakan fenomena global.
Hampir dalam setiap kebudayaan urban terdapat kebiasaan pulang. Yang
membedakan hanyalah momentumnya.
d. Ketupat sayur cocok dimakan di setiap kesempatan, selain untuk sarapan,
makan siang, dan malam, atau bisa juga sebagai makanan pengisi waktu
antara pagi dan siang atau siang dan malam. Makanan ini biasanya
disajikan bersama pindang bandeng, ayam goreng, serta semur daging,
tahu dan telur. Sementara untuk minumannya adalah teh tawar dan manis
yang disajikan hangat ataupun dingin.
e. Seorang ibu melantunkan pantun sambil menggoyang-goyangkan ayunan.
Bayi dalam ayunan kain sarung itu masih saja terjaga. Hingga sang ayah
datang dan turut menimang-nimangnya sambil berpantun, bayi itu pun
belum juga memejamkan mata. Bayi itu kemudian melirikkan matanya
kepada ayah dan ibunya. Senyum mengembang di bibirnya yang mungil.
14. Inilah masalah yang tak kunjung selesai hingga sekarang. Bahkan akan
menjadi tantangan yang berat di kemudian hari. Di kawasan kota yang
telanjur padat, memperoleh lahan terbuka bukanlah soal mudah. DKI Jakarta
dengan lahan seluas 66.126 hektar dan ruang hijau 9 persen atau 5.951
hektar, perlu membebaskan sekitar 13.000 hektar lahan bila ingin memenuhi
patokan lazim 30 persen lahan terbuka hijau. Sungguh, bukan hal yang
mudah untuk mewujudkannya.
Gagasan pokok pada paragraf di atas terletak pada kalimat ….
a. pertama c. ketiga e. kelima
b. kedua d. keempat
168 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
15. Bila merah putih telah diinjak-injak
Amuk dendam menggelora dalam jiwaku
Ini bukan kemanusiaan yang manusiawi lagi
Jika manusia telah menjadi robot-robot anak zaman
Kupacu jantungku untuk merengkuh kembali bumiku
Parafrasa yang tepat untuk puisi di atas adalah ….
a. Penulis merasa iba kepada manusia yang telah menjadi robot zaman.
b. Penulis merasa dendam karena ia manusia biasa.
c. Penulis tidak rela tanah airnya diinjak-injak bangsa lain dan ia akan
berjuang untuk kemerdekaan negerinya.
d. Penulis mengharapkan orang lain untuk berjuang membela negara yang
diinjak-injak.
e. Penulis berjuang dengan penuh dendam karena ia manusia biasa.
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Bagaimana agar kita senantiasa menggunakan kalimat efektif?
2. Apa maksud pernyataan bahwa kalimat yang nalar merupakan kalimat yang
komunikatif, sedangkan kalimat yang komunikatif adalah kalimat efektif?
3. Buatlah sebuah karangan yang di dalamnya terdapat paragraf berbentuk
narasi, deskripsi, ekposisi, dan argumentasi!
4. Tulislah sebuah puisi dan tukarkan kepada teman sebangku Anda! Buatlah
parafrasa puisi teman Anda tersebut!
5. Buatlah sebuah paragraf yang kalimat-kalimatnya berupa kalimat tanya biasa,
retoris, senilai dengan perintah, dan tersamar, yang saling berkaitan!
Glosarium 169
GLOSARIUM
akses : jalan masuk
aliansi : kerja sama dua pihak untuk mencapai tujuan
analisis : penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang
sebenarnya
bipartit : dua pihak
dilema : situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua
kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau tidak
menguntungkan
efisiensi : ketepatan cara dalam menjalankan sesuatu
eksploitasi : pendayagunaan
elemen : bagian
era : masa; kurun waktu dalam sejarah
identifikasi : tanda bukti
identitas : ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang
ikhtisar : ringkasan
ilegal : tidak sah
ilustrator : orang yang melukis gambar hias untuk majalah, buku, dan sebagainya
imperialis : negara yang memperluas daerah jajahannya untuk kepentingan industri
dan modal
indikator : sesuatu yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan
infrastuktur : prasarana
interaktif : bersifat saling berhubungan
investigasi : penyelidikan dengan mencatat atau merekam fakta, melakukan
peninjauan, percobaan, dan sebagainya, dengan tujuan memperoleh
jawaban atas pertanyaan
klise : gagasan yang terlalu sering dipakai
konvergensi : keadaan menuju ke satu titik pertemuan
kritis : bersifat tidak lekas percaya
metode : cara
ofensif : serangan
operator : orang yang bertugas menjaga, melayani, dan menjalankan suatu
peralatan
orientasi : pandangan yang mendasari pikiran
perspektif : sudut pandang
pluralisme : keadaan masyarakat yang majemuk
170 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
presentasi : penyajian
problem : masalah
protektif : bersifat melindungi
psikis : bersifat kejiwaan
resolusi : pernyataan tertulis
riset : penyelidikan suatu masalah secara bersistem, kritis, dan ilmiah untuk
meningkatkan pengetahuan dan pengertian
ritual : berkenaan dengan upacara keagamaan
skrip : naskah tertulis
spekulasi : tindakan yang bersifat untung-untungan
statistik : data yang berupa angka yang dikumpulkan, ditabulasi, digolongkan,
sehingga dapat memberi informasi yang berarti mengenai suatu masalah
atau gejala
strategis : baik letaknya
tipikal : khas
tragis : menyedihkan
transformasi : perubahan bentuk
transmiter : pemancar
tripartit : tiga pihak
vital : utama
Indeks Subjek dan Pengarang 171
INDEKS SUBJEK DAN
PENGARANG
A
adjektiva 11
adverbia 11, 12
afiks 55
alfabetis 55
argumentasi 136
artikel 12, 20
artikulasi 6, 7, 8, 14, 37,
38, 109
B
bagan 138
bentuk kata 27, 56
D
denotatif 58
deskripsi 110, 125
deskriptif 106
diagram 138
dialek 67
drama 122
E
eksplisit 21
eksposisi 125
ekspositif 106
ekspositoris 96
ekspresi 65
F
fakta 26, 27, 29, 80,
92
frasa 24, 29, 42, 44
G
grafik 138
gramatikal 54
H
H.B. Yassin 113, 114
hiperkorek 22
hipernim 71
hiponim 71
humoris 106
I
idiom 27, 28
idrus 140
ikhtisar 140
iklan 132
imajinatif 96
informatoris 106
interjeksi 12
intonasi 3, 5, 14, 18, 20,
29, 34, 48, 50,
51, 64, 94, 120
Ismail Marzuki 97
172 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
J
jeda 3, 5, 14, 18, 20,
29, 34, 48, 50,
51, 64, 94, 120
K
kalimat interogatif 84
retoris 84
kamus 54, 59
kata 27, 29, 42, 56,
57, 71
kata berimbuhan 42
tugas 12
kelas kata 10, 42
komunikatif 80, 84
konjungsi 12
konotatif 58
konsonan 6
L
label 55, 59
lafal 2, 5, 7, 14, 18,
20, 22, 29, 34,
48, 50, 51, 64,
94, 120
lafal baku 20
tidak baku 20
langgam 67
laras 67
leksikal 54
lema 55, 59
linguistik 54
logat 67
M
makna 55, 59
matriks 138
membaca cepat 8, 24, 39, 40
metode impromptu 37, 44
ekstemporan 37, 44
morfem 27
N
nada 64
nalar 80, 94
narasi 96, 110, 125
narasumber 44
nomina 11
nonverbal 138
numeralia 11, 42
O
objektif 26, 27, 29
opini 26, 27, 29, 92
P
parafrasa 99, 100, 112
paragraf 127, 128
partikel 12
pengumuman 132
persuatif 106
pidato 37, 44
pleonasme 22
poster 132
preposisi 12
pronomina 11
puisi 64, 112
R
ragam bahasa baku 51
tidak baku 52
regresi 69, 72
rendra 66
ringkasan 140
Indeks Subjek dan Pengarang 173
S
scanning 39, 40, 44
siaran berita 34
sinopsis 140
skimming 39, 40, 41, 44
Soediro Satoto 124
Sori Siregar 96
sugestif 96
Sutan T. Alisyahbana 114
T
tabel 138
tekanan 2, 5, 14, 18, 20,
29, 34, 48, 50,
51, 64, 94, 120
tema 127, 128
topik 127
U
ungkapan 27, 28
V
verba 10, 11
verbal 138
W
wawancara 44, 45, 51, 78,
79
Y
Y.E. Tatengkeng 113
174 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku:
Ahmad Iskak dan Yustinah. 2008. Bahasa Indonesia Tataran Semenjana untuk SMK
dan MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.
Akhlan Husein dan Rahman. 1996. Perencanaan Pengajaran Bahasa. Jakarta:
Depdiknas.
Aminuddin. 1985. Pengantar Studi tentang Makna. Bandung: Sinar Baru.
Asul Wiyanto. Terampil Pidato. Jakarta: Grasindo.
Chris Verdiansyah (Ed). 2006. Membuat Usaha Sukses dari Rumah. Jakarta: Penerbit
Buku Kompas.
Dendy Sugono. 2003. Buku Praktis Bahasa Indonesia 1. Jakarta: Depdiknas.
Dendy Sugono. 2003. Buku Praktis Bahasa Indonesia 2. Jakarta: Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
PT Balai Pustaka.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Dra. Suparni. 1996. Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMK I, II, III. Bandung:
Ganesa Exact.
Gorys Keraf. 1982. Eksposisi dan Deskripsi. Ende Flores: Nusa Indah.
Gorys Keraf. 1985. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: PT Gramedia.
Gorys Keraf. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia. Jakarta: Grasindo.
Gorys Keraf. 1993. Terampil Berbahasa Indonesia 1, 2, 3. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Gorys Keraf. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hasan Alwi, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai
Pustaka.
H.B. Yassin. 1977. Tifa Penyair dan Daerahnya. Jakarta: Gunung Agung.
Henry Guntur Tarigan. 1987. Menyimak sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Angkasa.
Herman J. Waluyo. 1981. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Idrus. 1949. Aki. Jakarta: Balai Pustaka.
Jakob Sumardjo dan Saini K.M. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Kunardi Harjoprawiro. 2005. Pembinaan Pemakaian Bahasa Indonesia. Surakarta:
UNS Press.
Oemar Hamalik. 2001. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Daftar Pustaka 175
Rani Koswara. 2007. 21 Bisnis Sampingan untuk Mahasiswa. Jakarta: TransMedia
Pustaka.
Rendra. 2003. Sajak-Sajak Sepatu Tua. Jakarta: Pustaka Jaya.
Soediro Satoto. 1979. Simbolisme Drama ”Kapai-Kapai”: Fungsi dan Maknanya
sebagai Binaan Struktur dan Tekstur. Sebuah Laporan Penelitian. Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Soeparno. 2002. Dasar-Dasar Linguistik Umum.Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya.
Sudarso. 1991. Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sumber Media Massa:
Jawa Pos, 4 Mei 2007
Jawa Pos, 24 Juni 2007
Kompas, 1 Juli 2007
Kompas, 29 Juli 2007
Kompas, 5 Agustus 2007
Kompas, 26 Agustus 2007
Kompas, 30 September 2007
Kompas, 7 Oktober 2007
Kompas, 21 Oktober 2007
Kompas, 2 Desember 2007
Kompas, 23 Desember 2007
Kompas, 13 Januari 2008
Kompas, 31 Maret 2008
Seputar Indonesia, 13 Februari 2007
Seputar Indonesia, 16 Februari 2008
Seputar Indonesia, 25 Maret 2008
Solopos, 2 Maret 2008
Suara Merdeka, 13 Mei 2007
Suara Merdeka, 5 Agustus 2007
Suara Merdeka, 19 Agustus 2007
Suara Merdeka, 26 Agustus 2007
Tabloid Peluang Usaha, No. 21/Thn. III/30 Juni – 13 Juli 2008
Yunior, 12 Agustus 2007
Sumber Gambar:
Garuda, Maret 2004
Garuda, Maret 2006
Hasan Alwi. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Hasan Alwi. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
176 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X
http://www.pusatbahasa.depdiknas.go.id
Intisari, No. 482 September 2003
Jawa Pos, 4 Mei 2007
Jawa Pos, 24 Juni 2007
Kartini, No. 2099 30 Oktober – 13 November 2003
Kompas, 29 Juli 2007
Kompas, 12 Agustus 2007
Kompas, 26 Agustus 2007
Kompas, 16 September 2007
Kompas, 28 Oktober 2007
Kompas, 2 Desember 2007
Kompas, 9 Desember 2007
Kompas, 23 Desember 2007
Kompas, 10 Februari 2008
Kompas, 17 Februari 2008
Kompas, 31 Maret 2008
Nh. Dini. 2002. Langit dan Bumi Sahabat Kami. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Pramoedya Ananta Toer. 2001. Arus Balik. Jakarta: Hasta Mitra.
Seputar Indonesia, 9 Maret 2007
Seputar Indonesia, 13 Februari 2008
Solopos, 23 Oktober 2007
Suara Merdeka, 5 Agustus 2007
Suara Merdeka, 19 Agustus 2007
Swara Kartini, No. 23 18 September – 1 Oktober 2000

0 komentar: